Kirana tidak langsung menyerahkan tablet itu.
Gadis kecil berusia tujuh tahun tersebut berdiri di samping meja makan dengan kedua tangan memeluk perangkat itu erat-erat, seolah benda tipis berwarna hitam tersebut adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki.
Wajahnya pucat.
Laras yang duduk di sebelahnya ikut turun dari kursi dan berdiri merapat kepada saudara kembarnya.
Hendra menatap kedua anaknya bergantian.
“Apa maksudmu, Kirana?”
Kirana menggigit bibir bawahnya.
“Tante Siska bilang aku anak kecil, jadi aku pasti tidak mengerti. Tapi aku mengerti, Pa.”
Hendra melangkah mendekat.
Bi Marni tampak bingung sekaligus cemas.
“Kirana, kalau ada sesuatu yang membuat kamu takut, kasih tablet itu ke Papa.”
Beberapa detik berlalu sebelum Kirana akhirnya mengulurkan tangannya.
Hendra mengambil tablet tersebut.
Di layar terlihat sebuah video berdurasi enam menit empat puluh tiga detik.
Tanggal rekamannya dua hari lalu.
Hendra menekan tombol putar.
Gambar pertama yang muncul berguncang. Kamera tampaknya diletakkan di antara beberapa boneka di ruang keluarga.
Suara Kirana terdengar samar dari balik rekaman.
Ia sepertinya sedang mencoba merekam kucing tetangga yang sering masuk ke taman belakang.
Kemudian Siska muncul.
Wanita itu berjalan cepat dari arah ruang kerja Hendra.
Ia memegang sesuatu di tangannya.
Hendra langsung mengenalinya.
Gelang berlian milik Vina.
Napasnya seketika tercekat.
Dalam video itu, Siska melihat ke kanan dan kiri.
Setelah memastikan lorong sepi, ia masuk ke area dapur.
Beberapa detik kemudian Bi Marni berjalan menuju halaman belakang sambil membawa keranjang pakaian.
Celemeknya tergantung di sandaran kursi.
Siska mendekati kursi tersebut.
Ia membuka kantong celemek.
Lalu memasukkan gelang berlian itu ke dalamnya.
Hendra merasa seluruh tubuhnya membeku.
Bi Marni menutup mulut dengan kedua tangan.
“Ya Allah…” bisiknya.
Video belum selesai.
Siska kembali ke ruang keluarga dan mengeluarkan ponselnya.
Ia menelepon seseorang.
“Sudah aku taruh.”
Suara di seberang telepon tidak terdengar jelas.
Namun ucapan Siska berikutnya terdengar sangat jelas.
“Besok aku akan pura-pura menemukannya. Setelah itu Hendra pasti pecat perempuan tua itu.”
Hendra menahan napas.
Siska tertawa kecil.
“Kalau Marni sudah pergi, dua anak itu tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa memengaruhi Hendra.”
Laras meraih tangan Bi Marni.
Kirana menundukkan kepala.
Hendra tidak mengatakan apa pun.
Video terus berjalan.
Siska berjalan mendekati jendela.
“Kamu tenang saja. Pernikahan tinggal dua bulan.”
Ia berhenti sebentar.
“Setelah menikah, aku akan urus surat kuasa perusahaan. Hendra terlalu percaya padaku.”
Hendra mengangkat kepala perlahan.
Tatapannya berubah.
Suara Siska kembali terdengar.
“Yang susah justru anak-anak.”
Hendra mencengkeram tablet lebih kuat.
“Aku tidak mau dua anak itu terus tinggal di rumah ini setelah aku menikah.”
Laras mulai gemetar.
Siska melanjutkan.
“Aku sudah cari sekolah asrama di luar Jakarta. Bilang saja demi pendidikan mereka.”
Suara laki-laki di telepon terdengar samar.
Siska tertawa.
“Kalau Hendra menolak, kita buat dia percaya anak-anaknya butuh terapi karena belum bisa menerima kematian ibunya.”
Hendra menghentikan video.
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada yang bergerak.
Suara mesin pendingin ruangan yang biasanya nyaris tidak terdengar kini terasa begitu keras.
Laras memandang ayahnya.
“Papa mau kirim kami pergi?”
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pisau.
Hendra langsung berlutut.
“Tidak.”
Ia membuka kedua tangannya.
Laras dan Kirana langsung memeluknya.
“Papa tidak akan mengirim kalian ke mana pun.”
Kirana menangis di bahunya.
“Tante Siska bilang kalau dia jadi Mama baru kami, Bi Marni tidak boleh tinggal di sini.”
Hendra memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya ia menyadari betapa banyak percakapan yang terjadi di rumahnya tanpa pernah ia ketahui.
Ia terlalu sibuk mengurus perusahaan.
Terlalu sering pulang malam.
Terlalu mudah percaya bahwa menyediakan rumah besar, sekolah terbaik, dan semua kebutuhan anak-anak sudah cukup untuk disebut sebagai ayah yang hadir.
“Kenapa kalian tidak bilang dari awal?”
Laras menjawab pelan.
“Tante Siska bilang Papa akan marah kalau kami membuat masalah sebelum pernikahan.”
Kalimat itu membuat Hendra merasa semakin hancur.
Ia menoleh kepada Bi Marni.
Perempuan berusia hampir lima puluh tahun itu masih berdiri dengan wajah basah oleh air mata.
“Bi…”
Bi Marni cepat-cepat menggeleng.
“Tidak apa-apa, Pak.”
Justru kalimat itulah yang membuat Hendra semakin malu.
“Tidak. Ini tidak baik-baik saja.”
Hendra berdiri.
“Selama bertahun-tahun Bibi menjaga keluarga saya. Dan saya hampir mengusir Bibi dari rumah ini hanya karena saya lebih percaya kepada orang yang baru saya kenal beberapa tahun.”
Bi Marni menunduk.
“Saya mengerti, Pak. Bapak sedang banyak pikiran.”
Hendra menghela napas panjang.
“Uang dua puluh lima juta itu juga bukan Bibi yang ambil, kan?”
“Saya tidak pernah masuk ke ruang kerja Bapak kalau tidak diminta.”
Hendra memandang tablet.
Ia teringat sesuatu.
Kamera keamanan di ruang kerjanya memang sudah mati hampir satu bulan karena sistemnya rusak.
Namun ada kamera lain.
Sistem keamanan rumah tersambung dengan sensor pintu elektronik.
Setiap kali ruang kerja dibuka menggunakan kartu akses, waktunya tercatat di server.
Hendra langsung mengeluarkan ponsel.
Ia menghubungi kepala keamanan rumah.
“Pak Yusuf, saya ingin log akses ruang kerja tiga minggu terakhir. Kirim sekarang.”
Tidak sampai lima menit kemudian data tersebut masuk.
Hendra membacanya.

Pada malam uang itu hilang, ruang kerja dibuka pukul 22.47.
Menggunakan kartu akses cadangan.
Kartu itu seharusnya tersimpan di laci kamar Hendra.
Namun saat itu Hendra sedang berada di Bandung.
Bi Marni bahkan tidak memiliki kartu akses.
Hanya ada dua orang di rumah yang mengetahui tempat penyimpanannya.
Hendra.
Dan Siska.
Hendra menutup ponselnya.
Wajahnya berubah dingin.
“Bi Marni, anak-anak tetap di sini bersama Bibi.”
“Bapak mau ke mana?”
“Saya mau menyelesaikan sesuatu.”
Namun Hendra tidak perlu pergi jauh.
Suara pintu depan terdengar.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah sepatu hak tinggi.
Siska muncul dari lorong sambil membawa beberapa tas belanja.
Ia langsung berhenti ketika melihat Hendra.
Wajahnya berubah pucat.
“Mas?”
Hendra berdiri di tengah ruang makan.
Siska melihat koper Hendra tidak ada.
Lalu menatap tablet di tangannya.
“Aku kira kamu sudah pergi.”
“Memang itu yang kamu harapkan?”
Siska memaksakan senyum.
“Maksud kamu apa?”
Hendra mengangkat tablet.
“Duduk.”
Nada suaranya tenang.
Justru terlalu tenang.
Siska perlahan meletakkan tas belanja.
“Ada apa?”
Hendra memutar video.
Saat adegan gelang dimasukkan ke celemek muncul, wajah Siska kehilangan seluruh warnanya.
“Mas, aku bisa jelaskan.”
“Belum.”
Hendra membiarkan video berjalan.
Ketika suara Siska membicarakan sekolah asrama dan surat kuasa perusahaan terdengar, ia menghentikan rekaman.
“Apa yang mau kamu jelaskan?”
Siska menelan ludah.
“Itu dipotong.”
“Videonya enam menit tanpa jeda.”
“Aku cuma marah waktu itu.”
“Karena itu kamu menjebak Bi Marni?”
Siska mulai menangis.
“Aku takut kehilangan kamu.”
Hendra tidak bereaksi.
“Aku merasa di rumah ini aku selalu jadi orang luar. Anak-anak lebih dekat dengan Marni. Kamu masih menyimpan barang-barang Vina. Semua orang selalu membandingkan aku dengan istrimu yang sudah meninggal.”
Hendra memandangnya lama.
“Jadi karena kamu merasa tidak aman, kamu menghancurkan nama baik seseorang?”
“Aku salah.”
“Dan uang dua puluh lima juta?”
Siska terdiam.
Hendra melangkah mendekat.
“Di mana uangnya?”
Siska memalingkan wajah.
“Mas…”
“Di mana uangnya?”
Akhirnya Siska menjawab dengan suara nyaris tak terdengar.
“Di apartemen.”
Bi Marni menarik napas kaget.
Hendra menatapnya.
“Apartemen siapa?”
Siska tidak menjawab.
Hendra teringat suara laki-laki di dalam video.
“Siapa orang yang kamu telepon?”
Siska mulai panik.
“Tidak penting.”
“Nama.”
“Mas, tolong.”
Hendra mengambil ponselnya.
“Kalau begitu saya telepon polisi.”
“Jangan.”
Siska langsung maju.
Hendra mundur satu langkah.
“Jangan sentuh saya.”
Siska menangis semakin keras.
“Itu Arman.”
Hendra terdiam.
Nama itu tidak asing.
Arman Wijaya.
Konsultan keuangan yang beberapa kali membantu perusahaan Hendra dalam restrukturisasi aset.
Pria yang justru dikenalkan kepada Hendra oleh Siska satu tahun sebelumnya.
“Apa hubungan kamu dengan Arman?”
Siska tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup.
Hendra merasakan sesuatu dalam dirinya runtuh.
Bukan karena cinta.
Melainkan karena kesadarannya bahwa seluruh hubungan tersebut mungkin dibangun di atas kebohongan sejak awal.
“Aku dan Arman pernah bersama.”
“Pernah?”
Siska kembali diam.
Hendra tertawa pendek tanpa humor.
“Berapa lama kalian merencanakan ini?”
Siska menangis.
“Hendra, awalnya tidak seperti ini.”
“Apa rencananya?”
“Kami cuma… ingin memastikan masa depan.”
“Masa depan siapa?”
Siska menatap lantai.
“Kalau aku menikah denganmu, Arman bilang aku bisa meminta kamu membuat struktur aset baru. Setelah itu sebagian saham bisa dipindahkan.”
Hendra menatapnya tidak percaya.
“Jadi pernikahan ini transaksi?”
“Aku benar-benar sayang kamu.”
“Orang yang menyayangi saya tidak membuat anak-anak saya takut kehilangan rumahnya sendiri.”
Siska terdiam.
Hendra mengambil ponsel dan menelepon kepala keamanan.
“Pak Yusuf, datang ke ruang makan bersama dua petugas.”
Siska mengangkat kepala.
“Kamu mau mengusir aku?”
“Saya ingin kamu meninggalkan rumah ini.”
“Hendra.”
“Sekarang.”
Beberapa menit kemudian petugas keamanan datang.
Hendra meminta mereka menemani Siska mengambil barang pribadinya.
Namun sebelum pergi, Siska berhenti di depan Laras dan Kirana.
Untuk sesaat ia terlihat ingin mengatakan sesuatu.
Kirana langsung bersembunyi di belakang Bi Marni.
Siska melihat gerakan itu.
Wajahnya berubah.
Mungkin baru saat itu ia menyadari bahwa anak-anak yang selama ini ia anggap penghalang ternyata benar-benar takut kepadanya.
Ia menundukkan kepala lalu berjalan pergi tanpa bicara.
Malam itu Hendra menghubungi pengacaranya.
Rekaman tablet, log akses ruang kerja, dan bukti transfer uang dikumpulkan.
Pemeriksaan internal perusahaan kemudian menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Arman ternyata beberapa kali mencoba mengarahkan Hendra menandatangani perubahan struktur kepemilikan aset melalui dokumen investasi yang tampak biasa.
Jika dokumen terakhir ditandatangani setelah pernikahan, beberapa aset perusahaan keluarga senilai puluhan miliar rupiah bisa dipindahkan melalui perusahaan cangkang.
Rencana itu belum berhasil.
Namun bukti komunikasinya cukup untuk membuka penyelidikan hukum.
Dua minggu kemudian, Hendra duduk di teras belakang bersama Bi Marni.
Laras dan Kirana sedang menghias taman untuk ulang tahun.
Ada pita, balon, dan beberapa lampu kecil.
“Bi.”
Bi Marni menoleh.
“Saya sudah bicara dengan pengacara.”
Wajah Bi Marni langsung tegang.
“Kenapa, Pak?”
“Saya ingin mengubah status pekerjaan Bibi.”
Bi Marni terdiam.
Hendra tersenyum tipis.
“Bukan memecat.”
Ia menyerahkan sebuah map.
“Mulai bulan depan, Bibi tidak lagi bekerja sebagai asisten rumah tangga.”
Bi Marni membuka map itu dengan bingung.
Di dalamnya terdapat surat kontrak baru.
Posisinya tertulis sebagai pengelola rumah tangga keluarga dengan gaji hampir tiga kali lipat dari sebelumnya, tunjangan kesehatan, dana pensiun, dan jaminan pendidikan untuk anaknya yang masih kuliah.
Mata Bi Marni langsung berkaca-kaca.
“Pak, ini terlalu banyak.”
“Tidak.”
Hendra menggeleng.
“Justru selama ini terlalu sedikit.”
Bi Marni menangis sambil memegang map tersebut.
“Saya menjaga Laras dan Kirana bukan karena uang.”
“Saya tahu.”
Hendra memandang kedua putrinya di taman.
“Karena itulah saya harus belajar menghargai orang bukan hanya dari kewajiban mereka, tapi dari ketulusan mereka.”
Hari ulang tahun Laras akhirnya tiba.
Tidak ada pesta mewah seperti tahun-tahun sebelumnya.
Hendra membatalkan ballroom hotel yang sudah dipesan.
Sebagai gantinya, mereka mengadakan pesta sederhana di taman rumah.
Hanya keluarga dekat, beberapa teman sekolah, dan orang-orang yang benar-benar mengenal Laras.
Di tengah acara, Kirana menarik kursi kosong.
Ia meletakkannya tepat di antara kursinya dan kursi Laras.
“Bi Marni!”
Bi Marni yang sedang membawa nampan berhenti.
“Sini.”
Bi Marni tertawa.
“Bibi harus bantu di dapur.”
Laras berdiri.
“Tidak.”
Ia mengambil nampan dari tangan Bi Marni dan menyerahkannya kepada seorang staf katering.
“Hari ini Bi Marni keluarga.”
Para tamu tersenyum.
Bi Marni akhirnya duduk.
Hendra memperhatikan dari seberang meja.
Untuk pertama kalinya setelah kematian Vina, rumah itu kembali terasa seperti rumah.
Namun kejutan terakhir datang ketika Laras membuka hadiah dari ayahnya.
Di dalam kotak kecil itu tidak ada mainan mahal.
Hanya sebuah bingkai foto.
Foto lama Vina, Hendra, Laras, Kirana, dan Bi Marni saat kedua anak itu masih berusia tiga tahun.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan Hendra.
Keluarga bukan selalu tentang siapa yang memiliki nama belakang yang sama.
Keluarga adalah siapa yang tetap tinggal ketika keadaan menjadi sulit.
Laras membaca tulisan itu keras-keras.
Bi Marni langsung menangis.
Kirana memeluknya.
Hendra menundukkan kepala, berusaha menahan air mata.
Beberapa bulan kemudian, kasus Siska dan Arman masih berjalan.
Namun Hendra tidak lagi terlalu memikirkan kerugian uang yang hampir dialaminya.
Ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang hampir ia kehilangan.
Kepercayaan kedua putrinya.
Dan orang yang selama bertahun-tahun menjaga keluarganya ketika ia sendiri terlalu sibuk untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah.
Sejak hari itu, Hendra membuat satu perubahan kecil.
Setiap malam pukul tujuh, ponselnya dimatikan selama satu jam.
Tidak ada rapat.
Tidak ada telepon bisnis.
Tidak ada laporan perusahaan.
Hanya makan malam bersama Laras, Kirana, dan Bi Marni.
Suatu malam Kirana tiba-tiba bertanya sambil mengunyah bolu jagung.
“Papa masih suka pura-pura pergi untuk menjebak orang?”
Hendra hampir tersedak minumannya.
Bi Marni tertawa.
Laras ikut tertawa.
Hendra menggeleng.
“Tidak lagi.”
“Kenapa?”
Hendra memandang kedua putrinya.
“Karena ternyata kalau Papa benar-benar ingin tahu siapa seseorang, Papa tidak perlu bersembunyi.”
Kirana mengernyit.
“Terus bagaimana?”
Hendra tersenyum.
“Papa cuma perlu lebih sering berada di rumah dan memperhatikan.”
Bi Marni terdiam.
Laras dan Kirana saling pandang.
Kemudian keduanya tersenyum.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Hendra mengerti bahwa rumah mewah tidak pernah menjamin seseorang memiliki keluarga.
Kadang-kadang, keluarga justru diselamatkan oleh seseorang yang selama ini hanya dipanggil pembantu.
