TIGA TAHUN SETELAH SUAMINYA MENYERAHKANNYA KE PENJARA, NAYLA KELUAR HANYA UNTUK BERCERAI—NAMUN DI MAKAM IBUNYA, SEBUAH AMPLOP BASAH BERISI FOTO MEMBUAT DARAHNYA DINGIN: SUAMINYA TERNYATA TAHU DIA TAK BERSALAH, TETAPI TETAP MEMBIARKANNYA DIHUKUM DEMI WANITA LAIN

Tiga tahun di balik jeruji besi telah mengajarkan Nayla satu hal yang tidak pernah ia pelajari selama tujuh tahun menjadi istri Dimas.

Pengkhianatan paling menyakitkan bukan ketika seseorang berhenti mencintaimu, melainkan ketika ia mengetahui kebenaran dan sengaja memilih menghancurkanmu.

Nayla berdiri di depan makam ibunya dengan amplop plastik masih tergenggam erat. Foto Dimas bersama seorang montir terasa seperti benda paling berat yang pernah ia pegang.

Siska menatap nomor telepon di secarik kertas.

“Kita hubungi sekarang?”

Nayla mengangguk.

Siska menyerahkan ponselnya. Nayla sengaja tidak menggunakan nomor lama. Ia mengetik nomor itu, lalu menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar tiga kali.

Seorang laki-laki menjawab.

“Halo?”

Nayla menahan napas.

“Saya Lala.”

Hening.

Begitu lama hingga Nayla mengira sambungan terputus.

Kemudian suara laki-laki itu berubah berat.

“Kamu sudah keluar?”

“Siapa Anda?”

“Jangan bicara lewat telepon. Datang ke alamat yang akan saya kirim. Sendiri.”

“Saya tidak akan datang sebelum tahu siapa Anda.”

Laki-laki itu menghela napas.

“Nama saya Arman Prasetyo.”

Nayla membeku.

Nama itu tidak asing.

Arman adalah mantan sopir pribadi ibunya yang berhenti bekerja beberapa bulan sebelum sang ibu meninggal.

“Saya yang mengambil foto Dimas di bengkel malam itu,” lanjutnya.

Nayla menggenggam ponsel lebih erat.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena saya pengecut.”

Telepon terputus.

Beberapa detik kemudian sebuah alamat masuk melalui pesan.

Sebuah kedai kopi tua di kawasan Sentul.

“Aku ikut,” kata Siska.

“Dia bilang sendiri.”

“Dan kamu pikir aku akan membiarkan sahabatku yang baru keluar dari penjara menemui laki-laki misterius sendirian?”

Nayla menatapnya.

Siska mendengus.

“Aku duduk di mobil. Itu kompromi terbaik.”

Empat puluh menit kemudian Nayla memasuki kedai tersebut.

Arman duduk di sudut paling belakang.

Usianya kini mendekati enam puluh. Rambutnya hampir seluruhnya memutih.

Begitu melihat Nayla, ia berdiri.

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Kamu mirip sekali dengan ibumu.”

Nayla tidak membalas basa-basi.

“Kenapa Dimas ada di bengkel?”

Arman perlahan duduk.

“Karena dia sedang membeli seseorang.”

Nayla merasakan tengkuknya dingin.

Arman mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Montir di foto itu namanya Rendi. Dimas membayarnya untuk memberikan akses ke mobil Laras.”

“Untuk merusak rem?”

“Bukan.”

Jawaban itu membuat Nayla terdiam.

Arman menatapnya lurus.

“Dimas tidak merencanakan kecelakaan Laras.”

“Lalu?”

“Dia merencanakan bukti yang akan menjadikanmu tersangka jika sesuatu terjadi.”

Nayla merasa mual.

Arman menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelum kecelakaan, Dimas dan Laras kembali berhubungan. Awalnya pertemuan bisnis, kemudian hubungan mereka berubah.

Laras ingin Dimas meninggalkan Nayla.

Tetapi perceraian akan menjadi masalah besar.

Sebagian modal perusahaan Dimas berasal dari aset keluarga Nayla. Rumah mereka pun berdiri di atas tanah warisan ibunya.

Jika Dimas menceraikannya karena perselingkuhan, posisinya secara hukum dan bisnis bisa menjadi rumit.

“Jadi dia menjebakku?”

“Awalnya hanya untuk membuatmu terlihat seperti istri pencemburu yang tidak stabil.”

“Dengan sarung tangan dan transfer palsu?”

Arman mengangguk.

“Dimas membayar Rendi menggunakan rekening perantara, lalu transaksi itu direkayasa seolah berasal darimu. Sarung tanganmu diambil dari mobil.”

Nayla menutup mata.

“Tapi kecelakaan itu?”

“Di luar rencana.”

Menurut Arman, Rendi memang membuka sistem pengereman mobil Laras, tetapi hanya untuk membuat jejak bahwa seseorang pernah mengutak-atiknya. Ia mengaku memasangnya kembali.

Dua hari kemudian rem mobil itu benar-benar gagal.

Polisi menemukan jejak manipulasi.

Dimas panik.

Namun bukannya mengatakan kebenaran, ia justru melihat kesempatan.

Ia menyerahkan bukti palsu yang telah disiapkannya.

“Dan CCTV Yogyakarta?”

Arman menatap meja.

“Dimas mendapat salinannya.”

Jantung Nayla berdegup keras.

“Dari mana?”

“Manajer hotel mengirimkannya langsung kepada sekretaris Dimas setelah pengacaramu meminta rekaman. Dimas melihat video itu. Kamu terlihat jelas masuk lift hotel pukul sebelas malam.”

“Kenapa video itu tidak sampai ke pengacaraku?”

“Dimas meminta sekretarisnya menghapus email dan salinannya.”

Nayla tidak menangis.

Ia justru tertawa kecil.

Suara yang membuat Arman terlihat semakin bersalah.

“Jadi ketika dia duduk di ruang sidang dan melihat saya divonis empat tahun…”

“Dia sudah tahu kamu tidak mungkin berada di bengkel.”

Nayla memalingkan wajah ke jendela.

Tiga tahun.

Tiga Lebaran.

Kematian harga dirinya.

Tatapan para tahanan ketika ia pertama datang.

Malam-malam ketika ia menangis tanpa suara sambil bertanya mengapa laki-laki yang paling mengenalnya tidak mempercayainya.

Ternyata Dimas mempercayainya.

Ia hanya lebih mencintai kepentingannya sendiri.

“Kenapa Mama tahu?”

Pertanyaan itu membuat Arman lama diam.

“Ibumu menyuruh saya mengikuti Dimas.”

“Kapan?”

“Beberapa bulan sebelum beliau meninggal.”

Nayla menatapnya tajam.

“Ibu tahu Dimas berselingkuh?”

“Lebih dari itu.”

Arman menggeser flashdisk ke arahnya.

“Ibumu tidak pernah mempercayai Dimas.”

Nayla membawanya ke mobil.

Di dalam laptop Siska, mereka membuka isi flashdisk.

Ada puluhan dokumen.

Foto.

Rekaman percakapan.

Salinan transaksi.

Lalu sebuah video.

Nayla menekan tombol putar.

Wajah ibunya muncul.

Perempuan itu terlihat jauh lebih kurus daripada yang Nayla ingat.

“Lala,” katanya dalam video.

Nayla langsung menutup mulut.

“Kalau kamu menonton ini, mungkin Mama sudah tidak punya kesempatan menjelaskan semuanya.”

Air mata yang sejak pagi ia tahan akhirnya jatuh.

Ibunya menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelum meninggal, ia menemukan Dimas diam-diam berusaha memindahkan sejumlah aset perusahaan yang sebenarnya dibangun menggunakan modal keluarga Nayla.

Ia menyewa Arman untuk menyelidiki.

Dari sanalah perselingkuhan Dimas dan Laras diketahui.

Namun ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Dimas menikahimu bukan karena kebetulan.”

Nayla menahan napas.

Ibunya melanjutkan.

“Dia sudah tahu siapa ayahmu sebelum mendekatimu.”

Video berhenti beberapa detik karena file rusak.

Siska menatap Nayla.

“Ayahmu?”

Nayla memutar bagian berikutnya.

Nama seorang laki-laki muncul.

Adrian van der Meer.

Seorang pengusaha keturunan Indonesia-Belanda yang puluhan tahun tinggal di Singapura dan memiliki kelompok investasi besar di Asia Tenggara.

Nayla hampir tertawa karena terasa mustahil.

Namun ibunya menunjukkan dokumen lama.

Foto.

Surat.

Bahkan salinan akta yang selama ini disembunyikan.

Ayah biologis Nayla ternyata tidak pernah meninggalkan mereka seperti yang selama ini ia percaya.

Ibunya yang memilih pergi setelah keluarga Adrian menolak hubungan mereka.

Bertahun-tahun kemudian Adrian mencari Nayla.

Dan Dimas mengetahui hal itu.

“Dimas mendekatimu ketika mengetahui Adrian sedang mencari anak perempuannya,” kata ibunya dalam video. “Mama tidak tahu apakah dia akhirnya benar-benar mencintaimu atau tidak. Mama berharap iya. Tapi Mama tidak mau mempertaruhkan hidupmu pada harapan.”

Video berakhir dengan suara ibunya yang bergetar.

“Maafkan Mama karena menyembunyikan terlalu banyak hal.”

Nayla duduk diam.

Siska juga tidak berkata apa-apa.

Hari yang seharusnya hanya menjadi hari pertama kebebasannya berubah menjadi hari ketika seluruh masa lalunya runtuh.

Namun satu pertanyaan masih belum terjawab.

Siapa sebenarnya yang merusak rem Laras?

Arman membantu mereka menemukan Rendi.

Mantan montir itu kini bekerja di sebuah bengkel kecil di Cianjur.

Begitu melihat Nayla, wajahnya pucat.

“Saya sudah bayar semuanya lewat kesaksian.”

“Kesaksian palsu,” jawab Nayla.

Rendi mencoba pergi.

Siska berdiri di depan pintu.

“Kami cuma mau tahu siapa yang merusak rem Laras.”

Rendi menggeleng.

“Saya nggak tahu.”

Nayla meletakkan foto di meja.

“Kalau begitu kita bawa ini ke polisi.”

Rendi menatap foto tersebut lama.

Akhirnya bahunya jatuh.

“Laras sendiri.”

Nayla membeku.

“Apa?”

“Bu Laras yang menyuruh saya.”

Rendi mengaku Laras mengetahui rencana Dimas menanam bukti terhadap Nayla.

Namun ia tidak puas.

Ia ingin sesuatu yang benar-benar membuat Nayla hilang dari kehidupan mereka.

Laras meminta Rendi mengendurkan komponen pengereman mobilnya.

Rencananya sederhana. Ia akan mengemudi pelan di kawasan sepi, lalu membuat kecelakaan kecil.

Tetapi perhitungan mereka salah.

Rem gagal total di jalan menurun.

Kecelakaan itu hampir membunuh Laras sendiri.

“Dimas tahu?”

“Setelah kecelakaan.”

“Dan tetap diam?”

Rendi tertawa pahit.

“Pak Dimas mau mundur. Tapi Bu Laras bilang kalau dia bicara, semua bukti palsu yang mereka siapkan juga terbongkar. Mereka berdua bisa kena.”

Nayla keluar dari bengkel dengan kaki gemetar.

Siska mengejarnya.

“Kita ke polisi sekarang.”

Nayla berhenti.

“Belum.”

“Nayla.”

“Kalau kita datang sekarang, Dimas akan tahu aku hidup.”

“Terus?”

Nayla menatap layar ponselnya.

Ada sebuah berita bisnis yang baru saja ditemukan Siska.

Dimas akan mengumumkan merger perusahaan tiga hari lagi dalam acara besar di Jakarta.

Dan Laras tercantum sebagai direktur baru.

Nayla tersenyum tipis.

“Dia membiarkanku kehilangan tiga tahun.”

Tatapannya berubah dingin.

“Aku cuma minta tiga hari.”

Selama tiga hari berikutnya, Nayla bekerja bersama pengacara baru yang direkomendasikan Siska. Bukti-bukti disalin dan diamankan. Pernyataan Arman direkam. Rendi akhirnya bersedia memberikan kesaksian setelah mengetahui ia bisa meminta perlindungan hukum.

Salinan bukti juga diserahkan kepada penyidik melalui pengacara.

Namun Nayla meminta satu hal.

Jangan hubungi Dimas sampai acara merger berlangsung.

Malam acara tiba.

Sebuah hotel mewah di Jakarta dipenuhi investor dan wartawan.

Dimas berdiri di panggung mengenakan setelan gelap.

Di sampingnya Laras tersenyum anggun.

Tiga tahun telah mengubah Dimas.

Wajahnya lebih matang.

Tetapi Nayla masih mengenali kebiasaannya merapikan manset ketika gugup.

Dimas sedang berbicara tentang kepercayaan dan integritas ketika pintu ballroom terbuka.

Nayla masuk.

Percakapan berhenti satu demi satu.

Dimas melihatnya.

Mikrofon terlepas dari tangannya.

Wajahnya seketika kehilangan warna.

“Nayla?”

Laras berbalik.

Gelas di tangannya jatuh dan pecah.

Suasana ruangan berubah gaduh.

Nayla berjalan mendekati panggung.

Dimas turun tergesa-gesa.

“Kamu… masih hidup?”

Pertanyaan itu membuat Nayla tersenyum.

“Menarik.”

Ia berhenti satu meter di depannya.

“Suamiku sendiri bahkan tidak tahu apakah istrinya masih hidup.”

“Nayla, dengarkan aku.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Nayla memotongnya.

“Kali ini kamu yang dengarkan.”

Dua orang penyidik masuk dari pintu belakang bersama pengacara Nayla.

Dimas langsung memahami.

Wajahnya berubah.

“Nayla, kita bisa bicara.”

“Tiga tahun lalu aku juga bilang begitu.”

“Nay…”

“Tapi kamu bilang cukup.”

Dimas terdiam.

Nayla mengeluarkan sebuah map.

“Jadi sekarang giliranku.”

Ia menyerahkan dokumen perceraian.

“Cukup.”

Laras mundur perlahan.

Namun seorang penyidik menghentikannya.

Malam itu acara merger berubah menjadi awal penyelidikan baru atas rekayasa bukti, pemberian keterangan palsu, obstruction of justice, dan dugaan percobaan manipulasi kecelakaan.

Kasus Nayla dibuka kembali.

Beberapa bulan kemudian, pengadilan membatalkan vonisnya setelah bukti baru menunjukkan bahwa ia berada di Yogyakarta saat manipulasi kendaraan dilakukan.

Namanya dipulihkan.

Perceraiannya dengan Dimas selesai tidak lama sesudahnya.

Tetapi kejutan terakhir datang bukan dari pengadilan.

Melainkan dari Singapura.

Suatu sore, Nayla menerima surat dari seorang pengacara.

Adrian van der Meer masih hidup.

Selama bertahun-tahun ia mencari Nayla tanpa mengetahui bahwa surat-suratnya tidak pernah sampai.

Dimas pernah menerima salah satunya.

Dan menyembunyikannya.

Nayla akhirnya memahami alasan sebenarnya Dimas tidak menceraikannya selama ia berada di penjara.

Bukan cinta.

Selama mereka masih menikah, Dimas berharap suatu hari dapat memperoleh akses ke hubungan bisnis keluarga Adrian jika Nayla kembali muncul.

Ia tidak hanya membiarkan istrinya dipenjara.

Ia bahkan menunggu keuntungan dari perempuan yang telah dihancurkannya.

Enam bulan setelah bebas, Nayla kembali ke makam ibunya.

Kali ini ia datang sendiri.

Rambutnya tidak lagi dicat hitam.

Warna cokelat keemasan alaminya jatuh sampai bahu.

Ia meletakkan krisan putih di atas makam.

“Mama benar,” bisiknya.

“Bunga yang indah akhirnya layu.”

Nayla tersenyum sambil menyentuh batu nisan.

“Tapi ternyata manusia juga bisa tumbuh lagi setelah merasa hidupnya selesai.”

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor internasional.

Aku tidak tahu apakah aku pantas meminta kesempatan bertemu denganmu. Tetapi kalau kamu bersedia, aku akan menunggu selama yang kamu perlukan.

Adrian.

Nayla membaca pesan itu lama.

Ia tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus mengejar siapa pun.

Tidak harus membuktikan dirinya kepada siapa pun.

Tidak harus memohon agar seseorang percaya kepadanya.

Ia memasukkan ponsel ke dalam tas dan berjalan meninggalkan makam.

Tiga tahun sebelumnya, sebuah pintu besi tertutup di belakangnya dan Nayla mengira hidupnya telah berakhir.

Kini ia akhirnya mengerti.

Penjara paling kejam yang pernah menahannya ternyata bukan bangunan bertembok tinggi di Bandung.

Melainkan kepercayaannya kepada orang yang tidak pantas menerimanya.

Dan pada pagi ketika ia keluar dari penjara itu, Nayla sebenarnya baru membuka satu pintu.

Kebebasan yang sesungguhnya dimulai ketika ia berhenti menoleh ke belakang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang