SEJAK AKU PULANG DARI RUMAH SAKIT, KUCINGKU SELALU MENGHALANGI SATU ORANG MASUK KE KAMARKU—PADAHAL DULU, IA SELALU MENYAMBUT ORANG ITU DENGAN MANJA.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di balik pintu itu.

Mungkin hanya beberapa detik.

Namun rasanya seperti seluruh tubuhku berhenti bekerja.

Tante Mira masih berdiri di lorong dengan gelas di tangan kanan. Tangan kirinya sudah disembunyikan di belakang punggung, tetapi aku tahu apa yang baru saja kulihat.

Kemasan kecil itu.

Bentuknya sama.

Warnanya sama.

Bahkan ada garis perak di tepinya yang persis seperti bungkus yang kini kusimpan di laci.

“Naila?”

Tante Mira tersenyum.

Senyum yang biasanya membuatku merasa tenang.

Pagi itu, entah kenapa, senyum itu justru terasa asing.

“Kamu kenapa lihat Tante seperti itu?”

Aku memaksa sudut bibirku terangkat.

“Enggak apa-apa. Aku masih agak pusing.”

“Oh.”

Tatapannya bergerak melewati bahuku, mencoba melihat ke dalam kamar.

“Buburnya sudah dimakan?”

“Belum.”

Untuk pertama kalinya sejak ia datang membantu, wajah Tante Mira berubah.

Hanya sesaat.

Sangat singkat.

Namun aku melihatnya.

“Kenapa belum?”

“Aku belum lapar.”

Ia tertawa kecil, tetapi terdengar dipaksakan.

“Kamu harus makan. Kamu masih menyusui. Jangan sampai sakit.”

Kemudian ia mengangkat gelas yang dibawanya.

“Ini Tante buatkan minuman hangat. Biar badanmu enakan.”

Moka mendesis lagi.

Lebih keras.

Tante Mira melirik ke bawah dengan ekspresi kesal.

“Kucing ini makin lama makin kurang ajar.”

Moka justru maju satu langkah.

Aku segera menutup pintu sedikit lebih rapat.

“Taruh saja di meja luar, Tante. Nanti aku ambil.”

“Apa susahnya Tante masuk sebentar?”

“Bayinya baru tidur.”

Alasan itu keluar begitu saja.

Untungnya, Tante Mira tidak memaksa lagi.

Ia meletakkan gelas di meja kecil dekat lorong.

“Ya sudah. Jangan lupa diminum.”

Sebelum pergi, ia menatapku beberapa detik.

Tatapan itu membuat perutku terasa mual.

Bukan karena aku tahu ia pasti melakukan sesuatu.

Justru karena aku belum tahu apa pun.

Dan ketidaktahuan itu jauh lebih menakutkan.

Begitu langkahnya menjauh, aku langsung mengunci pintu lagi.

Aku meletakkan bayiku di ranjang, lalu mengambil ponsel.

Temanku akhirnya membalas.

Namanya Siska.

Kami satu SMA dulu. Setelah lulus, ia kuliah farmasi dan sekarang bekerja di sebuah apotek besar di Jakarta Selatan.

Pesannya membuat tengkukku dingin.

“Nai, bungkus itu kelihatannya kemasan obat penenang yang cukup kuat. Aku enggak mau memastikan cuma dari foto karena bagian nama obatnya sobek. Tapi kalau benar obat yang aku pikirkan, itu bukan obat yang seharusnya diminum sembarangan, apalagi kalau kamu sedang menyusui.”

Tanganku gemetar.

Aku mengetik cepat.

“Efeknya apa?”

Balasan datang hampir seketika.

“Mengantuk berat, lemas, koordinasi menurun. Tergantung dosis. Kalau dicampurkan berkali-kali tanpa kamu tahu, itu berbahaya. Tolong jangan konsumsi makanan dari orang lain dulu. Simpan bungkusnya. Kalau ada makanan atau minuman mencurigakan, jangan dibuang.”

Aku membaca pesan itu berulang kali.

Mengantuk berat.

Lemas.

Kepala seperti berkabut.

Semua persis dengan yang kurasakan selama dua minggu terakhir.

Aku menoleh pada semangkuk bubur.

Tiba-tiba aku merasa ingin muntah.

Aku menuangkan sedikit bubur ke wadah steril bekas penyimpanan ASI, lalu menutupnya rapat. Minuman yang diletakkan Tante Mira di luar juga kuambil setelah memastikan lorong kosong.

Aku menyimpan keduanya di lemari pendingin kecil di kamar.

Setelah itu, aku menelepon Reza.

Ia tidak mengangkat.

Aku mencoba lagi.

Tetap tidak.

Mungkin sedang rapat.

Aku hampir mengirim pesan panjang, tetapi kemudian berhenti.

Sesuatu dalam diriku mengatakan jangan.

Aku belum tahu seberapa jauh masalah ini.

Aku bahkan belum tahu mengapa Tante Mira harus memberiku obat penenang.

Apa tujuannya?

Mencelakaiku?

Membuatku tidur?

Untuk apa?

Bayiku tiba-tiba bergerak pelan di atas ranjang.

Aku menatap wajah kecilnya.

Dan sebuah pikiran membuat jantungku seperti dipukul dari dalam.

Jika selama ini aku dibuat tidur, siapa yang menjaga anakku saat aku tidak sadar?

Aku memandang Moka.

Kucing itu sedang duduk di dekat pintu, menatap ke arah lorong.

“Moka,” bisikku.

“Selama aku tidur, apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini?”

Hari itu aku pura-pura seperti tidak terjadi apa-apa.

Ketika Tante Mira bertanya apakah buburnya sudah kuhabiskan, aku menjawab iya.

Aku bahkan membawa mangkuk kosong keluar setelah membuang isinya ke kantong plastik dan menyembunyikannya di dasar tempat sampah kamar mandi.

Wajah Tante Mira langsung kembali cerah.

“Bagus. Kamu harus banyak makan.”

Aku mengangguk.

Di dalam dadaku, ketakutanku berubah perlahan menjadi kewaspadaan.

Sore harinya Reza akhirnya pulang.

Aku ingin langsung menariknya ke kamar.

Namun Tante Mira masih ada di ruang keluarga.

Ia sedang menggendong bayiku.

“Anak pintar,” katanya sambil mengayun-ayunkan tubuh kecil itu. “Kalau sama Tante Mira anteng, ya?”

Aku berdiri di ambang pintu.

Moka berada di samping kakiku.

Untuk pertama kalinya aku sadar sesuatu.

Moka tidak menggeram saat Tante Mira menggendong bayiku.

Ia hanya bereaksi setiap kali Tante Mira membawa makanan atau minuman menuju kamarku.

Berarti Moka bukan takut pada Tante Mira.

Ia takut pada sesuatu yang dibawanya.

Reza mencium keningku.

“Kamu pucat banget.”

“Aku mau ngomong nanti.”

“Mau ngomong apa?”

Aku melirik Tante Mira.

“Kita bicara di kamar.”

Tante Mira menoleh.

Aku melihat ketegangan kecil muncul di wajahnya.

Namun sebelum kami sempat masuk kamar, ponsel Reza berdering.

Ia mengangkatnya.

Wajahnya berubah.

“Apa? Sekarang?”

Ia berjalan menjauh sambil berbicara.

Beberapa menit kemudian ia kembali dengan ekspresi kesal.

“Aku harus ke kantor lagi. Ada masalah server dan data klien.”

“Sekarang?”

“Iya. Maaf banget.”

Aku menggenggam lengannya.

“Reza, aku perlu ngomong sesuatu yang penting.”

Ia menatapku.

“Malam ini aku usahakan cepat pulang.”

“Kamu enggak bisa tinggal sebentar?”

Tante Mira tiba-tiba menyela.

“Sudah, Za. Pergi saja. Naila ada Tante.”

Kalimat itu membuatku membeku.

Reza tersenyum padaku.

“Kamu aman sama Mira.”

Aku ingin mengatakan tidak.

Aku tidak aman.

Namun entah kenapa, kata-kata itu tidak keluar.

Mungkin karena aku belum punya bukti.

Mungkin karena aku takut terdengar seperti perempuan yang kelelahan setelah melahirkan dan mulai mencurigai orang tanpa alasan.

Reza pergi.

Malam turun lebih cepat dari yang kuinginkan.

Sekitar pukul delapan, Tante Mira mengetuk pintuku lagi.

Ia membawa teh.

“Aku enggak mau,” kataku.

“Kamu belum minum apa-apa sejak sore.”

“Aku sudah minum air putih.”

“Ini teh khusus. Bisa bikin kamu tidur lebih nyenyak.”

Kalimat itu terdengar seperti ancaman.

Aku tetap tersenyum.

“Taruh saja.”

Tante Mira tidak bergerak.

“Naila.”

“Iya?”

“Kamu akhir-akhir ini kenapa?”

Aku menahan napas.

“Maksud Tante?”

“Kamu seperti menghindari Tante.”

“Enggak.”

“Benarkah?”

Matanya menatapku lekat.

Kemudian pandangannya bergerak ke arah laci di samping ranjang.

Aku mengikuti arah tatapannya.

Jantungku langsung berdegup kencang.

Di dalam laci itulah kusimpan bungkus obat.

Apakah ia tahu?

Tante Mira tersenyum lagi.

“Tante cuma takut kamu terlalu capek.”

Ia meninggalkan teh di meja.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku pura-pura tidur.

Lampu kamar kupadamkan. Bayiku kubaringkan di dekatku. Ponsel kusetel merekam video dan kusembunyikan di rak buku menghadap pintu.

Moka berbaring di lantai.

Sekitar pukul sebelas malam, terdengar pintu kamar dibuka perlahan.

Aku menahan napas.

Aku sengaja tidak mengunci pintu.

Langkah kaki masuk.

Seseorang berdiri beberapa meter dari ranjang.

Aku bisa mencium aroma parfum Tante Mira.

Ia menunggu.

Mungkin memastikan aku benar-benar tidur.

Kemudian ia berjalan menuju ranjang bayi.

Seluruh tubuhku menegang.

Aku hampir bangun.

Namun yang ia lakukan justru membuatku lebih bingung.

Tante Mira tidak menyentuh bayiku.

Ia berjongkok.

Tangannya masuk ke bawah tempat tidur.

Aku mendengar suara benda bergeser.

Kemudian ia berdiri lagi.

Sebelum keluar, ia menatapku lama.

Setelah pintu tertutup, aku menunggu hampir satu menit.

Lalu aku bangun.

Tanganku gemetar saat menyalakan lampu.

Moka sudah berada di bawah ranjang.

Ia mengendus-ngendus lantai.

Aku berjongkok.

Ada sebuah kotak plastik kecil di bagian paling belakang.

Aku menariknya keluar.

Kotak itu bukan milikku.

Di dalamnya terdapat beberapa strip obat.

Sarung tangan sekali pakai.

Sebuah kartu memori.

Dan satu kunci kecil dengan label tulisan tangan.

“Ruang kerja Reza.”

Napasku tertahan.

Mengapa Tante Mira menyembunyikan kunci ruang kerja suamiku di bawah tempat tidurku?

Aku mengambil kartu memori.

Laptopku ada di meja.

Tanganku hampir tidak bisa memasukkannya ke adaptor.

Isi kartu itu hanya satu folder.

Namanya tanggal.

Tanggal tiga hari sebelum aku melahirkan.

Aku membukanya.

Ada puluhan foto.

Semua diambil dari ruang kerja Reza.

Foto dokumen.

Rekening bank.

Kontrak perusahaan.

Percakapan WhatsApp yang difoto dari layar laptop.

Kemudian aku menemukan satu video.

Aku menekannya.

Video itu direkam diam-diam.

Reza sedang berbicara dengan seorang pria yang tidak kukenal.

Mereka membahas uang.

Jumlahnya besar.

Sangat besar.

Namun bukan itu yang membuatku kehilangan napas.

Di akhir video, pria tersebut berkata,

“Kalau audit ini masuk bulan depan, nama Mira juga akan ikut terseret. Transfer ke rekening dia jelas.”

Reza menjawab,

“Makanya aku berusaha memperbaiki semuanya sebelum terlambat.”

Aku menatap layar.

Jadi ini bukan tentang aku.

Atau setidaknya, awalnya bukan.

Aku mulai memahami.

Tante Mira sedang mencari sesuatu di rumah kami.

Dan ia membuatku tidur agar bisa masuk ke ruang kerja Reza tanpa diketahui.

Moka menemukan bungkus obat yang mungkin jatuh saat Tante Mira menyembunyikan barang di bawah ranjang.

Ponselku bergetar.

Reza menelepon.

Aku langsung mengangkat.

“Kamu di mana?”

“Di jalan pulang.”

“Reza, jangan masuk rumah sendirian.”

“Hah?”

“Ada sesuatu tentang Mira.”

Hening.

Lalu suara Reza berubah.

“Kamu tahu apa?”

Pertanyaan itu membuatku diam.

Bukan “Mira kenapa?”

Bukan “Apa yang terjadi?”

Tetapi “Kamu tahu apa?”

“Reza,” bisikku, “kamu sudah tahu?”

Ia tidak menjawab.

Dan dalam keheningan itu, aku mendapatkan jawaban yang lebih buruk daripada apa pun.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Tante Mira berdiri di sana.

Wajahnya tidak lagi tersenyum.

Matanya langsung tertuju pada kartu memori di tanganku.

“Naila.”

Aku berdiri.

“Jangan mendekat.”

Tante Mira menutup pintu.

“Kamu enggak ngerti.”

“Obat itu dari Tante?”

Ia tidak menjawab.

“Apa Tante mencampurkannya ke makananku?”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku enggak pernah berniat menyakitimu.”

“Jadi benar?”

“Aku cuma butuh kamu tidur.”

Aku merasa muak.

“Aku baru melahirkan. Aku menyusui. Tante tahu itu.”

“Aku tahu.”

“Lalu Tante tetap melakukannya?”

Suaraku pecah.

Untuk pertama kalinya, Tante Mira terlihat benar-benar kehilangan ketenangan.

“Aku terdesak.”

“Karena uang?”

Ia terdiam.

Aku mengangkat kartu memori.

“Karena transfer ilegal itu?”

Wajahnya memucat.

Namun kemudian ia tertawa pendek.

“Jadi Reza belum cerita semuanya.”

“Apa maksudnya?”

“Naila, menurut kamu uang itu untuk siapa?”

Aku membeku.

“Transfer atas namaku memang ada,” katanya. “Tapi aku cuma dipakai.”

“Dipakai siapa?”

Tante Mira menatap layar ponselku yang masih tersambung dengan Reza.

“Suamimu.”

Dunia seakan miring.

Dari ponsel terdengar suara Reza.

“Mira, cukup.”

Tante Mira tersenyum pahit.

“Nah. Akhirnya.”

“Diam.”

“Kenapa? Takut istrimu tahu?”

Aku memegang ponsel lebih erat.

“Reza. Jelaskan.”

Beberapa detik tidak ada suara.

Kemudian Reza berkata,

“Aku pulang sebentar lagi.”

“Jelaskan sekarang.”

Tante Mira mengambil beberapa lembar kertas dari sakunya.

“Aku datang ke sini bukan untuk mencuri uang.”

Ia meletakkannya di meja.

“Aku mencari bukti bahwa Reza menggunakan data dan rekeningku untuk transaksi perusahaan.”

Aku menatap kertas itu.

Ada fotokopi laporan transfer.

Nama Mira memang tercantum.

Namun beberapa tanda tangan di bawahnya berbeda.

“Aku tahu setelah bank menelepon,” lanjutnya. “Aku panik. Aku datang ke Reza. Dia bilang akan membereskan semuanya.”

“Terus kenapa Tante membius aku?”

Mira menunduk.

“Itu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan.”

“Aku tanya kenapa.”

“Karena Reza selalu menyimpan laptop dan dokumennya di ruang kerja. Setiap kali aku mencoba masuk, kamu bangun. Kamu sering keluar kamar. Kadang kamu melihat aku.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi Tante mempertaruhkan kesehatanku hanya supaya bisa mencari dokumen?”

Air mata mulai mengalir di wajahnya.

“Aku bodoh. Aku takut masuk penjara karena sesuatu yang tidak kulakukan.”

Aku ingin marah.

Dan aku memang marah.

Tetapi sebuah pertanyaan lain muncul.

“Dari mana Tante dapat obat itu?”

Mira tidak menjawab.

Aku menatapnya.

“Dari mana?”

Suara Reza terdengar dari ponsel.

“Mira, jangan.”

Mira mengangkat wajah.

Dan saat itu aku tahu jawaban berikutnya akan menghancurkan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.

“Dari Reza.”

Aku berhenti bernapas.

“Bohong.”

“Dia yang pertama kali memberikannya.”

“Bohong.”

“Dia bilang dosis kecil aman. Katanya supaya kamu bisa istirahat sementara aku mencari dokumen.”

Aku menatap ponsel.

“Reza?”

Tidak ada jawaban.

“REZA?”

Akhirnya ia berkata pelan,

“Aku cuma ingin menyelesaikan masalah ini.”

Kakiku terasa lemas.

Semua potongan kejadian tiba-tiba menyatu dengan cara yang paling mengerikan.

Suamiku tahu.

Suamiku bukan sekadar tahu.

Ia ikut merencanakannya.

Ia membiarkanku mengira kelelahan itu berasal dari persalinan.

Ia melihatku berjalan sempoyongan.

Ia melihatku kesulitan bangun.

Ia bahkan menertawakan Moka saat kucing itu mencoba menghalangi makanan masuk ke kamarku.

“Kenapa?” tanyaku.

Suaraku hampir tidak terdengar.

Reza tidak menjawab.

Mira menjawab untuknya.

“Karena kalau aku tertangkap, transaksi perusahaan Reza juga terbongkar.”

Aku menatap perempuan di depanku.

“Aku tidak membenarkan apa yang kulakukan,” katanya sambil menangis. “Aku akan bertanggung jawab. Tapi Naila, kamu harus keluar dari rumah ini.”

Pada saat yang sama, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.

Reza pulang.

Mira langsung menoleh ke jendela.

“Dia sudah datang.”

Aku menggendong bayiku.

Tanganku gemetar hebat.

Moka berjalan di samping kakiku.

Kami tidak menunggu Reza masuk.

Mira membuka pintu belakang.

Aku keluar lewat dapur, menyeberang ke rumah tetangga yang selama ini hanya kukenal sebatas saling menyapa.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menelepon polisi.

Pemeriksaan berlangsung berbulan-bulan.

Sampel makanan yang kusimpan mengandung zat yang sesuai dengan obat dari bungkus yang ditemukan Moka.

Rekaman kamera ponsel menunjukkan Mira masuk ke kamar dan menyembunyikan barang.

Rekaman lain dari ruang kerja membuktikan bahwa Reza terlibat dalam transaksi perusahaan yang menggunakan identitas kakaknya.

Mira mengakui seluruh perbuatannya.

Ia mengakui telah mencampurkan obat ke makanan dan minumanku beberapa kali.

Namun ia juga menyerahkan pesan-pesan dari Reza.

Salah satunya berbunyi,

“Kasih sedikit saja. Kalau Naila tidur, kamu bisa cari dokumennya. Jangan sampai dia tahu urusan ini.”

Aku membaca pesan itu hanya sekali.

Setelah itu aku tidak pernah ingin melihatnya lagi.

Beberapa bulan kemudian, aku meninggalkan rumah tersebut.

Bukan hanya karena proses hukum.

Tetapi karena ada hal-hal yang ketika sudah rusak, tidak bisa dikembalikan hanya dengan kata maaf.

Reza berkali-kali memohon bertemu.

Aku menolak.

Mira juga pernah mengirim surat.

Ia meminta maaf.

Aku tidak membencinya sebesar dulu, tetapi aku juga tidak bisa memaafkan dengan cepat.

Ketakutan tidak menghapus tanggung jawab.

Keputusasaan tidak membuat tindakan berbahaya menjadi benar.

Yang paling sering kupikirkan justru Moka.

Dokter hewan pernah menjelaskan bahwa kucing memiliki penciuman yang sangat sensitif. Mungkin Moka mencium aroma obat, perubahan bau pada makanan, atau sesuatu yang berbeda dari nampan yang dibawa Mira.

Aku tidak tahu pasti.

Yang kutahu hanya satu.

Saat semua orang mengatakan Moka cemburu, nakal, dan terlalu protektif, ia terus melakukan satu hal yang sama.

Menghalangi makanan itu mendekatiku.

Beberapa minggu setelah aku pindah ke rumah orang tuaku, aku sedang duduk di ruang tamu sambil menggendong putraku.

Moka tidur di dekat kaki.

Ibuku datang membawa semangkuk sup.

Moka membuka mata.

Mengendus udara.

Kemudian ia bangkit.

Untuk sesaat, jantungku langsung berdebar.

Namun Moka hanya berjalan mendekati ibuku, menggesekkan tubuhnya ke kaki, lalu kembali tidur.

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tawa itu terasa ringan.

Aku menunduk dan mengelus kepalanya.

“Jadi memang bukan karena kamu cemburu, ya?”

Moka mengeong pendek.

Aku memandang anakku yang tertidur tenang.

Dulu aku mengira rumah adalah tempat paling aman selama orang-orang di dalamnya adalah keluarga.

Ternyata aku salah.

Rumah menjadi aman bukan karena hubungan darah, pernikahan, atau berapa lama kita mengenal seseorang.

Rumah menjadi aman ketika orang-orang di dalamnya tidak membuat kita takut untuk menutup mata.

Dan terkadang, ketika manusia terlalu sibuk mempercayai kata-kata, justru makhluk yang tidak bisa bicara yang pertama kali menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang