Semalam Sebelum Pernikahan, Sahabat Masa Kecil Suamiku Mencukur Habis Rambutku. Namun Reaksi Ibu Mertuaku Benar-Benar di Luar Dugaan…

Suara mesin kecil itu terus berdengung di dekat telingaku.

Bzzzzzz…

Aku ingin mengangkat tangan.

Ingin mendorong siapa pun yang berada di samping tempat tidur.

Namun tubuhku terlalu berat.

Kesadaranku hanya datang dan pergi seperti cahaya yang berkedip.

Di sela-sela suara mesin, aku mendengar tawa pelan.

“Jangan terlalu pendek, Cit.”

Suara seorang perempuan.

Entah siapa.

Citra terkikik.

“Biar sekalian. Besok tinggal kasih wig. Lagian rambut tumbuh lagi.”

Ada yang tertawa.

Tidak keras.

Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadaku terasa runtuh meskipun aku belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi.

Setelah itu aku tidak ingat apa-apa.

Ketika akhirnya membuka mata, kamar terasa jauh lebih dingin.

Lampu meja rias masih menyala.

Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 00.47.

Aku mengangkat kepala perlahan.

Ada sensasi aneh di kulit kepalaku.

Ringan.

Terlalu ringan.

Tanganku bergerak menyentuh rambut.

Jari-jariku tidak menemukan helaian panjang yang biasanya jatuh melewati bahu.

Yang terasa hanya bagian-bagian pendek tidak rata.

Aku membeku.

Tanganku bergerak lebih cepat.

Aku duduk.

Saat itulah aku melihat pantulan diriku di cermin.

Aku bahkan tidak langsung mengenali perempuan di sana.

Sebagian besar rambutku sudah dicukur sangat pendek. Di beberapa sisi masih tersisa helai yang panjangnya berbeda-beda, membuat kepalaku tampak berantakan.

Aku menatap pantulan itu selama beberapa detik tanpa mampu bernapas.

Lalu mataku jatuh ke lantai.

Rambut hitam panjang berserakan di sekitar tempat tidur.

Ada yang masih terikat oleh karet kecil yang tadi dipasang penata rambut.

Ada yang menempel di karpet.

Ada yang bahkan terinjak di dekat sofa.

“Lho, Kak Laras sudah bangun?”

Aku menoleh.

Citra berdiri dekat minibar sambil memegang segelas air.

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

Sebaliknya, bibirnya justru melengkung.

“Rambutnya ke mana?”

Beberapa bridesmaid yang masih berada di kamar saling berpandangan.

Tak seorang pun tertawa kali ini.

Aku turun dari tempat tidur.

Kakiku terasa lemas.

“Citra…”

Suaraku hampir tidak terdengar.

“Apa yang kamu lakukan?”

Dia meletakkan gelas.

“Ya ampun, Kak. Jangan serius begitu. Aku cuma bercanda.”

“Bercanda?”

Suaraku akhirnya pecah.

Tanganku menunjuk rambut di lantai.

“Ini menurutmu bercanda?”

Citra memutar mata.

“Besok kan bisa pakai wig. Penata rias pasti bisa beresin.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu aku mau memakai aksesori milik ibuku.”

Wajahnya berubah sedikit.

Namun hanya sesaat.

“Ya tinggal dipasang di wig.”

Saat itulah pintu terbuka dan Aditya masuk.

Dia berhenti tepat di ambang pintu.

Wajahnya langsung berubah ketika melihatku.

“Laras?”

Aku tidak tahu kenapa, tetapi begitu melihatnya, air mataku langsung jatuh.

Aku berjalan ke arahnya.

“Citra mencukur rambutku.”

Aditya menatap Citra.

“Apa?”

Citra tertawa gugup.

“Dit, jangan lebay. Aku cuma iseng. Tadi Laras tidur nyenyak banget.”

Aku menunggu.

Aku benar-benar menunggu Aditya marah.

Namun setelah beberapa detik, ekspresinya justru berubah menjadi kelelahan.

Dia mengusap wajah.

“Citra memang suka bercanda sejak kecil.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Aditya.”

Dia menoleh kepadaku.

“Rambut nanti juga tumbuh lagi. Jangan dibesar-besarkan malam sebelum acara. Besok kita masih punya banyak urusan.”

Ada sesuatu di dalam diriku yang mati tepat pada saat itu.

Bukan karena rambutku.

Bukan karena Citra.

Melainkan karena pria yang sebentar lagi akan berdiri di sampingku di depan ratusan tamu ternyata menganggap rasa sakitku sebagai gangguan kecil.

Citra berjalan mendekat.

“Ya sudah, Kak. Jangan nangis. Nih, aku pegang sebentar. Lucu juga kayaknya.”

Aku mundur.

Salah satu bridesmaid ikut mengulurkan tangan sambil tersenyum canggung.

“Mungkin benar, Kak. Nanti tinggal pakai wig.”

Aku terus mundur sampai punggungku menyentuh meja rias.

Tangannya hampir menyentuh kepalaku ketika pintu suite kembali terbuka.

Bu Ratna masuk.

Wajahnya tampak tergesa.

“Mama dengar ada masalah dari Mbak Sari. Ada apa?”

Tak seorang pun menjawab.

Tatapannya turun ke lantai.

Pada rambut.

Lalu kepadaku.

Kemudian kepada Citra.

“Siapa yang melakukan ini?”

Citra tersenyum kecil.

“Tante, aku cuma bercanda.”

Plak!

Tamparan itu begitu keras hingga Citra terhuyung.

Ruangan langsung sunyi.

Bu Ratna menatapnya tanpa berkedip.

“Kalau orang tuamu tidak pernah mengajarimu cara menghormati orang lain, hari ini biar saya yang mengajarimu.”

“Tante!”

“Jangan panggil saya Tante.”

Wajah Citra memerah.

“Aku cuma bercanda dengan Laras.”

Bu Ratna menunjuk rambut di lantai.

“Memotong rambut orang yang sedang tidak sadar bukan bercanda.”

Citra mulai menangis.

“Aditya juga tahu aku memang suka iseng.”

Bu Ratna perlahan menoleh kepada putranya.

“Aditya?”

Aditya terlihat tidak nyaman.

“Mama, sekarang sudah malam. Besok acara besar. Kita cari solusi saja.”

Aku melihat sesuatu berubah di wajah Bu Ratna.

Kekecewaan.

Bukan kepada Citra.

Kepada anaknya sendiri.

“Jadi istrimu diperlakukan seperti ini, dan kalimat pertama yang keluar dari mulutmu adalah cari solusi?”

“Ma, aku cuma nggak mau semuanya makin kacau.”

Bu Ratna tertawa pendek.

Dingin.

“Yang kacau bukan pesta pernikahanmu.”

Dia menatap Aditya tepat di mata.

“Yang kacau adalah cara berpikirmu.”

Tak seorang pun bergerak.

Bu Ratna kemudian berjalan ke arahku.

Tangannya terangkat seolah ingin menyentuh kepalaku, tetapi berhenti beberapa sentimeter sebelum kulitku.

Untuk pertama kalinya, wajah perempuan itu tampak ragu.

“Laras.”

Suaranya jauh lebih pelan.

“Boleh Mama sentuh?”

Aku menggigit bibir.

Lalu mengangguk.

Telapak tangannya menyentuh sisi kepalaku dengan sangat hati-hati.

Matanya berkaca-kaca.

“Mama minta maaf.”

Aku menggeleng cepat.

“Mama tidak salah.”

“Aku salah karena membiarkan orang seperti ini berada dekat denganmu.”

Citra langsung menyahut.

“Tante, kok jadi seolah aku penjahat? Aku sudah kenal Aditya sejak kecil.”

Bu Ratna berbalik.

“Justru karena itu saya terlalu lama memaklumi kelakuanmu.”

Ruangan kembali sunyi.

Aku menatap Bu Ratna.

Ada sesuatu dari kalimatnya yang membuatku merasa ini bukan pertama kalinya Citra melewati batas.

Bu Ratna menatap para bridesmaid.

“Siapa yang melihat dia melakukan ini?”

Tak ada yang menjawab.

“Kalau tidak ada yang mau bicara, saya akan minta hotel membuka rekaman kamera koridor dan memanggil keamanan.”

Seorang perempuan bernama Nanda akhirnya mengangkat tangan pelan.

“Aku lihat, Tante.”

Citra menoleh tajam.

“Nanda!”

Nanda menunduk.

“Citra yang bawa alat cukur dari tasnya.”

Aku merasakan tengkukku dingin.

“Dari tasnya?”

Nanda mengangguk.

“Dia memang sudah bawa dari rumah.”

Aku menatap Citra.

Jadi itu bukan impuls sesaat.

Dia merencanakannya.

Citra langsung panik.

“Aku cuma bawa buat bercanda!”

Bu Ratna tersenyum tipis.

“Kamu datang ke kamar calon pengantin membawa alat cukur, menunggu dia tertidur karena obat, lalu mencukur rambutnya. Itu bukan bercanda. Itu niat.”

Aditya akhirnya meninggikan suara.

“Cukup, Ma!”

Semua orang terdiam.

Aditya berjalan ke tengah ruangan.

“Besok pesta kita. Jangan sampai masalah ini jadi urusan polisi atau keamanan hotel. Kita selesaikan internal.”

Aku menatap wajahnya.

“Kamu takut pesta kita rusak?”

Dia mendekat.

“Laras, pikir realistis. Ada hampir delapan ratus tamu besok.”

“Dan?”

“Keluarga, partner bisnis Papa, kolega Mama. Semua sudah datang dari berbagai kota.”

Aku mengangguk pelan.

“Jadi rambutku tidak penting.”

“Bukan begitu.”

“Perasaanku tidak penting.”

“Laras.”

“Yang penting tamu tidak tahu ada masalah.”

Aditya mengembuskan napas kasar.

“Kenapa kamu membuat semuanya terdengar seburuk itu?”

Aku tidak menjawab.

Bu Ratna justru menjawab untukku.

“Karena memang seburuk itu.”

Dia berjalan ke arah putranya.

“Kalau besok Laras tidak mau naik pelaminan, Mama akan berdiri di depan semua tamu dan menjelaskan alasannya sendiri.”

Aditya memucat.

“Mama!”

“Apa?”

“Jangan ikut campur dalam hubungan kami.”

Bu Ratna menatapnya lama.

Lalu berkata dengan sangat tenang.

“Kalau begitu, bertindaklah seperti suami agar orang lain tidak perlu ikut campur.”

Aku tidak pernah melihat Aditya kehilangan kata-kata seperti itu.

Bu Ratna lalu menelepon seseorang.

“Pak Bowo, naik ke suite lantai dua puluh sekarang. Bawa petugas keamanan perempuan.”

Citra langsung panik.

“Tante, mau apa?”

“Kamu keluar dari hotel malam ini.”

“Aku bridesmaid!”

“Tidak lagi.”

“Tapi besok aku harus mendampingi Aditya.”

Bu Ratna menatapnya dengan ekspresi tajam.

“Besok kamu tidak akan berada dalam radius satu kilometer dari keluarga saya.”

Citra berlari ke Aditya.

“Dit, bilang sesuatu!”

Aku melihat Aditya menatap sahabat masa kecilnya.

Lalu kepadaku.

Aku masih berharap.

Mungkin bodoh.

Namun bagian kecil di dalam diriku masih berharap dia akhirnya akan memilihku.

Sayangnya, Aditya justru berkata, “Ma, jangan usir Citra. Orang tuanya dekat dengan keluarga kita.”

Aku menutup mata.

Selesai.

Bu Ratna pun tampaknya memahami hal yang sama.

Dia mengangguk kecil.

“Baik.”

Kemudian dia menatapku.

“Laras, ikut Mama.”

Aku tidak bertanya ke mana.

Aku hanya mengambil kotak kecil berisi aksesori rambut ibuku.

Ketika berjalan melewati Aditya, dia mencoba meraih tanganku.

“Laras, kita bicara.”

Aku menarik tanganku.

“Besok saja.”

“Besok kita menikah.”

Aku menatapnya.

“Kita sudah menikah secara hukum, Dit.”

Dia membeku.

Aku melanjutkan dengan suara yang bahkan mengejutkan diriku sendiri karena terdengar begitu tenang.

“Dan malam ini aku baru benar-benar mengenal suamiku.”

Aku mengikuti Bu Ratna keluar.

Malam itu aku tidur di kamar Bu Ratna.

Atau lebih tepatnya, aku berbaring di sisi tempat tidur sambil menatap langit-langit sampai hampir pukul empat pagi.

Bu Ratna tidak memaksaku bicara.

Dia hanya duduk di sofa sambil menghubungi beberapa orang.

Sekitar pukul tiga, seorang penata rambut datang membawa beberapa pilihan wig.

Aku menatap wig panjang yang sangat mirip dengan rambutku.

“Aku tidak mau.”

Penata rambut terlihat bingung.

Bu Ratna tidak memprotes.

“Kamu maunya bagaimana?”

Aku menatap wajahku di cermin.

Rambutku tidak rata.

Beberapa sisi hampir botak.

Aku terlihat hancur.

Namun untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak ingin menyembunyikan apa yang terjadi.

“Tolong rapikan.”

Penata rambut terdiam.

“Jadi dipotong pendek sekalian?”

Aku mengangguk.

“Buat serapi mungkin.”

Pagi harinya, ketika matahari mulai masuk melalui jendela hotel, rambutku telah berubah menjadi potongan pixie yang sangat pendek.

Aku menyentuh kepala.

Masih asing.

Masih menyakitkan.

Namun setidaknya sekarang keputusan terakhir mengenai rambutku adalah milikku sendiri.

Aku membuka kotak peninggalan Ibu.

Aksesori rambut berbentuk bunga melati kecil berlapis mutiara itu tidak mungkin dipasang seperti rencana awal.

Aku menatapnya beberapa saat.

Kemudian penata rias mengambil sebuah ide.

Dia memasang aksesori itu pada sisi kerudung tipis yang jatuh dari belakang kepalaku.

Ketika melihat hasilnya, mataku langsung berkaca-kaca.

Ibu tetap bersamaku.

Hanya caranya yang berubah.

Pukul sepuluh pagi, Bu Ratna masuk dengan kebaya modern berwarna biru tua.

Dia terdiam ketika melihatku.

“Cantik.”

Aku tertawa kecil.

“Untuk pertama kalinya Mama memuji langsung.”

Telinganya memerah.

“Jangan dibahas.”

Aku hampir tertawa lagi.

Kemudian pintu diketuk.

Aditya masuk.

Dia membeku.

Tatapannya menyapu rambutku.

“Kamu jadi datang.”

Aku menatapnya.

“Ya.”

Wajahnya sedikit lega.

“Aku tahu kamu akan mengerti.”

Bu Ratna langsung menatapnya tajam, tetapi aku mengangkat tangan.

Aku ingin bicara sendiri.

“Dit, aku datang bukan karena aku mengerti.”

Senyumnya hilang.

“Aku datang karena ada sesuatu yang harus kuselesaikan.”

Upacara berjalan sesuai jadwal.

Ratusan tamu memenuhi ballroom.

Aku berjalan menuju panggung dengan langkah tenang.

Beberapa orang terkejut melihat rambutku.

Ada yang berbisik.

Ada yang menatap terlalu lama.

Namun aku tidak peduli.

Setelah sesi pemberkatan keluarga dan sambutan orang tua, pembawa acara menyerahkan mikrofon kepada kami.

Aditya menyampaikan ucapan terima kasih.

Kemudian mikrofon diberikan kepadaku.

Aku memegangnya dengan kedua tangan.

“Terima kasih kepada semua keluarga dan sahabat yang sudah hadir.”

Ruangan tenang.

“Ada banyak hal yang saya pelajari menjelang hari ini. Salah satunya adalah bahwa pernikahan bukan tentang dekorasi, gaun, foto, atau berapa banyak tamu yang datang.”

Aku menoleh kepada Aditya.

Wajahnya perlahan berubah.

“Pernikahan adalah tentang siapa yang berdiri di samping kita ketika martabat kita direndahkan.”

Aku mendengar suara napas tertahan dari beberapa meja.

Aditya berbisik.

“Laras.”

Aku melanjutkan.

“Tadi malam, rambut saya dicukur tanpa izin ketika saya sedang tertidur karena obat.”

Ballroom langsung riuh.

Pak Surya berdiri.

Bu Ratna tetap duduk tenang.

“Saya menangis bukan hanya karena kehilangan rambut. Saya menangis karena orang yang paling saya harapkan membela saya justru mengatakan bahwa rambut akan tumbuh lagi dan saya tidak perlu membesar-besarkan masalah.”

Aditya meraih lenganku.

“Cukup.”

Aku melepaskan tangannya.

“Tidak. Untuk pertama kalinya, aku mau menyelesaikan kalimatku.”

Ruangan sunyi kembali.

Aku menatap seluruh tamu.

“Karena itu, hari ini bukan perayaan dimulainya pernikahan kami.”

Aku menarik napas.

“Hari ini adalah hari terakhir saya mempertahankannya.”

Suara gaduh memenuhi ruangan.

Aditya memucat.

“Kamu gila?”

Aku tersenyum pahit.

“Mungkin selama ini aku memang terlalu takut dianggap berlebihan.”

Aku menatapnya lurus.

“Tapi aku akhirnya sadar, seseorang yang terus memintaku mengecilkan luka demi kenyamanan orang lain tidak sedang mencintaiku. Dia hanya mencintai versi diriku yang tidak merepotkan.”

Aditya kehilangan kata-kata.

Lalu sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Bu Ratna berdiri.

Dia naik ke panggung.

Mengambil mikrofon kedua.

Dan berkata di depan seluruh tamu, “Saya mendukung keputusan menantu saya.”

Seluruh ballroom hening.

Pak Surya menatap istrinya.

“Ratna.”

Bu Ratna tidak bergeming.

“Saya membesarkan anak laki-laki saya dengan harapan dia menjadi pria yang mampu melindungi orang yang dicintainya. Kalau hari ini dia gagal, saya tidak akan meminta perempuan lain menanggung kegagalan pendidikan saya.”

Mataku langsung panas.

Aditya menatap ibunya dengan wajah tidak percaya.

“Mama memilih Laras daripada anak Mama sendiri?”

Bu Ratna menggeleng.

“Mama sedang memilih yang benar.”

Lalu dia mengatakan kalimat yang tidak akan pernah kulupakan.

“Menjadi ibumu bukan berarti Mama harus membenarkan semua kesalahanmu.”

Pesta yang seharusnya berlangsung sampai malam berakhir lebih cepat.

Beberapa tamu pulang dalam kebingungan.

Sebagian keluarga besar marah.

Pak Surya hampir tidak berbicara kepadaku.

Namun Bu Ratna tetap berada di sisiku.

Dua minggu kemudian, aku mengajukan gugatan pembatalan dan perceraian sesuai proses hukum yang disarankan pengacara.

Citra mengirim puluhan pesan permintaan maaf setelah mengetahui Bu Ratna memutuskan semua kerja sama bisnis dengan keluarganya.

Aku tidak menjawab satu pun.

Aditya datang ke apartemenku beberapa kali.

Pada kunjungan terakhir, dia berdiri di depan pintu sambil membawa bunga.

“Aku salah.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu.”

“Aku pikir karena aku sudah mengenal Citra sejak kecil, semua tingkahnya memang cuma bercanda.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Lalu apa?”

Aku menatap pria yang pernah sangat kucintai itu.

“Masalahnya adalah kamu lebih takut membuat Citra tidak nyaman daripada melihat istrimu terluka.”

Dia menunduk.

Untuk pertama kalinya, aku melihatnya benar-benar memahami.

Namun beberapa pemahaman memang datang terlalu terlambat.

Enam bulan berlalu.

Rambutku mulai tumbuh.

Tidak panjang.

Belum seperti dulu.

Namun setiap kali melihatnya di cermin, aku tidak lagi merasa kehilangan.

Suatu sore, Bu Ratna datang ke apartemenku membawa sekotak makanan.

“Katanya kamu sering lupa makan.”

Aku tersenyum.

“Siapa yang bilang?”

“Mbak Sari.”

Dia meletakkan kotak itu di meja.

Aku membuka tutupnya.

Sop buntut.

Makanan kesukaanku.

“Ma.”

Bu Ratna diam.

Aku sadar baru saja memanggilnya seperti dulu.

Aku buru-buru berkata, “Maaf.”

Dia justru menatapku.

“Kenapa minta maaf?”

Aku terdiam.

“Kita sudah bukan…”

“Laras.”

Dia memotong.

“Yang bercerai itu kamu dan anak saya.”

Matanya sedikit memerah.

“Bukan kamu dan saya.”

Aku langsung menangis.

Bu Ratna menghela napas, lalu membuka kedua tangannya dengan kaku.

“Kalau mau peluk, cepat. Mama nggak terbiasa begini.”

Aku tertawa di antara air mata.

Kemudian memeluknya.

Di bahunya, aku akhirnya memahami sesuatu.

Malam sebelum pernikahanku, aku memang kehilangan rambut yang kurawat selama tiga tahun.

Aku juga kehilangan rumah tangga yang kukira akan bertahan seumur hidup.

Namun justru pada malam itu, aku menemukan dua hal yang jauh lebih penting.

Keberanian untuk membela diriku sendiri.

Dan seorang ibu, dari tempat yang sama sekali tidak pernah kuduga.

Setahun kemudian, ketika rambutku sudah menyentuh bahu, aku kembali mengeluarkan aksesori peninggalan Ibu dari kotaknya.

Aku memasangnya di rambut.

Bukan untuk pernikahan.

Bukan untuk siapa pun.

Aku memakainya saat makan malam ulang tahunku bersama Bu Ratna.

Ketika melihatnya, Bu Ratna terdiam cukup lama.

“Itu aksesori ibumu?”

Aku mengangguk.

“Cantik?”

Dia mendengus.

“Lumayan.”

Aku tertawa.

Lalu dia menambahkan pelan sekali.

“Ibumu pasti senang melihatmu sekarang.”

Aku tidak menangis.

Aku hanya menyentuh bunga mutiara di rambutku sambil tersenyum.

Karena akhirnya aku mengerti.

Ada hal-hal yang bisa dicuri orang dari kita.

Rambut.

Rencana.

Pernikahan.

Bahkan gambaran masa depan yang telah kita susun bertahun-tahun.

Namun harga diri hanya benar-benar hilang ketika kita sendiri menyerahkannya.

Dan malam ketika Citra mencukur rambutku, tanpa sadar dia justru memotong satu hal yang selama ini membuatku terus bertahan dalam hubungan yang salah.

Ketakutanku untuk pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang