CALON ISTRI MENENDANG TONGKAT IBU KANDUNG DEMI HARTA! PRIA INI MEMBATALKAN PERNIKAHAN DI DEPAN 200 TAMU DAN MEMBONGKAR RAHASIA BESAR KELUARGA KAYA ITU!

Rehan tidak langsung menjawab pesan Diana.

Ia hanya menatap layar ponselnya selama beberapa detik, lalu menguncinya kembali.

Di hadapannya, dua ratus tamu menunggu dengan napas tertahan.

Sebagian masih mengira semua ini hanyalah pertengkaran menjelang pernikahan. Sebagian lain mulai sadar bahwa yang sedang terjadi jauh lebih serius.

Ardiansyah Pratama berdiri di bawah panggung dengan rahang mengeras.

“Rehan, turun sekarang,” katanya pelan, tetapi penuh tekanan. “Kita selesaikan ini di ruangan lain.”

Rehan menatapnya.

“Kenapa harus di ruangan lain?”

“Karena ini urusan keluarga.”

Rehan tersenyum hambar.

“Lima menit lalu, ketika Ibu saya jatuh karena tongkatnya ditendang, Bapak bilang ada dua ratus tamu penting yang sedang menunggu.”

Ia mengangkat mikrofon sedikit lebih dekat.

“Kalau begitu, saya rasa mereka cukup penting untuk mendengar alasan kenapa pesta ini dibatalkan.”

Bisikan langsung menyebar ke seluruh ruangan.

Valensya mendekati Rehan dengan langkah cepat.

“Jangan bodoh. Kamu sedang menghancurkan hidupmu sendiri.”

Rehan menatap calon istrinya.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak melihat perempuan yang dicintainya selama tiga tahun.

Ia melihat seseorang yang sedang ketakutan karena kehilangan kendali.

“Aku justru baru sadar hidup seperti apa yang hampir aku masuki.”

Wajah Valensya menegang.

“Apa maksudmu?”

Rehan mengeluarkan ponselnya lagi.

“Diana.”

Ia hanya menyebut satu nama.

Beberapa tamu di barisan depan langsung saling berpandangan.

Nama Diana Kusumawardani bukan nama asing di kalangan bisnis. Perempuan itu dikenal sebagai Direktur Operasional VerifikasiNusantara, perusahaan audit investigatif dan teknologi kepatuhan yang beberapa tahun terakhir menangani berbagai kasus manipulasi transaksi korporasi.

Ardiansyah terlihat kehilangan warna di wajahnya.

“Kamu kenal Diana?”

Rehan menoleh kepadanya.

“Bukan hanya kenal.”

Ia berhenti sejenak.

“Dia bekerja untuk saya.”

Suasana aula seolah membeku.

Seseorang di barisan belakang menjatuhkan gelas.

Valensya tertawa pendek.

“Bohong.”

Namun tawanya terdengar kering.

Rehan tidak membantah.

Ia menekan sebuah nomor, kemudian mengaktifkan pengeras suara.

Panggilan tersambung hampir seketika.

“Pak Rehan?”

Suara perempuan terdengar jelas melalui mikrofon.

“Ya, Diana.”

“Tim sudah siap. Apakah laporan final boleh kami kirim ke pihak bank dan komisaris independen?”

Ardiansyah melangkah maju.

“Matikan telepon itu!”

Rehan mengangkat tangan, menghentikannya.

“Kirimi saya ringkasan temuannya dulu.”

“Baik.”

Terdengar suara keyboard.

“Audit menemukan sebelas perusahaan cangkang yang terhubung dengan tiga anggota keluarga Pratama. Dana dari empat fasilitas kredit dialihkan melalui transaksi konsultasi fiktif. Total eksposur yang berhasil kami verifikasi saat ini sebesar dua ratus delapan puluh enam miliar rupiah.”

Ruangan langsung riuh.

Beberapa tamu yang merupakan mitra bisnis Pratama Group spontan membuka ponsel.

Wajah Ardiansyah berubah pucat.

“Fitnah!”

Diana melanjutkan.

“Kami juga menemukan dokumen pengalihan kepemilikan saham yang menggunakan tanda tangan digital Pak Rehan tanpa autentikasi sah. Dokumen tersebut dibuat untuk menjadikan aset pribadi Pak Rehan sebagai jaminan tambahan restrukturisasi utang Pratama Group.”

Valensya langsung meraih lengan Rehan.

“Matikan!”

Rehan melepaskan tangannya dengan tenang.

“Belum selesai.”

Diana terdiam satu detik.

“Laporan mencatat bahwa proses penyusunan dokumen tersebut disetujui dari akun internal milik Saudari Valensya Pratama.”

Beberapa orang menarik napas bersamaan.

Rehan menoleh perlahan.

Valensya tidak berkata apa-apa.

Wajahnya kosong.

“Tidak,” katanya akhirnya. “Aku cuma diminta Papa menandatangani beberapa dokumen.”

Ardiansyah langsung menoleh tajam kepadanya.

“Diam!”

Namun semuanya terlambat.

Satu kalimat itu sudah cukup.

Rehan menatap Valensya cukup lama.

“Jadi kamu tahu.”

Valensya menggeleng cepat.

“Aku tidak tahu detailnya.”

“Tapi kamu tahu namaku digunakan.”

“Aku pikir itu cuma untuk urusan administrasi setelah kita menikah.”

“Administrasi?”

Suara Rehan tetap rendah.

“Itu saham perusahaan saya.”

Valensya menelan ludah.

“Toh setelah menikah, apa bedanya? Kita akan jadi suami istri.”

Kalimat itu membuat Rehan terdiam.

Bukan karena terkejut.

Justru karena semuanya mendadak menjadi sangat jelas.

Begitulah Valensya melihat pernikahan mereka.

Bukan sebagai dua orang yang membangun hidup bersama.

Melainkan sebagai akses.

Akses terhadap nama Rehan.

Akses terhadap asetnya.

Akses terhadap sesuatu yang selama ini tidak pernah berhasil dipahami keluarga Pratama.

Rehan memandang para tamu.

“Banyak dari Anda mungkin memang mengenal saya sebagai akuntan.”

Beberapa kepala mengangguk.

“Itu bukan kebohongan. Saya memang seorang akuntan.”

Ia menarik napas.

“Tapi saya tidak pernah mengatakan bahwa itu satu-satunya pekerjaan saya.”

Ardiansyah menatapnya tanpa berkedip.

Rehan melanjutkan.

“Delapan tahun lalu, saya dan dua orang rekan membangun sebuah sistem verifikasi transaksi digital dari kamar kontrakan kecil di Bandung.”

Beberapa tamu mulai berbisik.

“Kami mengembangkan teknologi yang mendeteksi rekayasa laporan transaksi, kepemilikan tersembunyi, dan aliran dana antarperusahaan.”

Mata seorang pria berkacamata di barisan depan membesar.

“Tunggu,” katanya tanpa sadar.

Rehan menatapnya.

Pria itu adalah direktur salah satu bank swasta besar.

“Anda bicara tentang VerifikasiNusantara?”

Rehan mengangguk.

“Saya salah satu pendirinya.”

Ruangan seketika menjadi sangat sunyi.

Valensya memandang Rehan seperti tidak mengenalnya.

“Tidak mungkin.”

Rehan tersenyum tipis.

“Nama saya memang tidak pernah muncul di media.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh.

Setelah perusahaan tersebut menerima investasi besar lima tahun sebelumnya, Rehan memilih tidak menjadi wajah publik. Ia tetap memegang saham pengendali melalui perusahaan investasi pribadi bernama Arunika Capital.

Bagi Rehan, ketenangan jauh lebih bernilai daripada ketenaran.

Ia masih bekerja beberapa hari dalam seminggu sebagai konsultan akuntansi independen karena memang menyukai pekerjaannya.

Valensya mengetahui pekerjaan itu.

Lalu menganggap itulah seluruh hidupnya.

Ironisnya, perusahaan yang sedang berusaha direbut keluarga Pratama bukan perusahaan kecil.

Nilai kepemilikan Rehan di VerifikasiNusantara dan beberapa investasi lainnya jauh melebihi seluruh aset bersih Pratama Group.

Ardiansyah terduduk perlahan di kursi terdekat.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Pintu aula kembali terbuka.

Dua petugas medis masuk membawa kursi roda.

Di belakang mereka, Ibu Ratna muncul dengan wajah pucat tetapi tetap tenang.

Rehan segera turun dari panggung.

“Ibu seharusnya dibawa ke rumah sakit.”

“Ibu akan ke rumah sakit.”

Ibu Ratna memegang tangan putranya.

“Tapi ada sesuatu yang harus diselesaikan.”

Valensya memalingkan wajah.

Ibu Ratna kemudian menatap Ardiansyah.

“Pak Pratama, saya mengenali nama salah satu perusahaan di dokumen tadi.”

Ardiansyah tidak menjawab.

Ibu Ratna melanjutkan.

“Surya Mahardika Konsultan.”

Beberapa tamu kembali berbisik.

“Perusahaan itu pernah muncul dalam kasus yang saya tangani sebelas tahun lalu.”

Ardiansyah mendadak berdiri.

“Jangan bicara sembarangan.”

Ibu Ratna tidak terpengaruh.

“Waktu itu sebuah perusahaan konstruksi hampir bangkrut karena laporan keuangannya dimanipulasi sebelum akuisisi.”

Rehan menatap ibunya.

Ia belum pernah mendengar cerita ini.

“Perusahaan milik siapa, Bu?”

Ibu Ratna menatap putranya.

“Milik ayahmu.”

Seolah ada sesuatu menghantam dada Rehan.

“Ayah?”

Ibu Ratna mengangguk pelan.

“Selama ini Ibu tidak pernah cerita karena ayahmu ingin kamu hidup tanpa membawa dendam.”

Ardiansyah mencoba pergi.

Namun beberapa orang yang mengenalnya langsung berdiri menghalangi lorong.

Bukan secara fisik.

Mereka hanya menatapnya.

Tetapi tatapan itu cukup membuat langkah Ardiansyah berhenti.

Ibu Ratna melanjutkan.

“Sebelas tahun lalu, perusahaan ayah Rehan memiliki proyek besar di Jawa Barat. Kami menemukan beberapa pembayaran palsu yang mengalir ke perusahaan konsultan.”

Ia memandang Ardiansyah.

“Surya Mahardika Konsultan.”

Napas Rehan tercekat.

“Apa hubungannya dengan Papa Valensya?”

Ibu Ratna menutup mata sesaat.

“Pemilik manfaat perusahaan itu tidak pernah berhasil dibuktikan saat itu.”

Ia kemudian menatap Ardiansyah.

“Sampai saya melihat dokumen hari ini.”

Ardiansyah tertawa kaku.

“Cerita perempuan tua.”

Ibu Ratna justru mengangguk.

“Mungkin.”

Kemudian ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari tasnya.

“Tapi perempuan tua biasanya punya kebiasaan menyimpan arsip.”

Wajah Ardiansyah langsung berubah.

Rehan perlahan memahami.

Ayahnya meninggal empat tahun sebelumnya dalam kecelakaan lalu lintas.

Selama ini ia menganggap kebangkrutan perusahaan ayahnya bertahun-tahun sebelum kecelakaan sebagai kegagalan bisnis biasa.

Ternyata mungkin ada cerita lain.

Ibu Ratna menyerahkan flashdisk tersebut kepada Rehan.

“Ini salinan arsip lama dan dokumen yang Ibu foto tadi.”

Rehan menggenggam benda kecil itu.

Valensya tiba-tiba berlutut di depannya.

Gaun putih mahalnya menyapu lantai.

“Rehan.”

Semua orang menoleh.

Valensya mulai menangis.

“Kita bisa selesaikan ini.”

Rehan tidak menjawab.

“Aku akan minta maaf pada Ibu.”

Ibu Ratna tidak bereaksi.

Valensya memegang tangan Rehan.

“Aku salah. Aku panik. Aku tidak seharusnya menendang tongkatnya.”

Akhirnya pengakuan itu keluar.

Di depan dua ratus orang.

Rehan menarik tangannya.

“Tadi kamu bilang Ibu jatuh sendiri.”

Valensya menangis semakin keras.

“Aku takut.”

“Takut dokumennya terbongkar?”

Valensya terdiam.

Rehan membungkuk sedikit.

“Aku cuma mau satu jawaban.”

Valensya mengangkat wajah.

“Kalau hari ini Ibu tidak menemukan dokumen itu, apakah kamu tetap akan menikah denganku?”

“Tentu.”

“Dan setelah menikah, kalian akan menggunakan tanda tangan saya?”

Valensya menggigit bibir.

“Ayah bilang semuanya akan dikembalikan setelah kondisi perusahaan membaik.”

Jawaban itu lebih menyakitkan daripada kebohongan.

Karena berarti semuanya benar.

Rehan berdiri tegak.

Ia mengambil cincin di atas podium.

Valensya menatapnya penuh harapan.

Namun Rehan tidak memasangnya kembali.

Ia meletakkan cincin itu di telapak tangan Valensya.

“Kamu bukan kehilangan suami kaya hari ini.”

Valensya menatapnya dengan mata merah.

“Kamu kehilangan seseorang yang benar-benar mau membangun hidup bersamamu saat aku mengira uang tidak penting buatmu.”

Rehan kemudian menoleh kepada para tamu.

“Semua biaya acara hari ini yang menjadi kewajiban saya tetap akan saya lunasi. Tidak ada vendor yang dirugikan.”

Ia berhenti.

“Tapi pernikahan ini selesai sebelum dimulai.”

Tidak ada yang bertepuk tangan.

Tidak ada sorakan kemenangan.

Hanya keheningan panjang yang jauh lebih berat daripada keributan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, sebuah ambulans membawa Ibu Ratna ke rumah sakit.

Rehan ikut bersamanya.

Sebelum pintu ambulans ditutup, Ibu Ratna menggenggam tangannya.

“Kamu menyesal?”

Rehan menatap gedung tempat pesta pernikahannya seharusnya berlangsung.

Dekorasi bunga masih terpasang.

Nama Rehan dan Valensya masih terpampang besar di pintu masuk.

Namun perasaan yang muncul bukan kehilangan.

Melainkan kelegaan.

“Tidak.”

Ibu Ratna tersenyum.

“Bagus.”

Tiga hari kemudian, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada tulang yang patah. Hanya cedera ligamen yang membutuhkan beberapa minggu pemulihan.

Namun akibat kejadian di aula jauh lebih besar.

Laporan VerifikasiNusantara dikirim kepada bank, auditor eksternal, dan pihak berwenang setelah tim hukum memastikan prosedurnya.

Beberapa kreditur membekukan fasilitas pembiayaan Pratama Group.

Dua komisaris mengundurkan diri.

Pemeriksaan internal dibuka.

Ardiansyah kemudian dicopot dari jabatan direktur utama oleh dewan setelah serangkaian transaksi tersembunyi ditemukan.

Valensya tidak pernah menghubungi Rehan lagi setelah minggu pertama.

Enam bulan kemudian, suatu sore, Rehan sedang menemani Ibu Ratna berjalan di taman rumah.

Tongkat kayu lama itu sudah diganti dengan tongkat baru.

Tongkat yang ditendang Valensya masih disimpan Ibu Ratna.

“Kenapa tidak dibuang?” tanya Rehan.

Ibu Ratna tersenyum.

“Karena benda itu menyelamatkan hidupmu.”

Rehan tertawa kecil.

“Secara teknis, justru hampir membuat Ibu cedera parah.”

“Bukan hidup Ibu.”

Ibu Ratna berhenti berjalan.

“Hidupmu.”

Rehan terdiam.

Ibunya melanjutkan.

“Kadang kita baru melihat karakter seseorang ketika dia merasa kita tidak lagi berguna baginya.”

Angin sore menggerakkan dedaunan.

Rehan menatap perempuan yang telah membesarkannya setelah kehidupan keluarga mereka runtuh bertahun-tahun lalu.

Ada satu pertanyaan yang masih mengganjal.

“Bu.”

“Hm?”

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang keluarga Pratama mungkin berhubungan dengan masalah perusahaan Ayah?”

Ibu Ratna tersenyum tipis.

“Karena Ibu tidak tahu.”

“Lalu kenapa sejak awal Ibu seperti tidak terlalu percaya pada mereka?”

Ibu Ratna terdiam beberapa detik.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku.

Di dalamnya terdapat foto lama.

Foto pesta bisnis sekitar sebelas tahun lalu.

Ardiansyah terlihat berdiri di salah satu sisi ruangan.

Namun bukan itu yang membuat Rehan terpaku.

Di samping Ardiansyah berdiri ayah Rehan.

Keduanya sedang berjabat tangan.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan ayahnya.

Jika suatu hari keluarga Pratama mendekati anak kita, jangan pernah menuduh mereka tanpa bukti. Biarkan Rehan menilai manusia dari tindakannya sendiri.

Rehan membaca kalimat itu dua kali.

Tangannya gemetar.

“Ayah tahu?”

Ibu Ratna menatap langit sore.

“Dia curiga.”

“Kenapa dia tidak melakukan apa-apa?”

“Karena bukti yang kami punya waktu itu tidak cukup.”

Ibu Ratna kemudian menatap Rehan.

“Dan mungkin dia tahu suatu hari kebenaran punya caranya sendiri untuk kembali.”

Rehan memandang tongkat kayu lama yang bersandar di dekat kursi taman.

Sebuah benda sederhana.

Sebuah tendangan beberapa detik.

Satu tindakan kecil yang dilakukan Valensya karena merasa seorang perempuan tua tidak memiliki kuasa apa pun.

Namun justru tindakan itulah yang menghancurkan seluruh rencana keluarga Pratama.

Rehan akhirnya memahami sesuatu.

Kekayaan terbesar yang diwariskan ayahnya bukan perusahaan.

Bukan saham.

Bukan uang.

Melainkan kemampuan untuk tetap tenang ketika direndahkan dan cukup berani pergi ketika rasa hormat sudah hilang.

Hari pernikahannya memang tidak pernah terjadi.

Tetapi bertahun-tahun kemudian, setiap kali seseorang bertanya apakah ia menyesali keputusan mempermalukan sebuah keluarga kaya di depan dua ratus tamu, Rehan selalu memberikan jawaban yang sama.

“Aku tidak membatalkan pernikahan karena kehilangan kendali.”

Ia biasanya tersenyum sebelum melanjutkan.

“Aku membatalkannya karena akhirnya aku melihat dengan jelas siapa yang sebenarnya sedang mencoba mengendalikan hidupku.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang