Hendra mengenali kapsul tersebut sejak pertama kali melihatnya.
Karena dia sudah tahu benda itu ada di sana.
Sinta tidak langsung berteriak.
Tidak juga menangis.
Selama beberapa detik, dia hanya berdiri di samping kursi roda ibunya dengan tubuh kaku, seolah otaknya menolak menerima kalimat yang baru saja didengarnya.
“Bu,” katanya akhirnya, nyaris berbisik. “Apa maksud Ibu dipaksa menelan?”
Ibu Hartini menutup kedua matanya.
Tangannya mencengkeram ujung selimut tipis di atas pahanya.
“Sekitar dua bulan setengah yang lalu.”
Hendra tiba-tiba menyela.
“Dia ngawur.”
Semua mata beralih kepadanya.
Hendra berusaha tertawa, tetapi suaranya terdengar kering.
“Dok, Ibu mertua saya sudah tua. Kadang dia suka bingung. Jangan langsung percaya omongannya.”
Dokter tidak menjawab.
Dia hanya menatap Hendra dengan ekspresi datar.
Sinta justru merasa ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya.
“Dua bulan setengah lalu kapan, Bu?”
Ibu Hartini menarik napas perlahan.
“Malam waktu kamu ikut pelatihan kantor di Jakarta.”
Sinta langsung ingat.
Perjalanan itu berlangsung tiga hari.
Hendra sempat mengatakan bahwa dia akan lembur pada malam kedua dan pulang hampir tengah malam.
Setidaknya itulah yang dikatakannya.
“Ibu waktu itu masih tinggal sendirian di rumah lama,” lanjut Ibu Hartini. “Hendra datang sekitar jam sembilan malam.”
“Untuk apa?”
Ibu Hartini menoleh kepada Hendra.
Wajah lelaki itu semakin tegang.
“Dia bilang mau bicara soal uang.”
“Uang apa?”
Ibu Hartini menangis lagi.
“Uang asuransi ayahmu.”
Sinta mengerutkan kening.
Ayahnya meninggal lima tahun sebelumnya karena serangan jantung. Semasa hidup, lelaki itu memang memiliki polis asuransi jiwa dan beberapa tabungan investasi.
Namun seluruh urusan peninggalannya dianggap sudah selesai.
Sebagian besar uang digunakan untuk melunasi rumah Ibu Hartini dan sisanya ditempatkan dalam deposito atas nama Ibu Hartini.
“Apa hubungannya Hendra dengan uang Ayah?”
Ibu Hartini membuka mulut, tetapi suara Hendra kembali terdengar.
“Cukup.”
Kali ini nadanya lebih keras.
Dia maju satu langkah.
“Kita pulang. Ini urusan keluarga.”
Dokter berdiri dari kursinya.
“Pak Hendra, pasien sedang dalam kondisi medis yang memerlukan tindakan. Tidak ada yang pulang sebelum kami memastikan keadaannya stabil.”
Hendra mengabaikannya.
Dia menatap Sinta.
“Kamu ikut aku sekarang.”
Sinta tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun pernikahan mereka, perintah Hendra tidak membuatnya otomatis menurut.
“Jawab pertanyaanku.”
“Aku bilang ini bukan tempatnya.”
“Kalau begitu tempatnya di mana?”
Hendra menggertakkan rahang.
Sinta melanjutkan.
“Kamu datang ke rumah Ibu malam itu?”
Hendra diam.
“Jawab.”
“Ya.”
Sinta merasa napasnya tercekat.
“Kenapa?”
“Cuma ngobrol.”
Ibu Hartini tiba-tiba berkata, “Dia mencari sesuatu.”
Hendra menoleh tajam.
“Diam!”
Suara itu menggema di ruangan.
Perawat yang berdiri dekat pintu segera keluar. Beberapa detik kemudian dua petugas keamanan klinik terlihat berjaga di luar.
Ibu Hartini tampak ketakutan, tetapi Sinta menggenggam tangannya.
“Tidak apa-apa, Bu. Ceritakan semuanya.”
Wanita tua itu menarik napas dalam-dalam.
“Malam itu Hendra bertanya soal sebuah flashdisk milik almarhum ayahmu.”
Sinta terdiam.
“Flashdisk?”
Ibu Hartini mengangguk.
“Katanya ayahmu pernah menyimpan dokumen di sana. Hendra bilang dia butuh benda itu.”
“Ayah sudah meninggal lima tahun lalu. Kenapa baru dicari sekarang?”
Ibu Hartini memandang putrinya dengan mata penuh kesedihan.
“Karena Ibu baru menemukan benda itu tiga bulan lalu.”
Tiga bulan.
Persis saat keluhan sakit perut mulai muncul.
Sinta merasa tengkuknya dingin.
Ibu Hartini melanjutkan.
“Waktu Ibu membersihkan lemari kerja ayahmu, Ibu menemukan sebuah kotak kecil di belakang laci. Di dalamnya ada flashdisk, beberapa fotokopi polis, dan surat tulisan tangan.”
“Apa isi suratnya?”
“Surat itu bilang kalau sesuatu terjadi pada ayahmu, Ibu harus memberikan flashdisk tersebut kepada polisi. Bukan kepada perusahaan asuransi.”
Hendra langsung membantah.
“Bohong.”
Ibu Hartini menatapnya.
“Kamu takut karena kamu tahu apa isinya.”
Sinta menoleh kepada suaminya.
“Apa isinya, Hendra?”
“Aku tidak tahu.”
“Tapi kamu datang mencarinya.”
“Aku cuma membantu mengecek dokumen keluarga.”
“Jam sembilan malam, tanpa sepengetahuanku?”
Hendra tidak menjawab.
Ibu Hartini kemudian mengatakan sesuatu yang membuat udara di ruangan terasa membeku.
“Di dalam flashdisk itu ada rekaman pembicaraan.”
Sinta merasakan jantungnya berdegup keras.
“Pembicaraan siapa?”
“Suamimu.”
Hendra bergerak cepat.
Dia menerjang ke arah monitor, seolah hendak mematikan sesuatu atau meraih tas milik Ibu Hartini.
Namun petugas keamanan langsung masuk dan menahannya.
“Lepaskan saya!”
Dokter berdiri menjauh.
Sinta memeluk bahu ibunya.
“Apa yang terekam, Bu?”
Ibu Hartini terisak.
“Percakapan Hendra dengan seseorang dari kantor lamanya. Mereka membicarakan klaim asuransi palsu.”
Hendra masih berusaha melepaskan diri.
“Jangan dengarkan dia!”
Tetapi kali ini tidak ada seorang pun yang memedulikannya.
Ibu Hartini menjelaskan bahwa bertahun-tahun lalu, ayah Sinta pernah membantu beberapa keluarga mengurus dokumen asuransi karena dia pensiunan pegawai bank dan cukup memahami administrasi keuangan.
Dalam proses itulah dia menemukan kejanggalan.
Beberapa nasabah tercatat meninggal karena kecelakaan sehingga klaim asuransi mereka cair dalam jumlah sangat besar.
Namun di antara dokumen-dokumen itu terdapat tanda tangan palsu, laporan medis yang tanggalnya tidak sinkron, dan perubahan penerima manfaat beberapa hari sebelum kematian.
Salah satu nama agen yang muncul berulang kali adalah Hendra.
Saat itu Hendra belum menikahi Sinta.
Dia hanya seorang agen muda yang sedang membangun karier.
Ayah Sinta sempat menyelidiki diam-diam karena curiga terjadi penipuan sistematis.
Tanpa diketahui Hendra, dia merekam sebuah pertemuan.
Dalam rekaman tersebut, Hendra dan seorang atasannya membahas cara memanipulasi dokumen klaim dan membayar seorang petugas administrasi agar data tertentu diubah.

“Itu fitnah!” teriak Hendra.
Ibu Hartini menggeleng.
“Suaramu jelas.”
Sinta hampir tidak mampu berdiri tegak.
“Kalau Ayah punya bukti itu, kenapa tidak pernah diberikan ke polisi?”
“Dia takut.”
“Takut pada siapa?”
Ibu Hartini menatap Hendra.
“Beberapa minggu setelah menemukan bukti itu, ayahmu mulai menerima telepon ancaman.”
Ruangan mendadak sunyi lagi.
Sinta merasakan tangannya menjadi dingin.
“Ayah meninggal karena serangan jantung.”
Ibu Hartini menangis semakin keras.
“Setidaknya itu yang kita percaya.”
Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepala Sinta.
Hendra berhenti meronta.
Sinta menatapnya.
“Kamu tahu sesuatu soal kematian Ayah?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Sinta langsung menyadarinya.
Ibu Hartini mengusap air matanya.
“Dalam surat yang Ibu temukan, ayahmu menulis bahwa beberapa hari sebelum meninggal, dia merasa sedang diawasi. Dia menuliskan satu nama.”
Sinta hampir tidak sanggup bertanya.
“Siapa?”
Ibu Hartini tidak menjawab dengan kata-kata.
Dia hanya menoleh ke arah Hendra.
Lutut Sinta terasa lemas.
Hendra menggeleng berkali-kali.
“Ini gila. Kalian semua gila.”
Dokter kemudian memotong pembicaraan.
“Bu Hartini harus segera menjalani prosedur pengambilan benda asing itu. Peradangannya sudah berat dan kami khawatir terjadi perforasi.”
Sinta mengangguk cepat.
“Lakukan apa pun yang diperlukan.”
Hendra mendadak berteriak.
“Jangan keluarkan benda itu!”
Semua orang menoleh.
Hendra terdiam.
Dia sendiri tampak menyadari bahwa kalimat itu baru saja menghancurkan semua pembelaannya.
Sinta memandangnya tajam.
“Kenapa?”
Hendra tidak menjawab.
“Kenapa kamu tidak mau kapsul itu dikeluarkan?”
“Aku cuma khawatir operasinya berbahaya.”
Dokter menyela dingin.
“Justru membiarkannya jauh lebih berbahaya.”
Hendra kembali mencoba bicara, tetapi petugas keamanan sudah membawanya keluar dari ruangan.
Sebelum pintu tertutup, dia sempat menatap Sinta.
Tatapan itu berbeda dari yang selama ini dikenalnya.
Tidak ada lagi keramahan yang kadang masih Hendra tunjukkan di depan orang lain.
Yang tersisa hanya kepanikan.
Dan kebencian.
Dua jam kemudian, polisi datang ke klinik setelah dokter melaporkan dugaan tindak pidana berdasarkan keterangan pasien.
Hendra dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Sementara itu, Ibu Hartini dipindahkan ke rumah sakit yang memiliki fasilitas bedah lebih lengkap.
Malam itu juga, dokter melakukan prosedur endoskopi dan operasi minimal invasif untuk mengambil kapsul logam tersebut.
Sinta menunggu hampir tiga jam di depan ruang operasi.
Setiap menit terasa seperti satu tahun.
Ketika dokter akhirnya keluar, Sinta langsung berdiri.
“Bagaimana Ibu saya?”
“Stabil.”
Sinta hampir menangis karena lega.
“Benda itu berhasil diambil?”
Dokter mengangguk.
“Tapi bentuknya tidak seperti kapsul biasa.”
Dia menunjukkan sebuah foto dari ponsel medis.
Benda logam itu panjangnya sekitar tiga sentimeter, dengan sambungan ulir di tengah.
Seperti wadah kecil yang sengaja dibuat kedap air.
“Benda ini sudah kami serahkan kepada polisi tanpa dibuka,” kata dokter.
“Isinya apa?”
“Kami tidak tahu.”
Namun Sinta tahu siapa yang mungkin mengetahuinya.
Ibunya.
Keesokan paginya, setelah sadar penuh, Ibu Hartini akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Saat Hendra datang ke rumahnya, dia memaksa Ibu Hartini menyerahkan flashdisk.
Ibu Hartini menolak.
Dia sudah curiga karena dua hari sebelumnya Hendra berkali-kali menanyakan dokumen lama milik ayah Sinta.
Saat Hendra masuk ke kamar mandi, Ibu Hartini mengambil flashdisk dari kotak dan menyembunyikannya.
Namun dia tahu Hendra akan menggeledah rumah.
Di lemari obat milik almarhum suaminya, Ibu Hartini menemukan sebuah wadah logam kecil yang dahulu digunakan suaminya untuk menyimpan obat darurat saat bepergian.
Dia memasukkan sebuah kartu microSD dari flashdisk ke dalam wadah tersebut.
Flashdisk kosong kemudian ditaruh kembali di kotaknya.
Sayangnya Hendra mengetahui tipuan itu.
Entah bagaimana, dia menyadari file dalam flashdisk sudah dipindahkan.
“Dia marah sekali,” kata Ibu Hartini.
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia menemukan kapsul logam itu di saku baju Ibu.”
Sinta menahan napas.
“Hendra bilang kalau Ibu tidak mau memberikannya, dia akan memastikan benda itu tidak pernah ditemukan.”
Air mata Ibu Hartini menetes.
“Dia menjepit rahang Ibu. Lalu memaksa Ibu menelannya dengan air.”
Sinta menutup mulutnya.
“Kenapa Ibu tidak bilang ke aku?”
“Ibu takut.”
“Takut apa?”
“Hendra bilang kalau Ibu cerita, kamu yang akan celaka.”
Sinta mulai menangis.
“Bu…”
“Dia juga bilang semua rekeningmu ada di bawah pengawasannya. Dia tahu kamu pergi ke mana. Dia tahu siapa yang kamu telepon.”
Sinta langsung teringat pesan dari Hendra di klinik.
“Kamu bawa ibumu ke dokter, ya?”
Tiba-tiba semuanya masuk akal.
Sinta memeriksa ponselnya dengan bantuan polisi.
Hasilnya membuatnya mual.
Sebuah aplikasi pelacak tersembunyi terpasang di perangkatnya.
Lokasi ponsel, riwayat panggilan, bahkan beberapa notifikasi dapat dilihat dari akun lain.
Hendra memang tidak menebak keberadaan mereka.
Dia memantau.
Dua hari kemudian, laboratorium forensik membuka kapsul logam itu.
Di dalamnya terdapat sebuah kartu microSD yang masih dapat dibaca.
Isinya jauh lebih besar daripada yang dibayangkan siapa pun.
Bukan hanya satu rekaman suara.
Ada puluhan foto dokumen.
Rekaman percakapan.
Salinan polis.
Nama nasabah.
Nomor klaim.
Daftar transfer.
Dan sebuah video pendek yang direkam ayah Sinta sendiri.
Dalam video itu, wajah ayahnya terlihat lelah.
Dia duduk di ruang kerja yang sangat dikenal Sinta.
Suara lelaki itu bergetar saat berbicara.
“Kalau rekaman ini ditemukan, berarti kemungkinan saya sudah tidak bisa menjelaskan sendiri.”
Sinta menonton video itu bersama penyidik.
Tangannya gemetar.
Ayahnya menyebut nama Hendra.
Bukan sebagai pembunuh.
Tetapi sebagai salah satu orang yang terlibat dalam jaringan pemalsuan klaim asuransi yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Lalu muncul kejutan yang lebih besar.
Ayah Sinta juga menyebut seorang dokter yang diduga membantu memalsukan beberapa penyebab kematian.
Nama dokter itu ternyata sama dengan dokter yang menandatangani surat kematian ayahnya lima tahun lalu.
Penyelidikan kemudian dibuka kembali.
Jenazah ayah Sinta memang tidak mungkin memberikan jawaban sempurna setelah bertahun-tahun, tetapi rekam medis lama menunjukkan sesuatu yang selama ini terlewat.
Obat jantung yang dikonsumsi ayah Sinta pernah diganti dengan dosis yang tidak sesuai hanya beberapa hari sebelum kematiannya.
Resep perubahan dosis tersebut ditandatangani oleh dokter yang sama.
Polisi belum langsung menyimpulkan pembunuhan.
Namun cukup banyak bukti untuk memperluas penyelidikan.
Dalam waktu tiga minggu, dua mantan pegawai perusahaan asuransi ditangkap.
Seorang dokter diperiksa.
Beberapa rekening dibekukan.
Dan Hendra ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pemaksaan, kekerasan terhadap Ibu Hartini, akses ilegal terhadap perangkat Sinta, serta dugaan keterlibatan dalam penipuan asuransi.
Yang paling menyakitkan bagi Sinta bukanlah mengetahui bahwa suaminya mungkin seorang penjahat.
Melainkan menyadari berapa banyak tanda yang pernah dia abaikan.
Kontrol atas rekening.
Larangan menemui dokter.
Kemarahannya setiap kali Ibu Hartini menerima uang.
Kebiasaan memeriksa ponsel.
Pertanyaan-pertanyaan tentang dokumen lama ayahnya.
Semuanya dulu dianggap sebagai sifat buruk seorang suami.
Padahal sebagian adalah usaha mengendalikan informasi.
Enam bulan kemudian, Ibu Hartini sudah jauh lebih sehat.
Berat badannya mulai naik.
Dia tinggal bersama Sinta di rumah kecil yang disewa dekat Lembang, jauh dari rumah yang dahulu dipenuhi ketakutan.
Proses hukum masih panjang.
Belum semua tuduhan terbukti di pengadilan.
Namun untuk pertama kalinya, Sinta tidak lagi merasa takut mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Suatu sore, saat mereka sedang minum teh di teras, Ibu Hartini berkata pelan.
“Ada satu hal yang belum pernah Ibu ceritakan.”
Sinta menatapnya.
“Apa lagi, Bu?”
Ibu Hartini tersenyum tipis.
“Waktu ayahmu membuat video itu, dia tidak hanya menyimpan satu salinan.”
Sinta terkejut.
“Maksud Ibu?”
“Ada salinan lain.”
“Di mana?”
Ibu Hartini menunjuk pot bunga tua di sudut teras.
Sinta tertawa kecil karena mengira ibunya bercanda.
Namun Ibu Hartini tetap serius.
“Bukan di pot itu. Tapi ayahmu pernah bilang, kalau semua bukti hilang, cari di tempat pertama kamu belajar menulis namamu.”
Sinta terdiam.
Beberapa detik kemudian dia langsung teringat.
Meja belajar kayu kecil miliknya saat masih SD.
Meja itu masih tersimpan di gudang rumah lama Ibu Hartini.
Dua hari kemudian polisi membongkar bagian bawah meja tersebut.
Mereka menemukan sebuah amplop plastik yang direkatkan di balik papan.
Di dalamnya terdapat kartu memori lain.
Salinan cadangan.
Namun ada satu file yang tidak ditemukan di kapsul logam.
Sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan ayah Sinta sedang berdiri di parkiran sebuah restoran bersama dua orang pria.
Salah satunya Hendra.
Pria yang lain membuat Sinta membeku.
Dia adalah atasan Hendra saat ini.
Direktur cabang perusahaan asuransi tempat Hendra bekerja.
Di belakang foto tertulis tanggal.
Tanggalnya hanya empat hari sebelum ayah Sinta meninggal.
Dan di bawahnya ada satu kalimat tulisan tangan ayahnya.
“Kalau aku mati, jangan hanya melihat orang yang tangannya kotor. Cari orang yang memerintahkannya.”
Sinta membaca kalimat itu berulang kali.
Saat itulah dia mengerti bahwa kapsul yang hampir membunuh ibunya ternyata bukan akhir dari sebuah rahasia.
Kapsul itu justru membuka pintu pertama.
Dan di balik pintu itu, ada kejahatan yang jauh lebih besar daripada Hendra.
Namun kali ini Sinta tidak takut.
Dia menggenggam tangan ibunya sambil memandang para penyidik membawa bukti baru tersebut.
Selama sebelas tahun, dia hidup dengan keyakinan bahwa menjaga rumah tangga berarti bertahan dalam diam.
Sekarang dia tahu ada perbedaan besar antara kesabaran dan ketakutan.
Kadang-kadang, orang yang terus mengatakan bahwa kita terlalu sensitif sebenarnya sedang berharap kita berhenti mempercayai apa yang kita lihat.
Kadang-kadang, keluhan yang dianggap berlebihan justru merupakan tanda terakhir seseorang meminta diselamatkan.
Dan kadang-kadang, sebuah kebenaran memang bisa dipaksa untuk ditelan.
Tetapi selama masih ada seseorang yang berani mencarinya, kebenaran selalu menemukan jalan untuk keluar.
