Delapan hari setelah Alya menikah dengan Rehan, sebuah video berdurasi dua puluh tujuh detik menghancurkan kebohongan yang selama ini disusun Aris dan Sheila dengan sangat rapi.
Video itu dikirim ke ponsel Alya pukul 07.12 pagi.
Tanpa nama pengirim.
Tanpa pesan.
Hanya sebuah file video.
Saat itu Alya sedang duduk di meja makan apartemen Rehan di kawasan Kuningan. Di depannya ada secangkir kopi yang belum disentuh dan dua lembar dokumen yang sejak tadi sedang dia baca.
Selama delapan hari terakhir, hidup Alya berubah begitu cepat hingga terkadang terasa seperti mimpi.
Pernikahannya dengan Rehan memang sah secara hukum, tetapi mereka sepakat tidak langsung bertingkah seperti pasangan yang telah lama saling mencintai.
Rehan memberinya kamar sendiri.
Tidak pernah memaksa Alya menjelaskan masa lalunya.
Tidak pernah menanyakan Aris kecuali Alya yang lebih dulu membicarakannya.
Bahkan ketika berita pernikahan mereka mulai menyebar di kalangan teman-teman dekat, Rehan hanya berkata,
“Kita nggak perlu menjelaskan apa pun kepada orang yang sudah memutuskan penilaiannya sendiri.”
Alya awalnya mengira pernikahan mereka hanya akan menjadi keputusan nekat yang suatu hari dia sesali.
Namun justru dalam delapan hari itu, dia melihat sisi Rehan yang tidak pernah diperlihatkan pria itu di acara-acara bisnis.
Rehan ternyata bangun lebih pagi darinya.
Dia minum kopi tanpa gula.
Selalu menelepon ibunya setiap malam.
Dan yang paling membuat Alya tidak terbiasa, pria itu selalu menanyakan hal-hal sederhana.
“Kamu sudah makan?”
“Kamu mau saya jemput?”
“Kamu kelihatan capek. Meeting besok bisa saya minta dimundurkan kalau kamu perlu istirahat.”
Perhatian-perhatian kecil itu terasa aneh.
Bukan karena berlebihan.
Justru karena selama bertahun-tahun Alya terbiasa hidup tanpa mendapatkannya.
Ponselnya bergetar lagi.
Alya menekan video tersebut.
Detik pertama menampilkan Sheila.
Perempuan itu sedang keluar dari sebuah kafe di Senopati.
Tidak ada tongkat.
Tidak ada perban.
Tidak ada tanda-tanda cedera.
Dia berjalan normal.
Bahkan memakai sepatu hak tinggi.
Alya mengerutkan dahi.
Video kemudian bergeser.
Aris keluar beberapa detik setelah Sheila.
Mereka berjalan menuju sebuah mobil.
Di samping kendaraan itu, Aris menarik Sheila ke dalam pelukannya.
Lalu menciumnya.
Alya tidak bergerak.
Tangannya mendadak dingin.
Namun bukan ciuman itu yang membuat napasnya tertahan.
Melainkan tanggal yang tertera pada rekaman.
Enam hari sebelum hari ketika Aris meninggalkannya di Kantor Catatan Sipil.
Artinya, jauh sebelum Sheila berpura-pura terkilir, hubungan mereka sudah berlangsung.
Mungkin jauh lebih lama.
“Kenapa?”
Suara Rehan membuat Alya tersentak.
Pria itu baru keluar dari ruang kerjanya.
Alya menyerahkan ponselnya tanpa berkata apa-apa.
Rehan menonton sampai selesai.
Rahangnya mengeras.
“Siapa yang kirim?”
“Nggak tahu.”
Alya mengambil kembali ponselnya.
Dia merasa seharusnya menangis.
Aneh sekali, karena tidak ada air mata.
Yang muncul justru satu pertanyaan.
“Kalau mereka memang sudah bersama, kenapa Aris tetap mau menikah sama saya?”
Rehan tidak langsung menjawab.
Dia menarik kursi di depannya dan duduk.
“Mungkin masalahnya bukan cuma perselingkuhan.”
Alya menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Rehan membuka mulut, tetapi ponsel Alya kembali bergetar.
Kali ini sebuah pesan.
Saya punya bukti lebih lengkap. Kalau Anda ingin tahu kenapa Aris tetap mempertahankan pernikahan itu, datang ke kafe Hotel Mahakam pukul 10.00. Datang sendiri.
Rehan membaca pesan tersebut dari seberang meja.
“Nggak.”
Alya menatapnya.
“Saya harus pergi.”
“Kamu nggak tahu siapa orang itu.”
“Justru karena itu saya harus tahu.”
Rehan menggeleng.
“Saya nggak melarang. Tapi saya ikut.”
“Pesannya bilang datang sendiri.”
Rehan menatap Alya cukup lama.
Kemudian dia menghela napas.
“Baik. Saya nggak masuk ke kafenya.”
Alya hampir protes.
Namun Rehan sudah berdiri.
“Saya tunggu di lobby.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Alya tersenyum kecil.
“Katanya nggak ikut.”
“Saya pengusaha. Saya terbiasa mencari celah dalam kalimat.”
Pukul sepuluh tepat, Alya memasuki kafe hotel.
Di sudut ruangan, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun sudah menunggu.
Wajahnya membuat Alya terkejut.
Dia mengenalnya.
Namanya Mira.
Mantan sekretaris ayah Aris.
Perempuan itu pernah bekerja hampir dua puluh tahun di perusahaan keluarga Aris sebelum tiba-tiba mengundurkan diri tiga bulan sebelumnya.
“Alya.”
Mira berdiri.
“Maaf saya baru menghubungi kamu sekarang.”
Alya duduk.
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Mira tidak berputar-putar.
Dia mengeluarkan sebuah flashdisk dan meletakkannya di meja.
“Aris nggak pernah benar-benar berniat membatalkan pernikahan kalian.”
Alya menahan napas.
“Padahal dia sama Sheila?”
“Justru karena itu.”
Mira membuka laptop.
Satu per satu dokumen muncul.
Laporan keuangan.
Perjanjian bisnis.
Surat utang.
Dan sebuah kontrak investasi.
Mira menunjuk salah satu angka.
Alya merasa darah di wajahnya menghilang.
Perusahaan keluarga Aris ternyata mengalami masalah besar selama hampir satu tahun.
Mereka memiliki utang puluhan miliar rupiah kepada beberapa pihak.
Dua proyek mereka gagal.
Satu investor utama menarik dana.
Dan tiga bank menolak restrukturisasi pinjaman.
Namun ada satu jalan keluar.
Perusahaan tempat Alya bekerja selama tujuh tahun memiliki hubungan dengan sebuah firma investasi milik pamannya, Bastian Wijaya.
Nama Alya tercantum sebagai salah satu ahli waris saham yang baru akan dialihkan setelah dia menikah.
Alya tidak pernah benar-benar memperhatikan urusan tersebut karena selama ini pamannya yang mengelola aset keluarga peninggalan ayahnya.
Namun bagi keluarga Aris, saham itu sangat penting.
“Aris ingin menikah dengan saya karena saham?”
Mira menatapnya penuh rasa bersalah.

“Bukan cuma saham.”
Dia membuka rekaman suara.
Suara Aris terdengar jelas.
“Kita cuma perlu bertahan sampai transfer saham Alya selesai. Setelah itu kalau saya mau pisah pun tetap bisa. Yang penting akses ke Wijaya Capital sudah terbuka.”
Kemudian suara Sheila.
“Berarti aku harus nunggu kamu nikah sama dia?”
Aris tertawa kecil.
“Cuma beberapa bulan.”
Alya merasa seolah seseorang menampar wajahnya.
Mira mematikan rekaman.
“Tiga minggu sebelum hari pernikahan, Aris sudah menandatangani kesepakatan rahasia dengan ayahnya. Mereka berencana memakai koneksi keluarga kamu untuk menyelamatkan perusahaan.”
Alya tidak langsung menjawab.
Di kepalanya muncul begitu banyak kenangan.
Saat Aris tiba-tiba menjadi sangat perhatian kepada pamannya.
Saat dia bersikeras mengadakan pesta pernikahan besar meski Alya ingin acara sederhana.
Saat keluarga Aris berkali-kali menanyakan soal pengalihan saham.
Selama ini Alya mengira itu hanya urusan bisnis biasa.
Ternyata seluruh pernikahannya adalah transaksi.
“Tapi kenapa Sheila berpura-pura cedera hari itu?”
Mira menarik napas.
“Karena mereka berdua mulai bertengkar.”
Menurut Mira, Sheila mulai tidak percaya bahwa Aris benar-benar akan menceraikan Alya setelah mendapatkan akses bisnis keluarga Wijaya.
Sheila takut Aris akan berubah pikiran setelah menikah.
Karena itulah dia membuat sebuah tes kecil.
Dia meminta Aris membuktikan bahwa dirinya tetap menjadi prioritas.
Hari penandatanganan dokumen pernikahan dipilih dengan sengaja.
Sheila berpura-pura cedera.
Aris harus memilih.
Dan seperti biasa, Aris memilih Sheila.
Namun mereka tidak menyangka Alya benar-benar pergi.
“Aris pikir kamu akan marah beberapa jam lalu memaafkannya,” ujar Mira.
“Dia bahkan mengatakan kepada ayahnya bahwa kamu sudah terlalu lama bergantung pada hubungan itu dan nggak mungkin membatalkan pernikahan.”
Alya menunduk.
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada rekaman perselingkuhan.
Bukan karena salah.
Melainkan karena selama bertahun-tahun, Aris memang mengenalnya seperti itu.
Perempuan yang selalu bertahan.
Perempuan yang selalu mengerti.
Perempuan yang selalu kembali.
Mira melanjutkan,
“Setelah tahu kamu menikah dengan Rehan, keadaan keluarga mereka kacau.”
Alya mengangkat wajah.
“Kenapa?”
Mira menatapnya serius.
“Karena mereka baru tahu siapa Rehan sebenarnya.”
Alya mengerutkan dahi.
“Apa maksudnya?”
“Arriaga Group sedang membeli sebagian besar utang perusahaan keluarga Aris.”
Alya membeku.
Mira mengangguk pelan.
“Dan proses itu dimulai tiga bulan lalu.”
Setelah keluar dari kafe, Alya menemukan Rehan menunggunya di lobby.
Dia tidak bertanya.
Hanya berdiri.
Namun Alya langsung tahu.
“Kamu sudah tahu perusahaan Aris bermasalah?”
Rehan diam.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Kamu juga tahu soal rencana mereka menikahi saya demi saham?”
“Saya tahu sebagian.”
“Sejak kapan?”
“Sekitar empat bulan lalu.”
Alya menatapnya tidak percaya.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Rehan tidak menghindari tatapannya.
“Karena saat itu kamu masih mencintai dia.”
“Jadi kamu biarkan saya hampir menikah dengan orang yang cuma memanfaatkan saya?”
“Saya mengirimkan informasi itu lewat pengacara kamu.”
Alya terdiam.
Dia tiba-tiba teringat sebuah surat elektronik yang pernah dikirim firma hukum keluarganya tiga bulan sebelumnya.
Isinya meminta Alya menunda penandatanganan perjanjian pranikah karena mereka menemukan risiko konflik kepentingan.
Namun Alya bahkan tidak membacanya sampai selesai.
Aris mengatakan itu hanya formalitas.
Dan Alya percaya.
Rehan melanjutkan,
“Saya nggak punya hak memaksa kamu meninggalkan seseorang hanya karena saya tahu dia bukan orang yang tepat.”
“Lalu kenapa enam bulan lalu kamu bilang saya harus menghubungimu kalau capek menunggu dia?”
Rehan terdiam sesaat.
Kemudian menjawab,
“Karena saya berharap suatu hari kamu melihat sendiri bagaimana dia memperlakukanmu.”
Alya tertawa pendek tanpa humor.
“Dan kebetulan kamu sudah menyiapkan semua dokumen pernikahan?”
Untuk pertama kalinya ekspresi Rehan berubah.
Ada sesuatu seperti rasa bersalah.
“Itu memang terlihat buruk.”
“Terlihat?”
Rehan mengangguk.
“Ayah saya sakit.”
Alya terdiam.
“Beliau ingin saya menikah sebelum menjalani operasi jantung besar dua bulan lalu. Keluarga terus mendorong saya mencari pasangan.”
“Dan kamu memilih saya?”
“Saya menolak semuanya.”
Rehan berhenti sejenak.
“Lalu saya bertemu kamu.”
Tidak ada musik.
Tidak ada kalimat romantis berlebihan.
Rehan hanya berkata,
“Saya pikir kalau suatu hari saya menikah, saya ingin menikah dengan seseorang yang tetap bisa berdiri meski berkali-kali tidak dipilih.”
Alya tidak tahu harus menjawab apa.
Malam itu, Aris datang.
Dia berdiri di depan rumah Rehan hampir satu jam sampai akhirnya Alya setuju menemuinya di teras.
Wajah Aris terlihat kacau.
“Alya, kita harus bicara.”
“Nggak ada yang perlu dibicarakan.”
“Ada.”
Aris melihat ke arah cincin di jari Alya.
Wajahnya berubah.
“Pernikahan itu nggak masuk akal.”
“Kenapa?”
“Kamu baru kenal dia.”
“Saya kenal kamu sepuluh tahun.”
Kalimat itu membuat Aris diam.
Alya melanjutkan,
“Ternyata lamanya mengenal seseorang nggak selalu berarti kita benar-benar mengenalnya.”
Aris menunduk.
“Aku bisa jelaskan soal Sheila.”
“Saya sudah lihat videonya.”
Aris membeku.
Alya mengeluarkan ponselnya.
“Dan rekaman suara.”
Wajah Aris seketika pucat.
Alya tidak perlu mengatakan lebih banyak.
Dia tahu semuanya.
“Alya…”
“Berapa lama?”
Aris tidak menjawab.
“Berapa lama kamu sama Sheila?”
“Setahun.”
Alya mengangguk perlahan.
Anehnya, pengakuan itu tidak lagi terasa seperti pisau.
Mungkin luka terdalamnya sudah terjadi delapan hari sebelumnya.
“Dan kamu tetap mau menikah sama saya.”
“Aku tertekan.”
“Karena utang perusahaan?”
Aris langsung menatapnya.
“Alya, dengar. Aku memang salah. Tapi awalnya semua nggak seperti itu. Aku benar-benar sayang sama kamu.”
“Awalnya?”
“Aku cuma terjebak.”
Alya tersenyum pahit.
“Kamu tahu apa yang paling lucu?”
Aris diam.
“Selama bertahun-tahun saya selalu takut kehilangan kamu.”
Dia menarik napas.
“Sekarang saya baru sadar, orang yang saya takut kehilangan sebenarnya sudah lama nggak ada.”
Aris memejamkan mata.
“Kalau soal Rehan, kamu harus hati-hati. Dia bukan orang baik.”
Alya tertawa kecil.
“Karena dia membeli utang perusahaan kamu?”
Wajah Aris kembali berubah.
“Kamu tahu?”
“Saya tahu.”
“Dia sengaja melakukan itu untuk menghancurkan keluargaku.”
Dari belakang, suara Rehan terdengar.
“Saya rasa kamu terlalu percaya diri.”
Rehan berjalan keluar.
Aris langsung berdiri.
“Jangan ikut campur.”
Rehan berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Saya membeli utang perusahaan Anda karena perusahaan Anda gagal membayar kewajiban kepada tiga kreditur yang kebetulan ingin menjual portofolionya.”
Nada Rehan tenang.
“Bisnis.”
Aris mengepalkan tangan.
“Bohong.”
“Percaya atau tidak, itu bukan masalah saya.”
Rehan kemudian menatap Alya.
“Saya masuk lagi.”
Dia benar-benar pergi.
Tidak mencoba terlihat seperti pahlawan.
Tidak mengusir Aris.
Tidak mengambil alih pembicaraan.
Dan justru karena itulah Alya semakin yakin dengan pilihannya.
Aris masih berdiri di sana.
“Alya, kalau perusahaan keluargaku jatuh, ratusan karyawan bisa kehilangan pekerjaan.”
Alya menatapnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia melihat ketakutan nyata di wajah Aris.
Namun sekarang dia memahami sesuatu.
Aris selalu datang kepadanya ketika membutuhkan sesuatu.
Perhatian.
Pengertian.
Maaf.
Dan sekarang, uang.
“Kamu ingin saya bicara sama paman saya?”
Aris tidak menjawab.
Alya tersenyum tipis.
Ternyata dia masih sama.
“Aku cuma minta kamu jangan biarkan masalah pribadi menghancurkan perusahaan.”
“Masalah pribadi?”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia mengambil ponselnya.
“Aku akan bantu.”
Mata Aris langsung berubah.
Harapan muncul.
“Benarkah?”
Alya membuka sebuah dokumen digital.
“Saya sudah bicara dengan Paman Bastian sore tadi.”
Aris menelan ludah.
“Dan?”
“Wijaya Capital tidak akan memberikan dana penyelamatan.”
Wajah Aris jatuh.
“Tapi…”
“Sebaliknya, mereka akan membantu restrukturisasi perusahaan kalau ayah kamu bersedia melepaskan kendali dan menunjuk manajemen profesional.”
Aris terpaku.
Alya melanjutkan,
“Artinya perusahaan bisa selamat.”
Sedetik.
Dua detik.
“Keluargamu cuma nggak bisa lagi memperlakukannya seperti ATM pribadi.”
Aris tidak mampu menjawab.
Ternyata itulah kebohongan terakhir yang terbongkar malam itu.
Perusahaan keluarga Aris bukan hampir bangkrut hanya karena proyek gagal.
Selama bertahun-tahun ayah Aris dan dua pamannya menarik uang perusahaan untuk membeli properti pribadi, kendaraan, dan membiayai gaya hidup keluarga.
Mira menemukan semuanya.
Termasuk fakta bahwa Aris mengetahuinya.
Dan memilih diam.
Tiga minggu kemudian, perusahaan itu resmi masuk restrukturisasi.
Ayah Aris mundur.
Dua pamannya diperiksa karena dugaan penyalahgunaan dana.
Sheila meninggalkan Aris tak lama setelah mengetahui bahwa keluarga pria itu mungkin kehilangan sebagian besar kekayaan mereka.
Lucunya, perempuan yang selama ini selalu membutuhkan pertolongan Aris tiba-tiba tidak bisa dihubungi.
Enam bulan kemudian, Alya berdiri di balkon sebuah rumah di Jakarta Selatan.
Rehan datang membawa dua cangkir kopi.
Pernikahan mereka masih jauh dari sempurna.
Mereka pernah bertengkar.
Pernah berbeda pendapat.
Pernah tidur dalam keadaan kesal.
Namun tidak pernah sekali pun Rehan membuat Alya bertanya apakah dirinya cukup penting.
Rehan menyerahkan satu cangkir.
“Apa yang kamu pikirkan?”
Alya tersenyum.
“Hari di Catatan Sipil.”
“Menyesal?”
Alya menatap cincin sederhana di jarinya.
“Kadang.”
Rehan mengangkat alis.
Alya tertawa.
“Menyesal kenapa saya butuh waktu sepuluh tahun untuk berhenti menunggu orang yang salah.”
Rehan tersenyum.
Alya kemudian menatap langit Jakarta yang mulai gelap.
Dulu dia mengira cinta berarti bertahan selama mungkin.
Mengerti sebanyak mungkin.
Memaafkan sebanyak mungkin.
Ternyata dia salah.
Cinta tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus membuktikan bahwa dirinya layak dipilih.
Dan terkadang, kehilangan seseorang bukanlah akhir dari sebuah kisah.
Kadang itu hanyalah cara hidup membuka pintu yang terlalu lama tidak berani kita masuki.
Delapan hari setelah Alya ditinggalkan di Kantor Catatan Sipil, dia memang mengetahui bahwa tunangannya berselingkuh dan berniat memanfaatkan pernikahan mereka demi menyelamatkan perusahaan keluarganya.
Namun kebohongan terbesar yang akhirnya terbongkar bukanlah kebohongan Aris.
Melainkan kebohongan yang selama bertahun-tahun Alya katakan kepada dirinya sendiri.
Bahwa bertahan selalu lebih baik daripada pergi.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Alya mengerti satu hal.
Ada saatnya memilih diri sendiri bukanlah tindakan egois.
Itulah bentuk keberanian paling jujur yang bisa dilakukan seseorang.
