SELAMA 11 TAHUN MENGETAHUI SUAMINYA BERSELINGKUH, SANG ISTRI MEMILIH DIAM. NAMUN SAAT SUAMINYA TERBARING LEMAH, SATU KALIMAT DARI MULUTNYA MEMBUAT WAJAH PRIA ITU SEKETIKA PUCAT…

Selama sebelas tahun, Dimas mengira diamnya Laras adalah bentuk kepasrahan.

Ia salah.

Malam itu, di kamar rumah sakit yang hanya diterangi lampu redup dari sisi ranjang, Dimas menatap istrinya dengan napas tertahan. Mesin monitor di samping tempat tidur berbunyi teratur, tetapi detak jantungnya terasa jauh lebih cepat daripada angka yang terlihat di layar.

Laras masih menggenggam tangannya.

Hangat.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Aku hanya ingin menepati satu hal yang sudah kupersiapkan sejak malam pertama aku tahu semuanya,” ucap Laras.

Bibir Dimas bergerak, tetapi tak ada suara yang keluar.

“Apa maksudmu?”

Laras berdiri perlahan. Ia mengambil tas kulit cokelat yang selama beberapa hari selalu dibawanya ke rumah sakit, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih tebal.

Amplop itu diletakkan di atas meja kecil di samping ranjang.

Dimas menatapnya.

“Apa itu?”

“Jawaban dari pertanyaanmu.”

“Kamu mau meninggalkanku?”

Laras tidak langsung menjawab.

Ia membuka tirai jendela sedikit. Dari lantai tujuh rumah sakit, lampu-lampu Surabaya terlihat seperti garis panjang yang tak pernah benar-benar tidur.

“Aku sebenarnya sudah meninggalkanmu sejak lama, Mas.”

Dimas mengerutkan kening.

“Apa?”

“Tubuhku memang masih tinggal di rumah yang sama. Aku masih memasak. Masih menemanimu ke acara keluarga. Masih tersenyum kalau ada kamera. Tapi bagian dari diriku yang dulu menjadi istrimu sudah pergi sebelas tahun lalu.”

Dimas memejamkan mata.

Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Laras berbalik.

“Karena waktu itu Alya baru tiga tahun. Nisa bahkan belum bisa berjalan.”

Nama kedua putri mereka membuat Dimas terdiam.

“Aku tidak tahu harus pergi ke mana sambil membawa dua anak kecil. Tabunganku hampir tidak ada. Rumah atas namamu. Usahamu baru berkembang. Aku juga tahu keluargamu akan menyuruhku bertahan demi anak-anak.”

Laras menarik kursi dan duduk kembali.

“Jadi aku membuat keputusan.”

“Keputusan apa?”

“Aku akan bertahan sampai aku bisa pergi tanpa menghancurkan hidup anak-anak.”

Dimas menatap amplop putih itu lagi.

Laras melanjutkan.

“Sejak malam aku melihatmu video call dengan perempuan itu, aku mulai menabung.”

Dimas terlihat terkejut.

“Setiap bulan?”

“Setiap bulan.”

“Berapa?”

Laras tersenyum tipis.

“Cukup untuk membeli sebuah rumah kecil tiga tahun lalu.”

Wajah Dimas berubah.

“Rumah?”

“Di Sidoarjo. Bukan rumah besar. Tapi cukup untuk aku dan anak-anak kalau suatu hari kami harus pindah.”

“Kamu membeli rumah tanpa bilang padaku?”

“Aku membelinya dengan uangku sendiri.”

Dimas membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa selama ini ia mungkin sama sekali tidak mengenal perempuan yang tidur di sampingnya setiap malam.

Laras bukan perempuan yang tak bisa pergi.

Laras hanya belum memilih waktunya.

“Aku juga membuka deposito pendidikan atas nama Alya dan Nisa,” lanjut Laras. “Aku memastikan kalau sesuatu terjadi, mereka tetap bisa sekolah tanpa bergantung pada siapa pun.”

“Jadi selama ini kamu memang berencana menceraikanku?”

Laras menggeleng.

“Awalnya iya.”

“Lalu?”

“Lalu aku berhenti membuat rencana berdasarkan hidupmu.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru menusuk Dimas lebih dalam.

“Aku mulai membuat hidupku sendiri,” kata Laras. “Aku mengambil sertifikasi. Aku pindah divisi. Aku belajar mengurus keuangan. Aku bahkan mulai punya penghasilan tambahan dari mengelola administrasi beberapa toko online.”

Dimas tercekat.

Ia sama sekali tidak mengetahui semua itu.

Selama bertahun-tahun ia mengira Laras hanyalah istri yang akan selalu berada di rumah menunggunya.

Ia tak pernah bertanya apa yang dipikirkan Laras.

Tak pernah bertanya apa yang diinginkan istrinya.

Ia hanya memastikan rumah tetap ada saat ia pulang.

Dan sekarang ia baru mengetahui bahwa selama ia sibuk mencari perhatian dari perempuan lain, Laras diam-diam membangun pintu keluar.

Dimas menunjuk amplop dengan tangan gemetar.

“Lalu itu apa?”

Laras mendorong amplop tersebut mendekat.

“Surat permohonan perceraian.”

Napas Dimas mendadak berat.

“Sekarang?”

“Aku sudah menyiapkannya enam bulan sebelum kamu sakit.”

Dimas menatap Laras seakan baru saja dipukul.

“Enam bulan?”

Laras mengangguk.

“Alya sudah kuliah. Nisa juga sudah cukup dewasa untuk memahami.”

Dimas tertawa pendek, tetapi terdengar seperti orang yang sedang kehilangan napas.

“Jadi kalau aku tidak sakit…”

“Mungkin tiga bulan lalu kita sudah resmi berpisah.”

“Lalu kenapa kamu tidak melakukannya?”

Laras menatap tubuh suaminya yang semakin kurus.

“Karena dokter mengatakan kondisimu serius.”

“Kasihan?”

“Bukan.”

Jawaban itu begitu cepat hingga Dimas langsung diam.

“Aku tidak ingin anak-anak mengingat masa terakhir ayahnya sebagai perang antara ayah dan ibunya.”

Dimas memalingkan wajah.

Laras melanjutkan dengan nada lebih lembut.

“Aku juga tidak ingin suatu hari mereka bertanya mengapa aku meninggalkanmu saat kamu sedang berada dalam kondisi seperti ini.”

“Jadi kamu bertahan demi mereka lagi?”

“Sebagian.”

Dimas menoleh.

“Sebagian?”

Laras menghela napas panjang.

“Dan sebagian lagi karena aku ingin memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa ketika semuanya selesai, aku pergi tanpa kebencian.”

Dimas tidak menjawab.

Untuk beberapa saat hanya terdengar bunyi pendingin ruangan.

Laras menunduk memandang jemarinya sendiri.

“Dulu aku sangat membencimu, Mas. Sampai pernah ada masa ketika aku berharap kamu merasakan sakit yang sama.”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Tapi lama-lama aku capek.”

Dimas menatapnya.

“Bukan capek mempertahankan pernikahan. Aku capek membawa kemarahan setiap hari.”

Laras mengusap matanya.

“Aku sadar kalau aku terus hidup untuk membalasmu, berarti hidupku masih tetap berputar mengelilingimu.”

Dimas menggigit bibir.

“Ras…”

“Aku ingin bebas.”

Kalimat itu membuat mata Dimas memerah.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Laras tersenyum kecil.

“Aku tahu.”

“Aku bodoh.”

“Kamu memang membuat banyak keputusan bodoh.”

“Aku kira…”

Dimas berhenti.

“Kamu kira apa?”

“Aku kira kamu tidak tahu.”

Laras tertawa pelan.

Bukan tawa mengejek.

Lebih seperti tawa seseorang yang akhirnya mendengar pengakuan yang selama bertahun-tahun ia tunggu.

“Aku tahu hampir semuanya.”

Dimas membeku.

“Semua?”

“Tidak semua. Tapi cukup.”

Laras mulai menyebut beberapa nama.

Maya.

Rika.

Santi.

Dan terakhir, perempuan yang sore tadi datang ke depan kamar.

Dimas menatapnya dengan wajah semakin pucat.

“Bagaimana kamu…”

“Tidak sulit mengetahui kebohongan kalau seseorang mengulang pola yang sama selama bertahun-tahun.”

Dimas memejamkan mata.

“Perempuan tadi namanya Dina.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu juga?”

“Dia pernah menelepon rumah enam tahun lalu. Begitu mendengar suaraku, dia langsung menutup telepon.”

Dimas menelan ludah.

“Kenapa kamu tidak pernah menghubunginya?”

“Untuk apa?”

“Marah. Memintanya pergi.”

Laras menatap suaminya tajam.

“Yang menikah denganku kamu, Mas. Bukan mereka.”

Dimas tak mampu membalas.

Itulah pertama kalinya Laras benar-benar mengucapkan sesuatu yang selama ini ia simpan.

“Perempuan bisa datang dan pergi. Tapi setiap kali kamu memilih berbohong, itu keputusanmu.”

Dimas menangis.

Bahu kurusnya bergetar.

“Aku menghancurkan semuanya.”

“Tidak semuanya.”

Dimas menatapnya.

“Kamu menghancurkan pernikahan kita. Tapi kamu tidak berhasil menghancurkan hidupku.”

Kalimat itu terasa seperti pukulan terakhir.

Namun justru di balik rasa sakitnya, Dimas tiba-tiba memahami sesuatu yang tak pernah ia pahami selama bertahun-tahun.

Laras tidak sedang menghukumnya.

Perempuan itu sudah melewati tahap itu.

Dimas hanyalah seseorang yang terlambat menyadari bahwa ia telah kehilangan tempat di hati istrinya.

Beberapa hari kemudian kondisi Dimas sempat membaik.

Ia diperbolehkan pulang selama tetap menjalani kontrol rutin.

Sejak kembali ke rumah, sikapnya berubah.

Ia tidak lagi memegang ponsel dengan gelisah.

Tidak lagi menyembunyikan pesan.

Tidak lagi mencari alasan.

Suatu malam ia meminta kedua putrinya duduk di ruang keluarga.

Alya yang sudah berusia dua puluh tahun duduk di samping ibunya. Nisa, yang masih kelas dua SMA, terlihat bingung.

Dimas menarik napas panjang.

“Ayah mau mengatakan sesuatu.”

Laras menatapnya.

Mereka tidak pernah merencanakan percakapan itu.

Namun Laras membiarkannya.

“Ayah selama bertahun-tahun melakukan banyak kesalahan kepada Ibu.”

Nisa mengerutkan kening.

“Kesalahan apa?”

Dimas menunduk.

“Ayah tidak setia.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Alya langsung menoleh kepada Laras.

“Ibu tahu?”

Laras mengangguk perlahan.

“Sudah lama.”

Mata Alya berkaca-kaca.

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

“Karena kalian masih kecil.”

Nisa mulai menangis.

“Ayah jahat.”

Dimas menunduk lebih dalam.

“Iya.”

Tidak ada pembelaan.

Tidak ada alasan.

Tidak ada cerita tentang kesepian, tekanan pekerjaan, atau rumah tangga yang terasa hambar.

Untuk pertama kalinya Dimas tidak mencoba menyelamatkan citranya.

“Ayah minta maaf.”

Nisa bangkit dan masuk ke kamar sambil menangis.

Alya tetap duduk.

Wajahnya penuh kekecewaan.

“Jadi selama ini foto keluarga kita bohong?”

Pertanyaan itu membuat Dimas kehilangan kata-kata.

Namun Laras menggenggam tangan putrinya.

“Tidak semuanya bohong.”

Alya menatap ibunya.

“Kasih sayang Ibu kepada kalian tidak pernah bohong.”

Dimas menutup wajah dengan kedua tangan.

Malam itu menjadi malam paling berat dalam hidup keluarga mereka.

Namun justru setelah rahasia itu terbuka, sesuatu yang aneh terjadi.

Rumah mereka untuk pertama kalinya terasa jujur.

Tidak ada lagi kepura-puraan.

Tidak ada lagi senyum yang harus dipasang.

Hari-hari berikutnya Dimas mencoba memperbaiki hubungannya dengan kedua putrinya.

Ia tidak meminta mereka langsung memaafkan.

Ia hanya berbicara.

Mendengarkan.

Dan menjawab setiap pertanyaan tanpa berbohong.

Kadang Nisa menolak duduk bersamanya.

Kadang Alya hanya menjawab seperlunya.

Namun Dimas menerima semuanya.

Dua bulan kemudian, penyakitnya kembali memburuk.

Kali ini dokter mengatakan kemungkinan pemulihannya sangat kecil.

Pada suatu dini hari, Laras menerima telepon dari rumah sakit.

Ia datang bersama Alya dan Nisa.

Dimas hampir tidak mampu membuka mata.

Ketika melihat keluarganya, ia tersenyum lemah.

Alya menggenggam tangan ayahnya.

Nisa berdiri sambil menangis.

Dimas memandang Laras.

“Amplop itu…”

Laras tahu apa yang dimaksudnya.

Surat perceraian.

“Masih ada.”

“Kamu akan tetap menggunakannya?”

Laras terdiam.

Dimas menarik napas pendek.

“Kalau aku pergi duluan, kamu tidak perlu menggunakannya.”

Ada sedikit senyum di wajahnya.

“Sekali lagi aku merepotkanmu.”

Laras menahan air mata.

Dimas menggerakkan jemarinya meminta tangan Laras.

Kali ini Laras memberikannya.

“Ras…”

“Iya.”

“Terima kasih sudah tidak membuat anak-anak membenciku sepenuhnya.”

Laras menggeleng.

“Itu tugasmu sendiri untuk memperbaikinya.”

Dimas tersenyum.

“Benar.”

Ia memejamkan mata beberapa detik.

“Aku dulu berpikir kalau kamu tidak pernah marah berarti kamu lemah.”

Laras tidak berkata apa-apa.

“Ternyata aku yang terlalu pengecut untuk menghadapi kebenaran.”

Air mata Laras akhirnya jatuh.

Dimas membuka mata sekali lagi.

“Aku mencintaimu.”

Laras menarik napas panjang.

Sebelas tahun lalu, mungkin kalimat itu bisa membuatnya bertahan.

Lima tahun lalu, mungkin kalimat itu akan membuatnya marah.

Namun sekarang kalimat itu hanya terdengar seperti pengakuan dari seseorang yang sudah terlalu terlambat memahami arti kehilangan.

Laras menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

“Aku pernah sangat mencintaimu, Mas.”

Dimas tersenyum tipis.

“Pernah saja sudah lebih dari cukup.”

Beberapa jam kemudian, Dimas meninggal dunia dengan kedua putrinya berada di dekatnya.

Tiga minggu setelah pemakaman, Laras membuka lemari kecil di kamar.

Ia mengambil amplop putih yang pernah membuat wajah Dimas pucat.

Surat perceraian itu masih tersimpan utuh.

Laras membawanya ke halaman belakang.

Alya yang sedang menyiram tanaman melihat ibunya.

“Ibu mau diapakan itu?”

Laras menatap amplop tersebut cukup lama.

Lalu ia merobeknya menjadi beberapa bagian.

Alya terkejut.

“Ibu tidak menyesal?”

Laras menggeleng.

“Tidak.”

“Karena Ayah sudah pergi?”

Laras menatap putrinya.

“Karena surat itu sebenarnya bukan tujuan Ibu.”

“Lalu?”

Laras tersenyum.

“Tujuan Ibu adalah memastikan bahwa suatu hari Ibu punya pilihan.”

Alya terdiam.

Laras menggenggam tangan putrinya.

“Jangan pernah bertahan hanya karena merasa tidak punya jalan keluar. Kalau kamu memilih bertahan, pastikan itu karena memang pilihanmu. Bukan karena kamu takut tidak bisa hidup sendiri.”

Alya memeluk ibunya.

Beberapa bulan kemudian, Laras pindah ke rumah kecil yang telah dibelinya tiga tahun sebelumnya.

Rumah itu tidak memiliki ruang keluarga sebesar rumah lama mereka.

Tidak ada tangga marmer.

Tidak ada halaman luas.

Namun untuk pertama kalinya setelah sebelas tahun, Laras bangun setiap pagi tanpa perlu bertanya-tanya apakah seseorang sedang berbohong kepadanya.

Di dinding ruang tamu terdapat satu foto keluarga.

Foto terakhir mereka berempat di rumah sakit.

Dalam foto itu Dimas terlihat kurus.

Nisa berdiri di sampingnya.

Alya memeluk Laras.

Tidak ada pakaian senada.

Tidak ada latar liburan.

Tidak ada senyum sempurna.

Namun Laras menyukai foto itu lebih daripada semua foto keluarga yang pernah mereka ambil sebelumnya.

Karena untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun di dalam foto tersebut yang sedang berpura-pura.

Dan ketika orang-orang kemudian bertanya bagaimana ia bisa bertahan selama sebelas tahun mengetahui suaminya berselingkuh, Laras tidak pernah mengatakan bahwa dirinya hebat.

Ia hanya menjawab satu hal.

“Aku bukan sedang menunggu dia berubah.”

Lalu Laras tersenyum.

“Aku sedang menunggu diriku cukup kuat untuk memilih hidupku sendiri.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang