Suamiku selalu pulang tepat waktu. Tak pernah sekali pun aku melihat tanda-tanda bahwa dia berselingkuh. Sampai suatu malam, kamera keamanan di rumah tiba-tiba aktif sendiri…..

“Mas… semalam kamu sempat bangun?”

Tangan Rio yang sedang mengangkat cangkir kopi berhenti di udara.

Hanya sesaat.

Begitu singkat hingga mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.

Tapi aku menyadarinya.

“Bangun?” tanyanya.

“Iya. Ke kamar mandi mungkin.”

Rio menggeleng sambil menyeruput kopi.

“Enggak. Aku tidur sampai alarm bunyi.”

Aku memaksakan senyum.

“Oh.”

“Kenapa?”

“Enggak apa-apa. Kayaknya aku dengar suara dari bawah.”

Rio menatapku beberapa detik.

Tatapan itu berbeda dari biasanya. Bukan curiga, bukan pula takut. Lebih seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu.

Kemudian dia tersenyum.

“Mungkin kucing.”

Aku mengangguk.

Padahal kami tidak punya kucing.

Pukul tujuh tepat, Rio berangkat kerja.

Aku berdiri di balik jendela ruang tamu, melihat mobilnya keluar dari halaman sampai menghilang di ujung jalan.

Begitu yakin dia sudah pergi, aku langsung membuka rekaman kamera semalam.

Aku memutarnya lagi.

01.58.

Pintu terbuka.

Rio masuk.

Kemeja biru.

Celana hitam.

Tas kerja.

Aku memperbesar wajahnya.

Semakin kulihat, semakin tidak masuk akal semuanya.

Lalu aku menyadari sesuatu yang semalam luput dari perhatianku.

Pria itu tidak menggunakan kunci.

Pintu terbuka begitu saja.

Aku turun dan memeriksa pintu depan.

Tidak ada kerusakan.

Aku mencoba mengingat apakah semalam kami lupa menguncinya.

Tidak mungkin.

Rio selalu memeriksa pintu sebelum tidur.

Selalu.

Aku membuka riwayat kamera lebih jauh.

Rekaman pukul 18.03 memperlihatkan Rio pulang dari kantor.

Kemeja biru.

Celana hitam.

Tas kerja.

Dia masuk seperti biasa.

Berarti kamera merekam Rio pulang dua kali dalam satu hari.

Sekali pukul enam sore.

Sekali pukul dua dini hari.

Aku terus menggulir rekaman hari-hari sebelumnya.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Sampai aku menemukan tanggal enam hari sebelumnya.

02.11.

Gerakan terdeteksi.

Tanganku mendadak dingin.

Rio muncul lagi.

Masuk melalui pintu depan.

Kali ini mengenakan kemeja putih.

Aku memeriksa rekaman sore hari pada tanggal yang sama.

Pukul 18.01, Rio sudah pulang dengan kemeja putih yang sama.

Aku terus mencari.

Tiga belas hari sebelumnya.

01.47.

Rio masuk.

Dua puluh hari sebelumnya.

02.06.

Rio masuk.

Semua rekaman itu memiliki pola yang sama.

Rio pulang dari kantor sekitar pukul enam sore.

Lalu antara pukul satu sampai dua dini hari, kamera merekam dirinya pulang sekali lagi.

Yang lebih mengerikan, setiap kali Rio kedua masuk, kamera tidak pernah merekamnya keluar.

Aku langsung menelepon teknisi yang memasang kamera rumah kami.

Namanya Dimas.

Aku mengirimkan beberapa rekaman kepadanya.

“Mas, mungkin kameranya error?”

Dimas meneleponku beberapa menit kemudian.

“Bu Laras, rekaman ini bukan rekaman lama yang terputar ulang.”

“Kamu yakin?”

“Yakin. Timestamp-nya asli. Sensor gerak juga aktif secara real time.”

“Kalau begitu bagaimana mungkin orang yang sama masuk dua kali?”

Dimas diam.

“Bu… saya enggak tahu.”

Sore itu aku tidak bisa melakukan apa pun.

Pukul enam lewat dua menit, suara mobil Rio terdengar.

Aku berdiri di dapur ketika pintu terbuka.

Rio masuk sambil melepaskan sepatu.

“Aku pulang.”

Aku menatapnya.

Kemeja abu-abu.

Celana hitam.

Tas kerja.

Tiba-tiba bayangan tentang apa yang mungkin terjadi beberapa jam lagi membuat tengkukku merinding.

Malam itu aku berpura-pura tidur.

Pukul sepuluh lewat sedikit, napas Rio mulai teratur.

Aku menunggu.

Pukul satu.

Tidak terjadi apa-apa.

Pukul satu tiga puluh.

Rumah tetap sunyi.

Lalu pukul 01.56, ponselku bergetar.

Gerakan terdeteksi di pintu depan.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Aku menoleh.

Rio masih berbaring di sampingku.

Aku membuka kamera.

Pintu depan terbuka.

Rio masuk.

Kemeja abu-abu.

Celana hitam.

Tas kerja.

Persis pakaian yang dikenakannya saat pulang sore tadi.

Namun kali ini sesuatu berbeda.

Dia tidak langsung menuju tangga.

Dia berdiri di ruang tamu.

Lalu menatap kamera.

Lama.

Seolah tahu aku sedang melihatnya.

Kemudian bibirnya bergerak.

Aku memperbesar layar.

Dia mengatakan sesuatu.

Tidak ada suara karena mikrofon kamera sedang bermasalah, tetapi gerakan bibirnya cukup jelas.

Laras.

Aku menjatuhkan ponsel.

Pada saat bersamaan terdengar suara dari lantai bawah.

Krek.

Seperti anak tangga diinjak.

Aku menoleh pada Rio di sampingku.

Dia masih tidur.

Krek.

Satu langkah lagi.

Krek.

Semakin dekat.

Aku mengguncang bahu Rio.

“Mas.”

Dia tidak bangun.

“Mas!”

Aku mengguncangnya lebih keras.

Tubuhnya terasa aneh.

Dingin.

“Rio!”

Matanya terbuka mendadak.

Dia langsung duduk.

“Ada apa?”

Aku menutup mulutnya sebelum dia bicara lebih keras.

“Ada orang di bawah.”

Wajah Rio berubah.

Bukan kaget.

Takut.

Ketakutan murni.

“Kamu lihat dia?” bisiknya.

Aku membeku.

“Kamu tahu?”

Rio menatap pintu kamar.

Langkah kaki berhenti tepat di luar.

Rio turun dari tempat tidur, mengunci pintu, lalu menarik lemari kecil untuk menghalanginya.

“Mas, siapa dia?”

“Pelan.”

“Siapa dia?”

Rio memegang kedua bahuku.

“Aku akan jelaskan. Tapi bukan sekarang.”

Tiba-tiba gagang pintu bergerak.

Sekali.

Dua kali.

Lalu berhenti.

Aku hampir menangis.

Beberapa detik kemudian terdengar tiga ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

“Rio.”

Suara dari balik pintu membuat tubuhku lumpuh.

Itu suara Rio.

Persis.

Rio yang berdiri di depanku langsung pucat.

“Jangan jawab.”

Suara di luar terdengar lagi.

“Laras.”

Aku menahan napas.

“Jangan percaya dia.”

Aku menatap suamiku.

“Laras,” suara dari luar berkata lagi, “pria yang bersamamu bukan suamimu.”

Aku mundur.

Rio mencoba mendekatiku.

“Jangan dengarkan.”

“Mas… sebenarnya apa yang terjadi?”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan sekarang!”

Rio menatapku dengan mata merah.

“Sebelas tahun lalu aku mengalami kecelakaan.”

Aku terdiam.

Aku tahu soal itu.

Tiga bulan sebelum pernikahan kami, Rio mengalami kecelakaan mobil saat pulang dari Bandung. Mobilnya masuk jurang kecil. Dia selamat, tetapi dirawat hampir dua minggu.

Setidaknya itulah cerita yang kuketahui.

“Apa hubungannya?”

Rio menarik napas.

“Aku enggak selamat, Laras.”

Dunia seakan berhenti.

“Apa?”

“Secara medis, jantungku berhenti hampir enam menit.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Dokter berhasil menghidupkanku lagi. Tapi setelah itu… sesuatu berubah.”

Ketukan kembali terdengar.

Tok.

Tok.

Tok.

“Setiap beberapa hari,” lanjut Rio, “aku bermimpi pulang ke rumah. Selalu malam. Selalu membawa pakaian terakhir yang kupakai hari itu.”

Aku teringat semua rekaman.

“Kupikir cuma mimpi. Sampai dua tahun lalu aku melihat rekaman kamera untuk pertama kalinya.”

“Jadi kamu sudah tahu?”

Rio mengangguk.

Amarah mengalahkan ketakutanku.

“Dua tahun kamu tahu dan tidak pernah bilang padaku?”

“Aku takut kamu meninggalkanku.”

“Lalu apa itu?”

“Aku enggak tahu.”

Tiba-tiba suara di balik pintu tertawa pelan.

Kemudian berkata, “Dia bohong.”

Rio mengepalkan tangan.

“Diam!”

Suara itu melanjutkan.

“Kecelakaan itu memang terjadi. Tapi yang meninggal bukan dia.”

Aku menatap Rio.

Wajahnya kehilangan warna.

“Jangan.”

“Yang meninggal adalah saudara kembarnya.”

Aku merasa lantai bergoyang.

Saudara kembar?

Selama sebelas tahun, Rio tidak pernah mengatakan bahwa dia memiliki saudara kembar.

“Namanya Rian,” kata suara itu.

Rio menutup mata.

Aku mundur sampai punggungku menyentuh dinding.

“Mas?”

Akhirnya Rio berkata dengan suara hampir tak terdengar.

“Rian memang ada.”

Semua yang kukenal tentang suamiku mendadak terasa rapuh.

Malam kecelakaan itu, Rio dan Rian berada dalam mobil yang sama.

Rian meninggal di tempat.

Rio selamat.

Namun ada sesuatu yang tidak pernah diceritakan Rio kepada siapa pun.

Mereka bertengkar sebelum kecelakaan.

Rian mengetahui bahwa Rio telah menggelapkan uang dari perusahaan ayah mereka dan berniat mengaku kepada keluarga.

Rio marah.

Mereka bertengkar di dalam mobil.

Rio merebut kemudi.

Mobil kehilangan kendali.

“Aku enggak bermaksud membunuh dia,” bisik Rio.

Aku menatapnya ngeri.

“Kamu menyetir?”

Rio mengangguk.

“Lalu kenapa keluargamu enggak pernah cerita tentang Rian?”

“Setelah kecelakaan, ibuku enggak sanggup membicarakannya. Semua foto disimpan. Ayahku menyalahkanku sampai meninggal.”

Tiba-tiba pintu kamar bergetar keras.

Brak!

Aku menjerit.

Brak!

Brak!

Lemari kecil bergeser.

Rio menarik tanganku.

“Kita harus keluar lewat balkon.”

Namun sebelum kami bergerak, ketukan berhenti.

Rumah mendadak sunyi.

Aku melihat kamera melalui ponsel.

Tidak ada siapa-siapa di lorong.

“Dia pergi,” bisikku.

Rio menggeleng.

“Belum.”

Kemudian layar ponsel berubah.

Kamera pintu depan kembali mendeteksi gerakan.

Aku membukanya.

Sosok Rio kedua sedang berdiri di depan pintu.

Tapi kali ini dia tidak masuk.

Dia keluar.

Untuk pertama kalinya.

Dia berjalan menuju jalan, berhenti di bawah lampu, lalu menoleh ke kamera.

Sesaat sebelum rekaman berhenti, bibirnya bergerak.

Sudah waktunya.

Keesokan paginya Rio mengajakku ke rumah ibunya di Bogor.

Untuk pertama kalinya selama sebelas tahun, aku melihat foto Rian.

Aku hampir menjatuhkan bingkai itu.

Mereka identik.

Benar-benar sama.

Ibu Rio menangis ketika mendengar cerita kami.

Namun kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku semakin bingung.

“Rian enggak pernah marah sama Rio.”

Rio menatap ibunya.

“Apa?”

“Malam sebelum meninggal, dia telepon Ibu.”

Wanita tua itu membuka lemari dan mengambil sebuah ponsel lama.

Di dalamnya masih tersimpan pesan suara terakhir Rian.

Dengan tangan gemetar, dia memutarnya.

Suara yang keluar sama persis dengan suara suamiku.

“Bu, kalau terjadi sesuatu sama aku, jangan salahkan Rio. Aku yang minta dia menemaniku malam ini. Aku cuma ingin dia berhenti lari dari kesalahannya.”

Rio menangis.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat suamiku menangis seperti anak kecil.

Malam itu kami pulang.

Rio duduk lama di ruang tamu.

“Aku akan menyerahkan diri,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kasus uang perusahaan itu?”

Dia mengangguk.

“Aku harus membereskan semuanya. Selama ini aku pikir Rian datang untuk menghukumku.”

“Mungkin bukan.”

Rio tersenyum getir.

“Mungkin dia cuma menunggu aku berhenti bersembunyi.”

Beberapa minggu kemudian Rio mengakui penggelapan dana yang pernah dilakukannya dan membuka kembali semua persoalan hukum yang selama bertahun-tahun ditutupi keluarganya.

Konsekuensinya berat.

Pernikahan kami juga tidak kembali seperti semula.

Kepercayaan yang dibangun sebelas tahun tidak bisa diperbaiki hanya dengan satu pengakuan.

Namun sejak malam Rio memutuskan berkata jujur, kamera tidak pernah lagi merekam sosok misterius itu.

Sampai enam bulan kemudian.

Saat itu Rio sedang menjalani proses hukum dan untuk sementara tinggal terpisah dariku.

Aku sendirian di rumah.

Pukul 01.58, ponselku bergetar.

Gerakan terdeteksi di pintu depan.

Tanganku langsung dingin.

Aku membuka rekaman.

Pintu terbuka.

Seorang pria masuk.

Wajah Rio.

Kemeja biru.

Tas kerja.

Dia berhenti di depan kamera.

Namun kali ini aku tidak takut.

Entah bagaimana, aku tahu itu bukan Rio.

Pria itu tersenyum tipis.

Kemudian mengangkat tangan seolah berpamitan.

Sebelum berbalik menuju pintu, bibirnya bergerak perlahan.

Terima kasih.

Air mataku jatuh tanpa kusadari.

Sosok itu keluar.

Pintu menutup.

Dan kamera kembali sunyi.

Aku menunggu sampai pagi.

Tidak ada rekaman lain.

Tidak pernah ada lagi setelah itu.

Bertahun-tahun kemudian, aku masih menyimpan rekaman terakhir tersebut.

Bukan sebagai bukti bahwa hantu benar-benar ada.

Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kulihat malam-malam itu.

Namun kejadian itu mengajarkanku sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada sosok yang bisa pulang pukul dua dini hari.

Manusia bisa hidup bertahun-tahun di samping seseorang dan tetap menyimpan sebuah ruangan terkunci di dalam dirinya.

Kadang yang menghantui sebuah rumah bukanlah orang mati.

Melainkan kebenaran yang terlalu lama tidak berani dibuka.

Dan mungkin Rian tidak pernah datang untuk membawa Rio pergi.

Dia hanya terus pulang ke rumah kami karena kakaknya sendiri belum pernah benar-benar pulang dari masa lalu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang