Sosok di balik jendela itu tidak bergerak.
Aku pun membeku di depan pintu rumah.
Cahaya subuh yang pucat membuatku hanya bisa melihat bentuk tubuhnya. Seorang laki-laki. Tingginya hampir sama denganku, bahunya sedikit membungkuk, kepalanya miring seolah sedang mengamatiku dari balik tirai.
Lalu dia mengangkat tangan.
Telapak tangannya menempel pada kaca.
Aku mundur satu langkah.
Gerakan itu terasa anehnya familier.
Bukan hanya karena tubuhnya menyerupai tubuhku.
Cara dia memiringkan kepala, posisi bahunya, bahkan kebiasaan menekuk sedikit jari telunjuk saat mengangkat tangan…
semuanya seperti melihat diriku sendiri di depan cermin.
“Maya!”
Aku menghantam pintu sekali lagi.
“Maya, kalau kamu dengar aku, jangan keluar!”
Sosok itu tiba-tiba menghilang dari jendela.
Jantungku langsung berdegup semakin kencang.
Aku berlari ke samping rumah dan mencoba pintu belakang. Terkunci. Jendela dapur juga tertutup rapat.
Aku baru hendak menelepon polisi ketika terdengar bunyi dari dalam.
Klik.
Pintu depan terbuka.
Perlahan.
Aku menahan napas.
“Maya?”
Tidak ada jawaban.
Aku mendorong pintu dengan ujung jari.
Ruang tamu gelap.
Lampu mati. Televisi mati. Hanya ada cahaya kelabu dari luar yang masuk melalui celah tirai.
Hal pertama yang kulihat adalah ponsel Maya.
Tergeletak di lantai dekat sofa.
Layarnya retak.
“Maya!”
Aku masuk.
Baru dua langkah, aku berhenti.
Di atas meja ruang tamu ada sebuah foto cetak.
Foto yang sama dengan yang dikirim Maya kepadaku.
Aku sedang memeluk perempuan bergaun putih.
Tetapi sekarang aku menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat jelas di layar ponsel.
Di sudut foto terdapat tanggal.
Tiga belas November 2018.
Aku menatapnya lama.
Tahun 2018?
Aku dan Maya bahkan belum tinggal di rumah ini pada tahun itu.
Kami baru membeli rumah ini pada 2021.
Suara kecil terdengar dari lantai atas.
Krek.
Seperti papan lantai diinjak seseorang.
Aku mengambil tongkat golf yang kusimpan di dekat lemari sepatu.
“Maya?”
Tidak ada jawaban.
Aku menaiki tangga perlahan.
Setiap langkah membuat napasku semakin berat.
Pintu kamar kami terbuka.
Aku mendorongnya.
Kosong.
Selimut berantakan.
Lemari terbuka.
Lalu aku melihat sesuatu di bawah tempat tidur.
Kaki.
“Maya!”
Aku menjatuhkan tongkat dan berlutut.
Maya meringkuk di bawah tempat tidur dengan kedua tangan menutup mulut. Wajahnya pucat, matanya sembap karena menangis.
Begitu melihatku, dia justru mundur.
“Jangan dekat-dekat!”
Aku berhenti.
“Maya, ini aku.”
“Jangan!”
“Maya…”
“Buktikan.”
Aku terdiam.
“Apa?”
“Buktikan kamu suamiku.”
Air matanya mengalir.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Lalu aku teringat sesuatu.
“Waktu kita pertama kali kencan di Blok M, kamu bilang kamu alergi udang supaya aku berhenti memesan dimsum udang.”
Maya menatapku.
“Padahal kamu tidak alergi. Kamu cuma malu bilang kalau kamu sudah makan dua porsi sebelum aku datang.”
Bibirnya bergetar.
Aku melanjutkan.
“Dan waktu aku melamarmu di Bandung, cincin itu jatuh ke bawah kursi mobil. Kita mencarinya hampir satu jam. Kamu menangis bukan karena terharu, tapi karena mengira aku membatalkan lamaran.”
Maya menutup wajahnya.
Kemudian dia merangkak keluar dan langsung memelukku.
Tubuhnya gemetar hebat.
“Aku kira kamu mati.”
“Apa yang terjadi?”
Maya tidak langsung menjawab.
Dia menatap pintu kamar.
“Dia masih di rumah.”

“Siapa?”
“Kamu.”
Darahku kembali terasa dingin.
Maya menarik napas panjang.
“Tadi malam sekitar jam setengah dua aku terbangun karena mendengar pintu depan dibuka. Aku pikir kamu pulang lebih cepat.”
“Lalu?”
“Aku turun.”
Tangannya menggenggam bajuku semakin kuat.
“Kamu berdiri di ruang tamu.”
“Bukan aku.”
“Aku tahu sekarang.”
Maya menangis lagi.
“Awalnya aku benar-benar percaya itu kamu. Dia memakai bajumu. Jam tanganmu. Bahkan suaranya sama.”
Aku merasakan tengkukku meremang.
“Dia bicara?”
Maya mengangguk.
“Dia bilang perjalanan dinas dibatalkan dan kamu memutuskan pulang.”
“Terus perempuan dalam foto?”
Maya menatapku dengan ekspresi yang membuatku semakin takut.
“Perempuan itu sudah ada di sana.”
“Siapa dia?”
“Aku tidak tahu.”
Maya menjelaskan bahwa perempuan bergaun putih itu berdiri membelakangi tangga. Laki-laki yang menyerupaiku memeluknya seperti seseorang yang sedang menenangkan kekasihnya.
Maya diam-diam mengambil foto.
Lalu sosok yang menyerupaiku menoleh.
“Dia melihatmu?”
“Ya.”
Maya menelan ludah.
“Dan dia tersenyum.”
Aku memeluk Maya lebih erat.
“Setelah itu?”
“Aku lari ke atas, mengunci kamar, lalu mengirim fotonya kepadamu. Beberapa menit kemudian seseorang mengetuk pintu kamar.”
“Dia?”
Maya mengangguk.
“Dia bilang, ‘Maya, buka. Itu bukan suamimu yang di Semarang.’”
Bulu kudukku berdiri.
“Lalu sekitar pukul empat, pintu kamar terbuka sendiri. Aku bersembunyi di bawah tempat tidur.”
Aku segera menelepon polisi.
Sambil menunggu mereka datang, kami mengunci diri di kamar.
Anehnya, tidak ada lagi suara dari lantai bawah.
Dua puluh menit kemudian polisi tiba bersama petugas keamanan kompleks.
Mereka memeriksa seluruh rumah.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada tanda pembobolan.
Pintu dan jendela tidak rusak.
Yang lebih aneh, rekaman CCTV rumah kami mati sejak pukul 01.17 sampai 04.43.
Tepat selama kejadian berlangsung.
Seorang polisi kemudian memeriksa foto cetak yang kutemukan.
“Ini dari mana?”
“Di meja ruang tamu.”
Dia membalik foto itu.
Ada tulisan tangan di belakangnya.
Aku mengenali tulisan itu.
Tulisan tanganku sendiri.
Aku membacanya pelan.
“Untuk Rani. Semoga kali ini aku tidak terlambat.”
Maya menatapku.
“Siapa Rani?”
Aku tidak menjawab.
Bukan karena menyembunyikan sesuatu.
Aku benar-benar tidak tahu.
“Aku tidak kenal siapa pun bernama Rani.”
Polisi menyarankan kami meninggalkan rumah sementara sampai penyelidikan selesai.
Siang itu kami pergi ke rumah orang tua Maya di Depok.
Aku tidak bisa tidur.
Nama Rani terus berputar di kepalaku.
Sampai akhirnya, tanpa tahu kenapa, aku teringat satu hal.
Ibuku.
Aku meneleponnya.
“Bu, aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Ibu pernah kenal orang bernama Rani?”
Di ujung telepon mendadak sunyi.
“Bu?”
Suara ibuku berubah.
“Kamu dengar nama itu dari siapa?”
Jantungku berdegup lebih keras.
“Jadi Ibu kenal?”
“Datang ke rumah Ibu.”
“Bu, jawab dulu.”
“Datang sekarang.”
Sore itu aku menemui ibuku sendirian.
Begitu aku menunjukkan foto tersebut, wajahnya langsung kehilangan warna.
Tangannya gemetar ketika menyentuh gambar itu.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Di rumah.”
Ibuku duduk perlahan.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang mengubah semua yang kuketahui tentang hidupku.
“Kamu punya saudara kembar.”
Aku tertawa kecil karena mengira aku salah dengar.
“Apa?”
“Saudara kembar identik.”
Namanya Arya.
Kami lahir hanya berbeda tujuh menit.
Tetapi ketika berusia enam tahun, terjadi kecelakaan mobil di daerah Puncak.
Ayah mengemudi.
Ibu duduk di depan.
Aku dan Arya duduk di belakang bersama pengasuh kami.
Mobil tergelincir saat hujan deras dan jatuh ke jurang.
Aku selamat.
Ibu selamat.
Ayah meninggal.
Arya tidak pernah ditemukan.
“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”
“Karena setelah kecelakaan itu kamu kehilangan sebagian ingatan. Dokter bilang trauma berat. Setiap kali kami menyebut Arya, kamu mengalami serangan panik.”
“Rani siapa?”
Ibuku menunduk.
“Pengasuh kalian.”
Perempuan berusia dua puluh tiga tahun yang sangat dekat dengan kami.
Namanya Rani Kusuma.
Tubuhnya juga tidak pernah ditemukan.
Aku merasa ruangan berputar.
“Tapi foto ini tertanggal 2018.”
Ibuku mengambil foto itu dan menatapnya lama.
“Ini bukan 2018.”
Aku mengernyit.
Ibuku menunjuk sudut foto.
Angka terakhir ternyata bukan delapan.
Itu angka tiga yang tintanya tergores.
Aku hampir menjatuhkan foto tersebut.
“Tapi itu mustahil. Aku baru lahir tahun 1993.”
Ibuku membalik foto.
Kemudian menunjuk laki-laki dalam gambar.
“Itu bukan kamu.”
Aku menatapnya.
“Itu ayahmu.”
Napas seolah terhenti di tenggorokanku.
Ayahku memang sangat mirip denganku ketika muda.
Dan perempuan yang dipeluknya…
adalah Rani.
Tulisan di belakang foto juga bukan tulisanku.
Itu tulisan ayah.
Untuk Rani. Semoga kali ini aku tidak terlambat.
“Apa hubungan Ayah dengan Rani?”
Ibuku menutup mata.
“Dia bukan sekadar pengasuh kalian.”
Aku menunggu.
“Rani adalah ibu kandung Arya.”
Dunia seolah berhenti.
Ibuku kemudian menceritakan rahasia yang disimpannya selama puluhan tahun.
Ayah berselingkuh dengan Rani saat ibu sedang menjalani program kehamilan. Dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, ibu dan Rani sama-sama hamil.
Aku lahir dari ibu.
Arya lahir dari Rani tujuh hari setelahnya.
Karena takut skandal menghancurkan keluarga, ayah mengatur dokumen dan membesarkan kami seolah-olah kembar.
Kemiripan kami begitu kuat karena kami memiliki ayah yang sama.
“Lalu kecelakaan itu?”
Ibu mulai menangis.
“Malam itu Rani mau membawa Arya pergi. Ayah mengejar mereka. Aku ikut karena marah. Kami bertengkar di dalam mobil.”
Tanganku terasa dingin.
“Jadi kecelakaan itu bukan perjalanan keluarga?”
Ibu menggeleng.
“Itu malam ketika keluarga kita hancur.”
Polisi menghubungiku keesokan harinya.
Mereka menemukan sidik jari asing di rumah.
Bukan milikku.
Bukan milik Maya.
Tetapi ketika dibandingkan dengan arsip lama kepolisian terkait kecelakaan tahun 1999, ditemukan sesuatu yang mengejutkan.
Beberapa tahun setelah kecelakaan, seorang anak laki-laki tanpa identitas ditemukan hidup di sebuah desa di Cianjur.
Usianya sekitar enam tahun.
Ia tidak ingat namanya.
Anak itu kemudian masuk panti sosial sebelum diadopsi keluarga lain.
Nama barunya adalah Arga Pradana.
Polisi menemukan alamat terakhirnya di Bekasi.
Aku pergi bersama dua penyidik.
Rumah itu kosong.
Tetangganya mengatakan Arga pindah tiga hari sebelumnya.
Namun pemilik kontrakan memberikan sebuah kotak yang ditinggalkannya.
Di dalamnya terdapat foto-foto.
Puluhan foto.
Foto rumahku.
Foto kantorku.
Foto Maya.
Foto pernikahan kami yang diambil dari media sosial.
Dan sebuah foto terbaru.
Aku sedang memasuki hotel di Semarang pukul 21.08.
Di belakang foto itu ada tulisan.
“Akhirnya aku menemukanmu, Kak.”
Lututku hampir lemas.
Arga adalah Arya.
Saudara yang selama ini dianggap hilang ternyata masih hidup.
Tetapi satu pertanyaan tetap tidak terjawab.
Perempuan bergaun putih itu siapa?
Jawabannya datang seminggu kemudian.
Polisi menemukan Arya di sebuah rumah sakit swasta di Bogor.
Dia tidak melawan saat ditangkap.
Aku diizinkan menemuinya.
Ketika pintu ruang pemeriksaan dibuka, aku merasa seperti sedang melihat cermin.
Wajah kami hampir sama.
Hanya matanya yang berbeda.
Tatapannya penuh kelelahan.
“Arya?”
Dia tersenyum tipis.
“Akhirnya kamu ingat namaku.”
“Kenapa kamu melakukan semua ini?”
“Aku cuma ingin tahu apakah keluarga yang melupakanku masih bisa merasa takut kehilangan seseorang.”
Aku terdiam.
“Perempuan itu siapa?”
Senyumnya menghilang.
“Ibuku.”
“Rani?”
Dia mengangguk.
“Tapi dia selamat?”
Arya menatapku lama.
“Dia selamat dari kecelakaan. Dia yang menyelamatkanku. Kami hidup berpindah-pindah bertahun-tahun karena dia takut ayahmu akan mengambilku lagi.”
“Di mana dia sekarang?”
Arya menunduk.
“Meninggal tiga bulan lalu.”
Dadaku sesak.
“Jadi perempuan di rumahku malam itu…”
“Bukan Ibu.”
Aku membeku.
Arya mengangkat wajah.
“Aku datang sendirian.”
“Jangan bohong. Maya melihatmu memeluk seorang perempuan.”
“Aku tidak pernah masuk ke ruang tamumu.”
Aku berdiri.
“Apa?”
“Aku memang mengawasimu. Aku mengambil foto-foto itu. Aku juga datang ke kompleks malam itu.”
Dia menarik napas.
“Tapi aku hanya berdiri di luar pagar.”
“Lalu siapa yang ada di rumah?”
“Aku tidak tahu.”
Aku menatap penyidik.
Dia juga terlihat bingung.
Arya kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaket yang disita polisi.
Sebuah foto lama.
Ayahku berdiri bersama Rani.
Rani mengenakan gaun putih yang sama.
Seketika tubuhku terasa dingin.
Arya menatapku.
“Sebelum meninggal, Ibu selalu mengatakan satu kalimat.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari dia tidak ada, dia ingin melihat rumah tempat anak-anak ayahku hidup. Sekali saja.”
Aku tidak pernah benar-benar tahu siapa perempuan yang berdiri di ruang tamu malam itu.
Polisi tidak menemukan bukti keberadaannya.
Tidak ada sidik jari.
Tidak ada rekaman.
Tidak ada jejak kaki.
Hanya foto dari ponsel Maya.
Dan sampai sekarang, setiap kali aku melihat foto itu, ada satu detail yang membuatku tidak bisa tidur.
Bukan perempuan bergaun putih.
Bukan Arya.
Melainkan cermin besar di belakang mereka.
Di dalam foto, Arya terlihat memeluk perempuan itu.
Namun di pantulan cermin…
Arya berdiri sendirian.
Tangannya memeluk udara kosong.
Sedangkan perempuan bergaun putih itu berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Menghadap langsung ke kamera.
Dan untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat jelas.
Dia tersenyum.
Wajahnya sama persis dengan perempuan dalam foto lama yang ditunjukkan ibuku.
Rani.
Sejak hari itu aku berhenti menganggap masa lalu sebagai sesuatu yang sudah mati.
Karena terkadang, yang kita kubur bukanlah orang-orang yang telah pergi.
Melainkan kebenaran yang terlalu menyakitkan untuk kita akui.
Dan kebenaran selalu punya caranya sendiri untuk pulang.
