SETIAP KALI AKU HAMIL, IBU MERTUAKU, VERONICA, SELALU MEMBERIKAN PERINTAH YANG SAMA.

Tanganku terasa dingin.

Aku memutar rekaman itu sekali lagi, berharap telingaku salah.

Namun suara Lucas terdengar jelas.

“Sampai kapan kita harus terus melakukan ini?”

Dan Veronica menjawab dengan tenang.

“Sampai dia menyerah.”

Aku menutup mulut agar tangisku tidak terdengar dari kamar.

Lucas tahu.

Bukan hanya tahu.

Ia terlibat.

Selama dua kali aku terbaring di rumah sakit, menangis sambil memegangi tangannya, lelaki itu duduk di sampingku seolah ikut kehilangan.

Ia mencium dahiku.

Ia berkata kami masih bisa mencoba lagi.

Ia bahkan pernah menangis.

Sekarang aku tidak tahu apakah air mata itu nyata atau hanya bagian dari sandiwara.

Dari ruang dapur, percakapan mereka berlanjut.

Lucas terdengar lebih pelan.

“Dokter mulai curiga.”

“Dokter yang mana?”

“Dokter kandungan Reyes.”

Veronica mendecakkan lidah.

“Kalau begitu pindahkan dia ke rumah sakit lain.”

“Aku tidak bisa terus mengatur semuanya.”

“Kamu harus.”

“Aku capek, Ma.”

Untuk pertama kalinya, nada Lucas terdengar retak.

Veronica justru semakin dingin.

“Kamu lupa apa yang akan terjadi kalau dia melahirkan?”

Aku membeku.

Lucas tidak menjawab.

Veronica melanjutkan.

“Kalau anak itu lahir, semuanya selesai.”

Jantungku berdegup semakin keras.

Semuanya?

Apa yang sebenarnya mereka takutkan?

Beberapa detik kemudian terdengar kursi bergeser.

Aku buru-buru mematikan layar ponsel.

Pintu kamarku terbuka.

Lucas masuk.

Aku berbaring memunggunginya, pura-pura tidur.

Ia berdiri cukup lama di belakangku.

Aku bisa merasakan tatapannya.

Lalu tangannya menyentuh bahuku.

“Sayang?”

Aku tidak bergerak.

Lucas menghela napas.

Ia keluar lagi.

Baru setelah pintu tertutup, aku berani bernapas.

Malam itu aku tidak tidur sama sekali.

Pagi harinya, polisi benar-benar datang.

Namun sebelum mereka masuk ke rumah, aku meminta berbicara di luar.

Aku menyerahkan hasil laboratorium, beberapa tablet yang belum kusentuh, dan rekaman percakapan semalam.

Salah satu penyidik bernama Pak Arif mendengarkan dengan wajah serius.

“Untuk sementara, jangan beri tahu siapa pun bahwa kami sudah tahu.”

Aku menatapnya.

“Termasuk suami saya?”

“Terutama suami Anda.”

Aku mengangguk.

Pak Arif bertanya, “Apakah Anda punya tempat aman untuk tinggal?”

Aku berpikir sejenak.

Rumah orang tuaku jauh di Surabaya.

Teman-temanku hampir semuanya mengenal Lucas.

Akhirnya aku menggeleng.

“Belum.”

“Kami akan bantu atur. Yang paling penting, jangan konsumsi apa pun yang diberikan mereka.”

Aku memegang perutku.

Kehamilanku baru sembilan minggu.

Untuk pertama kalinya, rasa takut kehilangan terasa bercampur dengan kemarahan yang begitu besar.

Aku tidak mau menyerah.

Bukan kali ini.

Siang itu, aku pulang ke rumah seperti biasa.

Veronica datang membawa kotak kecil berisi tablet.

Ia meletakkannya di meja makan.

“Jangan lupa diminum.”

Aku tersenyum tipis.

“Iya, Ma.”

Ia menatapku lama.

“Minum sekarang.”

Aku menahan napas.

Lucas yang duduk di sofa ikut menoleh.

Aku mengambil segelas air.

Tanganku nyaris gemetar.

“Kenapa harus sekarang?”

Veronica tersenyum.

“Karena kamu sering lupa.”

Aku memasukkan tablet ke mulut, lalu pura-pura menelannya bersama air.

Sebenarnya tablet itu tetap kusimpan di sisi pipi.

Setelah mereka tidak melihat, aku membuangnya diam-diam.

Namun malam itu aku sadar sesuatu.

Veronica tidak percaya padaku lagi.

Tatapannya berubah.

Ia mulai mengawasi.

Dua hari berikutnya, aku hidup seperti sedang memainkan peran dalam rumahku sendiri.

Aku tertawa ketika Lucas membuat lelucon.

Aku makan malam bersama Veronica.

Aku mengangguk setiap kali mereka membicarakan rencana kamar bayi yang bahkan tidak ingin mereka lihat menjadi nyata.

Sementara itu, polisi mulai menyelidiki.

Dari Pak Arif aku mengetahui bahwa resep tablet itu tidak pernah dikeluarkan oleh dokter resmi yang merawatku.

Nama klinik pada kemasannya juga palsu.

Pembayarannya ditelusuri ke sebuah rekening yang terhubung dengan perusahaan keluarga Lucas.

Namun ada satu hal yang membuat penyidik bingung.

Motifnya.

Kenapa keluarga suamiku begitu takut pada anakku?

Aku sendiri belum menemukan jawabannya.

Sampai suatu malam aku teringat sesuatu yang pernah dikatakan ayah Lucas ketika masih hidup.

Namanya Roberto Reyes.

Pendiri Reyes Property Group.

Dua tahun sebelum meninggal, ia pernah berkata saat makan malam keluarga, “Cucu pertama dari Lucas akan menerima saham warisan langsung dari saya.”

Saat itu semua orang tertawa.

Aku juga.

Kupikir itu hanya ucapan seorang calon kakek yang terlalu bersemangat.

Sekarang kalimat itu terdengar berbeda.

Aku membuka lemari dokumen Lucas ketika ia sedang mandi.

Di bagian paling belakang ada map biru dengan tulisan Warisan Keluarga.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Ada salinan surat wasiat Roberto.

Aku membaca halaman demi halaman.

Lalu menemukan klausul itu.

Jika Lucas Reyes memiliki keturunan sah, sebagian saham yang saat ini dikelola Veronica akan secara otomatis dialihkan ke sebuah trust atas nama cucu tersebut.

Aku membaca ulang.

Dua puluh tujuh persen saham.

Jumlah yang sangat besar.

Lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.

Kalau aku melahirkan seorang anak…

Veronica kehilangan kendali atas hampir sepertiga perusahaan.

Aku mulai mengerti.

Tetapi belum sepenuhnya.

Karena Lucas juga akan menjadi ayah dari anak itu.

Kenapa ia ikut menghancurkan masa depannya sendiri?

Jawabannya datang tiga hari kemudian.

Aku menerima telepon dari nomor tak dikenal.

Seorang perempuan berkata, “Bu Reyes, kita harus bertemu. Ini soal suami Anda.”

Aku langsung curiga.

“Siapa Anda?”

“Nama saya Elena.”

Aku diam.

Nama itu terasa familiar.

“Saya mantan sekretaris pribadi Pak Roberto.”

Kami bertemu di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.

Elena datang membawa sebuah amplop cokelat tebal.

Ia menatapku dengan wajah tegang.

“Saya sebenarnya ingin menghubungi Anda sejak keguguran kedua.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena saya takut.”

Ia mendorong amplop itu ke arahku.

Di dalamnya ada beberapa dokumen lama.

Satu di antaranya adalah hasil tes DNA.

Aku tidak langsung mengerti.

Kemudian mataku melihat nama Lucas.

Hasilnya menunjukkan sesuatu yang membuat kepalaku berdengung.

Lucas bukan anak biologis Roberto Reyes.

Aku menatap Elena.

“Apa ini?”

“Pak Roberto mengetahuinya tiga tahun sebelum meninggal.”

“Tapi Lucas…”

“Lucas tidak tahu sampai beberapa bulan sebelum pernikahan kalian.”

Aku menelan ludah.

“Dan Veronica?”

“Dia tahu sejak awal.”

Elena melanjutkan.

“Pak Roberto tetap menganggap Lucas sebagai anaknya. Ia tidak pernah berniat mencabut nama keluarga atau hak hidupnya. Tapi ia mengubah struktur warisan.”

Aku langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Kalau Lucas punya anak…”

Elena mengangguk.

“Trust itu aktif.”

“Jadi?”

“Dan dalam proses hukum trust tersebut, asal-usul biologis keluarga akan diperiksa.”

Aku mematung.

Kalau anakku lahir, rahasia bahwa Lucas bukan anak biologis Roberto kemungkinan terbongkar.

Veronica bisa kehilangan bukan hanya saham, tetapi juga kendali atas cerita keluarga yang selama puluhan tahun ia tutupi.

“Tapi kenapa Lucas ikut melakukannya?”

Elena menatapku lama.

“Karena ibunya membuat dia percaya kalau rahasia itu terbongkar, ia akan kehilangan semuanya.”

Aku tertawa getir.

“Jadi untuk menyelamatkan nama dan hartanya, dia rela kehilangan anaknya?”

Elena tidak menjawab.

Tidak perlu.

Malam itu aku kembali ke rumah dengan perasaan yang aneh.

Aku tidak lagi takut pada Lucas.

Aku justru ingin mendengar langsung seberapa jauh ia bersedia berbohong.

Saat makan malam, aku berkata pelan, “Aku sudah periksa ke dokter lagi.”

Lucas berhenti mengunyah.

Veronica langsung menatapku.

“Dokter bilang bayinya sehat.”

Aku tersenyum.

“Detak jantungnya bagus.”

Wajah Lucas berubah sepersekian detik.

Namun cukup bagiku untuk melihatnya.

Veronica bertanya, “Dokter yang mana?”

“Dokter baru.”

Lucas langsung menyela.

“Kenapa ganti dokter tanpa bilang aku?”

Aku menatapnya.

“Kenapa memangnya?”

Sunyi.

Aku melanjutkan, “Bukannya yang penting bayi kita sehat?”

Lucas tersenyum kaku.

“Tentu.”

Malam itu, sekitar pukul dua, aku mendengar mereka bertengkar di ruang kerja.

Aku menyalakan perekam.

Lucas berkata, “Dia mulai curiga.”

Veronica menjawab, “Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu.”

“Apa yang mau Mama lakukan?”

“Aku akan bereskan.”

“Aku tidak mau ada yang lebih parah.”

Aku menahan napas.

Veronica mendesis.

“Kamu sudah terlalu jauh untuk pura-pura punya hati sekarang.”

Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.

Aku buru-buru mundur.

Lucas berdiri di depan pintu.

Tatapan kami bertemu.

Ia melihat ponsel di tanganku.

Wajahnya langsung pucat.

“Sejak kapan kamu berdiri di situ?”

Aku tidak menjawab.

Veronica muncul di belakangnya.

Tatapannya jatuh pada ponselku.

“Lihat?” katanya kepada Lucas. “Aku sudah bilang.”

Aku mundur.

Lucas maju.

“Sayang, kasih ponselnya.”

“Jangan dekat-dekat.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Dua kali aku kehilangan anak.”

Suaraku pecah.

“Kamu duduk di samping tempat tidurku dua kali, Lucas.”

Ia menunduk.

“Maaf.”

Aku tertawa tanpa suara.

“Maaf?”

Veronica justru menyela.

“Jangan dramatis.”

Aku menatapnya.

“Dramatis?”

Ia maju satu langkah.

“Kalau anak itu lahir, keluarga ini hancur.”

“Yang menghancurkan keluarga ini bukan anak saya.”

Aku menatap keduanya.

“Kalian.”

Veronica ingin meraih ponselku.

Tepat saat itu terdengar ketukan keras dari pintu depan.

Lucas membeku.

Polisi masuk beberapa detik kemudian.

Pak Arif bersama tiga petugas lain menunjukkan surat resmi.

Veronica langsung berteriak.

“Ini rumah saya! Kalian tidak bisa masuk seenaknya!”

Pak Arif menatapnya tenang.

“Bu Veronica, kami punya bukti yang cukup.”

Lucas duduk perlahan di sofa.

Seolah seluruh tenaga meninggalkan tubuhnya.

Aku berdiri beberapa meter darinya.

Ia menatapku.

“Aku tidak pernah ingin semua ini terjadi.”

Aku menjawab, “Tapi kamu tetap membiarkannya terjadi.”

Polisi menemukan lebih banyak bukti dari ponsel Veronica.

Pesan.

Transfer.

Instruksi kepada orang yang menyediakan tablet.

Riwayat pembelian.

Ada juga percakapan dengan Lucas setelah keguguranku yang pertama.

Aku membaca satu kalimat yang kemudian tidak pernah bisa kulupakan.

Lucas menulis, Dia menangis terus. Aku tidak kuat melihatnya.

Veronica menjawab, Lebih baik dia menangis sekarang daripada kita kehilangan semuanya nanti.

Namun twist terbesar justru muncul dari penyelidikan berikutnya.

Lucas akhirnya mengaku.

Ia memang tahu ibunya memberikan tablet itu.

Tetapi pada kehamilan pertamaku, ia tidak tahu efeknya.

Ia mengira ibunya hanya berlebihan dengan suplemen keluarga.

Baru setelah keguguran pertama, Lucas menemukan kebenarannya.

Ia marah.

Ia bahkan sempat ingin melapor.

Lalu Veronica menunjukkan dokumen DNA dan surat warisan.

Ia mengancam akan membongkar identitas Lucas kepada publik, dewan direksi, dan media.

Selain itu, ia mengancam akan membuatku ikut kehilangan semua perlindungan finansial keluarga.

Lucas ketakutan.

Lalu ia memilih diam.

Pada kehamilan kedua, ia sudah tahu.

Dan itu adalah titik ketika rasa takutnya berubah menjadi pengkhianatan.

Aku tidak memaafkannya.

Setidaknya tidak saat itu.

Pengadilan berjalan berbulan-bulan.

Veronica dijatuhi hukuman atas keterlibatannya dalam tindakan yang membahayakan kehamilanku, pemalsuan produk medis, serta sejumlah pelanggaran lain yang ditemukan selama penyidikan.

Lucas bekerja sama dengan penyidik dan menyerahkan seluruh bukti.

Itu meringankan hukumannya.

Tapi tidak menghapus apa yang sudah ia lakukan.

Kami bercerai.

Banyak orang mengira keputusan itu mudah.

Tidak.

Aku pernah mencintainya.

Sebagian dari diriku bahkan masih mengingat Lucas yang dulu.

Lelaki yang menunggu di luar kantor saat hujan hanya untuk menjemputku.

Lelaki yang hafal pesananku.

Lelaki yang pernah berjanji akan membangun keluarga bersamaku.

Namun seseorang tidak dinilai hanya dari saat ia baik.

Kadang ia dinilai dari apa yang dipilihnya ketika kebenaran menuntut keberanian.

Dan Lucas memilih dirinya sendiri.

Tujuh bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Sehat.

Tangisannya memenuhi ruang bersalin.

Saat perawat meletakkannya di dadaku, aku tidak bisa berhenti menangis.

Bukan karena sedih.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menangis tanpa merasa bersalah.

Aku memberinya nama Alma.

Artinya jiwa.

Aku tidak memberinya nama Reyes.

Aku menggunakan nama keluargaku sendiri.

Beberapa minggu kemudian, pengacara keluarga datang membawa dokumen trust dari mendiang Roberto.

Sesuai wasiatnya, Alma berhak atas bagian saham yang pernah membuat Veronica begitu takut.

Namun aku membuat keputusan lain.

Sebagian hasil trust itu kutempatkan untuk masa depan Alma.

Sebagian lainnya kubentuk menjadi sebuah yayasan kecil untuk membantu perempuan mendapatkan pemeriksaan kehamilan yang aman dan pendampingan hukum ketika mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Pada ulang tahun pertama Alma, aku menerima sebuah surat dari Lucas.

Aku hampir tidak membukanya.

Isinya hanya beberapa halaman.

Tidak ada permintaan agar kami kembali.

Tidak ada pembelaan.

Hanya satu kalimat di bagian akhir.

Aku kehilangan anakku bukan ketika kita bercerai, tetapi ketika aku memilih diam saat seharusnya melindunginya.

Aku melipat surat itu.

Lalu memasukkannya ke dalam laci.

Alma sedang belajar berjalan saat itu.

Ia jatuh.

Bangun lagi.

Lalu tertawa.

Aku menggendongnya.

Dulu aku mengira menjadi ibu berarti mampu mempertahankan kehamilan.

Aku salah.

Menjadi ibu juga berarti berani mempertanyakan sesuatu ketika semua orang menyuruhmu patuh.

Berani mencari jawaban ketika mereka membuatmu merasa bersalah.

Dan berani meninggalkan orang yang kamu cintai ketika cinta itu berubah menjadi tempat yang tidak aman.

Aku mencium kening Alma.

Selama bertahun-tahun, Veronica membuatku percaya tubuhku gagal.

Lucas membuatku percaya nasiblah yang kejam.

Namun akhirnya aku tahu satu hal.

Tubuhku tidak mengkhianatiku.

Nalurikulah yang menyelamatkanku.

Dan anak ketigaku tidak lahir untuk menyelamatkan warisan keluarga Reyes.

Ia lahir untuk mengakhiri ketakutan yang selama bertahun-tahun diwariskan di dalam keluarga itu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang