Sofia maju satu langkah.
Matanya masih tertuju pada Max.
“Max…”
Ia memanggilnya nyaris seperti berbisik.
Anjing itu akhirnya menoleh.
Hanya satu detik.
Namun sesuatu pada tatapan Sofia membuat dadaku terasa aneh.
Bukan takut pada Max.
Ia justru terlihat seperti sedang meminta pertolongan kepadanya.
Aku membungkuk di depan putriku.
“Sofia, kenapa?”
Ia menggigit bibir bawahnya.
“Max tidak mau aku pergi.”
Aku mencoba tersenyum.
“Max cuma sayang sama kamu.”
Sofia mengangguk kecil.
Namun matanya tidak tersenyum.
Akhirnya Miguel berhasil menarik Max dengan bantuan tali.
Pak Rene langsung membuka pintu van.
“Ayo, Nona Sofia. Nanti terlambat.”
Sofia tidak bergerak.
Pak Rene tersenyum.
“Tenang saja. Om Rene antar seperti biasa.”
Aku memperhatikan tangan putriku.
Jari-jarinya mencengkeram tali ransel begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
“Sofia?”
Ia menoleh kepadaku.
“Mommy ikut?”
Aku hampir mengatakan tidak.
Pagi itu aku punya rapat penting.
Namun entah kenapa, setelah melihat Max dan wajah Sofia, aku tidak tega.
“Baik. Mommy ikut sampai sekolah.”
Pak Rene langsung menatapku.
Hanya sesaat.
Namun ekspresinya berubah.
Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana.
Seperti seseorang yang rencananya tiba-tiba terganggu.
Lalu ia tersenyum lagi.
“Tentu, Bu.”
Hari itu tidak terjadi apa-apa.
Pak Rene membawa kami langsung ke sekolah Sofia di kawasan Quezon City.
Aku turun bersama putriku.
Ia mencium pipiku, lalu masuk ke gerbang.
Aku merasa bodoh karena sempat berpikir macam-macam.
Mungkin Max memang hanya sedang aneh.
Namun keesokan paginya, kejadian yang sama terulang.
Begitu mesin van dinyalakan, Max berlari dari teras.
Ia menggigit ban depan.
Pak Rene mulai kesal.
“Bu Ana, kalau begini terus bannya bisa rusak.”
Aku memanggil Max.
Ia menolak.
Miguel mencoba menariknya.
Max bertahan.
Sekali lagi, Sofia berdiri diam sambil memandangi anjing itu.
Hari ketiga bahkan lebih parah.
Max menunggu di depan garasi sebelum Pak Rene datang.
Begitu van masuk ke halaman, bulu di tengkuknya langsung berdiri.
Ia menggonggong.
Keras.
Terus-menerus.
Bukan gonggongan senang.
Bukan pula gonggongan teritorial biasa.
Max menempatkan tubuhnya tepat di antara Sofia dan pintu van.
Seolah ia sedang membentuk penghalang.
Miguel kehilangan kesabaran.
“Cukup, Max!”
Ia menarik tali leher Max lebih keras daripada biasanya.
Aku melihat anjing kami terseret beberapa langkah.
Hatiku langsung terasa tidak enak.
“Jangan kasar.”
“Dia bisa bikin Sofia terlambat tiap hari.”
Pak Rene mengusap ban dengan kesal.
“Sepertinya harus dikurung saja setiap pagi, Pak.”
Kalimat itu sederhana.
Namun Max tiba-tiba menggeram lagi.
Kali ini matanya langsung tertuju kepada Pak Rene.
Pak Rene mundur.
“Dia mau menggigit saya?”
“Tidak,” jawabku cepat.
Tetapi dalam hati, aku tidak benar-benar yakin.
Malam itu, setelah Sofia tidur, aku berbicara dengan Miguel.
“Menurutmu Max kenapa?”
“Entahlah.”
“Dia cuma begitu kalau Pak Rene yang bawa van.”
Miguel menutup laptop.
“Karena van-nya. Bukan karena Rene.”
“Kalau begitu kenapa sore hari saat van pulang dia biasa saja?”
Miguel terdiam.
Aku melanjutkan.
“Dan kenapa cuma saat Sofia mau masuk?”
Miguel menghela napas.
“Ana, jangan mulai berpikir aneh-aneh.”
“Aku cuma merasa ada sesuatu.”
“Rene sudah hampir empat tahun kerja sama kita.”
“Aku tahu.”
“Dia antar Ibu ke rumah sakit waktu itu. Dia bantu kita pindahan. Dia bahkan sering beliin Sofia es krim.”
Justru kalimat terakhir itu membuatku terdiam.
Seberapa sering?
Aku tidak tahu.
Karena setiap pagi, setelah aku kembali bekerja, aku hanya melihat Sofia masuk ke van.
Setelah itu aku percaya bahwa van langsung menuju sekolah.
Aku tidak pernah benar-benar mengeceknya.
Keesokan harinya aku melakukan sesuatu yang membuatku sedikit malu.
Aku menelepon wali kelas Sofia.
“Bu, maaf saya mau tanya. Sofia biasanya datang jam berapa?”
Guru itu membuka catatan.
“Sering sekitar pukul tujuh empat puluh.”
Aku melihat jam.
Dari rumah kami ke sekolah hanya sekitar dua puluh lima menit jika lalu lintas normal.
Pak Rene selalu berangkat pukul enam lima puluh.
“Apa setiap hari?”
“Hampir. Kadang jam tujuh tiga puluh lima.”
Aku mencoba menjaga suaraku tetap tenang.
“Kalau begitu mereka ke mana dulu?”
Guru itu tertawa kecil.
“Mungkin kena macet, Bu.”
Mungkin.
Jakarta memang macet.
Tapi kami tinggal di Bekasi bagian barat dan rute mereka seharusnya relatif tetap.
Aku menelepon Pak Rene sore itu.
“Pak Rene, biasanya pagi-pagi rutenya lewat mana?”
“Jalan biasa, Bu.”
“Jalan mana?”
Ia diam sesaat.

“Kadang lewat Kalimalang. Kadang muter kalau macet.”
“Kenapa Sofia sering sampai hampir jam delapan?”
“Macet, Bu.”
Jawabannya terlalu cepat.
Malamnya aku bertanya kepada Sofia.
Kami sedang duduk di lantai kamarnya sambil menyusun puzzle.
“Sayang, biasanya Om Rene langsung antar ke sekolah?”
Tangannya berhenti.
“Iya.”
“Lewat mana?”
Ia mengangkat bahu.
“Jalan biasa.”
Aku tersenyum.
“Kadang berhenti dulu?”
Sofia memasang satu potongan puzzle.
“Lupa.”
“Belanja?”
Diam.
“Beli sarapan?”
Diam lagi.
Aku tidak ingin menakutinya.
Jadi aku hanya mencium rambutnya.
“Kalau ada apa-apa yang bikin Sofia nggak nyaman, Sofia boleh cerita sama Mommy.”
Ia mengangguk.
Lalu berbisik.
“Kalau orang bilang jangan cerita karena nanti Mommy marah?”
Dadaku langsung terasa dingin.
Aku berusaha tidak berubah ekspresi.
“Mommy nggak akan marah sama Sofia.”
Putriku menatapku.
“Benar?”
“Benar.”
Ia membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu.
Namun tiba-tiba terdengar gonggongan Max dari luar.
Sofia langsung berdiri.
“Max!”
Ia berlari keluar.
Percakapan kami terputus.
Besok paginya, aku memutuskan Sofia tidak pergi dengan Pak Rene.
“Aku antar.”
Pak Rene tampak terkejut.
“Bu tidak kerja?”
“Ada waktu.”
Max tidak menggigit ban mobilku.
Ia bahkan duduk tenang di teras.
Aku menatap Miguel.
Ia juga mulai terlihat tidak nyaman.
Sebelum berangkat, aku mengajak Sofia duduk di belakang.
Sepanjang perjalanan ia jauh lebih ceria.
Ia menyanyi.
Bercerita tentang temannya.
Dan untuk pertama kalinya aku sadar betapa diamnya ia setiap pagi ketika naik van bersama Pak Rene.
Hari itu sepulang kerja, aku membeli kamera kecil untuk dipasang di depan rumah.
Sebenarnya rumah kami sudah punya CCTV.
Namun kamera lama hanya mengarah ke gerbang.
Aku ingin melihat bagian garasi lebih jelas.
Miguel tidak protes.
Entah karena ia mulai percaya atau hanya ingin menenangkanku.
Selama dua hari, Pak Rene tidak mengantar Sofia.
Max kembali normal.
Hari ketiga aku berpura-pura harus berangkat lebih awal.
Aku berkata Sofia akan kembali diantar Pak Rene.
Namun diam-diam aku mengambil cuti.
Saat van keluar dari rumah pukul enam lima puluh lima, Max kembali mencoba menggigit ban.
Aku hampir membatalkan semuanya.
Tapi aku perlu tahu.
Aku mengikuti van dari jarak cukup jauh menggunakan mobil temanku.
Pak Rene tidak menuju sekolah.
Setelah sekitar lima belas menit, van berbelok ke sebuah jalan kecil.
Kemudian berhenti di depan minimarket yang masih sepi.
Aku memarkir mobil jauh di belakang.
Pak Rene turun.
Ia membuka pintu belakang.
Sofia juga turun.
Seorang pria lain keluar dari sebuah mobil abu-abu.
Aku langsung mengambil ponsel.
Pria itu mendekati Sofia.
Pak Rene berdiri di samping mereka.
Aku tidak bisa mendengar percakapan.
Namun aku melihat Sofia mundur.
Pria itu memberikan sesuatu kepada Pak Rene.
Sebuah amplop.
Aku langsung membuka pintu mobil.
Namun sebelum sempat turun, sebuah motor lewat dan menghalangi pandanganku beberapa detik.
Ketika terlihat lagi, pria itu sudah masuk mobil.
Pak Rene membawa Sofia kembali ke van.
Aku mengikuti mereka sampai sekolah.
Sofia turun seperti biasa.
Aku merasa mual.
Sore itu aku tidak langsung menghadapi Pak Rene.
Aku pergi ke kantor polisi.
Aku menceritakan semuanya.
Petugas bernama Inspektur Adrian meminta bukti.
Aku menunjukkan video yang kurekam dari jauh.
Namun wajah pria di mobil abu-abu tidak terlihat jelas.
“Apakah ada CCTV di rumah?”
“Ada.”
“Besok kami ingin melihat rekamannya.”
Aku tidak mengerti.
“Kenapa rekaman rumah?”
“Karena pola perilaku anjing Anda mungkin menunjukkan sesuatu terjadi sebelum kendaraan meninggalkan rumah.”
Keesokan harinya dua polisi datang.
Miguel akhirnya mengetahui bahwa aku sudah melapor.
Ia pucat.
“Ana, kamu serius?”
“Aku lihat Rene menerima amplop dari orang asing saat bersama Sofia.”
Miguel tidak bisa menjawab.
Kami memutar rekaman CCTV selama beberapa minggu terakhir.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Pak Rene datang.
Parkir.
Sofia masuk.
Max menggigit ban.
Lalu Inspektur Adrian meminta rekaman dari satu bulan sebelumnya.
Saat itu Max belum mulai bertingkah aneh.
Kami menonton.
Hari demi hari.
Kemudian seorang petugas menunjuk layar.
“Berhenti.”
Rekaman menunjukkan Pak Rene tiba lebih awal.
Ia membuka pintu belakang van.
Lalu mengambil sesuatu dari bawah kursi.
Sebuah tas hitam kecil.
Ia memasukkannya ke bagasi.
“Putar lagi hari berikutnya.”
Hal serupa.
Hari berikutnya.
Sama.
Kemudian pada satu rekaman, Max terlihat mendekati van saat Pak Rene sedang memindahkan tas.
Anjing itu mengendus ban.
Lalu bagian bawah pintu.
Pak Rene langsung mengusirnya.
Inspektur Adrian memperbesar gambar.
“Apa yang ada di tas itu?”
Kami tidak tahu.
Polisi memeriksa van malam itu.
Mereka menemukan kompartemen kecil yang dibuat di bawah kursi belakang.
Di dalamnya ada beberapa kartu identitas palsu.
Beberapa foto anak-anak.
Dan dokumen berisi nama sekolah, alamat rumah, serta jadwal penjemputan sejumlah anak.
Aku hampir jatuh.
Nama Sofia ada di salah satu daftar.
Tanganku gemetar hebat.
“Apa ini?”
Inspektur Adrian menatapku.
“Belum bisa kami simpulkan. Tapi ini jelas bukan sesuatu yang normal.”
Pak Rene ditangkap malam itu.
Awalnya ia menyangkal.
Namun setelah teleponnya diperiksa, polisi menemukan percakapan dengan pria dari mobil abu-abu.
Ternyata Pak Rene bukan bagian dari jaringan penculikan seperti yang sempat kutakutkan.
Kenyataannya berbeda, tetapi tetap mengerikan.
Ia menjual informasi pribadi keluarga kepada sekelompok orang yang menjalankan penipuan terarah.
Mereka mengumpulkan data anak-anak dari keluarga menengah ke atas.
Alamat.
Sekolah.
Nama orang tua.
Rutinitas.
Foto.
Kemudian informasi itu digunakan untuk berbagai modus penipuan.
Telepon darurat palsu.
Permintaan transfer.
Ancaman seolah anak mengalami kecelakaan.
Bahkan penyamaran sebagai petugas sekolah.
Pria yang kutemui di minimarket adalah salah satu koordinatornya.
“Kenapa dia membawa Sofia bertemu orang itu?” tanyaku.
Inspektur Adrian menjawab pelan.
“Untuk membuat dokumentasi terbaru.”
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Dokumentasi apa?”
“Foto wajah. Seragam sekolah. Suara.”
Aku menatap polisi itu.
Suara?
Sofia pernah mengatakan seseorang menyuruhnya mengucapkan beberapa kalimat.
Katanya untuk “video lucu”.
Ia tidak mengerti.
Ia hanya tahu Pak Rene selalu berkata jangan cerita karena Mommy akan marah kalau tahu mereka terlambat ke sekolah.
Aku menangis saat mendengarnya.
Selama ini putriku bukan diam karena tidak punya sesuatu untuk dikatakan.
Ia diam karena seseorang yang dipercaya orang dewasa telah mengajarinya bahwa kejujuran akan membuatnya dimarahi.
Malam setelah penangkapan Pak Rene, aku duduk di lantai ruang keluarga.
Sofia tidur di samping Max.
Tangannya memeluk leher anjing itu.
Aku mengusap kepala Max.
“Maaf.”
Miguel duduk di sebelahku.
“Kita hampir mengurung dia.”
Aku mengangguk.
Lebih buruk lagi.
Aku hampir menganggap perilakunya sebagai masalah.
Padahal ia sedang mencoba memberi tahu kami sesuatu dengan satu-satunya cara yang ia tahu.
Penyidik kemudian menjelaskan kemungkinan sederhana.
Max mungkin mencium aroma yang menempel pada ban atau bagian bawah van setelah kendaraan beberapa kali berhenti di lokasi tertentu.
Bisa juga ia mengasosiasikan kendaraan itu dengan perubahan emosi Sofia.
Tidak ada yang bisa memastikan.
Anjing tidak bisa memberikan kesaksian.
Namun pola perilakunya jelas.
Ia tenang terhadap semua kendaraan lain.
Ia hanya bereaksi ketika Sofia akan masuk ke van Pak Rene.
Dan reaksinya mulai muncul tepat setelah pertemuan-pertemuan rahasia itu dilakukan.
Kasus tersebut berkembang.
Polisi menemukan beberapa keluarga lain yang datanya juga bocor.
Sebagian pernah menerima telepon penipuan.
Satu keluarga bahkan hampir mentransfer ratusan juta rupiah karena seseorang menelepon dengan informasi sangat rinci tentang anak mereka.
Pak Rene akhirnya mengaku.
Ia terlilit utang.
Awalnya ia hanya menjual data dasar.
Lalu permintaan semakin banyak.
Foto.
Rekaman suara.
Rutinitas.
Ia terus melakukannya karena uangnya mudah.
“Dia tidak pernah berniat menculik Sofia,” kata penyidik.
Kalimat itu seharusnya melegakan.
Tapi tidak.
Karena kepercayaan kami tetap dijual sedikit demi sedikit.
Beberapa bulan kemudian, Sofia mulai diantar olehku dan Miguel secara bergantian.
Kami juga mengajarinya sesuatu yang seharusnya sudah kami katakan sejak lama.
Tidak ada orang dewasa yang boleh meminta seorang anak merahasiakan sesuatu dari orang tuanya dengan ancaman bahwa ia akan dimarahi.
Kalau ada yang membuatnya bingung, takut, atau tidak nyaman, ia boleh bicara.
Selalu.
Suatu pagi, aku sedang memasukkan bekal ke dalam tas Sofia ketika ia berdiri di depan pintu.
Max duduk di sebelahnya.
“Mommy?”
“Ya?”
“Max dulu benar, ya?”
Aku berhenti.
“Maksudnya?”
“Dia nggak mau aku naik mobil Om Rene.”
Aku menatap anjing tua kami.
Bercak putih berbentuk bintang di dadanya sudah mulai dikelilingi bulu abu-abu.
Aku tersenyum.
“Mungkin Max tahu ada sesuatu yang bikin kamu nggak nyaman.”
Sofia memeluknya.
“Berarti Max pintar.”
Aku ikut berjongkok.
“Bukan cuma Max.”
Aku menunjuk dada Sofia.
“Kamu juga pintar. Kalau hati Sofia merasa sesuatu nggak benar, jangan abaikan.”
Ia mengangguk serius.
Sebelum kami berangkat, Max berjalan ke mobilku.
Ia mengendus salah satu ban.
Aku dan Miguel sama-sama menahan napas.
Lalu Max hanya menguap.
Ia berjalan kembali ke teras.
Sofia tertawa.
“Dia bolehin kita pergi.”
Aku ikut tertawa.
Namun saat mobil bergerak meninggalkan rumah, mataku terasa panas.
Dulu aku pikir tugas orang tua adalah mengetahui semua bahaya sebelum anak menyadarinya.
Ternyata tidak selalu begitu.
Kadang anak kita sudah memberi tanda.
Kadang hewan di rumah sudah bereaksi.
Kadang ada sesuatu yang terasa salah jauh sebelum ada bukti yang bisa kita jelaskan.
Masalahnya bukan karena tanda-tanda itu terlalu kecil.
Masalahnya adalah kita terlalu sering memaksa semuanya terlihat normal.
Max tidak pernah bisa mengatakan kepada kami apa yang salah.
Ia hanya menggigit ban.
Hari demi hari.
Sampai akhirnya kami berhenti memarahinya dan mulai memperhatikan.
Dan sejak saat itu aku tidak pernah lagi menganggap perilaku aneh sebagai sesuatu yang harus langsung dihentikan.
Kadang, sebelum kita bertanya bagaimana cara membuatnya berhenti, kita perlu bertanya terlebih dahulu.
Apa yang sebenarnya sedang ia coba katakan?
