Seorang miliarder melihat noda darah di ranjang setelah malam pernikahannya. Tapi ia tidak menelepon polisi. Ia hanya membuka sebuah laci… lalu terdiam sangat lama.

Pak Adrian membuka kotak kayu tua itu dengan tangan yang tiba-tiba bergetar.

Aku berdiri beberapa langkah darinya, masih bingung dan ketakutan. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Noda darah di seprai itu seharusnya menjadi alasan untuk marah, untuk curiga, atau setidaknya bertanya kepadaku dengan keras.

Namun pria yang dikenal sebagai salah satu pengusaha paling dingin di Indonesia itu justru terlihat seperti seseorang yang baru saja menemukan kembali bagian hidupnya yang telah hilang puluhan tahun.

Di dalam kotak kayu itu ada beberapa benda.

Sebuah gelang bayi.

Sebuah foto lama yang sudah mulai menguning.

Dan selembar kain putih kecil yang tampak seperti sapu tangan.

Adrian mengambil foto itu perlahan.

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah terlihat dalam dirinya.

Kesedihan.

“Pak Adrian?” suaraku pelan.

Ia tidak menjawab.

Matanya terus menatap foto tersebut.

Di foto itu terlihat seorang wanita muda tersenyum sambil menggendong seorang bayi kecil. Di samping wanita itu berdiri seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan Adrian.

Aku mendekat sedikit.

Lalu aku melihat sesuatu yang membuat tubuhku membeku.

Wanita dalam foto itu…

sangat mirip denganku.

Bukan sekadar mirip.

Bentuk mata, senyum, bahkan garis wajahnya hampir sama.

Aku menatap Adrian dengan bingung.

“Siapa wanita itu?”

Ia menarik napas panjang.

“Namanya Clara.”

Aku terdiam.

“Itu nama saya.”

Adrian mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Jantungku mulai berdebar.

“Apa maksud Bapak?”

Adrian duduk perlahan di kursi.

Untuk beberapa saat, ia hanya memegang foto itu tanpa berkata apa-apa.

“Dua puluh tujuh tahun lalu, aku kehilangan seseorang.”

Suaranya terdengar berat.

“Seorang wanita yang sangat aku cintai.”

Aku diam mendengarkan.

“Namanya juga Clara.”

Aku merasa tenggorokanku kering.

“Dia bukan ibuku, kan?”

Adrian menatapku.

Tatapan itu membuatku merasa seolah ada sesuatu yang selama ini disembunyikan dari kehidupanku.

“Tidak.”

Jawabannya membuatku sedikit lega.

“Tapi dia adalah ibu kandungmu.”

Dunia seakan berhenti.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Apa?”

“Clara yang ada di foto itu adalah ibu kandungmu.”

Aku mundur satu langkah.

Tidak mungkin.

Selama hidupku, aku hanya tahu satu hal tentang ibuku.

Dia meninggal ketika aku masih bayi.

Ayahku tidak pernah banyak bercerita.

Yang aku tahu, aku dibesarkan oleh ibu sambungku dan ayahku yang bekerja keras sampai akhirnya terlilit utang.

“Tapi… kenapa saya tidak pernah tahu?”

Adrian menunduk.

“Karena ayahmu menyembunyikannya.”

Aku merasa dadaku sesak.

“Apa hubungan Bapak dengan ibu saya?”

Adrian memejamkan mata.

“Dia adalah tunanganku.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa semakin dingin.

“Lalu kenapa saya bisa ada di sini? Kenapa Bapak menikahi saya?”

Adrian menatapku lama.

“Aku tidak tahu kamu adalah putrinya saat pertama kali bertemu.”

Aku terdiam.

“Kamu datang ke rumah sakitku membawa berkas operasi adikmu. Saat aku melihat namamu, aku merasa ada sesuatu yang aneh.”

“Karena nama saya?”

“Karena wajahmu.”

Ia melihat kembali foto itu.

“Kamu memiliki wajah ibumu.”

Aku tidak tahu harus percaya atau tidak.

Semua terasa terlalu besar untuk diterima.

“Lalu noda darah itu?”

Pertanyaanku membuat Adrian kembali melihat seprai.

Wajahnya berubah lembut.

“Itu bukan darah yang membuatku terkejut.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu?”

Ia mengambil sapu tangan putih dari kotak kayu.

“Ini.”

Aku melihat kain kecil itu.

“Ini milik ibuku?”

Adrian mengangguk.

“Ketika Clara melahirkanmu, dia memberikan ini kepadaku.”

Aku membeku.

“Bapak ada saat saya lahir?”

“Iya.”

Suara Adrian bergetar.

“Aku adalah orang pertama yang menggendongmu setelah ibumu.”

Air mataku mulai jatuh tanpa kusadari.

“Kalau begitu… kenapa Bapak meninggalkan kami?”

Adrian terdiam.

Pertanyaan itu jelas menyakitkan.

“Aku tidak meninggalkan kalian.”

Ia menarik napas.

“Aku mencari kalian selama bertahun-tahun.”

“Lalu?”

“Ketika aku kembali, ibumu sudah meninggal. Ayahmu membawamu pergi dan mengatakan bahwa aku tidak punya hak atas kalian.”

Aku menggigit bibir.

“Kenapa ayah saya melakukan itu?”

Adrian menatap ke luar jendela.

“Karena dia membenci aku.”

“Kenapa?”

“Karena Clara memilih aku.”

Suasana kamar menjadi sunyi.

Aku mencoba menyusun semua potongan cerita yang baru saja kudengar.

Selama ini aku percaya hidupku hanya dipenuhi kesulitan.

Ayah meninggal meninggalkan utang.

Adikku sakit.

Aku menerima pernikahan dengan pria yang tidak kucintai demi menyelamatkan keluarga.

Tapi ternyata ada rahasia besar yang bahkan tidak pernah aku bayangkan.

Aku bukan sekadar seorang gadis biasa.

Aku adalah anak dari seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup Adrian Mahendra.

Namun satu pertanyaan masih mengganggu pikiranku.

“Kenapa Bapak tetap menikahi saya setelah tahu?”

Adrian terdiam.

Lalu ia berkata,

“Karena sebelum aku tahu siapa dirimu, aku sudah melihat siapa kamu.”

Aku menatapnya.

“Kamu merawat ayahmu sampai akhir meski dia meninggalkan masalah besar. Kamu bekerja siang malam untuk adikmu. Kamu tidak pernah meminta lebih dari yang kamu butuhkan.”

Ia tersenyum kecil.

“Kamu berbeda dari orang-orang yang biasanya datang kepadaku.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Selama ini aku berpikir Adrian menikahiku karena kasihan.

Atau karena sebuah perjanjian.

Tapi mungkin ada alasan lain.

Hari-hari berikutnya terasa seperti hidup dalam mimpi.

Adrian mulai membantuku mencari kebenaran tentang masa lalu.

Kami menemukan dokumen lama yang menunjukkan bahwa ayahku pernah menerima uang besar dari seseorang untuk membawa aku pergi.

Nama pengirimnya membuatku terkejut.

Itu adalah ayah Adrian.

Keluarga Mahendra sendiri.

Ternyata setelah Clara meninggal, ayah Adrian memisahkan mereka karena menganggap Clara tidak pantas menikah dengan pewaris keluarga kaya.

Ia memaksa ayahku membawa aku pergi.

Sebagai gantinya, dia membayar semua utang keluarga kami.

Selama puluhan tahun, aku hidup dalam kebohongan yang dibuat oleh orang-orang dewasa.

Suatu malam, aku bertanya kepada Adrian,

“Apakah Bapak membenci ayah saya?”

Ia diam cukup lama.

“Dulu iya.”

“Sekarang?”

Ia tersenyum sedih.

“Tidak. Karena kalau bukan karena dia, aku tidak akan pernah tahu kamu masih hidup.”

Hubungan kami perlahan berubah.

Pernikahan yang awalnya hanya kesepakatan mulai memiliki sesuatu yang tidak pernah kami rencanakan.

Kepercayaan.

Kepedulian.

Dan perasaan yang tumbuh perlahan.

Adrian tetap menghormati batasanku.

Ia tidak pernah memaksaku menjadi istri yang sempurna.

Ia hanya menjadi seseorang yang selalu ada ketika aku membutuhkannya.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Suatu hari, aku menemukan sebuah surat lama di dalam kotak kayu itu.

Surat dari ibuku.

Untuk Adrian.

Dengan tangan gemetar, aku membukanya.

“Adrian, jika suatu hari kamu menemukan Clara kecil, jangan biarkan dia merasa kehilangan keluarga. Jangan katakan kepadanya bahwa dia adalah anak dari sebuah kesalahan. Katakan bahwa dia adalah alasan aku tetap percaya pada cinta.”

Air mataku jatuh saat membaca kalimat terakhir.

“Aku tidak takut mati. Aku hanya takut anakku tumbuh tanpa tahu bahwa dia sangat dicintai.”

Aku menutup surat itu sambil menangis.

Malam itu, aku menemui Adrian.

“Kenapa Bapak tidak pernah menunjukkan surat ini?”

Ia menatapku.

“Karena aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu mengira aku menikahimu hanya karena janji kepada ibumu.”

Aku terdiam.

“Padahal?”

Adrian mendekat.

“Padahal aku mencintaimu karena dirimu sendiri, Clara.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat pria yang selama ini dianggap tidak memiliki hati itu menangis.

Bukan karena kehilangan.

Tapi karena akhirnya menemukan sesuatu yang sudah ia cari selama hampir tiga puluh tahun.

Beberapa bulan kemudian, adikku berhasil menjalani operasi jantung.

Utang keluarga kami selesai.

Dan aku tidak lagi merasa seperti seseorang yang hanya diselamatkan oleh orang lain.

Aku memiliki hidupku sendiri.

Pada hari ulang tahunku yang kedua puluh delapan, Adrian memberikan sebuah hadiah.

Kotak kayu tua itu.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada foto lama ibuku.

Tapi ada satu foto baru.

Foto kami berdua.

Aku tersenyum.

“Kenapa Bapak menyimpan ini?”

Adrian menjawab,

“Karena dulu aku kehilangan seorang Clara.”

Ia menggenggam tanganku.

“Sekarang aku diberi kesempatan untuk menjaga Clara yang lain.”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

Saat itu aku akhirnya mengerti.

Kadang hidup mengambil sesuatu dari kita bukan untuk menghukum kita.

Terkadang hidup hanya sedang mempersiapkan kita untuk menemukan sesuatu yang lebih besar.

Aku menikah dengan Adrian Mahendra karena terpaksa.

Aku pikir aku menjual masa depanku untuk menyelamatkan keluargaku.

Tapi ternyata…

aku justru menemukan keluarga yang selama ini tidak pernah kuketahui.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang