“Maaf, pembayarannya gagal,” ujar kasir sambil mengembalikan kartu kepada Nolan setelah beberapa kali mencoba melakukan transaksi.

“Kenapa saldonya cuma seratus ribu?!”

Nolan menatap layar ATM dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram kartu begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Ia menekan tombol cek saldo sekali lagi.

Rp100.000.

Tidak berubah.

Dengan napas memburu, Nolan mengeluarkan ponsel dan membuka notifikasi transfer dari Nesya. Benar, beberapa menit lalu perempuan itu mengirim uang kepadanya.

Seratus ribu rupiah.

Tepat sejumlah uang yang pernah Nolan masukkan ke dalam tabungan mereka.

Barulah ia memahami maksud kalimat Nesya.

Aku sudah mengirim uangmu.

Bukan uang mereka.

Uangnya.

“Nesya!”

Nolan langsung menelepon.

Panggilan pertama tidak diangkat.

Kedua juga tidak.

Pada panggilan ketiga, sambungan akhirnya tersambung.

“Kamu mempermainkan aku?” bentaknya tanpa salam. “Kenapa cuma seratus ribu?”

Suara Nesya terdengar lemah karena demam, tetapi tetap tenang.

“Karena itu uangmu.”

“Apa?”

“Selama hampir tiga tahun kita menabung, kamu cuma pernah memasukkan seratus ribu. Aku mengembalikan semuanya. Kurang apa?”

“Itu tabungan kita!”

“Tabungan kita?”

Nesya tertawa kecil.

“Mas, jangan membuatku tertawa saat sedang demam. Aku yang menyetor setiap bulan. Aku yang mengambil pekerjaan tambahan. Aku yang mengurangi belanja. Bahkan saat kamu bilang gajimu habis untuk membantu keluarga, aku tidak pernah menuntut.”

“Nanti setelah menikah uangmu juga jadi uang keluarga!”

“Tapi kita belum menikah.”

Nolan terdiam.

Kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan.

“Dan setelah apa yang kamu lakukan pada kalung Ibu,” lanjut Nesya, “aku mulai berpikir mungkin kita memang tidak akan pernah menikah.”

“Nesya, jangan kekanak-kanakan!”

“Yang menjual kalung milik orang lain untuk membeli gaun adiknya siapa?”

Klik.

Sambungan terputus.

Nolan memaki pelan.

Saat itulah ponselnya kembali berbunyi. Pesan dari Citra muncul.

Kak, besok jangan lupa motornya ya. Aku sudah bilang ke teman-temanku kalau Kak Nolan mau kasih hadiah pernikahan.

Nolan menutup mata.

Ia sudah terlanjur berjanji.

Lebih buruk lagi, uang hasil menjual kalung tadi sudah habis untuk membayar gaun. Uang pinjaman dari teman kantornya pun sudah ia transfer kepada Nesya sebagai biaya menebus kalung.

Sekarang ia hanya memiliki seratus ribu.

Dan utang.

Nolan keluar dari ATM dengan kepala panas. Namun alih-alih menyadari kesalahannya, ia justru semakin menyalahkan Nesya.

Menurutnya, semua kekacauan ini terjadi karena perempuan itu tiba-tiba berani melawan.

Sementara itu, Nesya sedang duduk di kursi belakang taksi dengan tubuh menggigil.

Kalung ibunya berada dalam genggamannya.

Ia menatap liontin kecil berbentuk bunga itu lama sekali.

Kenangan tentang ibunya bermunculan satu per satu. Tentang tangan hangat yang menyisir rambutnya. Tentang suara lembut yang selalu mengatakan bahwa cinta tidak pernah meminta seseorang kehilangan harga dirinya.

Air mata Nesya jatuh.

Selama ini ia mengira mempertahankan Nolan adalah bentuk kesetiaan.

Ternyata ia hanya terlalu takut mengakui bahwa dirinya telah memilih orang yang salah.

Sesampainya di rumah, kondisi Nesya semakin buruk. Nita yang datang menjenguk langsung membawanya ke klinik.

“Kamu gila, ya?” omel Nita sambil membantu Nesya berjalan. “Demam hampir tiga puluh sembilan derajat masih keluyuran.”

“Aku harus mengambil kalung Ibu.”

“Terus Nolan?”

Nesya diam sejenak.

“Aku rasa semuanya selesai.”

Nita menatap sahabatnya.

“Kamu yakin?”

Nesya menggenggam kalung itu.

“Untuk pertama kalinya, aku yakin.”

Dua hari kemudian, demam Nesya mulai turun.

Pada pagi itu, Nolan datang ke rumahnya.

Ia membawa sebuket bunga dan sekotak makanan kesukaan Nesya.

“Nes.”

Nesya berdiri di balik pintu tanpa mempersilahkannya masuk.

“Ada apa?”

“Aku mau minta maaf.”

Nada suara Nolan berbeda. Tidak ada bentakan. Tidak ada wajah angkuh.

“Aku khilaf soal kalung itu.”

“Khilaf?”

“Aku terdesak.”

“Orang terdesak bisa meminjam uang. Bukan mencuri barang milik calon istrinya.”

Nolan menghela napas.

“Oke. Aku salah. Tapi kita sebentar lagi menikah. Masa hubungan bertahun-tahun mau dihancurkan gara-gara satu kalung?”

Tatapan Nesya berubah.

“Buatmu itu cuma satu kalung?”

“Nes, bukan begitu maksudku.”

“Kalung itu peninggalan terakhir ibuku.”

Nolan hendak menjawab, tetapi Nesya lebih dulu berbicara.

“Dan sebenarnya masalahnya bukan kalung.”

“Terus?”

“Masalahnya adalah kamu merasa berhak mengambil milikku tanpa izin. Kamu menganggap uangku uangmu, tapi uangmu tetap uangmu. Kamu menjual barangku untuk menyenangkan Citra. Setelah ketahuan, kamu malah menyalahkanku.”

Wajah Nolan mulai menegang.

“Aku kan kakaknya. Wajar aku membantu Citra.”

“Aku nggak pernah melarang.”

“Terus masalahmu apa?”

“Kamu membantu dia menggunakan milikku.”

Nolan kehilangan kesabaran.

“Ya Tuhan, Nesya! Nanti juga setelah menikah semuanya jadi milik bersama!”

Nesya menatapnya beberapa detik.

Kemudian ia masuk ke dalam rumah dan kembali membawa sebuah kotak.

Nolan mengenal kotak itu.

Kotak cincin pertunangan mereka.

Nesya menyerahkannya.

“Makanya kita nggak usah menikah.”

Wajah Nolan membeku.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Nesya, pernikahan kita tinggal beberapa minggu!”

“Masih cukup waktu untuk membatalkannya.”

“Undangan sudah dicetak!”

“Aku akan menghubungi tamu dari pihakku.”

“Gedung?”

“Deposit dari uangku. Aku yang urus.”

Nolan terdiam.

Untuk pertama kalinya ia sadar betapa banyak biaya pernikahan mereka sebenarnya berasal dari Nesya.

Namun harga dirinya membuatnya tetap berkata, “Kamu bakal menyesal.”

“Mungkin.”

Nesya tersenyum tipis.

“Tapi menyesal membatalkan pernikahan jauh lebih murah daripada menyesal setelah menikah.”

Pintu ditutup.

Nolan berdiri di teras dengan wajah merah padam.

Beberapa hari berikutnya menjadi mimpi buruk baginya.

Nesya benar-benar membatalkan semuanya.

Vendor dekorasi, fotografer, katering, sampai gedung menerima pemberitahuan pembatalan dari pihak Nesya.

Sebagian deposit dapat dikembalikan. Sebagian tidak.

Yang membuat Nolan semakin marah, semua uang pengembalian masuk ke rekening Nesya karena pembayaran awal memang dilakukan olehnya.

Citra mengetahui masalah itu saat sedang mencoba gaun pengantinnya.

“Kak Nesya putus sama Kakak?”

Nolan mengangguk kesal.

“Karena kalung?”

“Dia membesar-besarkan masalah.”

Citra terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membela Nolan.

“Kak… kalung itu benar punya ibunya?”

“Iya.”

“Dan Kakak jual buat bayar gaunku?”

Nolan menatap adiknya.

“Kakak melakukan itu buat kamu.”

Wajah Citra berubah.

Kalimat tersebut bukannya membuatnya tersentuh, justru membuat dadanya terasa tidak nyaman.

“Kenapa Kakak nggak bilang?”

“Kalau bilang, kamu pasti menolak.”

“Tentu aku menolak!”

Suara Citra meninggi.

“Aku memang mau gaun itu. Aku memang sempat kesal sama Kak Nesya. Tapi aku nggak pernah menyuruh Kakak mencuri kalung ibunya!”

“Jangan bilang mencuri!”

“Kalau mengambil tanpa izin lalu menjualnya, namanya apa?”

Nolan terdiam.

Citra menatap gaun mahal yang tergantung di depannya.

Tiba-tiba gaun itu tidak lagi terlihat indah.

Ia justru merasa jijik.

“Aku nggak mau pakai gaun ini.”

“Apa?”

“Jual lagi.”

“Citra!”

“Aku serius.”

Citra melepas sarung tangan pengantin yang sedang dicobanya.

“Aku nggak mau memulai pernikahanku dengan memakai sesuatu yang dibeli dari kesedihan orang lain.”

Nolan tidak menyangka adiknya sendiri akan berkata demikian.

“Kakak melakukan semuanya demi kamu!”

“Jangan jadikan aku alasan untuk membenarkan kesalahan Kakak.”

Citra pergi meninggalkannya.

Namun masalah Nolan belum selesai.

Teman kantor yang meminjamkan uang mulai menagih karena ternyata uang itu berasal dari dana yang seharusnya digunakan untuk membayar cicilan rumah.

Di saat bersamaan, showroom motor terus menghubungi Nolan karena ia sempat memberikan uang tanda jadi untuk motor yang dijanjikannya kepada Citra.

Tidak memiliki cukup uang, Nolan mengambil jalan pintas.

Ia menggunakan uang kas proyek kantor yang sementara berada dalam tanggung jawabnya.

Dalam pikirannya, hanya beberapa hari.

Setelah menerima bonus, ia akan mengembalikannya.

Sayangnya bonus yang diharapkan tidak pernah datang.

Audit internal dilakukan lebih cepat dari jadwal.

Selisih dana ditemukan.

Nolan dipanggil atasannya.

“Uang tiga puluh juta ini ke mana?”

Nolan berkeringat.

“Saya bisa jelaskan, Pak.”

“Silakan.”

Namun tidak ada penjelasan yang mampu mengubah fakta.

Uang perusahaan digunakan untuk kepentingan pribadi.

Nolan diberhentikan.

Perusahaan memberinya kesempatan mengembalikan dana sebelum kasus dibawa ke jalur hukum.

Hari itu, untuk pertama kalinya Nolan duduk sendirian di sebuah warung kopi pinggir jalan dan benar-benar menyadari betapa berantakannya hidupnya.

Pernikahannya batal.

Pekerjaannya hilang.

Utangnya menumpuk.

Citra bahkan tidak mau menerima motor yang hampir membuatnya terseret kasus.

Dan orang yang paling ingin ia salahkan sudah tidak ada di sisinya.

Sebulan kemudian, Nolan mendatangi kantor Nesya.

Ia menunggu hampir satu jam di lobi sampai akhirnya perempuan itu muncul.

Nesya terlihat berbeda.

Bukan karena pakaian atau riasannya.

Tatapannya jauh lebih ringan.

“Nes.”

Nesya berhenti.

“Aku dengar kamu kehilangan pekerjaan,” katanya.

Nolan menunduk.

“Siapa yang bilang?”

“Citra.”

Nolan terkejut.

Ternyata Citra beberapa kali meminta maaf kepada Nesya. Bahkan mereka mulai berkomunikasi tanpa sepengetahuannya.

“Aku kacau, Nes.”

Nolan tersenyum pahit.

“Aku baru sadar selama ini kamu yang membuat hidupku kelihatan baik-baik saja.”

Nesya tidak menjawab.

“Aku mau berubah.”

“Bagus.”

Mata Nolan berbinar.

“Kalau begitu kita—”

“Tapi berubah bukan tiket untuk kembali kepadaku.”

Harapan di wajah Nolan padam.

Nesya mengeluarkan sebuah amplop dari tas.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya terdapat bukti transfer.

Nolan mengernyit.

Nesya telah mengirim sejumlah uang.

Jumlahnya tepat seratus ribu rupiah.

“Kenapa?”

Nesya menatapnya tenang.

“Dulu kamu pernah memasukkan seratus ribu ke tabungan kita. Waktu itu sudah kukembalikan. Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin uang itu memang satu-satunya bagian yang pernah benar-benar kamu berikan untuk masa depan kita.”

Nolan menatap lembar bukti transfer itu dengan mata memerah.

“Sekarang aku mengembalikannya sekali lagi supaya nggak ada satu rupiah pun milikmu yang tersisa dalam hidupku.”

“Nesya…”

“Aku nggak membencimu, Mas.”

Nesya menarik napas.

“Aku cuma nggak mau kembali menjadi perempuan yang mengira mencintai seseorang berarti harus terus memaklumi semuanya.”

Ia berbalik.

Namun sebelum pergi, Nesya berhenti.

“Oh iya. Citra menjual gaunnya.”

Nolan terdiam.

“Uangnya dipakai untuk membantu melunasi sebagian utangmu ke kantor.”

“Apa?”

“Dia bilang itu bukan tanggung jawabnya. Tapi dia tetap melakukannya karena nggak mau Kakaknya masuk penjara.”

Mata Nolan berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya, rasa malu yang ia rasakan bukan karena tidak punya uang.

Melainkan karena menyadari orang-orang di sekelilingnya terus membayar harga dari kesalahannya.

“Nesya.”

Perempuan itu menoleh.

“Maaf.”

Kali ini tidak ada alasan setelah kata maaf itu.

Tidak ada tetapi.

Tidak ada tuduhan.

Hanya maaf.

Nesya tersenyum tipis lalu pergi.

Beberapa bulan kemudian, kalung peninggalan ibunya tidak lagi disimpan di dalam kotak.

Nesya memakainya setiap hari.

Suatu pagi, sebelum berangkat bekerja, ia berdiri di depan cermin dan menyentuh liontin kecil di lehernya.

Dulu ia mengira benda itu hampir hilang karena Nolan.

Sekarang ia memahami sesuatu.

Yang hampir hilang sebenarnya bukan kalung itu.

Melainkan dirinya sendiri.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Citra masuk.

Mbak Nesya, hari ini aku akad. Aku tahu mungkin aku nggak pantas meminta ini, tapi doakan aku, ya.

Nesya tersenyum.

Ia mengetik balasan singkat.

Semoga bahagia. Jangan pernah kehilangan dirimu sendiri hanya demi mempertahankan seseorang.

Beberapa detik kemudian Citra membalas.

Terima kasih. Kak Nolan juga datang. Sekarang dia kerja lagi. Belum sehebat dulu katanya, tapi dia mulai melunasi semua utangnya sendiri.

Nesya membaca pesan itu tanpa rasa marah ataupun rindu.

Aneh.

Nama yang dulu begitu menentukan suasana hatinya kini hanya terlihat seperti nama biasa di layar.

Ia mengunci ponsel lalu menatap bayangannya sendiri.

Kalung ibunya berkilau terkena cahaya pagi.

Nesya tersenyum dan keluar dari rumah.

Pada akhirnya, seratus ribu rupiah yang dulu membuat Nolan marah justru menjadi harga paling murah untuk sebuah pelajaran yang sangat mahal.

Nolan belajar bahwa mencintai keluarga bukan berarti berhak mengorbankan milik orang lain.

Citra belajar bahwa hadiah yang dibayar dengan penderitaan seseorang tidak pernah benar-benar menjadi hadiah.

Dan Nesya belajar sesuatu yang paling penting.

Kadang-kadang, kehilangan calon suami bukanlah kegagalan sebuah pernikahan.

Kadang-kadang, itu adalah keberhasilan seseorang menyelamatkan hidupnya sebelum terlambat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang