Siti tidak langsung masuk ke apartemen malam itu.
Ia berdiri cukup lama di lorong lantai dua belas, memandangi kartu nama agen properti di tangannya. Lampu putih di langit-langit terasa terlalu terang, sementara suara lift yang naik turun terdengar jauh lebih keras daripada biasanya.
Jadwal survei penilaian properti akan menyusul.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Siti bekerja di kantor notaris hampir enam tahun. Ia tahu betul penilaian properti biasanya tidak dilakukan tanpa alasan. Bisa untuk penjualan, jaminan pinjaman, pembagian aset, atau transaksi lain yang membutuhkan nilai pasar sebuah bangunan.
Dan tidak satu pun dari alasan itu pernah ia setujui.
Begitu masuk, Siti tidak menelepon Rian.
Ia justru membuka laptop, mengambil foto kartu nama tersebut, lalu mencari nama agen properti yang tercetak di sana.
Perusahaannya benar-benar ada. Kantornya berada di kawasan Kuningan dan menangani properti kelas menengah hingga premium.
Keesokan paginya, sebelum mulai bekerja, Siti menghubungi nomor yang tertera.
“Selamat pagi. Saya Siti Maharani. Saya menemukan kartu nama perusahaan Anda di kotak surat apartemen saya.”
Suara perempuan di seberang terdengar ramah.
“Baik, Ibu Siti. Bisa disebutkan alamatnya?”
Siti menyebutkan alamat lengkap apartemennya.
Terdengar suara keyboard.
Kemudian hening.
“Mohon tunggu sebentar, Bu.”
Jantung Siti mulai berdetak lebih cepat.
Beberapa detik kemudian perempuan itu kembali bicara.
“Benar, ada permintaan appraisal awal untuk unit tersebut.”
Siti menegakkan punggung.
“Siapa yang mengajukan?”
“Ada nama Bapak Rian Prakoso.”
Dunia seolah berhenti sesaat.
Siti menatap meja kerjanya.
Di luar ruangannya, staf kantor berbicara tentang dokumen akta jual beli seperti pagi-pagi biasa.
Namun di dalam kepalanya, semuanya bergemuruh.
“Apakah dia menyatakan sebagai pemilik?”
Petugas itu berhenti sebentar.
“Di formulir permintaan, beliau menulis sebagai anggota keluarga pemilik.”
“Apakah ada dokumen kepemilikan yang diberikan?”
“Belum, Bu. Karena baru tahap permintaan estimasi dan survei. Untuk proses lanjutan tentu dibutuhkan dokumen resmi.”
Siti menarik napas.
“Tolong batalkan semua proses atas unit itu. Saya pemilik sah apartemen tersebut dan tidak pernah memberikan kuasa kepada siapa pun.”
Setelah sambungan berakhir, Siti duduk diam.
Ia tidak menangis.
Ia tidak marah.
Justru ketenangan aneh muncul dalam dirinya.
Selama ini ia selalu berdebat berdasarkan perasaan.
Tentang privasi.
Tentang rasa hormat.
Tentang batas.
Sekarang ia sadar persoalan ini sudah berubah.
Ini bukan lagi urusan mertua yang terlalu mencampuri kehidupan rumah tangga.
Ada tindakan konkret terhadap aset miliknya.
Sore itu Siti meminta bantuan salah satu rekan senior di kantor, Pak Adnan, untuk memeriksa dokumen apartemennya.
Siti tidak menceritakan semua masalah rumah tangganya. Ia hanya mengatakan ingin memastikan posisi hukum atas aset warisan sebelum menikah.
Pak Adnan membaca dokumen dengan teliti.
“Ini jelas,” katanya sambil mengetuk salinan sertifikat. “Unit ini diperoleh melalui warisan dan sudah atas nama kamu jauh sebelum menikah. Secara prinsip ini harta bawaan, bukan harta bersama.”
Siti mengangguk.
“Kalau suami saya mengklaim punya hak?”
“Bisa saja orang mengklaim apa pun. Tapi klaim tidak otomatis membuatnya punya hak.”
Pak Adnan memandang Siti lebih serius.
“Kenapa tiba-tiba bertanya begini?”
Siti terdiam.
Lalu ia menceritakan tentang kartu agen properti.
Wajah Pak Adnan langsung berubah.
“Amankan dokumen asli. Ganti akses apartemen. Jangan berikan tanda tangan atau salinan identitas sembarangan. Dan mulai sekarang, simpan bukti percakapan apa pun terkait properti.”
Siti pulang dengan keputusan bulat.
Malam itu ia mengganti kode akses pintu digital dan menghubungi pengelola apartemen untuk mencabut seluruh kartu akses tambahan yang sebelumnya diberikan kepada Rian dan Ratna.
Rian pulang hampir pukul sepuluh.
Begitu menyentuhkan kartu aksesnya dan mendapati pintu tidak terbuka, ia menelepon Siti.
“Kenapa kartu aku tidak bisa dipakai?”
Siti membuka pintu dari dalam.
“Karena aksesnya aku nonaktifkan.”
Rian menatapnya tidak percaya.
“Kamu serius?”
“Masuk. Kita bicara.”
Rian meletakkan tas kerja dengan kasar di sofa.
“Apa-apaan ini?”
Siti mengeluarkan kartu nama agen properti dan menaruhnya di meja.
Wajah Rian berubah.
Hanya sesaat.
Namun Siti melihatnya.
“Kenapa kamu meminta appraisal apartemenku?”
Rian terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menarik kursi.
“Aku mau ngomong soal itu sebenarnya.”
“Kapan? Setelah ada orang datang mengukur apartemen?”
“Jangan dramatis.”
Siti tertawa pendek.
“Jadi sekarang aku dramatis karena mempertanyakan kenapa suamiku diam-diam mencoba mengetahui harga aset warisanku?”
Rian mengembuskan napas keras.
“Aku cuma cari tahu nilainya.”
“Untuk apa?”
“Kita kan keluarga.”
“Itu bukan jawaban.”
Rian berdiri.
“Sit, kita sudah menikah tiga tahun. Aku bayar listrik, internet, biaya maintenance, belanja juga sering aku yang bayar. Apa salah kalau aku ingin tahu nilai tempat yang kita tinggali?”
Siti menatapnya.
“Kamu bisa bertanya padaku.”
“Aku tahu kamu pasti menolak.”
“Menolak apa?”
Rian tidak langsung menjawab.
Kemudian kalimat berikutnya keluar begitu saja.
“Ibu ingin kami beli rumah di Bekasi.”
Siti mengernyit.
“Siapa ‘kami’?”
“Aku, kamu, sama Ibu.”
Siti hampir tertawa karena tidak percaya.
“Dan apartemen ini?”
“Kalau dijual, uangnya bisa jadi modal besar. Kita tambah tabungan sedikit, bisa dapat rumah luas. Ibu juga tinggal bersama kita. Lebih efisien.”
Siti memandang lelaki di depannya seolah baru pertama kali melihat siapa sebenarnya suaminya.
“Kamu membuat rencana menjual apartemen warisan kakekku tanpa pernah berbicara denganku?”
“Belum menjual. Baru menghitung.”
“Dan Ibumu tahu?”
Rian diam.
Diam itu sudah cukup menjadi jawaban.
Siti mengambil ponselnya.
“Mulai malam ini, Ibumu tidak boleh datang ke sini.”
Rian langsung meninggikan suara.
“Kamu tidak bisa melarang ibuku masuk ke rumah anaknya sendiri!”
Siti ikut berdiri.
“Ini bukan rumah anaknya.”
“Aku suamimu!”
“Dan?”
Rian menatap tajam.
“Apartemen ini juga milikku!”
Kalimat itu bergema di ruang tamu.
Siti merasakan sesuatu di dalam dirinya pecah.
Bukan hati.
Melainkan sisa ilusi yang selama ini ia pertahankan.
Ia berjalan ke lemari, mengambil satu map biru, lalu menaruh sertifikat salinan di depan Rian.
“Baca.”
Rian tidak menyentuhnya.
“Aku tidak perlu baca.”
“Baca.”
“Aku tahu itu atas namamu.”
“Kalau tahu, jangan pernah lagi mengatakan tempat ini milikmu.”
Rian mendengus.

“Secara hukum mungkin nama kamu. Tapi aku suamimu. Kita hidup di sini bersama. Jangan berpikir kamu bisa memperlakukanku seperti tamu.”
Siti menutup map.
“Orang yang tinggal bersama tidak otomatis memiliki tempat tinggal itu.”
“Jadi selama ini aku cuma numpang?”
“Aku tidak pernah bilang begitu. Tapi sekarang aku mulai sadar kamu menganggap pernikahan kita sebagai tiket untuk memiliki apa pun yang kupunya.”
Rian tidak menjawab.
Ia masuk kamar dengan membanting pintu.
Tiga hari kemudian, kejadian yang membuat semuanya benar-benar berubah terjadi.
Siti sedang menghadiri pertemuan di kantor klien ketika ponselnya bergetar berkali-kali.
Petugas keamanan apartemen menelepon.
“Bu Siti, apakah Ibu sedang melakukan penggantian kunci?”
Siti langsung berdiri.
“Tidak.”
“Di depan unit Ibu ada seorang perempuan yang mengaku ibu mertua Ibu bersama teknisi kunci. Mereka bilang kunci apartemen bermasalah.”
Darah Siti seketika terasa dingin.
“Jangan izinkan siapa pun masuk. Saya sedang menuju ke sana.”
Siti meninggalkan kantor.
Perjalanan dari Sudirman menuju Menteng sore itu terasa seperti satu jam penuh meski sebenarnya kurang dari tiga puluh menit.
Saat keluar dari lift, ia langsung melihat Ratna.
Ibu mertuanya berdiri di depan pintu apartemen bersama seorang tukang kunci yang sedang memeriksa gagang pintu.
Dua petugas keamanan apartemen berdiri tidak jauh dari mereka.
Ratna menoleh.
Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
“Kebetulan kamu pulang.”
Siti berjalan mendekat.
“Sedang apa Ibu?”
Ratna menyilangkan tangan.
“Kuncinya diganti. Ibu minta dibuatkan akses baru.”
“Siapa yang memberi izin?”
“Rian.”
Siti menoleh kepada tukang kunci.
“Pak, saya pemilik unit ini. Saya tidak pernah meminta penggantian atau pembukaan kunci.”
Tukang kunci segera mundur.
“Maaf, Bu. Saya diberi tahu ini rumah keluarga.”
Ratna mendengus.
“Memang rumah keluarga.”
“Bukan.”
Suara Siti kali ini begitu tegas sampai dua petugas keamanan ikut terdiam.
Ratna menatapnya tajam.
“Kamu jangan keterlaluan. Sejak menikah dengan anak saya, kamu makin merasa paling berkuasa.”
Siti mengeluarkan ponsel.
“Saya tidak merasa berkuasa. Saya hanya melindungi milik saya.”
Ratna tertawa sinis.
“Milikmu? Kamu pikir setelah menikah semua tetap bisa kamu pisah-pisahkan begitu?”
“Bisa, kalau memang bukan hak orang lain.”
Ratna mendekat.
“Rian sudah banyak keluar uang untuk tempat ini.”
“Biaya hidup tidak membuat seseorang menjadi pemilik properti.”
Ucapan itu membuat wajah Ratna memerah.
“Dasar perempuan tidak tahu terima kasih.”
Saat itulah lift berbunyi.
Rian muncul dengan langkah tergesa.
Begitu melihat tukang kunci dan petugas keamanan, ia langsung menghadap Siti.
“Kamu bikin keributan apa lagi?”
Siti tercengang.
“Aku?”
“Ibu cuma ingin masuk mengambil barang.”
“Barang apa?”
Rian terdiam.
Ratna segera menyela.
“Dokumen.”
Siti memandang keduanya bergantian.
“Dokumen apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Dan justru karena itulah Siti memahami sesuatu.
Ia membuka pintu apartemen, masuk, lalu berdiri di ambang.
“Petugas keamanan, tolong tetap di sini.”
Ratna tampak gelisah.
Siti berjalan menuju kamar kerja kecil di ujung lorong.
Beberapa bulan sebelumnya ia masih menyimpan salinan dokumen lama milik Kakek Hartono di sebuah lemari besi kecil yang tertanam di dalam kabinet.
Dokumen asli sudah dipindahkan ke kantor.
Namun ada satu hal yang belum pernah ia pindahkan.
Sebuah amplop cokelat tua yang ditemukan setelah kematian kakeknya.
Siti tidak pernah membukanya.
Di depan amplop itu tertulis dengan tulisan tangan Kakek Hartono.
Untuk Siti, ketika suatu hari ada orang yang merasa lebih berhak atas rumahmu daripada dirimu sendiri.
Saat pertama kali menemukannya, Siti menganggap kalimat itu hanya nasihat sentimental seorang kakek.
Sekarang tangannya bergetar saat merobek amplop tersebut.
Di dalamnya ada surat.
Ada pula salinan akta hibah lama, catatan transaksi pembelian apartemen, serta satu halaman tulisan tangan.
Siti membaca baris pertama.
Siti, Kakek membeli tempat ini bukan hanya supaya kamu punya rumah. Kakek ingin kamu selalu punya satu tempat yang tidak bisa membuatmu merasa berutang kepada siapa pun.
Air mata Siti langsung memenuhi matanya.
Ia melanjutkan membaca.
Jika suatu hari kamu menikah, cintailah pasanganmu. Berbagi hiduplah dengannya. Tetapi jangan pernah percaya bahwa cinta berarti menyerahkan seluruh kendali atas hidupmu. Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan marah ketika kamu memiliki sesuatu yang tetap menjadi milikmu.
Siti menutup mulut.
Ada satu kalimat terakhir.
Dan kalau ada orang mencoba mengambil tempat ini dengan dalih keluarga, ingatlah bahwa keluarga yang baik tidak mengambil. Mereka menjaga.
Siti keluar membawa surat itu.
Rian dan Ratna masih berdiri di ruang tamu.
“Apa yang kalian cari?”
Ratna terlihat pucat.
Rian memalingkan wajah.
Siti tiba-tiba teringat sesuatu.
“Kalian tahu ada dokumen di lemari itu?”
Rian menjawab pelan.
“Ibu pernah lihat.”
Semua potongan kejadian menyatu.
Ratna membuka laci.
Ratna memindahkan barang-barangnya.
Ratna keluar masuk apartemen tanpa izin.
Appraisal properti.
Tukang kunci.
Mereka bukan sekadar ingin masuk.
Mereka sedang mencari dokumen.
“Untuk apa?”
Rian akhirnya kehilangan kesabaran.
“Aku cuma perlu lihat apakah ada klausul yang memungkinkan apartemen ini dialihkan!”
Siti membeku.
Bahkan Ratna terlihat kaget karena anaknya mengatakannya terang-terangan.
Rian mengusap wajah.
“Bisnis aku sedang bermasalah.”
Siti menatapnya.
“Bisnis apa?”
“Investasi bareng teman.”
“Kamu tidak pernah cerita.”
“Karena belum perlu.”
“Berapa utangmu?”
Rian diam.
“Berapa?”
“Hampir delapan ratus juta.”
Lutut Siti hampir kehilangan tenaga.
Ratna cepat-cepat berkata, “Makanya kalau apartemen ini dijual, semuanya selesai. Setelah itu kalian bisa mulai lagi.”
Siti memandang perempuan itu.
“Jadi sejak awal ini soal utang Rian?”
Ratna tidak menjawab.
“Tanaman saya dibuang. Barang-barang saya dipindahkan. Jam kakek saya diberikan ke orang lain. Ibu datang seenaknya. Semua karena Ibu ingin membuat saya terbiasa bahwa apa pun milik saya bisa diambil?”
Ratna mengangkat dagu.
“Kamu istri. Harus bantu suami.”
Siti tersenyum.
Namun senyum itu penuh kepedihan.
“Membantu berbeda dengan menyerahkan warisan keluarga untuk menutup utang yang bahkan disembunyikan dari saya.”
Rian maju satu langkah.
“Kalau kamu cinta aku, seharusnya kamu bantu.”
Kalimat itu menjadi akhir dari semuanya.
Siti menatapnya lama.
“Kalau kamu cinta aku, seharusnya kamu cerita sebelum utangnya menjadi delapan ratus juta.”
Rian terdiam.
“Kalau kamu menghormatiku, kamu tidak akan memesan appraisal diam-diam.”
Siti menunjuk pintu.
“Dan kalau kamu benar-benar menganggapku keluarga, kamu tidak akan datang bersama ibumu dan tukang kunci untuk membobol rumah yang bukan milik kalian.”
Malam itu Rian pergi bersama Ratna.
Siti tidak meminta perceraian saat itu juga.
Ia melakukan sesuatu yang lebih penting terlebih dahulu.
Ia menghubungi pengelola apartemen, mengubah seluruh izin akses, memasang kamera tambahan di pintu, dan membuat laporan tertulis atas percobaan masuk tanpa izin agar ada dokumentasi resmi.
Dua hari kemudian ia menghubungi Dimas.
Tanpa diduga, pemuda itu bahkan tidak tahu sejarah jam tangan yang diberikan Ratna kepadanya.
Begitu Siti menjelaskan bahwa jam itu peninggalan Kakek Hartono, Dimas langsung terdiam.
“Mbak, saya kira Tante Ratna memang beli itu buat saya.”
Jam tersebut dikembalikan malam itu juga.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Siti menangis ketika memasangkannya kembali di pergelangan tangan.
Bukan karena jam itu mahal.
Melainkan karena ada sesuatu dari Kakeknya yang berhasil ia rebut kembali sebelum benar-benar hilang.
Sebulan kemudian Siti dan Rian resmi tinggal terpisah.
Dalam proses mediasi keluarga, Rian akhirnya mengakui utangnya bukan delapan ratus juta.
Jumlah sebenarnya hampir satu koma dua miliar rupiah.
Sebagian berasal dari pinjaman online usaha, sebagian dari utang pribadi kepada dua rekannya.
Lebih mengejutkan lagi, Ratna telah menjaminkan sertifikat rumahnya sendiri di Bekasi untuk membantu Rian.
Itulah sebabnya ia begitu terobsesi pada apartemen Siti.
Bukan karena ia ingin tinggal di Menteng.
Bukan karena ia sekadar mencampuri rumah tangga anaknya.
Ratna sedang takut kehilangan rumahnya sendiri.
Ketika Siti mengetahui itu, ia sempat merasa iba.
Namun rasa iba tidak menghapus apa yang telah dilakukan mereka.
Beberapa bulan kemudian, proses perceraian dimulai.
Sebelum sidang pertama, Rian menemui Siti di sebuah kedai kopi tidak jauh dari kantor pengadilan.
Wajahnya tampak lebih kurus.
“Aku sudah mulai mencicil utangnya,” katanya.
Siti mengangguk.
“Bagus.”
Rian memandang jam tangan di pergelangan tangannya.
“Jam Kakek kamu sudah kembali?”
“Sudah.”
Hening beberapa saat.
“Aku minta maaf.”
Siti memandang ke luar jendela.
Dulu ia membayangkan jika hari itu datang, ia akan merasa puas mendengar permintaan maaf Rian.
Ternyata tidak.
Ia hanya merasa lelah.
“Aku percaya waktu Ibu bilang kamu terlalu individualis,” lanjut Rian. “Katanya kalau suami istri benar-benar satu keluarga, tidak seharusnya ada milikmu dan milikku.”
Siti menatapnya.
“Masalahnya bukan soal berbagi.”
“Lalu?”
“Berbagi terjadi ketika seseorang memberi dengan kemauannya sendiri. Mengambil terjadi ketika orang lain merasa berhak tanpa izin.”
Rian menundukkan kepala.
Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Setahun kemudian, apartemen di Menteng itu masih menjadi milik Siti.
Ia mengecat ulang ruang tamu.
Menanam tanaman hias baru di balkon.
Mengembalikan foto Kakek Hartono ke meja dekat jendela.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Di samping foto itu, Siti meletakkan surat lama dari kakeknya di dalam bingkai kaca kecil.
Bukan seluruh surat.
Hanya satu kalimat.
Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan marah ketika kamu memiliki sesuatu yang tetap menjadi milikmu.
Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Siti bisa melihat kalimat itu.
Lama-kelamaan ia memahami bahwa apartemen tersebut bukan warisan terbesar yang ditinggalkan Kakek Hartono.
Warisan terbesar itu adalah sebuah pelajaran yang baru ia mengerti bertahun-tahun kemudian.
Bahwa rumah bukan hanya tempat seseorang tinggal.
Rumah adalah tempat di mana batasmu dihormati.
Tempat di mana kata tidak tetap berarti tidak.
Tempat di mana cinta tidak digunakan sebagai alasan untuk mengambil hak orang lain.
Dan terkadang, untuk mempertahankan sebuah rumah, seseorang harus berani kehilangan orang-orang yang sejak awal tidak pernah benar-benar menghormati siapa pemilik pintunya.
