Lampu kamar pengantin baru saja dipadamkan.Tubuhku terasa begitu lelah hingga rasanya sulit untuk sekadar mengangkat tangan. Aku, Lita, masih berusaha mengatur napas ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan keras.

Tiga hari setelah pernikahan, aku berdiri di lorong lantai dua rumah Bu Sulastri sambil membawa tumpukan pakaian yang baru kuangkat dari jemuran.

Sejak kejadian malam pertama, suasana rumah terasa berbeda.

Bu Sulastri hampir tidak pernah mengajakku bicara kecuali untuk memberi perintah. Setiap kali berpapasan denganku, tatapannya seolah sedang mencari kebohongan di wajahku.

Ardi juga berubah.

Ia tetap bersikap lembut, tetapi ada jarak yang sebelumnya tidak pernah ada.

Malam sebelumnya, saat kami hendak tidur, ia bahkan sempat bertanya pelan, “Lit, sebelum kenal aku, kamu benar-benar nggak pernah menyembunyikan sesuatu?”

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada bentakan ibunya.

Aku menatapnya cukup lama.

“Kamu juga meragukan aku?”

Ardi langsung menggeleng.

“Nggak. Aku cuma…”

“Kamu cuma ingin memastikan?”

Ia diam.

Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Siang itu, ketika melewati kamar Bu Sulastri, aku mendengar suara seseorang dari dalam.

“Aku sudah bilang, Tante nggak perlu khawatir. Sekarang Ardi pasti mulai ragu sama dia.”

Langkahku berhenti.

Aku mengenali suara itu.

Maya.

Sepupu Ardi.

Perempuan yang selama persiapan pernikahan selalu berada di dekat keluarga kami. Maya yang membantuku memilih dekorasi. Maya yang beberapa kali mengantarkanku ke penjahit. Bahkan Maya pula yang malam sebelum akad memelukku sambil berkata bahwa ia senang akhirnya Ardi menemukan perempuan baik.

Aku mendekat tanpa sadar.

Suara Bu Sulastri terdengar kemudian.

“Tapi rencanamu hampir gagal. Tidak ada apa-apa di seprai.”

Aku menahan napas.

“Justru itu yang kita butuhkan, Tante.”

Jantungku berdegup keras.

“Kalau ada noda, Tante nggak punya alasan untuk mempertanyakannya. Karena nggak ada, sekarang Tante bisa terus menekan Ardi.”

Tanganku mulai gemetar.

Bu Sulastri terdengar ragu.

“Kalau sampai Ardi tahu kita sengaja melakukan ini…”

“Dia nggak akan tahu.”

Maya tertawa kecil.

“Lagi pula, Tante sendiri yang bilang Tante nggak pernah setuju Ardi menikahi Lita.”

Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.

Jadi semuanya memang direncanakan.

Namun bagian berikutnya membuat darahku terasa berhenti mengalir.

“Aku cuma mau Ardi sadar,” kata Maya. “Kalau mereka berpisah, nanti semuanya bisa kembali seperti dulu.”

Seperti dulu?

Aku mundur selangkah.

Tiba-tiba sebuah ingatan muncul.

Dua bulan sebelum pernikahan, ketika aku dan Ardi sedang memilih cincin, Maya pernah datang tanpa memberi kabar. Waktu itu ia bercanda sambil mengatakan, “Dulu keluarga sempat mengira aku yang bakal jadi istri Ardi.”

Aku menganggapnya lelucon.

Sekarang aku tidak lagi yakin.

Aku membawa pakaian ke kamar dan langsung mengunci pintu.

Tanganku dingin.

Aku ingin menelepon Ardi, tetapi kemudian berhenti.

Kalau aku hanya mengatakan bahwa aku mendengar percakapan mereka, apakah Ardi akan percaya?

Setelah kejadian malam pertama saja, ia sudah mulai meragukanku.

Aku membutuhkan bukti.

Maka untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memilih diam bukan karena takut, melainkan karena ingin mengetahui seberapa jauh kebohongan ini telah berjalan.

Dua hari kemudian, kesempatan itu datang.

Bu Sulastri pergi menghadiri pengajian. Maya datang ke rumah sekitar pukul tiga sore dan langsung masuk ke kamar Bu Sulastri.

Aku menunggu.

Setelah Maya pulang, aku melihat sebuah amplop cokelat tertinggal di meja ruang keluarga.

Namaku tertulis di sana.

LITA.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar hasil cetak percakapan WhatsApp.

Aku membaca halaman pertama dan lututku hampir kehilangan tenaga.

Percakapan itu seolah berasal dari nomor milikku.

Ada pesan kepada seorang laki-laki bernama Reno.

“Aku sebenarnya masih sayang kamu.”

Kemudian pesan lain.

“Aku menikah dengan Ardi karena keluarganya lebih mapan.”

Aku hampir tertawa karena terlalu marah.

Percakapan itu palsu.

Aku bahkan tidak mengenal Reno.

Saat itulah aku memahami langkah berikutnya.

Mereka akan membuat Ardi percaya bahwa aku menikahinya karena uang.

Aku memotret seluruh isi amplop, mengembalikannya persis seperti semula, lalu menyimpannya di tempat semula.

Malamnya, aku tidak mengatakan apa pun kepada Ardi.

Keesokan harinya, apa yang kuduga benar-benar terjadi.

Saat makan malam, Bu Sulastri tiba-tiba meletakkan amplop itu di meja.

“Apa ini?”

Ardi mengambilnya.

Wajahnya berubah ketika membaca.

Aku hanya duduk diam.

“Lita,” katanya akhirnya. “Kamu kenal Reno?”

“Tidak.”

Bu Sulastri tertawa sinis.

“Masih mau bohong?”

Aku menatap Ardi.

“Kamu percaya itu?”

Ardi memandang lembaran-lembaran tersebut, kemudian menatapku lagi.

“Aku cuma mau kamu jelaskan.”

Ada sesuatu dalam diriku yang akhirnya patah.

Bukan karena tuduhan itu.

Melainkan karena suamiku masih meminta penjelasan atas kebohongan yang bahkan tidak memiliki bukti selain beberapa lembar kertas.

Aku berdiri.

“Baik.”

Aku mengambil ponsel.

“Nomor di percakapan itu katanya nomor aku, kan?”

Bu Sulastri terdiam.

Aku menunjukkan nomor teleponku kepada Ardi.

Dua digit terakhir berbeda.

Wajah Ardi berubah.

Aku melanjutkan.

“Foto profilnya memang foto aku. Namanya juga Lita. Tapi nomornya bukan nomor aku.”

Bu Sulastri langsung berkata, “Kamu bisa saja punya nomor lain.”

Aku tersenyum pahit.

“Benar. Karena itu aku sudah menghubungi operator.”

Aku mengeluarkan dokumen yang kusiapkan pagi tadi.

“Nomor itu terdaftar atas nama Maya Prameswari.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ardi membeku.

Bu Sulastri kehilangan warna di wajahnya.

Tepat saat itu, pintu rumah terbuka.

Maya masuk.

Begitu melihat kami, langkahnya berhenti.

“Maya.”

Suara Ardi terdengar berbeda.

Dingin.

Ia meletakkan hasil cetak percakapan di meja.

“Ini apa?”

Maya melihat Bu Sulastri.

Hanya satu detik.

Namun tatapan itu cukup untuk membongkar semuanya.

“Aku nggak tahu,” jawabnya.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Kalau begitu, kita dengarkan ini.”

Aku memutar rekaman yang kubuat dua hari sebelumnya.

Suara Maya terdengar jelas.

“Kalau mereka berpisah, nanti semuanya bisa kembali seperti dulu.”

Wajah Maya langsung pucat.

Bu Sulastri berdiri.

“Lita, kamu merekam pembicaraan orang?”

“Karena pembicaraan itu membahas bagaimana caranya menghancurkan pernikahanku.”

“Matikan!”

“Belum selesai.”

Aku menatap Maya.

“Apa maksudmu dengan kembali seperti dulu?”

Maya tidak menjawab.

Ardi justru berdiri.

“Maya?”

Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca.

Akhirnya, rahasia yang selama ini disembunyikan keluarga itu keluar.

Sebelum mengenalku, Ardi dan Maya memang pernah dijodohkan.

Bukan secara resmi.

Keluarga mereka memiliki usaha bersama dan Bu Sulastri menganggap pernikahan keduanya akan memperkuat hubungan bisnis.

Namun Ardi selalu menganggap Maya seperti saudara sendiri.

Ia menolak.

Kemudian ia bertemu denganku.

“Aku pikir lama-lama kamu bakal berubah pikiran,” kata Maya sambil menangis. “Tapi tiba-tiba kamu datang membawa Lita dan bilang mau menikah.”

Ardi menatapnya tidak percaya.

“Jadi kamu melakukan semua ini?”

“Aku cuma ingin kamu sadar kalau dia bukan perempuan yang tepat.”

“Dengan memfitnah istriku?”

Maya terdiam.

Aku kemudian menatap Bu Sulastri.

“Dan Ibu membantu dia.”

Bu Sulastri tidak langsung menyangkal.

Ia duduk perlahan.

“Aku cuma ingin yang terbaik untuk Ardi.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya sejak menikah, suaraku tidak gemetar.

“Ibu ingin yang terbaik menurut Ibu sendiri.”

Ardi memejamkan mata.

Aku melihat kemarahan di wajahnya.

Namun entah mengapa, kemarahan itu tidak lagi membuatku lega.

Karena kerusakan sudah terjadi.

Aku teringat malam pertama kami.

Ketika aku duduk di ranjang dengan tubuh tertutup selimut dan harga diriku dipertanyakan.

Aku teringat bagaimana Ardi berdiri tanpa benar-benar menghentikan ibunya.

Kemudian aku menyadari sesuatu.

Masalah terbesar dalam pernikahanku bukan Maya.

Bukan pula Bu Sulastri.

Masalahnya adalah aku menikahi seorang laki-laki yang belum belajar membuat batas antara menjadi anak dan menjadi suami.

Malam itu aku memasukkan pakaian ke koper.

Ardi mengikutiku ke kamar.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke rumah Kakakku.”

“Lit, semuanya sudah jelas. Maya sudah ketahuan. Ibu juga…”

Aku berhenti memasukkan pakaian.

“Justru karena semuanya sudah jelas, aku harus pergi.”

Ardi menatapku dengan mata merah.

“Aku minta maaf.”

“Aku tahu.”

“Aku salah karena nggak langsung membela kamu malam itu.”

Aku mengangguk.

“Benar.”

“Aku takut melawan Ibu.”

“Aku juga tahu.”

Ardi mendekat.

“Tapi kasih aku kesempatan.”

Aku menatap laki-laki yang baru beberapa hari menjadi suamiku.

Aku masih mencintainya.

Itulah bagian yang paling menyakitkan.

“Aku tidak pergi karena berhenti mencintaimu.”

Air mata akhirnya jatuh.

“Aku pergi karena aku tidak mau kehilangan diriku sendiri hanya supaya pernikahan ini tetap terlihat utuh.”

Aku meninggalkan rumah malam itu.

Selama hampir dua bulan, aku dan Ardi tinggal terpisah.

Keluarga besar mulai bergosip.

Ada yang menyalahkanku.

Ada yang mengatakan pengantin baru seharusnya belajar bersabar.

Ada pula yang mengatakan masalah keluarga tidak pantas dibawa keluar rumah.

Aku tidak peduli.

Untuk pertama kalinya, aku belajar bahwa mempertahankan rumah tangga tidak selalu berarti bertahan di dalam rumah.

Kadang-kadang seseorang harus keluar terlebih dahulu agar orang-orang di dalamnya memahami bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.

Ardi mulai datang menemuiku setiap minggu.

Bukan untuk memaksaku pulang.

Ia mulai mengikuti konseling pernikahan seorang diri.

Kemudian ia pindah dari rumah ibunya dan menyewa sebuah rumah kecil.

Ia juga keluar dari sebagian bisnis keluarga yang membuat Bu Sulastri terus mengendalikan keputusan hidupnya.

Suatu sore, hampir tiga bulan setelah pernikahan kami, Ardi datang membawa sebuah kunci.

Ia meletakkannya di meja.

“Aku sewa rumah.”

Aku tidak langsung mengambilnya.

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu suatu hari memutuskan pulang, aku ingin kamu pulang ke rumah kita. Bukan ke rumah Ibu.”

Aku menatapnya lama.

“Kalau aku tidak pulang?”

Ardi tersenyum tipis.

“Berarti aku tetap harus belajar menjadi orang yang lebih baik. Bukan supaya kamu kembali, tapi karena memang seharusnya begitu.”

Untuk pertama kalinya sejak malam pernikahan kami, aku melihat perubahan yang tidak hanya berupa kata-kata.

Dua minggu kemudian, aku datang ke rumah itu.

Bukan membawa seluruh koper.

Hanya satu tas kecil.

Aku belum sepenuhnya memaafkan.

Kepercayaan tidak kembali hanya karena seseorang meminta maaf.

Namun aku memilih memberi kesempatan kepada perubahan yang benar-benar dibuktikan.

Bu Sulastri baru meminta maaf enam bulan kemudian.

Ia datang sendirian.

Tidak membawa makanan.

Tidak membawa hadiah.

Ia hanya duduk di depanku dan berkata, “Ibu mempermalukanmu sebagai perempuan karena Ibu terlalu takut kehilangan kendali atas anak Ibu.”

Aku tidak langsung memeluknya.

Aku juga tidak mengatakan semuanya sudah selesai.

Aku hanya menjawab, “Saya bisa memaafkan Ibu. Tapi batas yang sekarang ada tetap harus dihormati.”

Ia mengangguk.

Dan anehnya, justru sejak hari itulah hubungan kami perlahan menjadi lebih sehat.

Maya tidak pernah lagi menjadi bagian dekat dalam kehidupan kami. Belakangan aku mendengar ia pindah ke Surabaya dan mulai menjalani hidupnya sendiri.

Setahun setelah pernikahan, saat mengganti seprai kamar, aku tiba-tiba teringat pada seprai putih malam pertama kami.

Aku berdiri cukup lama sambil memegang kain di tangan.

Ardi yang sedang merapikan lemari menatapku.

“Kamu kepikiran malam itu?”

Aku mengangguk.

Ia mendekat, tetapi tidak menyentuhku sampai aku sendiri menggenggam tangannya.

“Aku masih malu kalau mengingatnya,” kataku.

“Aku lebih malu karena waktu itu aku diam.”

Aku menatapnya.

“Jangan malu selamanya. Cukup ingat supaya tidak mengulanginya.”

Ardi mengangguk.

Kemudian kami memasang seprai baru bersama-sama.

Seprai itu juga berwarna putih.

Dulu aku membenci warna itu karena mengingatkanku pada malam ketika kehormatanku diukur dari noda yang tidak pernah muncul.

Sekarang aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Tidak ada selembar kain pun yang bisa membuktikan nilai seorang perempuan.

Tidak ada tradisi, kecurigaan, atau tuntutan keluarga yang berhak mengambil alih tubuh dan harga dirinya.

Dan pernikahan bukan tentang seorang perempuan masuk ke keluarga laki-laki lalu menerima semua aturan mereka.

Pernikahan adalah dua orang dewasa yang memilih berdiri di sisi satu sama lain, bahkan ketika orang yang harus mereka hadapi adalah keluarga sendiri.

Malam pertama pernikahanku memang dimulai dengan sebuah pintu yang dibuka paksa.

Namun setahun kemudian, aku akhirnya mengerti bahwa kebahagiaan kami baru benar-benar dimulai ketika Ardi dan aku belajar satu hal sederhana.

Ada pintu-pintu dalam rumah tangga yang bahkan keluarga sekalipun harus mengetuk sebelum masuk.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang