Wajah Ibu benar-benar pucat.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.
Hanya terdengar suara kipas angin dari ruang tengah dan tangisan kecil bayi kami dari kamar yang kemudian kembali mereda.
Aku masih duduk di kursi, sementara Sari berdiri di sampingku dengan kedua tangan saling menggenggam erat.
Ibu menatap mangkuk di atas meja, lalu menatapku.
“Itu cuma makanan sisa tadi pagi,” katanya akhirnya. “Sari sendiri yang mau makan itu.”
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.
“Sari sendiri yang mau?”
“Iya. Ibu sudah masak. Dia yang pilih itu.”
Aku menoleh kepada Sari.
Sari langsung menunduk.
Reaksinya sudah cukup menjadi jawaban.
Aku kembali menatap Ibu.
“Masak apa?”
Ibu terdiam.
“Apa yang Ibu masak hari ini?”
“Nanti siang Ibu mau masak ayam.”
“Nanti siang?”
Nada suaraku masih datar, tetapi dadaku mulai panas.
“Ini sudah hampir jam dua belas, Bu.”
Ibu terlihat mulai gelisah.
“Ya namanya juga ngurus rumah. Ibu tadi keluar beli beberapa barang.”
Aku berdiri.
“Barang apa?”
Ibu menghela napas, seolah akulah yang terlalu banyak bertanya.
“Ardi, kamu baru pulang sudah langsung interogasi Ibu. Ibu ini ibumu sendiri.”
Kalimat itu justru membuat sesuatu di dalam diriku runtuh.
Selama bertahun-tahun, mungkin kalimat seperti itu yang selalu membuatku berhenti bertanya.
Karena dia ibuku.
Karena aku anaknya.
Karena aku merasa tidak pantas mencurigainya.
Namun kali ini ada Sari di sampingku.
Ada istriku yang tubuhnya semakin kurus setelah melahirkan.
Ada perempuan yang diam-diam memakan nasi dingin dan kepala ikan karena ketakutan.
Aku tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihat.
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Bu, saya memang anak Ibu. Tapi Sari istri saya. Dia baru melahirkan anak saya.”
Ibu langsung memotong.
“Ibu juga sudah merawat dia.”
Aku menunjuk mangkuk di meja.
“Ini yang Ibu sebut merawat?”
Ibu mendadak meninggikan suara.
“Jangan kurang ajar sama orang tua!”
Sari tersentak.
Aku bisa merasakan tangannya mencengkeram ujung bajuku dari belakang.
Aku menahan diri.
Aku tidak ingin bertengkar dengan suara keras di depan bayi.
Aku menatap Ibu dan berkata pelan, “Kalau Ibu merasa saya kurang ajar karena bertanya kenapa istri saya kelaparan di rumah sendiri, berarti memang ada yang sangat salah.”
Ibu menatapku tajam.
“Kelaparan apanya? Dia makan tiap hari.”
“Minum susu?”
Diam.
“Makan buah?”
Diam lagi.
“Sayur?”
Ibu memalingkan wajah.
“Protein?”
Tidak ada jawaban.
Aku langsung berjalan ke lemari dapur.
Aku buka satu per satu pintunya.
Beras tinggal sedikit.
Telur hanya dua butir.
Di kulkas ada beberapa botol air, sambal, tempe setengah papan, sayur yang sudah layu, dan satu wadah kecil berisi sisa ikan goreng.
Aku semakin bingung.
Setiap minggu aku juga mentransfer uang belanja tambahan.
Belum lagi sembilan juta rupiah yang kuberikan kepada Ibu setiap awal bulan.
“Uangnya ke mana?”
Ibu langsung menatapku.
“Jangan bicara soal uang seolah Ibu mencuri!”
“Saya tidak bilang mencuri.”
“Tapi kamu menuduh!”
Aku mengeluarkan ponsel.
Tanganku gemetar, bukan karena takut, tetapi karena marah yang selama ini tidak pernah kurasakan kepada Ibu sendiri.
Aku membuka mutasi rekening.
Bulan lalu sembilan juta.
Bulan ini sembilan juta.
Belum termasuk transfer kecil lain ketika Ibu berkata popok habis, obat Sari perlu dibeli, gas habis, atau kebutuhan rumah meningkat.
Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang awalnya kupikir.
“Sari,” kataku tanpa memandangnya. “Kamu pernah pegang uang belanja selama di rumah?”
Sari menggeleng.
“Ibu bilang semua sudah diatur.”
“Obat setelah melahirkan?”
“Yang dari rumah sakit habis. Setelah itu aku cuma minum vitamin yang masih tersisa.”
Aku menoleh cepat.
“Kenapa tidak bilang?”
Mata Sari langsung penuh air.
“Aku sudah bilang ke Ibu.”
Aku memandang Ibu.
Ibu terlihat gugup.
“Sari itu terlalu manja. Sedikit-sedikit merasa sakit.”
Aku hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya napas pendek penuh kecewa.
“Dia habis melahirkan, Bu.”
“Semua perempuan juga melahirkan. Ibu dulu habis melahirkan kamu besoknya sudah nyuci sendiri.”
Kalimat itu membuat Sari semakin menunduk.
Tiba-tiba semuanya mulai terasa masuk akal.
Kenapa Sari tidak pernah mengeluh padaku.
Kenapa setiap kali kutanya apakah semuanya baik-baik saja, jawabannya selalu sama.
“Iya, Mas.”
Aku kira dia hanya lelah.
Ternyata mungkin selama ini dia dibuat merasa bahwa rasa sakitnya tidak penting.
Aku mendekati Sari.
“Kenapa kamu tidak cerita sama aku?”
Sari menatapku dengan wajah yang hancur.
“Aku pernah coba.”
Aku terdiam.
“Kapan?”
“Seminggu lalu.”
Aku mengernyit.
“Aku tidak ingat.”
Sari mengusap air matanya.
“Aku bilang badan sering lemas. Aku bilang mungkin aku kurang makan.”
Aku langsung teringat.
Malam itu aku sedang menyelesaikan laporan kantor melalui laptop.
Sari memang pernah berkata tubuhnya pusing setiap berdiri.
Dan aku, tanpa berpikir panjang, hanya menjawab, “Mungkin kamu kurang tidur. Besok bilang Ibu supaya dibuatkan makanan yang lebih bergizi.”
Dadaku langsung sesak.
Aku bahkan tidak mendengarkannya dengan benar.
Aku hanya menyerahkan semuanya kepada Ibu.
Seakan tanggung jawabku sebagai suami selesai begitu uang dikirim setiap bulan.
Sari melanjutkan dengan suara bergetar.
“Setelah itu Ibu bilang aku jangan terlalu banyak mengadu sama Mas.”
Aku menoleh kepada Ibu.
“Apa?”
Ibu langsung menyela.
“Jangan dipelintir. Ibu cuma bilang jangan bikin suami capek. Ardi kerja seharian.”
Sari menangis.
“Ibu juga bilang kalau aku terus mengeluh, Mas bisa bosan punya istri yang merepotkan.”
Ruangan itu mendadak terasa sangat sempit.
Aku menatap ibuku sendiri dan untuk pertama kalinya merasa tidak mengenal perempuan di depanku.
“Bu, Ibu bilang begitu?”
Ibu tidak menjawab.
“Ibu bilang begitu ke istri saya?”
Ia akhirnya berkata, “Ibu cuma ingin dia tahu diri.”
“Tahu diri?”
“Dia tinggal di rumah ini. Semua kebutuhan ditanggung kamu. Jangan sedikit-sedikit mengeluh.”
Aku menahan rahang.
“Rumah ini rumah saya dan Sari, Bu.”
Ibu terdiam.
Rumah ini memang kubeli dua tahun sebelum menikah. Setelah Sari melahirkan, Ibu datang untuk membantu dan tinggal sementara.
Entah sejak kapan posisi itu seperti terbalik.
Aku berjalan menuju kamar bayi.
Aku ingin memastikan anak kami baik-baik saja.
Sari mengikutiku.
Ketika masuk, aku melihat bayi kami sedang tidur.
Di samping tempat tidur bayi ada tumpukan baju yang belum dilipat.
Ada ember berisi pakaian kecil.
Aku langsung teringat suara Ibu beberapa menit lalu.
“Sari, pakaian bayi sudah dicuci belum?”
Aku menoleh.
“Kamu yang cuci semua ini?”
Sari ragu-ragu.

“Sebagian.”
“Sejak kapan?”
“Dari minggu pertama.”
Aku merasa kepalaku berdenyut.
“Kamu habis melahirkan dan tetap mencuci?”
Sari mengangguk kecil.
“Ibu bilang jangan malas.”
Aku menutup mata.
Di balikku terdengar langkah Ibu.
“Jangan berlebihan, Ardi. Cuma pakaian bayi. Ringan.”
Aku langsung berbalik.
“Keluar dulu, Bu.”
Ibu terkejut.
“Kamu mengusir Ibu?”
“Saya bilang keluar dari kamar dulu.”
Wajah Ibu memerah.
“Ini semua gara-gara perempuan itu.”
Aku langsung berdiri di depannya.
“Jangan pernah bicara tentang istri saya seperti itu lagi.”
Ibu membeku.
Aku juga membeku.
Seumur hidup, aku hampir tidak pernah membantahnya.
Mungkin itulah sebabnya wajahnya terlihat begitu terkejut.
Aku menarik napas panjang.
“Saya mau bicara baik-baik. Tapi bukan sekarang. Saya mau bawa Sari periksa.”
Ibu mendengus.
“Buang-buang uang.”
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
Anehnya, justru kalimat sederhana itu yang membuatku semakin yakin.
Aku mengambil dompet, beberapa pakaian bayi, dan meminta Sari bersiap.
Sari sempat menolak.
“Mas, bayinya gimana?”
“Kita bawa.”
“Jangan. Kasihan.”
“Aku tidak mau kamu sendirian di sini.”
Akhirnya kami pergi bertiga ke klinik ibu dan anak tidak jauh dari kompleks.
Dokter yang memeriksa Sari adalah perempuan sekitar empat puluhan bernama Dokter Mira.
Setelah pemeriksaan fisik dan beberapa pertanyaan, ekspresinya berubah serius.
“Berat badan turun cukup banyak setelah persalinan. Tekanan darah juga rendah.”
Aku langsung cemas.
“Berbahaya, Dok?”
“Kita perlu pemeriksaan darah. Tapi dari cerita Ibu Sari, asupan makan memang sangat kurang.”
Sari diam.
Dokter menatapku.
“Ibu menyusui membutuhkan energi dan nutrisi yang cukup. Apalagi tubuhnya masih dalam masa pemulihan.”
Aku menunduk.
Rasa bersalah mulai menghantam lebih keras.
Aku selalu merasa sudah menjadi suami yang bertanggung jawab karena bekerja dan memberikan uang.
Ternyata aku bahkan tidak tahu apakah istriku makan dengan layak.
Hasil pemeriksaan darah keluar sore itu.
Hemoglobin Sari rendah.
Dokter memberi obat dan suplemen serta menyarankan kontrol lanjutan.
Aku memesan makanan yang cukup untuknya sebelum kami pulang.
Sari makan perlahan.
Saat melihatnya menghabiskan sup ayam hangat, aku hampir tidak sanggup menatap.
Karena aku terus teringat mangkuk nasi dingin tadi.
Dalam perjalanan pulang, aku akhirnya bertanya.
“Sari, ceritakan semuanya.”
Ia terdiam lama.
Lalu perlahan ia mulai bercerita.
Sejak hari ketiga setelah pulang dari tempat bersalin, Ibu mulai membatasi makanan.
Katanya biaya rumah membengkak setelah ada bayi.
Sarapan Sari biasanya hanya teh hangat dan dua potong biskuit.
Siang ia makan nasi dengan tempe atau telur jika ada.
Malam ia sering mendapat lauk sisa.
Makanan yang kubeli setiap akhir pekan ternyata sebagian dibawa Ibu ke rumah kakakku, Bayu.
Buah, susu, bahkan beberapa paket daging pernah dibawa dengan alasan keponakanku juga membutuhkannya.
Aku langsung berhenti mengemudi di pinggir jalan.
“Kamu tahu itu?”
Sari mengangguk.
“Kenapa kamu diam?”
“Karena Ibu bilang itu uang Mas. Jadi Ibu berhak mengatur.”
Aku memejamkan mata.
“Lalu sembilan juta itu?”
Sari menggeleng.
“Aku benar-benar nggak tahu.”
Malamnya, setelah Sari dan bayi tidur, aku menelepon kakakku.
“Mas Bayu, aku mau tanya sesuatu.”
“Kenapa?”
“Beberapa minggu ini Ibu sering kasih belanjaan ke rumahmu?”
Bayu terdiam.
“Lah, iya. Kenapa?”
“Belanjaan apa?”
“Macam-macam. Susu, buah, daging, kadang uang juga.”
Dadaku langsung dingin.
“Uang?”
“Iya.”
“Berapa?”
Bayu terdengar mulai tidak nyaman.
“Ardi, ada masalah apa?”
“Jawab dulu.”
Ia menghela napas.
“Kadang satu juta, kadang dua juta.”
Aku menggenggam ponsel erat.
“Mas tahu itu uang yang aku kasih buat kebutuhan Sari?”
Di ujung sana langsung sunyi.
“Aku nggak tahu.”
Aku percaya itu.
Bayu tidak pernah tahu aku memberikan uang khusus kepada Ibu untuk merawat Sari.
Ia hanya mengira Ibu sedang berbagi.
“Mas, mulai sekarang kalau Ibu bawa sesuatu dari rumahku, tolong jangan diterima.”
“Ardi, sebenarnya ada apa?”
Aku menceritakan semuanya.
Bayu tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia hanya berkata, “Besok aku datang.”
Keesokan paginya, aku tidak masuk kantor.
Aku duduk bersama Ibu di ruang tamu.
Bayu juga datang bersama istrinya.
Sari berada di kamar bersama bayi.
Aku ingin masalah itu diselesaikan tanpa membuatnya semakin tertekan.
Aku meletakkan catatan transfer di meja.
“Dalam dua bulan terakhir saya transfer lebih dari dua puluh juta rupiah ke Ibu.”
Ibu terlihat kesal.
“Terus?”
“Saya mau tahu dipakai untuk apa.”
“Ya buat rumah.”
Aku sudah mencatat pengeluaran rumah.
Tagihan listrik kubayar sendiri.
Air kubayar sendiri.
Popok sering kubeli sendiri.
Susu bayi tidak diperlukan karena Sari menyusui.
Belanja dapur jauh lebih kecil daripada uang yang kuberikan.
Aku menatap Ibu.
“Saya tanya sekali lagi. Uangnya ke mana?”
Akhirnya Ibu meledak.
“Untuk keluarga juga!”
Aku terdiam.
Ibu mulai menangis.
“Bayu lagi kesulitan. Anak-anaknya butuh biaya sekolah. Ibu cuma bantu.”
Bayu langsung menyela.
“Bu, aku tidak pernah minta uang Ardi.”
“Kamu anak Ibu juga!”
“Tapi itu uang buat Sari!”
Ibu memukul paha sendiri.
“Semua ini gara-gara perempuan itu! Dulu sebelum Ardi menikah, dia selalu dengar kata Ibu. Sekarang uang sedikit saja dipermasalahkan.”
Aku merasa sakit mendengarnya.
Bukan karena marah saja.
Tetapi karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Bagi Ibu, mungkin Sari tidak pernah benar-benar dianggap keluarga.
Ia dianggap orang luar yang mengambil anaknya.
Aku berkata pelan, “Bu, masalahnya bukan soal uang sedikit atau banyak.”
“Lalu apa?”
“Ibu membiarkan istri saya kelaparan.”
“Jangan bilang kelaparan!”
“Dia makan kepala ikan dan tulang.”
“Itu masih makanan!”
Bayu langsung memejamkan mata.
Istrinya terlihat terkejut.
Aku berdiri.
Saat itu keputusanku sudah bulat.
“Mulai hari ini, Ibu tidak perlu lagi tinggal di sini.”
Semua orang langsung terdiam.
Ibu menatapku seolah tidak memahami kata-kataku.
“Apa?”
“Saya sudah pesan mobil. Nanti sore saya antar Ibu pulang ke rumah Ibu.”
“Ardi!”
“Saya tetap anak Ibu. Saya tetap akan membantu kebutuhan Ibu sesuai kemampuan saya. Tapi Ibu tidak akan lagi mengatur rumah tangga saya.”
Ibu menangis keras.
“Kamu mengusir ibu kandung demi istri?”
Aku menggeleng.
“Saya tidak memilih antara Ibu dan Sari.”
“Lalu ini apa?”
“Saya sedang menetapkan batas.”
Aku menatapnya lurus.
“Ibu adalah ibu saya. Sari adalah istri saya. Dua-duanya punya tempat masing-masing. Tapi ketika Ibu menyakiti istri saya, saya tidak bisa diam hanya karena Ibu melahirkan saya.”
Ruangan menjadi sunyi.
Bayu tidak mengatakan apa pun.
Aku melanjutkan.
“Satu hal lagi.”
Aku mengambil kartu ATM dari dompet.
“Mulai sekarang tidak ada lagi uang bulanan sembilan juta.”
Wajah Ibu langsung berubah.
“Kamu mau telantarkan Ibu?”
“Saya akan bayar langsung kebutuhan Ibu. Obat, listrik, atau belanja pokok kalau memang perlu. Tapi saya tidak akan memberikan uang dalam jumlah besar tanpa tahu penggunaannya.”
Ibu menatapku dengan campuran marah dan tidak percaya.
Yang mengejutkanku, Bayu justru berkata, “Aku setuju.”
Ibu menoleh kepadanya.
“Kamu juga?”
Bayu menarik napas.
“Bu, selama ini aku kira uang yang Ibu kasih itu uang Ibu sendiri. Kalau aku tahu itu hak Sari, aku tidak akan pernah terima.”
Ibu menangis.
Namun kali ini aku tidak berubah pikiran.
Sore harinya aku mengantar Ibu pulang ke rumah lamanya.
Sebelum turun dari mobil, Ibu tidak menatapku.
Ia hanya berkata, “Ibu tidak menyangka anak yang Ibu besarkan akan melakukan ini.”
Aku memegang setir.
“Aku juga tidak menyangka, Bu.”
Ia menoleh.
“Aku tidak menyangka istriku harus takut makan di rumahnya sendiri.”
Ibu terdiam.
Aku melanjutkan pelan.
“Aku tidak sedang berhenti jadi anak Ibu. Tapi aku harus mulai benar-benar menjadi suami dan ayah.”
Ibu turun tanpa menjawab.
Beberapa minggu setelah itu, rumah kami perlahan berubah.
Aku mengambil cuti beberapa hari.
Aku belajar mengurus bayi pada malam hari supaya Sari bisa tidur lebih lama.
Kami memakai jasa asisten rumah tangga harian untuk mencuci dan membersihkan rumah.
Makanan Sari aku atur sendiri bersama dokter dan ahli gizi.
Berat badannya perlahan mulai naik.
Wajahnya kembali memiliki warna.
Hal yang paling membuatku sedih adalah betapa lama waktu yang dibutuhkan Sari untuk berhenti meminta izin ketika ingin makan.
Suatu malam aku melihatnya membuka kulkas.
Ketika menyadari aku berdiri di belakangnya, tubuhnya langsung menegang.
“Aku cuma mau ambil yoghurt.”
Aku menahan napas.
Kemudian aku berkata, “Kenapa harus jelasin?”
Sari menatapku.
Aku membuka pintu kulkas lebih lebar.
“Ini rumah kamu. Semua yang ada di sini juga untuk kamu.”
Air matanya langsung jatuh.
Aku memeluknya.
Saat itulah aku benar-benar memahami luka yang tidak terlihat.
Luka bukan selalu berasal dari bentakan atau pukulan.
Kadang luka terbentuk dari hari-hari ketika seseorang terus dibuat merasa tidak berhak atas hal paling sederhana.
Makan.
Istirahat.
Mengeluh.
Merasa sakit.
Merasa aman di rumah sendiri.
Sekitar dua bulan kemudian, Ibu datang.
Tidak memberi kabar lebih dulu.
Ketika pintu kubuka, ia berdiri sambil membawa dua kantong belanja.
Aku sempat tegang.
Namun ia hanya berkata, “Ibu mau ketemu Sari.”
Aku tidak langsung membiarkannya masuk.
“Ada apa?”
Ibu menunduk.
“Kalau dia tidak mau ketemu, Ibu akan pulang.”
Aku melihat wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi, ia tampak jauh lebih tua.
Aku masuk dan bertanya kepada Sari.
Sari diam cukup lama.
Lalu mengangguk.
Ibu duduk di ruang tamu.
Ia tidak menyentuh bayi.
Tidak banyak bicara.
Hanya meletakkan dua kantong berisi buah, ikan segar, dan susu di meja.
Kemudian ia menatap Sari.
“Ibu mau minta maaf.”
Sari langsung menunduk.
Ibu melanjutkan.
“Ibu dulu merasa setelah Ardi menikah, Ibu kehilangan anak. Ibu marah sama keadaan. Tapi Ibu melampiaskannya ke kamu.”
Aku terkejut mendengarnya.
Ibu mengusap mata.
“Ibu pikir karena dulu hidup Ibu susah setelah melahirkan, kamu juga harus kuat dengan cara yang sama.”
Sari perlahan menatapnya.
“Tapi ternyata susah yang Ibu alami bukan alasan untuk membuat orang lain mengalami susah yang sama.”
Ruangan menjadi sunyi.
Ibu menangis.
“Maaf.”
Sari tidak langsung memaafkan.
Dan aku senang ia tidak melakukannya hanya karena merasa harus.
Ia hanya berkata, “Aku butuh waktu, Bu.”
Ibu mengangguk.
“Ibu mengerti.”
Hubungan kami tidak langsung kembali seperti dulu.
Mungkin memang tidak akan pernah sama.
Namun perlahan semuanya menjadi lebih sehat.
Ibu tidak lagi datang tanpa kabar.
Ia tidak lagi ikut campur soal uang rumah tangga.
Aku juga tetap membantunya, tetapi dengan batas yang jelas.
Yang paling berubah justru diriku sendiri.
Dulu aku pikir menjadi suami yang baik berarti bekerja keras, membawa uang pulang, dan memastikan semua kebutuhan terpenuhi.
Sekarang aku tahu, uang tidak pernah bisa menggantikan kehadiran.
Kepercayaan juga tidak berarti menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain lalu menutup mata.
Kadang orang yang paling dekat dengan kita justru bisa melakukan hal yang tidak pernah kita bayangkan.
Dan mencintai keluarga bukan berarti membiarkan semua hal demi menjaga kedamaian.
Kadang bentuk cinta yang paling sulit justru adalah keberanian mengatakan cukup.
Suatu pagi, beberapa bulan setelah kejadian itu, aku masuk ke dapur dan melihat Sari sedang makan.
Di depannya ada nasi hangat, sup ikan, tumis sayur, buah, dan segelas susu.
Ia menatapku lalu tersenyum.
“Mas mau?”
Aku tertawa kecil.
“Nggak. Itu buat kamu.”
Sari menggeleng.
“Di rumah ini nggak ada lagi makanan yang harus dimakan diam-diam, kan?”
Aku terdiam.
Lalu aku duduk di sebelahnya.
“Nggak ada.”
Aku menggenggam tangannya.
“Dan nggak akan pernah ada lagi.”
