IPAR SAYA MEMINDAHKAN ENAM ANGGOTA KELUARGANYA KE RUMAH MEWAH SENILAI RP18,5 MILIAR MILIK SAYA—SAMPAI DIA MENEMUKAN NAMA SAYA DI AKTA NOTARIS!

Maya tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengeluarkan ponsel dari tasnya, membuka sebuah percakapan, lalu menekan tombol panggil.

Dito menatap adiknya dengan gelisah.

Lia masih menggenggam map notaris dengan kedua tangan. Jemarinya mencengkeram tepi dokumen begitu kuat hingga kertas di dalamnya sedikit berkerut.

“Kamu telepon siapa?” tanya Lia tajam.

Maya menatapnya tenang.

“Orang yang seharusnya sudah datang sejak tadi.”

Belum sempat Lia membalas, suara bel dari gerbang depan terdengar.

Beberapa detik kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluhan masuk bersama dua petugas keamanan kompleks.

Pria itu mengenakan kemeja putih rapi dan membawa tas dokumen hitam.

Pak Bambang langsung mengenalinya.

“Pak Surya?”

Pak Surya mengangguk sopan.

Ia adalah notaris yang menangani seluruh transaksi pembelian rumah tersebut.

“Selamat siang, Bu Maya. Maaf saya terlambat. Tadi ada sedikit kemacetan dari Jakarta.”

Lia memandang pria itu, lalu kembali melihat dokumen di tangannya.

Ekspresi percaya dirinya perlahan menghilang.

Maya mengangguk.

“Tidak apa-apa, Pak. Justru waktunya pas.”

Pak Surya menoleh ke seluruh ruangan.

Koper berserakan di lantai.

Kardus memenuhi lorong.

Beberapa anggota keluarga Lia berdiri di dekat tangga dengan wajah kebingungan.

Seorang anak kecil masih memegang mobil-mobilan di ruang keluarga, tidak memahami ketegangan yang sedang terjadi.

Pak Surya segera menangkap bahwa situasinya tidak biasa.

“Apakah ada masalah?”

Lia langsung maju.

“Pak, ini pasti ada kesalahan.”

Ia membuka map dan menunjuk salah satu halaman.

“Rumah ini diberikan mertua saya untuk suami saya. Tapi entah kenapa nama adik ipar saya yang tercantum sebagai pembeli.”

Pak Surya memandang Lia selama beberapa detik.

Kemudian ia menoleh kepada Bu Rina dan Pak Bambang.

“Bapak dan Ibu pernah menyampaikan bahwa rumah ini dibeli untuk Pak Dito?”

Bu Rina langsung kehilangan kata-kata.

Pak Bambang menggeleng perlahan.

“Tidak.”

“Pernah ikut membayar rumah ini?”

“Tidak.”

“Pernah menandatangani dokumen pembelian?”

Pak Bambang kembali menggeleng.

Lia menatap mertuanya seperti tidak percaya.

“Tapi pesan di ponsel Mama…”

Bu Rina memotong dengan suara pelan.

“Pesan itu soal jadwal notaris Maya.”

Lia membeku.

Dito mengusap wajahnya dengan telapak tangan.

Untuk pertama kalinya sejak Maya datang, kakaknya terlihat benar-benar panik.

“Lia,” katanya lirih, “kita mungkin salah paham.”

“Salah paham?”

Lia berbalik dengan cepat.

“Kamu bilang orang tuamu membelikan rumah untuk kita!”

“Aku bilang kemungkinan besar mereka sedang menyiapkan sesuatu.”

“Tidak. Kamu bilang rumah itu untuk kita!”

Suara Lia meninggi.

Beberapa kerabatnya yang tadi sibuk memindahkan barang kini mulai saling pandang.

Ayah Lia, Pak Hendra, berjalan mendekati putrinya.

“Jadi rumah ini bukan rumah kalian?”

Lia tidak menjawab.

Ibunya yang sejak tadi duduk di sofa langsung berdiri.

“Lalu kenapa kamu menyuruh kami pindahan pagi-pagi sekali?”

Wajah Lia memerah.

“Kami juga baru tahu!”

Maya mendengar semua itu tanpa menyela.

Ia membiarkan kenyataan bekerja sendiri.

Pak Surya kemudian mengeluarkan beberapa lembar salinan dokumen dari tasnya.

“Untuk menghindari kesalahpahaman lebih jauh, saya tegaskan bahwa properti ini dibeli sepenuhnya oleh Ibu Maya Kirana.”

Ia menunjuk bagian tertentu dalam dokumen.

“Dana pembelian berasal dari rekening pribadi Ibu Maya dan telah diverifikasi dalam proses transaksi. Tidak ada nama pihak lain sebagai pemilik.”

Ruangan kembali sunyi.

Kali ini kesunyian terasa lebih berat.

Lia menatap Maya.

Namun alih-alih meminta maaf, sorot matanya justru berubah keras.

“Kamu sengaja membiarkan kami pindahan, kan?”

Maya mengerutkan kening.

“Apa?”

“Kamu tahu sejak awal kami salah paham, tapi kamu diam saja.”

Lia melempar map ke meja.

“Kamu menikmati melihat kami terlihat bodoh.”

Maya tertawa pendek, bukan karena lucu, melainkan karena tidak percaya.

“Aku datang ke rumahku sendiri dan menemukan keluargamu memindahkan perabot tanpa izin. Bahkan sebelum aku sempat bicara, kamu menyuruhku mengangkat kardus.”

“Itu bukan alasan untuk mempermalukan kami.”

“Kamu yang masuk ke rumah orang tanpa bertanya.”

Nada suara Maya tetap tenang.

Justru ketenangan itu membuat Lia semakin emosi.

Bu Rina segera mendekati mereka.

“Sudahlah. Kita semua keluarga.”

Maya menoleh kepada ibunya.

Kalimat itu terlalu familiar.

Kalimat yang sama selalu muncul ketika Dito membuat masalah.

Ketika Dito gagal membayar cicilan mobil dan meminta orang tuanya menalangi.

Ketika Lia meminjam uang untuk membuka butik yang hanya bertahan tujuh bulan.

Ketika Dito kehilangan pekerjaan karena berkonflik dengan atasannya lalu tinggal di rumah orang tua selama hampir setahun.

Keluarga.

Kata itu selalu digunakan seperti kunci yang bisa membuka rekening Maya, waktu Maya, tenaga Maya, bahkan batas kesabarannya.

“Mama,” kata Maya perlahan, “aku mau tanya satu hal.”

Bu Rina menatapnya.

“Kalau hari ini rumah ini benar-benar milik Mama dan Papa, apakah Mama akan memberikan rumah seharga delapan belas setengah miliar ini kepada Mas Dito?”

Bu Rina terdiam.

Maya melanjutkan.

“Dan kalau aku yang sedang kesulitan, apakah Mama akan melakukan hal yang sama untukku?”

“Maya…”

“Jawab saja.”

Pak Bambang menarik napas panjang.

Wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang selama ini jarang Maya lihat.

Bu Rina memalingkan muka.

Tidak ada jawaban.

Namun bagi Maya, diam itu sudah cukup.

Lia memanfaatkan situasi tersebut.

“Lihat? Orang tuamu sendiri sebenarnya ingin membantu kami.”

Maya menoleh padanya.

“Dengan uang mereka, silakan.”

Ia menunjuk lantai rumah.

“Tapi bukan dengan rumahku.”

Dito akhirnya maju.

Nada suaranya lebih lembut.

“May, kita bicara baik-baik.”

Maya menatap kakaknya.

“Silakan.”

“Kami sudah telanjur memindahkan semuanya. Anak-anak juga sudah di sini. Orang tua Lia juga sudah datang dari luar kota.”

Ia tersenyum canggung.

“Kalau kami pindah lagi sekarang, repot sekali.”

Maya hampir tidak percaya dengan permintaan yang sedang dibangun kakaknya.

Dito melanjutkan.

“Bagaimana kalau kami tinggal sementara? Mungkin tiga atau empat bulan, sampai aku dapat tempat baru.”

Lia cepat menyahut.

“Enam bulan lebih realistis.”

Maya menatap mereka bergantian.

“Tidak.”

Jawabannya sederhana.

Dito kehilangan senyum.

“May…”

“Tidak.”

“Kamu punya empat kamar. Kamu sendirian.”

“Lalu?”

“Kamu bahkan tidak akan memakai semuanya.”

Maya berjalan menuju jendela besar ruang keluarga.

Ia melihat halaman yang tadi pagi masih ia bayangkan sebagai tempat menanam bunga dan membaca buku saat akhir pekan.

Sekarang halaman itu dipenuhi kardus orang lain.

“Mas Dito,” katanya tanpa berbalik, “kamu tahu kenapa aku beli rumah ini?”

Dito diam.

“Karena selama bertahun-tahun aku selalu hidup di tempat yang harus berbagi keputusan dengan orang lain.”

Ia berbalik.

“Waktu kita kecil, aku selalu dapat kamar yang lebih kecil karena kamu anak pertama. Waktu kuliah, sebagian tabunganku dipinjam untuk menutup utangmu. Waktu aku baru bekerja, Mama minta aku menunda beli motor supaya bisa membantu biaya pernikahanmu.”

Bu Rina menunduk.

Dito terlihat tidak nyaman.

“Aku tidak pernah mempermasalahkan itu,” lanjut Maya. “Karena aku pikir keluarga memang saling membantu.”

Ia menarik napas.

“Tapi lama-lama aku sadar, di keluarga ini, membantu selalu berarti aku harus mengalah.”

Tak ada yang membantah.

“Rumah ini adalah pertama kalinya aku membeli sesuatu besar hanya untuk diriku sendiri.”

Suara Maya mulai bergetar, tetapi ia tetap menahannya.

“Dan bahkan sebelum aku tidur satu malam di sini, kalian sudah memutuskan kamar mana yang boleh kupakai.”

Pak Bambang menutup mata sejenak.

Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada kemarahan apa pun.

Dito mencoba mendekat.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku salah.”

Maya menatapnya.

Untuk sesaat, ia melihat kakaknya bukan sebagai pria yang selalu diselamatkan orang lain, tetapi sebagai seseorang yang mungkin memang baru menyadari betapa jauh semuanya telah berjalan.

Namun Lia justru menyilangkan tangan.

“Jadi sekarang kamu mau mengusir orang tua dan anak-anak ke jalan?”

Maya menatapnya datar.

“Jangan memutarbalikkan situasi.”

“Kenyataannya begitu.”

“Tidak.”

Maya menunjuk ponsel Dito.

“Kalian masih punya rumah kontrakan lama sampai akhir bulan, kan?”

Dito terdiam.

Lia langsung menoleh kepadanya.

“Kamu bilang kontrak kita sudah habis.”

“Belum,” jawab Dito pelan.

Mata Lia membesar.

“Apa?”

Dito menghela napas.

“Masih dua puluh hari.”

“Lalu kenapa kita buru-buru pindah?”

Dito tidak menjawab.

Tetapi Maya sudah memahami sesuatu.

“Kamu sengaja ingin masuk ke rumah ini sebelum semuanya jelas.”

Dito mengusap tengkuk.

“Aku pikir kalau kami sudah tinggal di sini, Mama dan Papa tidak mungkin menyuruh kami keluar.”

Bu Rina menatap putranya dengan kecewa.

“Dito…”

Untuk pertama kalinya, bahkan Lia tidak membela suaminya.

Maya merasa dadanya sesak.

Ternyata bukan sekadar kesalahpahaman.

Ada asumsi.

Ada rasa berhak.

Dan lebih buruk lagi, ada strategi untuk memanfaatkan rasa tidak enak hati orang tua.

Pak Bambang tiba-tiba berdiri tegak.

“Semua barang harus keluar hari ini.”

Bu Rina terkejut.

“Pak…”

“Cukup, Rin.”

Nada suaranya tidak keras, tetapi tegas.

Ia menatap Dito.

“Papa terlalu sering menyelamatkan kamu sampai kamu lupa caranya berdiri sendiri.”

Dito menunduk.

Pak Bambang lalu menatap Lia.

“Dan rumah ini bukan milik kami. Jadi kami tidak punya hak meminta Maya mengalah.”

Bu Rina terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya diam.

Maya tidak menyangka ayahnya akan mengatakan itu.

Selama ini Pak Bambang selalu menghindari konflik.

Namun rupanya ada titik ketika rasa bersalah berubah menjadi keberanian.

Petugas keamanan kompleks kemudian membantu menghubungi kembali perusahaan pindahan.

Truk yang belum pergi jauh diminta kembali ke rumah.

Satu demi satu kardus kembali diangkut keluar.

Suasana yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi teriakan penuh semangat kini berubah menjadi canggung.

Keluarga Lia memasukkan barang mereka tanpa banyak bicara.

Beberapa terlihat kesal.

Sebagian lainnya justru malu.

Pak Hendra sempat menghampiri Maya sebelum pergi.

“Maafkan kami,” katanya.

Maya mengangguk.

“Bapak dan Ibu tidak tahu.”

Pak Hendra menghela napas.

“Kami seharusnya tetap bertanya lebih dulu.”

Itu kalimat pertama hari itu yang benar-benar terdengar seperti permintaan maaf.

Menjelang sore, rumah akhirnya kembali kosong.

Lia berdiri di depan pintu bersama Dito.

Matanya sembap, tetapi kemarahannya belum sepenuhnya hilang.

“Suatu hari nanti kamu mungkin butuh keluarga juga,” katanya.

Maya menatapnya.

“Mungkin.”

Ia membuka pintu sedikit lebih lebar.

“Tapi kalau hari itu datang, aku berharap keluargaku datang karena peduli, bukan karena menginginkan sesuatu yang aku punya.”

Lia tidak menjawab.

Dito menatap adiknya lebih lama.

“Aku akan mengganti biaya apa pun yang rusak.”

Maya mengangguk.

“Dan satu lagi.”

Dito berhenti.

“Jangan pernah lagi membuat keputusan berdasarkan apa yang kamu harap orang lain akan berikan kepadamu.”

Dito menunduk.

Lalu mereka pergi.

Malam turun perlahan di Sentul.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, rumah itu benar-benar hening.

Maya duduk sendirian di lantai ruang keluarga karena sofa pilihannya belum dikirim.

Ia memesan nasi goreng dari warung yang ditemukan melalui aplikasi, lalu makan langsung dari kotaknya sambil bersandar pada dinding.

Tidak ada meja mahal.

Tidak ada dekorasi.

Tidak ada musik.

Namun untuk pertama kalinya hari itu, Maya merasa rumah itu benar-benar miliknya.

Sekitar pukul sembilan malam, bel berbunyi.

Maya sedikit waspada ketika berjalan menuju pintu.

Di luar, Pak Bambang berdiri sendirian.

Tangannya membawa sebuah kotak kecil.

“Papa boleh masuk?”

Maya membuka pintu.

Mereka duduk di lantai.

Pak Bambang menyerahkan kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah gantungan kunci kayu sederhana bertuliskan Rumah Maya.

“Papa pesan beberapa minggu lalu,” katanya.

Maya menatap ayahnya.

“Papa sudah tahu rumah ini milikku sejak awal.”

“Ya.”

“Kenapa Papa tidak bilang kepada mereka?”

Pak Bambang tersenyum pahit.

“Papa pikir mereka tidak mungkin sebodoh itu.”

Maya hampir tertawa.

Namun ayahnya terlihat serius.

“Dan Papa juga salah.”

Pak Bambang menarik napas.

“Selama bertahun-tahun Papa dan Mama terlalu sering menyuruhmu mengerti keadaan kakakmu.”

Maya diam.

“Kami pikir karena kamu lebih mandiri, kamu tidak membutuhkan banyak bantuan.”

Ia menatap putrinya.

“Padahal mungkin justru karena kami tidak banyak membantu, kamu terpaksa menjadi mandiri.”

Mata Maya terasa panas.

Ia tidak pernah menyangka ayahnya akan memahami hal tersebut.

Pak Bambang kemudian mengeluarkan selembar dokumen lain dari tasnya.

Maya mengernyit.

“Apa ini?”

“Perjanjian.”

Ternyata Pak Bambang dan Bu Rina memutuskan untuk berhenti menalangi utang Dito.

Mereka hanya akan membantu biaya pendidikan cucu jika diperlukan, tetapi tidak akan lagi membayar cicilan, sewa rumah, modal usaha, atau utang konsumtif pasangan itu.

“Mama setuju?”

“Awalnya tidak.”

Pak Bambang tersenyum tipis.

“Tapi setelah sore tadi, dia akhirnya mengerti.”

Maya membaca dokumen itu perlahan.

Untuk pertama kalinya, batas yang ia perjuangkan ternyata mulai mengubah bukan hanya hidupnya, tetapi juga keluarganya.

Enam bulan kemudian, Maya mengadakan makan malam kecil di rumah tersebut.

Tidak mewah.

Hanya keluarga inti.

Dito datang dengan mobil lama yang sekarang ia gunakan untuk bekerja sebagai supervisor logistik di sebuah perusahaan distribusi.

Ia dan Lia pindah ke rumah kontrakan yang lebih sederhana.

Butik Lia sudah ditutup, dan ia mulai menjual makanan beku dari rumah.

Hubungan mereka dengan Maya belum sepenuhnya pulih.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Mereka tidak lagi datang membawa permintaan.

Lia bahkan berdiri cukup lama di depan pintu sebelum masuk.

“Maya,” katanya canggung.

“Ya?”

“Boleh kami masuk?”

Maya menatapnya beberapa detik.

Kemudian tersenyum kecil.

“Tentu.”

Sederhana.

Namun pertanyaan itu berarti banyak.

Malam itu, setelah semua orang pulang, Maya berjalan ke paviliun belakang yang sudah diubah menjadi kantor kecil.

Di dinding tergantung bingkai berisi salinan halaman pertama akta rumah.

Bukan untuk memamerkan angka Rp18,5 miliar.

Bukan juga untuk mengingat bagaimana Lia pernah salah mengira rumah itu miliknya.

Maya membingkainya karena satu alasan lain.

Di sana tertulis namanya.

Maya Kirana.

Sebuah pengingat bahwa kerja kerasnya nyata.

Bahwa batas yang ia buat tidak menjadikannya egois.

Dan bahwa terkadang orang baru belajar menghargai milik kita ketika kita berhenti membiarkan mereka merasa berhak atasnya.

Di bawah bingkai itu, tergantung gantungan kunci kayu pemberian ayahnya.

Rumah Maya.

Maya mematikan lampu kantor, menutup pintu paviliun, lalu berjalan kembali menuju rumah utama.

Kali ini tidak ada seorang pun yang membagikan kamarnya.

Tidak ada seorang pun yang menentukan bagaimana rumah itu harus digunakan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maya tidak merasa bersalah karena memiliki sesuatu hanya untuk dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang