Namaku Serena.
Kalau seseorang bertanya siapa orang yang paling kupercaya tiga bulan lalu, jawabannya pasti Dimas.
Suamiku.
Pria yang selama enam tahun menjadi tempatku pulang, tempatku menceritakan semua hal kecil tentang hidupku, bahkan hal-hal yang tidak pernah kukatakan kepada orang lain.
Dimas adalah seorang teknisi sistem keamanan. Dia memahami kamera, alarm, sensor gerak, dan semua hal yang berkaitan dengan keamanan rumah. Aku sering bercanda bahwa rumah kami adalah tempat paling aman di dunia karena suamiku sendiri yang memasang seluruh sistem perlindungan itu.

Aku seorang desainer interior. Pekerjaanku membuatku sering memperhatikan detail kecil. Warna dinding yang berubah sedikit. Posisi furnitur yang bergeser beberapa sentimeter. Sebuah benda yang tidak berada di tempat seharusnya.
Mungkin karena itulah aku mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Dimas.
Awalnya sangat kecil.
Ia mulai sering pulang larut malam dengan alasan ada klien yang membutuhkan perbaikan sistem keamanan mendadak.
Ia mulai lebih sering membawa ponselnya ke kamar mandi.
Ia mulai memasang kode baru pada beberapa perangkat rumah yang sebelumnya kami gunakan bersama.
Ketika kutanya, dia hanya tersenyum.
“Kamu terlalu banyak berpikir, Serena.”
Aku tertawa kecil saat itu.
Aku pikir mungkin aku memang terlalu curiga.
Sampai malam itu.
Malam ketika semuanya berubah.
Aku terbangun sekitar pukul dua dini hari karena mendengar suara pintu depan dibuka.
Mataku masih berat ketika aku melihat jam di meja samping tempat tidur.
02.11.
Aku meraba sisi tempat tidur.
Kosong.
Dimas tidak ada.
Awalnya aku mengira dia sedang minum atau ke kamar mandi.
Namun kemudian aku mendengar suara dari lantai bawah.
Suara percakapan.
Pelan.
Sangat pelan.
Seorang laki-laki.
Dan seorang perempuan.
Tubuhku langsung menegang.
Aku duduk perlahan.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi ada perasaan aneh yang muncul di dalam diriku.
Perasaan bahwa aku tidak seharusnya mendengar percakapan itu.
Aku turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati tangga.
Namun sebelum aku sampai, terdengar suara langkah kaki mendekat.
Aku terkejut.
Tanpa berpikir panjang, aku kembali masuk ke kamar dan berpura-pura tidur.
Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka.
Dimas masuk.
Aku membuka mata sedikit.
Dia berdiri di sana dengan wajah tenang.
Terlalu tenang.
“Kamu belum tidur?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Kamu tadi di bawah?”
Dia berhenti sebentar.
Hanya sebentar.
Tetapi aku melihatnya.
“Kamu mimpi,” jawabnya sambil tertawa kecil.
Aku mengerutkan kening.
“Aku dengar suara orang.”
Dimas mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.
“Kamu mungkin kecapekan. Akhir-akhir ini kamu banyak kerja.”
Aku diam.
Karena aku ingin percaya.
Aku ingin percaya bahwa pria yang tidur di sampingku selama enam tahun tidak sedang menyembunyikan sesuatu.
Pagi harinya, rasa penasaran mengalahkan pikiranku.
Aku membuka aplikasi kamera keamanan rumah.
Sebagai istri seorang teknisi keamanan, aku tahu sistem itu cukup canggih.
Semua rekaman tersimpan otomatis.
Aku memasukkan waktu.
02.00 sampai 03.00.
Namun layar hanya menampilkan tulisan:
Tidak ada rekaman tersedia.
Aku mengerutkan dahi.
Mustahil.
Aku mencoba lagi.
Tetap sama.
Aku membuka pengaturan sistem.
Dan saat itulah aku melihat sesuatu yang membuat tanganku dingin.
Rekaman tidak hilang karena kerusakan.
Rekaman itu dihapus.
Secara manual.
Aku menatap layar cukup lama.
Ada satu hal yang membuatku semakin takut.
Orang yang menghapusnya menggunakan akses utama.
Akses yang hanya dimiliki oleh satu orang.
Dimas.
Aku berdiri di dapur ketika dia masuk.
“Kamu sudah bangun?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Dimas.”
“Hm?”
“Kenapa rekaman kamera rumah tadi malam dihapus?”
Wajahnya berubah.
Hanya sedikit.
Tetapi aku melihatnya.
“Apa maksudmu?”
“Rekaman jam dua sampai tiga pagi hilang.”
Dia meletakkan tasnya.
“Mungkin sistem error.”
Aku menggeleng.
“Jangan bohong padaku.”
Suasana langsung berubah.
Dimas menatapku cukup lama.
Lalu dia menghela napas.
“Kamu mulai lagi.”
“Mulai apa?”
“Mencari sesuatu yang tidak ada.”
Aku terdiam.
“Aku hanya bertanya.”
“Tidak, Serena. Kamu selalu membuat sesuatu menjadi besar.”
Kata-katanya menusuk.
Karena untuk pertama kalinya, aku merasa dia bukan sedang menjelaskan.
Dia sedang membuatku meragukan diriku sendiri.
Beberapa hari berikutnya menjadi semakin aneh.
Aku mulai memperhatikan banyak hal.
Ada parfum wanita yang bukan milikku di mobilnya.
Ada gelas tambahan di dapur yang tidak pernah kugunakan.
Ada pesan masuk di ponselnya yang selalu dia hapus sebelum aku melihat.
Ketika aku bertanya, jawabannya selalu sama.
“Kamu berhalusinasi.”
“Kamu terlalu stres.”
“Kamu butuh istirahat.”
Sampai suatu malam aku mulai bertanya pada diriku sendiri.
Apakah aku benar-benar melihat semuanya?
Apakah aku benar-benar mengingat dengan benar?
Atau apakah pikiranku mulai membuat cerita sendiri?
Namun satu hal yang tidak bisa kuabaikan.
Aku menemukan sebuah foto lama di laci meja kerja Dimas.
Foto itu menunjukkan seorang perempuan.
Perempuan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Di belakang foto tertulis sebuah tanggal.
Enam tahun lalu.
Tepat sebelum kami menikah.
Aku membawa foto itu kepada Dimas.
“Siapa dia?”
Dimas yang sedang membaca dokumen langsung diam.
Aku melihat warna wajahnya berubah.
“Serena…”
“Jawab aku.”
Dia menutup matanya sebentar.
“Namanya Maya.”
“Maya siapa?”
Dia tidak menjawab.
Dan diamnya lebih menyakitkan daripada kebohongan.
“Aku pernah mengenalnya,” katanya akhirnya.
“Pernah?”
Aku tertawa kecil.
“Kenapa fotonya ada di laci tersembunyi?”
Dimas berdiri.
“Karena aku tidak ingin mengingat masa lalu.”
“Lalu kenapa dia datang ke rumah kita malam itu?”
Dimas membeku.
Aku tahu.
Aku benar.
Dia tidak perlu mengatakan apa pun.
Ekspresinya sudah menjawab.
“Maya datang?”
Beberapa detik berlalu.
Lalu Dimas duduk.
“Kamu tidak mengerti.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Dia mengusap wajahnya.
“Enam tahun lalu, sebelum aku menikah denganmu, Maya adalah seseorang yang sangat dekat denganku.”
Aku menahan napas.
“Tapi kami berpisah.”
“Kenapa?”
“Karena dia menghilang.”
Aku terdiam.
“Menghilang?”
Dimas mengangguk.
“Tanpa kabar. Tanpa alasan.”
Aku menatapnya.
“Dan sekarang dia kembali?”
Dimas tidak menjawab.
Malam itu aku tidak tidur.
Ada terlalu banyak pertanyaan di kepalaku.
Namun pagi berikutnya terjadi sesuatu yang lebih mengejutkan.
Semua rekaman kamera rumah kami hilang.
Bukan hanya malam itu.
Semua.
Selama tiga bulan terakhir.
Aku langsung memanggil Dimas.
Dia datang dengan wajah panik.
“Siapa yang melakukan ini?”
Aku menatapnya.
“Kamu yang seharusnya tahu.”
Dia memeriksa sistem.
Tangannya bergerak cepat di komputer.
Lalu tiba-tiba dia berhenti.
“Apa?”
Dia tidak menjawab.
“Dimas, apa yang kamu lihat?”
Wajahnya pucat.
“Ini bukan aku.”
Aku terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Seseorang masuk ke sistem dengan aksesku.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di wajah suamiku.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Takut.
Malam itu kami memeriksa seluruh rumah.
Dan di belakang panel dekorasi ruang tamu, kami menemukan sesuatu.
Sebuah perangkat kecil.
Bukan milik kami.
Alat penyadap.
Aku mundur perlahan.
Selama ini…
Ada seseorang yang mendengarkan kami.
Melihat kami.
Mengikuti kehidupan kami.
Dimas memegang alat itu dengan tangan gemetar.
“Aku tahu siapa yang bisa melakukan ini.”
Aku menatapnya.
“Maya?”
Dia mengangguk.
Namun sebelum kami bisa melakukan apa pun, ponsel Dimas berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Dari nomor tidak dikenal.
Hanya ada satu kalimat.
“Kamu sudah ingat semuanya, kan?”
Dimas langsung pucat.
Aku melihatnya.
“Apa maksud pesan itu?”
Dia diam.
Lalu perlahan berkata,
“Serena… ada sesuatu yang tidak pernah aku ceritakan.”
Aku menunggu.
“Enam tahun lalu, sebelum aku mengenalmu, Maya mengalami kecelakaan.”
Aku mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Dia meninggal.”
Dunia seakan berhenti.
Aku menatapnya tanpa suara.
“Tidak mungkin.”
Dimas menunduk.
“Aku menghadiri pemakamannya.”
“Kalau begitu siapa perempuan yang datang malam itu?”
Dimas tidak menjawab.
Dan saat itulah aku melihat sesuatu di layar kamera.
Sebuah rekaman baru muncul.
Padahal sebelumnya semua data hilang.
Tanggalnya menunjukkan malam pertama aku mendengar suara itu.
02.11.
Aku menekan tombol putar.
Layar menampilkan ruang tamu rumah kami.
Dimas berdiri di sana.
Sendirian.
Lalu pintu depan terbuka.
Seorang perempuan masuk.
Wajahnya terlihat jelas.
Aku membeku.
Karena perempuan itu…
adalah aku.
Versi diriku yang mengenakan pakaian berbeda.
Perempuan itu berjalan mendekati Dimas.
Dan suara rekaman terdengar.
“Kamu masih berpura-pura bahwa dia tidak tahu?”
Dimas menjawab,
“Aku mencoba melindunginya.”
Aku menutup mulutku.
Suara perempuan itu kembali terdengar.
“Kamu tidak bisa melindunginya selamanya.”
Lalu kamera bergerak.
Perempuan itu menoleh tepat ke arah kamera.
Seolah tahu sedang direkam.
Dan wajahnya berubah.
Itu bukan aku.
Itu Maya.
Aku mundur.
“Apa ini?”
Dimas menangis untuk pertama kalinya.
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”
“Tapi kamu tahu.”
Dia menatapku.
“Serena… enam tahun lalu, sebelum aku menikah denganmu, aku pernah melihat Maya untuk terakhir kalinya.”
Aku diam.
“Dia mengatakan sesuatu padaku.”
“Apa?”
“Dia bilang jika suatu hari dia kembali, berarti ada rahasia yang belum selesai.”
Aku menatap layar.
“Rahasia apa?”
Dimas mengambil napas panjang.
“Serena… Maya adalah saudara kembarmu.”
Darahku terasa berhenti mengalir.
“Apa?”
“Aku baru mengetahui setelah kita menikah.”
Aku menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Namun tiba-tiba banyak hal mulai muncul di pikiranku.
Kenangan masa kecil yang samar.
Seorang bayi lain dalam foto keluarga.
Cerita ibuku tentang kehilangan seorang anak.
Sesuatu yang selalu dianggap tabu untuk dibicarakan.
Maya bukan orang asing.
Dia bagian dari hidupku yang sengaja dihapus.
Dimas memegang tanganku.
“Orang tuamu menyembunyikan kebenaran. Mereka bilang Maya meninggal saat kecil.”
Air mataku jatuh.
“Kenapa?”
“Karena setelah kecelakaan waktu itu, mereka takut kehilangan semuanya.”
Aku melihat layar sekali lagi.
Maya menatap kamera.
Lalu rekaman berhenti.
Beberapa hari kemudian, aku menemukan surat lama milik ibuku.
Di dalamnya tertulis bahwa Maya sebenarnya selamat.
Tetapi karena sebuah kejadian besar di masa lalu, keluarga kami terpaksa berpisah.
Maya tumbuh dengan identitas berbeda.
Dan selama bertahun-tahun, dia mencari cara untuk kembali.
Bukan untuk menghancurkanku.
Tetapi untuk mengungkap kebenaran.
Aku akhirnya bertemu Maya di sebuah kafe kecil.
Ketika melihat wajahnya untuk pertama kali, aku tidak merasakan kebencian.
Aku hanya merasa kehilangan.
“Kamu benar-benar adikku,” bisikku.
Maya menangis.
“Aku hanya ingin kamu tahu bahwa selama ini kamu tidak sendirian.”
Aku menggenggam tangannya.
Ternyata selama ini yang paling kutakuti bukanlah pengkhianatan.
Melainkan kenyataan bahwa hidupku dibangun di atas kebohongan orang-orang yang kucintai.
Dimas meminta maaf karena menyembunyikan semuanya.
Aku tahu dia salah.
Namun aku juga tahu dia tidak pernah berhenti berusaha melindungiku.
Beberapa bulan kemudian, rumah kami tidak lagi dipenuhi rahasia.
Sistem keamanan baru dipasang.
Bukan untuk mengawasi.
Tetapi untuk mengingatkan kami bahwa tidak ada hubungan yang bisa bertahan tanpa kejujuran.
Aku masih sering melihat kamera di sudut ruangan.
Kadang aku tersenyum.
Karena dulu aku berpikir kamera hanya berguna untuk menangkap orang yang berbohong.
Ternyata kamera juga bisa menyimpan bukti bahwa sebuah keluarga yang hilang masih bisa ditemukan kembali.
Dan malam ketika semua rekaman itu terhapus…
adalah malam ketika untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat kebenaran yang selama ini sengaja disembunyikan dariku.
