PULANG 26 HARI LEBIH CEPAT, AKU MEMERGOKI AYAHKU BERSIMPUH MEMBERSIHKAN LANTAI, SEMENTARA IBU MERTUAKU DUDUK SANTAI.

“Tambahan modal dari mana, Mas?”

Di ujung telepon, Rendy terdiam cukup lama.

Maya tidak mendesaknya. Ia membiarkan kesunyian bekerja.

Beberapa detik kemudian, Rendy tertawa kecil.

“Ada beberapa dana yang sedang aku putar. Mungkin bisa dicairkan sementara.”

“Dana bisnis?”

“Kurang lebih begitu.”

Maya menahan napas.

“Kalau jumlahnya cukup besar, kita bisa bayar uang muka dulu. Temanku cuma kasih waktu sampai besok siang.”

Rendy langsung menjawab, “Jangan tawarkan ke orang lain dulu. Aku pulang satu jam lagi.”

Sambungan terputus.

Maya menurunkan ponselnya perlahan.

Semua percakapan tadi sudah terekam.

Sarah sebelumnya telah mengingatkannya untuk berhati-hati. Rekaman tidak boleh menjadi satu-satunya bukti, tetapi bisa memperkuat rangkaian fakta apabila diperoleh dan digunakan sesuai proses hukum.

Maya segera mengirim salinan rekaman itu kepada Sarah.

Lalu ia membuka laptop Rendy yang tertinggal di ruang kerja bersama.

Kata sandinya sudah berubah.

Maya mencoba tanggal pernikahan mereka.

Salah.

Tanggal lahir Rendy.

Salah.

Nama ibunya.

Salah.

Ia hampir menyerah ketika teringat sebuah angka yang belakangan sering muncul dalam notifikasi transaksi di layar ponsel suaminya.

Laptop terbuka.

Dada Maya terasa semakin berat.

Folder-folder biasa memenuhi layar. Dokumen kendaraan. Tagihan rumah. Presentasi bisnis.

Namun ada satu folder bernama “RK Development”.

Maya membukanya.

Di dalamnya terdapat puluhan bukti transfer.

Sebagian besar mengarah ke rekening dengan nama berbeda-beda.

Nominalnya bervariasi dari Rp25 juta hingga Rp300 juta.

Ada pula tangkapan layar dari platform perjudian ilegal.

Yang paling mengejutkan, ada file PDF berjudul “Surat Kuasa Darmawan Final”.

Maya membukanya.

Benar.

Tanda tangan ayahnya ada di halaman terakhir.

Tetapi ada sesuatu yang aneh.

Pak Darmawan tadi mengatakan ia menandatangani surat kuasa terbatas untuk pencairan dana.

Dalam dokumen di laptop, isi surat tersebut jauh lebih luas.

Rendy diberi kuasa untuk mengurus penjaminan, pencairan, pengalihan, bahkan penjualan aset tertentu yang terhubung dengan pinjaman.

Maya membaca kalimat demi kalimat.

Tangannya mulai dingin.

Tanda tangan ayahnya asli.

Namun halaman pertama dan halaman terakhir menggunakan jenis kertas berbeda.

Nomor dokumennya tidak berurutan.

Maya langsung memotretnya.

Ada kemungkinan ayahnya telah diminta menandatangani halaman tertentu, lalu halaman lainnya diganti.

Maya belum sempat memeriksa lebih jauh ketika suara pintu utama terbuka.

“Maya?”

Rendy sudah pulang.

Maya menutup laptop dan keluar dari ruang kerja.

Suaminya berdiri di ruang tamu dengan kemeja biru tua dan wajah yang berusaha terlihat ceria.

Ia langsung memeluk Maya.

Namun pelukan itu terasa asing.

Dulu Maya mengenal kehangatan tubuh suaminya.

Kini ia hanya merasakan tangan seorang lelaki yang telah menipu ayahnya.

“Kok benar-benar nggak kasih tahu?” kata Rendy sambil tertawa.

“Kan mau bikin kejutan.”

Maya tersenyum.

Bu Ratih dan Siska tampak berdiri agak jauh.

Wajah keduanya tegang.

Rendy memperhatikan sekeliling.

“Pak Darmawan mana?”

Maya mengangkat bahu.

“Ayah pulang ke hotel.”

“Hotel?”

“Iya. Katanya mau ketemu teman lama.”

Bu Ratih buru-buru menyela.

“Tadi ayahmu menumpahkan soto sendiri. Ibu sebenarnya sudah bilang nggak usah dibersihkan, tapi dia keras kepala.”

Maya menatap ibu mertuanya.

Wajahnya tetap tenang.

“Begitu?”

“Iya.”

Siska ikut mengangguk cepat.

Maya tersenyum.

“Tidak apa-apa, Bu.”

Jawaban itu justru membuat Bu Ratih terlihat semakin tidak nyaman.

Malam itu, Maya memasak makan malam seperti biasa.

Ia bahkan membuka sebotol sparkling water yang dibelinya di bandara.

Rendy tampak semakin santai.

Setelah makan, Maya kembali membicarakan tanah di Karawang.

“Temanku minta minimal tiga miliar dulu besok pagi.”

Rendy mengunyah makanannya perlahan.

“Tiga miliar?”

“Iya. Sisanya bisa dua minggu lagi.”

Rendy meletakkan sendok.

“Aku mungkin bisa sediakan.”

Maya memasang wajah terkejut.

“Serius?”

“Kalau benar potensinya sebesar itu, sayang kalau dilepas.”

“Dari mana kamu punya tiga miliar?”

Rendy tersenyum.

“Dari investasi.”

“Investasi apa?”

Rendy terlihat berpikir.

“Ada proyek lama yang baru cair.”

Bu Ratih tiba-tiba berdeham.

Maya tahu perempuan itu gugup.

Maya sengaja mencondongkan badan.

“Kalau uangnya benar-benar ada, transfer saja ke rekeningku besok pagi. Aku yang urus pembayarannya.”

Rendy langsung menggeleng.

“Lebih baik aku transfer langsung ke penjual.”

“Kenapa?”

“Biar aman.”

Maya tertawa kecil.

“Mas, kamu takut aku bawa lari uang tiga miliar?”

Pertanyaan itu membuat meja makan mendadak sunyi.

Rendy tertawa kaku.

“Bukan begitu.”

“Kalau begitu transfer ke aku.”

Ia menatap Maya beberapa detik.

“Besok kita bicarakan.”

Maya tidak memaksa.

Malam itu, saat Rendy mandi, Maya menerima pesan dari Sarah.

Mereka telah menemukan lembaga pembiayaan yang menangani agunan Pak Darmawan.

Menurut informasi awal, dana sebesar Rp3 miliar belum seluruhnya dicairkan.

Sebanyak Rp2,4 miliar telah masuk ke rekening Rendy pagi tadi.

Sisa Rp600 juta masih menunggu verifikasi akhir.

Maya langsung menelepon ayahnya.

“Ayah, dengarkan baik-baik. Besok pagi jangan tanda tangan apa pun. Sarah akan mengirim seseorang untuk menemui Ayah.”

“Uangnya masih bisa diselamatkan?”

“Sebagian.”

Pak Darmawan terdiam.

Kemudian bertanya lirih, “Maya, kalau semuanya hilang, kamu jangan memaksakan diri mengganti.”

Maya menggigit bibir.

“Itu rumah dan kebun Mama.”

“Ayah tahu.”

“Justru karena itu kita harus memperjuangkannya.”

Suara Pak Darmawan terdengar tenang.

“Rumah bisa dibangun lagi. Kebun bisa ditanami lagi. Yang Ayah takutkan bukan kehilangan tanah.”

“Lalu?”

“Ayah takut kehilangan kamu karena kamu terlalu marah.”

Maya memejamkan mata.

Kalimat itu menahannya agar tidak melakukan sesuatu dengan gegabah.

Keesokan paginya, Rendy bangun lebih awal.

Ia mengenakan jas abu-abu dan terus memeriksa ponsel.

Maya pura-pura sibuk menyiapkan kopi.

“Jadi uangnya bagaimana?”

Rendy mencium keningnya.

“Aku urus.”

“Berapa yang bisa kamu siapkan?”

Rendy tersenyum.

“Tiga miliar.”

“Wow.”

Maya sengaja memperlebar senyum.

“Ternyata suamiku diam-diam kaya.”

Rendy tertawa.

“Makanya jangan terlalu curiga sama suami.”

Kalimat itu hampir membuat Maya kehilangan kendali.

Namun ia tetap tersenyum.

“Sore nanti kita ketemu penjualnya?”

“Boleh.”

Begitu Rendy pergi, Sarah datang bersama seorang penyidik swasta yang selama bertahun-tahun bekerja dengan firma hukumnya.

Mereka memeriksa salinan dokumen dan transaksi.

Semakin diperiksa, semakin buruk keadaannya.

Rendy bukan hanya memiliki utang judi.

Ia juga memakai identitas perusahaan kecil milik seorang temannya untuk memindahkan dana agar tidak mudah terlacak.

Sebagian uang Pak Darmawan bahkan sudah digunakan untuk membayar dua kreditur pribadi.

Yang lebih mengejutkan, Sarah menemukan transfer Rp350 juta kepada Siska enam bulan sebelumnya.

Transfer itu diberi keterangan “DP Apartemen”.

Maya menatap layar.

“Siska ikut?”

“Kita belum tahu,” jawab Sarah. “Tapi dia jelas menerima uang.”

“Bu Ratih?”

Sarah menunjukkan dokumen lain.

Ada transfer rutin kepada Bu Ratih selama sembilan bulan terakhir.

Total hampir Rp480 juta.

Maya terdiam.

Selama ini ia mengira uang kebutuhan ibu mertuanya berasal dari penghasilan Rendy.

Ternyata sebagian berasal dari pinjaman.

Sarah menatapnya.

“Kita masih butuh satu hal.”

“Apa?”

“Pengakuan tentang kebohongan terhadap ayahmu.”

Maya sudah memikirkannya.

Sore itu, ia meminta Rendy, Bu Ratih, dan Siska berkumpul di ruang keluarga.

Ia mengatakan pemilik tanah Karawang akan datang untuk membahas transaksi.

Sebenarnya orang yang datang adalah Bima, rekan Sarah yang sudah diarahkan untuk berpura-pura menjadi perantara penjual.

Bima datang pukul tujuh malam.

Ia membawa map dokumen palsu yang hanya digunakan sebagai properti percakapan, tanpa tanda tangan atau transaksi apa pun.

“Jadi uang mukanya tiga miliar?” tanya Bima.

Rendy mengangguk.

“Siap.”

Bima tersenyum.

“Dananya pribadi?”

Rendy tampak ragu.

Maya langsung menyela.

“Mas bilang dari proyek lama yang baru cair.”

Bima mengangguk.

“Asal sumber dana jelas, saya tidak masalah. Karena transaksi sebesar ini nanti masuk pemeriksaan notaris.”

Wajah Rendy berubah sedikit.

“Jelas.”

“Bisa ditunjukkan bukti sumbernya?”

Rendy mulai kesal.

“Kenapa harus?”

“Prosedur.”

Ruangan sunyi.

Maya menatap suaminya.

“Mas, tunjukkan saja.”

Rendy menatap Maya tajam.

“Aku bilang uangnya aman.”

“Kalau aman, bukti juga aman.”

Bu Ratih berdiri.

“Sudahlah. Kalau orang jual tanah terlalu banyak tanya, cari tanah lain saja.”

Bima tetap tenang.

“Maaf, Bu. Ini standar.”

Maya sengaja menghela napas.

“Mas, jangan bilang uang tiga miliar itu sebenarnya uang Ayah.”

Rendy langsung membeku.

Bu Ratih memucat.

Siska menatap kakaknya.

“Apa maksudmu?” tanya Rendy.

Maya menatapnya lurus.

“Uang yang kamu bilang untuk membebaskanku dari tahanan di Jerman.”

Tidak ada yang bergerak.

Bima meletakkan pulpennya.

Rendy tertawa pendek.

“Kamu bicara apa?”

“Aku tidak pernah ditahan.”

Rendy tidak menjawab.

“Aku tidak pernah diperiksa polisi.”

“Maya, kita bisa bicara berdua.”

“Tidak.”

Maya berdiri.

“Kita bicara sekarang.”

Rendy menatap Bima.

“Anda keluar dulu.”

Bima berdiri dan berjalan menuju pintu.

Namun tepat sebelum pergi, ia menekan ponselnya.

Sarah masuk bersama dua orang lainnya.

Salah satunya adalah perwakilan hukum dari pihak Pak Darmawan.

Rendy mundur.

“Apa-apaan ini?”

Sarah menaruh map di meja.

“Dokumen penggadaian rumah Pak Darmawan. Dokumen jaminan kebun. Bukti pencairan Rp2,4 miliar. Surat kuasa yang diduga telah dimodifikasi. Bukti pembayaran kepada kreditur. Dan beberapa transaksi lainnya.”

Siska langsung menangis.

“Aku nggak tahu apa-apa.”

Maya menatapnya.

“Rp350 juta untuk apartemen?”

Siska langsung terdiam.

Bu Ratih berteriak.

“Jangan bawa-bawa Siska!”

Maya berbalik.

“Berarti Ibu tahu?”

Bu Ratih menutup mulut.

Kesalahannya baru saja keluar sendiri.

Rendy membanting telapak tangannya ke meja.

“Cukup!”

Semua orang terdiam.

Wajahnya merah.

“Aku memang pakai uang itu!”

Maya menatapnya tanpa berkedip.

“Tiga miliar milik ayahku.”

“Aku akan ganti!”

“Dengan apa?”

“Bisnis!”

“Bisnis apa? Judi?”

Rendy seperti ditampar.

Maya melanjutkan.

“Berapa utangmu?”

Rendy tidak menjawab.

“Delapan miliar?”

Wajah Rendy berubah.

Maya tahu tebakannya mendekati kebenaran.

Sarah sebelumnya menghitung kewajiban yang berhasil mereka temukan sekitar Rp7,6 miliar.

“Semua ini gara-gara investasi gagal,” kata Rendy.

“Jangan bohong lagi.”

Maya mengambil ponselnya.

Ia memutar satu rekaman.

Suara Rendy terdengar jelas sedang berbicara dengan seseorang.

“Begitu dana orang tua itu cair, gue tutup utang platform dulu. Sisanya gue putar lagi. Maya nggak akan tahu.”

Rendy langsung menoleh.

Wajahnya kehilangan warna.

Rekaman itu ditemukan Sarah dari salinan cloud yang masih tersinkron di laptop.

Maya menghentikannya.

“Masih mau bilang investasi?”

Rendy jatuh duduk.

Untuk pertama kalinya sejak Maya mengenalnya, lelaki itu terlihat benar-benar kalah.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Bu Ratih.

Perempuan itu tiba-tiba menunjuk Pak Darmawan yang baru saja masuk dari pintu samping.

“Kalau bapakmu tidak terlalu mudah percaya, semua ini tidak akan terjadi!”

Maya menoleh.

Pak Darmawan berdiri bersama petugas dari lembaga pembiayaan.

Lelaki tua itu tidak marah.

Ia hanya memandang Bu Ratih lama sekali.

“Saya percaya karena dia suami anak saya.”

Bu Ratih terdiam.

Pak Darmawan kemudian menatap Rendy.

“Saya memberikan uang itu karena saya pikir Maya dalam bahaya.”

Rendy menunduk.

“Saya tidak pernah menyangka orang yang saya titipi anak justru memakai rasa takut seorang ayah untuk mengambil harta keluarganya.”

Tidak ada suara di ruangan itu.

Pak Darmawan melanjutkan pelan.

“Uang bisa dicari lagi. Tapi setelah malam ini, saya tidak punya menantu.”

Rendy mendongak.

“Pak…”

“Jangan panggil saya begitu.”

Pak Darmawan berbalik.

Hari-hari setelahnya berlangsung jauh lebih berat daripada yang Maya bayangkan.

Proses hukum berjalan.

Pencairan Rp600 juta berhasil dihentikan.

Sebagian dari Rp2,4 miliar yang sudah keluar berhasil dibekukan karena masih berada di beberapa rekening yang terhubung.

Namun sejumlah uang sudah terlanjur digunakan untuk membayar utang dan sulit dipulihkan dengan cepat.

Surat kuasa ayahnya diperiksa.

Dugaan manipulasi dokumen semakin kuat.

Rendy akhirnya mengakui bahwa ia mengubah susunan dokumen setelah mendapat halaman bertanda tangan dari Pak Darmawan.

Bu Ratih ternyata mengetahui kebohongan tentang “penahanan di Jerman”.

Dialah yang meyakinkan Pak Darmawan ketika lelaki tua itu mulai curiga.

Siska juga mengetahui asal sebagian uang yang diterimanya, meskipun ia mengaku tidak tahu seluruh skema.

Maya mengajukan gugatan cerai.

Ia tidak menangis ketika menandatangani berkas pertama.

Ia baru menangis tiga minggu kemudian, saat kembali ke Malang bersama ayahnya.

Mereka berdiri di tengah kebun kopi yang hampir berpindah tangan.

Pak Darmawan berjalan pelan di antara pohon-pohon tua.

“Di sebelah sana,” katanya sambil menunjuk sebuah pohon besar, “mamamu dulu sering duduk kalau kamu masih kecil.”

Maya menatapnya.

“Ayah marah sama aku?”

Pak Darmawan tertawa kecil.

“Kenapa Ayah harus marah?”

“Karena aku membawa Rendy ke dalam keluarga kita.”

Pak Darmawan menggeleng.

“Manusia bisa berubah. Dan orang yang pandai berbohong tidak selalu terlihat jahat di awal.”

Maya menunduk.

Pak Darmawan menyentuh bahunya.

“Yang penting bukan siapa yang pernah kita percaya.”

“Lalu?”

“Apa yang kita lakukan setelah tahu kepercayaan itu dikhianati.”

Enam bulan kemudian, rumah Pak Darmawan berhasil diselamatkan setelah sebagian dana dikembalikan melalui proses hukum dan Maya melunasi kekurangan pinjaman dengan tabungan pribadinya.

Kebun kopi juga kembali sepenuhnya ke tangan keluarga.

Rendy menghadapi proses hukum atas penipuan, manipulasi dokumen, dan persoalan keuangan lainnya.

Namun ada satu hal yang baru Maya ketahui setelah semuanya hampir selesai.

Suatu sore, seorang notaris tua di Malang mendatanginya membawa sebuah amplop.

“Ini titipan almarhumah ibu Anda.”

Maya terkejut.

“Ibu saya?”

Notaris itu mengangguk.

“Tujuh tahun lalu, beliau membuat pengaturan kepemilikan kebun.”

Tangan Maya bergetar ketika membuka dokumen di dalamnya.

Ternyata dua hektare kebun yang dijaminkan Pak Darmawan bukan sepenuhnya milik ayahnya.

Sebelum meninggal, ibunya telah memindahkan sebagian besar hak kepemilikan kepada Maya dengan klausul khusus bahwa aset tersebut tidak boleh dialihkan tanpa persetujuan tertulis Maya.

Dokumen itu belum pernah digunakan karena Pak Darmawan sendiri tidak mengetahui detail pengaturannya.

Artinya, sejak awal, pengalihan kebun melalui surat kuasa Rendy tidak pernah memiliki dasar hukum yang kuat.

Maya menutup mulut.

Air matanya jatuh.

Di halaman terakhir terdapat tulisan tangan ibunya.

Pendek.

Hanya satu kalimat.

“Kalau suatu hari hidup membuat kalian takut kehilangan rumah, ingatlah bahwa rumah sebenarnya adalah orang yang tetap memilih menjaga kalian.”

Maya membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian tiga kali.

Dari teras, ia melihat ayahnya sedang menyiram tanaman sambil mengomel kepada pekerja kebun karena selang air bocor.

Maya tertawa di antara air matanya.

Enam bulan lalu, ia pulang dua puluh enam hari lebih cepat dengan niat memberi kejutan kepada suaminya.

Ia justru menemukan ayahnya berlutut membersihkan lantai di rumahnya sendiri.

Saat itu Maya merasa hidupnya runtuh dalam satu sore.

Namun sekarang ia mengerti.

Kadang-kadang kepulangan yang terlalu cepat bukan kesalahan waktu.

Kadang-kadang hidup memang membawa seseorang pulang lebih awal agar ia sempat melihat kebenaran sebelum semuanya terlambat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang