IBU KANDUNGKU PERGI SAAT AYAH JATUH MISKIN. EMPAT BELAS TAHUN KEMUDIAN, DIA KEMBALI DI SUATU MALAM YANG DIGUYUR HUJAN—DAN MENGATAKAN INGIN MEMULAI KEMBALI SEMUANYA DENGAN AYAH.

Aku tidak tahu siapa yang lebih terkejut malam itu, aku, Ayah, atau perempuan yang berdiri basah kuyup di depan pintu rumah kami.

Beberapa detik terasa seperti beberapa menit.

Hujan menghantam atap teras dengan suara keras. Air menetes dari ujung rambut ibu kandungku ke lantai. Sementara itu, Ayah masih berdiri tanpa berkata apa-apa.

Akhirnya aku yang lebih dulu membuka suara.

“Memulai lagi?”

Nada suaraku terdengar lebih dingin daripada yang kurencanakan.

Perempuan itu menoleh kepadaku.

Aku bahkan kesulitan menyebutnya Ibu dalam pikiranku.

Namanya Mira.

Dulu, selama sembilan tahun pertama hidupku, aku memanggilnya Ibu.

Sekarang nama itu terasa seperti milik orang lain.

Mira menelan ludah.

“Aku tahu ini terdengar keterlaluan.”

“Keterlaluan?”

Aku hampir tertawa.

“Empat belas tahun tidak ada kabar. Lalu datang malam-malam dan bilang ingin memulai lagi. Menurutmu itu cuma terdengar keterlaluan?”

“Dina.”

Ayah memanggil namaku pelan.

Aku menoleh.

Dia tidak sedang membelaku ataupun membela Mira. Tatapannya hanya meminta agar aku tidak membuat keputusan ketika sedang marah.

Namun kali ini aku tidak peduli.

Semua kemarahan yang selama bertahun-tahun kukira sudah hilang tiba-tiba muncul kembali.

Aku teringat diriku yang berusia sembilan tahun, berdiri di depan pintu sekolah sambil menunggu seorang ibu yang tidak pernah datang menjemput.

Aku teringat ketika teman-temanku membuat kartu Hari Ibu dan aku tidak tahu harus menulis nama siapa.

Aku teringat wajah Ayah yang semakin kurus karena bekerja tanpa henti.

Dan aku teringat Bu Ratih yang datang bertahun-tahun kemudian, bukan untuk mengambil tempat siapa pun, melainkan untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan seseorang dengan begitu saja.

Ayah akhirnya bergeser dari pintu.

“Masuk dulu,” katanya.

Aku langsung menatapnya.

“Ayah serius?”

“Hujan deras.”

“Itu bukan alasan untuk membiarkan dia masuk.”

Mira menunduk.

“Aku bisa pergi kalau memang kalian tidak mau melihatku.”

Entah mengapa kalimat itu justru membuatku semakin kesal.

“Dulu juga begitu, kan? Begitu keadaan tidak sesuai keinginanmu, pergi.”

Wajah Mira memucat.

Ayah menghela napas.

“Dina, cukup.”

Aku menggigit bibir.

Mira akhirnya masuk.

Dia duduk di ujung sofa ruang tengah dengan tubuh kaku. Ayah memberinya handuk kecil, lalu mengambilkan segelas air hangat.

Aku berdiri dekat meja makan, menolak duduk.

Setelah suasana hening cukup lama, Ayah bertanya, “Kenapa sekarang?”

Mira memegang gelas dengan kedua tangan.

“Aku sudah beberapa kali mencoba mencari kalian.”

“Sejak kapan?” tanyaku cepat.

“Sekitar dua tahun terakhir.”

“Dua tahun?” Aku tersenyum sinis. “Berarti dua belas tahun sebelumnya tidak?”

Mira menatapku.

“Tidak ada jawaban yang bisa membuatmu puas, Dina.”

“Karena memang tidak ada jawaban yang masuk akal.”

Dia terdiam.

Lalu perlahan berkata, “Aku pengecut.”

Aku tidak menyangka dia akan mengatakannya sejelas itu.

“Aku pergi karena takut miskin. Takut utang. Takut hidup susah. Waktu itu aku menyalahkan ayahmu atas semuanya. Aku merasa seluruh hidupku hancur karena keputusan bisnisnya.”

Ayah tidak bereaksi.

“Aku pikir kalau aku pergi, aku bisa memulai hidup baru.”

“Dan berhasil?” tanyaku.

Mira mengusap matanya.

“Untuk sementara.”

Dia bercerita bahwa setelah meninggalkan kami, dia pindah ke Surabaya dan bekerja di sebuah perusahaan distribusi. Beberapa tahun kemudian, dia menikah lagi dengan seorang pengusaha bernama Arman.

Aku menatapnya tajam.

“Jadi selama ini Ibu punya keluarga baru?”

Untuk pertama kalinya, kata Ibu keluar dari mulutku.

Namun bukan dengan kehangatan.

Mira mengangguk pelan.

“Aku menikah lagi.”

“Punya anak?”

Dia menggeleng.

“Tidak.”

Jawabannya pendek, tetapi ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuatku tidak bertanya lebih jauh.

“Lalu suamimu mana sekarang?” tanya Ayah.

Mira menarik napas.

“Sudah meninggal tiga tahun lalu.”

Ruangan kembali sunyi.

“Setelah itu aku mulai memikirkan banyak hal,” lanjutnya. “Aku mulai mengingat Dina. Mengingat rumah kontrakan itu. Mengingat bagaimana aku pergi.”

Aku mengepalkan tangan.

“Jangan bicara seolah-olah itu cuma kesalahan kecil.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kalau tahu, Ibu pasti mengerti kenapa Ibu tidak bisa tiba-tiba kembali.”

Mira menatapku lama.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu langsung memaafkanku.”

“Tapi meminta Ayah kembali.”

Dia diam.

Dan diamnya menjadi jawaban.

Aku menoleh kepada Ayah.

“Ayah harus telepon Ibu Ratih.”

Mira tampak terkejut.

Ayah juga.

“Sekarang,” kataku.

“Dina.”

“Dia berhak tahu ada perempuan yang datang ke rumahnya dan meminta suaminya memulai hubungan lama lagi.”

Wajah Mira semakin pucat.

“Aku tahu Hendra sudah menikah.”

“Kalau tahu, kenapa tetap datang?”

Karena untuk pertama kalinya malam itu, Mira tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru turun ke lantai.

Dan aku mulai merasa ada sesuatu yang belum dia katakan.

Ayah juga menyadarinya.

“Mira,” katanya pelan, “sebenarnya kenapa kamu datang?”

Mira meremas ujung handuk.

“Aku memang ingin meminta maaf.”

“Itu bukan seluruh alasannya.”

Mira menutup mata sejenak.

Lalu dia mengambil sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya.

Tanganku otomatis menegang.

Dia meletakkan amplop itu di atas meja.

“Aku sakit.”

Aku menatapnya.

Ayah tidak bergerak.

“Dokter bilang ada masalah serius di ginjalku. Sudah cukup lama sebenarnya. Sekarang fungsi ginjalku semakin menurun.”

Dia mengeluarkan beberapa lembar hasil pemeriksaan.

“Aku harus menjalani pengobatan rutin. Mungkin nanti dialisis.”

Aku tidak segera merasa iba.

Yang muncul justru kecurigaan.

“Jadi ini soal uang?”

Mira menatapku cepat.

“Bukan.”

“Lalu apa?”

“Aku masih punya tabungan.”

“Berarti soal donor?”

Mira menggeleng kuat.

“Bukan itu juga.”

“Terus?”

Dia menatap Ayah.

“Aku takut mati sendirian.”

Kalimat itu sederhana.

Namun entah mengapa, kemarahanku sempat kehilangan arah.

Mira menangis tanpa suara.

“Setelah Arman meninggal, aku sadar aku tidak punya siapa-siapa. Teman-temanku punya keluarga masing-masing. Saudara-saudaraku tinggal jauh. Aku pulang ke rumah kosong setiap malam.”

Dia menatapku.

“Aku mulai bertanya-tanya, kalau suatu hari aku meninggal, siapa yang akan tahu lebih dulu?”

Aku diam.

“Aku tahu aku tidak berhak meminta kalian menerima aku lagi. Aku juga tahu Ratih sudah menjadi bagian dari hidup kalian.”

Nama Bu Ratih membuat suasana berubah.

“Aku pernah melihat fotonya,” kata Mira.

Aku mengernyit.

“Dari mana?”

Mira terdiam sesaat.

“Media sosial.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Kamu mencari kami?”

“Ya.”

“Sejak kapan sebenarnya?”

Mira tidak menjawab.

Ayah mengambil salah satu kertas di meja, lalu berkata pelan, “Mira.”

Nada suaranya kali ini berbeda.

Lebih tegas.

Mira akhirnya mengaku.

“Aku sudah tahu keadaan kalian sejak sekitar tujuh tahun lalu.”

Aku merasa seperti ditampar.

“Tujuh tahun?”

“Aku menemukan akun Dina ketika dia masih kuliah.”

“Berarti selama tujuh tahun Ibu melihat kami?”

Mira mengangguk.

“Melihat foto ulang tahunku?”

“Iya.”

“Melihat aku wisuda?”

“Iya.”

“Melihat Ayah menikah?”

Mira mulai menangis lagi.

“Iya.”

Aku tertawa kecil, tetapi mataku panas.

“Hebat.”

“Dina…”

“Selama tujuh tahun Ibu tahu kami ada di mana, tahu kehidupan kami, tahu aku tumbuh tanpa Ibu, tapi Ibu tetap diam?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu menolakku.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi supaya tidak merasakan sakit karena ditolak, Ibu memilih membiarkan aku merasakan sakit karena ditinggalkan?”

Mira tidak bisa menjawab.

Ayah menundukkan kepala.

Aku berjalan menjauh ke dekat jendela karena aku tidak ingin mereka melihat air mataku.

Pada saat itulah terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Beberapa detik kemudian pintu pagar terbuka.

Aku menoleh kepada Ayah.

“Siapa?”

Ayah terlihat sama bingungnya.

Kemudian terdengar suara kunci pintu.

Bu Ratih masuk sambil membawa payung.

“Mas, ternyata acara di rumah Mbak selesai lebih cepat…”

Kalimatnya terhenti.

Tatapannya jatuh pada Mira.

Untuk sesaat tidak ada seorang pun berbicara.

Bu Ratih mengenali wajah itu.

Aku tahu dari perubahan ekspresinya.

Bukan marah.

Bukan terkejut berlebihan.

Hanya seperti seseorang yang akhirnya bertemu sosok yang selama bertahun-tahun hanya ada dalam cerita.

“Mira?” tanyanya.

Mira perlahan berdiri.

“Iya.”

Aku langsung berjalan mendekati Bu Ratih.

“Ibu, dia datang dan bilang ingin kembali sama Ayah.”

Aku sengaja mengatakannya tanpa menyaring apa pun.

Bu Ratih menatap Ayah.

Ayah cepat berkata, “Aku belum menjawab apa pun.”

“Aku tahu.”

Jawaban Bu Ratih justru sangat tenang.

Kemudian dia meletakkan tasnya dan duduk.

“Silakan lanjutkan pembicaraannya.”

Aku menatapnya.

“Ibu tidak marah?”

“Tentu aku tidak nyaman.”

“Dia mau mengambil Ayah.”

Bu Ratih menatapku lembut.

“Manusia bukan barang yang bisa diambil.”

Kalimat itu langsung membuatku diam.

Mira menunduk.

Bu Ratih kemudian melihat dokumen medis di meja.

“Kamu sakit?”

Mira mengangguk.

Mengejutkannya, Bu Ratih justru bertanya tentang rumah sakit, pengobatan, dan apakah Mira tinggal sendirian.

Aku mulai tidak mengerti.

“Ibu kok malah tanya begitu?”

Bu Ratih menoleh kepadaku.

“Karena dia sedang sakit.”

“Setelah apa yang dia lakukan?”

“Kesalahan seseorang tidak membuat kita harus kehilangan rasa kemanusiaan.”

Aku ingin membantah.

Namun tidak bisa.

Mira menutupi wajah dengan tangannya.

“Aku malu.”

Bu Ratih diam.

“Aku datang ke sini dengan pikiran yang egois,” lanjut Mira. “Aku membayangkan mungkin Hendra masih menyimpan sesuatu untukku. Aku pikir kalau dia mau menerimaku, aku tidak perlu menghadapi semua ini sendirian.”

Dia menatap Bu Ratih.

“Tapi sekarang aku melihat kalian…”

Suaranya patah.

“Aku sadar aku tidak punya hak.”

Ayah akhirnya angkat bicara.

“Mira.”

Perempuan itu menatapnya.

“Aku sudah memaafkanmu sejak lama.”

Aku terkejut.

Mira bahkan lebih terkejut.

“Tapi memaafkan tidak berarti kembali.”

Ayah menatap Bu Ratih sebentar.

“Rumahku sekarang adalah Ratih. Keluargaku adalah Ratih dan Dina.”

Air mata Mira jatuh.

Ayah melanjutkan, “Apa yang kita punya dulu sudah selesai.”

Mira mengangguk perlahan.

“Aku mengerti.”

“Tapi kalau kamu butuh bantuan untuk pengobatan, aku bisa bantu mencari rumah sakit atau dokter. Sebatas itu.”

Mira menangis lebih keras.

Aku pikir malam itu akan selesai di sana.

Ternyata belum.

Sebelum pergi, Mira tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.

Dia menyerahkannya kepadaku.

“Apa ini?”

“Buka nanti.”

Aku mengernyit.

“Kenapa tidak sekarang?”

“Karena mungkin setelah kamu membukanya, kamu akan semakin membenciku.”

Aku hampir mengembalikannya.

Namun akhirnya kubawa.

Mira pergi sekitar pukul sebelas malam.

Hujan sudah mulai mengecil.

Bu Ratih bahkan memaksa memesan taksi daring untuknya agar dia tidak harus berjalan terlalu jauh ke jalan besar.

Setelah pintu tertutup, aku membawa kotak itu ke kamar.

Di dalamnya ada tumpukan benda yang membuatku berhenti bernapas.

Foto-fotoku.

Sebagian dicetak dari media sosial.

Foto ketika aku masuk SMA.

Foto ulang tahunku yang ketujuh belas.

Foto kelulusan.

Foto wisuda.

Dan di balik setiap foto ada tanggal serta catatan tulisan tangan.

“Hari ini Dina ulang tahun. Aku tidak berani menghubunginya.”

“Dia sudah masuk universitas.”

“Dia terlihat bahagia bersama Ratih. Aku seharusnya lega, tapi rasanya sakit.”

“Aku ingin datang saat wisuda, tapi aku tidak berhak berdiri di sana.”

Aku membalik foto terakhir.

Foto itu adalah foto pernikahan Ayah dan Bu Ratih.

Di belakangnya tertulis satu kalimat.

“Terima kasih sudah mencintai mereka ketika aku tidak mampu melakukannya.”

Tanganku bergetar.

Di bawah tumpukan foto ada sebuah buku tabungan lama.

Namaku tercetak di sampulnya.

Aku membukanya.

Ada sejumlah uang yang cukup besar.

Setoran pertama dilakukan sebelas tahun lalu.

Jauh sebelum Mira mengatakan bahwa dia mulai mencari kami.

Hampir setiap beberapa bulan ada uang yang ditabung.

Tidak terlalu besar di awal.

Lalu semakin banyak.

Di halaman terakhir terselip surat.

Aku membacanya sambil duduk di lantai.

“Dina, mungkin kamu akan berpikir uang ini adalah cara seorang ibu membeli pengampunan. Bukan. Tidak ada uang yang bisa membayar empat belas tahun kehilangan. Aku mulai menabung ketika menyadari bahwa suatu hari kamu mungkin kuliah, menikah, atau membangun hidupmu sendiri. Aku terlalu takut kembali, terlalu malu mengaku bahwa aku adalah ibu yang meninggalkan anaknya saat keadaan sulit. Jadi aku memilih menjadi pengecut dari kejauhan. Uang ini milikmu. Kalau kamu tidak mau menerimanya, sumbangkan. Jangan berikan kembali kepadaku.”

Aku membaca bagian terakhir berkali-kali.

“Dan satu hal yang belum pernah kukatakan kepada siapa pun. Ketika aku pergi malam itu, sebenarnya aku kembali ke rumah dua jam kemudian. Aku berdiri di depan pintu hampir satu jam. Aku mendengar kamu menangis memanggilku dari dalam. Aku hampir mengetuk. Tetapi rasa malu membuatku pergi untuk kedua kalinya. Seumur hidupku, keputusan itulah yang paling ingin kuhapus.”

Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.

Bu Ratih menemukanku sekitar setengah jam kemudian.

Dia tidak bertanya apa-apa.

Hanya duduk di sampingku.

Aku menyerahkan surat itu kepadanya.

Setelah membacanya, Bu Ratih menarik napas panjang.

“Menurut Ibu, aku harus memaafkan dia?”

Bu Ratih mengembalikan surat itu.

“Maaf itu bukan hadiah untuk orang yang menyakiti kita.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Kadang maaf adalah cara supaya kita sendiri berhenti membawa luka ke mana-mana.”

Aku terdiam.

“Tapi memaafkan juga tidak berarti kamu harus menganggap semuanya tidak pernah terjadi.”

Malam itu aku tidak tidur.

Dua hari kemudian, aku meminta nomor Mira dari Ayah.

Aku mengirim satu pesan.

“Aku belum bisa memanggilmu Ibu seperti dulu. Aku juga belum tahu apakah suatu hari nanti aku bisa. Tapi kalau Kamis kamu kontrol ke rumah sakit, aku bisa menemani.”

Balasan datang hampir lima menit kemudian.

Hanya dua kata.

“Terima kasih.”

Disusul pesan kedua.

“Dina.”

Dan untuk pertama kalinya setelah empat belas tahun, aku tidak merasa marah ketika melihat namanya muncul di layar.

Hubunganku dengan Mira tidak langsung menjadi indah.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada satu percakapan yang tiba-tiba menyembuhkan semuanya.

Kadang aku masih kesal melihat wajahnya.

Kadang pertanyaan lama muncul lagi.

Kadang dia menangis karena hal kecil, dan aku justru merasa canggung.

Tetapi kami mulai berbicara.

Sedikit demi sedikit.

Bu Ratih tetap menjadi orang yang kupanggil Ibu.

Tidak pernah berubah.

Dan anehnya, justru Bu Ratih yang paling sering mengingatkanku jadwal kontrol Mira.

Enam bulan kemudian, ketika kondisi kesehatan Mira sedikit membaik, kami makan malam bersama untuk pertama kalinya.

Aku, Ayah, Bu Ratih, dan Mira.

Situasinya aneh.

Canggung.

Namun tidak seburuk yang kubayangkan.

Di tengah makan, Mira tiba-tiba menatap Bu Ratih.

“Dulu aku datang ke rumah kalian karena ingin mengambil kembali hidup yang kutinggalkan.”

Bu Ratih tersenyum kecil.

“Sekarang?”

Mira menatapku.

“Sekarang aku cuma berharap diberi tempat kecil di kehidupan yang sudah mereka bangun tanpa aku.”

Aku menunduk, menyembunyikan senyum tipis.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku berpikir keluarga dibentuk oleh siapa yang tinggal dan siapa yang pergi.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Ada orang yang pergi dan kehilangan hak untuk kembali ke tempat semula.

Ada orang yang datang kemudian dan justru menjadi rumah.

Dan ada luka yang tidak pernah benar-benar hilang, tetapi bisa berhenti menentukan seluruh hidup kita.

Mira tidak pernah kembali menjadi istri Ayah.

Dia juga tidak pernah menggantikan Bu Ratih sebagai ibuku.

Namun beberapa waktu kemudian, tanpa sengaja, ketika mengantarnya pulang setelah kontrol rumah sakit, aku berkata,

“Hati-hati, Bu.”

Mira berhenti melangkah.

Dia menoleh kepadaku dengan mata berkaca-kaca.

Aku langsung salah tingkah.

“Bukan berarti semuanya selesai.”

Mira tersenyum sambil menangis.

“Aku tahu.”

Aku membuka pintu mobil.

“Dan jangan lebay.”

Dia tertawa kecil.

“Iya.”

Hari itu aku sadar bahwa memaafkan bukan berarti mengembalikan seseorang ke tempat yang dulu dia tinggalkan.

Kadang memaafkan hanya berarti membuka pintu yang berbeda.

Bukan pintu menuju masa lalu.

Melainkan pintu menuju hubungan baru, dengan batas yang baru, kepercayaan yang harus dibangun dari awal, dan kesadaran bahwa beberapa hal memang tidak perlu kembali seperti semula agar akhirnya bisa menjadi lebih baik.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang