Salah Sebut Nama Saat Ijab Kabul, Rahasia Kelam Adik Kandung dan Calon Suami Akhirnya Terbongkar!

Malam itu, Zora tidak tahu ke mana hidup akan membawanya.

Yang ia tahu hanya satu.

Ia tidak akan kembali.

Sebuah taksi daring berhenti di ujung jalan. Zora memasukkan kopernya ke bagasi, lalu duduk di kursi belakang sambil menatap rumah keluarganya dari balik kaca.

Ponselnya bergetar berkali-kali.

Nama Ares muncul di layar.

Zora langsung menolak panggilan itu.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk.

“Zora, tolong angkat teleponku. Aku bisa jelaskan semuanya.”

Zora membaca kalimat itu tanpa ekspresi.

Menjelaskan apa?

Bahwa Ares tidur dengan adiknya sendiri?

Bahwa Selena mengandung anaknya?

Bahwa selama berbulan-bulan mereka berdua tersenyum di depan Zora sambil menyembunyikan pengkhianatan di belakangnya?

Tidak ada penjelasan yang mampu mengubah fakta.

Zora memblokir nomor Ares.

Kemudian nomor Selena.

Sesudah berpikir sejenak, ia juga mematikan ponselnya.

“Tujuannya sudah benar, Mbak?” tanya pengemudi.

Zora mengangguk.

“Benar, Pak.”

Tujuannya adalah sebuah apartemen kecil di kawasan Jakarta Selatan milik teman kuliahnya, Nadia.

Nadia terkejut ketika membuka pintu dan melihat Zora berdiri dengan koper besar, wajah tanpa riasan, dan mata yang bengkak.

“Ya Allah, Zora.”

Nadia langsung memeluknya.

Saat itulah pertahanan Zora runtuh.

Ia menangis dalam pelukan sahabatnya seperti anak kecil.

Semua rasa sakit yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.

“Aku bodoh, Nad.”

“Jangan bilang begitu.”

“Aku membiarkan semua orang memperlakukanku seenaknya.”

Nadia mengusap punggungnya.

“Kalau hari ini kamu berani pergi, berarti kamu sudah berhenti membiarkan mereka.”

Kalimat itu menempel kuat di kepala Zora.

Hari-hari berikutnya tidak mudah.

Pernikahan yang gagal menjadi bahan pembicaraan keluarga besar. Foto dan video ketika Ares salah menyebut nama Selena bahkan sempat tersebar di media sosial karena salah satu tamu merekam kejadian tersebut.

Komentar orang bermunculan.

Sebagian kasihan kepada Zora.

Sebagian mengejek Ares.

Sebagian lagi menyerang Selena.

Zora memilih diam.

Ia mengajukan cuti selama satu minggu dari pekerjaannya sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan kosmetik lokal. Setelah itu, ia kembali bekerja seperti biasa.

Ia menyewa sebuah studio kecil menggunakan sebagian uang yang diberikan Mama Ares.

Sisanya ia simpan.

Untuk pertama kalinya, Zora membayar kebutuhan hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Tidak ada lagi tagihan listrik rumah orang tuanya.

Tidak ada cicilan motor Selena.

Tidak ada biaya kursus modeling.

Tidak ada permintaan uang mendadak dari ibunya.

Anehnya, penghasilannya yang dulu selalu terasa kurang kini justru lebih dari cukup.

Satu bulan berlalu.

Lalu dua bulan.

Zora mulai menemukan kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia mengikuti kelas pilates, kembali membaca buku, makan sendirian tanpa merasa kesepian, dan beberapa kali pergi bersama Nadia pada akhir pekan.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Suatu sore, petugas keamanan kantornya menelepon.

“Mbak Zora, ada seorang perempuan yang mengaku ibu Mbak.”

Zora terdiam.

“Suruh naik.”

Beberapa menit kemudian, Bu Sukma muncul di depan ruangannya dengan wajah kusut.

Tidak seperti biasanya, wanita itu tidak datang dengan suara keras.

Ia justru duduk sambil menunduk.

“Zora.”

“Ada apa, Bu?”

“Ibu perlu uang.”

Zora hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena ia sudah menduga.

“Untuk apa?”

“Selena.”

Nama itu masih membuat dada Zora terasa tidak nyaman, tetapi tidak lagi sesakit dahulu.

“Selena kenapa?”

Bu Sukma mengusap wajahnya.

“Ares tidak jadi menikahinya.”

Zora mengangkat alis.

Setelah kegagalan akad itu, ternyata Ares sempat berjanji akan bertanggung jawab terhadap kehamilan Selena.

Namun hubungan mereka berubah menjadi kekacauan.

Ares kehilangan kepercayaan keluarganya. Papanya mencabut posisi Ares dari perusahaan keluarga dan menyuruhnya membangun hidup sendiri.

Tanpa fasilitas orang tua, gaya hidup Ares langsung berubah.

Selena yang sebelumnya membayangkan akan hidup sebagai istri orang kaya mulai sering bertengkar dengannya.

Keduanya saling menyalahkan.

Puncaknya terjadi ketika Ares meminta tes DNA setelah mendengar cerita dari salah satu teman Selena bahwa perempuan itu juga memiliki hubungan dengan pria lain pada waktu yang berdekatan.

Zora membeku.

“Tes DNA?”

Bu Sukma menangis.

“Hasil pemeriksaan awal memperkirakan usia kandungan Selena tidak sesuai dengan waktu dia mengaku pertama kali bersama Ares.”

“Lalu?”

“Selena menolak tes.”

Zora memejam sesaat.

Potongan-potongan kejadian mulai tersusun sendiri.

“Jadi Ibu datang kepadaku karena apa?”

“Selena butuh biaya kontrol. Ayahmu sekarang sedang kesulitan. Usaha toko juga sepi.”

Zora menatap perempuan yang melahirkannya itu cukup lama.

Dahulu, satu tatapan sedih ibunya sudah cukup membuat Zora mengeluarkan seluruh isi rekeningnya.

Sekarang tidak.

“Maaf, Bu. Aku tidak bisa.”

Bu Sukma langsung mengangkat wajah.

“Apa?”

“Aku tidak bisa memberikan uang.”

“Kamu kakaknya!”

“Aku tahu.”

“Dia sedang hamil!”

“Itu juga aku tahu.”

“Zora!”

Suara Bu Sukma mulai meninggi.

Beberapa karyawan di luar ruangan menoleh.

Zora tetap tenang.

“Waktu aku membayar pesta pernikahanku sendiri, Ibu bilang uang keluarga harus diberikan kepada Selena.”

Bu Sukma terdiam.

“Waktu aku membantu biaya rumah, biaya kursus Selena, bahkan cicilan mobil Ayah, tidak pernah sekali pun Ibu bertanya apakah aku punya tabungan untuk diriku sendiri.”

“Jangan ungkit masa lalu.”

“Aku bukan mengungkit. Aku sedang belajar darinya.”

Wajah Bu Sukma memerah.

“Jadi sekarang kamu tega membiarkan adikmu?”

Zora tersenyum tipis.

“Selena punya ayah dan ibu. Dia juga sudah dewasa. Aku bukan orang tuanya.”

Bu Sukma berdiri kasar.

“Kamu berubah!”

“Benar.”

Jawaban Zora begitu tenang hingga membuat ibunya kehilangan kata-kata.

“Aku memang berubah, Bu. Dan seharusnya aku berubah sejak dulu.”

Bu Sukma pergi sambil membanting pintu.

Zora menatap pintu itu cukup lama.

Tangannya memang gemetar.

Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bersalah karena mengatakan tidak.

Enam bulan setelah kejadian pernikahan itu, hidup Zora berubah lebih cepat daripada yang ia perkirakan.

Perusahaan tempatnya bekerja sedang mempersiapkan peluncuran merek baru dan membutuhkan seseorang untuk memimpin proyek nasional.

Direktur utama memilih Zora.

Keberhasilannya membuat kampanye tersebut viral membawa namanya semakin dikenal.

Setahun kemudian, Zora memutuskan keluar dan membuka konsultan pemasaran bersama Nadia.

Bisnis kecil itu berkembang pesat.

Klien mereka datang dari berbagai kota.

Bandung.

Surabaya.

Bali.

Makassar.

Zora yang dulu bahkan takut membeli sesuatu untuk dirinya sendiri kini memiliki tim dua belas orang.

Namun hidup tidak sepenuhnya melupakan masa lalu.

Suatu malam, hampir dua tahun setelah pernikahan yang gagal, Zora menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

“Kak, ini Selena.”

Zora hendak menghapusnya.

Namun pesan berikutnya membuat jarinya berhenti.

“Aku tidak minta uang. Aku cuma ingin bertemu.”

Zora tidak langsung menjawab.

Dua hari kemudian, entah karena rasa penasaran atau karena luka lama itu akhirnya tidak lagi menakutkan, Zora setuju.

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di Kemang.

Selena datang mengenakan blouse sederhana dan celana panjang.

Tidak ada tas bermerek.

Tidak ada riasan tebal.

Di sampingnya berjalan seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar satu tahun.

Zora langsung tahu.

“Ini Raka,” kata Selena pelan.

Zora menatap anak itu.

“Anakmu?”

Selena mengangguk.

Mereka duduk.

Beberapa detik terasa sangat canggung.

“Ares bukan ayahnya,” kata Selena akhirnya.

Zora tidak terkejut.

“Namanya Dimas. Fotografer yang dulu sering kerja bareng aku.”

Selena menceritakan semuanya.

Sebelum mendekati Ares, ia sudah memiliki hubungan dengan Dimas. Namun Dimas tidak kaya. Kariernya belum stabil.

Ketika melihat Ares sering datang ke rumah menemui Zora, Selena mulai membandingkan.

Ia iri.

Selama bertahun-tahun ibunya selalu memanjakan dirinya, mengatakan Selena lebih cantik dan pantas memiliki kehidupan mewah.

Perhatian itu justru menumbuhkan keyakinan bahwa ia berhak mendapatkan apa pun.

Termasuk milik kakaknya.

“Aku pikir kalau aku bisa mengambil Ares darimu, aku menang.”

Air mata Selena mengalir.

“Tapi ternyata aku malah kehilangan semuanya.”

Setelah hasil DNA membuktikan Raka bukan anak Ares, Ares langsung meninggalkannya.

Dimas juga menolak kembali.

Karier modeling Selena hancur setelah skandal itu tersebar.

Bu Sukma masih membelanya beberapa bulan, tetapi ketika keadaan ekonomi keluarga semakin buruk, pertengkaran mulai terjadi setiap hari.

“Aku sekarang kerja di toko pakaian teman.”

Zora diam.

“Aku tidak datang supaya Kakak kasihan.”

Selena menunduk.

“Aku cuma mau bilang sesuatu yang seharusnya sudah kukatakan sejak lama.”

Ia menatap Zora.

“Maafkan aku, Kak.”

Zora menghela napas panjang.

Dua tahun lalu, ia mungkin akan berteriak.

Atau menangis.

Namun sekarang ia hanya merasa lelah ketika mengingatnya.

“Aku sudah memaafkanmu.”

Selena membeku.

“Benarkah?”

“Bukan karena kamu pantas mendapatkannya.”

Wajah Selena berubah.

“Tapi karena aku tidak mau membawa kebencian itu terus-menerus.”

Zora menatap anak kecil yang sedang sibuk memainkan sedotan.

“Aku memaafkanmu untuk diriku sendiri.”

Selena menangis semakin keras.

“Tapi jangan salah paham. Memaafkan tidak berarti semuanya kembali seperti dulu.”

Selena mengangguk perlahan.

“Aku tahu.”

Sebelum pergi, Selena tiba-tiba berkata, “Kak, Mama sakit.”

Zora menatapnya.

“Stroke ringan dua minggu lalu.”

Jantung Zora terasa berhenti sesaat.

Meski begitu, ia tidak langsung pulang.

Ia memikirkan semuanya selama tiga hari.

Pada hari keempat, Zora datang ke rumah sakit.

Pak Burhan duduk di lorong dengan tubuh yang terlihat jauh lebih tua.

Ketika melihat Zora, matanya langsung berkaca-kaca.

“Zora.”

Zora hanya mengangguk.

Di dalam kamar, Bu Sukma terbaring lemah.

Satu sisi tubuhnya sulit digerakkan.

Ketika melihat putri sulungnya, air mata wanita itu mengalir.

“Zora.”

Zora mendekat.

Tangannya disentuh perlahan oleh sang ibu.

“Ibu salah.”

Hanya dua kata.

Namun dua kata itu adalah sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah Zora dengar.

“Ibu terlalu memanjakan Selena.”

Bu Sukma terisak.

“Dan terlalu banyak menuntut kamu.”

Zora menunduk.

“Ibu pikir kamu kuat, jadi Ibu terus meminta. Ibu pikir Selena lemah, jadi Ibu terus melindunginya.”

Ia menarik napas sulit.

“Ternyata Ibu menghancurkan kalian berdua dengan cara yang berbeda.”

Air mata Zora akhirnya jatuh.

Ia menggenggam tangan ibunya.

“Aku tidak bisa kembali menjadi Zora yang dulu, Bu.”

“Ibu tahu.”

“Aku juga tidak akan kembali tinggal di rumah.”

Bu Sukma mengangguk.

“Ibu cuma ingin kamu tidak membenci Ibu sampai Ibu mati.”

Zora menutup mata sebentar.

“Aku tidak membenci Ibu.”

Itu adalah kebenaran.

Lukanya memang belum hilang sepenuhnya.

Tetapi kebencian itu sudah tidak ada.

Tiga tahun setelah akad yang gagal, Zora berdiri di sebuah ballroom hotel di Jakarta menghadiri penghargaan bisnis untuk pengusaha muda.

Perusahaan konsultan yang ia bangun bersama Nadia memenangkan penghargaan kategori Creative Business of the Year.

Saat turun dari panggung, seseorang memanggilnya.

“Zora.”

Ia menoleh.

Ares berdiri beberapa meter darinya.

Pria itu terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Tidak lagi mengenakan jam tangan mahal yang dulu selalu dibanggakannya.

“Aku cuma ingin mengucapkan selamat.”

“Terima kasih.”

Ares tersenyum getir.

“Aku sering mengikuti berita tentangmu.”

Zora tidak menjawab.

“Aku menyesal.”

“Tentang Selena?”

“Tentang semuanya.”

Ares menatapnya.

“Kalau hari itu tidak terjadi, mungkin sekarang kita sudah menikah.”

Zora tersenyum.

“Benar.”

Ada harapan kecil muncul di mata Ares.

Namun kalimat berikutnya langsung memadamkannya.

“Dan mungkin aku masih menjadi Zora yang sama. Sibuk menyenangkan semua orang sampai lupa hidup untuk diriku sendiri.”

Ares terdiam.

Zora mengulurkan tangan.

“Jadi ternyata salah menyebut nama waktu ijab kabul itu adalah satu-satunya hal baik yang pernah kamu lakukan untukku.”

Wajah Ares menegang.

Zora menjabat tangannya sebentar.

“Terima kasih, Ares.”

Kemudian ia pergi.

Di pintu ballroom, Nadia sudah menunggunya.

“Sudah selesai dengan masa lalu?”

Zora tertawa kecil.

“Sudah sejak lama.”

Mereka berjalan menuju lift.

Di pantulan dinding logam, Zora melihat dirinya sendiri.

Dulu ia pernah berdiri di depan cermin mengenakan gaun pengantin, merasa hidupnya telah berakhir.

Sekarang perempuan yang sama berdiri dengan kepala tegak, memiliki perusahaan sendiri, kehidupan sendiri, dan kebebasan yang dulu bahkan tidak berani ia impikan.

Ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan dari Selena masuk.

Foto Raka mengenakan seragam sekolah pertamanya.

Di bawahnya tertulis,

“Kak, Raka hari pertama masuk playgroup. Dia bilang nanti kalau besar mau pintar seperti Tante Zora.”

Zora tersenyum.

Ia mengetik balasan singkat.

“Bilang sama Raka, dia tidak perlu menjadi seperti siapa pun. Jadilah dirinya sendiri.”

Zora menatap layar beberapa detik sebelum menyimpan ponselnya.

Barulah ia memahami sesuatu.

Hari paling buruk dalam hidupnya ternyata bukan hari ketika pernikahannya hancur.

Hari itu justru menjadi hari ketika hidupnya dimulai.

Karena terkadang, kehilangan seseorang bukanlah hukuman.

Dikhianati juga tidak selalu berarti kalah.

Ada kalanya Tuhan membiarkan sebuah pintu tertutup dengan sangat menyakitkan karena jika pintu itu tetap terbuka, kita tidak akan pernah memiliki keberanian untuk berjalan menuju tempat yang sebenarnya pantas kita tuju.

Dan pada hari ketika Ares salah menyebut nama perempuan lain di depan penghulu, Zora memang kehilangan calon suami.

Namun sebagai gantinya, ia menemukan seseorang yang jauh lebih berharga.

Dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang