“Kalau kalian tidak sabar, seharusnya dulu kalian tidak gagal saat merampok rumah itu.”
Suara Ibu Herlina terdengar dingin.
Bukan suara seorang perempuan tua yang sedang ketakutan karena berhadapan dengan dua buronan bersenjata.
Dia berbicara seperti seseorang yang memiliki kendali penuh.
Pria dengan bekas luka di pipi langsung meletakkan sendoknya.
“Jangan bicara seolah semua ini salah kami, Bu. Rencananya dari awal memang kacau.”
Ibu Herlina mencondongkan tubuh.
“Kalau kalian mengikuti instruksiku, sekarang uang itu sudah ada di tangan kita.”
Darah di tubuhku seperti berhenti mengalir.
Instruksiku.
Kita.
Aku hampir tidak bisa mencerna kata-kata itu.
Selama ini aku mengira Ibu Herlina hanya membantu dua orang buronan.
Ternyata dia terlibat jauh lebih dalam.
Pria bertato menyeka mulutnya dengan punggung tangan.
“Yang penting sekarang dokumennya ada di mana?”
Ibu Herlina terdiam beberapa detik.
Kemudian dia menjawab dengan suara rendah.
“Masih di rumah Arya.”
Jantungku serasa jatuh.
Rumah Arya berarti rumah kami.
“Aku sudah mencari beberapa kali,” lanjutnya. “Tapi Maya terlalu sering di rumah. Aku tidak bisa membongkar semuanya tanpa membuat dia curiga.”
Kakiku langsung lemas.
Tiba-tiba semua kejadian selama dua bulan terakhir terasa berbeda.
Bukan hanya makanan yang hilang.
Beberapa kali aku memang menemukan lemari kamar tamu terbuka.
Laci meja kerja Arya pernah berantakan.
Aku mengira Ibu Herlina sedang mencari obat atau barang miliknya.
Ternyata dia mencari sesuatu.
Pria dengan bekas luka mendengus.
“Kita tidak bisa menunggu selamanya. Polisi sudah mulai menyisir daerah sebelah.”
“Aku tahu.”
“Kalau dokumen itu tidak ditemukan dalam tiga hari, kami pergi.”
Ibu Herlina menatapnya tajam.
“Kalian tidak akan ke mana-mana sebelum semuanya selesai.”
Pria itu berdiri.
Tubuhnya tinggi dan besar.
Untuk pertama kalinya, Ibu Herlina tampak sedikit tegang.
“Jangan mengatur kami seperti anak kecil,” katanya.
Suasana ruangan mendadak berubah.
Aku mundur satu langkah dari jendela.
Saat itulah kakiku menginjak ranting kering.
Krak.
Suara kecil itu terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian.
Percakapan di dalam langsung berhenti.
Aku membeku.
“Suara apa itu?” tanya pria bertato.
Kursi bergeser.
Langkah kaki mendekat ke arah jendela.
Aku tidak berpikir lagi.
Aku langsung berbalik dan berlari.
Aku menahan napas sambil melewati rumput liar, berusaha tidak menoleh ke belakang.
Beberapa detik kemudian terdengar pintu rumah kayu dibuka keras.
“Hei!”
Suara seorang pria menggema.
Aku berlari semakin cepat.
Tanganku gemetar saat mencoba membuka ponsel.
Aku ingin menelepon Arya, tetapi tiba-tiba layar ponselku menyala lebih dulu.
Nama Ibu Herlina muncul.
Aku hampir menjatuhkannya.
Aku tidak mengangkat telepon.
Aku terus berlari hingga mencapai jalan kompleks yang lebih terang.
Barulah aku berani melihat ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun, aku tahu satu hal.
Mereka pasti menyadari seseorang telah menguping.
Dan kalau Ibu Herlina melihat aku tidak berada di rumah saat dia kembali, dia akan segera tahu siapa orang itu.
Aku tiba di rumah dalam keadaan terengah-engah.
Arya sedang duduk di ruang keluarga sambil mengeringkan rambut.
Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah.
“Kamu dari mana?”
Aku menutup pintu dan menguncinya.
“Arya, kita harus keluar dari rumah ini sekarang.”
Dia berdiri.
“Apa?”
“Ambil dompetmu. Kunci mobil. Sekarang.”
“Maya, kamu kenapa?”
Aku memegang lengannya.
“Ibumu terlibat dengan dua orang buronan perampokan.”
Arya menatapku lama.
Kemudian dia tertawa kecil karena mengira aku bercanda.
Aku tidak ikut tertawa.

Wajahnya perlahan pucat.
Aku menceritakan semuanya secepat mungkin.
Rumah kayu.
Dua pria yang ada di berita.
Percakapan mereka.
Dokumen yang sedang dicari Ibu Herlina.
Arya terlihat seperti kehilangan kemampuan berbicara.
“Tidak mungkin.”
“Aku melihatnya sendiri.”
“Itu ibuku.”
“Aku tahu.”
“Ayah baru meninggal setahun lalu. Ibu punya penyakit jantung. Dia bahkan takut keluar rumah kalau sudah malam.”
“Tidak lagi.”
Arya menggeleng berulang kali.
Aku menarik tangannya menuju pintu.
“Kita bicara di kantor polisi.”
Namun, sebelum kami sempat keluar, terdengar suara kunci diputar dari luar.
Ibu Herlina pulang.
Aku dan Arya saling menatap.
Pintu terbuka.
Ibu Herlina masuk sambil membawa tas kain kosong.
Wajahnya sama tenangnya seperti biasa.
Dia melepas sandal.
Kemudian pandangannya jatuh kepadaku.
Jaket hitam masih kukenakan.
Napasnya berubah sedikit.
Hanya sedikit.
Namun aku melihatnya.
“Maya,” katanya.
“Ibu dari mana?” tanya Arya.
Ibu Herlina menatap putranya.
“Keluar sebentar.”
“Ke rumah kayu belakang kompleks?”
Wajahnya langsung kaku.
Keheningan memenuhi ruang keluarga.
Aku melihat tangannya mencengkeram tali tas.
Arya melangkah maju.
“Ibu kenal dua buronan itu?”
Ibu Herlina tidak menjawab.
“Jawab aku, Bu.”
Aku belum pernah mendengar Arya berbicara seperti itu kepada ibunya.
Ibu Herlina akhirnya menatapku.
“Kamu mengikuti Ibu?”
Aku tidak menjawab.
Perempuan itu menarik napas panjang lalu duduk di sofa.
Anehnya, dia tidak terlihat panik.
“Kalau kalian sudah tahu,” katanya, “mungkin sudah waktunya Ibu menjelaskan.”
Aku langsung meraih ponsel.
“Penjelasannya nanti di kantor polisi.”
Ibu Herlina tersenyum pahit.
“Kalau kamu menelepon polisi sekarang, mungkin kamu tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya ayah Arya.”
Arya membeku.
“Apa maksud Ibu?”
Ibu Herlina menatap anaknya.
“Ayahmu tidak meninggal karena serangan jantung biasa.”
Aku dan Arya saling berpandangan.
Menurut keluarga, Pak Surya meninggal mendadak di dalam mobil setelah menghadiri pertemuan bisnis.
Dokter menyatakan serangan jantung.
Tidak ada sesuatu yang mencurigakan saat itu.
Ibu Herlina berdiri perlahan.
“Masuk ke kamar kerja ayahmu.”
Arya tidak bergerak.
“Untuk apa?”
“Buka lemari kayu. Di bagian belakang rak paling bawah ada panel yang bisa dilepas.”
Aku merasa tengkukku meremang.
Kami bertiga menuju kamar kerja kecil yang selama ini hampir tidak pernah digunakan.
Arya berjongkok di depan lemari.
Setelah beberapa menit mencari, dia menemukan sebuah papan tipis di bagian belakang.
Di baliknya terdapat amplop cokelat.
Tangan Arya gemetar ketika membukanya.
Di dalamnya ada beberapa fotokopi dokumen bank, surat kepemilikan sebuah perusahaan logistik, serta sebuah flashdisk.
Namanya tercetak di beberapa lembar.
Surya Adinata.
Aku melihat wajah Arya berubah.
“Apa ini?”
Ibu Herlina duduk.
“Ayahmu menjalankan bisnis yang tidak pernah dia ceritakan kepadamu.”
“Bisnis apa?”
“Pencucian uang.”
Ruangan terasa semakin sempit.
Arya mundur selangkah.
Ibu Herlina mulai bercerita.
Ternyata selama hampir sepuluh tahun, Pak Surya menggunakan perusahaan logistiknya untuk memindahkan uang milik jaringan kriminal.
Awalnya hanya transaksi kecil.
Kemudian jumlahnya semakin besar.
Dia ingin berhenti ketika menyadari beberapa orang dalam jaringan tersebut mulai terlibat perdagangan senjata.
Namun keluar ternyata tidak semudah masuk.
Beberapa bulan sebelum meninggal, Pak Surya diam-diam mengumpulkan bukti transaksi.
Semua salinannya disimpan dalam flashdisk itu.
“Dia ingin menyerahkannya kepada polisi,” kata Ibu Herlina.
“Lalu kenapa tidak dilakukan?” tanyaku.
“Karena mereka tahu.”
Arya menatap ibunya.
“Siapa?”
“Orang-orang yang bekerja bersama ayahmu.”
Aku langsung teringat dua pria di rumah kayu.
“Termasuk dua orang itu?”
Ibu Herlina menggeleng.
“Bukan.”
Jawaban itu justru membuatku semakin bingung.
“Dua pria itu bekerja untuk Ibu.”
Aku terpaku.
Arya mengerutkan kening.
“Apa?”
“Mereka bukan bagian jaringan ayahmu.”
“Tapi mereka buronan perampokan!”
“Benar.”
Ibu Herlina memejamkan mata.
“Dan itulah kesalahan terbesar Ibu.”
Setelah Pak Surya meninggal, Ibu Herlina yakin kematiannya tidak wajar.
Dia pernah menemukan memar pada tubuh suaminya sebelum pemakaman.
Namun dia tidak memiliki bukti.
Polisi menganggap kematiannya sebagai serangan jantung karena riwayat medisnya.
Dalam keadaan putus asa, Ibu Herlina menghubungi seorang kenalan lama bernama Bram, pria dengan bekas luka di wajah.
Bram pernah bekerja sebagai sopir di perusahaan keluarga mereka.
Ia dipecat Pak Surya karena mencuri.
Ibu Herlina kemudian membayar Bram dan temannya untuk mencari dokumen yang diyakini disembunyikan Pak Surya.
Masalahnya, kedua pria itu justru melakukan perampokan di sebuah rumah mewah saat menjalankan pekerjaan lain.
Sejak menjadi buronan, mereka bersembunyi.
“Kenapa Ibu tetap membantu mereka?” tanyaku.
“Karena mereka mengancam.”
Suara Ibu Herlina akhirnya bergetar.
“Mereka tahu terlalu banyak tentang keluarga ini.”
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari halaman belakang.
Kami bertiga terdiam.
Pintu samping terbuka.
Arya langsung menarikku ke belakang tubuhnya.
Beberapa detik kemudian, dua sosok masuk.
Bram.
Dan pria bertato.
Tanganku terasa dingin.
Bram memegang pisau.
“Harusnya Ibu tidak cerita semuanya.”
Ibu Herlina berdiri.
“Kalian tidak boleh datang ke sini.”
“Sudah terlambat.”
Tatapan Bram jatuh pada amplop di tangan Arya.
“Itu yang kita cari.”
Arya segera memasukkan flashdisk ke sakunya.
Bram melangkah maju.
“Kasih ke saya.”
“Tidak.”
“Arya,” bisikku.
Pria bertato bergerak menuju pintu depan untuk menutup jalan keluar.
Kami terjebak.
Ibu Herlina tiba-tiba berdiri di depan putranya.
“Jangan sentuh anakku.”
Bram tertawa.
“Sekarang Ibu mau jadi orang baik?”
Wajah Ibu Herlina berubah.
“Selama dua bulan aku memberi kalian makan, memberi uang, menyembunyikan kalian. Jangan paksa aku melakukan sesuatu yang kalian sesali.”
“Ancaman dari nenek-nenek?”
Bram mendorong bahunya.
Ibu Herlina terhuyung.
Arya langsung maju.
Namun sebelum situasinya semakin buruk, suara sirene terdengar dari kejauhan.
Bram membeku.
Pria bertato menatap temannya.
“Polisi?”
Aku sendiri terkejut.
Aku belum sempat menelepon siapa pun.
Kemudian Ibu Herlina tersenyum.
“Aku yang menelepon mereka.”
Semua orang menatapnya.
Ibu Herlina mengangkat ponselnya dari saku.
Ternyata sejak kami masuk ke kamar kerja, dia sudah menyalakan panggilan darurat dan membiarkannya tetap tersambung.
Bram langsung panik.
Dia berlari ke pintu belakang.
Namun suara polisi sudah terdengar dari luar.
“Polisi! Jangan bergerak!”
Beberapa petugas masuk dari dua arah.
Dalam hitungan menit, kedua pria itu berhasil dilumpuhkan.
Bram menjatuhkan pisaunya.
Pria bertato diborgol di lantai ruang makan.
Aku berdiri di dekat Arya sambil berusaha menenangkan napas.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Setelah diperiksa selama beberapa jam, polisi menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Flashdisk Pak Surya berisi catatan transaksi, rekaman percakapan, dan nama-nama orang yang terlibat dalam jaringan pencucian uang selama bertahun-tahun.
Salah satu nama di dalamnya membuat Arya hampir jatuh dari kursinya.
Rudi Hartono.
Direktur utama perusahaan tempat Arya bekerja.
Ternyata Rudi bukan hanya atasan Arya.
Dia adalah salah satu orang yang diduga memerintahkan Pak Surya untuk menghentikan rencana menyerahkan bukti kepada polisi.
Selama lima tahun terakhir, Arya bekerja setiap hari di bawah orang yang mungkin memiliki hubungan dengan kematian ayahnya sendiri.
Bahkan menurut penyidik, penerimaan Arya di perusahaan tersebut diduga bukan kebetulan.
Rudi ingin memastikan keluarga Pak Surya tetap berada dalam pengawasannya.
Aku merinding mendengarnya.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan berkembang besar.
Sejumlah orang ditangkap.
Aset perusahaan dibekukan.
Kasus kematian Pak Surya dibuka kembali setelah ditemukan bukti bahwa obat jantung miliknya kemungkinan telah ditukar pada hari terakhir hidupnya.
Namun ada satu hal yang tidak pernah kulupakan.
Malam setelah Ibu Herlina selesai menjalani pemeriksaan, kami duduk bertiga di ruang keluarga.
Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu, rumah kami benar-benar sunyi.
Ibu Herlina terlihat jauh lebih tua dari biasanya.
“Aku minta maaf,” katanya kepadaku.
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena membawa bahaya ke rumah kalian.”
Dia menunduk.
“Ibu pikir Ibu bisa memperbaiki semuanya sendiri. Mencari tahu siapa yang membunuh suami Ibu, menjaga Arya tetap aman, dan mengendalikan dua orang itu.”
“Kenapa tidak pergi ke polisi sejak awal?”
Matanya berkaca-kaca.
“Karena Ibu takut.”
Itulah pertama kalinya aku mendengar Ibu Herlina mengakui ketakutannya.
Bukan sebagai ibu mertua.
Bukan sebagai perempuan yang terlihat keras.
Hanya sebagai seorang istri yang kehilangan suaminya dan tidak tahu harus percaya kepada siapa.
Arya duduk di sampingnya.
“Bu.”
Ibu Herlina menangis.
“Ayahmu pernah bilang sebelum meninggal, kalau terjadi sesuatu kepadanya, Ibu harus menjauhkan kamu dari semua urusan bisnisnya. Ibu sudah berusaha.”
Dia memegang tangan Arya.
“Tapi ternyata semakin Ibu mencoba melindungimu dengan kebohongan, semakin besar bahaya yang Ibu bawa.”
Aku baru mengerti malam itu.
Rahasia yang paling gelap bukanlah dua buronan di rumah kayu.
Bukan pula makanan yang diam-diam dibawa keluar setiap malam.
Rahasia yang sebenarnya adalah ketakutan yang disimpan seorang perempuan selama setahun penuh, sampai ketakutan itu mendorongnya melakukan kesalahan demi kesalahan.
Ibu Herlina tetap harus mempertanggungjawabkan tindakannya karena membantu menyembunyikan buronan.
Namun karena dia bekerja sama dengan penyidik dan bukti menunjukkan bahwa dirinya berada di bawah ancaman, proses hukumnya berjalan jauh lebih ringan daripada yang kami takutkan.
Beberapa bulan kemudian, rumah kayu tua di belakang kompleks dibongkar.
Setiap kali melewati tempat itu, aku masih teringat malam ketika aku mengikuti Ibu Herlina dalam gelap.
Aku pernah berpikir mengenal seseorang hanya karena tinggal satu rumah dengannya.
Ternyata tidak.
Kadang-kadang, orang yang setiap hari duduk satu meja dengan kita sedang memikul rahasia yang bahkan tidak sanggup mereka ceritakan kepada orang terdekat.
Sejak kejadian itu, Ibu Herlina tidak pernah lagi keluar malam sendirian.
Namun sesekali, dia masih membungkus makanan dalam wadah plastik.
Bedanya, sekarang aku selalu tahu ke mana makanan itu pergi.
Setiap Jumat sore, kami bertiga membawanya ke rumah singgah dekat stasiun.
Untuk orang-orang yang memang membutuhkan.
Suatu hari, ketika kami sedang membagikan nasi kotak, Ibu Herlina menatapku lalu tersenyum.
“Maya.”
“Ya, Bu?”
“Dulu kamu mengikuti Ibu karena curiga, kan?”
Aku tersenyum malu.
“Iya.”
Dia mengangguk perlahan.
“Untung kamu melakukannya.”
Aku menatap wajahnya.
“Kenapa?”
Ibu Herlina melihat Arya yang sedang membantu seorang bapak tua di seberang ruangan.
Kemudian dia berkata pelan.
“Karena malam itu, bukan kamu yang menemukan rahasia Ibu.”
Aku terdiam.
Ibu Herlina menggenggam tanganku.
“Justru kamu yang menyelamatkan Ibu dari rahasia itu.”
