Aku menatap Nisa dan Reza bergantian.
Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab.
Kamar itu terasa jauh lebih sempit daripada beberapa menit sebelumnya. Udara seolah berhenti bergerak. Bahkan suara kipas angin di sudut kamar terdengar seperti dengungan yang menekan kepala.
“Nisa,” ulangku, kali ini lebih tegas. “Apa yang kalian sembunyikan dariku?”
Nisa menundukkan wajah.
Reza menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Rani, dengarkan aku dulu,” katanya.
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Justru karena kalimat semacam itu adalah kalimat yang paling tidak ingin kudengar dari seorang suami pada pukul setengah tiga pagi ketika dia baru saja ketahuan berbisik dengan istri adik iparnya.
“Jangan suruh aku tenang,” kataku. “Jawab saja.”
Reza menatap Nisa.
Sekali lagi.
Tatapan singkat itu membuat emosiku semakin memuncak.
“Aku keluar,” kataku.
Aku turun dari tempat tidur dan hendak mengambil ponsel di atas meja.
Namun Nisa tiba-tiba meraih pergelangan tanganku.
“Kak, jangan panggil Ardi.”
Aku langsung menoleh.
Wajahnya pucat pasi.
Tangannya gemetar hebat.
Kalimat itu mengubah semuanya.
Aku perlahan menarik tanganku dari genggamannya.
“Kenapa aku tidak boleh memanggil suamimu?”
Nisa membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Reza akhirnya berdiri.
“Karena justru Ardi masalahnya.”
Aku membeku.
“Apa?”
Reza menatapku lurus.
“Selama ini Nisa tidur di kamar kita bukan karena takut tempat asing. Dia takut tidur satu kamar dengan Ardi.”
Aku kembali menatap Nisa.
Dia sudah menangis tanpa suara.
Air mata mengalir di pipinya.
Aku membutuhkan beberapa detik untuk memahami kalimat Reza.
“Takut?” tanyaku. “Takut kenapa?”
Nisa langsung menutup wajahnya.
Bahu perempuan itu berguncang.
Aku duduk kembali di tepi tempat tidur.
Semua rasa cemburu yang beberapa detik lalu membakar dadaku perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang lebih dingin.
Lebih menakutkan.
“Nisa,” kataku pelan. “Lihat aku.”
Dia tidak langsung menurut.
Aku menunggu.
Akhirnya dia menurunkan tangannya.
Di bawah cahaya samar dari jendela, aku baru benar-benar melihat ada bekas kebiruan kecil di bagian bawah rahangnya.
Selama ini selalu tertutup rambut.
Jantungku langsung tenggelam.
“Itu apa?”
Nisa buru-buru menutupi bagian tersebut.
Namun sudah terlambat.
Aku meraih lampu meja dan menyalakannya.
Nisa refleks menyipitkan mata.
Dan saat ruangan menjadi terang, semuanya seakan terlihat jelas untuk pertama kalinya.
Ada memar di pergelangan tangannya.
Ada bekas garis kemerahan di lengan atas.
Aku teringat bagaimana beberapa hari terakhir dia selalu memakai baju lengan panjang meski Bandung sedang cukup panas pada siang hari.
“Nisa…”
Suaraku berubah.
“Ardi melakukan ini?”
Nisa menggigit bibir.
Kemudian perlahan mengangguk.
Aku merasa seperti baru saja ditampar.
“Sejak kapan?”
“Dua bulan setelah menikah.”
Jawabannya begitu pelan sampai nyaris tak terdengar.
Aku menoleh pada Reza.
“Dan kamu tahu?”
Reza mengangguk.
“Kapan?”
“Tiga malam lalu.”
Aku berdiri begitu cepat hingga kursi di dekat meja tersenggol.
“Tiga malam?”
“Rani, dengarkan dulu.”
“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?”
“Nisa yang memohon.”
Aku menatapnya dengan marah.
Reza melanjutkan.
“Tiga malam lalu aku bangun karena Nisa menangis. Kamu sedang tidur. Dia bilang Ardi mengancam akan menyakitinya kalau dia bercerita kepada siapa pun.”
Aku menoleh lagi kepada Nisa.
“Lalu kenapa sejak malam pertama kamu sudah tidur di sini?”
Nisa menelan ludah.
“Karena sebelum datang ke rumah Kakak, Ardi pernah mencekikku.”
Tubuhku terasa dingin.
Dia memegang lehernya perlahan.
“Bukan sampai aku pingsan. Tapi… dia bilang kalau aku berani mempermalukannya di depan keluarga, lain kali dia tidak akan berhenti.”
Air mata Nisa kembali jatuh.
“Waktu Ardi bilang kami akan tinggal di rumah Kakak selama beberapa minggu, aku pikir itu kesempatan buatku mencari jalan keluar.”
Aku hampir tidak percaya.
Adikku sendiri.
Anak laki-laki yang dulu selalu bersembunyi di belakangku kalau dimarahi Ayah.
Anak yang pernah menangis semalaman saat kucing peliharaan kami mati.
Bagaimana mungkin dia menjadi seseorang yang membuat istrinya takut tidur di sebelahnya?

“Kenapa tidur di tengah kami?” tanyaku.
Nisa menyeka air matanya.
“Kalau aku tidur dekat Kakak saja, Ardi mungkin masih berani menarikku keluar saat semua orang sudah tidur.”
Dia berhenti.
“Tapi kalau aku berada tepat di antara Kakak dan Mas Reza, dia tidak akan berani.”
Aku menunduk.
Tiba-tiba semua kejadian selama hampir dua minggu terakhir terasa berbeda.
Ketukan pintu.
Wajah sembap Nisa.
Tubuhnya yang menegang setiap kali Ardi memanggil.
Alasan-alasan aneh.
Semuanya ternyata bukan kebiasaan ganjil.
Itu strategi seseorang untuk bertahan.
“Kenapa tidak cerita sejak awal?” tanyaku.
Nisa terisak.
“Karena dia adik Kakak.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada apa pun.
“Aku takut Kakak tidak percaya.”
Aku tidak mampu menjawab.
Karena sebagian diriku tahu ketakutannya masuk akal.
Berapa kali dalam hidup kita lebih cepat membela keluarga sendiri daripada orang luar?
Berapa kali kita berkata, “Dia tidak mungkin seperti itu,” hanya karena kita mengenal seseorang sejak kecil?
Reza duduk di sampingku.
“Malam ini Nisa sebenarnya bilang dia mau pergi besok pagi.”
Aku menoleh.
“Pergi ke mana?”
“Ke rumah temannya di Garut.”
Nisa mengangguk.
“Tadi malam Ardi bilang rumah kontrakan kami sudah siap lebih cepat. Dia mau pindah lusa.”
Matanya kembali penuh ketakutan.
“Aku tidak mau ikut.”
Saat itulah terdengar suara langkah dari lorong.
Semua orang langsung diam.
Langkah itu mendekat.
Kemudian gagang pintu bergerak.
Untungnya pintu kamar terkunci.
Tok. Tok.
“Kak?”
Suara Ardi.
Aku merasakan Nisa langsung merapat ke sisi tempat tidur.
“Kak, kalian belum tidur?”
Tidak ada yang menjawab.
Ardi mengetuk lagi.
“Nisa ada di dalam?”
Aku berdiri.
Reza langsung memegang lenganku.
Namun aku menggeleng.
“Tidak bisa terus begini.”
Aku berjalan ke pintu.
Sebelum membukanya, aku menoleh kepada Nisa.
“Kalau aku buka pintu, kamu mau aku bilang apa?”
Wajahnya penuh ketakutan.
Tetapi beberapa detik kemudian, dia menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal di rumahku, aku melihat keberanian muncul di matanya.
“Katakan aku tidak akan pulang dengannya.”
Aku membuka pintu.
Ardi berdiri di luar mengenakan kaus hitam dan celana pendek.
Wajahnya awalnya biasa saja.
Namun ketika melihat Nisa duduk di tempat tidur, ekspresinya berubah.
“Nisa,” katanya. “Ayo ke kamar.”
Nisa tidak bergerak.
“Ayo.”
Nada suaranya sedikit lebih keras.
Aku berdiri di ambang pintu.
“Dia tidak mau.”
Ardi menatapku.
“Apa?”
“Nisa tidak mau kembali ke kamar.”
Wajahnya menegang.
Kemudian dia tersenyum tipis.
Senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kak, ini masalah suami istri.”
“Kalau istrimu sampai takut tidur satu ruangan denganmu, itu bukan sekadar masalah suami istri.”
Senyumnya menghilang.
Matanya langsung beralih kepada Nisa.
“Kamu cerita?”
Nisa mengecilkan tubuhnya.
Aku bergerak menutupi pandangannya.
“Lihat aku, Ardi.”
Adikku tertawa kecil.
“Jadi sekarang Kakak percaya begitu saja?”
Aku tidak menjawab.
Dia melanjutkan.
“Nisa itu kalau marah suka berlebihan. Aku cuma pernah menarik tangannya sekali.”
“Memarnya ada di leher.”
Ardi terdiam.
“Dia bilang kamu pernah mencekiknya.”
“Itu kecelakaan.”
Aku merasa mual mendengar betapa mudahnya dia mengatakannya.
“Kecelakaan?”
“Dia histeris. Aku cuma menahannya.”
Dari belakangku, terdengar suara Nisa.
“Bohong.”
Kami semua menoleh.
Nisa berdiri.
Tubuhnya masih gemetar, tapi suaranya lebih jelas.
“Kamu mencekikku karena aku menolak memberikan gajiku.”
Aku menatap Ardi.
Dia langsung menggeleng.
“Jangan dramatis.”
Nisa mulai menangis.
“Kamu mengambil kartu ATM-ku sejak bulan pertama menikah. Kamu menjual gelang pemberian ibuku. Kamu pinjam uang memakai namaku.”
Aku seperti jatuh ke lubang yang lebih dalam.
“Apa?”
Ardi berusaha melewati aku.
“Nisa, berhenti bicara.”
Reza langsung berdiri di depannya.
“Jangan mendekat.”
Ardi menatap Reza tajam.
“Oh, sekarang Kak Reza pahlawannya?”
Situasi mulai memanas.
Suara gaduh akhirnya membangunkan Ibu.
Beliau keluar dari kamar dengan wajah kebingungan.
“Ada apa ini?”
Aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Namun Nisa tiba-tiba berjalan keluar dari kamar kami.
Dia menghampiri Ibu.
Kemudian bersimpuh dan menangis di depan beliau.
“Bu, maafkan Nisa.”
Ibu panik.
“Kenapa, Nak?”
“Aku mau meninggalkan Ardi.”
Wajah Ibu langsung pucat.
Ardi mendengus.
“Nah, kan. Ini yang dia mau.”
Ibu menatapku.
Aku memegang bahunya.
“Bu, kita dengarkan Nisa dulu.”
Malam itu kami duduk di ruang keluarga sampai hampir subuh.
Nisa menceritakan semuanya.
Tentang Ardi yang mulai berubah setelah pernikahan.
Tentang utang pinjaman online yang disembunyikan.
Tentang kemarahannya setiap kali Nisa menolak memberi uang.
Tentang bagaimana dia memeriksa ponsel Nisa.
Melarangnya pergi sendirian.
Mengancam akan menyebarkan cerita buruk kepada keluarganya jika dia mencoba pulang.
Kemudian Nisa mengeluarkan sesuatu dari ponselnya.
Rekaman suara.
Ternyata selama sebulan terakhir dia diam-diam merekam beberapa pertengkaran mereka.
Suara Ardi terdengar jelas.
Ancaman.
Bentakan.
Bunyi benda dibanting.
Dalam satu rekaman bahkan terdengar Nisa menangis sambil meminta dilepaskan.
Ibu menangis.
Aku tidak pernah melihat wajah beliau sehancur itu.
Ardi hanya duduk membisu.
Ketika rekaman selesai, Ibu berkata pelan,
“Ardi, apakah itu suaramu?”
Ardi tidak menjawab.
“Jawab Ibu.”
“Iya.”
Satu kata itu seperti meruntuhkan sisa pembelaan yang mungkin masih ada.
Ibu berdiri.
Aku kira beliau akan memarahi Ardi.
Namun yang terjadi justru lebih menyakitkan.
Ibu menangis sambil berkata,
“Ibu membesarkanmu bukan untuk membuat perempuan takut hidup bersamamu.”
Ardi menunduk.
Untuk pertama kalinya, wajahnya kehilangan semua kesombongan.
Namun Nisa belum selesai.
“Ada satu hal lagi.”
Dia membuka tas kecilnya.
Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah amplop.
Isinya beberapa lembar surat tagihan.
Salah satunya mencantumkan alamat rumah kami.
Aku membacanya dengan tangan gemetar.
Ternyata Ardi bukan hanya memiliki utang pribadi.
Beberapa minggu sebelumnya, dia mencoba mengajukan pinjaman dengan menggunakan data Reza sebagai penjamin tanpa izin.
Reza langsung terkejut.
“Kamu dapat foto KTP-ku dari mana?”
Ardi tidak menjawab.
Aku kemudian teringat.
Beberapa bulan sebelumnya, Ardi pernah meminjam mobil kami dan KTP Reza tersimpan di laci dashboard.
Tiba-tiba aku memahami alasan lain mengapa Reza beberapa hari terakhir terlihat tegang.
Ternyata malam ketika Nisa pertama kali mengaku kepadanya, Nisa juga menunjukkan foto surat tersebut.
Reza diam-diam sudah menghubungi pihak terkait untuk memastikan permohonan itu belum berhasil diproses.
Jadi bisikan mereka malam tadi bukan tentang hubungan terlarang.
Mereka sedang membahas bagaimana membawa Nisa keluar dari rumah dengan aman sekaligus menyelesaikan masalah utang Ardi.
Aku menatap suamiku.
Rasa bersalah langsung memenuhi dadaku.
Beberapa jam lalu aku hampir menuduhnya melakukan sesuatu yang buruk.
Namun Reza hanya menggenggam tanganku.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Hanya kelelahan.
Pagi itu, keputusan akhirnya dibuat.
Nisa tidak pergi ke Garut sendirian.
Aku dan Reza mengantarnya langsung ke rumah kakak perempuannya.
Ibu ikut.
Ardi dilarang ikut.
Sebelum kami berangkat, dia berdiri di teras rumah.
Matanya merah.
“Kak.”
Aku berhenti.
“Bisa bicara sebentar?”
Aku menatapnya.
Adikku terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda.
“Aku memang salah,” katanya. “Tapi jangan biarkan dia pergi begitu saja. Aku bisa berubah.”
Aku menghela napas.
“Mungkin kamu memang bisa berubah.”
Matanya sedikit berbinar.
“Tapi Nisa tidak wajib tinggal dan mempertaruhkan keselamatannya hanya untuk membuktikan apakah perubahanmu benar atau tidak.”
Ardi diam.
“Kalau kamu benar-benar mau berubah, lakukan meski dia tidak kembali.”
Aku masuk ke mobil.
Tiga bulan kemudian, Nisa resmi mengajukan perceraian.
Dia juga membuat laporan mengenai kekerasan yang dialaminya dan berkonsultasi dengan pendamping hukum.
Ardi sempat marah.
Kemudian menyangkal.
Kemudian menyalahkan semua orang.
Namun akhirnya, ketika bukti-bukti utang dan rekaman tidak bisa lagi dihindari, dia berhenti melawan kenyataan.
Ibu memintanya menjalani konseling.
Untuk pertama kalinya, Ardi mengakui bahwa sejak kehilangan pekerjaan tetap beberapa bulan setelah menikah, dia terjebak utang dan merasa harga dirinya runtuh.
Alih-alih meminta bantuan, dia melampiaskan rasa gagal kepada orang yang paling dekat dengannya.
Penjelasan itu membuat kami memahami bagaimana semuanya bermula.
Tetapi tidak membuat perbuatannya menjadi benar.
Hampir setahun kemudian, aku bertemu Nisa di sebuah kafe di Bandung.
Wajahnya berbeda.
Bukan karena riasan atau pakaian.
Ada ketenangan yang dulu tidak pernah kulihat.
Dia sudah bekerja lagi.
Sudah menyewa kamar kos kecil dekat kantornya.
Dan yang membuatku tersenyum, dia berkata sekarang sangat menyukai tidur sendirian.
“Dulu aku pikir tidur sendirian itu menakutkan,” katanya sambil tertawa kecil.
“Sekarang?”
“Sekarang justru terasa damai.”
Aku menatapnya lama.
Kemudian teringat tiga belas malam ketika dia tidur di tengah-tengah aku dan Reza.
Saat itu aku mengira dia sedang mengganggu rumah tanggaku.
Aku sempat curiga.
Sempat kesal.
Bahkan hampir membenci kebiasaannya.
Padahal tanpa kusadari, setiap malam dia datang ke kamar kami bukan untuk mengambil tempatku.
Dia hanya sedang mencari satu tempat di rumah itu di mana dia yakin tidak akan disakiti.
Sebelum kami berpisah hari itu, Nisa menggenggam tanganku.
“Kak, tahu tidak hal yang paling kutakutkan waktu itu?”
“Apa?”
“Bukan Ardi.”
Aku mengernyit.
“Lalu?”
“Aku takut Kakak tidak percaya.”
Dadaku langsung terasa sesak.
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
Dan sejak hari itu, aku belajar sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
Kadang seseorang tidak mengatakan bahwa dia sedang berada dalam bahaya.
Dia hanya mengetuk pintu kita setiap malam.
Mencari alasan untuk tetap dekat.
Tersenyum ketika sebenarnya ingin menangis.
Dan berharap kita cukup peduli untuk bertanya sekali lagi.
Bukan dengan rasa curiga.
Melainkan dengan keberanian untuk benar-benar mendengarkan.
