TIBA DI RUMAH MENANTU, SAYA MEMILIH DIAM SAAT MELIHAT PUTRI SAYA DISIKSA. HANYA DENGAN SATU TELEPON, SAYA MENGHANCURKAN SUAMI DAN MERTUANYA YANG KEJAM HARI ITU JUGA!

Dion berhenti hanya dua langkah dari Rahmi.

Maya langsung berdiri di antara suami dan ibunya.

Gerakan itu terlalu spontan untuk seseorang yang lengannya masih tergantung dalam arm sling. Wajahnya meringis menahan sakit, tetapi ia tidak mundur.

“Jangan sentuh Ibu.”

Dion menatapnya seolah tidak percaya.

Selama hampir dua tahun pernikahan mereka, Maya selalu menjadi orang pertama yang menunduk ketika suaminya meninggikan suara.

Kini perempuan itu berdiri di hadapannya.

Tubuhnya gemetar, tetapi matanya tidak lagi kosong.

“Kamu berani melawan saya?” desis Dion.

Rahmi bangkit dari kursinya.

Ia menyentuh bahu Maya pelan.

“Duduk.”

“Ibu, dia bisa…”

“Duduk, Maya.”

Nada suara Rahmi tidak keras, tetapi ketegasan di dalamnya membuat Maya menurut.

Rahmi kemudian berdiri menghadapi Dion.

“Kalau kamu ingin mengambil USB itu, ambil sendiri dari tas saya.”

Dion mengerutkan dahi.

Bu Ratna segera menyambar lengan putranya.

“Dion, jangan bodoh. Telepon satpam.”

“Pintu sudah saya kunci,” jawab Dion.

“Bagus. Ambil tasnya.”

Rahmi justru tersenyum tipis.

Dion melihat senyum itu dan tiba-tiba merasa tidak nyaman.

“Kenapa Ibu tersenyum?”

“Karena saya sedang mencoba memahami,” jawab Rahmi, “seberapa jauh seseorang bisa merasa berkuasa sebelum akhirnya sadar bahwa lantai yang dipijaknya bukan miliknya.”

Rendy tertawa kecil.

“Bicara apa sih, Bu? Ini rumah Kak Dion.”

Rahmi menoleh kepadanya.

“Benarkah?”

Suasana mendadak berubah.

Bu Ratna mempersempit matanya.

“Apa maksud Anda?”

Rahmi belum sempat menjawab ketika bel rumah berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Lalu beberapa kali berturut-turut.

Dion melirik jam di dinding.

Pukul 20.17.

“Siapa yang datang malam-malam begini?”

Anita berdiri.

“Mungkin satpam kompleks.”

“Duduk!” bentak Dion.

Anita kembali duduk.

Bel berbunyi lagi.

Kali ini disertai ketukan keras.

“Pak Dion?” terdengar suara dari luar. “Kami dari kepolisian. Mohon buka pintu.”

Wajah Dion berubah.

Bu Ratna segera menatap Rahmi.

“Anda memanggil polisi?”

Rahmi tidak menjawab.

Dion mendekati pintu, tetapi tidak langsung membukanya.

“Untuk apa polisi datang ke rumah saya?”

Suara dari luar menjawab tenang.

“Buka pintunya terlebih dahulu, Pak.”

Dion menoleh kepada Rahmi.

“Apa yang Ibu laporkan?”

“Belum ada yang saya laporkan malam ini.”

“Bohong.”

Rahmi mengeluarkan ponselnya.

“Saya hanya menelepon seorang teman.”

Dion mengepalkan tangan.

Kemudian suara lain terdengar dari luar.

“Dion, buka pintu.”

Dion membeku.

Ia mengenali suara itu.

Pak Arman Prasetya.

Ayahnya sendiri.

Dengan gerakan tergesa, Dion membuka kunci.

Pintu baru terbuka setengah ketika Pak Arman langsung mendorongnya dari luar.

Di belakangnya berdiri enam orang.

Komjen Hendra.

Dua anggota kepolisian.

Dr. Anton.

Seorang pria berkacamata bernama Budi Santoso, komisaris utama PT Prasetya Utama.

Dan terakhir, seorang pengacara keluarga yang selama puluhan tahun mengelola dokumen investasi Rahmi.

Dion menatap mereka satu per satu.

“Ayah?”

Pak Arman tidak menjawab.

Matanya justru tertuju pada Maya.

Arm sling.

Lebam di leher.

Wajah pucat.

Kemudian tatapannya turun pada pecahan mangkuk di lantai.

“Apa yang kamu lakukan kepada istrimu?”

Dion mencoba tertawa.

“Ini salah paham.”

Dr. Anton berjalan mendekati Maya.

“Saya perlu memeriksa kondisinya.”

Bu Ratna maju.

“Tidak perlu. Dia cuma jatuh.”

Maya memandang ibu mertuanya.

Lalu berkata pelan,

“Saya tidak jatuh.”

Semua orang terdiam.

Dr. Anton menatap Maya.

“Bisakah Anda mengatakan apa yang terjadi?”

Maya tidak langsung menjawab.

Ia menatap Rahmi.

Ibunya mengangguk.

Maya menarik napas panjang.

“Dion memukul saya.”

Dion langsung menyela.

“Dia bohong!”

Maya tidak berhenti.

“Tadi pagi dia menarik tangan saya sampai bahu saya cedera.”

“Maya!”

“Seminggu lalu dia mendorong saya ke lemari.”

Dion melangkah maju.

Komjen Hendra langsung mengangkat tangan.

“Jangan bergerak.”

Dion berhenti.

Maya mulai menangis.

Bukan tangisan keras.

Air matanya mengalir dalam diam, seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.

“Tiga bulan lalu dia menampar saya karena saya bertanya tentang transfer perusahaan.”

Pak Arman memejamkan mata.

Bu Ratna justru berteriak.

“Itu urusan rumah tangga!”

Rahmi menatapnya.

“Tidak. Kekerasan bukan urusan rumah tangga yang boleh disembunyikan.”

“Kami sedang mendidik dia!”

“Dengan mematahkan bahunya?”

Bu Ratna terdiam.

Dr. Anton kemudian membawa Maya ke sofa ruang keluarga untuk pemeriksaan awal.

Saat bagian kerah bajunya dibuka sedikit, terlihat lebam lain di bahu dan punggung.

Pak Arman tidak mampu lagi melihat.

Ia membalikkan tubuh.

Dion masih mencoba mempertahankan sikap tenang.

“Oke. Saya mengaku tadi pagi kami bertengkar. Saya mungkin agak kasar. Tapi semua pasangan bertengkar.”

“Tidak semua pasangan memukul istrinya,” kata Anita tiba-tiba.

Semua orang menoleh.

Dion menatap adiknya tajam.

“Diam.”

Untuk pertama kalinya, Anita tidak menunduk.

“Kak Maya tidak bohong.”

Bu Ratna pucat.

“Anita.”

“Saya pernah lihat Kak Dion mendorong Kak Maya di dapur.”

“Diam!”

“Dan Mama tahu.”

Bu Ratna berdiri.

“Anita!”

“Mama bahkan bilang jangan ikut campur.”

Rendy bangkit dari kursinya.

“Kamu gila? Mau hancurkan keluarga sendiri?”

Anita menatap kakaknya.

“Yang menghancurkan keluarga bukan orang yang bicara. Yang menghancurkan keluarga adalah orang yang melakukan kekerasan lalu memaksa semua orang diam.”

Rahmi memandang perempuan muda itu beberapa detik.

Ada rasa takut dalam wajah Anita.

Namun ada juga kelegaan.

Seolah kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya telah membebaskan sesuatu yang selama ini mengikatnya.

Komjen Hendra memberikan instruksi kepada dua petugas untuk mencatat pernyataan awal.

Dion mulai panik.

“Ini tidak perlu dibesar-besarkan. Besok saya punya rapat penting.”

Budi Santoso yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.

“Tidak ada rapat pengangkatan besok.”

Dion menoleh cepat.

“Apa?”

“Rapat dibatalkan.”

“Siapa yang membatalkan?”

“Saya.”

Dion tertawa sinis.

“Pak Budi cuma komisaris utama. Pengangkatan saya sudah disepakati mayoritas.”

Budi memandang Rahmi.

“Belum tentu.”

Dion mengikuti arah tatapannya.

Untuk pertama kalinya malam itu, kesombongan di wajahnya benar-benar retak.

“Apa hubungannya dengan Ibu?”

Pengacara Rahmi mengeluarkan sebuah map hitam.

“PT Prasetya Utama memiliki struktur kepemilikan yang mungkin tidak pernah dijelaskan secara lengkap kepada Anda.”

Ia meletakkan dokumen di meja.

“Sebanyak tiga puluh delapan persen saham dengan hak suara perusahaan dipegang Kusuma Family Trust.”

Dion tertawa pendek.

Namun tak seorang pun ikut tertawa.

“Terus?”

Pengacara itu melanjutkan.

“Pemegang kuasa tunggal Kusuma Family Trust sejak wafatnya Bapak Surya Kusuma adalah Ibu Rahmi Kusuma.”

Dion berhenti bernapas sesaat.

Bu Ratna meraih sandaran kursi.

Rendy menatap Rahmi dengan mulut terbuka.

Pak Arman justru menunduk.

Ia sudah mengetahui semuanya.

Dion memandang ayahnya.

“Ayah tahu?”

Pak Arman mengangguk.

“Sejak dulu.”

“Kenapa saya tidak pernah diberi tahu?”

“Karena saham itu bukan milikmu.”

Dion menunjuk Rahmi.

“Jadi selama ini keluarga mereka punya perusahaan kita?”

“Tidak,” jawab Rahmi. “Kami tidak punya perusahaan kalian. Kami menyelamatkannya.”

Ruangan kembali hening.

Rahmi berjalan perlahan menuju meja.

“Dua puluh dua tahun lalu, perusahaan ini hampir bangkrut karena gagal membayar kewajiban kepada bank. Suami saya memasukkan dana saat tidak ada investor lain yang mau masuk.”

Ia menatap Bu Ratna.

“Kalian meminta pertolongan.”

Wajah Bu Ratna berubah kaku.

Rahmi meneruskan.

“Kami tidak pernah mengambil alih perusahaan karena almarhum suami saya menghormati persahabatannya dengan Pak Arman.”

Pak Arman menelan ludah.

“Saya tidak pernah melupakan itu.”

Rahmi kemudian menatap Dion.

“Tapi malam ini saya melihat bahwa kesetiaan almarhum suami saya telah dipakai untuk membesarkan seseorang yang merasa kekuasaan memberinya hak menyakiti perempuan.”

Dion kehilangan kesabarannya.

“Ini pemerasan!”

“Bukan.”

Rahmi mengambil ponselnya.

“Saya hanya menggunakan hak suara saya.”

Ia menekan layar.

Ponsel Budi berbunyi hampir bersamaan.

Budi membaca pesan masuk tersebut.

Kemudian menatap Dion.

“Surat instruksi resmi sudah diterima.”

Dion memucat.

“Instruksi apa?”

“Menolak pencalonan Anda sebagai Direktur Operasional.”

Dion menatap Rahmi.

“Karier saya tidak bisa dihancurkan hanya karena masalah rumah tangga!”

“Benar,” jawab Rahmi. “Kariermu tidak dihancurkan karena itu.”

Ia mengambil USB hitam dari tasnya.

“Kariermu dihancurkan oleh ini.”

Dion menatap benda kecil tersebut dengan mata membesar.

Maya perlahan bangkit dari sofa.

“Di dalamnya ada salinan empat puluh tujuh faktur fiktif.”

Pak Arman menoleh kepada putranya.

“Apa?”

Maya melanjutkan.

“Pembayaran vendor konstruksi yang tidak pernah melakukan pekerjaan. Tagihan konsultasi palsu. Pembelian mesin yang nilainya dinaikkan.”

Dion mulai mundur.

“Kamu tidak mengerti akuntansi.”

Maya tersenyum getir.

“Aku memang bukan akuntan.”

Ia menatap suaminya.

“Tapi sebelum menikah denganmu, aku bekerja empat tahun sebagai auditor internal.”

Dion membeku.

Rahmi sendiri tampak terkejut.

Maya tidak pernah menceritakan bagian itu.

“Aku menemukan transaksi itu tiga bulan lalu,” lanjut Maya. “Awalnya aku pikir hanya kesalahan administrasi. Lalu aku menemukan rekening penampung.”

Bu Ratna tiba-tiba menyela.

“Jangan dengarkan dia!”

Maya menoleh.

“Rekening itu milik perusahaan bernama RDP Konsultama.”

Rendy mendadak menjatuhkan gelasnya.

Pecahan kaca berhamburan.

Semua orang melihatnya.

Maya menatap Rendy.

“Direktur perusahaan itu Rendy Prasetya.”

Wajah Rendy langsung putih.

“Itu bukan perusahaan saya.”

“Nomor identitas, alamat, dan tanda tanganmu ada di dokumen pendirian.”

“Saya cuma diminta tanda tangan!”

“Siapa yang meminta?”

Rendy terdiam.

Dion menatapnya tajam.

Bu Ratna mulai gemetar.

Pak Arman perlahan memahami arah pembicaraan itu.

“Berapa banyak uang yang dialihkan?”

Maya menjawab,

“Setidaknya dua puluh tiga miliar rupiah dalam enam belas bulan.”

Pak Arman terduduk.

Dion mencoba mendekati Maya.

“Dengar, kamu tidak tahu ceritanya.”

Komjen Hendra kembali menghalangi.

“Jaga jarak.”

Dion kehilangan kendali.

“Semua ini gara-gara dia!”

Ia menunjuk Maya.

“Kalau dia tidak ikut campur, semuanya akan baik-baik saja!”

Rahmi menatapnya.

“Jadi kamu mengaku?”

Dion baru menyadari kesalahannya.

“Tadi Anda bilang ada faktur fiktif,” lanjut Rahmi. “Tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa kamu terlibat.”

Dion membisu.

Bu Ratna memegang kepalanya.

Komjen Hendra menatap petugas di sampingnya.

“Catat.”

Rendy tiba-tiba menunjuk Dion.

“Dia yang menyuruh saya!”

Dion berbalik.

“Bangsat!”

“Saya cuma dipakai!”

Rendy mundur ketakutan.

“Dia bilang setelah jadi direktur semuanya bisa dibereskan!”

“Diam!”

“Dia yang membuat invoice! Mama juga tahu!”

Bu Ratna menampar Rendy.

Suara tamparan itu menggema di seluruh ruang makan.

Namun semuanya sudah terlambat.

Pak Arman berdiri perlahan.

Tatapan yang diberikannya kepada istri dan kedua putranya tidak lagi mengandung kemarahan.

Hanya kehancuran.

“Kamu tahu?” tanyanya kepada Bu Ratna.

Bu Ratna menangis.

“Saya cuma ingin membantu anak kita.”

“Dengan mencuri dari perusahaan?”

“Dion bilang uangnya akan dikembalikan setelah dia menjadi direktur.”

Pak Arman menutup wajahnya.

Dion mulai mencari jalan keluar.

“Tidak ada bukti bahwa USB itu asli.”

Maya menatapnya.

“Memang tidak.”

Dion tersenyum.

Namun Maya melanjutkan,

“Karena USB itu hanya salinan ketiga.”

Senyum Dion hilang.

“Salinan pertama sudah saya kirim ke auditor independen minggu lalu.”

Ia menarik napas.

“Salinan kedua ada di cloud yang hanya bisa dibuka dari akun saya.”

Rahmi menoleh kepada putrinya.

Kini ia memahami sesuatu.

Maya selama ini bukan tidak melawan.

Ia sedang menunggu saat yang tepat.

“Kenapa kamu tidak bilang kepada Ibu?” tanya Rahmi pelan.

Maya menatap lantai.

“Karena Dion mengancam akan membuat kecelakaan Ibu terlihat seperti kecelakaan biasa.”

Rahmi terdiam.

Maya mulai menangis lagi.

“Setiap kali aku mau telepon, dia memeriksa ponselku. Dia bilang kalau aku cerita kepada siapa pun, Ibu yang akan membayar akibatnya.”

Rahmi memeluk putrinya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ketenangannya retak.

Bukan karena takut.

Melainkan karena menyadari betapa lama Maya menanggung semuanya sendirian demi melindunginya.

“Maafkan Ibu.”

Maya menggeleng di bahunya.

“Aku yang seharusnya minta maaf.”

“Tidak.”

Rahmi memegang wajah putrinya.

“Yang harus meminta maaf adalah orang yang membuatmu percaya bahwa bertahan dalam kekerasan adalah kewajiban.”

Dion mencoba berlari menuju pintu belakang.

Dua petugas langsung mengejarnya.

Ia baru mencapai lorong ketika tubuhnya ditahan.

“Lepaskan saya!”

Ia meronta.

“Saya belum ditetapkan sebagai tersangka!”

Komjen Hendra berjalan mendekat.

“Benar. Proses hukum tetap harus berjalan sesuai prosedur.”

Ia menatap Dion tajam.

“Tetapi malam ini ada dugaan kekerasan dalam rumah tangga, ancaman, dan bukti awal tindak pidana korporasi yang harus diamankan.”

Dion masih berteriak saat dibawa keluar.

Rendy duduk lemas di lantai.

Bu Ratna menangis histeris.

Pak Arman tidak mencoba menenangkan siapa pun.

Ia hanya berjalan menuju Maya.

Untuk beberapa saat ia berdiri di depan menantunya tanpa mampu berkata apa-apa.

Kemudian laki-laki berusia enam puluh tiga tahun itu menundukkan kepala.

“Maafkan saya.”

Maya memandangnya.

“Saya gagal sebagai ayah,” lanjut Pak Arman. “Saya terlalu sibuk membangun perusahaan sampai tidak melihat seperti apa anak saya tumbuh.”

Maya tidak langsung menjawab.

“Ayah tidak memukul saya.”

Pak Arman mengangkat wajah.

“Tapi saya menciptakan rumah yang membuat anak saya berpikir kekuasaan adalah ukuran harga diri.”

Ia menatap Anita.

“Dan saya membuat anak perempuan saya takut bicara.”

Anita mulai menangis.

Pak Arman memeluknya.

Malam itu, Maya dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap.

Hasilnya menunjukkan cedera bahu, memar di beberapa bagian tubuh, dan retakan kecil pada salah satu tulang rusuk yang sudah mulai sembuh.

Keesokan paginya, rapat luar biasa dewan komisaris PT Prasetya Utama digelar.

Dion bukan hanya kehilangan pencalonannya.

Ia dan Rendy juga diberhentikan dari seluruh jabatan perusahaan sementara proses audit forensik berjalan.

Tiga minggu kemudian, penyidik menemukan bahwa aliran dana tidak berhenti pada dua puluh tiga miliar rupiah.

Jumlah sesungguhnya hampir dua kali lipat.

Sebagian digunakan untuk investasi pribadi Dion.

Sebagian masuk ke rekening perusahaan Rendy.

Dan sebagian lainnya ternyata digunakan Bu Ratna untuk membeli dua properti atas nama kerabatnya.

Namun kejutan terbesar muncul dua bulan setelah malam itu.

Ketika Rahmi sedang membantu Maya mengurus proses perceraian, Anita datang membawa sebuah amplop cokelat.

“Ada sesuatu yang harus Tante lihat.”

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan almarhum Surya Kusuma, suami Rahmi.

Surat itu ditemukan Anita bertahun-tahun lalu di lemari arsip keluarga Prasetya, tetapi ia tidak memahami artinya.

Rahmi membaca tanggal di bagian atas.

Dua puluh dua tahun lalu.

Isinya hanya beberapa paragraf.

Surya menulis bahwa investasi mereka di PT Prasetya Utama bukan semata-mata keputusan bisnis.

Ia melakukannya karena Pak Arman pernah menyelamatkan nyawanya dalam kecelakaan ketika mereka masih muda.

Di bagian terakhir tertulis satu kalimat yang membuat Rahmi terdiam lama.

Jika suatu hari anak-anak kita dipertemukan oleh kehidupan, jangan pernah jadikan saham ini alat untuk menguasai mereka. Gunakan hanya jika salah satu dari mereka perlu diselamatkan dari kekuasaan yang salah.

Rahmi menutup surat itu.

Tangannya gemetar.

Maya yang duduk di sampingnya membaca kalimat tersebut sekali lagi.

“Jadi Ayah seperti sudah tahu?”

Rahmi tersenyum dalam tangisnya.

“Bukan tahu.”

Ia menggenggam tangan putrinya.

“Ayahmu hanya mengerti satu hal yang sering dilupakan banyak orang.”

“Apa?”

“Bahwa kekuasaan seharusnya digunakan untuk melindungi, bukan menindas.”

Enam bulan kemudian, Maya kembali bekerja.

Bukan di perusahaan Prasetya.

Ia bergabung dengan sebuah lembaga konsultasi tata kelola perusahaan dan mulai membantu membangun sistem pelaporan internal bagi korban intimidasi di tempat kerja.

Lengannya sudah pulih.

Lebam di tubuhnya hilang.

Tetapi perubahan terbesar bukan sesuatu yang bisa dilihat dengan mata.

Suatu sore, Rahmi datang mengunjunginya di apartemen kecil yang baru disewa Maya di Jakarta Selatan.

Tidak ada rumah megah.

Tidak ada pelayan.

Tidak ada meja makan panjang.

Hanya ruang sederhana, dua cangkir teh hangat, dan jendela yang menghadap deretan pohon.

Maya membuka pintu sambil tersenyum.

Senyum yang kali ini berbeda.

Tidak kaku.

Tidak meminta izin.

Tidak menyembunyikan apa pun.

Rahmi memandang putrinya beberapa detik.

“Ada apa?” tanya Maya.

Rahmi menggeleng.

“Tidak ada.”

Ia masuk dan memeluk Maya.

Di rumah itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rahmi tidak melihat anak perempuan yang harus ia selamatkan.

Ia melihat seorang perempuan yang sudah menyelamatkan dirinya sendiri.

Dan Rahmi akhirnya mengerti bahwa satu telepon memang bisa menghancurkan kekuasaan Dion dalam satu malam.

Namun yang benar-benar mengakhiri kekuasaannya bukan saham, polisi, jabatan, ataupun koneksi.

Melainkan saat Maya berhenti merasa takut untuk mengatakan satu kalimat sederhana.

Aku tidak jatuh dari tangga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang