Sekar tidak pernah membayangkan bahwa lima tahun setelah meninggalkan rumah keluarga Mangkuluhur dengan hati yang hancur, ia akan kembali berdiri di hadapan pria yang pernah menghancurkan harga dirinya.
Lebih buruk lagi, pria itu kini menjadi atasannya.
Pagi pertama Dharma resmi bekerja sebagai presiden direktur baru, suasana kantor terasa berbeda. Para karyawan datang lebih awal. Manajer mondar-mandir memastikan semua laporan siap. Bahkan suara percakapan di pantry terdengar lebih pelan daripada biasanya.
Sekar memilih menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.
Ia sudah mengambil keputusan sejak semalam.
Dharma hanyalah atasannya.
Tidak lebih.
Masa lalu mereka sudah mati.
Setidaknya itulah yang terus ia katakan pada dirinya sendiri sampai sebuah suara terdengar dari belakang.
“Mbak Sekar.”
Sekar menoleh. Arga, rekan satu divisinya, berdiri sambil membawa dua gelas kopi.
“Aku beli sekalian. Americano tanpa gula, kan?”
Sekar tersenyum.
“Kamu masih ingat?”
“Kalau tiap lembur pesanannya itu terus, masa lupa?”
Sekar tertawa kecil dan menerima gelas tersebut.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan dari balik dinding kaca ruang presiden direktur.
Dharma.
Sejak beberapa menit lalu, pandangannya tidak beranjak dari Sekar.
Ia melihat bagaimana Sekar tersenyum kepada Arga.
Melihat perempuan itu tertawa.
Melihat betapa santainya Sekar menerima kopi dari pria lain.
Rahang Dharma mengeras.
Perasaan panas yang tidak masuk akal muncul di dadanya.
“Pak Dharma?”
Suara sekretarisnya menyadarkannya.
Dharma mengalihkan pandangan.
“Ya?”
“Rapat direksi lima menit lagi.”
Dharma mengangguk, tetapi sebelum beranjak, matanya kembali jatuh kepada Sekar.
Kali ini Arga sedang membungkuk di samping kursi Sekar untuk melihat sesuatu di layar laptopnya.
Jarak mereka cukup dekat.
Entah kenapa pemandangan itu membuat Dharma kehilangan ketenangan.
Rapat pagi itu berlangsung buruk.
Bukan karena laporan perusahaan bermasalah, melainkan karena konsentrasi Dharma terus terpecah.
Sampai akhirnya, setelah rapat selesai, ia memanggil kepala divisi Sekar.
“Pak Surya.”
“Ya, Pak?”
“Mulai hari ini saya mau laporan proyek Sentra Kencana disampaikan langsung oleh Sekar.”
Pak Surya tampak bingung.
“Sekar, Pak?”
“Ya.”
“Biasanya Arga yang menangani presentasi ke direksi.”
“Saya tahu.”
Nada Dharma membuat Pak Surya tidak berani bertanya lagi.
“Baik, Pak.”
Sejak hari itu, kehidupan kerja Sekar berubah.
Hampir setiap hari ia dipanggil ke ruang Dharma.
Kadang untuk membahas laporan.
Kadang untuk revisi.
Kadang hanya karena Dharma mempertanyakan hal kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat surel.
Sekar tahu pria itu sedang mencari alasan.
Namun ia memilih diam.
Sampai suatu sore kesabarannya habis.
Sekar baru saja kembali dari ruang rapat bersama Arga ketika sekretaris Dharma menghampirinya.
“Mbak Sekar, Pak Dharma minta Mbak masuk sekarang.”
Sekar menarik napas panjang.
Ia mengetuk pintu.
“Masuk.”
Dharma berdiri di depan jendela besar yang menghadap gedung-gedung Jakarta.
“Bapak memanggil saya?”
Dharma berbalik.
“Duduk.”
“Kalau soal laporan Sentra Kencana, sudah saya kirim.”
“Bukan soal laporan.”
Sekar mengernyit.
“Lalu?”
Dharma berjalan mendekat.
“Kamu dekat dengan Arga?”
Pertanyaan itu membuat Sekar terdiam beberapa detik.
Kemudian ia hampir tertawa.
“Maaf?”
“Saya tanya, kamu dekat dengan Arga?”
Sekar menatapnya lurus.
“Pertanyaan itu ada hubungannya dengan pekerjaan?”
Dharma tidak menjawab.
“Kalau tidak ada,” lanjut Sekar, “saya rasa saya tidak wajib menjawab.”
Sekar berbalik hendak pergi.
Namun Dharma tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
“Sekar.”
Sekar langsung menepisnya.
“Jangan sentuh saya.”
Kalimat itu membuat Dharma membeku.
Karena lima tahun lalu, dialah yang mengucapkan kalimat serupa.
Jangan pernah menyentuhku lagi, Sekar.
Sekar menatapnya tanpa gentar.
“Bapak sudah menikah. Saya juga punya kehidupan sendiri. Jadi tolong jangan mencampuri urusan pribadi saya.”
Dharma merasakan sesuatu menusuk dadanya.
“Punya kehidupan sendiri?”
“Iya.”
“Dengan Arga?”
Sekar menggeleng tidak percaya.
“Kenapa Bapak peduli?”
“Aku cuma tidak suka melihat karyawan saya tidak profesional.”
Sekar tertawa kecil.
“Tidak profesional?”
“Bercanda, minum kopi bersama, terlalu dekat selama jam kerja.”
“Kalau begitu tegur semua karyawan yang melakukan hal yang sama.”
Dharma terdiam.
Sekar menatapnya tajam.
“Atau sebenarnya Bapak cuma tidak suka melihat saya dekat dengan laki-laki lain?”
Wajah Dharma berubah.
“Itu tidak masuk akal.”
“Bagus.”
Sekar mengangguk.
“Berarti mulai besok Bapak tidak perlu memperhatikan saya lagi.”
Ia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Sekar berhenti.
“Dan satu lagi, Pak Dharma.”
Dharma menatapnya.
“Lima tahun lalu Bapak meminta saya berpura-pura tidak mengenal Bapak kalau suatu hari kita bertemu lagi.”
Suara Sekar tetap tenang meskipun jantungnya berdegup keras.
“Saya hanya sedang menepati permintaan Bapak.”
Pintu tertutup.
Dharma berdiri sendirian.
Untuk pertama kalinya, kata-katanya sendiri terasa seperti tamparan.
Hari-hari berikutnya, Dharma mencoba menjaga jarak.
Namun semakin ia berusaha tidak memperhatikan Sekar, semakin ia menyadari keberadaan perempuan itu.
Ia mulai mengetahui kebiasaan-kebiasaan kecil Sekar.
Datang sebelum pukul delapan.
Selalu membawa bekal.
Jarang makan di restoran bersama karyawan lain.
Pulang tepat waktu kecuali ada pekerjaan mendesak.
Dan setiap pukul empat sore, Sekar hampir selalu menerima telepon yang membuat wajahnya berubah lembut.
Dharma tidak tahu siapa peneleponnya.
Sampai suatu hari.

Sekar sedang berada di pantry ketika ponselnya berbunyi.
“Halo, Sayang.”
Dharma yang kebetulan melewati koridor berhenti.
Suara Sekar terdengar begitu lembut.
“Iya, Mama pulang sebentar lagi.”
Dharma membeku.
Mama?
Ia menoleh.
Sekar sedang tersenyum sambil berbicara melalui video call.
“Raka sudah mandi?”
Dharma tidak sadar kakinya telah membawanya mendekat.
Dari layar ponsel Sekar terlihat wajah seorang anak laki-laki.
Sekitar empat tahun.
Rambut hitam.
Kulit cerah.
Mata besar.
Dan sebuah lesung kecil di pipi kiri ketika tersenyum.
Dunia Dharma seperti berhenti.
Lesung itu.
Keluarga Mangkuluhur memiliki ciri yang sama.
Ayahnya memilikinya.
Dharma juga.
Anak itu tertawa dari layar.
“Mama jangan lama-lama!”
“Iya. Mama bawakan martabak kesukaan Raka.”
Sekar menutup panggilan.
Ketika berbalik, wajahnya langsung pucat.
Dharma berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Kamu punya anak?”
Sekar menggenggam ponselnya erat.
“Itu bukan urusan Bapak.”
“Umurnya berapa?”
Sekar melewatinya.
Dharma menghalangi.
“Sekar.”
“Permisi.”
“Umurnya berapa?”
“Empat tahun.”
Jawaban itu seharusnya membuat Dharma lega.
Namun sesuatu terasa tidak benar.
“Empat tahun berapa bulan?”
Sekar menatapnya.
“Keterlaluan.”
“Jawab.”
“Bapak tidak punya hak menginterogasi saya.”
Sekar pergi.
Malam itu Dharma tidak bisa tidur.
Ia duduk di ruang kerja rumahnya dengan laptop terbuka, tetapi pikirannya hanya dipenuhi wajah anak di layar ponsel Sekar.
Empat tahun.
Mereka bercerai lima tahun lalu.
Secara hitungan sederhana, anak itu bisa saja bukan miliknya.
Namun mengapa wajahnya terasa begitu familiar?
Beberapa hari kemudian, jawaban justru datang tanpa sengaja.
Perusahaan mengadakan family gathering di sebuah resort di Bogor.
Karyawan diperbolehkan membawa keluarga.
Sekar awalnya tidak ingin datang, tetapi Pak Surya memintanya hadir karena ia termasuk panitia inti.
Akhirnya Sekar membawa Raka.
Dharma sedang berbicara dengan beberapa komisaris ketika suara seorang anak terdengar.
“Mama!”
Ia menoleh.
Seorang bocah berlari menuju Sekar.
Dharma membeku.
Melihat melalui layar ponsel berbeda dengan melihat langsung.
Raka berdiri di sana dengan kaus biru dan celana pendek, memeluk kaki Sekar sambil tertawa.
Wajah bocah itu seperti menarik Dharma kembali ke masa kecilnya sendiri.
Bukan sekadar lesung pipi.
Bentuk mata.
Garis alis.
Bahkan caranya mengerutkan hidung ketika tertawa.
Kirana yang berdiri di samping Dharma ikut memperhatikan.
“Anak siapa?”
Dharma tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian, Raka berlari mengejar bola. Bola itu menggelinding tepat ke kaki Dharma.
Raka berhenti.
Dharma menunduk.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, pria dewasa dan anak kecil itu hanya saling memandang.
“Om, bolanya.”
Dharma mengambil bola tersebut.
“Namamu siapa?”
“Raka.”
“Raka siapa?”
“Raka Puspaningtyas.”
Nama belakang Sekar.
Dharma menelan ludah.
“Kamu umur berapa?”
“Empat.”
Raka mengangkat empat jarinya, lalu berpikir.
“Tapi sebentar lagi lima.”
Dada Dharma seperti dihantam sesuatu.
“Ulang tahun kapan?”
“Bulan depan.”
“Raka!”
Sekar berlari mendekat.
Wajahnya pucat ketika melihat Dharma.
Ia segera menggandeng tangan putranya.
“Ayo ke Mama.”
“Tapi bolaku.”
Dharma menyerahkannya.
Sekar mengambil bola itu tanpa menatap Dharma.
Namun sebelum pergi, Dharma berkata pelan.
“Dia anakku?”
Sekar berhenti.
Suasana di sekitar mereka terasa menghilang.
“Jangan mulai.”
“Sekar, jawab.”
Sekar berbalik.
Ada kemarahan sekaligus luka di matanya.
“Kalau iya, memangnya kenapa?”
Dharma kehilangan kata-kata.
Sekar tersenyum getir.
“Bukankah lima tahun lalu Bapak sudah memberikan jawabannya?”
Dharma terdiam.
“Aku berharap kamu tidak hamil anakku. Kalaupun kamu hamil, aku tidak menginginkan anak itu.”
Kalimatnya sendiri kembali terngiang.
Sekar menggenggam tangan Raka lebih erat.
“Saya hanya melakukan apa yang Bapak minta.”
Ia membawa Raka pergi.
Dharma berdiri kaku.
Namun seseorang ternyata mendengar percakapan itu.
Kirana.
Malam setelah acara, pertengkaran pertama yang benar-benar besar terjadi dalam rumah tangga Dharma.
“Kamu masih mencintai mantan istrimu?”
Dharma menatap Kirana.
“Nggak.”
“Jangan bohong.”
“Aku bahkan baru tahu dia punya anak.”
“Anakmu.”
Dharma mengusap wajahnya.
“Aku belum tahu pasti.”
Kirana tertawa pahit.
“Wajah anak itu bahkan mirip kamu.”
Dharma terdiam.
Kirana menatapnya lama.
Kemudian perempuan itu mengatakan sesuatu yang tidak pernah Dharma duga.
“Kalau memang dia anakmu, kamu harus bertanggung jawab.”
Dharma menatap istrinya terkejut.
“Kamu tidak marah?”
“Tentu aku marah.”
Mata Kirana berkaca-kaca.
“Tapi aku lebih marah kalau suamiku ternyata pernah membuang anaknya sendiri.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada apa pun.
Keesokan harinya Dharma meminta Sekar berbicara.
Bukan di ruang presiden direktur.
Bukan sebagai atasan.
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil dekat kantor.
“Raka anakku?”
Sekar diam lama.
Kemudian ia mengangguk.
“Iya.”
Dharma menutup mata.
Dadanya sesak.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Sekar langsung menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena aku ayahnya.”
“Sekarang Bapak ingat?”
Dharma terdiam.
Sekar menahan air mata.
“Saya tahu saya hamil dua minggu setelah meninggalkan rumah keluarga Mangkuluhur.”
“Kenapa tidak datang?”
“Saya datang.”
Dharma membeku.
“Apa?”
“Saya datang ke rumah kalian.”
Sekar tersenyum getir.
“Tapi saya tidak pernah sampai bertemu Bapak.”
“Kenapa?”
“Karena ibu Bapak menemui saya di gerbang.”
Dharma menegang.
Sekar melanjutkan.
“Saya bilang saya hamil. Beliau menyuruh saya pergi.”
Wajah Dharma kehilangan warna.
“Beliau bilang Bapak sudah tahu dan tidak ingin bertemu saya.”
Sekar mengusap air matanya.
“Saya percaya karena itu sama persis dengan apa yang pernah Bapak katakan.”
Dharma merasa seluruh dunianya runtuh.
Ia pulang dan langsung menemui ibunya.
Awalnya perempuan itu menyangkal.
Namun ketika Dharma mendesaknya, kebenaran akhirnya keluar.
“Ibu melakukan itu demi kamu!”
“Dia membawa anak saya!”
“Kamu membencinya saat itu!”
“Tapi itu anak saya!”
Suara Dharma mengguncang ruang keluarga.
Ibunya terdiam.
“Aku memang pernah mengatakan hal-hal kejam,” lanjut Dharma dengan mata merah. “Tapi Ibu tidak punya hak menentukan apakah aku boleh mengetahui keberadaan anakku!”
Untuk pertama kalinya Dharma memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun ia menyalahkan Sekar karena dianggap menjebaknya.
Namun ia tidak pernah benar-benar mencari kebenaran.
Ia hanya memilih versi yang paling mudah untuk membenarkan kebenciannya.
Beberapa hari kemudian Dharma datang ke rumah Sekar.
Rumah sederhana di kawasan Depok.
Sekar membuka pintu dan langsung mengernyit.
“Kenapa datang?”
“Aku mau ketemu Raka.”
“Tidak.”
“Sekar.”
“Jangan gunakan anak saya untuk menebus rasa bersalah.”
Dharma terdiam.
“Aku tidak akan merebut dia.”
Sekar menatapnya.
“Aku cuma ingin mengenalnya.”
“Setelah lima tahun?”
“Iya.”
“Setelah dulu kamu bilang tidak akan mengakuinya?”
Dharma menunduk.
“Aku salah.”
Hanya dua kata.
Namun Sekar tidak pernah membayangkan Dharma Mangkuluhur mampu mengucapkannya.
“Aku salah tentang banyak hal.”
Suara Dharma bergetar.
“Aku tidak meminta kamu memaafkanku. Mungkin aku memang tidak pantas dimaafkan. Tapi jangan hukum Raka karena kesalahan ayahnya.”
Sekar menatap pria itu lama.
Akhirnya ia membuka pintu sedikit lebih lebar.
Raka sedang duduk di ruang tengah menyusun balok.
Ketika melihat Dharma, ia tersenyum.
“Om yang di kantor Mama.”
Dharma berjongkok.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu mampu mengendalikan rapat bernilai miliaran rupiah itu tidak tahu harus berkata apa kepada seorang anak kecil.
“Halo, Raka.”
Raka mengangguk.
“Mau main?”
Dharma menatap Sekar.
Sekar tidak mengatakan apa-apa.
Dharma duduk di lantai.
Mereka bermain hampir satu jam.
Ketika Dharma hendak pulang, Raka tiba-tiba bertanya.
“Om temannya Mama?”
Dharma terdiam.
Sekar yang berdiri di dapur ikut membeku.
Dharma menatap putranya.
“Om seseorang yang dulu pernah menyakiti Mama.”
Raka mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
“Karena Om bodoh.”
Raka tertawa.
“Kalau salah harus minta maaf.”
Dharma tersenyum getir.
“Iya.”
Ia menoleh kepada Sekar.
“Om sedang belajar.”
Bulan-bulan berikutnya mengubah banyak hal.
Dharma tidak memaksa Sekar kembali.
Tidak meminta hak sebagai ayah secara tiba-tiba.
Ia datang ketika diizinkan.
Mengantar Raka ke taman.
Menghadiri acara sekolah.
Membacakan buku.
Dan perlahan, Raka mulai memanggilnya Papa setelah Sekar menjelaskan kebenaran dengan bahasa yang bisa dipahami seorang anak.
Namun Dharma juga harus menghadapi konsekuensi lain.
Pernikahannya dengan Kirana.
Suatu malam Kirana menyerahkan sebuah map.
Dharma membukanya.
Dokumen perceraian.
“Kirana…”
“Aku sudah lama tahu pernikahan kita tidak benar-benar bahagia.”
Dharma terdiam.
Kirana tersenyum sedih.
“Dan aku tidak mau menjadi perempuan yang kamu pertahankan hanya karena rasa bersalah.”
“Aku tidak ingin menyakitimu.”
“Justru karena itu, lepaskan aku dengan baik.”
Perceraian mereka berlangsung tanpa skandal.
Kirana pergi bukan sebagai perempuan yang kalah, melainkan sebagai seseorang yang memilih menghargai dirinya sendiri.
Setahun berlalu.
Dharma tidak pernah meminta Sekar menikah dengannya lagi.
Sampai suatu sore mereka duduk di taman sementara Raka bermain sepeda.
“Sekar.”
“Hm?”
“Dulu aku menikahimu karena merasa terpaksa.”
Sekar menatapnya.
“Sekarang aku ingin menanyakan sesuatu tanpa memaksamu.”
Dharma mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Sekar langsung menegang.
“Aku tidak meminta jawaban hari ini.”
Kotak itu dibuka.
Sebuah cincin sederhana berada di dalamnya.
“Kalau suatu hari kamu merasa aku sudah cukup berubah untuk menjadi pasanganmu, bukan karena Raka, bukan karena masa lalu, aku ingin menikahimu lagi.”
Mata Sekar berkaca-kaca.
“Tapi kalau jawabannya tidak pernah berubah menjadi iya?”
Dharma tersenyum.
“Aku tetap akan menjadi ayah Raka.”
Sekar terdiam lama.
Kemudian ia menutup kotak tersebut.
Dharma menunduk, mengira itu penolakan.
Namun Sekar justru berkata,
“Belum.”
Dharma mengangkat kepala.
“Belum?”
“Saya belum bisa bilang iya.”
Sekar tersenyum tipis.
“Tapi saya juga tidak bilang tidak.”
Untuk pertama kalinya, Dharma tertawa tanpa beban.
Dari kejauhan Raka berteriak memanggil mereka.
“Mama! Papa! Lihat Raka!”
Mereka menoleh bersamaan.
Raka mengayuh sepedanya tanpa roda bantu untuk pertama kalinya.
Sekar spontan berlari mengejarnya.
Dharma ikut berlari.
Dan di tengah tawa anak mereka, Dharma akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kekayaan keluarga Mangkuluhur.
Mencintai seseorang bukan berarti memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan kedua.
Kesempatan kedua adalah hadiah.
Dan hadiah itu hanya layak diterima oleh seseorang yang bersedia bertanggung jawab atas luka yang pernah ia ciptakan.
Beberapa bulan kemudian, Sekar akhirnya menerima cincin itu.
Bukan karena Dharma adalah ayah dari anaknya.
Bukan karena pria itu kaya.
Bukan pula karena Sekar masih menjadi gadis sederhana yang dulu mengejarnya di halaman mansion.
Sekar menerimanya karena selama hampir dua tahun Dharma tidak pernah lagi meminta kepercayaan dengan kata-kata.
Ia membangunnya lewat tindakan.
Pernikahan kedua mereka berlangsung sederhana.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada ratusan tamu.
Hanya keluarga terdekat dan beberapa sahabat.
Sebelum akad dimulai, Raka berdiri di antara mereka sambil menggenggam tangan keduanya.
Sekar menatap Dharma.
“Mas masih ingat apa yang Mas katakan lima tahun lalu?”
Dharma tersenyum getir.
“Terlalu ingat.”
“Kita memang tidak sepadan.”
Wajah Dharma berubah.
Namun Sekar melanjutkan sambil tersenyum.
“Karena Dharma yang dulu tidak pantas untuk Sekar yang sekarang.”
Dharma terdiam.
Lalu tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu benar.”
Sekar menggenggam tangannya.
“Tapi Dharma yang sekarang boleh mencoba.”
Dharma menundukkan kepala, menahan air mata.
Dan saat itulah ia sadar bahwa akhir kisah mereka sebenarnya bukan ketika Sekar kembali menjadi istrinya.
Akhir yang sesungguhnya terjadi ketika perempuan yang dahulu memohon agar dicintai akhirnya memiliki keberanian menentukan sendiri siapa yang pantas berada di sisinya.
Sedangkan pria yang dahulu merasa terlalu tinggi untuk mencintainya akhirnya belajar bahwa cinta tidak pernah mengenal kasta.
Yang membuat seseorang layak dicintai bukan nama keluarga, kekayaan, ataupun kekuasaan.
Melainkan bagaimana ia memperlakukan hati yang dipercayakan kepadanya.
