Ruangan akad itu kembali tenggelam dalam keheningan.
Selena berdiri kaku dengan pipi yang baru saja disentuh lembut oleh kakaknya. Anehnya, sentuhan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada makian.
Hanya tatapan Zora yang penuh kecewa.
Dan justru itulah yang membuat Selena tak sanggup mengangkat wajah.
“Kak…” bibirnya bergetar. “Aku benar-benar minta maaf.”
Zora menarik napas panjang.
“Tidak apa-apa. Malah aku berterima kasih,” jawabnya tenang.
Selena menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Karena dengan begini, aku akhirnya tahu kalau kalian berdua adalah sampah.”
Ares tersentak.
“Zora!”
Namun perempuan itu sudah berbalik.
Ia mengangkat sedikit bagian bawah gaun pengantinnya lalu melangkah meninggalkan ruang akad yang beberapa menit sebelumnya seharusnya menjadi tempat dimulainya kehidupan baru bersama pria yang ia cintai.
Kini tempat itu justru menjadi saksi berakhirnya semua kebohongan.
“Zora, tunggu!”
Ares mencoba mengejarnya.
Namun ibunya langsung berdiri menghalangi.
“Mau ke mana kamu?”
Ares berhenti.
“Ma, aku harus menjelaskan semuanya kepada Zora.”
“Menjelaskan apa lagi?” suara ibunya terdengar dingin. “Bahwa kamu tidur dengan adiknya sampai hamil lalu masih berani duduk di depan penghulu untuk menikahi Zora?”
Ares menunduk.
“Aku khilaf, Ma.”
“Khilaf tidak dilakukan berkali-kali sampai menghasilkan anak.”
Ayah Ares yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
Wajah pria paruh baya itu memerah menahan amarah.
“Kamu sudah mempermalukan keluarga kita.”
Ares mengepalkan tangan.
“Tapi aku tetap harus bicara dengan Zora.”
“Untuk apa?”
Ares tidak menjawab.
Ibunya tersenyum pahit.
“Kamu takut kehilangan Zora atau takut kehilangan apa yang Zora punya?”
Pertanyaan itu membuat Ares terdiam.
Beberapa tamu saling pandang.
Selena yang berdiri tak jauh darinya menatap Ares dengan wajah pucat.
“Apa maksud Tante?” tanyanya pelan.
Ibu Ares menoleh tajam.
“Kamu tidak tahu?”
Selena menggeleng.
Wanita itu tertawa hambar.
“Ternyata Ares juga tidak jujur kepadamu.”
“Apa yang tidak jujur?”
“Selena,” Ares memotong cepat. “Jangan dengarkan Mama.”
“Diam kamu!”
Bentakan sang ibu membuat seluruh ruangan kembali sunyi.
“Selena, kamu pikir selama ini siapa yang membantu Ares membangun usahanya?”
Selena mengerutkan kening.
“Ares bilang perusahaan itu miliknya.”
“Memang atas namanya. Tapi sebagian besar modal awal diberikan Zora.”
Wajah Selena seketika berubah.
“Apa?”
“Zora menjual apartemen peninggalan neneknya untuk membantu Ares. Dia juga yang mengenalkan Ares kepada banyak klien dari tempatnya bekerja.”
Selena menatap Ares tidak percaya.
“Mas… itu benar?”
Ares tidak menjawab.
“Jawab aku!”
“Selena, sekarang bukan waktunya membicarakan itu.”
Selena tertawa kecil.
Air matanya jatuh lagi, tetapi kali ini bukan hanya karena rasa bersalah.
Ada ketakutan di wajahnya.
Selama ini ia mengira Ares adalah laki-laki mapan yang membangun semuanya sendiri.
Pria yang bisa memberinya kehidupan mewah.
Pria yang akan membawanya keluar dari bayang-bayang kakaknya.
Namun kini semuanya terasa berbeda.
Di tempat lain, Zora telah sampai di rumah.
Begitu memasuki kamar, ia berdiri lama di depan cermin.
Gaun pengantin putih masih melekat di tubuhnya.
Riasannya masih sempurna meski air mata telah membuat bagian bawah matanya sedikit berantakan.
Perlahan, Zora melepas kerudung dan aksesori kepalanya.
Satu per satu.
Kemudian ia duduk di tepi ranjang.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan gedung akad, tangisnya pecah.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Bukan karena gagal menikah.
Bukan pula karena kehilangan Ares.
Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa dua orang yang paling ia percayai telah mengkhianatinya dalam waktu yang sama.
Selena adalah adik yang selama ini selalu ia bela.
Ketika Selena gagal masuk universitas negeri, Zora yang membayar kuliahnya di kampus swasta.
Ketika Selena ingin mengikuti kursus modeling, Zora pula yang membayar.
Bahkan kamera mahal yang digunakan Selena untuk membangun portofolionya adalah hadiah ulang tahun darinya.
Namun rupanya semua itu tidak pernah cukup.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Bu Sukma masuk tanpa mengetuk.
“Zora.”
Zora segera mengusap air mata.
“Ada apa, Bu?”
Ibunya berdiri di depan pintu sambil menatap koper yang sudah terbuka di lantai.
“Kamu mau pergi?”
“Iya.”
“Pergi ke mana?”
“Ke apartemen kantor dulu. Setelah itu aku akan cari tempat tinggal baru.”
Bu Sukma mengernyit.
“Kenapa harus pergi? Ini rumahmu juga.”
Zora tersenyum tipis.

“Benarkah?”
Ibunya terdiam.
“Sejak kecil, Selena selalu boleh mendapatkan apa pun yang dia mau. Kamar yang lebih besar. Sekolah yang dia inginkan. Uang tambahan. Bahkan waktu dan perhatian Ibu.”
“Jangan mulai menghitung-hitung.”
“Aku tidak menghitung, Bu. Aku cuma akhirnya sadar.”
Zora berdiri.
“Selama ini aku mengalah bukan karena aku lemah. Aku mengalah karena kupikir keluarga memang seharusnya saling menjaga.”
Ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.
“Tapi ternyata semakin aku mengalah, semakin kalian menganggap aku tidak punya batas.”
Bu Sukma mulai terlihat kesal.
“Selena sedang hamil. Kamu seharusnya memikirkan kondisinya.”
Gerakan tangan Zora terhenti.
Perlahan ia menoleh.
Bahkan setelah semuanya terbongkar, ibunya masih memikirkan Selena terlebih dahulu.
“Lalu siapa yang memikirkan kondisiku?”
Bu Sukma bungkam.
“Hari ini seharusnya aku menikah, Bu. Calon suamiku ternyata menghamili adikku sendiri. Dan kalimat pertama yang Ibu ucapkan setelah sampai rumah adalah aku harus memikirkan Selena.”
Mata Zora berkaca-kaca lagi.
“Sekali saja, Bu. Aku hanya ingin sekali saja Ibu bertanya apakah aku baik-baik saja.”
Wajah Bu Sukma berubah.
Namun gengsinya membuatnya tetap diam.
Zora mengangguk kecil.
“Sudah. Aku sudah dapat jawabannya.”
Ia menutup kopernya.
Malam itu juga Zora meninggalkan rumah.
Tidak ada yang menahannya.
Tiga minggu kemudian, kehidupan keluarga Sukma berubah drastis.
Ares akhirnya menikahi Selena secara sederhana karena desakan kedua keluarga.
Tidak ada gedung mewah.
Tidak ada dekorasi mahal.
Hanya akad kecil yang dihadiri keluarga dekat.
Selena marah besar ketika mengetahui seluruh biaya pesta yang sebelumnya dibayar Zora telah dibatalkan dan sebagian besar uang dapat dikembalikan ke rekening Zora.
Lebih buruk lagi, perusahaan Ares mulai mengalami masalah.
Dua klien terbesar yang dulu diperkenalkan Zora memutus kontrak setelah mengetahui Zora tidak lagi terlibat dalam proyek.
Ares pulang semakin malam.
Pertengkaran menjadi makanan sehari-hari.
“Mas bilang perusahaan Mas besar!”
“Perusahaan memang sedang mengalami masalah sementara!”
“Sementara apanya? Cicilan mobil saja terlambat dua bulan!”
“Kalau kamu tidak terus-terusan belanja, uang kita tidak akan habis!”
Selena menatap suaminya tidak percaya.
“Jadi sekarang aku yang disalahkan?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Dulu Mas bilang aku tidak perlu khawatir soal uang!”
Ares memijat kening.
Ia mulai menyesali banyak hal.
Bukan karena mencintai Zora.
Namun karena baru sadar betapa banyak bagian kehidupannya yang selama ini berjalan mulus berkat perempuan itu.
Zora mengatur relasi dengan klien.
Zora membantu menyusun proposal.
Zora bahkan beberapa kali menutup kekurangan gaji karyawan ketika arus kas perusahaan bermasalah.
Sementara Selena berbeda.
Perempuan itu terbiasa menerima, bukan membangun.
Enam bulan berlalu.
Zora perlahan menata kehidupannya kembali.
Ia mendapatkan promosi sebagai kepala divisi pengembangan bisnis di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta.
Kemampuannya menarik perhatian seorang investor bernama Rayhan Pradipta, pemilik beberapa perusahaan rintisan yang sedang berkembang pesat.
Pertemuan pertama mereka sama sekali tidak romantis.
Rayhan mengkritik presentasi Zora selama hampir dua puluh menit.
“Proyeksi pertumbuhan Anda terlalu optimistis,” katanya.
Zora tidak tersinggung.
Sebaliknya ia membuka laptop.
“Kalau begitu, izinkan saya tunjukkan data yang membuat saya berani menggunakan angka itu.”
Rayhan tersenyum.
Sejak saat itu, hubungan profesional mereka berkembang menjadi pertemanan.
Rayhan mengetahui masa lalu Zora bukan dari Zora sendiri, melainkan dari seorang rekan kerja.
Namun ia tidak pernah menyinggungnya.
Itulah yang membuat Zora nyaman.
Rayhan tidak pernah memperlakukannya seperti perempuan yang perlu dikasihani.
Setahun kemudian, di sebuah acara penghargaan bisnis di Jakarta, Zora kembali bertemu Ares dan Selena.
Ares datang sebagai peserta yang sedang mencari investor untuk menyelamatkan perusahaannya.
Selena berjalan di sampingnya dengan wajah lelah.
Hubungan mereka sudah jauh dari gambaran rumah tangga bahagia.
Ketika melihat Zora memasuki ballroom bersama Rayhan, Ares langsung membeku.
Zora terlihat berbeda.
Bukan karena gaunnya mahal.
Bukan pula karena riasannya.
Melainkan karena sorot matanya.
Tenang.
Percaya diri.
Dan tidak lagi memiliki sedikit pun bayangan perempuan yang pernah memohon agar dicintai.
“Zora…” Ares memanggil.
Zora berhenti.
Rayhan berdiri di sampingnya.
“Apa kabar, Mas?”
Sapaan itu begitu sopan hingga terasa asing.
Ares menelan ludah.
“Aku… baik.”
Selena ikut mendekat.
Perutnya sudah kembali ramping setelah melahirkan beberapa bulan sebelumnya.
Namun wajahnya tampak lebih tua.
“Kak.”
Zora mengangguk.
“Selena.”
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kemarahan.
Hanya jarak yang tidak mungkin lagi ditembus.
Ares menarik napas.
“Zora, aku ingin bicara sebentar.”
“Tentang?”
“Perusahaan.”
Selena langsung menatap suaminya.
Ares tampak tidak peduli.
“Aku dengar perusahaan tempatmu bekerja sedang mencari vendor baru. Kami bisa memberikan harga terbaik.”
Zora tersenyum tipis.
“Proposal bisa dikirim melalui jalur resmi.”
“Tidak bisakah kamu membantu sedikit? Bagaimanapun kita pernah…”
“Pernah apa?”
Ares terdiam.
Rayhan hanya berdiri tanpa ikut campur.
“Pernah hampir menikah?” lanjut Zora. “Atau pernah hampir menjadikan aku istri sementara kamu tidur dengan adikku?”
Ares memucat.
Beberapa orang mulai melirik.
“Zora, aku sudah menyesal.”
“Bagus.”
“Aku benar-benar menyesal meninggalkanmu.”
Zora menatapnya beberapa detik.
Lalu ia tersenyum.
“Mas salah.”
“Apa?”
“Mas tidak pernah meninggalkanku.”
Tatapan Zora menjadi tajam.
“Aku yang meninggalkan Mas.”
Ares tidak mampu menjawab.
Selena tiba-tiba tertawa pahit.
“Kak ternyata benar.”
Zora menoleh.
“Apa?”
Selena menatap Ares dengan air mata mulai memenuhi matanya.
“Dia memang bajingan.”
Ares langsung menatap istrinya.
“Selena!”
“Aku sudah menemukan ini.”
Selena mengeluarkan ponsel dari tas lalu menunjukkan beberapa tangkapan layar.
Pesan antara Ares dan seorang perempuan.
Pertemuan di hotel.
Janji makan malam.
Kata-kata yang nyaris sama dengan yang dulu ia gunakan untuk merayu Selena.
Ares pucat pasi.
“Dari kapan?” tanya Zora.
“Empat bulan.”
Selena tertawa sambil menangis.
“Lucu ya, Kak? Dulu aku merasa menang karena bisa merebut Ares darimu.”
Ia mengusap pipinya.
“Ternyata perempuan yang merebut sampah bukanlah pemenang. Dia cuma mengambil sampah dari halaman orang lain lalu membawanya masuk ke rumah sendiri.”
Zora menatap adiknya cukup lama.
Untuk pertama kalinya, tidak ada rasa marah di dalam dirinya.
Hanya iba.
Namun iba bukan berarti ia ingin kembali seperti dulu.
“Sekarang kamu mau bagaimana?” tanya Zora.
“Aku akan cerai.”
Ares langsung panik.
“Kamu tidak bisa melakukan itu!”
“Kenapa tidak?”
“Anak kita bagaimana?”
Selena menatapnya dingin.
“Aku lebih baik membesarkan anakku tanpa suami daripada membiarkannya tumbuh melihat ayahnya mengkhianati ibunya setiap hari.”
Ares mencoba meraih tangannya, tetapi Selena mundur.
Kemudian Selena menatap Zora.
“Aku tidak meminta Kakak memaafkanku.”
Zora diam.
“Aku juga tidak berharap hubungan kita kembali seperti dulu.”
Air mata Selena kembali jatuh.
“Aku hanya ingin bilang… sekarang aku mengerti kenapa hari itu Kakak bisa pergi dengan kepala tegak.”
Zora menarik napas.
“Karena kalau kita terus bertahan bersama orang yang tidak menghargai kita, yang hilang bukan cuma waktu.”
Selena menatapnya.
“Tapi harga diri.”
Beberapa detik kemudian, nama Zora dipanggil dari atas panggung.
Ia malam itu menerima penghargaan sebagai salah satu pemimpin bisnis muda paling berpengaruh di perusahaannya.
Sebelum pergi, Zora menatap Selena sekali lagi.
“Jaga anakmu.”
Selena mengangguk sambil menangis.
“Kak…”
Zora berhenti.
“Terima kasih karena dulu Kakak tidak menghancurkan hidupku meskipun aku sudah menghancurkan hidup Kakak.”
Zora tersenyum kecil.
“Kamu tidak pernah menghancurkan hidupku.”
Ia melirik Ares.
“Kalian hanya menghancurkan rencana yang ternyata memang salah untukku.”
Lalu Zora berjalan menuju panggung.
Rayhan mengikutinya.
Di tengah tepuk tangan para tamu, Zora menerima penghargaan dengan senyum tenang.
Dari kejauhan, Ares memandang perempuan yang dahulu nyaris menjadi istrinya itu.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami apa yang telah ia kehilangan.
Bukan perempuan yang membayar kebutuhan hidupnya.
Bukan perempuan yang membantu perusahaannya.
Melainkan seseorang yang pernah mencintainya dengan tulus ketika ia belum memiliki apa-apa.
Namun kesadaran itu datang terlambat.
Beberapa bulan kemudian Selena resmi menggugat cerai Ares.
Perusahaan Ares akhirnya bangkrut setelah utang terus menumpuk.
Sedangkan hubungan Zora dan Rayhan perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Dua tahun setelah hari akad yang gagal itu, Zora kembali duduk di hadapan seorang penghulu.
Kali ini tidak ada gedung mewah.
Hanya sebuah taman sederhana dengan keluarga dan sahabat terdekat.
Ketika tiba saatnya mengucapkan ijab kabul, Rayhan menyebut nama Zora dengan jelas dalam sekali tarikan napas.
Tidak salah.
Tidak ragu.
Setelah semuanya selesai, Rayhan berbisik kepadanya.
“Kenapa senyum terus?”
Zora menahan tawa.
“Tidak apa-apa.”
Ia menggenggam tangan suaminya.
“Aku cuma teringat seseorang yang dulu salah menyebut nama saat akad.”
Rayhan mengangkat alis.
“Lalu?”
Zora memandang langit sore dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau hari itu dia tidak salah menyebut nama, mungkin aku tidak pernah tahu bahwa Tuhan sedang menyelamatkanku dari kehidupan yang salah.”
Rayhan menggenggam tangannya lebih erat.
Zora tersenyum.
Kini ia mengerti.
Tidak semua pernikahan yang batal adalah kegagalan.
Tidak semua pengkhianatan adalah akhir kehidupan.
Kadang-kadang, pintu yang tertutup dengan sangat menyakitkan justru mencegah seseorang masuk ke dalam rumah yang akan membakarnya hidup-hidup.
Dan kesalahan Ares menyebut satu nama pada hari itu menjadi kesalahan terbaik yang pernah terjadi dalam hidup Zora.
