SUAMI TEGA MEMBAWA SEKRETARISNYA SENDIRI SAAT BULAN MADU! BEGITU MENDARAT DI BALI…

Rendy berdiri terpaku di tengah keramaian terminal kedatangan Bandara Ngurah Rai.

Orang-orang bergerak di sekelilingnya. Suara koper beradu dengan lantai, panggilan sopir terdengar dari kejauhan, dan deretan wisatawan berjalan cepat menuju pintu keluar.

Namun bagi Rendy, semua suara itu seperti menghilang.

Tatapannya hanya tertuju pada layar ponsel.

Transaksi ditolak.

Akses rekening dibatasi.

Kartu kredit utama tidak dapat digunakan.

Kartu tambahan dinonaktifkan.

Beberapa fasilitas pembayaran perusahaan ikut dibekukan sementara.

“Coba kartu yang lain,” ujar Siska pelan.

Rendy menoleh tajam.

“Menurut kamu aku nggak tahu?”

Nada suaranya membuat Siska terdiam.

Rendy membuka aplikasi perbankan kedua.

Lalu ketiga.

Hasilnya sama.

Siska mulai gelisah.

“Bukannya kamu bilang rekening perusahaan aman?”

“Aman.”

“Terus ini apa?”

Rendy tidak menjawab.

Dia buru-buru menelepon manajer keuangan PT Horizon Utama.

Telepon baru diangkat setelah dering keenam.

“Pak?”

“Dimas, kenapa rekening perusahaan dibatasi?”

Di seberang sana terdengar keheningan singkat.

“Bapak belum tahu?”

“Tahu apa?”

“Sejak sekitar dua jam lalu, Bu Nadia mengaktifkan klausul pengamanan dana investasi.”

Rendy merasa tengkuknya dingin.

“Klausul apa?”

“Klausul yang ada di perjanjian restrukturisasi empat tahun lalu.”

Rendy mengepalkan rahang.

Dia hampir tidak pernah membaca perjanjian itu secara rinci.

Selama ini Nadia yang mengurus semuanya.

“Jelaskan sekarang.”

Dimas menarik napas.

“Dana cadangan operasional perusahaan berasal dari skema pinjaman pemegang saham dan fasilitas penjaminan yang terhubung ke aset Bu Nadia. Selama ini akses penggunaan dana diberikan melalui otorisasi bersama. Tadi malam Bu Nadia mencabut otorisasinya.”

Rendy menatap kosong ke depan.

“Jadi dia membekukan uang perusahaan?”

“Bukan begitu, Pak.”

Jawaban Dimas justru terdengar lebih buruk.

“Dia hanya mencabut akses terhadap dana miliknya.”

Rendy memutus telepon.

Siska menatapnya.

“Apa katanya?”

“Bukan urusan kamu.”

Siska langsung tersinggung.

“Rendy, aku ikut ke sini karena kamu yang menyuruh.”

“Aku tahu.”

“Aku bahkan meninggalkan pekerjaan dua hari supaya bisa ikut.”

Rendy tertawa pendek tanpa humor.

“Pekerjaan apa? Kamu kerja di perusahaan aku.”

Kalimat itu membuat wajah Siska berubah.

Untuk pertama kalinya malam itu, keduanya mulai melihat satu sama lain tanpa lapisan manis yang selama ini membungkus hubungan mereka.

Di pintu keluar bandara, sopir resort yang seharusnya menunggu mereka tidak ada.

Rendy mencoba menelepon pihak hotel.

Seorang resepsionis menjawab dengan sopan.

“Mohon maaf, Bapak. Reservasi atas nama Ibu Nadia Prameswari sudah dibatalkan pukul 21.47 WIB.”

“Apa?”

“Termasuk penjemputan bandara dan paket makan malam.”

“Tapi kamar itu sudah dibayar.”

“Dana sudah dikembalikan ke metode pembayaran awal.”

Rendy menutup mata.

Siska berdiri di sampingnya dengan wajah kesal.

“Jadi kita mau tidur di mana?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah kenapa terdengar seperti tamparan.

Rendy menatap perempuan yang beberapa jam lalu membuatnya merasa berkuasa di depan istrinya sendiri.

Sekarang Siska tidak lagi terlihat menggoda.

Dia terlihat menuntut.

“Cari hotel lain.”

“Pakai apa?”

Rendy menoleh.

Siska mengangkat ponselnya.

“Kartu kamu nggak bisa dipakai, kan?”

Rendy diam.

Siska menghela napas panjang.

“Aku cuma bawa kartu pribadi dengan limit kecil.”

“Ya sudah, pakai dulu.”

Mata Siska langsung membesar.

“Serius?”

“Kita ganti nanti.”

“Kalau nanti ternyata masalah ini lama?”

Rendy menatapnya lama.

“Baru begini saja kamu sudah hitung-hitungan?”

Siska tersenyum miring.

“Bukannya dari awal kita memang sama-sama hitung-hitungan?”

Kalimat itu menancap jauh lebih dalam daripada yang ingin Rendy akui.

Sementara itu di Jakarta, Nadia duduk di ruang tamu apartemennya dengan laptop terbuka di atas meja.

Gaun krem yang dipakainya dari bandara sudah diganti dengan kemeja putih dan celana panjang hitam.

Sanggulnya telah dilepas.

Anting mutiara ibunya tetap terpasang.

Di layar laptop terlihat beberapa dokumen hukum, laporan bank, dan surat elektronik yang telah dipersiapkan sejak tiga minggu terakhir.

Nadia tidak membuat keputusan itu secara mendadak.

Malam di bandara hanyalah titik terakhir.

Tiga minggu sebelumnya, Nadia sudah menemukan bukti bahwa Rendy menggunakan dana operasional perusahaan untuk membiayai apartemen sewaan Siska di Kuningan.

Bukan hanya itu.

Ada tagihan restoran, perjalanan ke Singapura, pembelian tas, dan transfer berkala yang dicatat sebagai “biaya relasi klien”.

Nadia tidak langsung marah.

Dia memeriksa semuanya satu per satu.

Lalu dia menemukan sesuatu yang lebih serius.

Rendy sedang mencoba memindahkan sebagian saham perusahaan kepada perusahaan baru bernama Arunika Strategic Partners.

Nama itu tidak berarti apa-apa pada awalnya.

Sampai Nadia menelusuri struktur kepemilikannya.

Salah satu pemegang saham Arunika adalah kakak Siska.

Dan orang yang mempersiapkan dokumennya adalah notaris yang sama yang beberapa kali makan malam bersama Rendy.

Malam itu Nadia akhirnya memahami rencana mereka.

Rendy bukan sekadar berselingkuh.

Dia sedang berusaha mengeluarkan Nadia perlahan-lahan dari perusahaan yang justru diselamatkan oleh uang, jaringan, dan tenaganya.

Pernikahan mereka pagi tadi seharusnya menjadi langkah terakhir untuk membuat Nadia merasa aman.

Setelah menikah, Rendy berniat meminta Nadia menandatangani beberapa dokumen dengan alasan penyesuaian aset keluarga.

Untungnya, Nadia telah membacanya lebih dulu.

Ponsel Nadia bergetar.

Nama Rendy muncul.

Dia membiarkannya berdering.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Pada panggilan keempat, Nadia akhirnya mengangkat.

“Apa yang kamu lakukan?”

Tidak ada salam.

Tidak ada pertanyaan apakah istrinya baik-baik saja.

Nadia hampir ingin tertawa.

“Aku pulang.”

“Jangan main-main, Nadia. Aktifkan lagi rekeningnya.”

“Rekening yang mana?”

“Semua.”

“Yang atas namaku?”

Rendy terdiam.

Nadia melanjutkan dengan suara tenang.

“Yang kartu tambahannya kamu pakai? Yang depositnya berasal dari rekening investasiku? Atau dana operasional yang kujamin dengan asetku?”

“Nadia, jangan bawa masalah rumah tangga ke perusahaan.”

Nadia tersenyum tipis.

“Bukankah kamu yang membawa sekretarismu ke bulan madu?”

“Jangan dramatis.”

Untuk pertama kalinya, Nadia merasa kata itu tidak lagi melukainya.

Dulu, setiap kali dia mempertanyakan sesuatu, Rendy selalu menyebutnya dramatis.

Terlalu sensitif.

Terlalu curiga.

Terlalu emosional.

Sekarang pola itu terdengar begitu mudah dibaca.

“Aku nggak sedang dramatis, Rendy. Aku sedang menghentikan aksesmu ke uang yang bukan milikmu.”

“Besok aku pulang. Kita bicara.”

“Besok kamu pulang kalau kamu bisa beli tiket.”

Nadia menutup telepon.

Di Bali, Rendy memandangi layar ponsel dengan napas memburu.

Siska sedang duduk di kursi dekat pintu keluar terminal.

“Gimana?”

“Diam dulu.”

“Jangan suruh aku diam terus.”

Rendy menoleh tajam.

“Aku lagi beresin semuanya.”

Siska tertawa kecil.

“Beresin? Kamu bahkan nggak bisa bayar hotel.”

Beberapa wisatawan menoleh.

Rendy merendahkan suara.

“Jaga mulut kamu.”

“Kenapa? Takut orang tahu direktur besar PT Horizon ternyata hidup dari uang istrinya?”

Rendy berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Jangan kelewatan.”

Siska ikut berdiri.

“Yang kelewatan itu kamu. Kamu bilang setelah menikah semuanya bakal gampang. Nadia akan tanda tangan dokumen. Sahamnya bisa dipindah pelan-pelan. Kita tinggal tunggu.”

Wajah Rendy langsung berubah.

“Pelankan suara kamu.”

Namun Siska sudah terlanjur emosi.

“Aku ikut permainan ini karena kamu yang janji. Kamu bilang perusahaan itu sebenarnya milik kamu.”

Tak jauh dari mereka, seorang pria berjaket abu-abu yang sejak tadi duduk sambil memainkan ponsel menoleh sekilas.

Dia bukan wisatawan.

Dia adalah penyelidik internal yang disewa Nadia dua minggu sebelumnya.

Dan percakapan itu sedang direkam.

Keesokan paginya, Rendy akhirnya mendapatkan penerbangan pulang menggunakan kartu kredit pribadi Siska.

Mereka tidak berbicara selama perjalanan.

Begitu tiba di Jakarta, Rendy langsung menuju apartemen Nadia.

Akses kartu pintunya sudah tidak aktif.

Dia menekan bel berkali-kali.

Nadia akhirnya membuka pintu.

Namun dia tidak sendirian.

Di belakangnya duduk dua pengacara dan seorang pria berkacamata dari kantor auditor independen.

Rendy terdiam.

“Apa-apaan ini?”

Nadia membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Untuk beberapa detik, Rendy tampak ragu.

Lalu dia masuk.

Di atas meja terdapat beberapa map.

Nadia mendorong satu map ke arahnya.

“Gugatan pembatalan pencatatan aset bersama untuk aset yang sepenuhnya diperoleh sebelum pernikahan.”

Map kedua.

“Pemberitahuan pencabutan seluruh surat kuasa finansial.”

Map ketiga.

“Laporan dugaan penyalahgunaan dana perusahaan.”

Rendy mulai pucat.

“Kamu mau hancurkan perusahaan sendiri?”

“Perusahaan nggak akan hancur.”

Nadia menatapnya lurus.

“Kamu yang mungkin kehilangan posisi.”

Rendy tertawa tidak percaya.

“Aku pendiri perusahaan itu.”

“Benarkah?”

Nadia membuka satu dokumen.

Itu adalah perjanjian restrukturisasi empat tahun lalu.

Ketika PT Horizon hampir bangkrut, investor yang diperkenalkan Nadia memberikan dana dengan syarat tertentu.

Salah satunya adalah pembentukan saham preferen dan hak veto atas pergantian pengendali perusahaan.

Rendy tidak pernah memedulikannya.

Dia hanya sibuk merayakan masuknya dana.

Nadia menunjuk satu paragraf.

“Kalau terjadi pelanggaran fiduciary duty atau penyalahgunaan dana perusahaan oleh direktur utama, dewan punya hak menggelar rapat luar biasa.”

Rendy terdiam.

Nadia menutup dokumen itu.

“Rapatnya jam dua siang ini.”

“Aku pemegang saham terbesar.”

“Dulu.”

Nadia mengeluarkan dokumen lain.

Rendy mengambilnya dengan tangan gemetar.

Selama dua tahun terakhir, ketika perusahaan terus membutuhkan modal tambahan, Rendy berkali-kali meminta Nadia menutup kekurangan kas.

Sebagai gantinya, sesuai dokumen yang ditandatanganinya sendiri, sebagian pinjaman pemegang saham dapat dikonversi menjadi ekuitas.

Rendy tidak pernah memeriksa persentasenya.

Dia yakin Nadia tidak akan pernah menggunakan hak itu.

Sekarang konversi itu telah dilakukan.

Ditambah saham investor yang berpihak kepada Nadia, Rendy tidak lagi memiliki kendali mayoritas.

“Aku nggak percaya ini.”

“Karena kamu nggak pernah baca apa yang kamu tanda tangani.”

Rendy menatap istrinya dengan campuran marah dan takut.

“Jadi selama ini kamu rencanakan semuanya?”

“Tidak.”

Nadia menggeleng.

“Selama ini aku justru berusaha menjaga semuanya tetap utuh.”

Dia menatap Rendy beberapa detik.

“Pernikahan kita. Perusahaan. Reputasimu. Bahkan hubunganmu dengan keluargamu.”

Suara Nadia tetap tenang, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku cuma berhenti melindungimu.”

Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi.

Siang harinya, rapat luar biasa PT Horizon Utama berlangsung hampir empat jam.

Bukti transaksi kepada Siska dibuka.

Dokumen pemindahan saham melalui Arunika Strategic Partners diperiksa.

Rekaman percakapan di bandara Bali diputar.

Siska, yang sebelumnya yakin Rendy akan melindunginya, langsung berubah sikap setelah dipanggil untuk memberikan klarifikasi.

Dia menyerahkan salinan percakapan pribadi mereka.

Termasuk pesan Rendy yang berbunyi,

“Setelah nikah, Nadia akan lebih gampang dikendalikan. Kita tinggal pastikan dia tanda tangan.”

Itulah pesan yang menghancurkan posisi Rendy sepenuhnya.

Dewan memberhentikannya sementara sebagai direktur utama sambil menunggu audit lanjutan.

Dua minggu kemudian, status itu menjadi permanen.

Rendy kehilangan jabatan.

Kehilangan akses terhadap fasilitas perusahaan.

Apartemen yang biasa ditempatinya harus dikosongkan karena sertifikatnya atas nama Nadia.

Mobil yang selama ini dia gunakan ternyata kendaraan perusahaan.

Bahkan keanggotaan klub eksklusif yang selalu dia banggakan dibayar melalui rekening korporasi.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, kehidupan yang selama ini Rendy anggap miliknya mulai runtuh satu per satu.

Siska juga menghilang.

Begitu sadar tidak ada lagi uang, jabatan, dan perjalanan mewah, perempuan itu berhenti membalas telepon.

Suatu malam, Rendy akhirnya menemui Nadia di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.

Bukan untuk marah.

Kali ini wajahnya terlihat lelah.

“Nad.”

Nadia menatapnya.

“Aku salah.”

Nadia tidak menjawab.

“Aku pikir semua yang kita punya memang hasil kerja keras aku.”

Nadia tersenyum samar.

“Memang ada hasil kerja kerasmu.”

Rendy menunduk.

“Tapi aku lupa siapa yang berdiri waktu semuanya hampir jatuh.”

Nadia memutar sendok di dalam cangkirnya.

“Aku juga salah.”

Rendy menatapnya dengan harapan kecil.

“Aku terlalu lama membiarkanmu percaya bahwa menyakitiku tidak punya konsekuensi.”

Harapan itu langsung padam.

Rendy mengusap wajahnya.

“Kalau waktu bisa diulang…”

“Waktu nggak perlu diulang.”

Nadia berdiri.

“Cukup pelajarannya yang jangan dilupakan.”

Enam bulan kemudian, PT Horizon Utama berganti struktur kepemimpinan.

Nadia menolak posisi direktur utama.

Sebaliknya, dia memilih menjadi komisaris sekaligus memimpin divisi investasi baru.

Ketika seorang wartawan menanyakan mengapa dia tidak mengambil posisi tertinggi setelah semua yang terjadi, Nadia hanya menjawab,

“Karena tujuan saya bukan mengambil hidup orang lain. Saya hanya mengambil kembali kendali atas hidup saya sendiri.”

Namun kejutan terakhir muncul beberapa hari setelah wawancara itu diterbitkan.

Seorang notaris menghubungi Nadia.

Ada sebuah dokumen lama dari mendiang ayah Rendy yang harus diserahkan kepadanya.

Ternyata empat tahun lalu, tepat sebelum meninggal, ayah Rendy pernah menulis surat pribadi.

Isinya singkat.

Dia mengaku tahu bahwa perusahaan keluarganya sedang berada di ambang kehancuran.

Dia juga tahu bahwa Nadia adalah satu-satunya orang yang mampu menyelamatkannya.

Dalam surat itu tertulis,

“Kalau suatu hari Rendy lupa menghargai orang yang menyelamatkan hidupnya, jangan selamatkan dia untuk kedua kalinya.”

Nadia membaca kalimat itu berulang kali.

Kemudian dia menutup surat tersebut.

Untuk pertama kalinya sejak malam pernikahannya, dia menangis.

Bukan karena Rendy.

Bukan karena perusahaan.

Melainkan karena akhirnya dia memahami sesuatu yang sederhana.

Kesetiaan tidak pernah berarti membiarkan diri sendiri terus disakiti.

Memaafkan juga bukan kewajiban untuk terus membuka pintu yang sama.

Dan kadang-kadang, keputusan paling penting dalam hidup bukanlah memilih siapa yang akan tetap bersama kita.

Melainkan mengetahui kapan kita harus pergi.

Malam itu, Nadia membuka laci kecil di kamar apartemennya.

Di sana masih tersimpan dua tiket lama menuju Bali.

Tiket bulan madu yang tidak pernah dia gunakan.

Dia memandangnya sebentar, lalu tersenyum.

Tiga hari kemudian, Nadia benar-benar terbang ke Bali.

Sendirian.

Bukan menuju Nusa Dua.

Bukan ke presidential suite yang dulu dia pesan untuk Rendy.

Dia memilih sebuah vila sederhana di Ubud.

Pagi pertama di sana, Nadia duduk di dekat jendela sambil memandangi sawah yang basah oleh embun.

Tidak ada Rendy.

Tidak ada Siska.

Tidak ada rapat.

Tidak ada rekening yang harus dia selamatkan.

Ponselnya tergeletak dalam keadaan mati.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada seorang pun yang menentukan ke mana dia harus pergi, bagaimana dia harus bersikap, atau seberapa kecil dia harus membuat dirinya agar orang lain terlihat lebih besar.

Dan pada saat itulah Nadia sadar.

Bulan madu yang gagal itu ternyata bukan akhir dari pernikahannya.

Itu adalah awal dari hidupnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang