BAB II: DI BALIK BAYANG-BAYANG GARASI
Surat itu bergetar di tanganku. Kata-kata Papa seolah-olah memiliki detak jantungnya sendiri. Namun, tepat setelah aku selesai membacanya, sesuatu yang aneh terjadi. Lilin di meja mulai berkedip liar, bukan karena embusan angin, melainkan karena getaran dari arah garasi.
Aku berdiri, memberanikan diri. Apakah Papa benar-benar mencoba berkomunikasi?
Langkahku berat menuju garasi yang gelap. Di sana, di bawah tumpukan kain penutup motor tua yang sudah berdebu, aku melihat siluet yang tidak wajar. Motor antik yang sedang Papa perbaiki sebelum dia meninggal—motor yang tak pernah bisa menyala selama sepuluh tahun—tiba-tiba lampu utamanya menyala redup, menembus kegelapan.

Aku mendekat. Dengan tangan gemetar, aku menyentuh stang motor itu. Seketika, suhu ruangan turun drastis. Napas membentuk kabut di udara. Sebuah suara muncul, bukan dari udara, melainkan seolah bergema langsung di dalam tempurung kepalaku.
“Lance… lihat di bawah tangki bensin.”
Suara itu berat, serak, dan sangat nyata. Itu suara Papa. Tanpa pikir panjang, aku meraih kunci pas dan membuka baut di bagian bawah tangki motor. Aku mengira akan menemukan kunci rahasia atau uang simpanan.
Namun, yang kutemukan adalah sebuah kotak hitam kecil berbalut pita isolasi elektrik yang kaku. Di dalamnya terdapat sebuah hard drive tua dan sebuah catatan pendek: “Jika kau membaca ini, artinya aku sudah gagal melindungimu dari kebenaran.”
BAB III: RAHASIA YANG TERKUBUR
Aku menghubungkan hard drive itu ke laptopku. Isinya membuat jantungku nyaris berhenti. Itu bukan rekaman suara atau kenangan manis. Itu adalah daftar transaksi perbankan dan rekaman kamera pengawas dari sebuah perusahaan besar bernama Aethelgard Corp—tempat Papa bekerja sebagai mekanik selama 30 tahun.
Ternyata, Papa bukanlah sekadar mekanik biasa. Dia adalah teknisi yang menemukan bahwa perusahaan itu sedang membuang limbah kimia beracun ke sungai di desa kami, yang menjadi penyebab utama sakitnya warga lokal, termasuk ibu yang meninggal saat aku masih kecil. Papa telah mengumpulkan bukti selama bertahun-tahun, menunggu saat yang tepat untuk membongkarnya.
Tapi, ada satu fakta yang lebih mengejutkan. Di salah satu video, aku melihat seseorang masuk ke rumah kami tepat sebelum Papa dinyatakan meninggal karena “serangan jantung”. Orang itu bukan perampok. Itu adalah Paman Didi, sahabat karib Papa sendiri.
Tanganku gemetar. Paman Didi? Orang yang selalu datang ke pemakaman, orang yang selalu memberiku uang saku, orang yang mengklaim sebagai “pelindungku”?
BAB IV: KONFRONTASI
Tanpa menunggu besok, aku langsung mengendarai motor ke rumah Paman Didi. Hujan masih turun deras, seolah langit ikut bersedih dengan pengkhianatan yang baru saja kusadari.
Saat aku tiba, rumahnya sepi. Pintu tidak terkunci. Aku masuk dengan napas memburu. Di ruang tengah, Paman Didi sedang duduk menghadap perapian, menyesap kopi, seolah sedang menungguku.
“Aku tahu kau akan datang, Lance,” suaranya tenang, terlalu tenang.
“Kenapa, Paman? Papa menganggapmu saudaranya sendiri!” teriakku.
Paman Didi berbalik. Matanya tidak memancarkan penyesalan, melainkan kekosongan yang mengerikan. “Ayahmu terlalu naif. Dia berpikir bahwa kejujuran bisa mengubah dunia. Dia ingin mengungkap Aethelgard. Dia tidak tahu bahwa Aethelgard adalah mereka yang membiayai hidup kita selama ini.”
Dia berdiri, memegang sepucuk pistol yang diarahkan tepat ke dadaku. “Dan sekarang, kau harus pergi menyusulnya, Lance. Sama seperti dia, kau akan dicatat sebagai ‘kecelakaan tragis’.”
BAB V: KEJUTAN DARI “ANGIN”
Aku menutup mata, bersiap menghadapi pelatuk yang akan ditarik. Tapi, sedetik berlalu, suara tembakan tidak terdengar.
Yang terdengar adalah suara dentuman keras.
Aku membuka mata. Paman Didi sudah terkapar di lantai, bukan karena tembakan, melainkan karena rak buku berat di belakangnya tiba-tiba roboh tepat menimpanya, seolah-olah ada tangan raksasa yang mendorongnya dengan kekuatan luar biasa.
Suasana ruangan berubah dingin mencekam. Listrik padam total. Di tengah kegelapan, aku melihat sesuatu. Sebuah kabut putih tipis terbentuk di depan mataku. Itu bukan sekadar kabut; itu membentuk sosok. Sosok pria dengan noda oli di wajahnya, mengenakan seragam kerja lamanya.
Papa.
Dia tidak berbicara. Dia hanya tersenyum, senyuman yang selama setahun ini kurindukan. Dia menunjuk ke arah hard drive yang masih ada di kantong jaketku, lalu menunjuk ke arah pintu keluar.
“Papa?” bisikku.
Sosok itu memudar, menyatu dengan embusan angin yang masuk melalui jendela yang terbuka. Paman Didi masih bernapas, tapi dia lumpuh total, terjebak di bawah reruntuhan buku-buku yang dia sendiri susun.
EPILOG: KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN
Satu minggu kemudian, berita besar mengguncang negeri. Hard drive yang ditinggalkan Papa telah sampai ke tangan jurnalis investigasi yang tepat. Aethelgard Corp runtuh, petinggi-petingginya ditangkap, dan Paman Didi menghadapi hukuman seumur hidup.
Aku berdiri di depan makam Papa. Sekarang, aku mengerti mengapa aku selalu merasa dia ada di sampingku. Dia tidak pergi karena dia punya janji yang belum tuntas. Dia tidak pergi karena dia adalah “mesin” yang terus menjaga keluarganya dari balik tirai kehidupan.
Saat aku hendak melangkah pergi, sebuah angin sepoi-sepoi menerpa wajahku, membawa aroma mesin tua dan kopi pahit yang sangat khas. Aku tidak lagi merasa sedih. Aku tersenyum ke arah langit.
“Terima kasih, Pa. Sekarang, giliran Lance yang menjaga semuanya.”
Tepat saat aku berbalik, radio tua di dalam mobilku menyala dengan sendirinya, memutar lagu kesukaan Papa. Aku tahu, dia tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya berpindah dimensi, menjadi hembusan angin yang menopang langkahku setiap kali aku merasa akan jatuh.
Dan di kejauhan, aku mendengar suara langkah kaki yang familiar—seolah Papa sedang berjalan di belakangku, memastikan aku tidak salah melangkah.
Pertanyaan untukmu: Jika kamu berada di posisi Lance, apakah kamu akan tetap menyimpan rahasia tersebut atau langsung mempublikasikannya sejak awal meski nyawamu terancam?
