Rendra memandangi lembar gugatan cerai itu cukup lama. Sorot matanya berubah-ubah antara marah, bingung, dan tidak percaya. Selama lima tahun menikah, belum pernah sekalipun saya berani membantahnya seperti malam itu.
“Kamu pikir aku akan takut dengan surat ini?” katanya sambil tertawa sinis. “Tanpa aku, kamu dan Kirani tidak akan bisa hidup.”
Saya menatapnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.

“Selama ini aku memang percaya pada ucapanmu. Tapi hari ini aku sadar, yang membuat kami menderita bukan kemiskinan. Yang membuat kami menderita adalah kamu.”
Wajah Rendra memerah.
Dia meremas dokumen itu, lalu melemparkannya kembali ke atas tempat tidur.
“Aku tidak akan menandatanganinya.”
“Kalau begitu, biar pengadilan yang memutuskan.”
Kalimat saya membuatnya kehilangan kata-kata. Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, saya melihat Rendra benar-benar panik.
Dia berusaha merebut map berisi berkas tanah warisan yang ada di samping saya.
Beruntung seorang perawat masuk tepat saat itu.
“Pak, tolong jangan membuat keributan di ruang rawat.”
Rendra mendengus kesal sebelum keluar sambil membanting pintu.
Begitu pintu tertutup, Kirani memeluk pinggang saya.
“Ibu… kita tidak akan diusir, kan?”
Saya mengusap rambutnya pelan.
“Tidak, Nak. Mulai sekarang Ibu akan melindungi kamu.”
Malam itu saya tidak bisa tidur.
Bukan karena luka di tangan saya, melainkan karena saya tahu Rendra tidak akan menyerah begitu saja.
Benar saja.
Pagi-pagi sekali, saya menerima telepon dari penyewa tanah.
“Bu Kirana, ada seseorang yang datang mengaku suami Ibu. Dia meminta kami membatalkan perjanjian sewa karena katanya tanah itu milik bersama.”
Saya langsung menarik napas panjang.
“Jangan percaya. Semua dokumen kepemilikan atas nama saya.”
“Lalu dia mengancam akan melaporkan kami.”
“Kalau begitu, kita bertemu di kantor notaris siang ini.”
Setelah telepon ditutup, saya segera meminta salinan seluruh dokumen melalui surel.
Saya sudah menduga Rendra akan melakukan ini.
Di kantor notaris, semuanya menjadi jelas.
Tanah itu memang sepenuhnya warisan dari ayah saya sebelum menikah.
Tidak ada hak sedikit pun yang dimiliki Rendra.
Ketika notaris menjelaskan hal itu di depan semua orang, wajah Rendra berubah pucat.
Namun, Nita yang berdiri di sampingnya justru angkat bicara.
“Mas Rendra cuma khawatir Mbak Kirana salah mengambil keputusan.”
Saya tersenyum tipis.
“Nita, sejak kapan urusan harta warisan saya menjadi urusanmu?”
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa pegawai saling berpandangan.
Nita tampak gugup.
“Saya… saya hanya ingin membantu.”
“Membantu?”
Saya membuka aplikasi mobile banking di ponsel.
“Lima tahun terakhir, lebih dari seratus lima puluh juta rupiah berpindah dari rekening suami saya ke rekeningmu.”
Rendra langsung berteriak.
“Itu bukan urusanmu!”
“Itu uang hasil kerja suami yang seharusnya dipakai untuk anaknya.”
Nita mencoba merebut ponsel saya, tetapi saya segera mundur.
Notaris mengernyit.
“Kalau memang ini sudah menjadi sengketa keluarga, sebaiknya diselesaikan melalui jalur hukum.”
Rendra menarik tangan Nita dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Saya tahu mereka sedang mencari cara lain.
Dua hari kemudian saya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Saat tiba di rumah, saya mendapati hampir semua perabot berharga sudah hilang.
Televisi.
Kulkas.
Mesin cuci.
Bahkan tabung gas pun tidak ada.
Tetangga mengatakan Rendra datang pagi-pagi membawa mobil pikap.
Katanya semua barang itu akan dipindahkan karena rumah akan dijual.
Saya hanya tersenyum.
Rumah itu pun sebenarnya berdiri di atas tanah warisan keluarga saya.
Nama saya tercantum jelas dalam sertifikat.
Sore harinya saya melapor ke kantor polisi.
Laporan diterima karena sebagian barang dibeli menggunakan uang hasil kerja saya di ladang dan uang peninggalan ayah.
Malamnya, video CCTV dari tetangga berhasil diperoleh.
Rekaman itu memperlihatkan Rendra memindahkan barang bersama dua orang temannya.
Video tersebut mulai beredar di grup warga.
Orang-orang yang selama ini menganggap Rendra sebagai suami teladan mulai mempertanyakan sikapnya.
Namun kejutan terbesar datang seminggu kemudian.
Saya dipanggil ke kantor kecamatan tempat Rendra bekerja.
Kepala kecamatan meminta saya duduk.
“Bu Kirana, kami perlu mengonfirmasi beberapa hal.”
Ternyata bagian keuangan menemukan laporan pengeluaran mencurigakan.
Selama dua tahun terakhir, Rendra sering mengajukan biaya perjalanan dinas fiktif.
Uang itu kemudian ditransfer ke rekening seseorang.
Nama penerimanya adalah Nita.
Saya hanya terdiam.
Selama ini saya mengira semua uang habis karena diberikan dari gaji pribadi.
Ternyata ada uang negara yang ikut disalahgunakan.
Pihak inspektorat segera turun melakukan pemeriksaan.
Berita itu menyebar dengan cepat.
Orang-orang yang dulu memuji Rendra kini mulai menghindarinya.
Nita pun tiba-tiba menghilang.
Nomor teleponnya tidak aktif.
Rumah kontrakannya kosong.
Rendra mencarinya ke mana-mana.
Suatu sore dia datang ke rumah dengan wajah kusut.
“Kirana… tolong cabut laporan polisi.”
Saya sedang menyiram tanaman.
“Tidak.”
“Aku janji akan berubah.”
“Sudah terlambat.”
Dia berlutut.
Kirani yang melihat dari balik pintu langsung bersembunyi di belakang saya.
Untuk pertama kalinya saya melihat anak saya benar-benar takut kepada ayahnya sendiri.
Rendra menangis.
“Aku kehilangan semuanya.”
Saya memandangnya datar.
“Bukan. Kamu tidak kehilangan semuanya hari ini.”
“Kamu kehilangan keluargamu sejak hari pertama memilih perempuan lain daripada anakmu.”
Ucapan itu membuatnya membisu.
Sidang perceraian berlangsung beberapa bulan kemudian.
Di ruang sidang, Rendra masih berusaha mempertahankan rumah tangga kami.
Namun hakim telah melihat seluruh bukti.
Transfer rutin kepada Nita.
Penelantaran istri dan anak.
Percobaan menguasai harta warisan.
Pemindahan barang tanpa izin.
Semua menjadi pertimbangan.
Hak asuh Kirani diberikan kepada saya.
Perceraian resmi diputuskan.
Rendra keluar dari ruang sidang dengan kepala tertunduk.
Saya mengira semua sudah selesai.
Tetapi takdir ternyata masih menyimpan satu kejutan lagi.
Sekitar enam bulan setelah perceraian, saya menerima telepon dari sebuah rumah sakit di Surabaya.
Seorang perempuan bernama Nita sedang dirawat dalam kondisi kritis.
Dia meminta bertemu dengan saya.
Awalnya saya menolak.
Namun rasa penasaran akhirnya membawa saya ke sana.
Tubuh Nita tampak jauh lebih kurus daripada terakhir kali kami bertemu.
Dia menangis begitu melihat saya.
“Mbak… maafkan saya.”
Saya tidak menjawab.
Dia menyerahkan sebuah map.
“Semua ini harus Mbak ketahui.”
Di dalam map terdapat hasil pemeriksaan medis.
Saya membaca halaman demi halaman.
Tangan saya mulai bergetar.
Dokumen itu menunjukkan bahwa selama ini Nita tidak pernah menderita penyakit jantung kronis seperti yang selalu diceritakan Rendra kepada semua orang.
Dia hanya mengalami gangguan ringan bertahun-tahun lalu dan sudah dinyatakan sembuh.
Saya mengangkat kepala.
“Lalu selama ini?”
Nita menangis semakin keras.
“Mas Rendra yang memintaku terus berpura-pura sakit.”
“Dengan begitu dia punya alasan mengambil uang dari mana-mana.”
“Dari kantor… dari tabungan keluarga… bahkan dari orang-orang yang iba.”
Saya terdiam.
Selama bertahun-tahun saya membenci perempuan di depan saya.
Namun ternyata dia juga telah diperalat oleh kebohongan yang sama.
“Saya memang menerima uang,” katanya lirih. “Tapi sebagian besar diminta kembali oleh Mas Rendra. Dia bilang akan dipakai untuk investasi. Saya baru sadar semuanya ketika penyelidikan dimulai.”
Saya menutup map itu perlahan.
Saat keluar dari rumah sakit, matahari sore menyinari halaman dengan hangat.
Kirani yang kini duduk di kelas satu SD berlari memeluk saya.
“Ibu, lihat! Nilai menggambarku bagus!”
Saya memeluknya erat.
Dulu saya berpikir kebahagiaan bergantung pada seseorang yang mengaku sebagai kepala keluarga.
Kini saya mengerti, kebahagiaan dimulai ketika saya berhenti membiarkan diri sendiri diperlakukan tidak berharga.
Beberapa bulan kemudian, saya berhasil membuka usaha hasil pertanian dari tanah warisan ayah. Sedikit demi sedikit kehidupan kami membaik. Orang-orang yang dahulu hanya mengenal cerita versi Rendra akhirnya mengetahui seluruh kebenaran.
Sementara itu, Rendra harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum dan kehilangan pekerjaannya.
Saya tidak pernah merayakan kejatuhannya.
Karena kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah melihat orang yang menyakiti kita hancur, melainkan mampu berdiri kembali tanpa membawa kebencian, lalu membangun masa depan yang lebih baik bagi orang-orang yang paling kita cintai.
