DOKTER BILANG AKU SUDAH TIDAK BISA HAMIL. ENAM BULAN KEMUDIAN, PERUTKU MULAI MEMBESAR.

Enam Bulan Setelah Dokter Mengatakan Aku Sulit Hamil

“Untuk kehamilan secara alami, kemungkinannya sangat kecil.”

Dr. Herrera tidak menyelesaikan kalimatnya.

Ia tidak perlu.

Aku sudah memahami maksudnya.

Sepanjang perjalanan pulang, Lucas hampir tidak bicara. Mobil kami bergerak pelan melewati kemacetan Jakarta Selatan, sementara aku menatap gedung-gedung yang berpendar di balik kaca jendela.

Orang-orang di luar tetap menjalani hidup seperti biasa.

Ada pasangan tertawa di atas motor.

Ada ibu muda menggendong bayi sambil menunggu lampu merah.

Ada anak kecil memegang tangan ayahnya.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa seluruh dunia sedang memperlihatkan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kumiliki.

Sesampainya di apartemen, Lucas langsung membuka laptop.

“Ada laporan yang harus aku selesaikan,” katanya.

Aku berdiri di dekat pintu kamar.

“Lucas.”

Ia menoleh.

“Aku cuma ingin kamu bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Entahlah.”

Aku tertawa kecil, tetapi suaraku terdengar pecah.

“Mungkin bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja.”

Lucas menutup laptopnya.

Namun bukannya mendekat, ia justru mengusap wajah.

“Aku capek, Marina.”

Kalimat itu membuatku membeku.

“Aku juga.”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu apa?”

Ia tidak menjawab.

Hari itu menjadi awal dari enam bulan paling sunyi dalam pernikahan kami.

Kami berhenti membicarakan anak.

Aku menyimpan semua vitamin dan obat di dalam kotak.

Aplikasi kesuburan kuhapus.

Aku berhenti menghitung tanggal.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, kalender di ponselku tidak lagi dipenuhi catatan pemeriksaan.

Aku mencoba menerima hidup baru.

Aku mengambil proyek tambahan di kantor.

Mulai berolahraga ringan.

Bahkan suatu sore aku membeli dua tiket perjalanan ke Yogyakarta karena berpikir mungkin aku dan Lucas hanya perlu mengingat bagaimana rasanya menjadi pasangan tanpa rumah sakit, hasil laboratorium, dan harapan yang terus gagal.

Namun Lucas membatalkannya.

“Aku harus ke Surabaya.”

“Lagi?”

“Ada proyek.”

Aku menatap koper di tangannya.

“Belakangan kamu selalu punya proyek.”

Lucas menatapku lama.

Kemudian berkata pelan, “Marina, jangan mulai.”

Aku tidak tahu apa yang dimaksudnya dengan jangan mulai.

Pertengkaran?

Pertanyaan?

Atau kemungkinan bahwa hubungan kami memang sedang runtuh?

Tiga hari kemudian, saat Lucas berada di luar kota, aku terbangun dengan rasa mual.

Awalnya kupikir karena makan malam terlalu pedas.

Namun rasa itu muncul lagi keesokan harinya.

Kemudian seminggu berikutnya.

Tubuhku juga terasa lebih mudah lelah.

Celana kantorku mulai sempit.

Aku bahkan sempat bercanda kepada teman sekantorku, Sinta.

“Kayaknya aku kebanyakan ngemil.”

Sinta menatap perutku.

“Bukan cuma ngemil kali.”

Aku langsung tertawa.

“Jangan ngawur.”

“Coba tes.”

Aku menggeleng.

“Dokter sudah bilang peluangku hampir enggak ada.”

“Hampir enggak ada bukan berarti nol.”

Kalimat itu menggangguku sepanjang hari.

Malamnya aku membeli alat tes kehamilan.

Aku bahkan merasa konyol ketika membawanya ke kasir.

Sudah bertahun-tahun aku membeli benda seperti itu dengan harapan.

Kini aku membelinya hanya untuk membuktikan bahwa tubuhku sedang mengalami perubahan lain.

Pukul lima pagi, aku masuk kamar mandi.

Dua garis muncul.

Aku menatapnya.

Tidak bergerak.

Aku membaca petunjuknya lagi.

Kemudian mengambil alat kedua.

Dua garis.

Aku duduk di lantai kamar mandi.

Tanganku gemetar.

Aku tidak langsung bahagia.

Yang kurasakan justru takut.

Karena setelah bertahun-tahun berharap, hasil yang terlalu indah bisa terasa sama menakutkannya dengan berita buruk.

Aku menelepon Dr. Herrera pagi itu.

Ia meminta aku datang.

Aku menjalani pemeriksaan dengan jantung berdetak keras.

Dokter memandang layar monitor cukup lama.

Kemudian menoleh kepadaku.

“Bu Marina.”

Aku mencengkeram sisi ranjang pemeriksaan.

“Ya?”

“Anda memang hamil.”

Aku menutup mulut.

Air mataku jatuh begitu saja.

“Berapa minggu?”

“Sekitar dua belas.”

Aku langsung menoleh.

“Dua belas?”

Dokter mengangguk.

Aku mencoba menghitung.

Tiga bulan.

Artinya aku sudah hamil ketika masih berpikir semua gejala itu hanya stres.

“Bagaimana mungkin?”

Dr. Herrera menjawab dengan tenang.

“Saya pernah mengatakan peluangnya sangat kecil, bukan mustahil.”

“Tapi pemeriksaanku…”

“Pemeriksaan menunjukkan ada kerusakan dan peluang kehamilan alami rendah. Namun kedokteran jarang berbicara dalam kepastian mutlak.”

Aku menangis.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menangis karena harapan.

Namun kegembiraan itu hanya bertahan beberapa menit.

Dokter kemudian berkata, “Ada satu hal yang perlu kita pantau ketat.”

Aku langsung tegang.

“Apa?”

“Kehamilan ini masuk kategori berisiko lebih tinggi karena riwayat kondisi Anda.”

Aku mengangguk cepat.

“Aku akan lakukan apa pun.”

Setelah keluar dari rumah sakit, orang pertama yang ingin kuhubungi adalah Lucas.

Tanganku sudah menekan namanya.

Namun sebelum panggilan tersambung, aku berhenti.

Selama enam bulan terakhir, aku bahkan tidak yakin apakah suamiku masih ingin menjadi bagian dari hidupku.

Aku memutuskan menunggunya pulang.

Lucas tiba tiga hari kemudian.

Aku menyiapkan makan malam.

Tanganku berkeringat saat menunggu.

Begitu ia masuk, aku melihat ekspresinya aneh.

Gugup.

Ia bahkan tidak melepas jam tangan.

“Aku mau bicara,” katanya.

Aku tersenyum kecil.

“Aku juga.”

“Kamu dulu.”

Aku mengeluarkan amplop dari tas.

Di dalamnya ada hasil pemeriksaan dan foto USG pertama.

Aku meletakkannya di atas meja.

Lucas membuka amplop.

Wajahnya kehilangan warna.

Ia tidak tersenyum.

Tidak menangis.

Tidak memelukku.

Ia hanya menatap foto itu.

Lalu menatapku.

“Ini apa?”

Pertanyaan itu terasa seperti tamparan.

“Apa maksudmu?”

“Marina…”

“Aku hamil.”

Lucas berdiri.

Kursinya bergeser keras.

“Enggak mungkin.”

Aku membeku.

“Dokter sudah memastikan.”

“Dokter yang sama?”

“Iya.”

Lucas berjalan mondar-mandir.

Aku mulai marah.

“Seharusnya kamu bahagia.”

Ia berhenti.

“Aku cuma bingung.”

“Bingung kenapa?”

Lucas tidak menjawab.

Kemudian aku melihat sesuatu di wajahnya.

Kecurigaan.

Aku langsung berdiri.

“Kamu pikir anak ini bukan anakmu?”

“Marina, aku tidak bilang begitu.”

“Tapi kamu memikirkannya.”

“Aku cuma…”

“Keluar.”

“Dengar dulu.”

“Keluar!”

Lucas mencoba mendekat.

Aku mundur.

“Selama bertahun-tahun aku menyalahkan tubuhku sendiri. Aku menjalani semua pemeriksaan itu. Aku menunggu kamu. Aku memaafkan kamu setiap kali kamu enggak datang.”

Air mataku jatuh.

“Dan saat hal yang kita tunggu akhirnya terjadi, hal pertama yang kamu pikirkan justru aku selingkuh?”

Lucas menunduk.

“Aku minta maaf.”

“Keluar.”

Malam itu ia tidur di hotel.

Keesokan paginya, ia mengirim pesan.

Aku ingin menjelaskan sesuatu yang seharusnya sudah kubilang enam bulan lalu.

Aku tidak membalas.

Namun sore harinya, seseorang datang ke kantorku.

Seorang perempuan bernama Clara.

Usianya sekitar empat puluh tahun.

Ia memperkenalkan diri sebagai pengacara.

“Saya mewakili suami Anda.”

Aku langsung dingin.

“Kalau soal perceraian, bicara langsung dengan saya.”

Clara terlihat terkejut.

“Perceraian?”

Aku menatapnya.

“Bukan?”

Ia menghela napas.

“Bu Marina, saya rasa Pak Lucas belum menceritakan semuanya.”

Aku merasa lelah dengan kalimat itu.

“Apa lagi?”

Clara menyerahkan sebuah map.

Di dalamnya terdapat dokumen keuangan.

Asuransi.

Tagihan klinik.

Dan sesuatu yang membuatku berhenti bernapas.

Kontrak prosedur penyimpanan embrio dari sebuah klinik fertilitas.

Namaku.

Nama Lucas.

Tanggalnya dua tahun lalu.

Aku menatap Clara.

“Apa ini?”

“Program fertilitas yang pernah Anda dan Pak Lucas jalani.”

“Aku tidak pernah menjalani transfer embrio.”

“Benar.”

Aku membuka halaman lain.

Ada catatan bahwa dua embrio masih tersimpan.

“Kenapa Lucas menyembunyikan ini?”

Clara terdiam.

“Karena ia sudah mengajukan permintaan penghentian penyimpanan enam bulan lalu.”

Dunia terasa berhenti.

“Apa?”

“Namun klinik menolak menjalankan permintaan sepihak karena membutuhkan persetujuan kedua pihak.”

Aku tidak bisa langsung bicara.

“Kenapa dia mau melakukan itu?”

Clara menatapku hati-hati.

“Pak Lucas mengatakan dia tidak ingin Anda terus terikat pada proses yang menurutnya sudah menghancurkan kesehatan mental kalian.”

Aku tertawa hambar.

“Jadi dia membuat keputusan sendiri?”

“Permintaannya tidak pernah disetujui.”

“Tapi kenapa dia curiga pada kehamilanku?”

Clara menarik napas.

“Karena beberapa minggu sebelum dokter mengatakan peluang Anda sangat kecil, Pak Lucas menjalani pemeriksaan sendiri.”

Aku merasa perutku mengencang.

“Hasilnya?”

Ia tidak menjawab langsung.

“Jumlah dan kualitas spermanya sangat rendah.”

Aku menatapnya.

Jadi selama bertahun-tahun, bukan hanya tubuhku yang bermasalah.

Lucas juga memiliki masalah kesuburan.

Dan ia tidak pernah mengatakan apa-apa.

Aku meneleponnya malam itu.

“Kita bertemu.”

Kami bertemu di sebuah kafe sepi.

Lucas terlihat lebih kurus.

Aku langsung berkata, “Aku sudah bertemu Clara.”

Ia menutup mata.

“Kenapa kamu enggak bilang?”

“Aku malu.”

Aku hampir tertawa karena marah.

“Kamu malu?”

“Aku lihat kamu menyalahkan diri sendiri. Aku ingin bilang, tapi setiap kali aku mencoba…”

“Kamu membiarkanku berpikir semuanya salah tubuhku.”

“Aku tahu.”

“Dan enam bulan lalu?”

Lucas menunduk.

“Aku ingin berhenti.”

“Berhenti apa?”

“Berharap.”

Aku diam.

“Aku enggak kuat lihat kamu menangis setiap bulan.”

Lucas menatapku.

“Aku juga enggak kuat lihat diriku sendiri merasa gagal.”

Itulah alasan ia semakin sering bekerja.

Bukan karena ada perempuan lain.

Bukan karena ia berhenti mencintaiku.

Ia melarikan diri dari rasa malu.

Dari kegagalan.

Dari ketakutan bahwa kami akan menghabiskan seluruh hidup mencoba mendapatkan sesuatu yang mungkin tidak pernah datang.

“Aku salah,” katanya.

“Bukan karena kamu takut.”

Aku menatapnya.

“Kamu salah karena membuatku menghadapi semuanya sendirian.”

Lucas mengangguk.

“Aku tahu.”

Kemudian ia berkata sesuatu yang tidak kuduga.

“Aku mau tes DNA setelah bayi lahir.”

Aku membeku.

Ia cepat-cepat melanjutkan.

“Bukan karena aku menuduh kamu.”

“Lalu?”

“Karena aku perlu tahu bagaimana ini terjadi.”

Aku menatapnya lama.

“Kalau begitu kita cari tahu sekarang.”

Kami kembali menemui Dr. Herrera.

Lucas membawa hasil pemeriksaannya.

Dokter melihat semuanya.

Kemudian menjelaskan bahwa infertilitas bukan selalu berarti sterilitas total.

Peluang kami berdua sangat rendah.

Namun rendah bukan nol.

“Secara statistik, ini memang tidak umum,” katanya.

“Tapi tetap mungkin.”

Lucas bertanya, “Jadi kehamilan alami bisa terjadi?”

“Bisa.”

Aku menggenggam tanganku sendiri.

Kemudian dokter berkata, “Ada hal lain.”

Kami menoleh.

“Saya periksa ulang arsip Anda karena kasusnya tidak biasa.”

Ia membuka sistem.

“Hasil pemeriksaan awal Bu Marina dua tahun lalu memang menunjukkan kerusakan serius.”

“Lalu?”

“Namun ada hasil laboratorium lain dari rumah sakit berbeda enam bulan setelahnya.”

Aku mengernyit.

“Aku tidak pernah ke rumah sakit lain.”

Dr. Herrera menatap kami.

“Itu masalahnya.”

Dokumen tersebut menggunakan nama dan nomor identitasku.

Tetapi golongan darah yang tercatat berbeda.

Aku langsung membeku.

“Artinya?”

“Ada kemungkinan sebagian data lama tercampur dengan pasien lain.”

Lucas berdiri.

“Apa?”

Dokter melanjutkan bahwa mereka sedang melakukan audit internal.

Pemeriksaan terbaru menunjukkan kondisiku memang tidak sempurna, tetapi tidak separah kesimpulan awal.

“Jadi selama ini…”

Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat.

Dr. Herrera berkata pelan, “Ada kemungkinan diagnosis awal terlalu pesimistis karena kombinasi data yang tidak lengkap dan kesalahan administrasi.”

Aku merasa marah.

Lega.

Sedih.

Semua sekaligus.

Bertahun-tahun hidup kami dibentuk oleh sebuah kalimat.

Kemungkinan sangat kecil.

Namun ternyata kebenarannya jauh lebih rumit.

Lucas menangis di parkiran.

“Aku seharusnya enggak pergi.”

Aku memandangnya.

“Aku juga seharusnya enggak membiarkan seluruh hidupku ditentukan oleh satu hasil pemeriksaan.”

Ia menggenggam tanganku.

“Aku enggak pantas minta kamu langsung maafin.”

“Memang.”

Ia tertawa kecil di antara air mata.

“Tapi aku mau memperbaiki semuanya.”

Aku menatap perutku.

“Aku enggak butuh kamu memperbaiki semuanya.”

“Terus?”

“Aku butuh kamu hadir.”

Sejak hari itu, Lucas mulai datang ke setiap pemeriksaan.

Tidak selalu sempurna.

Kami masih bertengkar.

Aku masih teringat kecurigaannya ketika pertama kali melihat hasil USG.

Ia masih dihantui rasa bersalah karena menyembunyikan hasil pemeriksaannya.

Namun kami mulai bicara.

Benar-benar bicara.

Tentang takut.

Malu.

Marah.

Tentang bagaimana infertilitas membuat kami merasa tidak cukup.

Dan tentang bagaimana kami telah menjadikan anak sebagai ukuran keberhasilan pernikahan sampai lupa bahwa sebelum semua itu, kami adalah dua orang yang memilih hidup bersama.

Tujuh bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Kami menamainya Emilia.

Lucas menangis lebih keras dariku ketika pertama kali mendengar suaranya.

Beberapa minggu setelah kelahiran, tanpa aku minta, Lucas melakukan tes DNA.

Hasilnya menunjukkan kemungkinan hubungan biologis lebih dari 99 persen.

Ia menyerahkan hasilnya kepadaku.

Aku membaca.

Lalu merobek salinannya menjadi dua.

Lucas terkejut.

“Kenapa?”

Aku tersenyum.

“Karena aku enggak mau Emilia tumbuh besar dan suatu hari menemukan kertas yang membuktikan ayahnya pernah meragukan keberadaannya.”

Lucas menunduk.

“Aku minta maaf.”

Aku menggenggam tangannya.

“Aku sudah tahu.”

Beberapa tahun kemudian, ketika membereskan lemari, aku menemukan amplop cokelat lama dari Dr. Herrera.

Hasil pemeriksaan pertama.

Aku duduk cukup lama memandanginya.

Dulu amplop itu terasa seperti akhir.

Sekarang aku tahu itu hanyalah satu halaman dari hidup kami.

Aku tidak membenci dokter.

Tidak pula menganggap kehamilanku sebagai sesuatu yang ajaib yang harus dijadikan bukti bahwa semua diagnosis salah.

Aku hanya belajar bahwa tubuh manusia tidak selalu berjalan sesuai angka.

Dan bahwa istilah kemungkinan kecil tidak sama dengan mustahil.

Namun pelajaran terbesar bukan tentang kehamilan.

Melainkan tentang pernikahan.

Kadang sesuatu tidak hancur karena satu kabar buruk.

Ia hancur karena ketakutan yang tidak dibicarakan.

Rasa malu yang disembunyikan.

Dan dua orang yang masing-masing merasa harus terlihat kuat.

Malam itu Lucas menggendong Emilia yang sudah tertidur.

Ia bertanya, “Kalau kita bisa kembali ke hari dokter bilang kamu sulit hamil, kamu bakal bilang apa ke diri sendiri?”

Aku berpikir.

Kemudian menjawab,

“Berhenti menganggap tubuhmu gagal.”

Lucas menatapku.

“Cuma itu?”

Aku tersenyum.

“Dan jangan terlalu percaya kalau suamimu bilang dia baik-baik saja.”

Lucas tertawa.

Aku ikut tertawa.

Kemudian kami menatap Emilia.

Anak yang pernah terasa mustahil.

Namun yang paling tidak pernah kuduga bukanlah bahwa aku akhirnya bisa menjadi ibu.

Melainkan bahwa sebelum Emilia datang, aku harus belajar satu hal terlebih dahulu.

Bahwa nilai seorang perempuan tidak pernah ditentukan oleh kemampuannya untuk hamil.

Dan sebuah keluarga tidak dimulai ketika seorang anak lahir.

Ia dimulai ketika dua orang berani berhenti menyembunyikan ketakutannya, lalu memilih menghadapi hidup bersama-sama.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang