SUAMI MEMAKSA ISTRINYA YANG SEDANG SAKIT PARAH MENANDATANGANI SURAT CERAI TEPAT DI DEPAN SELINGKUHANNYA.

Bu Ratna berhenti tepat di sisi ranjang Laras.

Matanya turun ke lembaran surat cerai yang masih terbuka di atas meja kecil. Ujung pena masih berada di tangan Laras yang gemetar.

Tanpa berkata apa pun, Bu Ratna mengambil pena itu dari tangan menantunya.

Kemudian ia meraih seluruh dokumen di atas meja.

Arga langsung maju satu langkah.

“Bu, jangan ikut campur. Ini urusan rumah tangga kami.”

Bu Ratna menatap putranya.

Tatapan itu begitu dingin hingga Arga mendadak terdiam.

“Urusan rumah tangga?”

Suara Bu Ratna terdengar rendah.

“Kamu menyebut memaksa istrimu yang sedang terbaring sakit menandatangani surat cerai sebagai urusan rumah tangga?”

Keisya mencoba tersenyum.

“Bu, mungkin Ibu belum tahu semuanya. Mas Arga sudah lama tidak bahagia. Laras juga sedang sakit. Kami hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan baik.”

Bu Ratna perlahan menoleh ke arah Keisya.

“Dengan baik?”

Keisya menelan ludah.

Bu Ratna membuka tas tangannya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel.

Ia menekan layar beberapa kali.

Beberapa detik kemudian terdengar rekaman suara memenuhi kamar.

Suara Arga.

“Kalau Laras menandatangani surat cerai sebelum pemeriksaan aset selesai, rumah dan sebagian besar saham bisa kita alihkan. Dia sedang sakit. Dia pasti tidak akan membaca semuanya.”

Kemudian terdengar suara Keisya.

“Kalau dia meninggal sebelum tanda tangan bagaimana?”

Arga tertawa kecil dalam rekaman itu.

“Justru lebih rumit. Ada hak waris anak dan keluarganya. Makanya harus cepat.”

Wajah Arga berubah pucat.

Keisya menutup mulutnya.

Laras membeku.

Selama beberapa detik, ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas.

“Mas…”

Suara Laras nyaris tidak terdengar.

Arga menatap ibunya dengan panik.

“Dari mana Ibu dapat rekaman itu?”

Bu Ratna tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Ia justru meletakkan ponselnya di meja.

“Masih ada.”

Ia menekan layar lagi.

Kali ini terdengar percakapan berbeda.

Keisya berkata, “Obatnya memang mahal sekali. Kalau kita biarkan terus, uang perusahaan habis buat dia.”

Kemudian Arga menjawab, “Aku sudah bicara dengan orang bagian keuangan rumah sakit. Mulai bulan depan aku hanya akan membayar yang paling dasar. Kalau keluarganya mau pengobatan lain, suruh mereka cari uang sendiri.”

Tangan Laras langsung menutup mulutnya.

Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.

Selama ini Arga selalu mengatakan perusahaan sedang mengalami kesulitan sehingga beberapa jenis pengobatannya harus ditunda.

Laras percaya.

Ia bahkan pernah meminta dokter mengurangi beberapa prosedur karena tidak ingin membebani suaminya.

Ternyata semua itu bohong.

Bu Ratna mematikan rekaman.

“Aku mendengar cukup banyak selama dua bulan terakhir.”

Arga mengepalkan tangan.

“Ibu memata-matai aku?”

“Tidak.”

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Kamu terlalu ceroboh.”

Ia kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil dari tasnya.

Sebuah alat perekam suara.

“Aku memasangnya di ruang kerja rumah yang sebenarnya masih atas namaku.”

Arga menatap alat itu dengan wajah kaku.

Bu Ratna memang pernah memberikan rumah besar tempat Arga dan Laras tinggal setelah mereka menikah.

Namun secara hukum, kepemilikannya belum pernah dipindahkan.

Arga rupanya lupa.

“Bu, dengarkan aku dulu.”

“Tidak.”

Bu Ratna memotong.

“Sekarang kamu yang dengar.”

Ia membuka map lain yang dibawanya.

Arga tampak semakin gelisah ketika melihat lambang kantor notaris pada halaman pertama.

“Apa itu?”

Bu Ratna mengeluarkan beberapa dokumen.

“Pagi tadi aku mencabut seluruh kuasa yang pernah kuberikan kepadamu untuk mengelola saham keluarga.”

Wajah Arga langsung kehilangan warna.

“Apa?”

“Mulai hari ini, kamu tidak lagi menjadi direktur utama perusahaan keluarga.”

Arga tertawa pendek karena tidak percaya.

“Ibu tidak bisa melakukan itu begitu saja.”

“Aku bisa.”

Bu Ratna menatapnya lurus.

“Enam puluh dua persen saham masih milikku.”

Arga membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Keisya mulai mundur perlahan.

Baru saat itu Laras memahami sesuatu.

Selama menikah, Arga selalu menggambarkan perusahaan mereka seolah sepenuhnya miliknya.

Padahal bisnis tersebut dibangun ayah dan ibu Arga selama puluhan tahun.

Arga hanya mengelolanya.

Bu Ratna mengeluarkan satu dokumen lagi.

“Dan rumah yang kamu janjikan kepada perempuan ini untuk ditempati setelah menikah juga bukan milikmu.”

Mata Bu Ratna bergeser ke arah Keisya.

“Rumah itu atas namaku.”

Keisya menatap Arga.

“Mas?”

Arga mengusap wajahnya kasar.

“Jangan dengarkan dia.”

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Apartemen di Kemang yang kamu bilang sudah kamu beli untuk Keisya juga dibayar dari rekening perusahaan.”

Keisya langsung menoleh tajam.

“Apa maksudnya?”

“Artinya,” lanjut Bu Ratna, “apartemen itu sekarang sedang diperiksa auditor.”

Keisya mulai terlihat panik.

Arga mengangkat suara.

“Cukup, Bu!”

Suara itu menggema di kamar.

Laras sedikit tersentak.

Bu Ratna justru maju mendekati anaknya.

“Yang seharusnya bilang cukup adalah Laras.”

Arga terdiam.

Bu Ratna menunjuk tubuh Laras yang kurus di atas ranjang.

“Perempuan itu menemanimu ketika perusahaan hampir bangkrut tujuh tahun lalu.”

Arga menunduk.

“Kamu ingat?”

Bu Ratna melanjutkan.

“Ketika bank menolak pinjamanmu, siapa yang menjual satu-satunya tanah warisan ayahnya untuk menutup gaji karyawan?”

Arga tidak menjawab.

Laras memejamkan mata.

Ia ingat masa itu.

Mereka baru menikah tiga tahun.

Perusahaan Arga hampir runtuh akibat proyek gagal.

Tanpa pikir panjang, Laras menjual tanah peninggalan ayahnya di Yogyakarta.

Ia tidak pernah menuntut uang itu kembali.

Bu Ratna menarik napas panjang.

“Ketika kamu mengalami kecelakaan dan tidak bisa berjalan selama tiga bulan, siapa yang tidur di kursi rumah sakit setiap malam?”

Keheningan menjawab.

“Laras.”

Bu Ratna menahan air mata.

“Sekarang ketika tubuhnya sakit, kamu datang bukan membawa bunga atau makanan. Kamu membawa surat cerai.”

Arga memalingkan wajah.

Untuk sesaat, tampak sedikit rasa malu di matanya.

Namun Keisya tiba-tiba meraih lengannya.

“Mas, kita pergi saja.”

Bu Ratna menatap Keisya.

“Kamu belum boleh pergi.”

Keisya membeku.

“Maksud Ibu?”

Pintu kamar kembali terbuka.

Dua pria berpakaian formal masuk bersama seorang perempuan berkacamata.

Di belakang mereka berdiri petugas keamanan rumah sakit.

Arga langsung mengenali salah satu pria tersebut.

Pak Mahendra.

Pengacara keluarga.

“Pak Mahendra?”

Pengacara itu mengangguk dingin.

“Pak Arga.”

Arga menatap ibunya dengan wajah tegang.

Bu Ratna berkata, “Tiga minggu terakhir aku meminta audit internal.”

Jantung Arga terasa seperti jatuh.

“Dan ternyata masalahmu bukan hanya perselingkuhan.”

Pak Mahendra membuka sebuah map.

“Berdasarkan pemeriksaan awal, ditemukan sejumlah transaksi perusahaan ke rekening pribadi yang tidak memiliki dokumen pendukung.”

Arga langsung membantah.

“Itu biaya operasional.”

“Sebagian digunakan untuk pembayaran apartemen, kendaraan, perhiasan, perjalanan ke Bali, dan beberapa transaksi lain.”

Tatapan Pak Mahendra beralih sebentar ke Keisya.

Keisya tampak semakin pucat.

“Aku tidak tahu soal itu,” katanya cepat.

Arga menatapnya.

“Keisya?”

“Aku benar-benar tidak tahu uangnya dari mana.”

Arga mulai menyadari sesuatu.

Perempuan yang beberapa menit lalu berdiri dengan penuh percaya diri di sampingnya kini perlahan menjauh.

Bu Ratna berkata, “Polisi belum datang hari ini.”

Arga mengembuskan napas lega.

Namun kalimat berikutnya membuat tubuhnya kembali kaku.

“Karena pengacara menyarankan kami memberikan kesempatan kepadamu menyerahkan semua dokumen perusahaan terlebih dahulu.”

Bu Ratna menatap anaknya.

“Kalau kamu mencoba menghilangkan satu bukti saja, laporan akan langsung dibuat.”

Arga mulai berkeringat.

“Ibu mau menghancurkan anak Ibu sendiri?”

Bu Ratna menatapnya lama.

“Bukan aku yang menghancurkanmu.”

Suaranya bergetar untuk pertama kalinya.

“Kamu sendiri yang melakukannya.”

Arga tertunduk.

Tiba-tiba dari ranjang terdengar suara Laras.

“Bu.”

Semua orang menoleh.

Laras menatap Bu Ratna dengan mata basah.

“Ibu tidak perlu melakukan semua ini karena saya.”

Bu Ratna segera duduk di sampingnya.

Ia menggenggam tangan Laras.

“Aku tidak melakukannya hanya karena kamu.”

Laras terdiam.

“Aku melakukannya karena kalau aku terus menutup kesalahan anakku hanya karena dia darah dagingku sendiri, berarti aku ikut membesarkan kejahatannya.”

Arga menutup mata.

Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada ancaman hukum mana pun.

Bu Ratna lalu menoleh kepada Pak Mahendra.

“Berikan dokumen itu.”

Pengacara tersebut menyerahkan sebuah map kepada Laras.

Laras membukanya perlahan.

Matanya membesar.

“Apa ini?”

“Dokumen pengalihan sebagian saham milikku.”

Laras menatap Bu Ratna.

“Saham?”

“Sepuluh persen saham perusahaan.”

Arga langsung mengangkat kepala.

“Bu!”

Bu Ratna tidak peduli.

“Dulu tanah milik ayahmu menyelamatkan perusahaan kami. Nilainya mungkin tidak sebesar perusahaan sekarang, tapi tanpa uang itu, perusahaan ini mungkin sudah tidak ada.”

Laras menggeleng cepat.

“Saya tidak bisa menerima sebanyak ini.”

“Kamu tidak harus memutuskan sekarang.”

Bu Ratna mengusap tangannya.

“Tapi aku ingin memperbaiki sesuatu yang seharusnya dilakukan sejak lama.”

Air mata Laras kembali mengalir.

Untuk pertama kalinya dalam delapan bulan terakhir, tangisnya bukan karena rasa sakit.

Keisya yang sejak tadi diam tiba-tiba menuju pintu.

“Aku mau pulang.”

Arga meraih lengannya.

“Kamu mau ke mana?”

Keisya melepaskan tangannya.

“Kita sedang punya masalah besar.”

“Kita?”

Keisya terdiam.

Arga menatapnya.

“Kamu bilang kita akan menghadapi semuanya bersama.”

Keisya menghindari tatapan.

“Masalah perusahaan itu masalah kamu, Mas.”

Arga tertawa hambar.

Baru dalam hitungan menit, semua yang ia banggakan runtuh.

Jabatan.

Rumah.

Uang.

Dan perempuan yang katanya mencintainya.

Bu Ratna berdiri.

“Pergilah.”

Keisya langsung melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Arga hanya berdiri mematung.

Sebelum pergi, Bu Ratna menyerahkan surat cerai tadi kepada Pak Mahendra.

“Robek.”

Pak Mahendra merobek dokumen tersebut menjadi beberapa bagian.

Potongan kertas jatuh ke tempat sampah.

Arga menatap Laras.

“Laras…”

Perempuan itu menoleh.

Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak lagi penuh harapan.

“Aku minta maaf.”

Laras diam.

Arga melangkah mendekati ranjang.

“Aku salah.”

Laras menatap pria yang telah menjadi suaminya selama hampir tiga belas tahun.

Dulu suara permintaan maaf Arga mungkin mampu membuat hatinya luluh.

Namun kali ini rasanya berbeda.

Ada sesuatu yang sudah mati di dalam dirinya.

Bukan cintanya.

Melainkan kepercayaannya.

Laras mengambil napas perlahan.

“Mas.”

Arga menunggu.

“Tadi kamu datang membawa surat cerai karena kamu pikir aku akan segera mati.”

Arga menunduk.

“Sekarang semuanya terbongkar, kamu minta maaf karena takut kehilangan hidup nyamanmu.”

“Bukan begitu.”

Laras tersenyum kecil.

“Entahlah.”

Ia menoleh ke arah jendela.

“Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mencari alasan untuk membenarkanmu.”

Arga tidak bisa berkata apa-apa.

Tiga hari kemudian, Arga resmi diberhentikan dari perusahaan.

Audit menemukan penyalahgunaan dana dalam jumlah cukup besar.

Kasus tersebut akhirnya masuk proses hukum setelah beberapa bukti transaksi tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Keisya menghilang dari kehidupan Arga tidak lama setelah itu.

Namun masalahnya tidak berhenti sampai di sana.

Namanya ternyata tercantum sebagai penerima beberapa aliran dana perusahaan.

Ia juga harus menjalani pemeriksaan.

Sementara itu, kondisi Laras perlahan membaik.

Bu Ratna memindahkannya ke pusat pengobatan yang memiliki fasilitas lebih lengkap.

Setelah menjalani terapi selama beberapa bulan, dokter akhirnya memberikan kabar yang selama ini mereka tunggu.

Penyakit Laras menunjukkan respons positif.

Belum sembuh sepenuhnya.

Namun ada harapan besar.

Hari ketika Laras keluar dari rumah sakit, putrinya berlari memeluknya di depan pintu.

Laras berlutut sambil menahan air mata.

“Ibu pulang.”

Anak itu memeluknya erat.

“Nanti Ibu jangan pergi lama-lama lagi.”

Laras tersenyum sambil menangis.

“Ibu akan berusaha.”

Bu Ratna berdiri beberapa langkah dari mereka.

Matanya ikut basah.

Enam bulan setelah kejadian di rumah sakit, Laras mengajukan perceraian.

Kali ini bukan Arga yang membawa dokumennya.

Laras sendiri.

Ketika mereka bertemu di ruang mediasi, Arga terlihat jauh berbeda.

Tubuhnya lebih kurus.

Wajahnya lelah.

Kesombongan yang dulu selalu memenuhi tatapannya hampir tidak tersisa.

“Kalau aku berubah,” katanya pelan, “apa masih ada kesempatan?”

Laras menatapnya cukup lama.

“Aku berharap kamu berubah.”

Mata Arga sedikit berbinar.

Namun Laras melanjutkan.

“Bukan supaya kita kembali.”

Cahaya itu kembali padam.

“Berubahlah supaya suatu hari nanti anak kita tidak malu punya ayah seperti kamu.”

Arga menunduk.

Tidak ada jawaban lain.

Dua tahun kemudian, Laras berdiri di taman rumah Bu Ratna pada sore yang cerah.

Rambutnya sudah tumbuh kembali hingga menyentuh bahu.

Wajahnya terlihat jauh lebih sehat.

Dokter menyatakan kondisinya stabil.

Ia bahkan mulai membantu mengelola yayasan milik perusahaan yang memberikan bantuan biaya pengobatan kepada perempuan dari keluarga kurang mampu.

Suatu sore, Bu Ratna duduk di sampingnya.

“Ada sesuatu yang belum pernah Ibu ceritakan.”

Laras menoleh.

Bu Ratna tersenyum.

“Waktu Ibu masuk ke kamar rumah sakit hari itu, Ibu sebenarnya takut.”

“Takut?”

“Iya.”

Bu Ratna memandang halaman.

“Ibu takut terlambat.”

Laras terdiam.

“Kalau lima menit saja Ibu terlambat, mungkin kamu sudah menandatangani surat itu.”

Laras tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Bu Ratna menatapnya.

“Tapi ternyata hidup sering berubah hanya dalam beberapa menit.”

Laras mengangguk.

Ia memandang putrinya yang sedang berlari kecil di halaman.

Dulu, Laras mengira hari ketika suaminya memaksanya menandatangani surat cerai adalah hari paling buruk dalam hidupnya.

Ia salah.

Hari itu justru menjadi hari ketika ia melihat semua kebohongan terbuka.

Hari ketika ia kehilangan suami yang selama ini ia pertahankan.

Namun juga hari ketika ia mendapatkan kembali harga dirinya.

Sementara bagi Arga dan Keisya, suara pintu rumah sakit yang terbuka keras pada siang itu menjadi suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan mereka.

Karena sejak hari itu, setiap kali mendengar ketukan pintu, telepon dari nomor tidak dikenal, atau surat resmi datang ke rumah, keduanya selalu merasakan ketakutan yang sama.

Takut ada kebohongan lain yang akhirnya ditemukan.

Takut ada kesalahan lama yang kembali mengejar.

Dan mungkin itulah hukuman paling panjang bagi seseorang yang terbiasa hidup dalam kebohongan.

Bukan kehilangan uang.

Bukan kehilangan jabatan.

Melainkan hidup dengan perasaan bahwa suatu hari, kebenaran akan kembali mengetuk pintu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang