IBA-TIBA ULAR PELIHARAANKU MERAYAP KE ATAS TEMPAT TIDUR DAN MELILIT PERUTKU ERAT-ERAT SETIAP MALAM.

“Bu…”

Dokter menatap layar sekali lagi sebelum akhirnya menarik napas panjang.

“Saya melihat sebuah massa di bagian bawah perut Anda.”

Aku membeku.

“Massa?”

Dokter mengangguk pelan.

“Ukurannya cukup besar. Saya belum bisa memastikan jenisnya hanya dari ultrasound ini. Kita perlu pemeriksaan lanjutan secepatnya.”

Aku tidak langsung memahami kalimatnya.

Otakku seperti menolak menyusun kata-kata itu menjadi sesuatu yang masuk akal.

“Maksud Dokter… tumor?”

“Saya belum bilang itu tumor ganas.”

“Tapi bisa jadi?”

Dokter terdiam.

Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Tanganku langsung dingin.

Aku memandang layar hitam putih di samping ranjang pemeriksaan.

Ada bentuk gelap yang bahkan tidak kupahami.

Sesuatu ada di dalam tubuhku.

Sesuatu yang selama ini tidak kuketahui.

“Sudah berapa lama Anda merasakan nyeri?”

“Tiga hari.”

“Benar-benar baru tiga hari?”

Aku mengangguk.

Dokter mengerutkan kening.

“Ukurannya tidak mungkin muncul dalam tiga hari.”

Kalimat itu membuat tengkukku merinding.

“Jadi sudah lama ada di sana?”

“Kemungkinan besar.”

Aku menelan ludah.

Lalu tanpa sadar aku berkata, “Ular saya tahu.”

Dokter menatapku.

“Maaf?”

Aku hampir merasa bodoh mengatakannya.

Namun aku tetap menjelaskan tentang Sombra.

Tentang bagaimana ia naik ke tempat tidur selama tiga malam berturut-turut.

Tentang bagaimana tubuhnya selalu melingkar di bagian perut yang sama.

Dokter tidak tertawa.

Ia hanya berkata, “Hewan memang kadang merespons perubahan pada manusia, seperti suhu, bau, kebiasaan, atau gerakan tubuh. Tapi jangan jadikan itu diagnosis. Yang penting sekarang kita periksa kondisi Anda secara medis.”

Aku mengangguk.

Namun dalam perjalanan pulang, pikiranku tidak bisa melepaskan satu hal.

Sombra tidak pernah melakukan itu sebelumnya.

Tidak sekali pun selama empat tahun.

Kenapa tepat ketika rasa sakit itu muncul?

Marco menungguku di rumah.

Begitu aku masuk, ia langsung bertanya, “Gimana?”

Aku menatap wajah suamiku.

Entah kenapa, untuk beberapa detik aku tidak sanggup bicara.

“Ada massa di perutku.”

Senyumnya menghilang.

“Apa?”

“Dokter belum tahu apa. Aku harus tes lanjutan.”

Marco berdiri.

“Aku ikut.”

“Nggak perlu.”

“Jangan ngomong begitu. Aku suamimu.”

Ia langsung memelukku.

Aku bersandar di dadanya.

Seharusnya aku merasa aman.

Namun di tengah pelukan itu, aku melihat sesuatu di belakang bahunya.

Kandang Sombra.

Kosong.

Aku langsung melepaskan diri.

“Sombra di mana?”

Marco menoleh.

“Di ruang belakang.”

“Kenapa dipindah?”

“Aku nggak mau dia naik lagi ke kasur.”

“Kamu menguncinya?”

“Iya.”

Aku menuju ruang belakang.

Pintunya terkunci dari luar.

Aku menatap Marco.

“Kamu nggak pernah mengunci dia di ruangan ini.”

Marco terlihat kesal.

“Aku juga nggak pernah melihat ular lima meter melilit perut istriku tiga malam berturut-turut.”

Aku membuka pintu.

Sombra berada di dalam kandang portabel.

Begitu melihatku, ia mulai bergerak.

Bukan agresif.

Namun gelisah.

Kepalanya terus mengarah kepadaku.

Aku mendekat.

“Hei, sayang…”

Sombra berhenti bergerak.

Marco berdiri di belakangku.

“Menurutku kita harus menyerahkannya ke tempat penangkaran.”

Aku langsung menoleh.

“Apa?”

“Dia terlalu besar.”

“Empat tahun kamu nggak pernah bilang begitu.”

“Empat tahun dia juga nggak pernah naik ke tempat tidur kita.”

Aku tidak menjawab.

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku tidak nyaman.

Bukan takut.

Lebih seperti marah.

Malam itu aku tidur dengan pintu kamar terkunci.

Sombra tetap di ruang belakang.

Untuk pertama kalinya dalam tiga malam, aku tidak merasakan tubuh dinginnya di perutku.

Namun pukul dua pagi, aku terbangun karena suara benturan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Aku bangun.

Marco tidak ada di sampingku.

Aku keluar kamar.

Suara itu berasal dari ruang belakang.

Ketika aku mendekat, aku mendengar Marco berkata pelan.

“Diam.”

Aku berhenti.

Ada suara sesuatu digeser.

Kemudian Marco keluar sambil membawa kandang transportasi.

Di dalamnya ada Sombra.

“Kamu mau bawa dia ke mana?”

Marco tersentak.

“Astaga. Kamu bikin kaget.”

“Jawab.”

Ia menghela napas.

“Aku sudah telepon orang dari komunitas reptil. Mereka mau menampung.”

“Jam dua pagi?”

Marco diam.

Aku menatapnya.

“Siapa yang kamu telepon?”

“Teman.”

“Teman siapa?”

“Apa sih?”

Nada suaranya mulai meninggi.

Sombra bergerak di dalam kandang.

Tubuhnya menghantam sisi plastik.

Aku berdiri di depan pintu.

“Kamu nggak bawa dia ke mana-mana.”

Marco menatapku lama.

Lalu ia meletakkan kandang itu.

“Oke.”

Terlalu mudah.

Aku tahu Marco.

Kalau ia benar-benar yakin, ia akan berdebat sampai pagi.

Namun malam itu, ia menyerah hanya dalam beberapa detik.

Itu justru membuatku semakin curiga.

Keesokan harinya, aku menjalani CT scan.

Marco ikut.

Kami duduk di ruang tunggu selama hampir satu jam.

Saat dokter memanggil kami masuk, tanganku menggenggam tangan Marco.

Dokter membuka hasil pemeriksaan.

“Massa itu berasal dari area ovarium.”

Aku menahan napas.

“Apakah kanker?”

“Kami belum bisa memastikan tanpa pemeriksaan jaringan. Tapi ada hal lain yang membuat saya khawatir.”

Dokter memperbesar gambar.

“Posisinya menyebabkan tekanan pada jaringan di sekitarnya. Itu menjelaskan rasa nyeri dan denyutan yang Anda rasakan.”

“Berbahaya?”

“Kalau dibiarkan, bisa menimbulkan komplikasi.”

Marco bertanya, “Harus operasi?”

“Kemungkinan besar.”

Aku menatap layar.

“Seberapa cepat?”

Dokter menjawab, “Secepatnya setelah evaluasi lengkap.”

Ketika kami keluar dari rumah sakit, Marco memeluk bahuku.

“Kita akan lewatin ini.”

Aku mengangguk.

Namun saat kami tiba di parkiran, ponselnya berbunyi.

Ia membaca pesan.

Wajahnya berubah.

Hanya sebentar.

Tapi aku melihatnya.

“Siapa?”

“Nggak penting.”

Marco memasukkan ponsel ke saku.

Untuk pertama kalinya selama delapan tahun menikah, aku ingin melihat isi ponselnya.

Dan perasaan itu membuatku malu.

Malamnya, ketika Marco mandi, aku melihat ponselnya tergeletak di meja.

Aku tidak menyentuhnya.

Aku hampir pergi.

Lalu layar menyala.

Sebuah pesan masuk.

Dari seseorang bernama Dimas.

Sudah tiga hari. Kenapa belum berhasil dipindahkan?

Aku mengernyit.

Pesan berikutnya masuk.

Kalau ular itu tetap di rumah, dia bisa menemukan semuanya.

Jantungku berdegup cepat.

Aku mengambil ponsel.

Kode kuncinya masih tanggal pernikahan kami.

Percakapan dengan Dimas terbuka.

Aku membaca dari atas.

Marco menulis dua minggu sebelumnya.

Pastikan kandang barunya siap.

Dimas menjawab.

Kalau istrinya tanya?

Marco menjawab.

Bilang saja ular itu perlu observasi.

Aku terus membaca.

Lalu menemukan satu pesan yang membuat tanganku gemetar.

Aku taruh dokumennya di bawah panel belakang kandang lama. Jangan sampai dia bongkar.

Aku langsung keluar kamar.

Aku berlari ke ruang keluarga.

Kandang utama Sombra masih ada.

Besar.

Terbuat dari kaca dan panel kayu.

Aku berlutut di belakangnya.

Ada panel tipis yang selama ini tidak pernah kuperhatikan.

Aku menariknya.

Awalnya tidak bergerak.

Lalu terbuka.

Di dalam celah sempit itu ada sebuah map plastik.

Tanganku mulai bergetar sebelum aku bahkan membukanya.

Di dalamnya ada dokumen asuransi.

Satu per satu.

Namaku tercantum sebagai tertanggung.

Nilainya sangat besar.

Penerima manfaatnya Marco.

Namun itu bukan yang paling buruk.

Ada juga hasil pemeriksaan kesehatan lama.

Atas namaku.

Tanggalnya hampir setahun lalu.

Aku membaca bagian kesimpulan.

Kista kompleks.

Direkomendasikan tindak lanjut segera.

Aku membeku.

Setahun lalu?

Aku tidak pernah menjalani pemeriksaan itu.

Lalu aku melihat nama klinik.

Aku mengenalnya.

Itu klinik tempat Marco bekerja sebagai administrator sebelum pindah perusahaan.

Aku mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.

Aku memasukkan semua dokumen ke dalam tas.

Marco muncul di lorong.

“Kamu ngapain?”

Aku berdiri.

“Ini apa?”

Wajahnya berubah ketika melihat map di tanganku.

Untuk beberapa detik ia tidak berkata apa pun.

Kemudian perlahan, ia menutup pintu ruang keluarga.

“Kamu salah paham.”

Aku tertawa pendek.

“Jelaskan.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan kenapa ada hasil pemeriksaan tentang tubuhku setahun lalu yang tidak pernah aku ketahui.”

Marco menelan ludah.

“Dokter waktu itu bilang belum tentu berbahaya.”

“Jadi kamu tahu?”

Ia menunduk.

“Marco.”

“Aku tahu ada sesuatu.”

Dadaku terasa sesak.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Ia tidak menjawab.

Aku melihat dokumen asuransi.

Lalu aku melihatnya.

Dan sesuatu di dalam diriku runtuh.

“Kamu menambah asuransi setelah tahu?”

Marco langsung berkata, “Bukan seperti itu.”

“Jawab.”

Ia diam.

Aku mundur satu langkah.

“Ya Tuhan.”

Marco mendekat.

“Aku nggak pernah berharap kamu sakit.”

“Tapi kamu berharap aku nggak tahu.”

“Tidak.”

“Setahun, Marco.”

Air mataku jatuh.

“Setahun kamu tahu ada sesuatu di tubuhku.”

Ia memegang kepalanya.

“Aku punya utang.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Investasi bodong. Pinjaman. Aku terjebak.”

“Berapa?”

Ia menyebut angka yang membuatku hampir tidak percaya.

Lebih dari satu miliar rupiah.

“Aku pikir aku bisa nutup.”

Aku menahan napas.

“Jadi kamu membeli asuransi atas namaku?”

“Aku nggak merencanakan kamu mati.”

“Berhenti bilang begitu.”

“Aku cuma…”

Ia menangis.

“Aku cuma menunda.”

Kalimat itu jauh lebih menakutkan daripada pengakuan lainnya.

Menunda.

Bukan menyakiti.

Bukan membunuh.

Hanya menunda sampai tubuhku mungkin tidak bisa diselamatkan.

Aku mengambil ponsel.

Marco langsung menatapnya.

“Kamu mau telepon siapa?”

Aku mundur.

“Jangan dekati aku.”

Marco berhenti.

Saat itulah terdengar suara gesekan dari kandang.

Sombra bergerak keluar dari tempat persembunyiannya.

Ia tidak menyerang siapa pun.

Ia hanya bergerak menuju sisi kaca yang paling dekat denganku.

Kepalanya terangkat.

Tenang.

Seolah memperhatikan.

Aku menatapnya.

Lalu aku mengerti sesuatu yang selama ini kukira misterius.

Mungkin Sombra tidak mengetahui ada tumor.

Mungkin ia hanya merasakan perubahan kecil.

Suhu tubuhku.

Cara tidurku.

Getaran otot.

Atau mungkin ia hanya tertarik pada bagian tubuh yang lebih hangat.

Aku tidak tahu.

Namun kalau ia tidak naik ke tempat tidur selama tiga malam itu, mungkin aku akan terus menunda pergi ke dokter.

Seperti yang Marco inginkan.

Aku menelepon kakakku.

Lalu polisi.

Malam itu aku meninggalkan rumah.

Bukan karena takut pada Sombra.

Aku takut pada lelaki yang selama bertahun-tahun tidur di sampingku sambil menyimpan informasi yang bisa menyelamatkan hidupku.

Penyelidikan membuktikan Marco tidak menyebabkan massa itu.

Ia juga tidak memberiku obat atau racun.

Namun ia memang menyembunyikan hasil medis yang tidak sengaja ia ketahui dari sistem klinik lama, lalu menggunakan informasi tersebut untuk mengambil polis tambahan tanpa pernah memberitahuku tentang risiko kesehatan yang sedang berkembang.

Itu cukup untuk menghancurkan pernikahan kami.

Dan mungkin itulah bagian yang paling sulit diterima.

Kadang pengkhianatan terbesar bukan ketika seseorang melakukan sesuatu kepadamu.

Tetapi ketika ia mengetahui sesuatu yang bisa menyelamatkanmu, lalu memilih diam karena keselamatanmu tidak menguntungkannya.

Aku menjalani operasi dua minggu kemudian.

Massa itu berhasil diangkat.

Hasil akhirnya menunjukkan bahwa kondisinya masih bisa ditangani.

Dokter mengatakan aku datang pada waktu yang sangat tepat.

Beberapa bulan kemudian, aku pindah ke rumah kecil di pinggir Bandung.

Sombra ikut denganku.

Aku membangun kandang baru yang lebih aman dan lebih besar dengan bantuan perawat reptil berpengalaman.

Aku tidak lagi membiarkannya berkeliaran bebas di kamar tidur.

Malam terakhir sebelum pindah, aku berdiri di depan kandangnya cukup lama.

Sombra mendekat ke kaca.

Aku tersenyum.

“Jadi sebenarnya kamu tahu apa?”

Tentu saja ia tidak menjawab.

Ia hanya diam.

Seperti malam-malam sebelumnya.

Aku tertawa kecil.

Sampai hari ini, aku tidak pernah mengatakan bahwa Sombra menyelamatkan hidupku karena ia bisa mendeteksi penyakit.

Aku tidak punya bukti untuk itu.

Mungkin semuanya memang kebetulan.

Namun aku percaya satu hal.

Kadang tubuh kita mengirimkan tanda-tanda kecil jauh sebelum pikiran kita berani mengaku ada sesuatu yang salah.

Dan malam ketika seekor ular besar memilih berbaring di tempat yang sama selama tiga hari berturut-turut membuatku melakukan sesuatu yang seharusnya sudah kulakukan jauh lebih cepat.

Mendengarkan tubuhku sendiri.

Marco mengajariku bahwa orang yang kita cintai tidak selalu menjadi orang yang paling melindungi kita.

Dokter mengajariku bahwa rasa takut tidak boleh menunda pemeriksaan.

Dan Sombra…

Entah bagaimana…

mengajariku bahwa terkadang peringatan paling penting datang dalam bentuk yang paling tidak kita duga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang