AKU MENINGGALKAN ISTRIKU SETELAH TUJUH TAHUN MENJADI SUAMINYA. SELAMA HAMPIR SETAHUN, AKU YAKIN PERCERAIAN ITU ADALAH KEPUTUSAN PALING MASUK AKAL YANG PERNAH KUBUAT.

Namaku Ardi Saputra. Usia tiga puluh enam tahun.

Selama delapan bulan setelah perceraian, aku hidup dengan satu keyakinan yang terasa sangat masuk akal. Maya sudah berhenti mencintaiku jauh sebelum aku meminta berpisah.

Keyakinan itu yang membuatku mampu tidur malam hari tanpa terlalu banyak menyesali tujuh tahun pernikahan kami.

Sampai sore itu, di rumah Bu Ratna, pintu kamar belakang perlahan terbuka.

Aku berdiri terpaku.

Perempuan yang muncul dari balik pintu itu adalah Maya.

Tapi bukan Maya yang kuingat.

Tubuhnya jauh lebih kurus. Rambutnya dipotong pendek sampai sebatas telinga. Wajahnya pucat, tulang pipinya terlihat jelas, dan tangan kirinya berpegangan erat pada kusen pintu seolah berdiri saja membutuhkan seluruh tenaga yang tersisa.

Dia mengenakan kaus lengan panjang abu-abu dan celana rumah sederhana.

Matanya membesar ketika melihatku.

“Ardi?”

Hanya satu kata.

Namun rasanya seperti seseorang menghantam dadaku.

Aku tidak mampu menjawab.

Maya menatap ibunya.

“Ibu kenapa membiarkan dia masuk?”

“Aku tidak tahu Ardi akan datang.”

Maya memejamkan mata sebentar.

“Seharusnya Ibu suruh dia pulang.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya.

Delapan bulan lalu aku mungkin akan marah mendengarnya.

Sekarang aku hanya menatap tubuhnya yang begitu rapuh.

“Kamu sakit apa, May?”

Maya tidak menjawab.

Aku mengangkat lembar dokumen yang masih berada di tanganku.

“Ini apa?”

Wajah Maya langsung berubah.

Dia menatap ibunya lagi.

“Ibu kasih dia map itu?”

Bu Ratna menangis.

“Ibu capek, May.”

“Ibu janji.”

“Ibu tahu.” Bu Ratna mengusap air matanya. “Tapi sampai kapan? Kamu pikir Ibu sanggup melihat kalian berdua hidup dengan kebohongan seperti ini?”

Maya menggigit bibir.

Aku semakin tidak mengerti.

“Cukup.”

Suaraku terdengar lebih keras daripada yang kuinginkan.

“Maya, aku cuma mau tahu satu hal. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Dia menatapku cukup lama.

Lalu perlahan berjalan menuju sofa.

Setiap langkahnya tampak berat.

Refleks aku bergerak untuk membantunya, tetapi Maya mengangkat tangan.

“Jangan.”

Aku berhenti.

Dia duduk di sofa yang dulu sering kami gunakan ketika berkunjung ke rumah Bu Ratna.

Aku tetap berdiri.

“Baca saja,” katanya.

Aku melihat dokumen di tanganku.

Di bagian atas tertulis nama sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Ada namaku, nama Maya, beberapa hasil pemeriksaan laboratorium, dan formulir persetujuan tindakan medis.

Tapi satu istilah terus membuatku bingung.

Donor ginjal.

Aku membaca halaman itu lagi.

Lalu menatap Maya.

“Ini apa?”

Maya tersenyum tipis.

“Bukannya kamu sudah baca?”

“Kenapa ada namaku?”

Dia diam.

Bu Ratna akhirnya menjawab.

“Karena ginjal itu untukmu.”

Aku hampir tertawa karena merasa kalimat tersebut tidak masuk akal.

“Untuk saya?”

Bu Ratna mengangguk.

Aku menatap Maya.

“Aku nggak pernah sakit ginjal.”

“Kamu sakit,” jawab Maya pelan.

Aku menggeleng.

“Jangan bercanda.”

“Aku nggak bercanda.”

Maya menatapku.

“Dua tahun lalu, waktu kamu pingsan di lokasi proyek di Semarang, kamu pikir penyebabnya cuma kelelahan?”

Aku terdiam.

Aku masih mengingat kejadian itu.

Saat itu aku dibawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan ada kelainan pada fungsi ginjalku dan memintaku melakukan pemeriksaan lanjutan di Bandung.

Aku memang menjalani beberapa pemeriksaan setelah pulang.

Tapi karena hasil berikutnya terasa membaik dan aku tidak mengalami keluhan berarti, aku menganggap semuanya selesai.

“Dokter bilang kondisiku stabil.”

“Karena aku yang terus mengurus pemeriksaanmu.”

Aku mengerutkan kening.

Maya melanjutkan.

“Setelah kamu mulai kerja keluar kota lagi, dokter menghubungiku. Ada hasil pemeriksaan yang perlu dipantau. Fungsi ginjalmu turun lebih cepat daripada perkiraan.”

“Tapi kenapa nggak ada yang bilang ke aku?”

“Aku mau bilang.”

“Lalu?”

Maya menunduk.

“Waktu itu ayahmu baru meninggal.”

Aku membeku.

Ayahku meninggal karena serangan jantung enam minggu setelah kejadian di Semarang.

Aku memang sedang kacau saat itu.

Maya yang mengurus hampir semuanya.

Pemakaman, dokumen, ibuku, bahkan pekerjaanku.

“Aku pikir menunggu beberapa minggu nggak akan masalah,” katanya. “Tapi setelah itu hasil pemeriksaanmu membaik. Dokter bilang belum perlu transplantasi, tapi harus dipantau.”

“Lalu dokumen donor ini?”

Maya menarik napas.

“Beberapa bulan kemudian kondisimu memburuk lagi.”

Aku mencoba mengingat.

Saat itu aku memang sering lelah, tetapi menganggapnya akibat pekerjaan.

“Dokter mulai bicara kemungkinan transplantasi kalau pengobatan nggak berhasil.”

Aku memandang Maya tanpa berkedip.

“Dan kamu tes donor?”

Dia mengangguk.

“Hasilnya cocok.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.

Aku melihat tanggal di dokumen.

Tanggal itu sekitar tiga bulan sebelum perceraian.

“Tapi aku nggak pernah transplantasi.”

“Karena akhirnya kondisimu merespons pengobatan.”

“Jadi operasi ini batal?”

Maya tersenyum pahit.

“Operasi untukmu, iya.”

Aku tidak menyukai cara dia mengatakan kalimat itu.

“Apa maksudmu?”

Maya tidak menjawab.

Bu Ratna duduk perlahan.

“Maya ternyata punya masalah sendiri.”

Aku menoleh.

“Masalah apa?”

Maya langsung berkata, “Bu.”

Tapi Bu Ratna tidak berhenti.

“Ketika pemeriksaan donor dilakukan, dokter menemukan sesuatu.”

Aku merasa tengkukku dingin.

“Apa?”

“Tumor.”

Satu kata itu membuat seluruh ruangan terasa berhenti.

Aku menatap Maya.

Dia tidak menyangkal.

“Di mana?”

“Ginjal kanan,” jawabnya.

Aku duduk tanpa sadar.

Bu Ratna melanjutkan.

“Awalnya masih kecil. Dokter bilang harus segera ditangani.”

Aku mencoba memahami semuanya.

“Jadi kamu menjauh karena kamu sakit?”

Maya menggeleng.

“Bukan sesederhana itu.”

“Lalu apa?”

Dia menatapku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kemarahan di matanya.

“Karena waktu itu kamu baru kehilangan ayahmu. Ibumu masih bergantung padamu. Proyekmu sedang bermasalah. Kamu bahkan tidur cuma empat jam sehari. Lalu dokter bilang ada kemungkinan penyakit ginjalmu memburuk.”

“Itu bukan alasan untuk menyembunyikan kanker dariku.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kamu nggak tahu!”

Suaraku meninggi.

“May, aku suamimu!”

“Justru karena kamu suamiku!”

Maya membalas dengan suara bergetar.

Air matanya akhirnya jatuh.

“Aku tahu kamu, Ardi. Kalau aku bilang aku sakit, kamu akan berhenti kerja. Kamu akan meninggalkan proyek. Kamu akan menjual apa pun yang kita punya. Kamu akan duduk di rumah sakit setiap hari sambil berpura-pura kuat.”

“Memangnya kenapa?”

“Karena waktu itu kamu sendiri belum tahu apakah ginjalmu akan bertahan!”

Aku terdiam.

Maya menutup wajahnya beberapa detik.

“Aku takut kita berdua jatuh bersamaan.”

Bu Ratna menangis di sudut ruangan.

Aku kembali melihat dokumen.

“Lalu kenapa kamu setuju bercerai?”

Maya tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar hancur.

“Karena aku bodoh.”

“Jangan jawab begitu.”

“Lalu kamu mau jawaban apa?”

“Kebenaran.”

Dia menatapku.

“Aku menjalani operasi tiga hari setelah perceraian kita.”

Aku langsung teringat gelang rumah sakit.

Tanggalnya memang tiga hari setelah keputusan pengadilan.

“Ginjal kananmu diangkat?”

Maya mengangguk.

“Dokter bilang tumornya masih terlokalisasi. Mereka optimistis.”

“Lalu kenapa sekarang kamu…”

Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimat.

Maya menyelesaikannya untukku.

“Karena enam bulan kemudian ditemukan penyebaran.”

Aku menunduk.

Tanganku gemetar.

Selama delapan bulan aku mengira Maya sedang menikmati kehidupan barunya.

Aku bahkan pernah membayangkan dia bersama lelaki lain.

Pernah membencinya karena tidak menghubungiku.

Pernah berkata kepada seorang teman bahwa Maya mungkin memang tidak pernah mencintaiku sebesar aku mencintainya.

Sementara perempuan itu menjalani operasi tiga hari setelah perceraian kami.

Sendirian.

“Kenapa?” tanyaku.

Suara itu nyaris tidak keluar.

“Kenapa kamu harus menceraikanku dulu?”

Maya lama tidak menjawab.

Kemudian dia bangkit, berjalan perlahan menuju lemari kecil, dan mengambil tas cokelat yang sangat kukenal.

Tas yang dibawanya keluar dari rumah kami pada hari terakhir.

Dia membuka resletingnya.

Dari dalam, Maya mengeluarkan beberapa dokumen.

Salah satunya polis asuransi.

Yang lain surat kepemilikan rumah.

Aku membaca namaku.

“Apa ini?”

“Rumah kita masih atas nama bersama waktu itu.”

“Aku tahu.”

“Kalau aku meninggal saat masih menjadi istrimu, ada beberapa kewajiban dan utang pengobatan yang bisa menjadi jauh lebih rumit. Aku sudah konsultasi. Aku ingin memisahkan semuanya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu merencanakan perceraian untuk melindungi hartaku?”

“Bukan hartamu.”

“Lalu?”

“Ibumu.”

Aku terdiam.

Maya tahu ibuku tidak memiliki penghasilan tetap.

Setelah ayah meninggal, sebagian besar kebutuhannya memang kutanggung.

“Aku nggak tahu berapa lama pengobatanku. Aku nggak tahu berapa besar biayanya. Aku nggak mau kalau akhirnya semua yang kamu punya habis untukku.”

Aku berdiri.

“Dan kamu pikir aku akan peduli?”

“Aku tahu kamu nggak akan peduli.”

“Itulah masalahnya.”

Maya tersenyum sambil menangis.

“Aku tahu kamu akan memberikan semuanya.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.

Aku teringat malam ketika meminta cerai.

Wajah Maya yang tenang.

Tatapan kosongnya pada gelas teh.

Kalimatnya.

Kalau itu membuat hidupmu lebih ringan, aku setuju.

Sekarang aku akhirnya memahami arti sebenarnya.

Dia tidak sedang melepaskanku karena tidak mencintaiku.

Dia sedang memastikan aku bisa pergi tanpa merasa bersalah.

“Jadi selama berbulan-bulan kamu sengaja membuatku berpikir kamu nggak peduli?”

Maya mengangguk pelan.

“Awalnya aku cuma ingin menjauh sedikit. Aku pikir setelah operasi aku akan sembuh dan semuanya bisa diperbaiki.”

“Lalu aku meminta cerai.”

Dia tersenyum pahit.

“Iya.”

“Dan kamu menerimanya.”

“Aku baru mendapat hasil biopsi waktu itu.”

Aku memejamkan mata.

“May…”

“Aku takut.”

Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya terdengar seperti Maya yang kukenal.

Bukan perempuan kuat yang mencoba mengendalikan semuanya.

Hanya seorang perempuan yang ketakutan.

“Aku takut kalau aku bilang jangan pergi, kamu akan tinggal. Aku takut kalau kamu tahu aku sakit, kamu akan menghabiskan hidupmu menunggu di depan kamar rumah sakit. Aku takut kalau aku mati, hal terakhir yang kamu ingat tentang pernikahan kita cuma penyakit.”

Aku duduk di sampingnya.

Kali ini ketika kugenggam tangannya, dia tidak menolak.

Tangannya dingin.

“Bodoh,” kataku.

Maya tertawa kecil di sela tangis.

“Iya.”

“Kamu benar-benar bodoh.”

“Aku tahu.”

“Dan aku lebih bodoh.”

Kami terdiam lama.

Hujan masih terdengar di luar.

Aku tidak tahu berapa lama kami duduk seperti itu.

Sampai akhirnya aku bertanya sesuatu yang paling kutakuti.

“Berapa lama?”

Maya langsung tahu maksudku.

“Dokter nggak mau kasih angka pasti.”

“May.”

Dia menarik napas.

“Pengobatan terakhir nggak memberi respons seperti yang diharapkan.”

Dadaku seperti diremas.

“Besok kamu kontrol?”

Dia mengangguk.

“Aku ikut.”

“Nggak perlu.”

“Aku nggak minta izin.”

Maya menatapku.

“Aku bukan istrimu lagi.”

“Benar.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Tapi tujuh tahun kamu membuat keputusan sendirian atas nama melindungiku. Sekarang biarkan aku membuat satu keputusan untuk diriku sendiri.”

Maya menangis lagi.

Besoknya aku mengantarnya ke rumah sakit.

Kemudian minggu berikutnya.

Dan minggu setelahnya.

Aku tidak meminta Maya menikah lagi denganku.

Tidak ada adegan dramatis seperti dalam film.

Aku hanya hadir.

Mengantarnya.

Membawakan makanan yang kadang tidak disentuh.

Menemaninya saat muntah setelah terapi.

Memperbaiki atap rumah Bu Ratna yang bocor.

Sesekali kami bertengkar seperti dulu.

Anehnya, justru dalam masa paling buruk itu aku merasa kami akhirnya berhenti menyembunyikan apa pun.

Tiga bulan kemudian, dokter mengatakan ada respons positif.

Tidak cukup untuk menyebutnya sembuh.

Tapi cukup untuk memberi harapan.

Hari itu Maya menangis di parkiran rumah sakit.

Aku memeluknya.

“Ardi.”

“Hm?”

“Kalau nanti aku sembuh…”

Aku menunggu.

“Kamu mau mulai lagi?”

Aku menatapnya.

Kemudian menggeleng.

Wajahnya berubah.

Tapi aku tersenyum.

“Aku nggak mau mulai lagi.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak mau mengulang pernikahan lama kita.”

Aku mengambil sebuah kotak kecil dari saku.

Maya langsung menutup mulut.

“Aku mau bikin yang baru. Kali ini tanpa rahasia, tanpa sok kuat, dan kalau ada masalah, kita ribut saja sekalian.”

Dia tertawa sambil menangis.

Namun sebelum aku membuka kotak itu, Maya menahan tanganku.

“Ada satu rahasia lagi.”

Aku langsung membeku.

“Jangan bilang ada penyakit lain.”

“Bukan.”

Maya menatap Bu Ratna yang berdiri beberapa meter dari kami.

Ibunya tersenyum.

Kemudian Maya mengeluarkan ponsel lama dari tasnya dan membuka sebuah rekaman suara.

Suara seorang dokter terdengar.

Rekaman itu dibuat hampir dua tahun lalu.

Dokter menjelaskan hasil pemeriksaanku.

Aku mendengarkan sampai akhir.

Lalu menatap Maya.

Ternyata ada bagian lain yang tidak pernah kuketahui.

Kondisi ginjalku saat itu memang sempat mengkhawatirkan, tetapi dokter tidak pernah mengatakan transplantasi pasti diperlukan.

Maya mendaftarkan dirinya sebagai calon donor jauh sebelum dokter meminta.

“Kenapa?”

Dia menatapku dengan mata basah.

“Karena aku takut suatu hari kamu membutuhkannya dan aku terlambat.”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

Selama ini aku mengira kisah kami adalah tentang seorang istri yang mengorbankan dirinya demi suaminya.

Ternyata bukan.

Maya tidak pernah benar-benar menyelamatkan ginjalku.

Tidak ada operasi donor.

Tidak ada pengorbanan heroik seperti yang mungkin dibayangkan orang.

Yang dia lakukan jauh lebih sederhana dan, bagiku, jauh lebih menyakitkan.

Dia diam-diam bersiap memberikan sebagian tubuhnya kepadaku bahkan sebelum aku membutuhkannya.

Dan ketika pemeriksaan itu justru menemukan penyakit di tubuhnya sendiri, dia memilih menanggung ketakutan tersebut sendirian karena mengira itulah bentuk cinta yang paling aman.

Hari itu aku tidak langsung memasangkan cincin ke jarinya.

Aku hanya memeluknya.

Karena akhirnya kami memahami sesuatu yang gagal kami pahami selama tujuh tahun menjadi suami istri.

Cinta bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.

Bukan pula tentang siapa yang paling kuat menanggung semuanya sendirian.

Kadang-kadang, mencintai seseorang justru berarti memberinya hak untuk mengetahui bahwa kita sedang takut.

Enam bulan kemudian, ketika kondisi Maya cukup stabil, kami menikah lagi.

Sederhana.

Hanya keluarga dan beberapa sahabat.

Bu Ratna menangis paling keras.

Saat penghulu selesai dan semua orang mengucapkan selamat, Maya berbisik di telingaku.

“Kali ini kalau aku bilang nggak apa-apa, jangan percaya.”

Aku tertawa.

“Kalau aku bilang mau cerai?”

Maya mencubit lenganku.

“Coba saja.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat perempuan yang dulu kukenal benar-benar kembali.

Bukan karena penyakitnya telah hilang sepenuhnya.

Bukan karena kami tahu bagaimana cerita ini akan berakhir.

Kami tetap tidak tahu.

Tapi sekarang, apa pun yang menunggu di depan, kami akan mengetahuinya bersama.

Dan mungkin itulah hal yang seharusnya kupahami sejak awal.

Delapan bulan setelah perceraian, aku datang ke rumah mantan mertuaku dengan membawa sekotak martabak dan keyakinan bahwa pernikahanku telah berakhir karena cinta kami habis.

Aku pulang malam itu dengan kenyataan yang sama sekali berbeda.

Cinta kami tidak pernah habis.

Kami hanya pernah terlalu takut untuk mengatakan bahwa kami masih membutuhkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang