“Tidak ada lagi pembahasan bisnis di rumah ini, apalagi pertemuan pribadi di hotel.”
Kalimat Mas Pram membuat suasana di meja makan berubah seketika.
Ibu Wulan meletakkan gelasnya sedikit terlalu keras hingga terdengar bunyi beradu dengan meja. Wajahnya yang sejak tadi masam kini semakin tegang.
“Pram, kamu jangan terlalu membesar-besarkan masalah,” katanya. “Siska itu bukan orang asing. Kamu sudah mengenalnya bertahun-tahun. Papanya juga banyak membantu perusahaanmu.”
“Aku tahu, Bu.”
Mas Pram tetap tenang.
“Justru karena ada hubungan bisnis, semuanya harus profesional.”
“Tapi Devi yang membuat masalah ini seolah-olah Siska perempuan murahan.”
Aku mengangkat wajah.
Aku sudah menduga namaku akan terseret.
Mas Pram tidak langsung menjawab. Dia menatap ibunya beberapa detik sebelum berkata, “Devi tidak bilang begitu kepadaku.”
Ibu Wulan terdiam.
“Dia hanya memberitahu Siska datang membawa alasan urusan proyek dan menyarankan pembicaraan dilakukan di kantor. Aku sudah menghubungi Pak Surya, dan beliau sendiri bilang hari ini tidak ada dokumen mendesak yang harus dibahas.”
Wajah Ibu Wulan berubah.
Aku pun sedikit terkejut.
Jadi Mas Pram benar-benar memeriksanya.
“Pak Surya bahkan tidak tahu Siska datang ke rumah ini.”
Kini Ibu Wulan benar-benar kehilangan kata-kata.
Mas Pram melanjutkan makan seolah baru saja mengatakan sesuatu yang biasa.
“Mulai sekarang aku ingin rumah menjadi tempat untuk keluarga. Urusan kantor tetap di kantor.”
Ibu Wulan mendorong kursinya ke belakang.
“Nafsu makan Ibu hilang.”
Beliau bangkit lalu berjalan menuju kamar tanpa menatapku.
Aku tidak mengejarnya.
Mas Pram menghela napas panjang.
“Maaf.”
Aku menatapnya. “Kenapa Mas minta maaf?”
“Karena kamu harus menghadapi semua ini.”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa. Aku bisa menghadapinya.”
Mas Pram menatapku lama, seolah sedang melihat seseorang yang baru dikenalnya.
“Mungkin selama ini aku terlalu meremehkanmu.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa hangat.
Namun aku tidak ingin terlalu cepat berharap.
Perubahan beberapa hari tidak bisa menghapus luka bertahun-tahun.
Malam itu setelah Eliana tidur, aku sedang merapikan pakaian ketika ponselku berbunyi.
Nomor tidak dikenal mengirim pesan.
Jangan merasa menang dulu. Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu lawan.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Tidak ada nama.
Namun aku bisa menebak siapa pengirimnya.
Aku tidak membalas.
Aku hanya mengambil tangkapan layar lalu menyimpannya.
Dulu mungkin aku akan ketakutan. Sekarang aku justru merasa pesan itu adalah bukti bahwa seseorang mulai kehilangan kendali.
Tiga hari berlalu tanpa kejadian berarti.
Siska tidak datang lagi.
Ibu Wulan masih bersikap dingin, tetapi setidaknya tidak lagi memaksakan catatan belanja palsu kepada Bi Minah.
Mas Pram juga mulai pulang lebih awal.
Hal kecil yang paling mengejutkanku justru terjadi setiap pagi.
Dia mulai sarapan di rumah.
Biasanya dia hanya minum kopi sebelum berangkat. Sekarang dia duduk bersama kami, menggendong Eliana, bahkan sesekali membantuku menyuapinya.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, rumah itu terasa seperti rumah.
Sayangnya, ketenangan itu hanya bertahan sampai Jumat sore.
Aku sedang menemani Eliana bermain ketika Mas Pram pulang jauh lebih cepat dari biasanya.
Wajahnya pucat.
“Vi.”
Aku langsung berdiri.
“Ada apa, Mas?”
Dia meletakkan ponselnya di meja.
Di layar terlihat sebuah foto.
Dadaku langsung berdesir.
Foto itu memperlihatkan Mas Pram dan Siska memasuki lift sebuah hotel.
Tanggalnya dua bulan lalu.
Foto berikutnya menunjukkan mereka berdiri di koridor lantai kamar.
Lalu ada tangkapan layar percakapan.
Aku membaca salah satunya.
Aku tunggu di kamar 1708. Jangan lama-lama. Aku kangen.
Pesan itu terlihat seolah dikirim Siska dan dibalas akun Mas Pram.
Aku akan segera ke sana.
Tanganku terasa dingin.
“Foto-foto ini dikirim ke beberapa komisaris perusahaan,” kata Mas Pram. “Termasuk ke Papa.”
Aku menatapnya.
“Mas memang pergi ke hotel itu?”

“Iya.”
Jawabannya membuat dadaku seperti ditusuk.
Mas Pram segera melanjutkan.
“Tapi bukan untuk menemui Siska di kamar.”
Dia membuka surel di ponselnya.
“Hari itu ada pertemuan dengan konsultan dari Singapura. Rapatnya di ballroom hotel. Ada dua belas orang.”
“Lalu kenapa Mas dan Siska naik lift berdua?”
“Kami menuju ruang meeting di lantai tujuh belas. Dia datang terlambat dan kebetulan masuk lift yang sama.”
“Pesannya?”
“Palsu.”
Aku menatapnya tajam.
“Mas yakin?”
Mas Pram mengangguk.
“Nomor yang tercantum bukan nomorku.”
Aku memperbesar tangkapan layar.
Benar.
Nama kontaknya tertulis Pram, tetapi nomornya berbeda pada dua digit terakhir.
Seseorang sengaja membuat percakapan palsu.
Aku langsung teringat pesan ancaman.
Tanpa berkata apa-apa, aku menunjukkan tangkapan layar yang kusimpan.
Ekspresi Mas Pram berubah.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena belum ada yang terjadi.”
“Vi, ini ancaman.”
“Aku tahu. Makanya aku simpan.”
Mas Pram berjalan mondar-mandir.
Untuk pertama kalinya aku melihatnya benar-benar gelisah.
“Ini bukan lagi masalah pribadi. Seseorang sedang mencoba menghancurkan reputasiku.”
Belum sempat aku menjawab, terdengar suara Ibu Wulan dari belakang.
“Jangan menuduh Siska.”
Kami menoleh bersamaan.
Beliau berdiri di ambang pintu.
“Ibu tidak bilang dia pelakunya,” kata Mas Pram.
“Tapi wajahmu mengatakan begitu.”
Mas Pram terdiam.
Ibu Wulan mendekat.
“Siska mungkin emosional, tapi dia tidak sebodoh itu. Kalau reputasimu hancur, proyek papanya juga ikut rugi.”
Aku mengernyit.
Untuk sekali ini, perkataan Ibu Wulan masuk akal.
Kalau Siska memang ingin mendapatkan Mas Pram, menghancurkan bisnisnya justru tidak menguntungkan.
Lalu siapa?
Malam itu Mas Pram meminta tim IT perusahaan memeriksa sumber penyebaran foto dan percakapan palsu tersebut.
Dua hari kemudian hasil awal keluar.
Foto-foto memang asli.
Tetapi tangkapan layar percakapan dibuat menggunakan aplikasi pengeditan.
Yang lebih mengejutkan, foto Mas Pram dan Siska ternyata diambil dari kamera keamanan hotel.
Artinya, pelakunya punya akses ke rekaman CCTV.
Mas Pram segera menghubungi pihak hotel.
Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan bahwa rekaman tersebut pernah diminta secara resmi oleh seseorang dua minggu sebelumnya.
Alasannya untuk kepentingan investigasi internal perusahaan.
Nama pemohonnya membuat Mas Pram terdiam.
Rendra Saputra.
Direktur keuangan perusahaan Mas Pram sendiri.
“Pak Rendra?” tanyaku tidak percaya.
Mas Pram mengangguk.
“Dia sudah bekerja bersamaku hampir delapan tahun.”
Namun masalahnya ternyata jauh lebih besar.
Audit internal yang dilakukan diam-diam menemukan transaksi mencurigakan dari proyek apartemen milik keluarga Siska.
Ada pembayaran kepada tiga perusahaan vendor yang ternyata tidak memiliki kantor nyata.
Totalnya hampir sebelas miliar rupiah.
Semua pembayaran disetujui oleh Rendra.
Dan satu nama lain.
Siska Surya.
Aku merasa bulu kudukku berdiri ketika melihat dokumen yang dibawa Mas Pram malam itu.
“Jadi Siska memang terlibat?”
“Belum tentu dalam semuanya.”
Mas Pram menunjuk beberapa transaksi.
“Sebagian tanda tangan digitalnya kemungkinan dipakai tanpa sepengetahuannya. Tapi ada dua pembayaran yang dia setujui sendiri.”
“Mas sudah bicara dengannya?”
“Besok.”
Aku menatapnya.
“Di kantor?”
Mas Pram tersenyum tipis.
“Di kantor. Dengan pengacara dan auditor.”
Keesokan harinya, sesuatu yang tidak kami duga terjadi.
Siska datang ke rumah sebelum pertemuan itu berlangsung.
Kali ini wajahnya berbeda.
Tidak ada riasan sempurna.
Tidak ada tas mahal yang dipamerkan.
Matanya sembap seperti habis menangis.
Begitu melihatku, dia langsung berkata, “Aku mau bicara dengan Pram.”
“Mas Pram sudah ke kantor.”
Wajahnya semakin pucat.
“Devi, aku tahu kamu membenciku.”
“Aku tidak membencimu.”
Dia tertawa getir.
“Setelah semua yang kulakukan?”
Aku diam.
Siska menunduk.
“Aku memang menyukai Pram.”
Akhirnya pengakuan itu keluar.
“Aku tahu dia sudah menikah. Aku juga tahu apa yang kulakukan salah.”
Tangannya gemetar.
“Tapi soal uang proyek, aku tidak mengambilnya.”
“Kalau begitu kenapa tanda tanganmu ada di dokumen?”
“Karena Rendra bilang pembayaran itu untuk percepatan izin.”
Aku menatapnya.
“Dan Mbak percaya?”
“Aku bodoh.”
Air mata jatuh di pipinya.
“Papa menyerahkan banyak urusan proyek kepadaku supaya aku belajar mengelola bisnis. Aku takut terlihat tidak kompeten. Rendra selalu membantu dan meyakinkanku bahwa semuanya normal.”
Tiba-tiba Siska memegang tanganku.
“Devi, tolong bilang ke Pram jangan percaya Rendra.”
Aku melepaskan tanganku perlahan.
“Kenapa?”
Siska menatap ke arah tangga.
Lalu suaranya mengecil.
“Karena Rendra tidak bekerja sendirian.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Siapa?”
Siska membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, terdengar suara benda jatuh dari lantai atas.
Kami berdua menoleh.
Ibu Wulan berdiri di tangga.
Wajahnya pucat seperti kehilangan seluruh darah dari tubuhnya.
Siska menatap beliau.
Dan saat itulah aku tahu.
Ada sesuatu yang selama ini tidak kuketahui.
“Bu?” panggilku.
Ibu Wulan tidak menjawab.
Siska berdiri.
“Maaf, Tante. Saya tidak bisa menutupinya lagi.”
“Apa maksudnya?” tanyaku.
Ibu Wulan tiba-tiba turun dengan cepat.
“Siska, pulang!”
“Tante harus jujur.”
“Pulang!”
“Sebelas miliar itu tidak semuanya masuk ke Rendra.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatap Ibu Wulan.
Beliau menggenggam pegangan tangga erat-erat.
“Sebagian uangnya masuk ke rekening perusahaan milik seseorang bernama Wulan Kusumawardhani.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Nama lengkap Ibu Wulan.
“Tidak mungkin,” bisikku.
Namun ekspresi beliau sudah menjawab semuanya.
Beberapa detik kemudian pintu depan terbuka.
Mas Pram masuk bersama seorang pria berjas yang kukenal sebagai pengacara perusahaan.
Ternyata dia pulang karena Siska tidak hadir dalam pertemuan.
Tatapan Mas Pram berpindah dari Siska kepada ibunya.
“Apa yang terjadi?”
Tidak seorang pun menjawab.
Aku mengambil dokumen yang dibawa Siska dan menyerahkannya kepada Mas Pram.
Dia membaca halaman pertama.
Lalu kedua.
Wajahnya perlahan berubah.
“Bu?”
Ibu Wulan mulai menangis.
“Pram, Ibu bisa jelaskan.”
“Sebelas miliar?”
“Bukan sebelas! Ibu cuma menerima dua miliar!”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Semua orang membeku.
Ibu Wulan sendiri langsung menutup mulut.
Terlambat.
Mas Pram menatap ibunya seolah perempuan di depannya adalah orang asing.
“Dua miliar untuk apa?”
Ibu Wulan terduduk di sofa.
Ternyata selama hampir satu tahun, Rendra menggunakan kedekatannya dengan Ibu Wulan untuk memuluskan pembayaran fiktif. Sebagai imbalan, Ibu Wulan menerima sejumlah uang yang disebut sebagai komisi.
Awalnya hanya puluhan juta.
Kemudian ratusan juta.
Sampai akhirnya mencapai dua miliar.
Uang itulah yang selama ini membuat pengeluaran rumah terlihat tidak masuk akal.
Salon mahal, barang bermerek, transfer kepada kerabat, bahkan catatan belanja palsu yang dipaksakan kepada Bi Minah digunakan untuk menyamarkan gaya hidup yang tidak mungkin ditopang hanya dari uang bulanan Mas Pram.
Yang paling menyakitkan adalah alasan Ibu Wulan.
“Ibu cuma ingin menikmati hidup,” katanya sambil menangis. “Sejak ayahmu meninggal, Ibu merasa tidak punya apa-apa. Kamu sibuk. Kamu punya istri dan anak. Ibu takut suatu hari tidak dianggap lagi.”
Mas Pram berdiri diam.
“Aku memberikan semua yang Ibu butuhkan.”
“Tapi rumah ini sekarang milik Devi!”
Aku tersentak.
Jadi selama ini bukan sekadar kebencian.
Ibu Wulan takut kehilangan kendali.
Beliau menganggap kehadiranku sebagai ancaman.
Siska pun dimanfaatkan sebagai calon menantu yang dianggap lebih mudah dikendalikan karena berasal dari keluarga kaya dan memiliki kepentingan bisnis yang sama.
Mas Pram memejamkan mata.
“Aku tidak akan menutupi masalah ini, Bu.”
Ibu Wulan langsung berlutut.
“Pram!”
“Aku anak Ibu. Tapi aku juga bertanggung jawab terhadap perusahaan dan ratusan karyawan.”
“Jangan laporkan Ibu.”
Mas Pram menahan air mata.
“Aku tidak bisa menjanjikan itu.”
Malam itu menjadi malam terpanjang dalam keluarga kami.
Rendra akhirnya ditahan setelah penyelidikan lebih lanjut menemukan bukti penggelapan dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Ibu Wulan tidak dipenjara karena bersedia mengembalikan seluruh uang, bekerja sama dalam penyidikan, dan berdasarkan pemeriksaan terbukti tidak mengetahui keseluruhan skema Rendra. Namun reputasinya hancur, dan Mas Pram meminta beliau tinggal sementara di rumah kakaknya di Bandung.
Siska juga menghadapi pemeriksaan.
Dia kehilangan posisinya dalam proyek, tetapi kesaksiannya membantu membongkar jaringan transaksi fiktif.
Sebelum pergi, dia menemuiku.
“Devi.”
Aku menoleh.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Bukan hanya karena Pram,” lanjutnya. “Aku meremehkanmu karena kupikir perempuan yang memilih tinggal di rumah berarti lemah.”
Dia tersenyum pahit.
“Ternyata justru kamu satu-satunya orang di rumah ini yang tidak bisa dibeli.”
Aku menarik napas.
“Aku maafkan Mbak. Tapi memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”
“Aku mengerti.”
Setelah itu dia pergi.
Beberapa bulan kemudian, kehidupan kami berubah.
Mas Pram semakin terbuka kepadaku mengenai keuangan keluarga. Bi Minah tidak pernah lagi diminta memalsukan catatan belanja.
Dan yang paling penting, hubunganku dengan Mas Pram perlahan menjadi sesuatu yang selama ini tidak pernah kami miliki.
Kemitraan.
Suatu malam kami duduk di teras setelah Eliana tidur.
Mas Pram menggenggam tanganku.
“Vi.”
“Hm?”
“Aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Waktu semua orang mencoba mendekatiku karena uang, proyek, atau kepentingan, orang yang paling sering kuabaikan justru orang yang tidak pernah meminta apa-apa dariku.”
Aku tersenyum.
“Sekarang sadar?”
Dia tertawa kecil.
“Telat, ya?”
“Lumayan.”
Mas Pram menatapku.
“Boleh aku memperbaikinya?”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku melihat ke dalam rumah.
Rumah yang dulu membuatku merasa seperti orang asing.
Rumah tempat aku dihina karena dianggap tidak selevel dengan mereka.
Namun rumah yang sama kini terasa berbeda.
Bukan karena orang-orang yang menyakitiku sudah pergi.
Melainkan karena aku akhirnya memahami satu hal.
Harga diri tidak diberikan oleh suami, mertua, kekayaan, atau status sosial.
Harga diri tumbuh ketika kita berhenti meminta izin kepada orang lain untuk menghargai diri sendiri.
Aku menggenggam tangan Mas Pram kembali.
“Boleh.”
“Tapi?”
Aku tersenyum.
“Mulai dari mencuci piring bekas makan malam.”
Mas Pram tertawa.
“Siap, Bu Devi.”
Aku ikut tertawa.
Dari kamar terdengar Eliana menangis kecil.
Kami berdua langsung berdiri bersamaan.
Mas Pram berlari lebih dulu menuju tangga.
Aku mengikutinya sambil tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa sedang berjuang mempertahankan rumah tanggaku sendirian.
Aku sedang membangunnya bersama seseorang yang akhirnya belajar berdiri di sisiku.
Ternyata kemenangan terbesar bukanlah membuat Siska pergi, membongkar kebohongan Ibu Wulan, atau menyelamatkan uang miliaran rupiah.
Kemenangan terbesar adalah ketika aku akhirnya menemukan kembali perempuan yang selama ini hilang di dalam diriku sendiri.
Devi yang berani.
Devi yang tenang.
Dan Devi yang tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menentukan seberapa berharga dirinya.
