Sore itu sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa.
Hujan baru saja berhenti membasahi Surabaya. Udara masih menyimpan bau tanah basah, sementara Alya tertidur di sofa setelah seharian bermain. Ardi belum pulang dari proyek.
Aku sedang membereskan pakaian ketika menemukan celana kerja Ardi tergantung di belakang pintu. Seperti biasa, sebelum memasukkannya ke mesin cuci, aku memeriksa semua saku.
Dari saku belakang, aku menemukan dompet kulit cokelat miliknya.
Dompet itu sudah cukup tua. Sudut-sudutnya mengelupas, dan jahitannya mulai lepas di beberapa bagian.
Aku membukanya untuk memastikan tidak ada uang yang tertinggal.
Beberapa lembar uang puluhan ribu.
Kartu identitas.
Kartu BPJS.
Sebuah foto kecil Alya ketika berusia satu tahun.
Aku sempat tersenyum.
Namun saat hendak menutupnya, mataku menangkap sesuatu yang terselip di balik kartu identitas.
Sebuah foto lama.
Aku menariknya perlahan.
Tanganku langsung membeku.
Di dalam foto itu ada seorang perempuan muda sedang tersenyum di depan sebuah rumah sederhana.
Perempuan itu adalah aku.
Aku mengenali pakaian yang kukenakan.
Kemeja biru muda dan rok hitam.
Foto itu diambil ketika aku masih semester lima.
Hampir dua tahun sebelum aku pertama kali merasa mengenal Ardi.
Dadaku mendadak sesak.
Aku membalik foto tersebut.
Di belakangnya ada tulisan tangan yang mulai memudar.
Maya.
Semoga suatu hari aku berani bicara dengannya.
Aku membaca tulisan itu berulang kali.
Jantungku berdegup begitu keras.
Ada banyak pertanyaan sekaligus muncul di kepalaku.
Mengapa Ardi memiliki fotoku sebelum kami saling mengenal?
Bagaimana dia mendapatkannya?
Dan yang paling membuatku merinding, apa maksud tulisan itu?
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memegang foto tersebut.
Selama empat tahun aku percaya pertemuan kami terjadi secara kebetulan.
Aku pingsan.
Ardi lewat.
Dia menolongku.
Lalu setelah mengetahui keadaanku, dia menawarkan pernikahan.
Namun foto di tanganku mengatakan sesuatu yang berbeda.
Ardi ternyata sudah mengenalku jauh sebelum hari itu.
Aku menunggu kepulangannya dengan perasaan campur aduk.
Sekitar pukul setengah tujuh malam, suara sepeda motor berhenti di depan rumah.
Beberapa detik kemudian, Ardi masuk sambil membawa kantong plastik berisi martabak telur.
“Aku beli ini. Tadi kamu bilang pengin makanan gurih, kan?”
Aku tidak menjawab.
Ardi segera menyadari sesuatu yang aneh.
Tatapannya turun ke tanganku.
Wajahnya berubah ketika melihat foto itu.
Bukan marah.
Bukan juga terkejut.
Lebih seperti seseorang yang sudah lama mengetahui bahwa hari ini suatu saat akan datang.
Aku berdiri.
“Ini apa?”
Ardi meletakkan kantong makanan perlahan di meja.
“May…”
“Jawab aku.”
Untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, suaraku meninggi kepadanya.
“Kenapa kamu punya foto aku dua tahun sebelum kita kenal?”
Ardi terdiam.
“Kenapa di belakangnya ada tulisan seperti ini?”
Dia masih diam.
Aku merasa semakin takut.
“Jangan bilang selama ini semua kebetulan itu bohong.”
Ardi menarik kursi lalu duduk.
Wajahnya terlihat lelah.
“Aku memang sudah tahu kamu sebelum kamu tahu aku.”
Kalimat itu membuat tengkukku dingin.
“Sejak kapan?”
“Sejak kamu masih kuliah semester tiga.”
Aku menatapnya tidak percaya.
Ardi kemudian mulai menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kubayangkan.
Beberapa tahun sebelum kami menikah, dia bekerja sebagai buruh renovasi di sebuah rumah kos mahasiswa dekat kampusku.
Rumah kos itu milik seorang perempuan bernama Bu Ratna.
Bu Ratna adalah ibu kos tempat aku tinggal pada tahun kedua kuliah.
Suatu siang, ketika Ardi sedang memperbaiki atap, dia melihatku membantu Bu Ratna membawa beberapa kardus buku dari mobil.
Aku tidak pernah memperhatikannya.
Bagiku, dia hanya salah satu pekerja bangunan yang sedang memperbaiki rumah kos.
Namun rupanya Ardi mengingatku.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
Ardi tersenyum pahit.
“Karena waktu itu cuma kamu yang bawain kami minum.”
Aku mengernyit.
Samar-samar aku memang mengingat kejadian itu.
Saat para pekerja sedang beristirahat di bawah terik matahari, aku pernah membelikan beberapa botol air mineral karena kasihan melihat mereka.
Sesuatu yang bahkan sudah kulupakan.
Bagi Ardi, ternyata itu berarti lain.
“Besoknya aku lihat kamu lagi,” katanya. “Terus beberapa hari kemudian lagi.”
“Lalu foto ini?”
Ardi menunduk.
“Bu Ratna punya beberapa foto kegiatan penghuni kos yang dicetak. Salah satunya foto itu. Waktu renovasi selesai, Bu Ratna mau buang beberapa foto lama. Aku minta yang ada kamu.”
Aku hampir tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Kamu menyukaiku?”
Ardi tersenyum kecil.
“Dulu iya.”
“Dulu?”
“Sekarang beda.”
Aku menatapnya tajam.
“Beda bagaimana?”
“Sekarang aku mencintaimu.”
Dadaku seolah dihantam sesuatu.
Namun aku belum selesai.
“Kalau kamu sudah menyukaiku, kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Ardi tertawa pendek tanpa kegembiraan.
“Mau bilang apa? Aku cuma tukang bangunan, May. Kamu mahasiswa. Setiap hari kamu pergi kuliah, pakai tas bagus, punya teman-teman yang kelihatannya pintar. Aku waktu itu bahkan masih sering tidur di bedeng proyek.”
Aku tidak menyukai caranya merendahkan dirinya sendiri.

Namun sebelum aku bicara, dia melanjutkan.
“Aku pernah lihat kamu sama pacarmu.”
Aku terdiam.
“Dia jemput kamu beberapa kali. Aku tahu kamu bahagia.”
Ardi mengangkat bahu.
“Jadi aku pikir ya sudah. Suka seseorang bukan berarti harus punya.”
Setelah renovasi selesai, Ardi meninggalkan tempat itu.
Dia membawa foto itu tetapi tidak pernah mencoba mencariku.
Hingga hampir dua tahun kemudian, ketika dia mendapat proyek baru di sekitar tempat kosku yang berbeda.
Pada suatu pagi, dia melihatku berjalan keluar dengan wajah pucat.
Dia langsung mengenaliku.
Lalu aku pingsan.
“Jadi waktu kamu bawa aku ke klinik…”
“Aku sudah tahu kamu Maya.”
“Kenapa kamu pura-pura nggak kenal?”
“Aku takut kamu merasa aneh.”
Aku memejamkan mata.
Perasaanku benar-benar kacau.
“Tapi soal menikahiku? Kamu menawariku menikah karena sejak dulu kamu suka aku?”
Ardi lama tidak menjawab.
Akhirnya dia berkata, “Sebagian.”
Aku membuka mata.
“Apa maksudnya sebagian?”
Ardi masuk ke kamar lalu kembali membawa sebuah kotak plastik kecil dari dalam lemari.
Dia meletakkannya di meja.
“Aku sebenarnya berharap nggak perlu cerita bagian ini.”
Tanganku terasa dingin.
Dia membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama.
Salah satunya adalah surat keterangan rumah sakit.
Nama pasien di atasnya membuatku mengernyit.
Rina Kusumawati.
Aku tidak mengenal nama itu.
“Siapa Rina?”
“Adikku.”
Aku baru ingat Ardi pernah mengatakan dia memiliki seorang adik perempuan yang sudah meninggal jauh sebelum kami menikah. Namun dia hampir tidak pernah membicarakannya.
“Rina hamil ketika umur dua puluh dua,” katanya.
Aku menatap Ardi.
“Pacarnya kabur setelah tahu dia hamil.”
Bulu kudukku langsung berdiri.
Cerita itu terasa terlalu mirip.
“Keluarga kami marah besar waktu itu. Bapak paling keras. Dia bilang Rina mempermalukan keluarga.”
Suara Ardi semakin berat.
“Rina akhirnya pergi dari rumah.”
Aku menelan ludah.
“Terus?”
“Beberapa minggu kemudian kami dapat kabar dia meninggal.”
Aku membeku.
Ardi memandang lantai.
“Dia mencoba mengakhiri kehamilannya sendiri karena takut pulang dan nggak punya uang untuk pergi ke dokter. Terjadi perdarahan. Dia ditemukan terlambat.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa sempit.
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.
“Sejak itu,” lanjut Ardi, “aku selalu merasa bersalah. Waktu Rina telepon aku malam sebelum dia pergi, aku sedang kerja di luar kota. Dia bilang takut. Dia minta aku pulang.”
Napas Ardi bergetar.
“Aku bilang tunggu tiga hari.”
Dia tertawa pahit.
“Ternyata dia nggak punya tiga hari.”
Aku belum pernah melihat Ardi seperti itu.
Pria yang selama ini selalu tampak kuat, bahkan ketika terluka di tempat kerja, kini menunduk sambil mengusap wajahnya berkali-kali.
“Jadi waktu kamu cerita soal kehamilanmu,” katanya, “aku lihat Rina.”
Aku mulai menangis tanpa sadar.
“Makanya kamu menawarkan pernikahan?”
Ardi mengangguk.
“Aku nggak mau ada perempuan lain merasa sendirian seperti adikku.”
Aku terdiam cukup lama.
“Tapi kamu juga menyukaiku.”
“Iya.”
“Berarti kamu memanfaatkan keadaanku?”
Pertanyaan itu keluar lebih tajam daripada yang kurencanakan.
Ardi langsung menggeleng.
“Nggak.”
Dia menatapku.
“Kalau waktu itu kamu menolak menikah, aku tetap akan bantu kamu sebisaku.”
“Kenapa?”
“Karena kamu sedang butuh bantuan.”
“Lalu perasaanmu?”
“Aku sudah janji sama diri sendiri nggak akan pernah memaksakan itu ke kamu.”
Aku mengingat empat tahun pernikahan kami.
Ardi memang tidak pernah sekali pun menuntut agar aku mencintainya.
Bahkan pada bulan-bulan pertama pernikahan, dia tidur di ruang depan sampai suatu malam aku sendiri yang memintanya tidur di kamar karena keluarga mulai curiga.
Dia tidak pernah menyentuhku tanpa persetujuanku.
Dia tidak pernah menggunakan pengorbanannya untuk membuatku merasa berutang.
Aku menatap kembali foto lama di tanganku.
“Tapi kenapa disimpan?”
Ardi tersenyum malu.
“Karena itu satu-satunya foto kamu yang aku punya sebelum kita menikah.”
Aku mendadak ingin marah sekaligus tertawa.
Namun sesuatu masih menggangguku.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Kenapa kamu begitu mudah menerima Alya? Aku masih sulit percaya seseorang bisa langsung menyayangi anak yang bukan darah dagingnya seperti itu.”
Ardi diam beberapa saat.
Kemudian dia mengeluarkan satu kartu kecil lagi dari dompetnya.
Kartu donor darah.
Di belakangnya terselip foto bayi yang sangat kecil.
“Ini anak Rina.”
Aku terkejut.
“Anaknya lahir?”
“Hidup cuma dua hari.”
Mataku terasa panas.
Ardi mengusap foto kecil itu dengan ujung jari.
“Aku nggak sempat gendong keponakanku waktu dia hidup.”
Dia menatapku.
“Jadi ketika Alya lahir dan aku gendong dia pertama kali, aku merasa diberi kesempatan kedua.”
Aku tidak sanggup menahan tangis.
Semua teka-teki tentang Ardi seolah tersusun pada saat itu.
Mengapa dia begitu panik ketika Alya demam.
Mengapa dia selalu memastikan Alya makan.
Mengapa dia begitu takut jika aku bepergian sendirian saat hamil.
Mengapa di malam kelahiran Alya dia menangis lebih keras daripada aku.
Bukan karena dia sedang berpura-pura menjadi ayah.
Dia benar-benar memilih menjadi ayah.
Aku duduk di sampingnya.
“Aku punya pengakuan juga,” kataku.
Ardi menoleh.
“Selama bertahun-tahun aku merasa aku telah memanfaatkan kamu.”
“Kamu nggak pernah memanfaatkan aku.”
“Aku menikah sama kamu karena takut.”
“Aku tahu.”
“Aku bahkan masih memikirkan mantanku selama beberapa bulan setelah kita menikah.”
“Aku tahu juga.”
Aku menatapnya kaget.
“Kok tahu?”
Ardi terkekeh pelan.
“Kamu pernah manggil namanya waktu demam.”
Aku langsung menutupi wajah karena malu.
Untuk pertama kalinya malam itu, kami tertawa.
Namun tawa itu tidak berlangsung lama.
Aku meraih tangannya yang kasar.
“Di,” kataku pelan, “aku dulu menikah sama kamu karena butuh seorang suami.”
Dia menatapku.
“Tapi sekarang aku tinggal sama kamu karena aku ingin kamu jadi suamiku.”
Ardi tidak berkata apa-apa.
Matanya langsung memerah.
Aku tersenyum sambil menangis.
“Aku cinta kamu.”
Aku baru menyadari bahwa selama empat tahun menikah, itulah pertama kalinya aku mengucapkannya.
Ardi menunduk beberapa detik.
Lalu dia mengusap matanya dengan punggung tangan.
“Harusnya aku yang ngomong dulu.”
Aku tertawa.
“Empat tahun, Di. Kelamaan.”
Dia ikut tertawa.
Malam itu, kami makan martabak yang sudah dingin sambil duduk di lantai.
Tidak ada musik romantis.
Tidak ada bunga.
Tidak ada makan malam mahal.
Hanya kami berdua, Alya yang tertidur di sofa, hujan yang kembali turun di luar rumah, dan sebuah foto lama yang akhirnya membuka rahasia selama bertahun-tahun.
Namun ternyata kejutan terbesar belum berakhir.
Beberapa minggu kemudian, ketika aku sedang bekerja di minimarket, seorang laki-laki masuk.
Aku langsung mengenalinya.
Meskipun rambutnya sudah berbeda dan tubuhnya sedikit lebih gemuk.
Dia adalah pria yang dahulu meninggalkanku saat hamil.
Ayah biologis Alya.
Aku merasa seluruh darah di tubuhku berhenti mengalir.
Dia juga mengenaliku.
“Maya?”
Aku tidak menjawab.
Dia mendekat dengan wajah gugup.
“Aku sudah lama cari kamu.”
“Ada perlu apa?”
Dia menarik napas.
“Aku dengar kamu punya anak.”
Tanganku langsung mengepal.
“Terus?”
“Anak itu…”
Dia berhenti.
“Anakku, kan?”
Aku menatap pria yang pernah membuatku hampir kehilangan seluruh harapan hidup.
Anehnya, aku tidak lagi merasakan cinta.
Bahkan kebencian yang dulu begitu besar juga hampir tidak tersisa.
Yang ada hanya ketenangan.
“Secara biologis, iya.”
Wajahnya terlihat lega.
“Aku ingin ketemu.”
Aku menggeleng.
“Untuk apa?”
“Aku ingin memperbaiki kesalahan.”
Aku tersenyum tipis.
“Kamu terlambat.”
Dia terlihat tidak terima.
“Aku ayahnya.”
Aku menatapnya lurus.
“Kamu orang yang membuatku hamil.”
Dia membeku.
“Ayahnya sedang kerja di proyek.”
Aku tidak pernah tahu wajah seseorang bisa kehilangan warna secepat itu.
Aku meninggalkannya berdiri di depan kasir.
Sore harinya, aku menceritakan semua itu kepada Ardi.
Dia tidak marah.
Dia hanya bertanya satu hal.
“Kamu baik-baik aja?”
Aku mengangguk.
“Lega.”
Ardi diam sebentar.
“Kalau suatu hari Alya sudah besar dan dia ingin tahu tentang ayah biologisnya, kita jangan bohong.”
Aku menatapnya.
Bahkan dalam situasi seperti itu, dia masih memikirkan Alya lebih dulu.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
“Di.”
“Hm?”
“Kalau kehidupan bisa diulang, kamu masih mau menikah sama aku waktu itu?”
Ardi berpikir sejenak.
“Nggak.”
Aku langsung mengangkat kepala.
Dia tertawa melihat ekspresiku.
“Aku bakal kenalan sama kamu dua tahun lebih awal.”
Aku memukul lengannya pelan.
Ardi tertawa.
Dari kamar, Alya berlari keluar sambil membawa bonekanya.
“Ayah!”
Ardi langsung membuka tangan.
Alya melompat ke pelukannya.
Aku memperhatikan mereka berdua.
Dulu aku menikahi seorang tukang bangunan untuk menutupi kehamilanku.
Aku mengira dia hanyalah jalan keluar dari sebuah kesalahan.
Aku mengira aku sedang memilih kehidupan kedua karena kehidupan pertama yang kurencanakan telah hancur.
Ternyata aku salah.
Ardi bukan jalan keluar.
Dia adalah seseorang yang sejak awal mengetahui bagaimana rasanya kehilangan keluarga karena ketakutan, penghakiman, dan seorang laki-laki yang lari dari tanggung jawab.
Dia menikahiku bukan karena kasihan.
Bukan juga semata-mata karena sudah lama menyukaiku.
Dia menikahiku karena bertahun-tahun sebelumnya, dia gagal menyelamatkan seseorang yang sangat dia cintai.
Ketika aku muncul dalam keadaan yang hampir sama, dia memilih tidak mengulangi kesalahan itu.
Dan mungkin begitulah hidup bekerja.
Kadang seseorang datang bukan dengan kata-kata indah.
Bukan dengan pakaian rapi.
Bukan dengan janji tentang masa depan.
Kadang dia datang dengan tangan kasar penuh bekas luka, pakaian berdebu semen, dan keberanian sederhana untuk mengatakan,
“Kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendirian.”
Aku pernah menganggap Ardi sebagai pria yang menyelamatkan harga diriku.
Bertahun-tahun kemudian aku baru memahami sesuatu.
Yang dia selamatkan sebenarnya jauh lebih besar.
Dia menyelamatkan keyakinanku bahwa cinta masih bisa dipercaya.
Dan tanpa pernah meminta apa pun sebagai balasan, dia membangun sebuah keluarga dari reruntuhan hidupku, sedikit demi sedikit, seperti cara dia membangun rumah setiap hari.
Batu demi batu.
Hari demi hari.
Sampai akhirnya aku sadar bahwa rumah terbaik yang pernah dibangun Ardi bukanlah rumah milik orang lain di proyek tempatnya bekerja.
Melainkan rumah kecil kami.
Dan di dalam rumah itulah, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar merasa pulang.
