TEMAN KULIAHKU MEMINTA KADO PERNIKAHAN SEBUAH RUMAH MEWAH. AKU TERKEJUT SAAT UNDANGAN DIGITALNYA DIKIRIM—TERNYATA PENGANTIN PRIA DI FOTO ITU ADALAH SUAMIKU SENDIRI!

Tepat pukul sembilan kurang lima menit, mobilku berhenti di depan hotel tempat pesta pernikahan Aris dan Lita digelar.

Aku turun dengan pakaian sederhana berwarna gelap. Tidak ada perhiasan mencolok, tidak ada gaun mahal, dan tidak ada satu pun atribut pekerjaanku yang bisa menarik perhatian. Di belakangku, seorang petugas hotel menurunkan kotak besar yang sudah kubungkus rapi dengan pita emas.

Maya tidak ikut.

Aku menitipkannya kepada ibuku setelah memastikan dokter anak memeriksa kondisinya. Untuk pertama kalinya sejak semalam, aku bisa meninggalkannya tanpa rasa takut karena aku tahu dia berada di tempat yang aman.

Begitu memasuki ballroom, beberapa kepala menoleh.

Lita yang sedang berdiri di pelaminan langsung melihatku.

Wajahnya berbinar.

Bukan karena senang melihat teman lama.

Matanya justru tertuju pada kotak besar yang dibawa petugas di belakangku.

Dia turun dari pelaminan dengan langkah cepat.

“Akhirnya datang juga!”

Lita memelukku sekilas, lalu berbisik di dekat telingaku.

“Mana sertifikat rumahnya?”

Aku menatap wajahnya.

Wajah yang dulu begitu kukenal ketika kami masih berbagi kamar kos semasa kuliah.

Dulu Lita sering meminjam uang makan dariku. Aku bahkan pernah membayar biaya rumah sakit ibunya karena saat itu dia tidak punya cukup uang.

Kini dia berdiri di hadapanku seolah kami tidak pernah melewati masa itu bersama.

“Ada di dalam,” jawabku tenang.

Senyumnya semakin lebar.

Aris yang awalnya sibuk menyambut tamu akhirnya melihat ke arah kami.

Wajahnya langsung berubah.

Gelas di tangannya hampir terlepas.

Aku bisa melihat jelas bagaimana darah seakan menghilang dari wajahnya.

Dia berjalan cepat mendekati kami.

“Kamu?”

Suaranya nyaris tidak terdengar.

Lita menoleh heran.

“Kalian kenal?”

Aku belum menjawab ketika Aris menarik lenganku.

“Ayo kita bicara di luar.”

Aku melepaskan tangannya.

“Kenapa harus di luar? Bukankah hari ini hari bahagiamu?”

Lita memandang kami bergantian.

“Aris, sebenarnya ada apa?”

Aris menelan ludah.

“Itu…”

Aku tersenyum.

“Lita, kamu belum memperkenalkan calon suamimu kepadaku.”

Suasana di sekitar kami perlahan menjadi sunyi.

Beberapa tamu yang berada dekat pelaminan mulai memperhatikan.

Lita tertawa canggung.

“Ini Aris Pratama. Direktur utama Pratama Sentosa Group. Sebentar lagi dia jadi suamiku.”

Aku mengangguk perlahan.

“Luar biasa.”

Lalu aku menatap Aris.

“Enam tahun menikah denganku, ternyata kamu masih sempat menjadi calon suami orang lain.”

Wajah Lita langsung pucat.

“Apa?”

Bisikan mulai terdengar dari para tamu.

Aris mendekatiku dan berbicara dengan suara rendah.

“Jangan bikin keributan. Kita selesaikan di rumah.”

“Rumah yang mana?”

Aku menatapnya lurus.

“Rumah kita, rumah Lita, atau rumah yang dibeli menggunakan aset keluargaku?”

Aris membeku.

Lita tiba-tiba mencengkeram lenganku.

“Kamu jangan mengarang cerita karena iri!”

Aku menatap tangannya sampai dia melepaskannya.

“Kamu mau bukti?”

Aku mengambil ponsel dan memperlihatkan foto pernikahanku dengan Aris enam tahun lalu.

Lita terdiam.

Foto itu jelas.

Aku dan Aris berdiri berdampingan di hadapan keluarga kami.

Wajah Aris sama sekali tidak mungkin salah dikenali.

Lita menoleh kepada Aris.

“Kamu bilang perempuan itu cuma rekan bisnis keluargamu.”

Aku hampir tertawa.

Ternyata mereka sama-sama berbohong.

Hanya saja kebohongan mereka memiliki lapisan berbeda.

Aris mencoba menarik Lita menjauh.

“Jangan dengarkan dia. Aku bisa jelaskan semuanya.”

“Jelaskan sekarang,” kataku.

Aris menatapku tajam.

“Kamu tidak mengerti urusan bisnis.”

Aku mengangguk.

“Mungkin benar.”

Aku lalu menunjuk kotak besar di belakangku.

“Tapi sebelum membahas bisnis, sebaiknya Lita membuka hadiah pernikahannya.”

Mata Lita kembali tertuju pada kotak itu.

Keserakahannya rupanya lebih besar daripada rasa curiganya.

Dia memberi isyarat kepada dua petugas hotel untuk membawa kotak tersebut ke depan pelaminan.

Beberapa tamu bahkan mengeluarkan ponsel karena mengira akan ada kejutan mewah.

Pita emas dibuka.

Tutup kotak diangkat.

Sebuah rumah kertas berukuran besar terlihat di dalamnya.

Ballroom mendadak sunyi.

Lita menatap benda itu selama beberapa detik seolah otaknya belum mampu memahami apa yang dilihatnya.

Kemudian wajahnya memerah.

“Apa-apaan ini?”

“Kamu meminta rumah.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku membawanya.”

Lita mengangkat rumah kertas itu lalu membantingnya ke lantai.

“Kamu mempermalukanku!”

“Belum.”

Aku menatap Aris.

“Bagian yang memalukan baru akan dimulai.”

Aris langsung maju.

“Cukup!”

Namun sebelum dia bisa mendekatiku, dua pria berjas yang sejak tadi berdiri di bagian belakang ruangan berjalan maju.

Salah satunya adalah pengacaraku.

Di belakang mereka terdapat beberapa petugas berwenang yang datang untuk menindaklanjuti laporan dan memastikan proses hukum berjalan sesuai prosedur.

Wajah Aris benar-benar kehilangan warna.

Pengacaraku menyerahkan beberapa dokumen kepadanya.

“Pak Aris, terdapat sejumlah transaksi dan dokumen yang membutuhkan klarifikasi resmi. Sebagian aset yang digunakan sebagai jaminan perusahaan diduga bukan berada dalam kewenangan Anda untuk dialihkan.”

Aris meremas dokumen itu.

“Ini fitnah.”

“Kalau begitu, Anda tentu tidak keberatan menjelaskannya melalui proses pemeriksaan resmi.”

Lita mundur selangkah.

“Aset apa?”

Aku memandangnya.

“Rumah yang kamu tempati sekarang.”

Lita terdiam.

“Mobil yang kamu pakai.”

Wajahnya semakin pucat.

“Termasuk sebagian dana yang digunakan untuk membiayai pesta ini.”

Lita menoleh cepat kepada Aris.

“Kamu bilang semuanya milikmu!”

Aris tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Rumah di Kebayoran yang kamu pamerkan di media sosial dibeli melalui perusahaan yang modal awalnya berasal dari aset keluargaku. Mobilmu tercatat sebagai aset operasional salah satu anak perusahaan. Bahkan beberapa perhiasan yang kamu pakai dibayar dari rekening yang sekarang sedang diperiksa.”

Tangan Lita refleks menyentuh kalung di lehernya.

Para tamu mulai berbisik semakin keras.

Beberapa orang yang tadinya berdiri dekat pelaminan perlahan menjauh.

Aris mendadak menatapku penuh kemarahan.

“Kamu sengaja menghancurkan hidupku!”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu sendiri yang melakukannya.”

Dia maju satu langkah.

“Enam tahun aku mendampingimu!”

Aku tertawa kecil.

“Mendampingiku?”

Untuk pertama kalinya emosiku hampir pecah.

“Aku yang memperkenalkanmu kepada investor ketika perusahaanmu hampir bangkrut. Aku yang menjamin pinjaman pertamamu. Aku yang membiarkan namamu masuk dalam beberapa pengelolaan aset karena aku percaya kamu adalah suamiku.”

Aku berhenti sejenak.

“Tapi ternyata kamu menggunakan kepercayaan itu untuk membangun kehidupan lain.”

Aris mengepalkan tangan.

Kemudian dia berkata sesuatu yang membuatku sadar bahwa laki-laki di hadapanku benar-benar bukan orang yang selama ini kukenal.

“Setidaknya aku menjaga Maya ketika kamu sibuk mengejar karier!”

Ballroom mendadak terasa sangat dingin.

Aku menatapnya.

“Ulangi.”

Aris seolah mendapatkan keberanian.

“Kamu selalu pergi. Rapat. Tugas. Perjalanan dinas. Siapa yang mengurus anak kita?”

Aku mengeluarkan sebuah amplop dari tas.

“Lalu kenapa Maya berada di panti?”

Wajah Aris berubah seketika.

Lita ikut membeku.

Aku membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar dokumentasi.

“Aku menemukannya kemarin.”

Aris tidak berkata apa-apa.

“Tubuhnya kurus. Ada memar di lengannya. Dan ketika aku mendekatinya, anak kita mengangkat tangan untuk melindungi kepalanya sambil berkata dia tidak akan meminta makan lagi.”

Suara beberapa tamu perempuan terdengar tercekat.

Aku menahan napas agar suaraku tetap stabil.

“Kamu menitipkan Maya di sana setiap kali aku bertugas, lalu membawanya pulang sebelum aku kembali.”

Aris mundur.

“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

“Tempat itu milik kenalanku. Aku cuma…”

“Berhenti berbohong.”

Aku menatap Lita.

“Dan staf di sana mengenalmu.”

Lita langsung menggeleng.

“Aku tidak pernah menyentuh anakmu!”

“Aku belum mengatakan kamu memukulnya.”

Lita terdiam.

Kesalahan kecil itu cukup membuat beberapa orang di ruangan saling berpandangan.

Aku mendekatinya.

“Kenapa kamu langsung membela diri soal memukul?”

Bibir Lita gemetar.

“Aku cuma…”

“Beberapa staf memberikan keterangan bahwa kamu pernah datang. Mereka juga menjelaskan perlakuan yang diterima Maya.”

“Aku hanya ingin mendisiplinkannya!”

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Lita langsung menutup mulut.

Aris memejamkan mata.

Aku merasa seluruh kemarahan yang sejak kemarin kutahan naik ke tenggorokan.

Namun aku tidak menyentuhnya.

Aku tidak datang untuk membalas mereka dengan kekerasan.

Aku ingin mereka mempertanggungjawabkan semuanya.

Pengacaraku berdiri di sampingku.

“Seluruh keterangan terkait anak sudah diserahkan untuk diperiksa. Bukti medis dan kesaksian pihak terkait juga sedang didokumentasikan.”

Lita tiba-tiba menangis.

Dia memegang tangan Aris.

“Kamu bilang anak itu tinggal sama neneknya!”

Aris menepis tangannya.

“Kamu juga ikut datang ke sana!”

“Aku datang karena kamu menyuruhku!”

Mereka mulai saling menyalahkan di depan ratusan tamu.

Sebuah pesta yang beberapa menit sebelumnya tampak sempurna berubah menjadi kekacauan.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berjalan dari barisan tamu VIP.

Aku mengenalnya sebagai Surya Pratama, ayah Aris.

Hubungan kami tidak pernah dekat, tetapi selama enam tahun dia selalu memperlakukanku dengan sopan.

Aris terlihat sedikit lega.

“Ayah, jelaskan kepada mereka. Bilang perusahaan itu milik keluarga kita.”

Pak Surya berhenti tepat di depan putranya.

Kemudian sebuah tamparan keras mendarat di wajah Aris.

Semua orang terdiam.

“Ayah!”

Pak Surya menatap putranya dengan mata merah.

“Kamu masih berani membawa nama keluarga?”

Aris memegang pipinya.

“Aku melakukan semua ini demi perusahaan!”

“Bohong!”

Suara Pak Surya menggema.

“Perusahaan kita hampir bangkrut tujuh tahun lalu. Tanpa bantuan istrimu dan keluarganya, Grup Pratama sudah lama tinggal nama.”

Lita menatap Aris seperti baru pertama kali melihatnya.

Pak Surya kemudian menoleh kepadaku.

“Saya minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”

Dia mengeluarkan sebuah map.

Ternyata beberapa bulan sebelumnya, bagian keuangan perusahaan menemukan transaksi aneh yang dilakukan Aris.

Pak Surya diam-diam melakukan audit internal karena mencurigai putranya sendiri.

Hasilnya jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan.

Aris bukan hanya menggunakan aset yang berkaitan denganku untuk membiayai Lita.

Dia juga diduga mengalihkan dana perusahaan melalui beberapa transaksi fiktif.

Pernikahannya dengan Lita direncanakan bukan semata karena hubungan mereka.

Keluarga Lita ternyata memiliki koneksi dengan sebuah perusahaan yang hendak digunakan Aris untuk memindahkan sebagian aset sebelum audit selesai.

Pesta pernikahan itu adalah penutup.

Setelah menikah, Aris berencana meninggalkan Indonesia selama beberapa waktu dengan alasan ekspansi bisnis.

Aku menatapnya.

“Jadi aku bukan satu-satunya yang kamu tipu.”

Aris tidak mampu menjawab.

Lita perlahan melepaskan cincin dari jarinya.

“Kamu bilang setelah menikah kita pindah ke Singapura.”

Aris menatapnya.

“Diam.”

“Kamu bilang semua aset sudah atas namamu!”

“Diam!”

“Kamu juga bilang istrimu tidak akan bisa melakukan apa-apa karena dia terlalu sibuk bekerja!”

Aris kehilangan kendali.

Dia mencoba meraih Lita, tetapi petugas segera menghentikannya.

Beberapa tamu mulai meninggalkan ballroom.

Kamera ponsel masih terangkat di berbagai sudut.

Dekorasi emas, bunga mahal, lampu kristal, dan tulisan besar ARIS & LITA kini terlihat seperti panggung untuk sebuah lelucon yang sangat mahal.

Aku tidak merasa menang.

Anehnya, yang kurasakan justru lelah.

Aku berjalan menuju pintu.

Lita mengejarku beberapa langkah.

“Tunggu!”

Aku berhenti.

Dia menangis.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu semuanya.”

Aku menatapnya lama.

“Mungkin kamu tidak tahu soal seluruh rencana Aris.”

Wajahnya menunjukkan sedikit harapan.

“Tapi kamu tahu Maya masih kecil.”

Harapan itu langsung hilang.

“Kamu tahu dia menangis meminta pulang.”

Lita terdiam.

“Dan kamu tetap memilih menyakitinya.”

Aku berbalik.

“Tidak semua kesalahan bisa dihapus hanya dengan kata maaf.”

Aku meninggalkan ballroom tanpa melihat ke belakang.

Beberapa bulan kemudian, hidupku berubah sepenuhnya.

Proses hukum terhadap Aris berjalan berdasarkan bukti yang ditemukan. Beberapa aset berhasil diamankan selama pemeriksaan berlangsung, sementara persoalan dokumen perkawinan dan transaksi perusahaan diselesaikan melalui jalur hukum yang berlaku.

Aku tidak mengikuti setiap perkembangan tentang Lita.

Aku tidak membutuhkannya.

Prioritasku hanya Maya.

Aku mengambil cuti panjang dan membawanya menjalani pendampingan psikologis. Pada minggu-minggu pertama, Maya masih sering terbangun malam-malam.

Kadang dia menyembunyikan roti di bawah bantal.

Suatu malam aku menemukannya memasukkan dua potong biskuit ke dalam tas kecilnya.

“Untuk apa, Sayang?”

Dia menunduk.

“Kalau besok tidak ada makanan.”

Aku hampir menangis.

Aku memeluknya.

“Di rumah ini makanan tidak akan hilang.”

Maya menatapku ragu.

“Benar?”

“Benar.”

“Walaupun Maya nakal?”

Aku mencium keningnya.

“Walaupun Maya marah, menangis, menumpahkan susu, atau tidak mau tidur. Kamu tetap berhak makan, minum, dan merasa aman.”

Perlahan-lahan, ketakutannya berkurang.

Suatu sore, hampir enam bulan setelah pesta itu, aku sedang duduk di taman ketika Maya berlari menghampiriku membawa sesuatu.

Sebuah rumah kecil dari kertas.

Aku langsung teringat hadiah yang kubawa ke pesta pernikahan Lita.

“Mama, lihat!”

Aku tersenyum.

“Bagus sekali. Rumah siapa?”

Maya duduk di pangkuanku.

“Rumah kita.”

Dia menunjuk tiga gambar kecil di depannya.

Satu adalah dirinya.

Satu adalah aku.

Yang ketiga seekor kucing yang baru kami adopsi.

Aku tertawa.

“Papa tidak ada?”

Maya terdiam sebentar.

Aku menyesal telah bertanya.

Namun dia justru menggeleng pelan.

“Bu guru bilang rumah itu bukan soal siapa yang harus ada.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Rumah itu tempat kita tidak takut pulang.”

Aku tidak mampu menjawab.

Aku hanya memeluknya erat.

Selama bertahun-tahun aku mengira rumah adalah bangunan, aset, sertifikat, dan sesuatu yang harus dijaga dari orang lain.

Aris menganggap rumah sebagai kekayaan yang bisa dimanfaatkan.

Lita menganggap rumah sebagai hadiah yang menentukan harga dirinya.

Namun seorang anak berusia lima tahun akhirnya mengajariku arti rumah yang sebenarnya.

Rumah bukan tempat paling mahal yang bisa kita miliki.

Rumah adalah tempat seseorang tahu bahwa ketika pintunya terbuka, tidak ada tangan yang akan menyakitinya.

Tidak ada suara yang membuatnya gemetar.

Tidak ada cinta yang harus dibayar dengan rasa takut.

Aku memandang rumah kertas buatan Maya sekali lagi.

Rumah itu miring.

Atapnya tidak simetris.

Lemnya bahkan masih terlihat di beberapa bagian.

Namun bagiku, rumah kecil itu jauh lebih berharga daripada rumah mewah mana pun yang pernah diminta Lita.

Karena rumah kertas pertama yang kubawa menjadi simbol berakhirnya sebuah kebohongan.

Sedangkan rumah kertas yang dibuat Maya menjadi tanda bahwa kami akhirnya memulai kehidupan baru.

Dan kali ini, kami benar-benar pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang