SUAMIKU PERGI, AKU MEMBESARKAN TIGA ADIKNYA SENDIRIAN—SAAT MEREKA SUKSES DAN MENGHILANG, SATU PAGI TIGA MOBIL BERHENTI DI DEPAN RUMAHKU DAN SELURUH KAMPUNG LANGSUNG TERDIAM

Aku tidak mungkin salah.

Mobil abu-abu gelap itu pernah terparkir di halaman rumahku hampir dua tahun lalu, pada malam terakhir Arif pulang sebelum hidupnya seolah menelannya bulat-bulat.

Pintu pengemudi terbuka.

Seorang laki-laki turun dengan kemeja biru tua dan celana hitam. Rambutnya lebih pendek, tubuhnya lebih berisi, dan wajahnya terlihat jauh lebih matang daripada yang kuingat.

Tapi cara dia berdiri sambil menatap rumah ini tidak berubah.

Arif.

Aku tetap memegang gagang pintu.

Dia menatapku beberapa detik, lalu berjalan mendekat.

Tidak ada senyum lebar.

Tidak ada sapaan dramatis.

Begitu sampai di depanku, dia justru menundukkan kepala.

“Mbak.”

Satu kata itu membuat dadaku sesak.

Aku ingin bertanya ke mana saja dia selama dua tahun.

Aku ingin marah karena teleponku tidak pernah diangkat.

Aku ingin menanyakan Bima dan Fajar.

Namun yang keluar dari mulutku malah kalimat paling biasa.

“Kamu sudah sarapan?”

Arif menutup matanya sebentar.

Ketika membukanya lagi, matanya merah.

“Belum.”

“Masuk dulu.”

Belum sempat dia melangkah, suara pintu mobil kedua terdengar.

Aku menoleh.

Seorang laki-laki turun sambil membetulkan lengan kemejanya.

Bima.

Wajahnya masih sama, hanya kini ada sedikit garis di sekitar matanya. Dia berjalan cepat ke arah kami.

“Mbak.”

Aku menatapnya.

“Kamu juga belum sarapan?”

Bima tertawa kecil, tetapi suaranya pecah.

“Belum.”

Tetangga yang memenuhi gang mulai berbisik.

Bu Lilis berdiri seperti patung di depan rumahnya. Pak Hadi bahkan sudah meninggalkan warung dan berdiri beberapa meter dari pagar.

Aku melihat ke belakang Bima.

“Fajar?”

Arif dan Bima saling pandang.

Arif menjawab pelan.

“Sebentar lagi.”

Aku belum sempat bertanya ketika pria berkemeja putih yang tadi membawa map mendekati kami.

“Pak Arif, barangnya diturunkan sekarang?”

Arif mengangguk.

“Ya. Hati-hati.”

Aku langsung memotong.

“Barang apa?”

Arif tersenyum tipis.

“Makanya kami datang.”

Tiga pekerja membuka kain tebal di dalam truk.

Di baliknya terlihat mesin jahit industri baru.

Bukan satu.

Ada beberapa.

Kemudian mereka menurunkan meja potong kain besar, rak benang, mesin obras, lemari penyimpanan, dan beberapa kardus bertuliskan nama perusahaan peralatan konveksi.

Aku menatap semuanya dengan bingung.

“Ini salah alamat.”

Bima menggeleng.

“Tidak.”

“Rumahku tidak muat.”

“Memang bukan untuk dimasukkan ke rumah.”

Aku menatapnya tajam.

“Terus?”

Arif menunjuk ke ujung gang.

“Ikut sebentar.”

“Aku belum ganti baju.”

“Mbak cuma perlu jalan seratus meter.”

Aku semakin tidak mengerti.

Namun seluruh kampung sudah menonton, dan aku tahu mereka tidak akan pergi sebelum melihat bagaimana kejadian ini berakhir.

Aku memakai sandal lalu mengikuti Arif dan Bima.

Ketika sampai di ujung gang, langkahku berhenti.

Bangunan tua bekas gudang beras milik Pak Rahmat telah berubah.

Dindingnya dicat putih. Pintu depannya diganti kaca. Di dalamnya terdapat deretan meja jahit, rak kain, lampu-lampu baru, dan ruang kecil di bagian depan.

Aku mengenal bangunan itu.

Bertahun-tahun aku melewatinya setiap pergi ke pasar.

“Kenapa kita ke sini?”

Arif mengeluarkan sebuah kunci.

Lalu dia meletakkannya di telapak tanganku.

“Karena sekarang ini punya Mbak.”

Aku menatap kunci itu.

“Apa?”

“Gudang dan tanahnya sudah kami beli enam bulan lalu.”

Aku menarik tanganku.

“Kalian gila?”

Bima tersenyum.

“Mungkin.”

“Kalian pikir aku mau menerima gedung begini begitu saja?”

“Belum selesai.”

Aku menatap keduanya.

Arif memanggil pria yang membawa map.

Dia menyerahkan sebuah dokumen kepadaku.

Di halaman pertama tertulis nama sebuah usaha.

Sari Karya Mandiri.

Di bawahnya ada keterangan tentang unit produksi seragam sekolah dan pelatihan menjahit.

Aku membaca nama itu dua kali.

“Ini apa?”

Bima menjawab.

“Usaha Mbak.”

“Aku tidak punya usaha sebesar ini.”

“Mulai hari ini punya.”

Aku menutup map.

“Arif.”

Nada suaraku membuat dia langsung diam.

“Kalau kalian datang cuma karena merasa berutang, bawa semua barang itu pulang.”

Wajah Bima berubah.

“Mbak…”

“Aku membesarkan kalian bukan supaya suatu hari kalian membayar.”

Arif mengangguk.

“Kami tahu.”

“Tidak. Kalau tahu, kalian tidak akan melakukan ini.”

Aku mengembalikan map.

“Dua tahun kamu tidak pulang. Pesanku tidak dibalas. Bima bilang akan menelepon tapi tidak pernah. Nomor Fajar bahkan aku tidak punya.”

Gang itu mendadak sunyi.

Orang-orang yang tadi berbisik kini diam.

Aku tidak peduli.

“Kalau kalian mau memberiku sesuatu, kasih tahu dulu kalian masih hidup.”

Bima menunduk.

Arif tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak melihat mereka, amarah yang selama ini kusimpan muncul begitu saja.

“Uang bisa dicari. Mesin jahit bisa dibeli. Tapi dua tahun itu mau kalian beli pakai apa?”

Arif mengusap wajah.

“Mbak benar.”

“Jadi jangan datang membawa gedung lalu mengira semuanya selesai.”

“Kami tidak pernah mengira begitu.”

Suara itu datang dari belakang.

Aku membeku.

Aku mengenal suara tersebut meskipun sudah bertahun-tahun tidak mendengarnya secara langsung.

Aku berbalik.

Sebuah mobil putih baru saja berhenti.

Pintu belakang terbuka.

Seorang laki-laki turun dengan kemeja sederhana, membawa ransel di bahunya.

Fajar.

Dia lebih kurus dari yang kuingat.

Rambutnya sedikit berantakan dan ada lingkar gelap di bawah matanya.

Dia berdiri beberapa langkah dariku.

“Mbak.”

Aku tidak menjawab.

Fajar mendekat.

“Aku minta maaf.”

“Kamu ganti nomor.”

“Iya.”

“Kenapa tidak kasih aku?”

Dia terdiam.

Aku menunggu.

Akhirnya Arif berkata, “Karena kami bodoh.”

Aku memandang ketiganya.

Bima menarik napas panjang.

“Kami awalnya mau bikin kejutan kecil.”

“Kecil?”

Dia melihat bangunan di belakangku.

“Awalnya memang kecil.”

Ternyata semuanya bermula hampir tiga tahun lalu.

Saat Fajar mendapatkan kesempatan mengikuti program spesialis di luar negeri, dia pernah menelepon Arif dan Bima.

Mereka membicarakanku.

Tentang mesin jahit tua yang masih kugunakan.

Tentang atap dapur yang bocor.

Tentang bagaimana setiap kali mereka mengirim uang, aku selalu mengembalikannya atau menyuruh mereka menabung.

Mereka lalu sepakat melakukan sesuatu yang tidak bisa kutolak dengan mudah.

Mereka ingin membangun usaha atas namaku.

Bukan sekadar memberiku uang.

Mereka ingin membuat tempat kerja yang bisa mempekerjakan ibu-ibu di sekitar kampung yang selama ini sering menitipkan pekerjaan jahitan kepadaku.

Arif mengurus bangunan.

Bima mengurus jaringan pemasok dan kontrak produksi.

Fajar menyisihkan sebagian penghasilannya.

Namun rencana itu terus membesar.

Masalahnya, ketiganya memiliki satu pemikiran bodoh yang sama.

Mereka ingin merahasiakannya sampai selesai.

“Jadi kalian harus menghilang?” tanyaku.

Bima menggeleng cepat.

“Awalnya tidak.”

Arif melanjutkan, “Perusahaanku dapat proyek di luar Jawa. Aku pindah-pindah hampir setahun. Bima kena masalah besar di usahanya.”

Aku menoleh kepada Bima.

“Masalah apa?”

Bima tersenyum hambar.

“Nyaris bangkrut.”

Aku terdiam.

“Tapi kamu tidak pernah bilang.”

“Aku malu.”

“Kenapa malu sama aku?”

Dia tidak menjawab.

Fajar lalu berkata, “Aku juga tidak baik-baik saja, Mbak.”

Ternyata selama di luar negeri dia sempat mengalami kecelakaan kecil yang membuat tangannya harus menjalani rehabilitasi berbulan-bulan.

Kariernya hampir berhenti.

Dia mengganti nomor karena ponselnya hilang, kemudian terlalu sibuk berpindah tempat tinggal dan rumah sakit.

“Tapi itu bukan alasan,” katanya. “Kami bertiga tetap salah.”

Aku melihat mereka satu per satu.

Tiga anak laki-laki yang dulu berebut telur goreng di meja makan kini berdiri sebagai tiga laki-laki dewasa yang ternyata juga bisa takut, gagal, malu, dan membuat keputusan bodoh.

“Kami terlalu sibuk berusaha menjadi orang yang Mbak banggakan,” kata Arif, “sampai lupa bahwa Mbak tidak pernah minta kami menjadi siapa-siapa.”

Aku menunduk.

Kalimat itu mengenai sesuatu dalam diriku yang selama bertahun-tahun tidak pernah kusentuh.

Tiba-tiba terdengar suara Pak Hadi.

“Bagaimanapun, Sari memang sudah berjasa.”

Aku menoleh.

Dia berdiri bersama beberapa warga.

“Kalau dulu keluarga tidak membantu…”

Arif langsung menatapnya.

“Justru itu yang kami ingat, Pak.”

Pak Hadi terdiam.

Arif berjalan mendekat satu langkah.

“Dua puluh tahun lalu, waktu Mbak Sari ditanya siapa yang mau membawa kami, tidak ada yang menjawab.”

Wajah Pak Hadi berubah.

Bima melanjutkan dengan tenang.

“Kami ingat.”

Fajar mengangguk.

“Kami masih kecil, tapi kami ingat semuanya.”

Tidak ada yang berkata apa-apa.

Aku justru merasa tidak nyaman.

“Sudah.”

Arif menoleh kepadaku.

“Mbak tidak perlu membela siapa pun lagi.”

“Aku bukan membela. Aku cuma tidak mau pagi ini berubah jadi sidang kampung.”

Beberapa tetangga tertawa kecil.

Ketegangan sedikit pecah.

Bu Lilis yang sejak tadi berdiri di seberang jalan tiba-tiba mendekat.

Dia melihat bangunan baru itu lalu menatapku.

“Jadi mereka tidak meninggalkan kamu?”

Aku tersenyum tipis.

“Sepertinya cuma tersesat.”

Bima langsung tertawa.

“Jauh sekali tersesatnya.”

Aku menatap tiga orang itu.

“Memang.”

Kami kembali ke rumah.

Aku memasak nasi goreng karena itu satu-satunya makanan yang bisa dibuat cepat.

Anehnya, meskipun ketiganya sekarang bisa makan di restoran mahal mana pun, mereka duduk di meja kayu lama dan berebut telur seperti dua puluh tahun lalu.

“Yang ini punyaku,” kata Bima.

Fajar mengambilnya.

“Kamu punya perusahaan, beli sendiri.”

“Aku nyaris bangkrut, ingat?”

Arif menepuk meja.

“Jangan ribut.”

Aku meletakkan satu telur lagi.

“Kalian ternyata tetap tidak berubah.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu kembali berisik.

Namun kejutan mereka belum selesai.

Setelah sarapan, Fajar mengeluarkan sebuah amplop kecil.

Aku langsung mengernyit.

“Apa lagi?”

“Bukan uang.”

“Kalau sertifikat rumah, simpan.”

“Bukan.”

Dia menyerahkannya kepadaku.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar fotokopi dokumen lama.

Salah satunya membuat tanganku gemetar.

Surat tulisan tangan Dimas.

Aku mengenali tulisannya.

“Ini dari mana?”

Arif menjawab pelan.

“Pak Hadi.”

Aku menoleh ke luar.

“Beberapa bulan lalu kami menanyakan dokumen tanah lama. Pak Hadi menemukan ini di antara barang-barang keluarga.”

Aku membuka surat tersebut.

Tulisan Dimas tidak panjang.

Dia menulisnya beberapa bulan sebelum meninggal, ketika kesehatannya mulai memburuk.

Sebagian besar isinya tentang ketiga adiknya.

Tetapi pada bagian akhir ada satu kalimat yang membuat pandanganku kabur.

Kalau suatu hari aku tidak ada, aku tidak berani meminta Sari membesarkan mereka. Itu terlalu berat. Tapi kalau dia memilih tinggal, semoga suatu hari anak-anak itu mengerti bahwa mereka hidup bukan karena kakaknya, melainkan karena ada seorang perempuan yang memilih tidak pergi.

Aku berhenti membaca.

Selama dua puluh tahun aku sering bertanya apakah keputusanku salah.

Ternyata Dimas sendiri tidak pernah menganggap itu sebagai kewajibanku.

Aku melipat surat itu perlahan.

Fajar duduk di sampingku.

“Mbak.”

“Hm?”

“Kami tidak pernah menghilang karena lupa.”

Aku mengusap sudut mataku.

“Kalian tetap salah.”

“Iya.”

“Jangan kira surat ini bikin kalian bebas.”

Bima tertawa dari seberang meja.

“Berarti masih boleh pulang?”

Aku menatapnya.

“Kalau bawa cucian sendiri.”

Kami semua tertawa.

Tiga bulan kemudian, Sari Karya Mandiri mulai beroperasi.

Aku hampir menolak menjadi pemiliknya, sampai Bima menunjukkan sistem yang mereka susun.

Aku tidak akan bekerja sendirian.

Ada dua belas perempuan dari kampung yang direkrut sebagai penjahit tetap.

Beberapa di antaranya adalah ibu tunggal.

Ada juga program pelatihan gratis bagi perempuan yang ingin belajar menjahit tetapi tidak mampu membeli mesin.

Kontrak pertama datang dari tiga sekolah.

Aku masih menggunakan mesin jahit lamaku.

Bukan karena mesin baru tidak bagus.

Aku hanya tidak ingin membuang sesuatu yang sudah menemaniku lebih dari dua puluh tahun.

Mesin itu sekarang diletakkan di sudut ruang kerjaku.

Di dinding belakangnya tergantung foto lama.

Aku, Dimas, Arif, Bima, dan Fajar.

Suatu sore Bu Lilis datang membawa celana cucunya yang sobek.

Dia berdiri di pintu ruang produksi sambil melihat belasan mesin bekerja.

“Sari.”

“Ya?”

“Bisa jahit ini?”

Aku menerima celananya.

“Bisa.”

Dia diam sebentar.

Kemudian berkata pelan, “Dulu saya sering ngomong sembarangan.”

Aku tersenyum.

“Dulu saya juga sering dengar sembarangan.”

Dia tertawa malu.

Sebelum pergi, dia bertanya, “Kamu tidak menyesal?”

Aku tahu apa yang dia maksud.

Dua puluh tahun.

Kesempatan menikah lagi.

Masa muda.

Uang.

Tenaga.

Semua hal yang menurut orang telah kubuang.

Aku melihat melalui kaca.

Arif sedang berbicara dengan kepala produksi.

Bima baru datang membawa makanan untuk semua pekerja.

Fajar, yang kini kembali bekerja di Indonesia, duduk di ruang depan sambil memperbaiki kipas angin yang sebenarnya tidak rusak.

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Malam itu, setelah semua orang pulang, aku kembali ke rumah dan menemukan tiga pasang sandal berserakan di depan pintu.

Aku hampir marah.

Kemudian aku berhenti.

Dua puluh tahun lalu, tiga pasang sandal kecil juga selalu berserakan di tempat yang sama.

Bedanya, dulu aku takut tidak mampu membesarkan pemiliknya.

Sekarang aku justru takut rumah ini kembali terlalu sepi jika mereka pergi.

Aku masuk.

Dari dapur terdengar suara Bima.

“Mbak, Fajar habisin sambal!”

Fajar langsung membalas.

“Bohong!”

Arif berteriak, “Kalian sudah tua masih ribut!”

Aku menutup pintu.

Lalu tertawa.

Orang kampung pernah mengatakan aku membuang hidupku untuk membesarkan tiga anak yang bukan darah dagingku.

Mereka salah dalam satu hal.

Aku tidak pernah membuang hidupku.

Aku sedang membangun sebuah keluarga.

Dan keluarga, akhirnya aku mengerti, bukan tentang siapa yang memiliki darah yang sama.

Keluarga adalah tentang siapa yang tetap membuka pintu ketika semua orang lain memilih pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang