Hari aku meninggalkan rumah itu, aku membawa serta ular putih yang selama tiga tahun selalu Arga sebut sebagai harta paling berharga dalam hidupnya.

Hari aku meninggalkan rumah itu, aku membawa serta ular putih yang selama tiga tahun selalu Arga sebut sebagai harta paling berharga dalam hidupnya.

Namun sebelum benar-benar pergi, aku meletakkan ular itu di kamar tidur kami.

Kamar yang sejak malam itu…

tak pernah lagi berani dimasuki Arga.

“Aku yang memilih rumah ini.”

Itulah salah satu kalimat pertama yang Arga ucapkan setelah kami menikah. Saat itu, aku menganggapnya hanya sebagai candaan seorang suami yang terlalu bersemangat menyiapkan kehidupan baru.

Belakangan aku sadar…

Arga sama sekali tidak sedang bercanda.

Di rumah itu, hampir semua keputusan harus berasal darinya.

Warna dinding.

Mobil yang kami gunakan.

Pekerjaan yang boleh kujalani.

Bahkan pakaian yang kupakai saat menghadiri acara keluarga.

Kalau aku mencoba membantah, Arga tidak pernah berteriak.

Ia hanya tersenyum tipis, menatapku seolah sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala.

“Kamu terlalu emosional.”

Kalimat itu selalu diucapkannya dengan nada yang sama.

Pelan.

Tenang.

Meyakinkan.

Seolah-olah akulah masalahnya.

Seolah-olah aku memang perempuan yang tidak mampu berpikir jernih dan membutuhkan dirinya untuk menentukan apa yang terbaik bagiku.

Tiga tahun hidup bersama Arga perlahan membuatku mulai meragukan diriku sendiri.

Ketika aku menangis, katanya aku berlebihan.

Ketika aku marah, katanya aku tidak dewasa.

Ketika aku memilih diam, katanya aku sengaja mencari perhatian.

Apa pun yang kulakukan selalu salah.

Dan anehnya, semakin lama aku semakin percaya bahwa mungkin memang ada sesuatu yang salah denganku.

Namun dari semua hal yang ada di rumah itu, ada satu hal yang paling sulit kupahami.

Shiro.

Seekor ular albino berwarna putih pucat dengan panjang hampir dua meter.

Arga menyayanginya seperti anaknya sendiri.

Shiro memiliki ruangan khusus di rumah kami. Kandangnya besar dan selalu terawat, makanannya dipilih dengan teliti, bahkan Arga memiliki dokter hewan langganan yang bisa dihubunginya kapan saja jika terjadi sesuatu.

Setiap malam, hampir tanpa pernah terlewat, Arga menghabiskan waktu sekitar satu jam bersama Shiro.

Kadang aku melihatnya duduk di depan kandang sambil berbicara pelan.

Seolah ular itu benar-benar mengerti setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Suatu malam aku pernah berdiri di ambang pintu dan berkata sambil bercanda,

“Aneh, ya. Kamu lebih sering ngobrol sama ular daripada sama istrimu sendiri.”

Arga menoleh kepadaku.

Lalu tertawa kecil.

“Shiro tidak pernah berbohong.”

Aku terdiam.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa tidak nyaman.

Sejak saat itu, perlahan-lahan aku mulai membenci Shiro.

Bukan karena aku takut pada ular.

Bukan pula karena aku cemburu pada seekor hewan.

Aku membencinya karena setiap kali Arga marah kepadaku, ia selalu pergi ke ruangan Shiro.

Ia akan mengunci pintu dari dalam.

Lalu tinggal di sana selama berjam-jam.

Dan setiap kali keluar…

Arga selalu terlihat jauh lebih tenang.

Seolah semua kemarahannya telah ia ceritakan kepada ular putih itu.

Namun saat itu aku belum tahu bahwa Shiro bukan sekadar hewan peliharaan kesayangan Arga.

Dan aku juga belum tahu bahwa di ruangan itulah Arga menyimpan sesuatu yang selama tiga tahun pernikahan kami tidak pernah ingin ia tunjukkan kepadaku.

Semuanya berubah pada suatu Selasa malam.

Arga sedang berada di Surabaya untuk urusan pekerjaan. Setidaknya begitu yang ia katakan.

Sekitar pukul sebelas, listrik rumah tiba-tiba padam sesaat.

Ketika menyala kembali, terdengar bunyi alarm kecil dari ruangan Shiro.

Aku awalnya berusaha mengabaikannya.

Namun suara itu terus berbunyi.

Aku menelepon Arga dua kali.

Tidak diangkat.

Pesanku hanya centang satu.

Karena khawatir alat pengatur suhu kandang bermasalah, aku akhirnya mengambil kunci cadangan yang selama ini disimpan di laci ruang kerja.

Saat membuka pintu ruangan Shiro, udara hangat langsung menyambutku.

Ular itu tampak tenang di dalam kandangnya.

Alarm berasal dari alat pengatur kelembapan.

Aku mematikannya.

Seharusnya aku langsung keluar.

Tapi saat berbalik, mataku menangkap sesuatu yang aneh.

Sebuah papan kayu di bawah rak makanan Shiro terlihat sedikit bergeser.

Aku mendekat.

Ada bekas goresan baru di lantai.

Aku jongkok dan mencoba menggeser rak itu.

Berat.

Namun setelah beberapa kali mendorong, akhirnya rak bergeser beberapa sentimeter.

Di belakangnya ada sebuah pintu kecil.

Tidak besar.

Hanya seukuran lemari penyimpanan.

Jantungku mulai berdegup lebih cepat.

Aku tidak tahu apakah aku sedang melanggar privasi suamiku atau baru saja menemukan alasan kenapa selama tiga tahun aku selalu merasa ada sesuatu yang tidak beres di rumah itu.

Pintu itu tidak terkunci.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat lemari besi kecil, dua kotak plastik, beberapa map, dan sebuah laptop lama.

Aku membuka kotak pertama.

Isinya foto.

Puluhan foto.

Foto diriku.

Saat sedang tidur.

Saat mandi di kolam belakang rumah.

Saat menelepon ibuku.

Saat menangis sendirian di dapur.

Bahkan ada foto-foto yang diambil sebelum kami menikah.

Ketika aku masih tinggal di apartemen lama.

Tanganku mulai dingin.

Di bawah foto-foto itu terdapat catatan.

Tanggal.

Jam.

Lokasi.

Dan komentar singkat tulisan tangan Arga.

“Mulai bergantung.”

“Masih terlalu dekat dengan ibunya.”

“Sudah berhenti bertemu Rina.”

“Berhasil membuatnya keluar dari pekerjaan.”

Aku hampir menjatuhkan kotak itu.

Rina adalah sahabatku sejak kuliah.

Setahun setelah menikah, aku berhenti bertemu dengannya karena Arga selalu bilang Rina membawa pengaruh buruk.

Pekerjaanku sebagai copywriter juga kulepas setelah Arga mengatakan ritme kerjaku membuat rumah tangga kami tidak sehat.

Selama ini aku pikir semua itu adalah keputusan bersama.

Ternyata tidak.

Itu strategi.

Aku membuka map berikutnya.

Di dalamnya ada hasil pemeriksaan psikologis atas namaku.

Aku langsung tahu ada yang salah.

Aku tidak pernah menjalani pemeriksaan psikologis seperti itu.

Dokumen tersebut menyebutkan bahwa aku memiliki kecenderungan impulsif, gangguan kecemasan berat, dan ketidakstabilan emosional.

Tanda tanganku tertera di bawah.

Palsu.

Napas terasa sesak.

Aku membuka laptop.

Tidak memakai kata sandi.

Di desktop hanya ada beberapa folder.

Salah satunya bernama ISTRI.

Aku mengklik.

Isinya rekaman.

Ratusan rekaman.

Suara.

Video.

Percakapan kami.

Sebagian direkam tanpa sepengetahuanku.

Namun yang paling membuatku mual adalah beberapa file audio yang sudah dipotong-potong.

Dalam satu rekaman, suaraku terdengar seperti sedang mengancam Arga.

Padahal aku ingat percakapan aslinya.

Hari itu kami bertengkar karena ia membuang hadiah ulang tahun dari ibuku.

Aku berkata,

“Kalau kamu terus begini, aku bisa benar-benar kehilangan kendali.”

Di file yang tersimpan, bagian sebelum dan sesudah kalimat itu sudah dihapus.

Yang tersisa hanya suaraku.

Aku bisa benar-benar kehilangan kendali.

Aku membuka file lain.

Lebih buruk.

Semuanya dirancang untuk membuatku terdengar tidak stabil.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Arga menelepon.

Aku menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.

“Halo?”

“Kamu di mana?”

Suaranya terdengar normal.

Aku memaksa suaraku tetap tenang.

“Di kamar.”

Diam sebentar.

Lalu ia bertanya,

“Listrik sempat mati?”

“Sebentar.”

“Ruangan Shiro aman?”

Jantungku seperti berhenti.

“Aku nggak tahu.”

Sekali lagi hening.

Kali ini lebih panjang.

“Nadia.”

Itu pertama kalinya malam itu ia menyebut namaku.

“Ya?”

“Jangan masuk ruangan Shiro.”

Aku memandang laptop di depanku.

“Kenapa?”

“Karena aku bilang jangan.”

Nada suaranya berubah.

Bukan keras.

Justru sangat tenang.

Terlalu tenang.

Aku menutup laptop.

“Aku capek. Mau tidur.”

Ia tidak langsung menjawab.

Kemudian berkata,

“Aku pulang besok pagi.”

Telepon terputus.

Aku tidak tidur malam itu.

Aku memotret semua dokumen.

Menyalin seluruh isi laptop ke sebuah flashdisk.

Lalu menghubungi Rina.

Kami sudah hampir dua tahun tidak bicara.

Ketika ia mengangkat telepon dan mendengar suaraku, hal pertama yang dikatakannya bukan marah.

Bukan juga bertanya kenapa aku menghilang.

Ia hanya berkata,

“Nadia, kamu aman?”

Aku menangis.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, seseorang tidak bertanya apakah aku sedang berlebihan.

Ia hanya ingin tahu apakah aku aman.

Pagi itu Rina datang bersama kakaknya yang bekerja sebagai pengacara.

Namanya Dimas.

Kami duduk di sebuah kedai kopi jauh dari rumah.

Aku menunjukkan semua yang kutemukan.

Dimas membaca beberapa dokumen, lalu wajahnya mengeras.

“Dia sedang menyiapkan sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau suatu hari kalian bercerai, dia bisa menggunakan ini untuk menyatakan kamu tidak stabil. Bisa juga untuk melawan klaimmu atas aset. Bahkan kalau nanti kalian punya anak, dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menyerang kelayakanmu sebagai ibu.”

Aku menatapnya tanpa mampu berkata-kata.

Saat itu aku dan Arga memang sedang menjalani program kehamilan.

Tiga bulan sebelumnya ia bahkan sempat mengatakan,

“Kalau kita punya anak nanti, aku ingin semua keputusan soal anak tetap di tanganku. Kamu gampang panik.”

Tiba-tiba semua kalimatnya terasa memiliki arti berbeda.

Dimas menyarankan aku tidak kembali sendirian.

Namun aku tahu satu hal.

Kalau aku langsung kabur, Arga akan tahu aku sudah menemukan semuanya.

Aku butuh waktu.

Aku pulang sebelum Arga tiba.

Kutempatkan semua barang seperti semula.

Ketika mobilnya masuk ke garasi sekitar pukul sepuluh pagi, aku sedang membuat kopi di dapur.

Ia masuk.

Tidak memelukku.

Tidak menanyakan kabarku.

Pertanyaan pertamanya,

“Shiro aman?”

Aku menoleh sambil pura-pura kesal.

“Kalau kamu khawatir banget, cek sendiri.”

Ia menatapku beberapa detik.

Lalu berjalan ke ruangan Shiro.

Aku mendengar pintunya dikunci.

Hampir empat puluh menit kemudian ia keluar.

Wajahnya santai.

Ia mencium keningku.

“Kamu marah?”

“Capek.”

“Jangan terlalu banyak pikiran.”

Kalimat itu lagi.

Biasanya aku akan diam.

Hari itu aku tersenyum.

“Iya.”

Selama dua minggu berikutnya, aku hidup seperti biasa.

Tapi diam-diam aku mulai mengambil kembali hidupku.

Aku membuka rekening atas namaku sendiri.

Menghubungi mantan atasanku.

Mengambil beberapa pekerjaan freelance.

Memindahkan dokumen pribadiku ke rumah Rina.

Dimas juga mulai memeriksa aset pernikahan kami.

Dan dari situlah kami menemukan kebohongan lain.

Rumah yang selama ini selalu Arga sebut miliknya ternyata dibeli menggunakan uang dari penjualan tanah warisan ayahku.

Dulu Arga mengatakan tanah itu dijual untuk investasi bersama.

Aku menandatangani sejumlah dokumen tanpa membacanya secara detail.

Ia meyakinkanku bahwa semuanya hanya formalitas.

Sebagian uang ternyata digunakan untuk membeli rumah atas nama sebuah perusahaan milik Arga.

Sebagian lagi dipindahkan ke rekening lain.

Aku nyaris muntah saat melihat jumlahnya.

Hampir seluruh warisan ayahku.

Suatu malam, tiga hari sebelum aku pergi, Arga tiba-tiba bertanya saat kami makan malam,

“Kamu akhir-akhir ini sering keluar.”

“Ketemu Rina.”

Sendoknya berhenti.

“Rina?”

“Iya.”

“Bukannya kamu sudah nggak dekat sama dia?”

“Sekarang dekat lagi.”

Ia tersenyum kecil.

“Kamu tahu aku nggak suka dia.”

Aku menatap matanya.

“Sejak kapan aku harus berhenti berteman dengan orang hanya karena kamu tidak suka?”

Untuk sesaat, topeng tenang di wajahnya retak.

Sangat kecil.

Namun aku melihatnya.

“Kamu berubah.”

“Mungkin.”

Ia mencondongkan tubuh.

“Ada yang kamu sembunyikan?”

Aku hampir tertawa.

Ironis sekali.

Pria yang menyimpan ratusan rekaman rahasia sedang bertanya apakah aku menyembunyikan sesuatu.

“Tidak.”

Arga tidak percaya.

Malam itu ia masuk ke ruangan Shiro lebih lama dari biasanya.

Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun dan menyadari sisi ranjangnya kosong.

Dari lorong terdengar suara langkah.

Aku memejamkan mata ketika pintu kamar terbuka.

Arga berdiri cukup lama di ambang pintu.

Aku bisa merasakan tatapannya.

Lalu ia mendekat.

Mengambil ponselku dari meja.

Aku tetap berpura-pura tidur.

Beberapa menit kemudian, ponsel dikembalikan.

Pagi harinya, aku tahu aku tidak punya banyak waktu.

Hari kepergianku tiba dua hari kemudian.

Arga berangkat menghadiri rapat di luar kota.

Begitu mobilnya menghilang, Rina dan Dimas datang bersama dua orang petugas jasa pindahan.

Aku hanya membawa barang yang benar-benar milikku.

Pakaian.

Dokumen.

Laptop.

Foto keluarga.

Dan Shiro.

Rina menatapku saat aku meminta petugas membawa kandang portabel.

“Kamu serius bawa ularnya?”

“Serius.”

“Kenapa?”

Aku menatap Shiro.

Untuk pertama kalinya aku tidak merasa benci.

Ular itu tidak pernah melakukan apa pun kepadaku.

Ia hanya dijadikan penjaga diam dari semua rahasia Arga.

“Aku butuh dia untuk satu hal terakhir.”

Sebelum pergi, aku membawa Shiro ke kamar tidur utama.

Aku membiarkannya berada di dalam kandang portabel yang aman, lalu meletakkan kandang itu tepat di depan lemari pakaian Arga.

Di atas ranjang, aku menaruh sebuah amplop.

Di dalamnya ada salinan laporan hukum.

Bukti pemalsuan tanda tangan.

Bukti penggelapan dana warisan.

Bukti rekaman tanpa izin.

Dan satu lembar foto.

Foto dari kamera kecil yang ditemukan Dimas tersembunyi di sudut ruangan Shiro.

Kamera itu merekam Arga selama berbulan-bulan.

Bukan aku yang memasangnya.

Ternyata Arga sendiri.

Ia memasang kamera untuk memantau Shiro.

Dan tanpa sadar, kamera itu juga merekam dirinya saat membuka tempat rahasia, menyusun dokumen palsu, mengedit rekaman suaraku, dan melakukan panggilan dengan seseorang yang membantunya memindahkan uang.

Bukti terbaik justru dibuat oleh dirinya sendiri.

Di bagian belakang foto, aku menulis satu kalimat.

“Shiro memang tidak pernah berbohong.”

Aku pergi sebelum sore.

Sekitar pukul enam, ponselku mulai dipenuhi panggilan.

Arga.

Belasan kali.

Kemudian pesan.

“Kamu di mana?”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Kita perlu bicara.”

“Nadia, jangan bertindak bodoh.”

Lalu pesan terakhir.

“Keluarkan Shiro dari kamar.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Entah kenapa aku tersenyum.

Ular yang selama bertahun-tahun ia sebut sebagai harta paling berharganya sekarang justru membuatnya takut memasuki kamar sendiri.

Bukan karena Shiro berbahaya.

Melainkan karena di ruangan itu ada bukti bahwa kendalinya atas hidupku telah berakhir.

Beberapa minggu kemudian, proses hukum dimulai.

Arga mencoba menyangkal.

Ia mengatakan aku mencuri dokumen.

Ia mengatakan aku sedang mengalami gangguan emosional.

Ia bahkan menyerahkan hasil pemeriksaan psikologis palsu yang telah disiapkannya.

Sayangnya baginya, dokumen itu justru memperkuat kasus pemalsuan.

Orang yang menandatangani laporan tersebut akhirnya mengaku mendapat bayaran.

Transaksi keuangannya terlacak.

Rekaman video ada.

Metadata file ada.

Jejak pengeditan audio ada.

Kebohongannya runtuh satu demi satu.

Ketika terakhir kali aku melihat Arga di ruang mediasi, wajahnya tampak berbeda.

Bukan karena ia menua.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia tidak sedang mengendalikan siapa pun.

Ia menatapku lama.

“Aku melakukan semua itu karena aku takut kehilangan kamu.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Kamu nggak ngerti.”

“Aku ngerti sekarang.”

Aku menatap pria yang selama tiga tahun membuatku percaya bahwa aku tidak mampu memahami diriku sendiri.

“Kamu bukan takut kehilangan aku. Kamu takut kehilangan kendali atas aku.”

Arga terdiam.

Aku berdiri.

Sebelum pergi, ia bertanya pelan,

“Shiro di mana?”

Aku berhenti.

Lalu menoleh.

“Sudah aku serahkan ke pusat reptil yang legal. Sekarang dia dirawat orang yang tahu cara memperlakukan makhluk hidup tanpa menjadikannya alat untuk menyimpan rahasia.”

Wajah Arga mengeras.

Aku berjalan keluar.

Di luar gedung, Rina menungguku.

Udara siang Jakarta panas dan bising.

Klakson terdengar dari jalan.

Orang-orang berjalan terburu-buru.

Semua terasa biasa.

Namun bagiku, dunia seperti baru.

Beberapa bulan kemudian aku kembali bekerja penuh waktu.

Aku pindah ke apartemen kecil yang tidak dipilihkan siapa pun untukku.

Dinding ruang tamunya berwarna hijau muda.

Warna yang dulu pernah kukatakan kusukai dan langsung ditolak Arga karena katanya terlalu norak.

Aku membeli meja kerja murah.

Memasang rak buku sendiri.

Memilih tirai sendiri.

Untuk pertama kalinya, keputusan-keputusan kecil terasa seperti kemewahan.

Suatu sore, ketika sedang membereskan dokumen lama, aku menemukan foto pernikahanku dengan Arga.

Kami tersenyum di depan kamera.

Aku memandangi wajah perempuan dalam foto itu cukup lama.

Ia tampak bahagia.

Namun sekarang aku bisa melihat sesuatu yang dulu tidak kusadari.

Cara tanganku memegang lengan Arga terlalu erat.

Seolah aku takut kehilangan keseimbangan jika melepaskannya.

Aku memasukkan foto itu kembali ke kotak.

Bukan karena ingin melupakan.

Justru karena aku ingin mengingat.

Ada orang yang menghancurkan kepercayaan diri kita dengan bentakan.

Ada pula yang melakukannya dengan suara lembut, senyum tenang, dan kalimat-kalimat yang terdengar masuk akal.

Yang kedua sering kali jauh lebih sulit dikenali.

Karena kita baru sadar sedang dikurung setelah bertahun-tahun mengira dinding di sekitar kita adalah perlindungan.

Dan mungkin itulah hal terakhir yang diajarkan Shiro kepadaku.

Ular tidak selalu menjadi makhluk paling berbahaya di dalam sebuah rumah.

Kadang-kadang, yang paling berbahaya justru manusia yang terus meyakinkanmu bahwa kandang yang ia bangun adalah tempat paling aman untukmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang