SUAMIKU KATANYA SEDANG DI PORTUGAL, TAPI ANAKKU BILANG AYAHNYA TIDUR DI BAWAH DAPUR.

Aku hampir menjatuhkan pisau ketika perempuan itu mengangkat wajahnya dari lubang di bawah lantai.

Napasnya tersengal. Rambutnya kusut dan sebagian sudah memutih. Pipinya jauh lebih tirus daripada yang kuingat. Namun tidak mungkin aku salah mengenali mata itu.

Mata yang dulu selalu memandangku dengan lembut setiap kali aku datang membawa Raffa.

Ibu Siti.

Ibu mertua yang tiga tahun lalu kami makamkan di pemakaman keluarga di pinggiran Bekasi.

Aku mundur sampai punggungku membentur lemari dapur.

“Ibu…”

Suaraku nyaris tidak keluar.

Perempuan itu segera mengangkat telunjuk ke bibir.

“Jangan teriak, Nisa.”

Aku semakin gemetar.

Tidak banyak orang yang memanggilku Nisa dengan nada seperti itu. Ibu Siti selalu mengucapkannya pelan, seolah namaku adalah sesuatu yang harus dijaga.

“Tapi Ibu sudah…”

“Meninggal?”

Dia tersenyum getir.

“Yang kalian kuburkan bukan aku.”

Dunia seperti berhenti bergerak.

Aku menatap lubang di lantai, lalu wajahnya, lalu kembali ke lubang itu.

“Apa maksud Ibu?”

“Turunkan pisaunya dulu.”

Aku tidak menurut.

“Ibu jawab dulu.”

Ibu Siti memandang pisau di tanganku, tetapi tidak terlihat takut.

“Kalau aku mau menyakitimu, aku sudah bisa melakukannya sejak lama. Aku tinggal beberapa meter dari tempatmu tidur.”

Kalimat itu justru membuat tengkukku semakin dingin.

Namun akhirnya aku menurunkan pisau sedikit.

Ibu Siti memanjat keluar perlahan. Tubuhnya mengenakan kaus hitam longgar dan celana training. Di punggung tangannya ada luka yang kulihat dalam rekaman kamera.

Sisa cat kuku merah di ibu jarinya juga sama.

Jadi tangan itu memang miliknya.

Begitu berdiri, hal pertama yang dia lakukan adalah mengambil bungkus uang di rak piring.

“Ini harus kita pindahkan.”

“Aku tidak akan menyentuh apa pun sebelum Ibu menjelaskan semuanya.”

Ibu Siti menatapku lama.

Kemudian dia bertanya, “Raffa di mana?”

“Di kamar.”

“Sudah tidur?”

“Mungkin.”

Wajahnya langsung berubah tegang.

“Nisa, dengarkan aku. Jangan biarkan Raffa keluar kamar malam ini.”

“Kenapa?”

“Karena kalau Andi tahu aku sudah berbicara denganmu, kita bertiga bisa tidak sempat melihat matahari besok pagi.”

Pisau di tanganku hampir terlepas lagi.

“Andi?”

Ibu Siti mengangguk.

“Suamimu tidak pernah pergi ke Portugal.”

Aku membeku.

“Lalu siapa yang meneleponku selama ini?”

“Adiknya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Andi tidak punya adik.”

“Yang kamu tahu, dia tidak punya.”

Ibu Siti menarik kursi plastik dan duduk. Seolah tubuhnya sudah terlalu lemah untuk berdiri lebih lama.

“Namanya Arman. Anak dari suamiku dengan perempuan lain. Umurnya hanya beda sebelas bulan dengan Andi. Wajah mereka mirip. Suaranya juga hampir sama.”

Semua potongan kecil yang selama ini menggangguku mendadak mulai tersusun.

Foto terakhir dengan bentuk telinga berbeda.

Suara yang terasa tidak tepat.

Cara bicara yang berubah.

Tidak pernah ada panggilan video selama beberapa bulan terakhir.

“Tapi foto-foto di Portugal…”

“Foto lama. Sebagian foto Andi waktu dia pernah ikut pelatihan di Eropa dua tahun sebelum mengenalmu. Setelah stoknya habis, Arman berhenti mengirim foto.”

Aku merasa mual.

“Kenapa mereka melakukan semua ini?”

Ibu Siti menarik napas panjang.

“Karena uang.”

Dia menunjuk lantai.

“Dan karena apa yang ada di bawah rumah ini.”

Aku menahan napas.

“Apa?”

“Dokumen.”

Ternyata sebelum rumah ini dibeli atas nama Andi, pemiliknya adalah seorang mantan pegawai perusahaan ekspedisi besar di Jakarta bernama Pak Haris. Lelaki itu pernah bekerja sebagai kepala keuangan pada perusahaan yang dikendalikan keluarga Andi.

Pak Haris menemukan transaksi pencucian uang, penggelapan pajak, dan pembayaran kepada sejumlah pejabat.

Dia menyalin bukti-buktinya.

Sebelum meninggal mendadak dalam kecelakaan, Pak Haris menyembunyikan dokumen dan beberapa uang tunai di sebuah ruang sempit yang dibangun diam-diam di bawah dapur.

Andi mengetahui keberadaan ruang itu dari catatan lama.

“Jadi Andi membeli rumah ini karena itu?”

Ibu Siti mengangguk.

“Bukan karena harganya murah seperti yang dia bilang kepadamu.”

Aku teringat hari ketika Andi begitu bersemangat menunjukkan rumah ini.

Katanya rezeki.

Katanya kami beruntung mendapatkan rumah dengan harga miring.

Ternyata sejak awal aku hanya tinggal di atas sebuah rahasia.

“Lalu kenapa Ibu pura-pura meninggal?”

Wajah Ibu Siti mengeras.

“Tiga tahun lalu aku mengetahui apa yang dilakukan Andi. Aku ingin menyerahkan bukti kepada polisi. Dia tahu.”

Aku menutup mulut.

“Dia mencoba membunuh Ibu?”

“Dia tidak melakukannya sendiri.”

Suara Ibu Siti pecah untuk pertama kalinya.

“Mobil yang kutumpangi sengaja ditabrak truk di jalan tol. Sopirku meninggal. Aku selamat karena terlempar sebelum mobil terbakar.”

“Lalu jenazah yang kami kubur?”

“Sopir perempuan yang bekerja untuk salah satu rekan mereka. Tubuhnya terbakar parah. Identitasnya ditukar.”

Aku merasa kedua kakiku lemas.

“Kenapa Ibu tidak datang kepada polisi?”

“Aku mencoba.”

Dia menggeleng.

“Dua hari setelah aku menghubungi seorang penyidik, orang itu menghilang. Saat itulah aku sadar aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.”

Ibu Siti kemudian bersembunyi. Selama bertahun-tahun dia berpindah tempat menggunakan identitas berbeda.

Sampai enam bulan lalu dia mengetahui Andi mulai membongkar kembali jaringan lama ayahnya.

“Dia membutuhkan dokumen Pak Haris. Masalahnya, dia tidak tahu pintu masuk ruangan ini berada di mana.”

“Tapi Ibu tahu?”

“Aku menemukan denahnya.”

Aku teringat ucapan Raffa.

“Ayah tidur di bawah dapur.”

Aku menatap Ibu Siti.

“Raffa bilang dia melihat Andi keluar dari bawah sini.”

Ibu Siti langsung pucat.

“Itu tidak mungkin.”

“Dia bilang tiga kali.”

Kami saling berpandangan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbuka.

“Bu?”

Suara kecil Raffa datang dari lorong.

Aku segera berdiri.

“Raffa, jangan ke sini!”

Terlambat.

Anakku muncul di pintu dapur dengan membawa boneka dinosaurus.

Begitu melihat Ibu Siti, dia tidak terlihat terkejut.

Justru wajahnya berseri.

“Nenek.”

Darahku terasa berhenti mengalir.

Aku menoleh tajam kepada Ibu Siti.

“Kamu sudah bertemu dia?”

Ibu Siti menggeleng keras.

“Tidak pernah.”

Raffa berjalan mendekat.

“Nenek yang kasih aku susu waktu Ayah tidur.”

Aku berlutut di depannya.

“Raff, dengar Ibu. Siapa yang kamu lihat di bawah dapur?”

Raffa menunjuk lubang di lantai.

“Ayah.”

“Kamu yakin itu Ayah?”

“Iya.”

“Kapan terakhir?”

“Kemarin.”

Aku menatap Ibu Siti.

Wajahnya kehilangan warna.

Kemudian terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.

Lampu mobil menyapu jendela ruang tamu.

Ibu Siti langsung berdiri.

“Matikan lampu.”

“Ada apa?”

“Cepat.”

Aku mematikan lampu dapur.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara kunci diputar dari luar.

Aku tidak bisa bernapas.

Pintu depan terbuka.

Langkah kaki masuk.

Pelan.

Teratur.

Lalu terdengar suara yang kukenal lebih baik daripada suaraku sendiri.

“Nisa?”

Andi.

Raffa langsung berlari.

“Ayah!”

Aku ingin menangkapnya, tetapi dia sudah melewati pintu dapur.

Andi muncul di lorong.

Dia tidak memakai jaket pekerja.

Tidak membawa koper.

Tidak terlihat seperti seseorang yang baru turun dari penerbangan panjang.

Dia mengenakan kaus abu-abu dan celana jeans.

Rambutnya sedikit panjang.

Dan wajahnya sama persis seperti ketika dia meninggalkan rumah lima bulan lalu.

Dia berhenti saat melihat Ibu Siti.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.

Kemudian Andi tersenyum.

“Kukira Ibu sudah lebih pintar dari ini.”

Aku menarik Raffa ke belakang tubuhku.

“Andi, apa sebenarnya semua ini?”

Dia mengabaikanku.

Tatapannya hanya tertuju kepada ibunya.

“Dokumennya di mana?”

Ibu Siti berdiri di depan lubang.

“Kamu tidak akan mendapatkannya.”

Andi tertawa kecil.

“Lima bulan aku biarkan rumah ini tetap terlihat normal. Lima bulan aku sabar. Dan sekarang Ibu keluar hanya karena perempuan ini memasang kamera murahan?”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu memang di sini selama ini?”

“Kadang.”

“Tapi Raffa…”

“Aku keluar ketika kamu pergi bekerja atau tertidur.”

Dadaku terasa sesak.

“Kenapa berpura-pura pergi ke Portugal?”

“Karena lebih mudah bergerak kalau semua orang mengira aku berada di luar negeri.”

“Lalu Arman?”

Ekspresi Andi berubah sedikit.

“Jadi Ibu sudah cerita.”

“Siapa dia?”

“Orang yang cukup mirip denganku untuk membuatmu tetap percaya.”

Aku menatap lelaki yang selama delapan tahun kupanggil suami.

Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat benar-benar asing.

“Uang tiga puluh juta itu apa?”

“Umpan.”

Andi melirik bungkus uang di tangan ibunya.

“Aku tahu Ibu masuk ke ruang itu. Aku hanya tidak tahu dari mana. Jadi aku sengaja meninggalkan beberapa paket dan melihat siapa yang mengambilnya.”

Ibu Siti tersenyum pahit.

“Kamu bahkan menggunakan anakmu sendiri.”

“Aku tidak menyentuh Raffa.”

“Tapi kamu membuat dia percaya bahwa berbohong kepada ibunya adalah rahasia kecil.”

Andi diam.

Raffa mulai menangis pelan.

“Ayah marah?”

Wajah Andi berubah.

Untuk sesaat aku melihat suamiku yang dulu.

Dia berjongkok.

“Nggak, Nak.”

Namun aku langsung menarik Raffa menjauh.

“Jangan sentuh dia.”

Andi menatapku.

“Nisa, ini bukan urusanmu.”

“Aku istrimu.”

“Justru itu. Aku berusaha menjauhkanmu dari semua ini.”

“Dengan membohongiku lima bulan?”

“Dengan membuatmu tetap hidup.”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Kemudian Andi merogoh bagian belakang pinggangnya.

Aku melihat gagang pistol.

Ibu Siti langsung bergerak mundur.

“Jangan bodoh, Andi.”

“Aku hanya mau dokumennya.”

“Kalau aku kasih, kamu akan membunuh kami.”

“Tergantung.”

Aku memeluk Raffa.

Tangan kecilnya mencengkeram bajuku.

Saat itulah ponsel di sakuku bergetar.

Satu pesan masuk.

Tanpa menoleh, aku membukanya.

Nomor tidak dikenal.

Hanya ada satu kalimat.

Kami sudah di luar. Jangan lakukan apa pun.

Aku tidak memahami maksudnya.

Sampai terdengar suara sirene.

Andi menoleh ke jendela.

Wajahnya berubah.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku sama bingungnya.

Ibu Siti justru tersenyum.

“Aku tidak pernah masuk ke rumah ini hanya untuk mengambil dokumen.”

Dia menunjuk kamera kecil di atas kulkas.

“Aku masuk supaya dia merekam semuanya.”

Andi menatap kamera.

Kemudian kepada ibunya.

“Kamera itu milik Nisa.”

“Dan sejak tiga malam lalu, salinannya otomatis terkirim ke seseorang yang sudah menungguku selama tiga tahun.”

Suara benturan keras terdengar dari pintu depan.

“POLISI! JANGAN BERGERAK!”

Andi meraih pistol.

Aku menutup tubuh Raffa.

Sebelum dia sempat mengangkat senjata, Ibu Siti melempar bungkus uang tepat ke wajahnya.

Andi refleks menangkis.

Pada detik yang sama, beberapa petugas masuk.

Semuanya berlangsung sangat cepat.

Andi dijatuhkan ke lantai.

Pistolnya terpental ke bawah meja.

Raffa berteriak.

Aku hanya bisa memeluknya erat sambil menangis.

Tiga bulan kemudian, semuanya terbongkar.

Ruang di bawah dapur bukan hanya tempat penyimpanan dokumen.

Di balik salah satu dindingnya, polisi menemukan puluhan berkas transaksi, rekening palsu, beberapa stempel perusahaan, uang tunai, dan hard disk yang berisi bukti jaringan kejahatan selama lebih dari sepuluh tahun.

Arman ditangkap dua minggu kemudian di sebuah apartemen di Tangerang.

Tidak pernah ada proyek Portugal.

Tidak pernah ada kehidupan baru Andi di Lisbon.

Semua hanya cerita yang disusun agar tidak ada yang mencari keberadaannya di Indonesia.

Namun kejutan terbesar datang ketika polisi membuka kembali penyelidikan kematian Ibu Siti.

Perempuan yang dikuburkan tiga tahun lalu ternyata bernama Ratih.

Dan Ratih bukan orang asing.

Dia adalah ibu kandung Arman.

Selama bertahun-tahun, dua perempuan yang dikhianati oleh laki-laki yang sama ternyata sama-sama berusaha menghentikan kejahatan keluarga itu.

Salah satunya meninggal.

Yang lain memilih dianggap mati agar bisa menyelesaikan apa yang mereka mulai.

Setelah persidangan, aku menjual rumah itu.

Aku tidak sanggup lagi melihat dapurnya.

Aku pindah bersama Raffa ke rumah kontrakan kecil di Depok. Tidak ada ruang rahasia. Tidak ada lantai yang bisa terbuka tengah malam. Tidak ada suara langkah kaki dari tempat yang seharusnya kosong.

Suatu malam, saat aku sedang menyiapkan makan malam, Raffa duduk di meja sambil menggambar.

Tiba-tiba dia bertanya, “Bu, Ayah jahat?”

Tanganku berhenti.

Aku tidak ingin berbohong kepadanya.

Tapi aku juga tidak ingin merampas semua kenangan baik tentang ayahnya.

“Ayah melakukan banyak hal yang salah.”

“Berarti Ayah nggak sayang kita?”

Aku duduk di sampingnya.

“Ada orang yang sayang, tapi cara hidupnya salah. Ada juga orang yang merasa sayang, tapi tetap memilih menyakiti. Jadi rasa sayang saja kadang tidak cukup, Raff.”

Dia terdiam.

“Lalu yang paling penting apa?”

Aku mengusap rambutnya.

“Kejujuran.”

Raffa mengangguk kecil, lalu kembali menggambar.

Di kertasnya ada tiga orang.

Aku.

Dirinya.

Dan seorang perempuan tua berambut putih.

“Nenek tinggal sama kita nanti?”

Aku tersenyum.

“Mungkin kalau Nenek mau.”

Dari halaman depan terdengar suara motor berhenti.

Beberapa detik kemudian, seseorang mengetuk pintu.

Aku membukanya.

Ibu Siti berdiri di sana membawa dua kantong belanjaan.

Raffa langsung berlari memeluknya.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku merasa rumah bukan lagi tempat yang membuatku takut.

Sebelum masuk, Ibu Siti menatapku.

“Ada satu hal yang belum pernah aku bilang.”

“Apa?”

Dia menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada salinan sertifikat deposito atas nama Raffa.

Jumlahnya membuat tanganku gemetar.

Tiga miliar rupiah.

Aku menatapnya.

“Ini dari mana?”

“Bagian uang yang dulu berhasil diselamatkan Ratih sebelum dia meninggal.”

“Kenapa atas nama Raffa?”

Ibu Siti menatap cucunya yang sedang tertawa di ruang tamu.

“Karena Ratih tahu siapa ayah Arman sebenarnya.”

Aku mengernyit.

“Bukankah ayahnya suami Ibu?”

Ibu Siti menggeleng perlahan.

“Arman bukan saudara Andi.”

Aku membeku.

“Lalu?”

“Arman adalah anak kandung Andi.”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

“Dia lahir ketika Andi masih tujuh belas tahun. Ratih membesarkannya sebagai adik tiri agar skandal keluarga tidak terbongkar.”

Aku menoleh ke arah Raffa.

Semua kebohongan itu ternyata jauh lebih tua daripada pernikahanku.

Jauh lebih dalam daripada ruang tersembunyi di bawah dapur.

Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Rahasia tidak pernah benar-benar terkubur.

Kita mungkin bisa menutupnya dengan beton, keramik, uang, bahkan kematian palsu.

Namun suatu hari, selalu ada sesuatu yang bergerak dari bawahnya.

Sebuah suara.

Sebuah tangan.

Atau seorang anak kecil yang dengan polos mengatakan kebenaran yang tidak dipercaya siapa pun.

Dan kalau malam itu aku tetap menganggap perkataan Raffa hanya sebagai mimpi, mungkin sampai hari ini aku masih menunggu seorang suami yang tidak pernah berada di Portugal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang