Aku mengira suamiku berubah karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya—sampai suatu malam, tanpa sengaja aku membaca pesan-pesan yang dikirim oleh ibuku sendiri kepadanya. Dan sejak saat itulah, mimpi buruk yang hampir menghancurkan keluarga kami dimulai.

Pesan dari Mama

Aku menatap layar ponsel Daniel tanpa berkedip.

Nama pengirim itu terasa seperti kesalahan.

Mama.

Ibuku sendiri.

Untuk beberapa detik, aku bahkan mencoba meyakinkan diri bahwa Daniel mungkin menyimpan nomor orang lain dengan nama yang sama.

Namun foto profil yang muncul di samping notifikasi menghancurkan semua alasan yang coba kubangun.

Itu benar-benar Mama.

Foto yang sama yang digunakannya selama hampir setahun.

Tanganku mulai dingin.

Pesan terakhir yang muncul di layar berbunyi singkat.

Jangan sampai Lia tahu dulu. Kalau dia tahu sekarang, semuanya akan berantakan.

Lia adalah namaku.

Jantungku seakan berhenti.

Aku menoleh ke arah Daniel.

Dia masih tertidur.

Wajahnya terlihat lelah, tetapi tenang.

Pria yang selama berbulan-bulan membuatku bertanya-tanya apakah dia berselingkuh ternyata sedang menyembunyikan sesuatu bersama ibuku sendiri.

Aku membuka percakapan mereka.

Aku tahu itu salah.

Namun setelah membaca satu kalimat tadi, rasanya mustahil berhenti.

Percakapan mereka jauh lebih panjang daripada yang kubayangkan.

Mama mengirim pesan hampir setiap hari.

Sudah lebih dari tiga bulan.

Sebagian besar terdengar seperti pembicaraan yang sengaja dibuat samar.

Kapan hasil berikutnya keluar?

Belum ada perubahan.

Jangan biarkan Lia sendirian terlalu lama.

Kalau dia bertanya, bilang saja pekerjaan sedang kacau.

Daniel, kamu harus kuat.

Aku semakin bingung.

Lalu mataku berhenti pada sebuah pesan dari dua minggu sebelumnya.

Mama menulis.

Dokter bilang kemungkinan besar kita tidak punya banyak waktu lagi untuk menunda.

Daniel menjawab.

Aku belum sanggup memberitahunya.

Air mata langsung memenuhi mataku.

Memberitahuku apa?

Aku menggulir lebih jauh.

Kemudian menemukan sebuah foto.

Foto dokumen medis.

Aku memperbesarnya.

Nama pasien yang tercetak di bagian atas bukan Daniel.

Bukan pula Mama.

Namaku sendiri.

Lia Prameswari.

Aku membeku.

Aku membaca beberapa istilah medis yang tidak sepenuhnya kupahami.

Namun satu kalimat terasa seperti palu menghantam kepalaku.

Ditemukan kelainan pada jaringan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Aku langsung menutup mulut agar tidak berteriak.

Tanganku gemetar begitu hebat hingga ponsel hampir jatuh.

Aku tidak pernah menjalani pemeriksaan seperti itu.

Atau setidaknya, aku tidak merasa pernah.

Aku kembali membuka pesan.

Daniel pernah menulis.

Apa kita yakin hasilnya memang Lia?

Mama menjawab.

Aku sudah cek tiga kali. Data dari pemeriksaan tahun lalu cocok.

Tahun lalu?

Aku mencoba mengingat.

Lalu satu kejadian muncul di kepalaku.

Sekitar sebelas bulan lalu, Mama pernah memaksaku melakukan medical check-up lengkap karena aku sering pusing dan gampang lelah.

Aku menganggapnya pemeriksaan biasa.

Setelah itu Mama berkata semua hasilku normal.

Ternyata tidak.

Aku langsung membangunkan Daniel.

“Bangun.”

Daniel membuka mata perlahan.

“Lia?”

Aku melempar ponselnya ke atas kasur.

“Jelaskan.”

Wajahnya berubah ketika melihat layar.

Ia langsung duduk.

“Kamu baca?”

“Semua.”

Daniel diam.

Aku merasa marah, takut, sekaligus dikhianati.

“Sudah berapa lama kamu tahu?”

“Lia…”

“Jawab!”

“Tiga bulan.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Tiga bulan?”

Daniel bangkit dan mendekat.

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Wajahnya langsung terluka.

Namun saat itu aku tidak peduli.

“Kalian tahu ada sesuatu di tubuhku dan kalian diam?”

“Bukan begitu.”

“Lalu apa?”

Daniel mengusap wajahnya.

“Dokter belum yakin.”

“Kalian tetap punya hak untuk membicarakan tubuhku tanpa aku?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

Daniel menatapku.

Karena pertama kalinya malam itu, aku melihat sesuatu yang selama berbulan-bulan kusalahartikan.

Bukan rasa bersalah karena selingkuh.

Bukan bosan.

Bukan kehilangan cinta.

Ketakutan.

“Aku takut kamu hancur,” katanya.

Aku tertawa getir.

“Jadi solusi kalian membuatku berpikir suamiku tidak mencintaiku lagi?”

Daniel memejamkan mata.

“Aku salah.”

“Kenapa Mama ikut campur?”

“Karena dia yang pertama tahu.”

Aku langsung menelepon Mama.

Pukul dua lewat tiga puluh dini hari.

Mama menjawab pada dering kedua.

“Lia?”

“Datang ke rumah.”

Hening.

“Malam-malam begini?”

“Aku sudah baca pesan kalian.”

Tidak ada jawaban.

“Datang sekarang.”

Empat puluh menit kemudian, Mama tiba.

Ia bahkan masih mengenakan cardigan di atas baju tidurnya.

Begitu melihat wajahku, ia tahu tidak ada gunanya berbohong.

Kami bertiga duduk di ruang makan.

Aku meletakkan dokumen medis di atas meja.

“Aku mau semuanya.”

Mama memegang kedua tangannya sendiri.

“Lia, sebenarnya Mama ingin bilang.”

“Kapan?”

Ia diam.

“Setelah aku sakit parah?”

Daniel berkata, “Belum tentu separah yang kamu pikir.”

Aku menoleh tajam.

“Jangan lindungi aku dengan kebohongan lagi.”

Mama akhirnya mulai bercerita.

Hasil medical check-up tahun lalu memang menunjukkan sesuatu yang tidak normal.

Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan.

Namun pada saat itu Mama panik.

Ia meminta dokter mengulang beberapa tes.

Hasilnya tidak konklusif.

Kemudian Mama memilih diam.

“Aku takut,” katanya sambil menangis.

“Takut apa?”

“Karena kakak Mama meninggal karena penyakit serupa.”

Aku berhenti.

Aku tidak pernah tahu.

Mama melanjutkan.

Beberapa bulan kemudian, ia diam-diam meminta seorang dokter kenalannya meninjau ulang hasil tersebut.

Dokter itu meminta pemeriksaan terbaru.

Masalahnya, Mama tidak tahu bagaimana menyuruhku melakukan tes lagi tanpa membuatku curiga.

Akhirnya ia menemui Daniel.

“Aku tahu keputusan kami salah,” katanya.

Aku menatap keduanya.

“Jadi selama tiga bulan Daniel pura-pura sibuk?”

Daniel menggeleng.

“Pekerjaanku memang sedang berat. Tapi…”

“Tapi?”

“Aku juga memakai itu sebagai alasan untuk sering keluar.”

“Ke mana?”

“Ke rumah sakit. Ketemu dokter. Cari pendapat kedua.”

Aku menatapnya.

“Tanpa aku.”

“Iya.”

“Semua orang tahu kondisi tubuhku kecuali aku.”

Kalimat itu membuat Mama menangis lebih keras.

Aku berdiri.

“Pulang.”

“Lia.”

“Mama pulang.”

Daniel mencoba bicara.

“Aku juga?”

Aku menatapnya.

“Kamu tidur di ruang tamu.”

Malam itu aku mengunci diri di kamar.

Aku tidak tidur.

Aku hanya berbaring sambil menatap langit-langit.

Selama berbulan-bulan aku takut kehilangan pernikahanku.

Sekarang aku tidak tahu apakah aku sedang kehilangan hidupku.

Pagi berikutnya, aku pergi ke rumah sakit sendirian.

Aku meminta semua hasil pemeriksaan.

Aku ingin mendengar semuanya langsung dari dokter.

Dokter bernama dr. Andini menerima aku siang itu.

Ia tidak menakut-nakuti.

Tidak pula menyembunyikan sesuatu.

Ia menjelaskan bahwa hasil lama memang mencurigakan, tetapi belum cukup untuk diagnosis.

“Apa kemungkinan terburuknya?” tanyaku.

Dr. Andini menjawab dengan hati-hati.

“Ada kemungkinan kelainan serius, tapi kita tidak boleh menyimpulkan sebelum pemeriksaan lengkap.”

“Dan kemungkinan terbaik?”

“Hasil lama bisa berkaitan dengan perubahan jaringan yang jinak.”

Aku mengangguk.

“Lakukan semua pemeriksaan yang diperlukan.”

Hari-hari berikutnya terasa sangat panjang.

Daniel mencoba menemaniku.

Aku menolak pada hari pertama.

Hari kedua ia tetap datang dan duduk jauh dariku di ruang tunggu.

Aku berkata, “Aku belum memaafkanmu.”

“Aku tahu.”

“Kamu enggak perlu datang.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa masih di sini?”

Ia menatapku.

“Karena kali ini aku enggak mau membuat keputusan tentang hidupmu tanpa kamu.”

Aku tidak menjawab.

Namun aku membiarkannya tinggal.

Mama juga terus mengirim pesan.

Aku tidak membalas.

Sampai suatu sore ia datang membawa sebuah kotak tua.

Di dalamnya ada foto-foto keluarga.

Salah satunya memperlihatkan Mama bersama seorang perempuan muda yang sangat mirip dengannya.

“Itu Tante Rina,” katanya.

Aku pernah mendengar nama itu, tetapi tidak banyak.

Mama memberitahuku bahwa Tante Rina meninggal ketika berusia empat puluh satu tahun setelah terlambat mengetahui penyakitnya.

“Mama melihat kamu dan selalu ingat dia,” katanya.

“Jadi Mama memilih membohongiku?”

Mama menunduk.

“Mama pikir kalau Mama bisa memastikan dulu, kamu enggak perlu ketakutan.”

“Aku justru ketakutan lebih parah.”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya Mama tidak mencari alasan.

Ia hanya berkata, “Mama salah.”

Aku menatap wajahnya.

Ada rasa marah.

Tapi juga rasa kasihan.

Mama tidak melakukan semua itu karena ingin mengendalikan hidupku.

Ia melakukannya karena trauma.

Namun ketakutan tetap tidak memberi seseorang hak untuk mengambil keputusan orang lain.

Seminggu kemudian, hasil pemeriksaanku keluar.

Daniel duduk di sebelahku.

Mama menunggu di luar karena aku meminta begitu.

Dr. Andini membuka berkas.

Aku menggenggam kedua tangan di pangkuan.

“Hasil biopsinya menunjukkan tidak ada keganasan.”

Aku tidak langsung mengerti.

“Apa?”

“Kelainannya jinak.”

Daniel menghembuskan napas keras.

Aku menutup wajah.

Air mataku langsung jatuh.

Selama berminggu-minggu aku sudah membayangkan semua hal buruk.

Apakah aku akan sempat memiliki anak?

Apakah Daniel akan sendirian?

Apakah Mama akan menyalahkan dirinya?

Semua ketakutan itu runtuh dalam satu kalimat.

Namun dokter melanjutkan.

“Kondisinya tetap perlu dipantau dan mungkin membutuhkan tindakan kecil, tetapi saat ini tidak menunjukkan kanker.”

Daniel menangis.

Aku belum pernah melihatnya menangis seperti itu.

Ia memegang tanganku.

Kali ini aku tidak menariknya.

Saat kami keluar, Mama berdiri.

Ia langsung membaca jawaban dari wajah kami.

“Bagaimana?”

Aku memeluknya.

Tubuh Mama langsung lemas.

Ia menangis di bahuku.

Namun kisah kami ternyata belum selesai.

Beberapa hari kemudian, aku kembali membuka pesan antara Mama dan Daniel.

Bukan untuk mencari kesalahan.

Aku hanya ingin memahami semuanya.

Saat itulah aku menemukan satu percakapan yang sebelumnya terlewat.

Daniel menulis.

Kalau hasilnya buruk, aku akan ambil cuti panjang. Aku enggak peduli kalau harus kehilangan posisi di kantor.

Mama menjawab.

Lia akan marah kalau tahu kamu mengorbankan karier.

Daniel membalas.

Aku lebih takut kehilangan Lia.

Aku berhenti membaca.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari kesalahan lain.

Aku begitu fokus pada rahasia mereka sampai tidak pernah menanyakan apa yang terjadi pada Daniel sendiri.

Malam itu aku menunggunya pulang.

Ia datang sekitar pukul sembilan.

“Ada apa?” tanyanya.

“Duduk.”

Wajahnya langsung tegang.

Aku hampir tertawa.

“Jangan takut.”

Ia duduk.

“Aku baca pesanmu sama Mama lagi.”

Daniel menunduk.

“Aku tahu aku salah.”

“Aku juga salah.”

Ia menatapku.

“Apa?”

“Aku pikir perubahanmu berarti kamu sudah enggak cinta.”

Daniel terlihat sedih.

“Aku enggak tahu bagaimana bersikap normal setelah tahu kemungkinan kamu sakit.”

“Aku bukan minta kamu normal.”

Aku menggenggam tangannya.

“Aku cuma minta kamu jujur.”

Ia mengangguk.

“Aku janji.”

“Jangan janji kalau enggak bisa.”

“Aku akan belajar.”

Aku tersenyum kecil.

“Itu lebih masuk akal.”

Hubungan kami tidak langsung kembali seperti dulu.

Kepercayaan yang retak tidak sembuh hanya karena hasil pemeriksaan baik.

Aku dan Daniel menjalani konseling pasangan.

Aku juga meminta Mama berhenti menghubungi dokter mengenai kesehatanku tanpa izin.

Awalnya Mama tersinggung.

Namun akhirnya ia memahami.

“Aku ibumu.”

“Iya.”

“Aku cuma ingin melindungi.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa rasanya seperti kamu menjauh?”

Aku memegang tangannya.

“Karena melindungi bukan berarti mengambil kendali.”

Mama menangis.

Namun kali ini ia mengangguk.

Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Aku menemukan sebuah amplop di laci Daniel.

Untuk sesaat trauma lamaku muncul.

Rahasia lagi?

Aku membukanya setelah meminta izin.

Isinya surat pengunduran diri.

Tanggalnya dibuat empat bulan sebelumnya.

Aku menatap Daniel.

“Kamu mau resign?”

Ia tersenyum canggung.

“Dulu.”

“Kenapa enggak jadi?”

“Karena hasilmu baik.”

Aku membaca surat itu.

Ia benar-benar bersiap meninggalkan jabatan yang sudah dikejarnya bertahun-tahun.

Aku berkata, “Kamu bodoh.”

Daniel tertawa.

“Sedikit.”

“Kalau hasilku buruk, aku justru bakal marah kalau kamu membuang hidupmu.”

“Aku tahu sekarang.”

Aku melipat surat tersebut.

“Buang.”

Daniel mengambilnya.

“Boleh dibakar?”

“Dramatis banget.”

“Kita sudah cukup dramatis tiga bulan.”

Aku akhirnya tertawa.

Tawa yang rasanya sudah lama hilang dari rumah kami.

Setahun setelah malam ketika aku menemukan pesan itu, aku kembali menjalani pemeriksaan rutin.

Hasilnya baik.

Mama datang menungguku di lobi.

Daniel juga.

Namun sekarang mereka tidak berbicara diam-diam.

Semua hasil pemeriksaan dikirim kepadaku terlebih dahulu.

Semua keputusan dibicarakan bersamaku.

Tidak ada lagi alasan demi melindungi Lia.

Ketika kami keluar dari rumah sakit, Mama menggandeng lenganku.

Daniel berjalan di sisi lain.

Aku memandang keduanya.

Dua orang yang hampir membuatku merasa dikhianati ternyata adalah dua orang yang paling takut kehilanganku.

Namun aku juga belajar bahwa cinta yang besar tetap bisa melakukan kesalahan besar.

Niat baik tidak selalu menghasilkan cara yang benar.

Kadang kita begitu takut kehilangan seseorang sampai tanpa sadar kita mulai mengendalikan hidupnya.

Dan terkadang, orang yang kita cintai tidak membutuhkan kita untuk menghilangkan semua ketakutan dari hidup mereka.

Mereka hanya membutuhkan satu hal yang jauh lebih sederhana.

Kejujuran.

Karena pada akhirnya, kebenaran mungkin menakutkan.

Namun rahasia yang dibuat atas nama cinta bisa jauh lebih menghancurkan daripada kebenaran itu sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang