Pintu lift terbuka dengan suara pelan, tetapi bagi Bima, bunyi itu terdengar seperti palu yang menghantam dadanya.
Ia melangkah masuk dengan kaki yang terasa kehilangan tenaga. Di tangannya, surat kematian Pak Lukman dan cetakan percakapan antara Maya dan Rian sudah kusut karena diremas tanpa sadar.
Sepanjang lift turun menuju lantai bawah, bayangan tujuh hari terakhir berputar di kepalanya.
Nabila menelepon.
Nabila mencarinya.
Nabila memohon.
Sementara dirinya sengaja menutup semua pintu hanya karena menunggu istrinya meminta maaf lebih dulu.
Ketika pintu lift terbuka, hawa dingin koridor ruang duka langsung menyambutnya.
Di ujung lorong, seorang perempuan duduk sendirian di bangku panjang.
Nabila.
Bima hampir tidak mengenalinya.
Rambut perempuan itu diikat seadanya. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan tubuhnya tampak jauh lebih rapuh dibanding seminggu lalu. Di pangkuannya terdapat sebuah map biru berisi dokumen administrasi.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada kemarahan.
Justru ketenangan di wajah Nabila membuat Bima semakin takut.
“Nabila.”
Perempuan itu mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Selama dua belas tahun, Bima mengenal hampir semua ekspresi istrinya. Ia tahu bagaimana wajah Nabila ketika bahagia, kecewa, cemburu, marah, bahkan ketika berusaha menyembunyikan kesedihan.
Namun tatapan yang dilihatnya sekarang terasa asing.
Kosong.
Seolah sesuatu di dalam diri Nabila telah selesai.
Bima berjalan mendekat.
“Aku baru tahu soal Ayah.”
Nabila mengangguk kecil.
“Aku tahu.”
Bima terdiam.
Jawaban itu lebih menyakitkan daripada bentakan.
“Aku benar-benar tidak tahu.”
“Kamu memang tidak tahu.”
“Nabila, dengarkan aku.”
“Aku sudah terlalu lama mendengarkanmu, Mas.”
Suara Nabila pelan, tetapi tegas.
Bima duduk di sebelahnya.
“Aku minta maaf.”
Nabila menatap lurus ke depan.
“Untuk yang mana?”
Pertanyaan itu membuat Bima tidak mampu menjawab.
“Untuk tidak mengangkat teleponku?”
“Untuk tidak datang ketika Ayah sekarat?”
“Untuk membiarkan asistenmu menolak aku seperti orang asing?”
“Atau untuk Maya?”
Bima menunduk.
Nama terakhir itu terasa seperti pisau.
“Nabila, hubunganku dengan Maya tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Untuk pertama kalinya Nabila tertawa.
Bukan karena lucu.
Tawa pendek yang penuh kelelahan.
“Kalimat itu selalu sama, ya.”
Bima menatapnya.
“Aku tidak pernah tidur dengannya.”
Nabila perlahan menoleh.
“Jadi menurutmu pengkhianatan baru disebut pengkhianatan kalau dua orang tidur bersama?”
Bima kehilangan kata-kata.
Nabila membuka map biru di pangkuannya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas.
Ada bukti transfer.
Tagihan restoran.
Reservasi hotel di Bandung.
Foto Bima dan Maya di sebuah kafe.
Percakapan mereka.
Bima menatap semuanya dengan wajah pucat.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Aku tidak butuh penjelasan.”
“Nabila.”
“Dua tahun, Mas.”
Suara Nabila akhirnya bergetar.
“Dua tahun kamu membiarkan perempuan lain masuk ke ruang yang seharusnya menjadi milik pernikahan kita.”
Bima meraih tangannya, tetapi Nabila langsung menariknya.
“Kamu cerita soal pekerjaanmu kepadanya. Kamu makan malam dengannya. Kamu mengantar dia pulang. Kamu membelikan hadiah ulang tahun. Kamu bahkan menghabiskan waktu bersamanya ketika aku sedang menjaga Ayah.”
“Nabila, aku memang salah.”
“Dan ketika Ayah sedang berjuang untuk hidup, kamu memilih menemani dia karena kakinya keseleo.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Nabila.
Bima menunduk.
Tidak ada alasan yang terdengar cukup masuk akal.
“Ayah terus menanyakanmu sebelum kondisinya memburuk,” lanjut Nabila.
Bima mengangkat wajah.

“Apa?”
“Beliau bilang, kalau Bima yang operasi, Ayah tidak takut.”
Dada Bima seperti dihantam.
Nabila mengusap air matanya.
“Aku berjanji kepadanya kamu akan datang.”
Bima menutup wajah dengan kedua tangan.
“Nabila, tolong.”
“Aku meneleponmu tiga puluh dua kali.”
Bima membeku.
“Tiga puluh dua kali, Mas.”
Nabila menatapnya.
“Aku bahkan tidak marah ketika panggilan pertama ditolak. Aku berpikir mungkin kamu sedang operasi.”
“Panggilan kesepuluh, aku mulai takut.”
“Panggilan kedua puluh, aku meminta perawat mencarimu.”
“Panggilan ketiga puluh dua, dokter bilang mereka tidak bisa menunggu lagi.”
Bima menangis.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
“Dokter pengganti sudah berusaha sebaik mungkin,” kata Nabila. “Tapi Ayah mengalami komplikasi sebelum operasi bisa dilakukan.”
Bima menggeleng berulang kali.
“Kalau aku ada di sana…”
“Jangan.”
Nada suara Nabila tiba-tiba keras.
“Jangan katakan itu.”
Bima terdiam.
“Aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku bertanya apakah Ayah akan selamat kalau kamu datang. Aku tidak mau hidup dengan pertanyaan itu.”
Ia menarik napas.
“Yang aku tahu hanya satu. Ketika keluargamu membutuhkanmu, kamu memilih berada di tempat lain.”
Bima menatap lantai.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah cepat dari ujung koridor.
Rian muncul bersama dua petugas keamanan rumah sakit.
Wajah pemuda itu pucat.
Begitu melihat Bima, ia langsung berhenti.
“Dokter…”
Bima berdiri.
Tanpa berpikir panjang, ia mencengkeram kerah Rian.
“Kenapa kamu lakukan ini?”
Petugas keamanan segera mendekat.
“Dokter Bima, tenang.”
“Kenapa kamu menolak telepon istriku?”
Rian gemetar.
“Saya cuma mengikuti permintaan Bu Maya.”
“Kenapa?”
“Saya… saya dibayar.”
Bima tertegun.
Nabila berdiri perlahan.
“Berapa?”
Rian menunduk.
“Lima puluh juta.”
Bima melepaskan kerahnya.
“Untuk menghancurkan keluargaku?”
Rian menggeleng cepat.
“Saya tidak tahu Pak Lukman akan meninggal. Bu Maya bilang cuma ingin membuat Dokter dan Bu Nabila bertengkar besar.”
Bima menatapnya dengan jijik.
“Dan kamu setuju?”
Rian tidak menjawab.
Salah satu petugas keamanan kemudian membawa Rian pergi untuk diperiksa tim investigasi.
Namun sebelum mencapai ujung koridor, Rian tiba-tiba berhenti.
“Dokter Bima.”
Bima menoleh.
“Ada sesuatu yang belum Dokter tahu.”
Rian terlihat ragu.
“Maya bukan orang yang pertama kali merencanakan semuanya.”
Koridor mendadak sunyi.
Bima mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Rian menelan ludah.
“Dia mendapat informasi soal jadwal operasi Pak Lukman dari seseorang.”
“Siapa?”
Rian belum sempat menjawab ketika suara sepatu hak terdengar dari arah lift.
Maya muncul.
Ia masih mengenakan seragam kepala perawat.
Pergelangan kakinya yang kemarin dikatakan terkilir kini tampak baik-baik saja.
Bima menatapnya seolah melihat orang asing.
“Maya.”
Perempuan itu berhenti beberapa meter dari mereka.
“Bima, aku bisa menjelaskan.”
“Kenapa?”
Maya memandang Nabila, lalu kembali kepada Bima.
“Karena selama dua tahun kamu terus bilang pernikahanmu sudah tidak bahagia.”
Bima membeku.
“Aku tidak pernah bilang akan meninggalkan Nabila.”
“Tapi kamu membuatku percaya ada kesempatan.”
“Aku tidak pernah menyuruhmu melakukan semua ini.”
“Tidak.”
Mata Maya memerah.
“Kamu cuma datang setiap kali aku memanggil. Kamu mengeluh tentang istrimu. Kamu membiarkan aku menjadi tempatmu mencari kenyamanan. Lalu setiap aku bertanya tentang masa depan, kamu kembali bersembunyi di balik status suami.”
Bima tidak mampu membantah sepenuhnya.
Karena sebagian ucapan itu benar.
Ia memang tidak pernah menjanjikan pernikahan kepada Maya.
Namun ia juga tidak pernah benar-benar menghentikan kedekatan mereka.
Ia menikmati perhatian itu.
Menikmati perasaan dibutuhkan.
Dan tanpa sadar, ia telah memelihara harapan yang seharusnya sejak awal ia matikan.
“Tapi Pak Lukman tidak ada hubungannya dengan kita,” kata Bima.
“Aku tidak bermaksud membuat beliau meninggal.”
“Namun kamu sengaja menjauhkan aku dari ruang operasi.”
Maya terdiam.
Itu sudah menjadi jawaban.
Nabila berjalan mendekati Maya.
Anehnya, tidak ada kemarahan meledak di wajahnya.
“Aku pernah membencimu,” kata Nabila.
Maya menatapnya.
“Tapi sekarang tidak lagi.”
Maya terlihat bingung.
Nabila melanjutkan, “Karena kalau sebuah pernikahan bisa dihancurkan orang ketiga, berarti ada pintu yang dibuka dari dalam.”
Bima menunduk.
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada semua tuduhan sebelumnya.
Nabila menatap suaminya.
“Dan yang membuka pintu itu adalah Mas Bima.”
Maya mulai menangis.
Petugas keamanan kemudian memintanya ikut ke ruang manajemen untuk pemeriksaan.
Sebelum pergi, Maya menoleh kepada Bima.
Namun pria itu tidak membalas tatapannya.
Setelah koridor kembali sepi, Bima mendekati Nabila.
“Aku akan memperbaiki semuanya.”
Nabila menggeleng.
“Ada hal yang bisa diperbaiki.”
Ia mengangkat surat kematian ayahnya.
“Ada yang tidak.”
“Aku akan menerima semua sanksi rumah sakit. Aku akan bersaksi soal Maya dan Rian. Aku akan lakukan apa pun.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu beri aku kesempatan.”
Nabila memandangnya lama.
“Dua belas tahun lalu, waktu kita menikah, Ayah memberiku satu nasihat.”
Bima menunggu.
“Beliau bilang, jangan memilih laki-laki yang tidak pernah salah. Pilih laki-laki yang tahu kapan kesalahannya sudah melukai orang lain dan berani menanggung akibatnya.”
Air mata kembali mengalir di wajah Bima.
“Aku akan menanggung semuanya.”
Nabila membuka mapnya.
Ia mengeluarkan satu amplop putih.
Bima sudah bisa menebak isinya sebelum membukanya.
Permohonan cerai.
Tangannya gemetar.
“Nabila…”
“Aku tidak mengajukan ini karena Ayah meninggal.”
Bima menatapnya.
“Aku mengajukannya karena baru setelah Ayah meninggal aku sadar bahwa selama bertahun-tahun aku selalu menjadi orang yang menunggu.”
Nabila tersenyum getir.
“Menunggu kamu pulang.”
“Menunggu kamu punya waktu.”
“Menunggu kamu meminta maaf.”
“Menunggu kamu memilih keluarga kita.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku tidak mau menunggu lagi.”
Bima menangis semakin keras.
“Tolong jangan akhiri dua belas tahun hanya karena kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Nabila menggeleng.
“Bukan satu kesalahan, Mas.”
“Ini ribuan pilihan kecil yang kamu buat selama bertahun-tahun sampai akhirnya semuanya membawa kita ke hari ini.”
Bima menatap surat itu.
Untuk pertama kalinya, seorang dokter yang terbiasa memegang jantung manusia di tangannya merasa benar-benar tidak berdaya menghadapi sesuatu yang telah ia hancurkan sendiri.
Enam bulan kemudian, investigasi internal Rumah Sakit Medika Utama selesai.
Rian diberhentikan dan menghadapi proses hukum karena manipulasi komunikasi serta akses tanpa izin terhadap informasi pasien.
Maya kehilangan jabatannya dan diberhentikan setelah terbukti melanggar sejumlah prosedur serta terlibat dalam upaya menghalangi komunikasi terkait pasien.
Bima sendiri menerima sanksi berat dari rumah sakit.
Bukan karena ia secara langsung menyebabkan kematian Pak Lukman, sebab tim investigasi tidak menemukan bukti bahwa keterlambatan kehadirannya merupakan satu-satunya penyebab kematian.
Namun kelalaiannya terhadap tanggung jawab profesional dan konflik kepentingan tidak bisa diabaikan.
Ia mengundurkan diri sebelum masa sanksinya berakhir.
Perceraiannya dengan Nabila selesai beberapa minggu kemudian.
Tidak ada pertengkaran di pengadilan.
Tidak ada perebutan harta.
Tidak ada drama.
Justru ketenangan itulah yang paling menyakitkan.
Setahun kemudian, Bima bekerja di sebuah rumah sakit kecil di luar Jakarta.
Suatu sore, seorang pasien tua datang untuk kontrol setelah operasi jantung.
Setelah pemeriksaan selesai, pria itu tersenyum.
“Dokter, istri saya menunggu di luar. Boleh saya panggil?”
Bima berhenti menulis.
“Tentu.”
Pria tua itu tertawa.
“Dia selalu khawatir kalau saya masuk rumah sakit.”
Beberapa detik kemudian istrinya masuk dan langsung menggenggam tangan suaminya.
Pemandangan sederhana itu membuat Bima terdiam.
Malamnya, ia membuka laci meja kerja.
Di dalamnya masih tersimpan jaket hitam pemberian Nabila.
Ia tidak pernah lagi memakainya.
Di saku jaket itu terdapat sebuah foto lama.
Foto pernikahan mereka.
Di belakang foto, Nabila pernah menulis satu kalimat bertahun-tahun lalu.
Pulanglah sebelum seseorang berhenti menunggumu.
Bima menatap tulisan itu lama.
Barulah sekarang ia memahami maknanya.
Namun kisah mereka belum benar-benar berakhir.
Di hari yang sama, ratusan kilometer dari tempat Bima bekerja, Nabila sedang membereskan barang-barang peninggalan ayahnya.
Di dalam sebuah kotak kayu tua, ia menemukan amplop dengan namanya.
Tulisan tangan Pak Lukman.
Nabila membukanya dengan tangan gemetar.
Surat itu ternyata ditulis dua hari sebelum operasi.
Ayahnya menulis bahwa ia sudah mengetahui keretakan rumah tangga putrinya.
Namun kalimat terakhir membuat Nabila menangis.
Ayahnya menulis bahwa apa pun yang terjadi saat operasi nanti, Nabila tidak boleh menjadikan kematian siapa pun sebagai penjara bagi hidupnya.
Lalu di bagian paling bawah terdapat satu pesan.
Kalau Bima melakukan kesalahan, jangan bertahan hanya karena Ayah menyayanginya. Dan jangan pergi hanya karena Ayah meninggal. Pilihlah berdasarkan apakah hatimu masih merasa aman ketika berada di sampingnya.
Nabila memeluk surat itu di dadanya.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, tangisnya bukan tangis kemarahan.
Ia menangis karena akhirnya mengerti.
Ayahnya tidak meninggalkan pesan agar ia membenci Bima.
Ayahnya meninggalkan izin agar ia memilih dirinya sendiri.
Nabila berdiri di depan jendela.
Matahari sore menyinari wajahnya.
Di meja terdapat tiket pesawat menuju Yogyakarta.
Besok pagi ia akan berangkat untuk memulai pekerjaan baru sebagai konsultan pendidikan di sana.
Tanpa Bima.
Tanpa Maya.
Tanpa bayang-bayang rumah sakit yang selama setahun terakhir memenuhi hidupnya.
Sementara di tempat lain, Bima masih duduk sendirian memegang foto pernikahan mereka.
Dua manusia yang pernah saling mencintai itu akhirnya memahami pelajaran yang sama dari arah yang berbeda.
Cinta tidak selalu berakhir karena hadirnya orang ketiga.
Kadang cinta berakhir ketika seseorang terlalu yakin bahwa orang yang mencintainya akan selalu menunggu.
Dan penyesalan paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang pergi.
Melainkan ketika kita akhirnya tahu betapa berharganya dia setelah tidak ada lagi jalan untuk memintanya pulang.
