SAAT IBU MERTUAKU MENYURUH AKU MENGELAP MEJA, AKU HANYA MEMANGGIL SUAMIKU SEKALI—LIMA DETIK KEMUDIAN DIA BERLARI DARI DAPUR, MEREBUT KAIN LAP DARIKU, TANPA SADAR MEMBUKTIKAN SATU HAL YANG SELAMA INI SELALU DIA BANTAH

“Dua puluh delapan juta?”

Suara Pak Hendra, ayah mertuaku, terdengar pelan, tetapi cukup untuk membuat seluruh meja makan membeku.

Kurir yang berdiri di dekat pintu tampak sedikit salah tingkah. Ia memeriksa layar ponselnya sekali lagi, lalu mengangguk.

“Betul, Pak. Total dua puluh delapan juta empat ratus ribu. Barangnya satu meja konsol marmer dan satu kursi pijat elektrik. Pembayaran sudah lunas.”

Aku perlahan menoleh ke arah Ibu Ratna.

Wajahnya pucat.

Arif juga menatap ibunya.

“Bu?”

Ibu Ratna buru-buru berdiri.

“Itu bukan punya Ibu.”

Kurir mengerutkan kening.

“Tapi penerimanya Ibu Ratna Wulandari. Nomor teleponnya juga sesuai.”

Dimas ikut bangkit dan melihat label di kotak.

“Ini nomor Ibu.”

Ibu Ratna mulai gelagapan.

“Mungkin salah kirim.”

Kurir tampak semakin bingung.

“Tidak mungkin, Bu. Pesanannya dibuat tiga hari lalu. Alamatnya juga alamat ini.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Aku hanya mengambil gelas dan minum.

Aneh sekali.

Pagi tadi, sebelum berangkat dari Jakarta, Arif mentransfer sepuluh juta rupiah kepada ibunya.

Katanya listrik rumah menunggak beberapa bulan, pompa air rusak, dan ada biaya berobat Pak Hendra yang belum dibayar.

Aku sebenarnya sempat mempertanyakan jumlahnya.

Namun Arif langsung membelanya.

“Ibu enggak mungkin bohong soal uang.”

Kalimat itu masih terngiang jelas di kepalaku.

Sekarang, bahkan belum enam jam berlalu, sebuah kursi pijat dan meja marmer seharga hampir tiga puluh juta tiba di depan kami.

Pak Hendra meletakkan sendoknya.

“Ratna, jelaskan.”

“Ya ampun, Pak. Jangan langsung menuduh.”

“Siapa yang menuduh? Saya cuma tanya.”

Ibu Ratna melirik Nadya.

Gerakan kecil itu tidak luput dari mataku.

Dan rupanya tidak luput dari Dimas.

Dimas langsung mengerutkan kening.

“Kenapa lihat Nadya?”

“Enggak lihat siapa-siapa.”

Nadya yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata pelan, “Bu, itu barang yang kemarin Ibu tunjukkan ke saya, kan?”

Ruangan kembali sunyi.

Aku hampir tersenyum.

Ibu Ratna menatap Nadya seolah berharap menantunya itu bisa menarik kembali kata-katanya.

Namun Nadya tampaknya benar-benar tidak memahami situasi.

“Yang Ibu bilang bagus untuk ruang keluarga. Ibu kirim fotonya ke saya hari Rabu.”

“Nadya!”

Suara Ibu Ratna meninggi.

Nadya tersentak.

“Apa?”

Dimas mengambil ponselnya.

“Coba lihat chat-nya.”

“Dimas, enggak perlu!”

Justru larangan itu membuat semua orang semakin curiga.

Nadya membuka percakapannya dengan Ibu Ratna.

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.

“Ini, Mas.”

Dimas membaca pesan tersebut.

Kemudian ia menatap ibunya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Ibu bilang, ‘Kalau barang ini ada di rumah, nanti keluarga Nadya kalau datang enggak menganggap keluarga kita kampungan.’”

Pak Hendra menutup mata.

Aku melihat rahang Arif mengeras.

Aku masih diam.

Bukan karena tidak punya sesuatu untuk dikatakan.

Aku hanya ingin melihat sampai sejauh mana kebohongan ini akan terbuka sendiri.

Arif akhirnya bertanya, “Uang sepuluh juta yang Ibu minta pagi tadi sebenarnya buat apa?”

Ibu Ratna langsung defensif.

“Kan Ibu sudah bilang buat listrik.”

“Mana tagihannya?”

“Arif!”

“Mana, Bu?”

Untuk pertama kalinya sejak aku menikah dengannya, Arif tidak mundur ketika ibunya meninggikan suara.

Ibu Ratna terdiam.

Pak Hendra kemudian berdiri, masuk ke kamar, lalu kembali membawa sebuah map plastik.

Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas.

“Listrik tidak menunggak.”

Arif menatap ayahnya.

“Lho?”

“Saya bayar setiap bulan.”

“Pompa air?”

“Diperbaiki bulan lalu.”

“Biaya berobat?”

Pak Hendra tertawa hambar.

“BPJS.”

Arif perlahan menatap ibunya.

Wajahnya benar-benar berubah.

Mungkin saat itulah sesuatu di dalam dirinya akhirnya retak.

Selama ini setiap kali aku mengeluh tentang Ibu Ratna, Arif selalu memiliki penjelasan.

Ibu cuma orangnya begitu.

Ibu sebenarnya sayang.

Kamu terlalu sensitif.

Namanya juga orang tua.

Sekarang tidak ada penjelasan yang bisa menyelamatkan keadaan.

Ibu Ratna duduk kembali.

“Apa salahnya seorang ibu minta uang kepada anak sendiri?”

Aku akhirnya bicara.

“Tidak salah.”

Semua orang menoleh kepadaku.

Aku melanjutkan dengan tenang.

“Kalau bilangnya memang minta.”

“Tapi kalau mengatakan listrik menunggak, pompa rusak, dan biaya berobat belum dibayar padahal semuanya tidak benar, namanya bukan minta.”

Ibu Ratna menatapku tajam.

“Kamu jangan ikut campur urusan ibu dan anak.”

Aku tersenyum tipis.

“Sepuluh juta itu keluar dari rekening bersama saya dan Arif.”

“Jadi saya justru orang yang paling berhak ikut campur.”

Dia langsung membalas, “Nah, kan! Ujung-ujungnya uang!”

Aku hampir tertawa.

“Memangnya tadi pagi Ibu minta dibayar pakai daun?”

Dimas spontan menunduk, menahan senyum.

Bahkan Pak Hendra membuang muka.

Arif mengembuskan napas panjang.

“Bu, kembalikan uangnya.”

Mata Ibu Ratna membesar.

“Apa?”

“Sepuluh juta yang aku transfer.”

“Kamu tega sama ibu sendiri?”

“Aku bukan enggak mau bantu.”

Suara Arif mulai bergetar.

“Tapi Ibu bohong.”

“Aku nyetir ke sini sambil mikir Bapak mungkin enggak bisa berobat karena enggak punya uang.”

“Ternyata Ibu beli furnitur hampir tiga puluh juta cuma supaya kelihatan kaya di depan keluarga Nadya?”

Ibu Ratna memukul meja.

“Kamu sekarang berani sekali bicara begitu karena istrimu!”

Dan seperti biasa, telunjuknya mengarah kepadaku.

“Sejak menikah dengan perempuan ini, kamu berubah!”

Aku tidak bergerak.

Tetapi kali ini Arif langsung menjawab.

“Jangan bawa Rani.”

Ibu Ratna terdiam.

“Apa?”

“Ini bukan soal Rani.”

Arif menatap ibunya.

“Ini soal Ibu.”

Kalimat itu sederhana.

Namun aku tahu betapa beratnya bagi Arif.

Sejak kecil ia dibesarkan dengan keyakinan bahwa anak yang baik adalah anak yang tidak pernah membuat ibunya kecewa.

Sayangnya, Ibu Ratna mengubah rasa berbakti itu menjadi tali yang bisa ditarik kapan saja.

Kalau Arif menolak permintaannya, ia dianggap berubah.

Kalau Arif membelaku, ia dianggap lupa ibu.

Kalau Arif tidak memberikan uang, ia dianggap tidak tahu balas budi.

Dan selama bertahun-tahun, cara itu berhasil.

Sampai hari itu.

Pak Hendra akhirnya meminta kurir membawa kedua barang tersebut masuk ke garasi.

Setelah pintu ditutup, suasana makan siang sudah benar-benar hancur.

Aku tidak lagi lapar.

Namun sebelum aku berdiri, Ibu Ratna mendadak berkata,

“Semua ini gara-gara kamu.”

Aku menatapnya.

Dia menunjukku.

“Kalau kamu tidak datang hari ini, tidak akan ada keributan.”

Aku tersenyum kecil.

“Kalau saya tidak datang, barang dua puluh delapan juta itu tetap datang, Bu.”

“Yang beda cuma mungkin tidak ada orang yang bertanya uang sepuluh juta dipakai untuk apa.”

Wajahnya memerah.

“Kamu memang dari awal enggak pernah menghormati Ibu.”

Aku mengangguk pelan.

“Mungkin definisi kita tentang menghormati memang berbeda.”

“Bagi saya, menghormati bukan berarti membiarkan diri sendiri diperlakukan seenaknya.”

Aku kemudian mengambil piringku.

Potongan leher ayam itu masih ada di sana.

Aku meletakkannya di depan Arif.

“Mas.”

Arif menatapku.

“Ayo pulang.”

Ia berdiri tanpa ragu.

Dan justru itulah yang membuat Ibu Ratna panik.

Biasanya Arif akan membujukku untuk tinggal.

Biasanya dia akan mengatakan jangan memperkeruh keadaan.

Biasanya dia akan meminta aku mengalah.

Kali ini dia mengambil kunci mobil.

“Dimas, nanti kabari aku.”

Kemudian dia menatap ibunya.

“Kalau uang sepuluh juta belum dikembalikan sampai Senin, aku anggap itu terakhir kalinya aku transfer uang tanpa melihat tagihan.”

Ibu Ratna mulai menangis.

Tangisan yang selama ini selalu berhasil membuat Arif menyerah.

“Jadi sekarang kamu memilih istri?”

Arif berhenti di depan pintu.

Lalu menjawab sesuatu yang bahkan membuatku terkejut.

“Aku enggak memilih siapa-siapa.”

“Aku cuma berhenti membiarkan Ibu membuatku merasa bersalah setiap kali aku tidak menuruti Ibu.”

Kami pulang sore itu.

Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Arif hampir tidak bicara.

Aku juga tidak memaksanya.

Baru setelah mobil memasuki tol, ia berkata pelan,

“Maaf.”

Aku menoleh.

“Untuk apa?”

“Semua.”

Ia mencengkeram kemudi.

“Selama ini setiap kamu cerita soal Ibu, aku selalu merasa kamu membesar-besarkan.”

“Aku pikir kalau aku mengakui Ibu salah, berarti aku anak durhaka.”

Aku terdiam beberapa saat.

Kemudian berkata, “Mengakui orang tua salah tidak sama dengan berhenti menyayangi mereka.”

Arif mengangguk.

Matanya tampak merah.

Malam itu kami tidak membahasnya lagi.

Namun Senin pagi, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Sepuluh juta rupiah kembali ke rekening kami.

Aku mengira masalah selesai.

Ternyata belum.

Sore harinya Nadya meneleponku.

Suaranya terdengar gugup.

“Mbak Rani, aku mau kasih tahu sesuatu. Tapi jangan bilang Ibu dulu.”

“Ada apa?”

“Kursi pijat sama meja itu dikembalikan.”

“Bagus, dong.”

“Bukan itu.”

Dia terdiam.

“Dimas tadi menemukan kuitansi lain di lemari Ibu.”

Aku langsung duduk tegak.

“Kuitansi apa?”

“Ternyata beberapa bulan terakhir Ibu beli banyak barang.”

“TV baru, tas, perhiasan, bahkan uang muka mobil.”

Aku mengerutkan kening.

“Dari mana uangnya?”

“Itu yang aneh.”

Nadya menarik napas.

“Sebagian besar transfer dari Mas Arif.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Setelah telepon ditutup, aku langsung membuka aplikasi bank.

Aku dan Arif memang memiliki rekening bersama untuk kebutuhan rumah tangga.

Namun masing-masing masih memiliki rekening pribadi.

Selama ini aku tidak pernah memeriksa rekening Arif.

Aku percaya padanya.

Malam itu, ketika dia pulang, aku langsung bertanya.

“Mas selama ini kasih uang berapa ke Ibu?”

Arif membeku.

“Kenapa tanya begitu?”

“Jawab.”

Ia meletakkan tas.

“Kadang-kadang.”

“Berapa?”

“Enggak tentu.”

“Dalam setahun?”

Arif tidak menjawab.

Aku menatapnya.

“Seratus juta?”

Diam.

“Dua ratus?”

Masih diam.

Dadaku mulai sesak.

“Mas.”

Akhirnya dia berkata sangat pelan.

“Mungkin hampir tiga ratus.”

Aku merasa lantai di bawah kakiku bergeser.

“Tiga ratus juta?”

“Aku bisa jelaskan.”

“Tiga ratus juta rupiah, Mas?”

Dia buru-buru mendekat.

“Ibu selalu bilang ada kebutuhan.”

“Bapak sakit, rumah bocor, Dimas butuh bantuan, utang keluarga.”

Aku tertawa hambar.

“Dan Mas tidak pernah cek?”

“Aku pikir…”

“Mas pikir aku yang terlalu curiga.”

Arif terdiam.

Untuk pertama kalinya aku benar-benar marah kepadanya, bukan kepada ibunya.

“Ini bukan lagi soal ibu mertua yang suka menyuruhku mengelap meja.”

“Ini soal suamiku menyembunyikan ratusan juta dari istrinya.”

“Aku tidak menyembunyikan.”

“Kalau aku baru tahu sekarang, itu namanya apa?”

Arif tidak bisa menjawab.

Aku masuk kamar dan mengunci pintu.

Malam itu kami tidur terpisah.

Tiga hari kemudian, Pak Hendra datang ke apartemen kami sendirian.

Ia membawa map tebal.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada biasanya.

“Rani, Arif, Bapak harus kasih tahu sesuatu.”

Dari map itu, ia mengeluarkan puluhan bukti transfer dan kuitansi.

Ternyata masalahnya jauh lebih besar.

Ibu Ratna selama hampir dua tahun menggunakan nama Pak Hendra, Dimas, bahkan kebutuhan rumah sebagai alasan meminta uang kepada Arif.

Totalnya lebih dari empat ratus juta.

Sebagian dipakai membeli barang.

Sebagian untuk membayar cicilan.

Namun ada satu pengeluaran yang paling besar.

Transfer rutin ke sebuah rekening yang tidak kami kenal.

Dimas kemudian melacak nama pemilik rekening itu.

Seorang perempuan bernama Maya Prameswari.

Awalnya kami mengira Ibu Ratna tertipu investasi.

Ternyata bukan.

Maya adalah pemilik sebuah butik kecil di Bogor.

Dan ketika Dimas mendatanginya, rahasia terakhir terbuka.

Selama hampir dua tahun, Ibu Ratna diam-diam membiayai butik tersebut.

Bukan karena investasi.

Bukan pula karena persahabatan.

Maya ternyata putri dari kakak perempuan Ibu Ratna yang sudah meninggal.

Bisnisnya hampir bangkrut setelah suaminya meninggalkan banyak utang.

Ibu Ratna membantu tanpa sepengetahuan siapa pun.

Aku terdiam ketika mendengarnya.

Tiba-tiba semuanya menjadi lebih rumit.

Perempuan yang selama ini kulihat hanya sebagai mertua yang penuh gengsi ternyata juga menyimpan sisi yang tidak kami ketahui.

Namun yang mengejutkanku adalah alasan dia menyembunyikannya.

“Aku malu.”

Itulah yang dikatakan Ibu Ratna ketika akhirnya kami semua duduk bersama seminggu kemudian.

Matanya bengkak.

“Dulu keluarga Maya pernah membantu Ibu saat kalian masih kecil.”

“Ketika dia kesulitan, Ibu merasa harus membalas.”

Arif bertanya, “Kenapa harus bohong?”

Ibu Ratna menunduk.

“Karena Bapakmu pasti melarang.”

Pak Hendra menghela napas.

“Saya tidak akan melarang membantu keluarga.”

“Saya akan melarang kalau kamu membeli kursi pijat dua puluh juta sambil mengaku tidak bisa bayar listrik.”

Dimas hampir tertawa.

Bahkan Nadya tersenyum tipis.

Suasana yang tadinya tegang sedikit mencair.

Namun aku belum selesai.

“Bu.”

Ibu Ratna menatapku.

“Saya bisa memahami Ibu ingin membantu Maya.”

“Tapi itu tidak menghapus cara Ibu memperlakukan saya.”

Wajahnya kembali kaku.

Aku melanjutkan.

“Selama ini Ibu selalu bilang menantu harus tahu diri.”

“Mungkin sekarang kita semua perlu belajar arti tahu diri yang sebenarnya.”

“Bukan berarti menantu harus diam.”

“Bukan berarti anak harus selalu memberikan uang.”

“Dan bukan berarti orang tua boleh melakukan apa saja hanya karena merasa sudah membesarkan anak.”

Tidak ada yang berbicara.

Lalu sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Ibu Ratna menangis.

Bukan tangisan keras yang biasa digunakannya ketika Arif menolak permintaan.

Ia hanya menunduk dan mengusap mata.

Kemudian berkata pelan,

“Ibu memang tidak adil sama kamu.”

Aku terdiam.

“Nadya datang dari keluarga berada.”

“Ibu takut keluarganya meremehkan kita.”

“Makanya Ibu selalu ingin memperlakukan dia sebaik mungkin.”

“Tanpa sadar, Ibu malah menjadikan kamu tempat untuk menunjukkan bahwa Ibu punya kuasa.”

Untuk pertama kalinya, dia mengatakannya sendiri.

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada kalimat tentang anak durhaka.

Tidak ada tuduhan bahwa aku merebut putranya.

Hanya pengakuan.

Hubungan kami tidak langsung menjadi indah setelah hari itu.

Hidup bukan sinetron.

Luka yang dikumpulkan selama setahun tidak hilang karena satu permintaan maaf.

Namun perlahan sesuatu berubah.

Arif mulai terbuka soal keuangan.

Kami membuat aturan bahwa bantuan besar kepada keluarga harus dibicarakan bersama.

Pak Hendra mengambil alih pengelolaan pengeluaran rumah.

Dimas membantu Maya merestrukturisasi bisnisnya agar tidak terus bergantung pada uang keluarga.

Dan Ibu Ratna?

Dua bulan kemudian kami kembali makan di rumah Bogor.

Begitu aku masuk, dia berkata dari dapur,

“Rani, meja belum dilap.”

Aku otomatis menoleh ke Arif.

Arif juga menatapku.

Kami berdua hampir tertawa.

Aku menarik napas dan bersiap memanggilnya.

Namun belum sempat aku membuka mulut, Ibu Ratna keluar dari dapur membawa kain lap.

Dia berhenti di depan kami.

Kemudian tersenyum canggung.

“Bukan menyuruh kamu.”

“Ibu cuma ngomong sendiri.”

Dia mengelap meja.

Arif tertawa sampai batuk.

Aku akhirnya ikut tertawa.

Tetapi kejutan terakhir datang saat makan.

Ketika ayam goreng disajikan, Ibu Ratna mengambil bagian paha paling besar.

Aku sudah menduga itu akan masuk ke piring Arif.

Ternyata dia meletakkannya di piringku.

“Ini buat Rani.”

Aku menatapnya curiga.

“Kenapa?”

Ibu Ratna mendengus.

“Enggak kenapa-kenapa.”

Lalu setelah beberapa detik, dia menambahkan,

“Kamu sudah biasa makan apa saja, kan?”

Semua orang langsung diam.

Aku menatapnya.

Dia menatapku.

Kemudian sudut bibirnya terangkat.

Aku baru sadar dia sedang mengolok-olok kalimatnya sendiri.

Aku tertawa.

“Betul, Bu.”

Aku memotong paha ayam itu menjadi dua.

Setengah kuberikan kepada Arif.

“Kan katanya satu keluarga.”

Ibu Ratna menggeleng sambil tersenyum.

Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Keluarga bukan tempat di mana satu orang harus terus mengalah agar semuanya terlihat damai.

Keluarga juga bukan hubungan yang membuat kita wajib menerima perlakuan buruk hanya karena pelakunya lebih tua.

Kadang-kadang, keluarga baru benar-benar mulai menjadi keluarga ketika seseorang berani mengatakan cukup.

Lucunya, semua perubahan besar di rumah kami tidak dimulai dari pertengkaran hebat.

Tidak dari ancaman perceraian.

Tidak juga dari ratusan juta rupiah yang akhirnya terbongkar.

Semuanya dimulai dari sebuah meja makan yang belum dilap.

Dan satu kalimat sederhana yang kuucapkan sambil menahan tawa.

“Mas Arif, tolong lap meja buat aku, ya!”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang