Ibuku memaksaku mengenakan gaun pengantin milik kakakku dan menggantikannya menikah dengan seorang pria yang… buta.

“Kamu bukan dia, kan?”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Aku menatap wajahnya, tetapi kedua matanya yang tidak lagi bisa melihat itu tetap mengarah lurus ke depan. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada keterkejutan. Justru ketenangan itulah yang membuatku semakin takut.

Aku menarik tanganku perlahan.

“Maaf…”

Hanya itu yang berhasil keluar dari bibirku.

Dia tidak langsung menjawab.

Pria itu, Arga Mahendra, suamiku yang bahkan belum benar-benar mengenalku, berjalan ke kursi di dekat jendela lalu duduk. Tangannya meraba sandaran kursi dengan gerakan yang sudah terbiasa.

“Siapa namamu?”

Aku menggigit bibir.

Selama seharian penuh, semua orang memanggilku dengan nama kakakku, Selena.

Ibuku sudah mengingatkanku berkali-kali agar tidak pernah menyebut nama asliku.

Tetapi di hadapan Arga, kebohongan itu tiba-tiba terasa terlalu berat.

“Nara.”

Dia mengangguk kecil.

“Nara.”

Cara dia mengucapkan namaku membuat dadaku terasa aneh.

“Sejak kapan kamu tahu?” tanyaku.

“Sejak kamu berdiri di sampingku saat upacara.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Tapi bagaimana?”

Arga tersenyum tipis.

“Selena pernah bertemu denganku beberapa kali sebelum kecelakaan. Setelah aku kehilangan penglihatan, kami juga sempat makan malam bersama keluarga.”

Dia berhenti.

“Dia memakai parfum yang sangat kuat. Kamu tidak.”

Aku terdiam.

“Cara dia menggenggam tangan juga berbeda. Selena selalu menyentuh orang seolah sedang terburu-buru. Kamu menggenggam tanganku seperti sedang meminta maaf.”

Aku menundukkan kepala.

Ternyata sejak awal aku tidak pernah berhasil menipunya.

“Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tetap melanjutkan pernikahan?”

Arga tidak langsung menjawab.

Suara hujan di luar terdengar semakin deras.

Akhirnya dia berkata, “Karena aku juga tahu kamu tidak berada di sana atas kemauanmu sendiri.”

Air mataku langsung jatuh.

Sepanjang hari aku menahannya.

Di depan ibu, di depan tamu, di depan penghulu, bahkan ketika cincin pernikahan dipasang di jariku, aku terus berusaha terlihat kuat.

Namun kalimat sederhana itu menghancurkan seluruh pertahananku.

“Aku minta maaf,” kataku sambil terisak. “Aku tahu ini salah. Aku seharusnya menolak. Tapi ibu bilang kalau pernikahan dibatalkan, keluarga kami akan kehilangan semuanya. Perusahaan ayahku punya utang besar kepada keluargamu. Kakakku pergi begitu saja dan…”

“Aku tahu.”

Aku mengangkat kepala.

“Kamu tahu?”

“Sebagian.”

Arga menyandarkan tubuhnya.

“Keluargaku tidak menikahi keluargamu hanya demi hubungan bisnis, Nara. Setidaknya aku tidak.”

Aku mengusap air mata.

“Lalu kenapa?”

Wajahnya berubah sedikit.

“Karena sebelum kecelakaan, aku pernah bertemu dengan seseorang.”

Aku menahan napas.

“Seorang perempuan yang bahkan mungkin sudah lupa pernah bertemu denganku.”

Dia tersenyum kecil.

“Waktu itu aku sedang menghadiri acara sosial di Bandung. Aku meninggalkan gedung karena muak dengan semua orang yang berusaha mendekatiku karena nama keluargaku.”

Aku mendengarkan tanpa bergerak.

“Di halaman belakang gedung, aku melihat seorang gadis sedang memberi makan kucing liar. Gaunnya terkena lumpur. Sepatunya rusak. Tapi dia tetap duduk di tanah sambil tertawa.”

Jantungku perlahan berdetak lebih cepat.

Aku mengenal cerita itu.

Karena gadis itu adalah aku.

Tiga tahun sebelumnya, aku memang pernah menghadiri acara amal bersama kakakku di Bandung.

Selena sibuk berkenalan dengan orang-orang penting, sementara aku melarikan diri ke belakang gedung karena tidak nyaman berada di tengah keramaian.

Di sana aku menemukan seekor kucing kecil terluka.

Seorang pria pernah datang dan membantuku membawanya ke klinik hewan.

Aku bahkan tidak pernah tahu siapa namanya.

“Pria itu…” suaraku bergetar.

Arga menoleh ke arahku.

“Ya.”

Aku menutup mulut dengan kedua tangan.

“Jadi itu kamu?”

“Kamu benar-benar tidak tahu?”

Aku menggeleng meski sadar dia tidak bisa melihatnya.

“Tidak.”

Arga tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan sedikit menghilang.

“Aku mencari tahu tentangmu setelah itu. Tapi keluargamu selalu membawa Selena ke acara-acara penting. Namanya ada di mana-mana. Aku hanya tahu kamu adiknya.”

Aku mulai memahami sesuatu.

“Jadi ketika keluarga kita membicarakan pernikahan…”

“Ayahku mengira Selena adalah pilihan yang tepat.”

“Dan kamu menerimanya?”

Arga terdiam beberapa detik.

“Aku pikir tidak ada gunanya menolak. Saat itu aku sudah mengalami kecelakaan. Banyak hal berubah. Aku tidak lagi yakin perempuan yang pernah kutemui itu bahkan akan mengingatku.”

Aku menatap lelaki di depanku.

Tiba-tiba semuanya terasa jauh lebih rumit daripada sekadar pernikahan palsu.

“Lalu sekarang?”

Arga berdiri.

Dia berjalan perlahan mendekatiku.

“Sekarang perempuan itu duduk di hadapanku dengan gaun pengantin milik kakaknya.”

Dia berhenti hanya beberapa langkah dariku.

“Kalau kamu ingin pergi, aku tidak akan menahanmu.”

Aku menahan napas.

“Tapi kalau kamu sudah berada di sini… tetaplah di sini.”

Kalimat itu kembali terdengar.

Namun kali ini aku memahami maknanya.

Dia bukan sedang memaksaku menjadi istrinya.

Dia sedang memberiku pilihan.

Pilihan yang bahkan keluargaku sendiri tidak pernah memberikannya.

Aku tetap tinggal.

Hari-hari pertama pernikahan kami terasa canggung.

Aku pindah ke rumah Arga di Jakarta Selatan, sebuah rumah modern yang luas tetapi terasa jauh lebih tenang daripada rumah keluargaku.

Arga hampir selalu bekerja dari ruang kerjanya. Setelah kehilangan penglihatan, dia mengubah banyak sistem di perusahaannya. Komputer dilengkapi pembaca layar, dokumen dikirim dalam format digital, dan setiap sudut rumah dibuat agar mudah dikenali melalui tekstur lantai serta posisi furnitur.

Aku segera menyadari satu hal.

Arga tidak pernah meminta dikasihani.

Dia hanya membutuhkan orang lain berhenti menganggapnya tidak mampu.

Suatu pagi aku melihat salah satu staf mencoba mengambilkan cangkir kopi untuknya.

“Biarkan saja,” kata Arga.

“Tapi Pak…”

“Saya buta, bukan kehilangan tangan.”

Aku hampir tertawa.

Arga menoleh.

“Kamu tertawa?”

“Sedikit.”

“Bagus. Rumah ini terlalu sepi sebelum kamu datang.”

Perlahan, hubungan kami berubah.

Aku mulai membantunya membaca dokumen tertentu yang sulit diakses sistem. Dia mengajariku memahami bisnis yang selama ini selalu dianggap terlalu rumit untukku oleh ayah dan ibu.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, seseorang benar-benar mendengarkan pendapatku.

Suatu malam Arga menyerahkan sebuah laporan kepadaku.

“Apa pendapatmu?”

Aku terkejut.

“Aku?”

“Di ruangan ini cuma ada kita berdua.”

Aku membaca laporan investasi sebuah perusahaan kecil di Surabaya.

“Aku rasa jangan.”

“Kenapa?”

“Pendapatannya bagus, tapi utangnya meningkat terlalu cepat. Mereka juga terlalu bergantung pada satu pemasok.”

Arga diam.

Aku langsung khawatir.

“Maaf kalau aku salah.”

“Tidak.”

Dia tersenyum.

“Kamu melihat sesuatu yang tim analis saya lewatkan.”

Sejak saat itu, Arga mulai melibatkanku dalam banyak keputusan kecil.

Aku yang selama bertahun-tahun dianggap anak kedua yang tidak menonjol tiba-tiba menemukan bahwa ternyata aku tidak bodoh.

Aku hanya tidak pernah diberi kesempatan.

Enam bulan setelah pernikahan kami, Arga menjalani operasi mata.

Dokter tidak menjanjikan banyak.

Saraf optiknya memang mengalami kerusakan, tetapi ada kemungkinan sebagian penglihatannya bisa kembali setelah prosedur dan rehabilitasi panjang.

Aku berada di rumah sakit sepanjang operasi.

Ketika akhirnya dia membuka perban beberapa minggu kemudian, aku berdiri di depannya dengan tangan gemetar.

“Berapa jari?” tanyaku sambil mengangkat dua jari.

Arga mengernyit.

“Entahlah.”

Harapanku jatuh.

Lalu dia tersenyum.

“Tapi aku bisa melihat bayanganmu.”

Aku menangis sambil tertawa.

Pemulihan berlangsung berbulan-bulan.

Awalnya Arga hanya bisa membedakan cahaya dan gelap.

Kemudian bentuk.

Kemudian warna.

Sampai akhirnya, hampir satu tahun setelah pernikahan kami, dia bisa melihat wajahku untuk pertama kalinya.

Kami berdiri di taman belakang rumah.

Arga memandangku lama sekali.

Aku menjadi gugup.

“Kenapa?”

Dia terus menatapku.

“Aku sedang memastikan sesuatu.”

“Apa?”

“Apakah wajahmu sesuai dengan suara yang selama ini kubayangkan.”

Aku menelan ludah.

“Dan?”

Dia tersenyum.

“Lebih baik.”

Aku memukul lengannya pelan.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Selena kembali.

Dia muncul di rumah kami tanpa pemberitahuan.

Aku sedang berada di ruang makan ketika seorang staf mengatakan ada tamu.

Saat aku keluar, kakakku berdiri di ruang tamu.

Dia masih sama.

Cantik, elegan, dan percaya diri.

Hanya saja tatapannya kali ini penuh kegelisahan.

“Nara.”

Aku berdiri membeku.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku ingin bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

“Ada.”

Dia melihat ke arah tangga.

“Terutama sekarang karena Arga sudah bisa melihat lagi.”

Aku langsung memahami maksudnya.

“Kamu bercanda.”

Selena mendekat.

“Pernikahan itu seharusnya milikku.”

Aku tertawa karena tidak percaya.

“Kamu kabur.”

“Aku takut.”

“Dan sekarang?”

“Aku menyesal.”

Nada suaranya semakin pelan.

“Aku dengar perusahaan Arga berkembang dua kali lipat setelah kecelakaan. Aku dengar operasinya berhasil. Aku…”

“Jadi sekarang dia cukup baik untukmu?”

Wajah Selena menegang.

Sebelum dia bisa menjawab, terdengar suara Arga dari belakang.

“Masalahnya, kamu sudah terlambat.”

Kami sama-sama menoleh.

Arga berdiri di dekat tangga.

Tatapannya kini tajam dan fokus.

Selena langsung tersenyum.

“Arga.”

Namun Arga tidak membalas senyum itu.

“Kamu datang untuk mengambil kembali posisi yang kamu tinggalkan?”

Selena menelan ludah.

“Aku hanya ingin kita membicarakan semuanya.”

“Tidak ada kita.”

“Tapi pernikahan itu dilakukan dengan identitasku. Secara hukum…”

“Secara hukum, nama istri saya sudah diperbaiki sejak tiga bulan setelah pernikahan.”

Aku terkejut.

Aku menoleh padanya.

Arga melanjutkan, “Ayahmu menandatangani semua dokumen koreksi identitas setelah saya mengancam akan melaporkan pemalsuan dokumen dan penipuan.”

Selena pucat.

Aku bahkan tidak tahu hal itu pernah terjadi.

“Kamu… melakukan itu?”

Arga menatapku.

“Aku ingin memastikan tidak ada seorang pun bisa datang suatu hari dan mengatakan pernikahan kita bukan milikmu.”

Dadaku sesak.

Selena mengepalkan tangan.

“Kalian semua gila. Ibu tidak akan membiarkan ini.”

Saat itulah aku akhirnya tersenyum.

“Untuk pertama kalinya, aku tidak peduli apa yang ibu izinkan.”

Selena pergi hari itu.

Namun masalah sebenarnya belum selesai.

Dua hari kemudian, ibuku datang.

Dia marah karena aku dianggap telah merebut hidup kakakku.

Anehnya, setelah semua yang terjadi, aku tidak lagi takut kepadanya.

“Kamu harus ingat siapa yang membesarkanmu,” katanya.

“Aku ingat.”

“Kalau begitu jangan durhaka.”

Aku menatap perempuan yang selama hidupku selalu menentukan apa yang harus kukenakan, siapa yang boleh kutemui, bahkan pekerjaan apa yang layak untukku.

“Ibu memaksaku menikah dengan identitas orang lain demi menyelamatkan perusahaan keluarga.”

Wajahnya berubah.

“Aku melakukan itu demi kita.”

“Tidak. Ibu melakukannya demi nama keluarga.”

Aku berdiri.

“Dan mungkin dulu aku terlalu takut untuk mengatakan tidak. Tapi sekarang tidak lagi.”

Ibu pergi tanpa mengatakan apa pun.

Beberapa bulan kemudian, aku mengetahui sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.

Perusahaan keluargaku ternyata tidak benar-benar diselamatkan oleh pernikahan tersebut.

Arga diam-diam telah melunasi sebagian besar utang ayahku bahkan sebelum kami menikah.

Ketika kutanya alasannya, jawabannya membuatku terdiam.

“Aku tahu keluargamu akan menggunakan utang sebagai alasan untuk memaksamu.”

“Jadi kamu sengaja melunasinya?”

“Aku ingin memberimu jalan keluar.”

“Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku?”

Arga tersenyum.

“Karena kalau malam itu kamu memilih pergi, aku ingin keputusanmu benar-benar bebas.”

Mataku panas.

Selama ini aku mengira Arga mempertahankanku karena keadaan.

Ternyata justru sejak awal dia sedang mencoba membebaskanku dari keadaan itu.

Dua tahun setelah pernikahan kami, kami kembali ke Bandung untuk menghadiri acara amal di tempat yang sama ketika kami pertama kali bertemu.

Aku mengenakan gaun sederhana.

Bukan gaun kakakku.

Bukan pakaian yang dipilih ibuku.

Gaun pilihanku sendiri.

Setelah acara selesai, Arga mengajakku ke halaman belakang gedung.

“Masih ingat tempat ini?”

Aku tertawa.

“Tentu.”

Seekor kucing belang muncul dari balik semak.

Aku jongkok untuk mengelusnya.

“Lucu sekali.”

Ketika aku berdiri lagi, Arga sudah memegang sebuah kotak kecil.

Aku mengernyit.

“Kita sudah menikah.”

“Aku tahu.”

“Lalu ini apa?”

Dia membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat cincin sederhana dengan batu kecil berwarna biru.

“Waktu pertama menikah, kamu tidak memilih gaunnya. Tidak memilih harinya. Bahkan tidak memilih pengantinnya.”

Aku menatapnya.

Arga menggenggam tanganku.

“Jadi kali ini aku mau bertanya dengan benar.”

Dia menarik napas.

“Nara Prameswari, setelah semua yang terjadi, apakah kamu masih memilihku?”

Air mataku jatuh sebelum aku sempat menjawab.

Aku tertawa sambil menangis.

“Iya.”

Arga memasangkan cincin itu di jariku.

Aku memeluknya erat.

Di tempat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Pagi ketika aku mengenakan gaun pengantin kakakku, aku mengira hidupku telah berakhir.

Aku pikir aku sedang kehilangan identitasku.

Aku pikir aku akan selamanya hidup sebagai pengganti seseorang.

Namun ternyata, pria yang tidak bisa melihat wajahku justru menjadi orang pertama yang benar-benar melihat diriku.

Bukan sebagai adik Selena.

Bukan sebagai alat penyelamat keluarga.

Bukan sebagai perempuan yang harus selalu menurut.

Hanya sebagai Nara.

Dan mungkin itulah alasan mengapa, dari seluruh janji yang pernah dibuat kepadaku, aku paling mengingat kalimat sederhana yang diucapkan Arga pada malam pertama kami.

“Kalau kamu sudah berada di sini… tetaplah di sini.”

Karena pada akhirnya, aku memang tetap tinggal.

Bukan karena dipaksa.

Bukan karena utang.

Bukan karena keluarga.

Aku tinggal karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, tempat itu adalah tempat yang kupilih sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang