Pagi hari ketiga dimulai dengan suara dentuman keras dari arah belakang rumah.
Aku yang saat itu sedang mengenakan sepatu di kamar langsung berdiri. Beberapa detik kemudian terdengar suara ibu mertuaku menjerit.
“Ardi!”
Aku berlari keluar.
Begitu sampai di dapur, aku melihat asap tipis mengepul dari dekat kompor. Sebuah panci tergeletak miring di lantai, air panas tumpah ke mana-mana, dan ibu mertuaku terduduk sambil memegangi kaki kirinya.
Wajahnya pucat.
“Aduh… panas… panas sekali…”
Ardi yang baru keluar dari kamar langsung panik.
“Bu, kenapa?”
“Tadi Ibu cuma mau bikin air. Gasnya susah nyala. Pas Ibu coba lagi, apinya tiba-tiba besar.”
Aku segera mendekat.
Kulihat kulit di sekitar pergelangan kaki beliau mulai memerah karena terkena tumpahan air panas.
Untungnya tidak mengenai seluruh kaki, tetapi dari ekspresinya, rasa sakitnya cukup kuat.
“Jangan dioles macam-macam,” kataku cepat saat Ardi hendak mengambil pasta gigi dari kamar mandi. “Aliri pakai air mengalir dulu.”
Aku membantu ibu mertuaku duduk di kursi dekat kamar mandi dan mengalirkan air bersih ke bagian yang terkena panas.
Ardi mondar-mandir seperti kehilangan arah.
“Kita bawa ke klinik saja,” kataku.
“Iya, iya. Sekarang.”
Ardi mengambil dompet dan kunci motor.
Kami membawa ibu mertuaku ke klinik terdekat. Karena kondisinya tidak memungkinkan naik motor, akhirnya kami memesan mobil melalui aplikasi.
Di dalam mobil, Ardi terus memegangi tangan ibunya.
Aku duduk di samping mereka tanpa banyak bicara.
Sesampainya di klinik, perawat langsung membawa ibu mertuaku ke ruang tindakan.
Setelah diperiksa dokter, kami sedikit lega.
Lukanya termasuk luka bakar ringan sampai sedang dan tidak membutuhkan rawat inap. Namun dokter tetap membersihkan luka, memberikan obat, perban khusus, dan menyarankan kontrol beberapa hari kemudian.
Masalah berikutnya muncul ketika kami tiba di meja administrasi.
Petugas menyebutkan total biaya pemeriksaan, obat, tindakan, dan perlengkapan medis.
“Empat ratus delapan puluh tujuh ribu rupiah, Pak.”
Aku melihat Ardi seketika diam.
Dia membuka dompet.
Mengeluarkan beberapa lembar uang.
Menghitungnya.
Lalu menghitung lagi.
Jumlahnya tidak sampai dua ratus ribu.
Dia membuka aplikasi mobile banking di ponselnya.
Aku melihat wajahnya berubah semakin tegang.
Saldo rekeningnya bahkan tidak cukup untuk menutup kekurangan.
Ardi lalu menoleh kepadaku.
Tatapan itu sudah sangat kukenal.
Tatapan yang muncul setiap kali ada kebutuhan mendadak di rumah.
“Rin…”
Aku menatapnya.
“Bisa bayarin dulu?”
Aku tidak langsung menjawab.
Bukan karena aku tidak punya uang.
Aku punya.
Bahkan tabunganku jauh lebih cukup untuk membayar biaya sebesar itu.
Tetapi tiga hari terakhir bukan tentang nominal empat ratus ribu.
Ini tentang sesuatu yang jauh lebih besar.
Aku bertanya pelan, “Uang yang kamu kasih ke Ibu masih ada?”
Ardi tidak menjawab.
Aku menoleh kepada ibu mertuaku yang duduk di kursi roda kecil dekat meja administrasi.
Beliau menghindari tatapanku.
“Bu?” Ardi mendekat. “Uang yang kemarin aku kasih masih ada, kan?”
Ibu mertuaku tampak tidak nyaman.
“Ada… tapi…”
“Tapi apa?”
“Sudah Ibu transfer sebagian.”
Ardi mengernyit.
“Transfer ke siapa?”
Ibu diam cukup lama.
Sampai akhirnya menjawab lirih, “Ke kakakmu.”
Aku menoleh.
Ardi seperti tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“Mas Deni?”
Ibunya mengangguk.
“Buat apa?”
“Dia lagi butuh uang.”
“Berapa yang Ibu kasih?”
“Enam juta.”
Mata Ardi membesar.
“Enam juta?”
Beberapa orang di ruang tunggu mulai melirik.
Ardi menurunkan suaranya, tetapi kemarahannya terlihat jelas.
“Bu, dari delapan setengah juta yang aku kasih kemarin, enam juta langsung dikasih ke Mas Deni?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Ibu mertuaku mulai defensif.
“Kakakmu itu sedang susah. Cicilan motornya menunggak. Anak istrinya juga banyak kebutuhan.”
Aku terdiam.
Ardi justru tertawa pendek, tetapi tawanya terdengar pahit.
“Terus aku?”
Ibunya tertegun.
“Apa?”
“Aku nggak susah?”
“Kamu kan kerja.”
“Mas Deni juga kerja!”
Ibu mulai meninggikan nada.
“Tapi penghasilannya nggak sebesar kamu.”
Ardi menatap ibunya dengan wajah yang sulit kujelaskan.
Untuk pertama kalinya aku melihat ada sesuatu yang runtuh di matanya.
Selama ini dia begitu yakin bahwa semua uang yang diberikannya kepada ibunya digunakan untuk kebutuhan sang ibu.
Ternyata tidak sepenuhnya begitu.
“Berarti selama ini uang yang aku kasih juga sering dikasih ke Mas Deni?”
Ibu mertuaku tidak menjawab.
Diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Ardi memijat kening.
Petugas administrasi masih menunggu.
Akhirnya aku mengeluarkan kartu debitku.
“Biar saya bayar.”

Ardi langsung menatapku.
Aku melanjutkan dengan tenang, “Tapi nanti kita bicara di rumah.”
Tidak ada nada marah dalam suaraku.
Justru mungkin karena terlalu tenang, wajah Ardi terlihat semakin tidak nyaman.
Setelah urusan klinik selesai, kami pulang.
Di perjalanan, hampir tidak ada yang bicara.
Sesampainya di rumah, aku membantu ibu mertuaku masuk ke kamar tamu.
Aku membawakan air minum dan meletakkan obatnya di meja.
Setelah itu, aku kembali ke ruang tengah.
Ardi sudah duduk di sofa.
Dia tampak lelah.
Aku duduk di kursi di depannya.
Beberapa menit kemudian ibu mertuaku berjalan perlahan keluar sambil sedikit pincang, lalu ikut duduk.
Aku melihat mereka bergantian.
“Aku mau bicara,” kataku.
Ardi mengangguk.
Aku menarik napas.
“Selama tiga hari ini aku sengaja berhenti mengurus kebutuhan rumah. Bukan karena aku ingin menyiksa siapa pun. Aku cuma ingin kalian melihat sesuatu.”
Ibu mertuaku tidak menatapku.
Aku melanjutkan.
“Empat tahun aku menikah dengan Ardi. Selama beberapa tahun pertama, semuanya baik-baik saja karena kami sama-sama berkontribusi. Tapi beberapa bulan terakhir, hampir semua pengeluaran rumah aku yang tanggung.”
Aku mengambil sebuah buku catatan kecil dari tas.
Aku sudah menyiapkannya sejak dua malam lalu.
Aku membukanya.
“Listrik rata-rata delapan ratus ribu. Air sekitar dua ratus ribu. Belanja dapur dua sampai tiga juta. Gas, sabun, kebutuhan mandi, internet, biaya rumah, kebutuhan mendadak… semuanya aku.”
Ardi menatap buku itu.
Aku menyebutkan angkanya satu per satu.
Jumlahnya lebih besar daripada yang mungkin selama ini dia bayangkan.
“Belum termasuk kalau ada keluarga datang,” tambahku.
Ibu mertuaku mulai gelisah.
“Aku tidak pernah melarang Ardi memberikan uang kepada Ibu. Tidak pernah. Kalau Ibu benar-benar butuh lima juta pun, selama kami bicara bersama dan kebutuhan rumah aman, aku tidak akan mempermasalahkannya.”
Aku menatap Ardi.
“Tapi yang terjadi sekarang bukan membantu orang tua. Yang terjadi, kamu menyerahkan hampir seluruh tanggung jawab rumah tangga kepadaku, lalu marah ketika aku meminta kamu ikut bertanggung jawab.”
Ardi menunduk.
Aku menatap ibu mertuaku.
“Dan sekarang aku baru tahu sebagian uang itu ternyata diberikan lagi kepada keluarga lain.”
Beliau langsung menjawab, “Deni itu kakaknya Ardi. Salah kalau saudara saling bantu?”
“Tidak salah.”
Aku menjawab tanpa ragu.
“Tapi yang salah adalah ketika bantuan kepada saudara dibayar menggunakan pengorbanan orang lain yang tidak pernah diajak bicara.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku melanjutkan.
“Kalau Mas Deni butuh bantuan, silakan bantu. Tapi jangan memakai uang sampai anak Ibu sendiri bahkan tidak punya uang untuk makan atau membawa Ibu ke klinik.”
Kalimat terakhir itu membuat ibu mertuaku menatapku.
Matanya berkaca-kaca.
Ardi menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Aku bodoh,” katanya pelan.
Ibu mertuaku langsung menoleh.
“Jangan ngomong begitu.”
Ardi menggeleng.
“Aku memang bodoh, Bu.”
Dia mengangkat wajah.
Matanya merah.
“Selama ini aku pikir kalau aku kasih sebanyak mungkin ke Ibu, berarti aku anak yang berbakti.”
Ibu mertuaku terdiam.
“Aku bahkan pernah bangga karena bisa kasih delapan atau sembilan juta tiap bulan.”
Dia tertawa getir.
“Tapi aku nggak pernah mikir listrik rumah ini siapa yang bayar. Makanan yang aku makan siapa yang beli. Sabun yang aku pakai, internet yang aku pakai, bahkan bensin darurat kalau motorku rusak…”
Ardi menoleh kepadaku.
“Semuanya dari kamu.”
Aku tidak menjawab.
Dia berdiri lalu berjalan mondar-mandir.
“Aku malah bilang kamu egois.”
Suasana berubah sangat berat.
Namun kejutan belum selesai.
Tiba-tiba ponsel ibu mertuaku berbunyi.
Beliau melihat layar.
Nama Deni muncul.
Mungkin karena gugup, ibu mertuaku menyalakan pengeras suara tanpa sengaja saat mengangkat telepon.
“Hallo?”
Suara laki-laki terdengar dari seberang.
“Bu, uang enam juta kemarin kurang.”
Wajah Ardi langsung berubah.
Ibunya buru-buru mengecilkan volume.
Namun terlambat.
Ardi sudah mendengar.
“Apa lagi, Mas?” tanya ibu mertuaku lirih.
“Kurang tiga juta buat nutup pinjaman online. Kalau nggak dibayar hari ini dendanya tambah.”
Ardi berdiri membeku.
Aku pun terdiam.
Ibu mertuaku melirik Ardi.
“Deni, nanti dulu ya.”
“Tapi, Bu…”
Telepon ditutup.
Ardi menatap ibunya lama sekali.
“Pinjaman online?”
Ibunya menunduk.
“Dia katanya sedang ada masalah.”
“Sejak kapan?”
Tidak ada jawaban.
Ardi mulai menyusun kepingan-kepingan kenyataan.
“Jadi bukan cuma cicilan motor?”
Ibunya menangis.
Akhirnya beliau mengaku.
Ternyata kakak Ardi sudah berbulan-bulan memiliki masalah keuangan.
Awalnya hanya pinjaman kecil.
Kemudian pinjaman lain digunakan untuk menutup pinjaman sebelumnya.
Setiap kali Deni meminta bantuan, ibu mertuaku memberikannya.
Dan sumber uang terbesar tentu saja dari Ardi.
Lebih mengejutkan lagi, ibu mertuaku ternyata tidak pernah benar-benar hidup sesulit yang selama ini dibayangkan Ardi.
Beliau masih memiliki pemasukan dari sawah kecil peninggalan suaminya dan uang sewa kios sederhana di kampung.
Tidak besar.
Tetapi cukup untuk kebutuhan hariannya.
Ardi duduk kembali.
Wajahnya pucat.
“Kenapa Ibu nggak pernah cerita?”
Ibu mertuaku menangis.
“Ibu takut kamu berhenti kasih uang.”
Ardi seketika menatapnya.
Aku sendiri tercekat mendengar kejujuran itu.
“Ibu senang kamu perhatian. Ibu juga merasa… selama kamu masih kasih uang banyak, berarti kamu masih mengutamakan Ibu.”
Aku melihat ekspresi Ardi berubah.
Bukan marah.
Lebih seperti terluka.
“Jadi ini soal siapa yang paling utama?”
Ibu mertuaku tidak mampu menjawab.
Ardi menarik napas panjang.
“Bu, aku akan selalu jadi anak Ibu.”
Suaranya bergetar.
“Tapi aku juga suami Rina.”
Dia menoleh kepadaku.
“Dan selama ini aku gagal memahami itu.”
Aku merasakan tenggorokanku mengencang.
Untuk pertama kalinya sejak masalah ini dimulai, aku merasa Ardi benar-benar mengerti.
Bukan karena aku menang berdebat.
Bukan karena dia kelaparan dua hari.
Tetapi karena keadaan memaksanya melihat konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Hari itu juga, Ardi meminta melihat catatan pengeluaran rumah tangga kami secara lengkap.
Kami duduk bersama hampir dua jam.
Kami menghitung pemasukan.
Menghitung kebutuhan.
Menghitung tabungan.
Menghitung rencana masa depan.
Ardi berkali-kali terdiam ketika mengetahui berapa banyak tabunganku yang sudah terpakai untuk menutupi pengeluaran rumah.
“Aku ganti semuanya,” katanya.
Aku menggeleng.
“Aku nggak butuh kamu mengganti semuanya.”
“Terus kamu maunya apa?”
“Aku mau kita jadi tim.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Mulai bulan berikutnya, sistem keuangan kami berubah.
Kami membuat rekening khusus rumah tangga.
Setiap menerima gaji, aku dan Ardi memasukkan jumlah yang sudah disepakati ke rekening tersebut.
Dana darurat juga harus diisi terlebih dahulu sebelum uang digunakan untuk membantu keluarga besar.
Ardi tetap memberikan uang kepada ibunya.
Aku tidak pernah melarang.
Tetapi jumlahnya masuk akal dan disepakati bersama.
Dan yang terpenting, tidak ada lagi pemberian besar secara diam-diam.
Sedangkan masalah Deni, Ardi memilih membantu dengan cara berbeda.
Bukan memberikan uang tunai terus-menerus.
Dia meminta kakaknya menunjukkan seluruh utang.
Mereka menyusun rencana pembayaran.
Beberapa barang konsumtif dijual.
Deni juga diminta mencari pekerjaan tambahan.
Awalnya Deni marah.
Dia bahkan sempat mengatakan Ardi sudah berubah sejak menikah.
Namun kali ini Ardi tidak goyah.
“Kalau bantuan membuat Mas terus mengulang kesalahan yang sama, itu bukan bantuan.”
Aku mendengar kalimat itu dari ruang sebelah dan tanpa sadar tersenyum.
Beberapa minggu kemudian, ibu mertuaku kembali ke kampung.
Sebelum pulang, beliau menghampiriku di dapur.
Lukanya sudah jauh membaik.
Beliau berdiri cukup lama sebelum akhirnya berkata,
“Rina.”
Aku menoleh.
“Iya, Bu?”
Beliau terlihat ragu.
Lalu tiba-tiba menggenggam tanganku.
“Maaf.”
Aku terdiam.
“Ibu kira selama ini kamu ingin mengambil Ardi dari Ibu.”
Matanya mulai basah.
“Ternyata Ibu yang terlalu takut kehilangan anak sampai lupa kalau anak Ibu sudah punya keluarga sendiri.”
Aku tidak langsung menjawab.
Kemudian aku berkata pelan, “Saya nggak pernah mau mengambil Mas Ardi dari Ibu.”
Beliau mengangguk.
“Ibu tahu sekarang.”
Sebelum pergi, beliau mengeluarkan sebuah amplop.
Aku menolak ketika beliau menyerahkannya.
“Apa ini?”
“Biaya klinik kemarin.”
“Nggak usah, Bu.”
“Ambil.”
Aku tetap menggeleng.
Namun beliau tersenyum.
“Bukan soal uangnya.”
Tangannya menekan amplop itu ke telapak tanganku.
“Ibu cuma sedang belajar bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas kebutuhannya sendiri.”
Aku menatapnya.
Lalu akhirnya menerima amplop tersebut.
Sore itu, setelah ibu mertuaku pulang, aku dan Ardi duduk di teras.
Langit Yogyakarta mulai berwarna jingga.
Ardi menyodorkan secangkir teh kepadaku.
“Rin.”
“Hm?”
“Kamu menyesal menikah sama aku?”
Aku menoleh.
Pertanyaan itu terdengar seperti candaan, tetapi wajahnya serius.
Aku berpikir sebentar.
“Pernah.”
Matanya langsung membesar.
Aku tertawa kecil.
“Tapi bukan berarti sekarang.”
Dia menghela napas lega.
Beberapa detik kemudian, dia berkata, “Aku kira tanggung jawab anak laki-laki adalah membahagiakan ibunya sebanyak mungkin.”
Aku memandang jalan di depan rumah.
“Berbakti sama orang tua itu penting.”
Aku berhenti sejenak.
“Tapi setelah menikah, hidup bukan tentang memilih ibu atau istri.”
Ardi mengangguk.
“Lalu tentang apa?”
“Tentang tahu batas tanggung jawab.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan, “Kita bisa membantu keluarga tanpa menghancurkan keluarga kita sendiri.”
Ardi tersenyum pahit.
“Harus nunggu Ibu kena air panas dulu baru aku ngerti.”
Aku menatapnya tajam.
“Jangan bercanda soal itu.”
“Iya, iya.”
Kami tertawa kecil.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, sesuatu yang sudah lama kami tunda akhirnya kembali kami bicarakan.
Rencana memiliki anak.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tabungan kami mulai bertambah lagi.
Dana darurat mulai terbentuk.
Rumah terasa lebih tenang.
Namun hal paling besar yang berubah bukan saldo rekening.
Melainkan cara Ardi melihat pernikahan kami.
Suatu malam, ketika kami sedang menghitung anggaran bulanan, Ardi tiba-tiba berhenti menulis.
“Rin.”
“Apa?”
“Dulu aku bilang Ibu satu-satunya orang terdekatku.”
Tanganku berhenti bergerak.
Dia menatapku.
“Aku salah.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Ardi menggenggam tanganku.
“Ibu tetap ibu yang paling aku sayangi.”
Dia tersenyum.
“Tapi kamu adalah keluarga yang kupilih untuk aku bangun dan aku jaga.”
Mataku terasa panas.
Empat tahun menikah, mungkin itulah pertama kalinya aku mendengar Ardi benar-benar memahami arti sebuah rumah tangga.
Dan akhirnya aku sadar, tiga hari ketika aku berhenti memasak, berhenti berbelanja, dan berhenti menanggung semuanya ternyata bukan hukuman untuk suamiku.
Itu hanya sebuah cara untuk menyalakan lampu di ruangan yang selama ini sengaja kami biarkan gelap.
Karena kadang seseorang baru memahami nilai dari sesuatu ketika hal yang selama ini tersedia tiba-tiba berhenti diberikan.
Dan sejak hari itu, di rumah sederhana kami di pinggiran Yogyakarta, tidak ada lagi pertanyaan tentang siapa yang paling penting antara ibu dan istri.
Yang ada hanyalah satu kesadaran sederhana.
Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban.
Tetapi menikah juga berarti berjanji untuk tidak membiarkan pasangan berjalan sendirian memikul kehidupan yang seharusnya dibangun berdua.
