Mobil hitam yang membawa kami meninggalkan San Diego Hills melaju pelan di bawah langit kelabu. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Ibu dan Paman Danang duduk di depan sambil membicarakan aset seolah baru selesai menghadiri rapat bisnis, bukan pemakaman seorang suami dan kakak kandung.
Aku duduk sendirian di kursi belakang.
Tanganku terus menggenggam kunci kecil pemberian Ayah.
Semakin kuat kugenggam, semakin terasa ujung logamnya menekan kulit telapak tanganku.
Aku membutuhkan rasa sakit itu.
Setidaknya untuk meyakinkan diriku bahwa semua yang baru terjadi bukan mimpi buruk.
“Rumah utama harus segera dibalik nama,” kata Paman Danang.
Ibu mengangguk. “Termasuk saham Rian di Pradipta Capital. Jangan sampai ada yang tertunda.”
Aku mengangkat wajah.
“Bukankah saham Ayah sudah hampir habis?”
Percakapan mereka langsung berhenti.
Paman Danang menoleh ke belakang.
“Siapa bilang?”
“Aku pernah dengar Paman berkata begitu.”
Ia tersenyum kecil.
“Kamu masih terlalu muda untuk memahami urusan perusahaan.”
Aku tidak membalas.
Namun sejak detik itu, aku tahu mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
Kami tiba di sebuah kantor hukum di kawasan Sudirman menjelang sore.
Pengacara keluarga kami, Pak Adrian, sudah menunggu di ruang rapat.
Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu terlihat berbeda dari biasanya. Matanya merah dan wajahnya tegang.
Ketika melihatku, ia berdiri.
“Cinta.”
Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi Ibu langsung memotong.
“Kita mulai saja. Saya tidak punya banyak waktu.”
Pak Adrian menatap Ibu beberapa detik.
“Baik.”
Kami duduk mengelilingi meja panjang.
Pak Adrian membuka map hitam di depannya.
“Almarhum Pak Rian meninggalkan surat wasiat baru yang dibuat dan dilegalisasi dua minggu sebelum beliau meninggal.”
Wajah Ibu berubah.
“Wasiat baru?”
“Benar.”
“Kenapa saya tidak tahu?”
“Karena beliau meminta kerahasiaan penuh.”
Paman Danang menyilangkan tangan.
“Apa isinya?”
Pak Adrian mengeluarkan sebuah dokumen.
“Seluruh aset pribadi atas nama Pak Rian, termasuk kepemilikan saham yang masih tersisa, deposito, obligasi, dan beberapa properti, diwariskan kepada putrinya, Cinta.”
Ibu tertawa pendek.
“Tidak masalah. Cinta anak saya.”
Pak Adrian belum selesai.
“Namun ada klausul tambahan.”
Senyum Ibu perlahan menghilang.
“Apa?”
“Sampai Cinta berusia dua puluh lima tahun, seluruh aset berada di bawah pengawasan sebuah trust independen. Ibu Maya tidak dapat mengalihkan, menjual, menjaminkan, atau menarik aset tersebut.”
Ruangan langsung terasa lebih dingin.
Paman Danang memukul meja.
“Tidak masuk akal!”
Pak Adrian menatapnya tenang.
“Dokumennya sah.”
Ibu bersandar ke kursi sambil menahan emosi.
“Rian tidak mungkin punya aset sebanyak itu. Selama bertahun-tahun dia cuma hidup dari saya.”
Pak Adrian menatapnya lama.
“Apakah Ibu yakin?”
Pertanyaan itu membuat Ibu terdiam.
Pak Adrian lalu menggeser satu lembar lain ke arah kami.
Aku membacanya.
Angka yang tertera membuat napasku berhenti.
Total aset Ayah mencapai hampir satu triliun rupiah.
Bukan dua ratus miliar.
Bukan tiga ratus miliar.
Hampir satu triliun.
Ibu langsung berdiri.
“Mustahil!”
“Sebagian besar aset itu berasal dari investasi yang dilakukan Pak Rian jauh sebelum pernikahan kalian,” kata Pak Adrian.
Paman Danang mengambil kertas itu dengan kasar.
“Lalu kenapa dia terus meminta uang?”
Pak Adrian menutup mapnya.
“Saya tidak tahu.”
Namun aku tahu seseorang yang mungkin mengetahuinya.
Ayah.
Lebih tepatnya, laptop Ayah.
Malam itu, begitu sampai di rumah, aku langsung mengunci pintu kamar.
Laptop Ayah masih tersimpan di ruang kerjanya.
Aku membawanya ke kamar dan meletakkannya di meja.
Tanganku gemetar ketika memasukkan kata sandi.
Tanggal lahirku.
Desktop terbuka.
Ada puluhan folder.
Keuangan.
Perusahaan.
Kesehatan.
Dokumen keluarga.
Namun yang kucari hanya satu.
Folder itu berada paling bawah.
Ketika kuklik, muncul permintaan kata sandi kedua.
Aku mencoba ulang tahunku.
Gagal.
Tanggal pernikahan Ayah dan Ibu.
Gagal.
Tanggal lahir Kakek.
Gagal.
Aku menutup mata, mengingat semua percakapan terakhir dengan Ayah.
Kemudian aku teringat sebuah kalimat yang sering ia ucapkan sejak aku kecil.
“Kalau suatu hari Cinta takut, ingat satu hal. Ayah selalu pulang.”
Aku mengetik.
AYAHSELALUPULANG.
Folder terbuka.
Di dalamnya terdapat puluhan dokumen.
Rekaman suara.
Rekening bank.
Hasil laboratorium.
Foto.
Video.
Dan satu file bernama UNTUK CINTA.
Aku membukanya.
Video Ayah muncul di layar.
Ia duduk di kursi ruang kerjanya.
Wajahnya sudah sangat kurus.
Namun sorot matanya tenang.
“Kalau kamu menonton video ini, berarti Ayah sudah tidak ada.”
Aku langsung menangis.

“Maaf karena Ayah tidak jujur soal penyakit Ayah.”
Ayah berhenti beberapa detik untuk menarik napas.
“Ayah menderita kanker paru stadium akhir.”
Aku menutup mulut.
Jadi itu penyebab darah.
Rambut rontok.
Tubuhnya semakin kurus.
Namun video belum selesai.
“Penyakit ini bukan warisan dari Kakek seperti yang mungkin kamu pikirkan.”
Aku membeku.
Ayah menatap kamera.
“Kakek tidak meninggal karena kanker.”
Jantungku berdetak keras.
“Dan kemungkinan besar, Ayah juga tidak sakit karena sebab alami.”
Aku hampir menjatuhkan laptop.
Ayah lalu menjelaskan sesuatu yang selama ini sama sekali tidak pernah kubayangkan.
Tiga tahun sebelumnya, Kakek mulai mencurigai laporan keuangan Pradipta Capital.
Ada aliran dana besar yang keluar melalui sejumlah perusahaan cangkang.
Perusahaan-perusahaan itu ternyata dikendalikan oleh Paman Danang.
Namun Danang tidak bekerja sendirian.
Ia dibantu oleh Ibu.
Maya.
Istrinya sendiri.
Kakek menemukan bukti penggelapan ratusan miliar rupiah.
Sebelum sempat melapor kepada pihak berwenang, kondisi Kakek mendadak memburuk.
Awalnya batuk.
Kemudian sesak.
Lalu muntah darah.
Rumah sakit menyebutnya komplikasi paru.
Namun beberapa bulan setelah kematian Kakek, Ayah menemukan sebuah benda aneh di gudang vila keluarga.
Sebuah kotak logam kecil berisi beberapa botol bahan kimia industri.
Salah satunya mengandung zat beracun yang apabila terpapar dalam dosis kecil tetapi terus-menerus dapat merusak paru-paru.
Ayah mulai curiga.
Ia menyelidiki semuanya diam-diam.
Rekaman CCTV lama.
Pembelian bahan kimia.
Catatan kendaraan.
Riwayat transaksi.
Bahkan percakapan antara Ibu dan Paman Danang.
Kemudian Ayah menemukan sesuatu yang lebih buruk.
Sebelum sakit, Kakek sering minum kopi pagi yang selalu disiapkan oleh satu orang.
Maya.
Ibuku.
Aku merasa isi perutku berputar.
“Tidak…”
Aku berbisik pada layar.
Dalam video, Ayah menghela napas.
“Ayah tidak punya bukti bahwa Ibumu membunuh Kakek secara langsung. Tapi bukti yang Ayah kumpulkan cukup untuk membuka penyelidikan.”
Tanganku dingin.
Lalu Ayah mengatakan alasan mengapa selama ini ia membiarkan Ibu dan Danang bersama.
Setahun setelah kematian Kakek, Ayah sudah mengetahui hubungan mereka.
Ia ingin bercerai.
Namun saat itu ia menemukan bahwa Danang dan Maya sedang berusaha memindahkan hampir seluruh aset keluarga ke luar negeri.
Jika Ayah melawan terlalu cepat, mereka akan kabur dan membawa semuanya.
Karena itu Ayah memilih bertahan.
Berpura-pura lemah.
Berpura-pura takut kehilangan Ibu.
Bahkan berpura-pura hanya peduli pada uang.
“Uang dua ratus miliar itu bukan permintaan sembarangan,” kata Ayah dalam video.
“Itu uang yang mereka curi dari perusahaan keluarga.”
Aku terdiam.
Ayah telah menghitung semuanya.
Setiap rupiah yang dimintanya berasal dari rekening yang terhubung dengan transaksi gelap mereka.
Dengan memaksa Ibu mentransfer uang langsung kepadanya, Ayah menciptakan jejak transaksi.
Dengan meminta Danang mentransfer lima puluh miliar ke rekening atas namaku, Danang sendiri menghubungkan rekening pribadinya dengan dana hasil penggelapan.
Mereka mengira sedang membeli kebebasan.
Padahal mereka sedang menandatangani bukti.
Aku langsung membuka dokumen transaksi.
Semua tersusun rapi.
Nomor rekening.
Tanggal.
Nominal.
Perusahaan asal dana.
Identitas penerima.
Catatan perpajakan.
Bahkan analisis forensik keuangan dari auditor independen.
Kemudian aku menemukan hasil pemeriksaan kesehatan Ayah.
Pada salah satu halaman tertulis adanya paparan kronis terhadap bahan toksik tertentu.
Jenis zatnya sama dengan zat yang ditemukan di gudang vila.
Aku menutup mulut.
Mereka bukan hanya mungkin telah meracuni Kakek.
Ayah juga mungkin menjadi korban.
Pintu kamarku tiba-tiba diketuk keras.
“Cinta!”
Suara Ibu.
Aku cepat menutup laptop.
“Buka pintunya.”
Aku tidak menjawab.
Pintu kembali dihantam.
“Cinta!”
Beberapa detik kemudian terdengar suara Paman Danang.
“Dia pasti punya laptop Rian.”
Tubuhku langsung membeku.
Mereka tahu.
Aku mengambil ponsel dan menelepon satu nomor yang tercantum dalam dokumen Ayah.
Pak Adrian.
Ia menjawab cepat.
“Cinta?”
“Mereka ada di depan kamar.”
Suara Pak Adrian langsung tegang.
“Jangan buka pintu. Polisi sedang menuju rumah.”
Aku menahan napas.
“Polisi?”
“Ayahmu sudah membuat laporan pendahuluan sebelum meninggal. Semua bukti baru boleh diserahkan setelah kematiannya.”
Aku baru memahami semuanya.
Ayah sudah memperkirakan hari ini.
Suara pukulan semakin keras.
Kemudian kunci pintu diputar dari luar.
Mereka menggunakan kunci cadangan.
Aku berdiri sambil memeluk laptop.
Pintu terbuka.
Ibu masuk lebih dulu.
Paman Danang di belakangnya.
Tatapan mereka langsung tertuju pada laptop di tanganku.
“Berikan itu,” kata Ibu.
Aku mundur.
“Tidak.”
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat wajah Ibu tanpa topeng.
Tidak ada kelembutan.
Tidak ada ketenangan.
Hanya ketakutan.
“Cinta, jangan bodoh.”
“Ayah meninggal karena kalian, ya?”
Ibu terdiam.
Paman Danang langsung membentak.
“Jangan dengarkan omong kosong orang mati!”
Aku menatapnya.
“Kalau memang omong kosong, kenapa Paman takut?”
Danang bergerak maju hendak merebut laptop.
Namun sebelum ia mencapaiku, suara sirene terdengar dari halaman depan.
Danang berhenti.
Wajahnya pucat.
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki berlari menaiki tangga.
Polisi masuk bersama Pak Adrian.
Paman Danang mencoba lari melalui balkon belakang, tetapi dua petugas langsung mengejarnya.
Ibu tetap berdiri di tempat.
Matanya menatapku.
“Cinta.”
Untuk pertama kalinya suaranya terdengar memohon.
“Kamu anak Ibu.”
Aku merasakan air mata jatuh.
“Dan Ayah adalah suami Ibu.”
Ia tidak mampu menjawab.
Malam itu, Ibu dan Paman Danang dibawa untuk diperiksa.
Kasusnya tidak langsung selesai.
Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.
Makam Kakek bahkan harus dibuka kembali untuk pemeriksaan forensik.
Hasilnya mengubah semuanya.
Ditemukan jejak zat toksik yang sama di jaringan tubuh Kakek.
Polisi kemudian menemukan catatan pembelian bahan tersebut menggunakan perusahaan milik Danang.
Ada pula rekaman suara antara Ibu dan Danang yang disimpan Ayah.
Dalam salah satu rekaman, suara Ibu terdengar gemetar.
“Kita sudah melakukan ini sekali. Aku tidak mau mengulanginya pada Rian.”
Kemudian suara Danang menjawab.
“Kalau dia membuka mulut, kita kehilangan semuanya.”
Kalimat itu menjadi salah satu bukti terpenting.
Ibu akhirnya mengaku.
Namun pengakuannya ternyata jauh lebih tragis daripada yang kubayangkan.
Ia bukan orang yang pertama kali merencanakan kematian Kakek.
Danang-lah yang merancang semuanya setelah Kakek mengetahui penggelapan dana.
Ibu awalnya hanya membantu menutupi transaksi.
Namun ketika Danang mengancam akan menyeret namanya, Ibu memilih diam.
Diam ketika racun diberikan.
Diam ketika Kakek sakit.
Diam ketika Ayah mulai mengalami gejala yang sama.
Diam karena takut kehilangan kekayaan, perusahaan, dan reputasinya.
Dan ternyata itulah dosa terbesarnya.
Bukan hanya melakukan kesalahan.
Tetapi membiarkan kesalahan berkembang menjadi kejahatan.
Paman Danang akhirnya dijatuhi hukuman berat atas penggelapan, pencucian uang, dan keterlibatannya dalam kematian Kakek serta keracunan Ayah.
Ibu juga menerima hukuman penjara atas keterlibatan dan upayanya menutupi kejahatan.
Hari persidangan terakhir, Ibu meminta bicara denganku.
Kami bertemu di ruang khusus dengan kaca tebal di antara kami.
Wajahnya jauh lebih tua.
Tidak ada blazer mahal.
Tidak ada perhiasan.
Tidak ada tatapan angkuh.
Hanya seorang perempuan yang akhirnya terlihat lelah.
“Cinta,” katanya pelan.
“Apa kamu membenci Ibu?”
Aku menatapnya lama.
Dulu aku memikirkan pertanyaan itu setiap malam.
Namun saat akhirnya mendengarnya langsung, jawabanku terasa berbeda.
“Aku tidak tahu.”
Air mata mengalir di pipinya.
“Ayahmu sebenarnya bisa menyelamatkan dirinya kalau sejak awal dia pergi.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Ibu menatapku.
“Ayah tinggal karena aku.”
Aku lalu mengeluarkan salinan surat terakhir Ayah.
Dalam surat itu ada satu kalimat yang selama berbulan-bulan terus kubaca.
Aku membacakannya kepada Ibu.
“Cinta mungkin suatu hari bertanya kenapa Ayah tidak pergi saat semuanya mulai rusak. Jawabannya bukan karena Ayah lemah. Ayah tinggal karena selama Cinta masih berada di rumah itu, Ayah tidak akan meninggalkanmu sendirian bersama orang-orang yang sudah kehilangan batas antara cinta dan keserakahan.”
Ibu menutup wajahnya.
Tangisnya pecah.
Aku berdiri.
Sebelum pergi, aku berkata satu hal.
“Uang dua ratus miliar itu bukan uang yang Ayah minta untuk dirinya.”
Ibu menatapku dengan mata merah.
“Itu harga yang Ayah paksa kalian bayar untuk mengembalikan sesuatu yang bukan milik kalian.”
Aku meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
Setahun setelah kematian Ayah, aku berdiri di depan sebuah gedung baru di Jakarta.
Di atas pintunya tertulis Yayasan Rian Pradipta.
Sebagian besar uang yang berhasil diselamatkan Ayah tidak kugunakan untuk membeli rumah mewah atau mobil.
Sesuai pesan terakhirnya, dana itu digunakan untuk membangun program bantuan pengobatan bagi pasien kanker dari keluarga kurang mampu serta lembaga perlindungan hukum bagi anak-anak yang terjebak dalam konflik keluarga.
Di ruang kerjaku, aku menyimpan satu benda kecil.
Tisu putih yang ditemukan perawat di saku terakhir celana Ayah.
Noda darahnya sudah mengering menjadi cokelat tua.
Orang lain mungkin melihatnya sebagai benda menyedihkan.
Namun bagiku, benda itu selalu mengingatkanku pada satu hal.
Selama berbulan-bulan, semua orang mengira Ayah adalah lelaki lemah.
Suami yang dipermalukan.
Kakak yang dikhianati.
Pria sakit yang memeras istrinya demi mempertahankan kemewahan.
Padahal sampai napas terakhirnya, Ayah sedang melakukan satu hal yang tidak pernah dipahami mereka.
Ia sedang membeli waktu.
Waktu untuk mengumpulkan bukti.
Waktu untuk menyelamatkan masa depanku.
Dan waktu untuk memastikan bahwa setelah dirinya tidak lagi mampu berdiri di depanku, kebenaran tetap memiliki cara untuk melindungiku.
Rp200 miliar ternyata memang memiliki harga.
Namun bukan harga diri Ayah.
Itu adalah harga yang harus dibayar oleh dua orang yang mengira uang dapat mengubur dosa selamanya.
Mereka lupa bahwa rahasia bisa disimpan bertahun-tahun.
Bukti bisa disembunyikan.
Manusia bahkan bisa dipaksa diam.
Tetapi kebenaran memiliki kebiasaan yang sama seperti Ayah.
Cepat atau lambat, ia selalu pulang.
