SETELAH MELAHIRKAN, BERKALI-KALI GELAS BERISI OBAT UNTUKKU PECAH DI LANTAI—DAN ANEHNYA, ITU SELALU TERJADI SETIAP KALI IBU MERTUAKU YANG MEMBAWAKANNYA.

Cengkeraman Bu Sari di lenganku terasa semakin keras.

“Nadia, kasih itu ke Ibu sekarang.”

Aku menatap matanya. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku tidak melihat kelembutan yang selama ini selalu ia tunjukkan. Tidak ada wajah seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan menantunya. Yang kulihat hanya kepanikan.

Aku menarik tanganku perlahan.

“Kenapa saya tidak boleh menunjukkan obat ini ke dokter?”

Bu Sari terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Kemudian wajahnya berubah lagi. Ia mengembuskan napas panjang, seolah baru sadar telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak keluar dari mulutnya.

“Kamu salah paham,” katanya cepat. “Itu bukan apa-apa.”

“Kalau bukan apa-apa, kenapa Ibu takut dokter melihatnya?”

“Nadia.”

Nada suaranya mendadak lebih rendah.

“Kamu baru melahirkan. Kamu kurang tidur. Jangan membuat pikiranmu sendiri makin kacau.”

Kalimat itu terdengar seperti nasihat.

Namun entah kenapa, justru membuatku semakin takut.

Aku menggenggam kemasan obat itu kuat-kuat.

“Saya mau bangunkan Dimas.”

Bu Sari langsung berdiri di depanku.

“Jangan.”

Satu kata itu keluar terlalu cepat.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Ia membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab.

Saat itulah Milo tiba-tiba mendesis dari belakang kakiku.

Bulu di punggungnya berdiri.

Bu Sari menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.

Dan untuk sesaat aku melihat kebencian yang begitu jelas di wajahnya.

“Semua gara-gara kucing itu,” gumamnya.

Aku mundur satu langkah.

“Jangan sentuh Milo.”

Bu Sari tertawa pendek, tetapi terdengar kering.

“Kamu lebih percaya binatang daripada keluarga sendiri?”

Aku tidak menjawab.

Sebab untuk pertama kalinya, jawabannya terasa sangat jelas.

Malam itu aku kembali ke kamar tanpa menyerahkan bungkus obat tersebut.

Aku memasukkannya ke dalam sarung bantal di sisi tempat tidur, lalu mengunci pintu.

Dimas masih tidur.

Aku menatap wajah suamiku dalam gelap.

Sebenarnya aku ingin membangunkannya.

Aku ingin menceritakan semuanya.

Namun aku teringat bagaimana selama beberapa hari terakhir ia selalu membela ibunya.

Setiap kali Milo menjatuhkan obatku, Dimas selalu berkata bahwa aku terlalu memanjakan kucing.

Setiap kali aku mengeluh pusing, ia berkata itu hal biasa setelah melahirkan.

Setiap kali Bu Sari menyuruhku minum sesuatu, Dimas bahkan ikut berkata, “Dengar saja kata Ibu. Ibu lebih berpengalaman.”

Entah kenapa, malam itu aku tidak yakin Dimas akan percaya kepadaku.

Aku juga tidak yakin aku aman kalau dia tidak percaya.

Aku hampir tidak tidur sampai pagi.

Begitu matahari terbit, aku menghubungi seorang teman lama bernama Rina yang bekerja sebagai apoteker di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.

Aku tidak menjelaskan semuanya lewat telepon.

Aku hanya mengirim foto kemasan obat yang kutemukan.

Tidak sampai lima menit kemudian, ponselku berdering.

“Nad, kamu dapat ini dari mana?”

Suara Rina terdengar serius.

“Kenapa?”

“Kamu minum ini?”

Aku menelan ludah.

“Aku nggak tahu. Mungkin pernah.”

Rina terdiam.

“Nadia, dengarkan aku baik-baik. Jangan minum obat apa pun yang tidak berasal dari resep dokter.”

Jantungku berdegup semakin cepat.

“Obat itu buat apa?”

“Ini obat penenang kuat. Biasanya diberikan dalam kondisi tertentu dan harus dengan pengawasan medis. Apalagi kalau kamu sedang menyusui, tidak boleh sembarangan.”

Tanganku langsung gemetar.

“Tapi mungkin dosisnya kecil?”

“Aku nggak bisa memastikan hanya dari kemasan. Kamu perlu bawa tabletnya ke rumah sakit.”

Aku teringat satu pil yang sempat menggelinding di bawah lemari pada hari pertama Milo menjatuhkan gelas.

Tiba-tiba aku berdiri.

“Rin, nanti aku telepon lagi.”

Aku berlutut di depan lemari.

Dengan bantuan penggaris panjang, aku mengorek bagian bawahnya.

Debu.

Kancing.

Sebuah koin.

Lalu sesuatu berwarna putih keluar perlahan.

Pil itu.

Aku mengambilnya dengan tangan gemetar.

Saat itulah pintu kamar terbuka.

Dimas berdiri di sana.

“Kamu ngapain?”

Aku buru-buru menutup telapak tanganku.

“Nggak apa-apa.”

Dimas mengerutkan kening.

“Kenapa pintu dikunci semalam?”

Aku tidak menjawab.

Ia masuk dan melihatku lebih lama.

“Kamu bertengkar sama Ibu?”

Aku tersentak.

“Kenapa kamu bilang begitu?”

“Ibu bilang kamu lagi sensitif. Katanya kamu menuduh dia macam-macam karena efek setelah melahirkan.”

Darahku seolah berhenti mengalir.

Bu Sari sudah lebih dulu bicara dengannya.

“Aku nggak menuduh siapa-siapa.”

“Terus?”

Aku memandang suamiku.

Ada bagian dalam diriku yang ingin langsung menunjukkan pil itu.

Namun ada suara kecil yang menyuruhku berhenti.

Aku tidak tahu kenapa.

Mungkin karena cara Dimas berdiri.

Mungkin karena pertanyaannya terdengar bukan seperti seseorang yang ingin memahami istrinya.

Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan apa yang kuketahui.

“Aku cuma capek,” kataku akhirnya.

Wajah Dimas terlihat lebih santai.

“Ya sudah, istirahat. Jangan terlalu banyak mikir.”

Ia mencium dahiku, lalu keluar.

Begitu pintu tertutup, tanganku kembali dingin.

Siang itu aku membuat alasan ingin memeriksakan luka jahitan.

Bu Sari ingin ikut.

Dimas juga bilang ia bisa mengantarku.

Aku menolak keduanya.

“Aku mau sama Rina. Sekalian ngobrol.”

Bu Sari menatapku lama.

“Tidak perlu. Ibu bisa temani.”

“Aku sudah janjian.”

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Akhirnya Dimas berkata, “Ya sudah. Tapi jangan lama.”

Aku membawa pil itu dalam plastik kecil dan menyembunyikan bungkus obat di dalam tas.

Rina menungguku di sebuah kafe dekat rumah sakit.

Begitu melihatku, ia langsung mengajakku ke bagian farmasi.

Seorang rekan kerjanya memeriksa tablet tersebut berdasarkan bentuk, kode, dan kemasannya.

Hasil awal membuat lututku terasa lemas.

Itu benar obat penenang.

Bukan vitamin.

Bukan obat pemulihan setelah melahirkan.

Bukan pula obat dari rumah sakit tempatku bersalin.

“Apa efeknya kalau diminum terus?” tanyaku.

Rina menatapku dengan wajah serius.

“Tergantung dosis dan kondisi tubuh. Bisa bikin kantuk berat, pusing, kebingungan, koordinasi terganggu. Kalau dicampur zat lain, risikonya bisa lebih serius.”

Aku merasa mual.

Tiba-tiba semua hal yang kualami selama beberapa hari terakhir muncul satu per satu dalam ingatan.

Pusing.

Tubuh terasa sangat berat.

Kadang aku tertidur begitu dalam hingga tidak mendengar bayi menangis.

Aku selalu mengira itu karena kelelahan.

Bagaimana kalau bukan?

“Nadia,” kata Rina pelan, “siapa yang kasih ini ke kamu?”

Aku menatap meja.

“Ibu mertuaku.”

Rina terdiam.

“Kamu pulang ke rumah yang sama?”

Aku mengangguk.

“Untuk sementara.”

“Jangan sendirian.”

Aku tidak menjawab.

Sebelum pulang, aku menyimpan pil dan bungkus obat itu di loker Rina.

Aku hanya membawa satu foto di ponsel.

Aku ingin memastikan Bu Sari tidak bisa mengambil bukti dariku.

Saat tiba di rumah, suasana terasa aneh.

Terlalu sepi.

Milo tidak menyambutku di pintu seperti biasanya.

“Milo?”

Tidak ada suara.

Aku masuk ke ruang tengah.

Bu Sari sedang melipat pakaian bayi.

“Bu, Milo mana?”

Ia tidak melihatku.

“Mana Ibu tahu.”

Aku berjalan ke dapur.

Kamar mandi.

Balkon belakang.

Tidak ada.

Jantungku mulai berdebar.

“Milo!”

Dimas keluar dari kamar.

“Kamu cari kucing lagi?”

“Dia nggak ada.”

“Oh.”

Hanya itu.

Aku menatap suamiku.

“Maksudnya oh?”

Dimas menghela napas.

“Aku kasih ke teman kantor.”

Dunia seolah berhenti.

“Kamu apa?”

“Cuma sementara.”

“Kamu bawa Milo keluar rumah tanpa bilang aku?”

“Nadia, dia sudah dua kali bikin gelas pecah. Kamu punya bayi sekarang.”

Aku hampir berteriak.

“Dia delapan tahun hidup sama aku!”

“Jangan lebay.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Bu Sari masih duduk di sofa, pura-pura sibuk melipat pakaian.

Namun aku bisa melihat ujung bibirnya sedikit menegang.

Saat itu sesuatu di dalam diriku berubah.

Aku tidak lagi hanya takut pada Bu Sari.

Aku mulai takut pada Dimas.

Malam itu aku menunggu mereka tidur.

Sekitar pukul satu, aku keluar kamar dengan alasan mengambil air.

Namun tujuan sebenarnya adalah mencari sesuatu.

Aku tidak tahu apa.

Aku hanya merasa ada bagian dari rumah ini yang belum kupahami.

Kemarin malam aku menemukan bungkus obat di tempat sampah.

Berarti seseorang menyimpan obat tersebut di rumah.

Aku memeriksa kabinet dapur.

Tidak ada.

Lemari obat.

Tidak ada.

Laci ruang tamu.

Tidak ada.

Aku hampir menyerah ketika melihat pintu kecil menuju gudang belakang.

Ruangan itu biasanya digunakan untuk menyimpan koper, peralatan bayi, dan barang-barang lama milik Dimas.

Aku masuk dan menyalakan lampu ponsel.

Bau debu memenuhi hidungku.

Ada tiga kardus di sudut.

Sebuah koper.

Beberapa botol cairan pembersih.

Kemudian aku melihat tas hitam kecil di rak paling atas.

Aku mengenalinya.

Itu tas milik Bu Sari.

Aku menarik kursi dan meraihnya.

Tas itu tidak terkunci.

Di dalamnya ada pakaian, dompet, beberapa struk belanja, dan sebuah kotak plastik berwarna biru.

Aku membuka kotak tersebut.

Napas langsung tercekat.

Di sana ada beberapa strip obat.

Sama persis dengan kemasan yang kutemukan.

Namun bukan hanya itu.

Ada satu benda lain.

Botol susu bayiku.

Kosong.

Aku menatapnya lama.

Kenapa botol itu ada di dalam tas Bu Sari?

Aku mengambilnya.

Di bagian dalam botol masih ada sisa endapan tipis.

Tanganku mulai gemetar.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar gudang.

“Aku sudah bilang jangan taruh barang itu di situ.”

Suara Dimas.

Aku membeku.

Ia tidak sedang bicara kepadaku.

Ada suara Bu Sari menjawab.

“Ibu mau pindahkan besok.”

“Kalau Nadia sampai lihat?”

“Dia sudah mulai curiga.”

Darahku terasa membeku.

Aku mematikan lampu ponsel dan menahan napas.

Langkah kaki mereka mendekat.

Dimas berkata lagi, lebih pelan.

“Harusnya dari awal Milo dibuang.”

Bu Sari menjawab, “Ibu nggak nyangka kucing itu terus ganggu.”

Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.

Jadi Dimas tahu.

Suamiku tahu.

Aku merasakan sesuatu runtuh di dalam dadaku.

Namun kalimat berikutnya bahkan lebih buruk.

“Kalau Nadia terus minum sesuai dosis, paling cuma tidur lebih lama,” kata Bu Sari. “Masalahnya sekarang dia berhenti minum.”

Dimas mendecakkan lidah.

“Aku cuma butuh dia nggak terlalu sadar malam-malam.”

Aku hampir kehilangan keseimbangan.

Kenapa?

Kenapa suamiku ingin aku tidak sadar?

Aku menatap botol bayi dalam gelap.

Lalu perlahan semuanya mulai terasa jauh lebih mengerikan.

Malam-malam ketika aku tertidur sangat dalam.

Dimas yang berkali-kali berkata ia akan menjaga bayi.

Bu Sari yang selalu menyiapkan obat.

Milo yang berusaha menjatuhkannya.

Aku buru-buru mengeluarkan ponsel dan menyalakan perekam suara.

Pintu gudang masih tertutup.

Mereka berhenti beberapa langkah dari sana.

Bu Sari bertanya pelan, “Kamu yakin perempuan itu nggak akan datang lagi?”

Jantungku berhenti.

Perempuan?

Dimas menjawab, “Aku sudah bilang jangan datang ke rumah dulu.”

“Dia itu ibu kandungnya. Mana mungkin bisa disuruh diam terus?”

Aku menatap botol bayi di tanganku.

Aku tidak memahami apa yang mereka bicarakan.

Kemudian Bu Sari berkata sesuatu yang membuat dunia di sekitarku runtuh.

“Kalau Nadia sampai tahu bayi itu bukan anak yang dia lahirkan, semuanya selesai.”

Aku tidak bernapas.

Tidak bisa.

Tidak tahu bagaimana.

Aku hanya berdiri di sana sambil menahan tubuhku agar tidak jatuh.

Apa maksudnya?

Bayiku bukan anak yang kulahirkan?

Itu mustahil.

Aku ingat persalinanku.

Aku ingat tangis bayi.

Aku ingat perawat meletakkan tubuh kecil itu di dadaku.

Aku ingat gelang identitas.

Atau setidaknya aku pikir aku mengingatnya.

Bu Sari melanjutkan.

“Kamu seharusnya tidak melakukan pertukaran itu.”

“Sudah terlambat.”

Suara Dimas dingin.

“Anak Nadia meninggal beberapa jam setelah lahir. Kalau dia tahu sejak awal, dia bisa hancur.”

Air mataku mulai jatuh.

Aku menekan tangan ke mulut.

Tidak.

Tidak mungkin.

“Tapi mengambil bayi orang lain bukan jalan keluar,” kata Bu Sari.

“Aku bayar ibunya.”

“Dan sekarang dia berubah pikiran.”

“Makanya aku butuh waktu.”

Aku merasa lantai berputar.

Semua obat itu bukan untuk membunuhku.

Mereka membuatku terus mengantuk agar aku tidak terlalu banyak bertanya.

Agar aku tidak melihat siapa yang datang malam hari.

Agar aku tidak memperhatikan dokumen bayi.

Agar aku tidak menyadari sesuatu telah ditukar.

Tiba-tiba terdengar tangisan bayi dari kamar.

Dimas dan Bu Sari langsung berjalan menjauh.

Aku menunggu sampai suara langkah mereka benar-benar hilang.

Kemudian aku keluar dari gudang.

Aku tidak kembali ke kamar.

Aku mengambil dompet, dokumen pribadi, beberapa pakaian, lalu menelepon Rina.

Suaraku hampir tidak keluar.

“Rin.”

“Nadia?”

“Tolong jemput aku.”

Tidak sampai setengah jam kemudian, mobil Rina berhenti di depan rumah.

Aku membawa bayi itu.

Aku tidak tahu siapa ibu kandungnya.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit.

Aku hanya tahu satu hal.

Bayi itu tidak bersalah.

Dan malam itu aku tidak mungkin meninggalkannya bersama dua orang yang telah membohongiku sejak hari pertama.

Dimas baru menyadari kami pergi ketika mobil Rina sudah meninggalkan kompleks.

Teleponku berbunyi berkali-kali.

Aku tidak mengangkatnya.

Pagi harinya, dengan bantuan keluarga Rina, aku pergi ke rumah sakit tempat melahirkan.

Aku meminta rekam medis.

Aku juga melapor ke polisi.

Awalnya semuanya terdengar seperti cerita gila.

Namun rekaman suara dari gudang mengubah keadaan.

Penyelidikan dimulai.

Fakta yang muncul beberapa hari kemudian jauh lebih rumit daripada yang kubayangkan.

Anakku memang lahir dalam kondisi kritis.

Ia meninggal enam jam kemudian karena komplikasi yang parah.

Aku tidak pernah diberi tahu.

Pada saat itu aku masih dalam pengaruh obat dan kondisi fisikku sangat lemah.

Dimas panik.

Ia takut aku mengalami depresi berat.

Namun alih-alih memberitahuku kebenaran, ia membuat keputusan yang menghancurkan banyak orang.

Seorang perempuan muda bernama Maya melahirkan di rumah sakit yang sama.

Ia mengalami kesulitan ekonomi dan tidak memiliki pasangan yang mendampinginya.

Dimas mengenal seorang petugas rumah sakit yang kemudian membantu mempertemukan mereka secara ilegal.

Maya sempat setuju menyerahkan bayinya dengan imbalan uang.

Namun beberapa hari kemudian ia menyesal.

Ia ingin mengambil kembali anaknya.

Karena itulah Dimas dan Bu Sari berusaha membuatku tetap sering tertidur.

Mereka takut aku mendengar telepon.

Takut aku melihat Maya datang.

Takut aku memeriksa dokumen.

Takut semuanya terbongkar.

Bu Sari mengaku awalnya menolak rencana Dimas.

Namun setelah pertukaran itu terjadi, ia ikut menutupinya.

Obat penenang tersebut dibelinya menggunakan resep lama milik kerabatnya.

Ia mencampurnya dengan obat yang seharusnya kuminum agar aku tidak curiga.

Dimas akhirnya ditahan bersama beberapa orang lain yang terlibat.

Bu Sari juga diperiksa dan kemudian menjalani proses hukum.

Maya datang menemuiku dua minggu setelah semuanya terbongkar.

Saat melihat bayinya, ia menangis bahkan sebelum duduk.

Aku berdiri beberapa meter darinya.

Tanganku gemetar ketika menyerahkan bayi itu.

Selama hampir tiga minggu, aku telah memeluknya.

Menyusuinya.

Bernyanyi untuknya setiap malam.

Aku kehilangan anak kandungku tanpa pernah sempat mengucapkan selamat tinggal.

Kemudian aku harus kehilangan bayi lain yang tanpa kusadari telah mengisi ruang kosong itu.

Maya memeluk bayinya sambil menangis.

“Aku minta maaf.”

Aku menggeleng.

Kami sama-sama korban dari keputusan orang lain.

Sebelum pergi, Maya menatapku lama.

“Kalau bukan karena kamu, mungkin aku nggak akan pernah ketemu dia lagi.”

Aku hanya mampu tersenyum kecil.

Beberapa hari kemudian, Rina mengantarku mengambil Milo dari teman kantor Dimas.

Begitu pintu kandangnya dibuka, Milo langsung melompat ke pelukanku.

Aku menangis begitu keras sampai Rina ikut menangis.

Aku memeluk tubuh kecil berbulu itu.

Selama berhari-hari, semua orang menyebutnya pembuat masalah.

Bu Sari ingin membuangnya.

Dimas menyalahkannya.

Bahkan aku sendiri sempat mengira tingkahnya aneh.

Padahal setiap kali gelas itu pecah, Milo sedang melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

Ia mencoba menghentikanku.

Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke rumah sakit.

Bukan untuk mencari jawaban baru.

Aku sudah memiliki cukup banyak jawaban untuk menghancurkan kehidupan lamaku.

Aku datang untuk mengambil salinan terakhir rekam medis anakku.

Di sana tertulis nama yang belum pernah sempat kusebut dengan sadar.

Raka Aditya Pratama.

Nama yang ternyata dipilih Dimas sebelum persalinan.

Aku duduk lama di taman rumah sakit sambil memegang kertas itu.

Untuk pertama kalinya, aku mengizinkan diriku benar-benar berduka.

Aku tidak lagi berusaha terlihat kuat.

Tidak lagi berusaha memahami alasan Dimas.

Tidak lagi memikirkan apakah Bu Sari sebenarnya berniat “melindungiku”.

Karena ada satu hal yang akhirnya kupahami.

Kebohongan yang dilakukan atas nama cinta tetaplah kebohongan.

Dan perlindungan yang merampas hak seseorang untuk mengetahui kebenaran bukanlah perlindungan.

Itu kendali.

Saat aku pulang sore itu, Milo menungguku di depan pintu.

Aku mengangkatnya dan menempelkan dahiku ke kepalanya.

Dulu aku percaya keluarga adalah orang-orang yang tinggal serumah denganku.

Orang-orang yang memasak untukku.

Orang-orang yang tersenyum sambil mengatakan bahwa mereka tahu apa yang terbaik untukku.

Sekarang aku tahu, keluarga bukan soal siapa yang paling dekat secara darah.

Bukan pula siapa yang paling sering mengatakan bahwa mereka menyayangimu.

Kadang, yang paling tulus justru makhluk yang tidak bisa menjelaskan apa pun dengan kata-kata.

Ia hanya menjatuhkan sebuah gelas.

Lalu gelas berikutnya.

Dan gelas berikutnya lagi.

Sampai akhirnya aku mau melihat apa yang selama ini berusaha ia tunjukkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang