Suamiku Pulang Membawa Anak dari Selingkuhannya dan Memintaku Merawatnya! Tapi Saat Dia Bangun Besok, Kami Sudah Pergi Membawa Semua Aset!

Malam itu menjadi malam terakhir saya menyebut Mas Aris sebagai suami saya.

Setelah memastikan Kiki dan Kaka tertidur lelap, saya duduk di ujung ranjang sambil memandangi wajah mereka yang polos. Air mata yang sejak tadi saya tahan akhirnya jatuh juga.

Bukan karena saya kehilangan seorang suami.

Tetapi karena saya baru menyadari bahwa selama ini saya hidup bersama seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar menghargai saya.

Saya mengambil ponsel dari laci kecil di samping tempat tidur.

Ada satu pesan yang sudah saya siapkan beberapa minggu sebelumnya.

Pesan itu dikirim kepada seseorang yang sangat saya percaya.

“Bu, besok pagi tolong datang sesuai rencana. Saya sudah siap.”

Tidak lama kemudian, balasan masuk.

“Tenang, Nak. Semua dokumen sudah aman. Kamu tidak perlu takut.”

Saya menatap layar ponsel itu lama.

Selama ini Mas Aris mengira saya hanya seorang istri yang diam, yang selalu menerima, yang selalu mengalah.

Dia tidak tahu bahwa selama beberapa bulan terakhir saya sudah melihat semuanya.

Saya tahu tentang perempuan bernama Rina.

Saya tahu tentang apartemen kecil yang dia sewa di Jakarta Selatan.

Saya tahu tentang transfer uang setiap bulan yang jumlahnya bahkan lebih besar daripada biaya sekolah anak-anak kami.

Awalnya saya tidak percaya.

Saya terus mencari alasan untuk membela suami saya.

Mungkin dia membantu teman.

Mungkin ada kesalahan.

Mungkin saya terlalu curiga.

Namun semuanya runtuh ketika saya melihat foto yang dikirim oleh seorang teman lama.

Foto Mas Aris sedang menggendong Dafa.

Anak kecil yang malam ini dia bawa masuk ke rumah kami.

Di belakang foto itu terlihat sebuah kamar anak dengan tulisan nama Dafa di dinding.

Saya menangis malam itu.

Bukan karena keberadaan anak itu.

Anak kecil itu tidak bersalah.

Dia hanyalah korban dari keputusan orang dewasa.

Yang membuat hati saya hancur adalah kenyataan bahwa selama empat tahun Mas Aris membiarkan saya membesarkan anak-anak kami sendirian sambil diam-diam membangun keluarga lain.

Namun saya tidak boleh hancur.

Saya memiliki dua alasan untuk tetap berdiri.

Kiki dan Kaka.

Dan saya tahu, keputusan terbesar dalam hidup saya harus saya ambil bukan dengan emosi, tetapi dengan pikiran yang jernih.

Pagi itu, sebelum matahari terbit, saya bangun perlahan.

Saya memasak sarapan seperti biasa.

Saya bahkan menyiapkan kopi kesukaan Mas Aris.

Bukan karena saya masih mencintainya.

Tetapi karena saya ingin melihat sampai sejauh mana seseorang bisa merasa aman ketika sebenarnya semuanya sudah berakhir.

Pukul tujuh pagi, Mas Aris keluar dari kamar.

Rambutnya masih basah setelah mandi.

Dia duduk di meja makan sambil melihat ponselnya.

“Dafa masih tidur?”

“Iya,” jawab saya.

“Bagus. Nanti kamu ajari dia kebiasaan rumah ini.”

Saya menatapnya.

“Kebiasaan rumah ini?”

Dia mengangguk.

“Ya. Kamu kan ibunya sekarang.”

Kalimat itu hampir membuat saya tertawa.

“Saya bukan ibunya, Mas.”

Mas Aris berhenti membuka ponsel.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, dia menatap saya dengan serius.

“Apa maksud kamu?”

Saya tersenyum kecil.

“Maksud saya, Dafa punya ibu kandung. Dan saya tidak pernah setuju mengambil peran itu.”

Wajah Mas Aris berubah.

Namun sebelum dia sempat marah, bel rumah berbunyi.

Ting tong.

Dia mengerutkan kening.

“Siapa pagi-pagi begini?”

Saya berdiri.

“Seseorang yang memang sudah saya tunggu.”

Saat pintu terbuka, wajah Mas Aris langsung berubah.

Di depan rumah berdiri seorang wanita paruh baya bersama dua orang pria.

Mereka bukan orang asing.

Mereka adalah notaris dan pengacara keluarga saya.

“Bu Ratna?” Mas Aris bertanya bingung.

Ibu saya masuk sambil membawa map besar.

“Aris.”

Suara ibu terdengar dingin.

“Sudah waktunya kamu tahu bahwa anak saya bukan perempuan lemah yang bisa kamu perlakukan sesuka hati.”

Mas Aris menatap saya.

“Apa ini?”

Saya tidak menjawab.

Pengacara membuka map tersebut.

“Pak Aris, kami datang untuk menyampaikan beberapa dokumen.”

Dia mengambil satu lembar.

“Pertama, mengenai kepemilikan rumah ini.”

Wajah Mas Aris mulai pucat.

“Rumah ini dibeli lima tahun lalu atas nama Bu Nadia.”

Saya berdiri diam.

Rumah itu memang selalu disebut rumah kami.

Tetapi sejak awal, uang muka dan cicilannya berasal dari tabungan saya dan warisan kecil dari ayah saya.

Mas Aris hanya membantu beberapa pembayaran setelah kami menikah.

Saya tidak pernah mempermasalahkannya.

Karena saya menganggap pernikahan adalah kerja sama.

Ternyata bagi dia, pernikahan hanya tempat mengambil keuntungan.

Pengacara melanjutkan.

“Kedua, kendaraan keluarga, rekening investasi, dan beberapa aset usaha yang tercatat atas nama Bu Nadia juga sudah diamankan.”

Mas Aris menatap saya tidak percaya.

“Kamu merencanakan semua ini?”

Saya menatap matanya.

“Tidak, Mas. Saya hanya berhenti menjadi orang yang bisa kamu bohongi.”

Dia mulai meninggikan suara.

“Kamu mau menghancurkan keluarga kita?”

Saya menghela napas.

“Keluarga kita sudah kamu hancurkan saat kamu memilih membawa anak dari perempuan lain ke rumah ini dan menyuruh saya menerimanya begitu saja.”

Ruangan menjadi sunyi.

Dafa yang mendengar suara keras mulai keluar dari kamar.

Anak kecil itu berdiri di ambang pintu sambil memegang boneka kecil.

Matanya terlihat ketakutan.

Melihatnya, hati saya tetap terasa sakit.

Saya berjalan mendekat dan berjongkok.

“Dafa.”

Anak itu menatap saya.

“Maaf kalau tadi malam membuat kamu takut.”

Dia tidak menjawab.

Saya tersenyum lembut.

“Kamu tidak salah apa-apa.”

Anak kecil itu perlahan mendekat.

“Tante pergi?”

Pertanyaan sederhana itu membuat dada saya sesak.

Saya mengusap kepalanya.

“Iya, Nak. Tante dan kakak-kakak akan tinggal di tempat lain.”

“Papa ikut?”

Saya menatap Mas Aris.

Pria yang selama ini saya cintai.

Pria yang pernah saya bayangkan akan menemani saya sampai tua.

Namun hari itu saya melihat seseorang yang berbeda.

“Saya tidak tahu,” jawab saya pelan.

Saya tidak ingin membenci Dafa.

Saya tidak ingin membuat anak kecil itu membayar kesalahan ayahnya.

Sebelum pergi, saya mengambil koper terakhir.

Kiki dan Kaka sudah siap bersama ibu saya.

Mereka tidak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi.

Yang mereka tahu hanya satu.

“Ibu bilang kita akan punya rumah baru.”

Saya menggenggam tangan mereka.

“Benar. Rumah baru yang lebih damai.”

Mas Aris masih berdiri di ruang tamu.

Wajahnya penuh kemarahan dan kebingungan.

“Nadia, kamu pikir kamu menang?”

Saya berhenti di depan pintu.

“Saya tidak sedang menang, Mas.”

“Saya hanya menyelamatkan diri saya dan anak-anak.”

Lalu saya menatap Dafa.

“Dan saya berharap suatu hari nanti kamu juga bisa menjadi ayah yang lebih baik untuk dia.”

Saya pergi tanpa menoleh lagi.

Hari itu saya meninggalkan rumah yang penuh kenangan.

Namun saya juga meninggalkan semua rasa takut yang selama lima tahun mengikat saya.

Enam bulan kemudian, hidup saya berubah.

Saya membuka kembali usaha desain interior yang dulu saya hentikan demi mengurus keluarga.

Perlahan bisnis itu berkembang.

Kiki dan Kaka mulai tersenyum lebih sering.

Mereka tidak lagi menunggu ayah yang selalu pulang terlambat.

Sementara itu, kabar tentang Mas Aris datang dari orang lain.

Perusahaannya mengalami masalah.

Hubungannya dengan Rina juga tidak berjalan seperti yang dia bayangkan.

Ternyata setelah semua terbongkar, Rina mulai menuntut banyak hal.

Dafa pun akhirnya diasuh bersama oleh kedua orang tuanya.

Suatu sore, hampir satu tahun setelah kejadian itu, saya menerima sebuah pesan.

Dari Mas Aris.

“Nadia, aku baru sadar. Kamu adalah orang yang paling tulus dalam hidupku.”

Saya membaca pesan itu lama.

Lalu saya menjawab singkat.

“Mas Aris, saya juga baru sadar. Saya terlalu lama mencintai seseorang sampai lupa mencintai diri sendiri.”

Tidak ada balasan setelah itu.

Saya mematikan ponsel dan melihat matahari terbenam dari balkon rumah baru kami.

Kiki dan Kaka sedang bermain di halaman.

Suara tawa mereka memenuhi udara.

Dulu saya pikir kehilangan suami berarti kehilangan segalanya.

Ternyata saya salah.

Kadang Tuhan mengambil seseorang dari hidup kita bukan untuk menghukum.

Tetapi untuk membuka jalan agar kita kembali menemukan diri sendiri.

Dan malam ketika Mas Aris membawa anak dari selingkuhannya pulang, dia pikir dia sedang membawa masalah ke dalam rumah saya.

Padahal tanpa dia sadari, dia sedang memberi saya alasan terakhir untuk pergi dan membangun kehidupan yang jauh lebih baik.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang