BURUNG BEO PELIHARAAN KAMI SELALU MENGATAKAN HAL YANG SAMA SETIAP KALI SUAMIKU MASUK KE DAPUR: “JANGAN DIMINUM.”

“Karena setiap pagi dia membuatku merasa seperti sedang minum racun,” jawab Miguel sambil tertawa kecil.

Aku ikut tersenyum, tetapi entah kenapa kalimat itu membuat dadaku terasa tidak nyaman.

Kiko yang berada di dalam kandang menatap Miguel dengan kepala sedikit miring.

Lalu, dengan suara lebih pelan, burung itu kembali berkata,

“Jangan diminum.”

Kali ini tidak terdengar lucu.

Seolah-olah dia sedang memperingatkan seseorang.

Aku memindahkan kandang Kiko ke ruang tamu malam itu.

Namun keesokan paginya, sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Ketika Miguel memasuki dapur, Kiko yang berada hampir sepuluh meter jauhnya tiba-tiba menjerit.

“Jangan diminum!”

Miguel berhenti.

Aku yang sedang menyiapkan sarapan menoleh ke ruang tamu.

Kiko mengepakkan sayap begitu keras sampai kandangnya bergoyang.

“Jangan diminum! Jangan diminum!”

“Ini sudah keterlaluan,” gumam Miguel.

Ia mengambil kopi dan langsung meminumnya.

Kiko mendadak diam.

Aku memperhatikan suamiku.

“Gimana?”

Miguel mengernyit.

“Gimana apanya?”

“Enggak ada rasa aneh?”

Ia menyesap lagi.

“Elena, ini kopi.”

Aku merasa bodoh.

Mungkin benar.

Kiko hanya menirukan sesuatu.

Namun sekitar satu jam kemudian, Miguel menelepon dari mobil.

“Elena.”

Suaranya terdengar lemah.

Aku langsung berdiri.

“Kamu kenapa?”

“Aku pusing.”

“Berhenti menyetir.”

“Aku sudah menepi.”

“Panggil ambulans.”

“Enggak perlu. Mungkin kurang tidur.”

Aku memaksanya pergi ke klinik.

Dokter mengatakan tekanan darahnya turun dan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut jika kejadian serupa berulang.

Miguel pulang sore itu.

Aku tidak mengatakan apa-apa tentang Kiko.

Namun ketika kami melewati kandangnya, burung itu menatap Miguel.

“Jangan diminum.”

Miguel tidak tertawa lagi.

Malamnya, aku mulai memikirkan semua kejadian selama beberapa bulan terakhir.

Miguel memang sering mengeluh pusing.

Kadang mual.

Beberapa kali tangannya gemetar.

Kami menganggap itu akibat stres karena pekerjaannya sebagai direktur keuangan sebuah perusahaan properti di Jakarta.

Beban kerjanya memang sedang berat.

Perusahaan tempatnya bekerja, Aruna Properti, tengah menghadapi audit internal.

Miguel sering pulang tengah malam.

Namun ada pola yang baru kusadari.

Keluhannya biasanya muncul setelah sarapan.

Aku mulai merasa takut pada pikiranku sendiri.

Keesokan pagi, aku sengaja bangun lebih awal.

Aku tidak membuat kopi.

Aku memberikan Miguel sebotol air mineral yang masih tersegel.

Kiko melihatnya.

Tidak berteriak.

Miguel menatapku.

Aku menatap Kiko.

Kami sama-sama diam.

“Coba ambil gelas,” kataku.

Miguel mengernyit.

“Apa?”

“Ambil gelas dari lemari.”

“Elena.”

“Lakukan saja.”

Miguel mengambil satu gelas.

Kiko masih diam.

Kemudian Miguel berjalan menuju dispenser.

Tidak ada reaksi.

Aku hampir merasa lega.

Namun ketika Miguel meraih teko kopi yang sudah tersedia di meja, Kiko langsung menjerit.

“Jangan diminum!”

Tanganku seketika dingin.

Miguel meletakkan teko itu.

“Siapa yang membuat kopi?”

Aku terdiam.

Biasanya aku.

Tetapi pagi itu aku belum menyentuh mesin kopi.

Kami menatap teko yang masih hangat.

“Bi Inah?” tanya Miguel.

Inah adalah asisten rumah tangga kami yang sudah bekerja hampir empat tahun.

Aku memanggilnya.

Namun ternyata Inah belum datang.

Hari itu ia izin karena anaknya demam.

Aku dan Miguel saling menatap.

“Kalau bukan kamu dan bukan Inah,” katanya, “siapa yang membuat ini?”

Aku memeriksa pintu belakang.

Terkunci.

Jendela juga tertutup.

Tidak ada tanda seseorang masuk.

Lalu aku teringat satu hal.

Rumah kami memiliki CCTV.

Enam bulan sebelumnya, Miguel memasang kamera setelah terjadi pencurian di rumah tetangga.

Salah satunya menghadap lorong menuju dapur.

Aku segera membuka aplikasi keamanan.

Rekaman pukul lima pagi.

Tidak ada apa-apa.

Pukul lima lewat tiga puluh.

Kosong.

Kemudian pukul lima empat puluh tujuh.

Seseorang muncul.

Aku membeku.

“Miguel.”

Ia mendekat.

Di layar terlihat seorang perempuan berjalan perlahan menuju dapur.

Dia mengenakan hoodie dan masker.

Namun aku langsung mengenali cara berjalannya.

Tubuhku terasa dingin.

“Itu…”

Miguel menatap layar.

Perempuan tersebut membuka pintu dapur.

Kiko terlihat di sudut rekaman.

Burung itu langsung gelisah.

Perempuan itu mengambil teko.

Lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya.

Tangannya bergerak di atas teko.

Kiko mulai berteriak.

“Jangan diminum!”

Perempuan itu menoleh.

Kemudian berkata,

“Diam.”

Kiko kembali berteriak.

“Jangan diminum!”

Perempuan itu membentak,

“Jangan diminum, jangan diminum. Berisik!”

Aku menutup mulut.

Itulah asal kalimat tersebut.

Kiko bukan sedang menciptakan peringatan.

Dia menirukan kalimat yang didengarnya ketika seseorang berkali-kali datang ke dapur.

Miguel memundurkan rekaman.

Ketika perempuan itu berbalik, masker di wajahnya turun sesaat.

Miguel membeku.

Aku merasa lututku hampir kehilangan tenaga.

Itu Sofia.

Adik perempuan Miguel sendiri.

Aku menatap suamiku.

“Kenapa Sofia masuk rumah kita jam lima pagi?”

Miguel tidak menjawab.

Sofia memiliki kunci cadangan.

Kami memberikannya dua tahun lalu karena dia sering membantu menjaga rumah ketika kami bepergian.

Namun mengapa dia datang diam-diam?

Dan apa yang dituangkannya ke dalam kopi?

Miguel segera mengambil teko.

“Kita bawa ini ke laboratorium.”

Aku menghentikannya.

“Jangan hubungi Sofia.”

Ia menatapku.

“Kenapa?”

“Kalau dia tahu kita curiga, kita kehilangan kesempatan mengetahui alasannya.”

Kami menyerahkan sampel minuman kepada laboratorium melalui dokter keluarga.

Sementara menunggu hasil, Miguel mulai memeriksa rekaman CCTV beberapa minggu sebelumnya.

Apa yang kami temukan jauh lebih buruk.

Sofia datang bukan sekali.

Ia muncul sedikitnya enam kali.

Selalu sebelum kami bangun.

Selalu menuju dapur.

Dan hampir setiap kali, Kiko bereaksi.

Pada dua rekaman pertama, audio menunjukkan Kiko hanya bersiul dan berteriak tidak jelas.

Pada rekaman ketiga, untuk pertama kalinya terdengar kalimat,

“Jangan diminum.”

Rupanya suatu pagi Sofia pernah mengucapkannya dengan kesal ketika Kiko mencoba menyambar gelas yang sedang dibawanya.

Burung itu mengingatnya.

Kemudian mengulang kalimat tersebut setiap kali melihat pola yang sama.

Aku merasa ngeri.

“Kenapa dia melakukan ini?”

Miguel terlihat lebih pucat daripada sebelumnya.

“Aku mungkin tahu.”

Ia membuka laptop.

“Audit di kantor bukan audit biasa.”

Aku menunggu.

“Dua bulan lalu aku menemukan transaksi mencurigakan.”

“Transaksi apa?”

“Pembelian tanah melalui perusahaan perantara.”

Miguel menjelaskan bahwa Aruna Properti membayar harga hampir tiga kali lipat dari nilai pasar untuk beberapa bidang tanah di Bekasi.

Selisih uang mengalir ke perusahaan cangkang.

Salah satu nama yang muncul sebagai pemilik manfaat adalah suami Sofia.

Rafael.

Aku menatapnya tak percaya.

“Kakak iparmu mencuri uang perusahaan?”

“Sepertinya.”

“Dan Sofia tahu kamu menemukan itu?”

Miguel mengangguk.

“Aku pernah bertanya kepada Rafael secara langsung.”

“Kenapa kamu enggak pernah cerita?”

“Karena aku belum punya bukti cukup.”

Aku merasa marah.

“Lagi-lagi kamu menyimpan sesuatu sendirian.”

Miguel menunduk.

“Aku pikir bisa menyelesaikannya tanpa menyeret keluarga.”

“Sekarang keluarga justru masuk ke rumah kita sebelum subuh.”

Siang itu, hasil laboratorium awal datang.

Dokter menelepon.

Ada zat obat tertentu di dalam kopi yang dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan kantuk berat, pusing, dan penurunan tekanan darah.

Dokter meminta Miguel segera menjalani pemeriksaan menyeluruh.

Aku menatap suamiku.

“Dia mencoba membunuhmu?”

Miguel menggeleng pelan.

“Mungkin bukan.”

“Apa maksudmu?”

“Kalau dia ingin membunuhku, ada cara yang jauh lebih langsung.”

Miguel melihat rekaman lagi.

“Dia mungkin ingin membuatku terlihat sakit.”

Aku langsung mengerti.

Jika kondisi Miguel terus menurun, ia bisa dianggap tidak mampu menjalankan pekerjaannya.

Audit bisa berpindah ke orang lain.

Dan Rafael punya waktu menghapus jejak.

Kami menghubungi polisi dan menyerahkan rekaman serta sampel minuman.

Atas saran penyidik, kami tidak menghubungi Sofia.

Sebaliknya, Miguel berpura-pura tidak mengetahui apa pun.

Dua hari kemudian, ia mengirim pesan ke grup keluarga.

Besok aku harus menyerahkan hasil audit final kepada dewan direksi.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Pukul empat lima puluh pagi, notifikasi kamera muncul.

Gerakan terdeteksi di pintu belakang.

Aku membangunkan Miguel.

“Sofia datang.”

Kami tidak keluar kamar.

Polisi sudah menunggu di kendaraan tak jauh dari rumah.

Dari aplikasi CCTV, kami melihat Sofia masuk.

Ia berjalan ke dapur.

Kiko langsung gelisah.

“Jangan diminum!”

Sofia berhenti.

“Diam.”

Ia mengambil cangkir yang biasa digunakan Miguel.

Kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas.

Sebelum sempat melakukan lebih jauh, lampu dapur menyala.

Dua petugas masuk.

Sofia menjatuhkan benda di tangannya.

Aku dan Miguel turun beberapa menit kemudian.

Sofia duduk di kursi dengan wajah pucat.

Ketika melihat kakaknya, ia menangis.

“Miguel.”

Suamiku berdiri beberapa meter darinya.

“Kenapa?”

Sofia menutup wajah.

“Rafael yang menyuruh.”

“Dan kamu menurut?”

“Dia bilang cuma obat tidur.”

Miguel tertawa getir.

“Enam kali?”

Sofia menangis.

“Dia bilang kalau kamu terus bekerja, semuanya akan terbongkar.”

“Jadi kamu memilih dia.”

“Aku takut.”

“Takut kehilangan apa? Rumah? Mobil? Uang?”

Sofia tidak menjawab.

Miguel menatap adiknya cukup lama.

Kemudian berkata,

“Aku hampir kehilangan nyawaku karena kamu takut kehilangan gaya hidupmu.”

Penyelidikan selanjutnya membongkar skema yang jauh lebih besar.

Rafael dan dua eksekutif lain ternyata telah memanipulasi sejumlah transaksi perusahaan selama hampir tiga tahun.

Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.

Sofia mengakui keterlibatannya.

Ia tidak merancang skema keuangan tersebut, tetapi membantu Rafael menghambat Miguel setelah mengetahui suaminya sedang diselidiki.

Rafael akhirnya ditahan.

Sofia juga harus mempertanggungjawabkan tindakannya melalui proses hukum.

Beberapa bulan kemudian, kehidupan kami perlahan kembali normal.

Miguel sudah pulih.

Namun sesuatu berubah dalam dirinya.

Ia tidak lagi membawa seluruh masalah kantor sendirian.

Aku juga tidak lagi menertawakan Kiko setiap kali burung itu mengucapkan sesuatu yang aneh.

Suatu Minggu pagi, Miguel masuk ke dapur.

Ia mengambil secangkir kopi.

Kiko menatapnya.

Kami berdua berhenti.

Burung itu membuka paruh.

Miguel langsung berkata, “Jangan.”

Aku tertawa.

Namun Kiko justru berseru,

“Enak sekali!”

Kami berdua terdiam.

Lalu tertawa sampai perutku sakit.

Miguel mendekati kandangnya.

“Kamu bikin aku hampir trauma minum kopi, tahu?”

Kiko memiringkan kepala.

“Paket!”

Aku kembali tertawa.

Miguel kemudian menatapku.

“Aneh ya.”

“Apa?”

“Kita pasang CCTV mahal, punya sistem keamanan, alarm, sensor pintu.”

Ia menunjuk Kiko.

“Tapi yang pertama sadar justru dia.”

Aku mengusap kepala burung itu perlahan.

Kiko memang tidak memahami transaksi perusahaan.

Ia tidak tahu arti pengkhianatan.

Ia bahkan mungkin tidak mengerti makna sebenarnya dari kalimat yang terus diulangnya.

Namun selama berminggu-minggu, dia melihat sesuatu yang kami abaikan.

Pola.

Seseorang datang diam-diam.

Sesuatu dimasukkan ke minuman.

Miguel sakit.

Dan setiap kali pola itu terulang, Kiko melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

Berteriak.

“Jangan diminum.”

Sejak kejadian itu, aku belajar bahwa bahaya tidak selalu datang dengan tanda besar.

Kadang peringatan muncul dalam bentuk yang begitu aneh hingga kita memilih menertawakannya.

Dan terkadang, suara yang kita anggap hanya gangguan ternyata adalah satu-satunya suara yang sejak awal mencoba mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang