SUAMIKU MENELEPONKU 47 KALI, MEMAKSAKU MELAYANI IBUNYA SAAT KAKIKU MASIH DIGIPS.

Pagi berikutnya, Dimas Pratama datang ke kantor dengan langkah tergesa-gesa dan wajah kusut.

Semalaman ia hampir tidak tidur.

Bukan karena memikirkan kondisi Nadira, melainkan karena kemarahannya sendiri.

Pesan-pesan yang ia kirim tidak pernah dibalas. Panggilannya juga tidak diangkat. Bahkan ketika Bu Ratna berulang kali menyuruhnya membawa Nadira pulang dan meminta maaf di depan keluarga besar, Dimas justru semakin merasa harga dirinya diinjak.

“Kalau dia pulang nanti, jangan langsung dimaafkan,” kata Bu Ratna pagi itu sebelum Dimas berangkat. “Perempuan kalau sekali berani melawan, lama-lama naik kepala.”

Dimas hanya mengangguk.

Dalam pikirannya, masalah itu sederhana.

Nadira sedang marah.

Nanti juga reda.

Empat tahun pernikahan telah membuat Dimas terlalu yakin bahwa istrinya akan selalu kembali.

Selama ini, sebanyak apa pun ia meninggikan suara, Nadira tetap memasak makan malam.

Sebanyak apa pun ibunya menyindir, Nadira tetap mengantarkan obat.

Bahkan ketika Dimas pernah lupa ulang tahun pernikahan mereka karena menghadiri makan malam dengan klien, Nadira hanya tersenyum dan berkata bahwa ia mengerti.

Karena itulah Dimas tidak pernah benar-benar percaya ketika Nadira mengatakan ingin bercerai.

Menurutnya, itu hanya ancaman dari seorang perempuan yang sedang emosional.

Begitu tiba di kantor PT Cakrawala Teknologi Indonesia di Surabaya Barat, Dimas langsung merasakan suasana yang tidak biasa.

Beberapa staf berdiri dekat lift dengan wajah tegang.

Pintu ruang keuangan terbuka lebar.

Dua orang yang tidak ia kenal sedang memeriksa tumpukan dokumen.

Di depan ruang rapat utama, sekretarisnya, Livia, berdiri sambil memegang tablet.

“Ada apa?” tanya Dimas.

Livia menelan ludah.

“Pak Hendra datang dari kantor pusat sejak pagi, Pak.”

Dimas berhenti melangkah.

“Hendra Wijaya?”

“Iya.”

“Kenapa tidak ada pemberitahuan?”

“Saya juga baru tahu tadi pagi. Tim audit internal ikut datang.”

Dimas mengerutkan kening.

“Audit?”

Livia mengangguk pelan.

Dimas berusaha tetap tenang.

Sebagai Direktur Regional, pemeriksaan bukan hal baru. Namun audit mendadak dari perusahaan induk tanpa pemberitahuan sangat jarang terjadi.

Ia berjalan cepat menuju ruang rapat.

Begitu masuk, ia melihat Hendra duduk di ujung meja.

Di sampingnya ada tiga orang dari divisi audit, seorang kepala legal, dan dua staf keuangan.

“Pak Hendra.”

Dimas memaksakan senyum.

“Kalau saya tahu Bapak datang, saya pasti menyiapkan penyambutan.”

Hendra tidak membalas senyumnya.

“Tidak perlu.”

Nada suaranya datar.

“Kami tidak datang untuk disambut.”

Suasana ruangan langsung terasa lebih dingin.

Dimas menarik kursi.

“Ada masalah?”

Hendra membuka sebuah map.

“Kami menemukan sejumlah pengeluaran yang perlu penjelasan.”

Dokumen pertama didorong ke hadapan Dimas.

Penggunaan kendaraan operasional untuk perjalanan keluarga.

Dokumen kedua.

Biaya restoran yang dicatat sebagai jamuan klien, padahal salah satu tanggalnya bertepatan dengan ulang tahun Bu Ratna.

Dokumen ketiga.

Pembelian perangkat elektronik bernilai puluhan juta rupiah menggunakan anggaran kantor regional.

Wajah Dimas perlahan berubah.

“Itu semua bisa dijelaskan.”

“Tentu,” jawab Hendra.

“Kami memang ingin mendengar penjelasan.”

Dimas mulai memberikan alasan satu per satu.

Beberapa pengeluaran disebut sebagai kebutuhan relasi.

Sebagian lagi dikatakan sebagai kesalahan pencatatan staf.

Namun semakin banyak dokumen yang dikeluarkan, semakin berat napasnya.

Salah satu auditor kemudian membuka laporan lain.

“Pak Dimas juga menyetujui pengadaan jasa konsultasi dari PT Manggala Solusi?”

“Iya.”

“Perusahaan itu milik siapa?”

“Vendor eksternal.”

Auditor menatapnya.

“Direkturnya adalah sepupu Anda.”

Dimas terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, ekspresinya benar-benar berubah.

Hendra menyandarkan punggung.

“Kami belum membuat kesimpulan.”

“Bagus,” kata Dimas cepat. “Karena semua keputusan saya untuk kepentingan perusahaan.”

Hendra mengangguk.

“Kalau memang begitu, Anda tidak perlu khawatir.”

Dimas mencoba tersenyum.

Namun telepon di sakunya bergetar.

Bu Ratna.

Ia mematikan panggilan.

Beberapa detik kemudian masuk pesan.

Nadira belum pulang. Telepon dia. Suruh dia segera datang. Tante Mira masih di rumah dan terus bertanya.

Dimas menghela napas kasar.

Hendra memperhatikannya.

“Ada masalah pribadi?”

“Tidak penting.”

Jawaban itu membuat Hendra menatapnya sedikit lebih lama.

Sekitar satu jam kemudian, pintu ruang rapat terbuka.

Semua orang spontan menoleh.

Seorang perempuan masuk menggunakan kursi roda.

Kaki kirinya terbungkus gips.

Di sampingnya berjalan Sinta Mahardika, pengacara yang cukup dikenal di Surabaya, dan Kirana yang mendorong kursi roda dari belakang.

Wajah Dimas seketika pucat.

“Nadira?”

Ia berdiri.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

Nadira mengenakan kemeja putih sederhana dan blazer abu-abu. Luka kecil masih terlihat di pelipisnya.

Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kelemahan.

Ia memandang Dimas seperti sedang melihat orang asing.

“Aku datang untuk sebuah rapat.”

Dimas tertawa pendek karena gugup.

“Rapat?”

Ia menatap Hendra.

“Pak, maaf. Ini istri saya. Kemarin dia kecelakaan dan mungkin masih emosional.”

Tidak seorang pun menjawab.

Dimas lalu mendekati kursi roda Nadira.

“Kita bicarakan di rumah.”

Nadira mengangkat tangan.

“Jangan sentuh aku.”

Dimas membeku.

Hendra berdiri.

Kemudian ia menarik sebuah kursi di sisi kanan meja.

“Silakan, Bu Nadira.”

Dimas menatapnya.

Kata “Bu” dalam ucapan Hendra terdengar berbeda.

Terlalu formal.

Terlalu menghormati.

Nadira mengangguk.

“Terima kasih, Pak Hendra.”

Kirana mendorong kursi roda Nadira ke ujung meja.

Bukan ke sisi tamu.

Melainkan tepat ke kursi yang biasanya ditempati pimpinan tertinggi dalam rapat perusahaan.

Dimas semakin bingung.

“Pak Hendra, sebenarnya apa ini?”

Hendra menatap seluruh peserta rapat.

“Karena audit ini berkaitan langsung dengan keputusan strategis pemegang kendali, saya rasa sudah waktunya semua pihak mengetahui satu hal.”

Dimas menoleh ke Nadira.

Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan.

Hendra melanjutkan.

“PT Cakrawala Teknologi Indonesia dimiliki mayoritas oleh PT Arunika Investama.”

Dimas mengangguk cepat.

“Itu semua orang di level direksi tahu.”

“Benar.”

Hendra berhenti sejenak.

“Yang mungkin belum Anda tahu adalah struktur kepemilikan PT Arunika Investama.”

Ruangan hening.

Dimas mencoba tertawa.

“Apa hubungannya dengan istri saya?”

Hendra menatap tepat ke matanya.

“Pemilik tunggal PT Arunika Investama adalah Ibu Nadira Ayuningtyas.”

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Dimas bahkan tidak langsung bereaksi.

Seolah-olah otaknya menolak memahami kalimat yang baru saja didengar.

Kemudian ia tertawa.

Namun tawanya terdengar kering.

“Tidak mungkin.”

Tidak ada seorang pun ikut tertawa.

“Pak Hendra, Anda bercanda?”

Hendra mendorong sebuah dokumen legal ke tengah meja.

“Ini akta kepemilikan terakhir, data administrasi korporasi, dan struktur pengendalian perusahaan.”

Tangan Dimas mulai gemetar.

Ia mengambil dokumen itu.

Matanya bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya.

Nama Nadira tercetak jelas.

Persentase kepemilikan.

Hak kendali.

Tanda tangan notaris.

Semuanya sah.

“Tidak.”

Dimas menggeleng.

“Ini tidak mungkin.”

Ia menatap Nadira.

“Kamu bilang keluargamu cuma punya usaha kecil.”

Nadira menatapnya tenang.

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

“Kamu bilang pekerjaanmu hanya mengurus investasi keluarga.”

“Benar.”

“Ini bukan mengurus investasi.”

Suara Dimas mulai meninggi.

“Kamu pemilik perusahaan!”

“Dan kamu tidak pernah tertarik bertanya lebih jauh.”

Dimas terdiam.

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan.

Selama empat tahun, ia memang tidak pernah sungguh-sungguh ingin tahu.

Ia hanya tahu Nadira punya penghasilan sendiri.

Namun karena Nadira tidak pernah memamerkan jabatan, tidak pernah membawa sopir, tidak pernah menyebut nilai aset, Dimas menganggap penghasilan istrinya biasa-biasa saja.

Bahkan beberapa kali ia pernah membanggakan gajinya di depan Nadira.

Pernah suatu malam, Dimas berkata dengan nada merendahkan, “Kamu beruntung menikah denganku. Tidak semua perempuan bisa hidup di Citraland dan naik Pajero.”

Sekarang ia baru menyadari bahwa rumah di Citraland dibeli melalui perusahaan investasi milik Nadira.

Pajero itu juga tercatat atas nama salah satu entitas keluarga Nadira.

Bahkan rekening bersama yang berisi Rp1,8 miliar sebagian besar berasal dari transfer rekening pribadi Nadira untuk dana darurat rumah tangga.

Dimas menjatuhkan tubuh ke kursi.

“Aku suamimu.”

Nadira tidak menjawab.

“Aku suamimu,” ulang Dimas, kali ini lebih pelan. “Kenapa kamu menyembunyikan semua ini?”

Nadira tersenyum pahit.

“Aku tidak menyembunyikan siapa diriku.”

Ia menatap Dimas lurus-lurus.

“Aku hanya ingin tahu apakah seseorang bisa mencintaiku tanpa tertarik pada apa yang kumiliki.”

Dimas tidak mampu menjawab.

“Empat tahun lalu, ketika kamu melamarku, aku berpikir aku menemukan jawabannya.”

Nadira menarik napas.

“Ternyata aku salah.”

Wajah Dimas berubah.

“Nadira, jangan campur masalah rumah tangga dengan pekerjaan.”

“Justru aku sedang memisahkannya.”

Nadira memberi isyarat kepada Sinta.

Sinta mengeluarkan sebuah map cokelat.

“Ini salinan permohonan gugatan cerai yang akan didaftarkan hari ini.”

Dimas langsung berdiri.

“Kamu serius?”

“Sejak semalam.”

“Nadira.”

Nada suaranya berubah drastis.

Tidak lagi keras.

Tidak lagi penuh perintah.

Sekarang terdengar takut.

“Kemarin aku sedang tertekan karena Ayah meninggal.”

Nadira menatapnya.

“Ayahmu meninggal tiga hari lalu.”

Dimas terdiam.

“Aku datang sejak hari pertama. Aku mengurus konsumsi, tamu, bunga, kebutuhan pemakaman, semuanya.”

Suara Nadira tetap tenang.

“Kemarin aku kecelakaan saat keluar membeli obat untuk ibumu.”

Dimas membeku.

Bu Ratna memang sempat meminta Nadira membeli obat tekanan darah.

Dimas tidak tahu bahwa kecelakaan itu terjadi dalam perjalanan kembali.

Atau mungkin ia memang tidak pernah bertanya.

“Aku meneleponmu karena rumah penuh tamu,” katanya pelan.

“Kamu meneleponku empat puluh tujuh kali.”

Nadira tersenyum tipis.

“Bukan sekali untuk bertanya apakah aku masih hidup.”

Semua orang di ruangan terdiam.

Bahkan para auditor menundukkan pandangan.

Dimas mengepalkan tangan.

“Aku bisa berubah.”

Nadira tidak langsung menjawab.

Lalu ia berkata, “Mungkin.”

Mata Dimas sedikit bersinar.

Namun Nadira melanjutkan.

“Tapi aku tidak berkewajiban menunggu perubahan itu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada apa pun.

Beberapa menit kemudian, rapat kembali dilanjutkan.

Dimas diwajibkan menyerahkan akses persetujuan keuangan sampai audit selesai.

Ia juga dinonaktifkan sementara dari jabatan Direktur Regional.

Namun Nadira menegaskan satu hal.

“Jangan pecat dia hanya karena dia suamiku.”

Dimas menatapnya kaget.

“Proses semuanya berdasarkan bukti.”

Hendra mengangguk.

“Kalau audit menyatakan pelanggarannya tidak cukup untuk pemutusan kerja, ikuti prosedur perusahaan. Kalau ada pelanggaran serius, lakukan sesuai peraturan.”

Dimas memandang Nadira dengan ekspresi sulit dibaca.

“Kamu tidak mau menghancurkanku?”

Nadira menoleh.

“Aku tidak perlu menghancurkanmu.”

Ia berhenti sejenak.

“Kamu sudah cukup banyak membuat keputusan sendiri. Sekarang biarkan konsekuensinya bekerja.”

Dua hari kemudian, Nadira keluar dari rumah sakit.

Ia tidak kembali ke rumah Citraland.

Kirana membawanya ke sebuah apartemen milik Nadira sendiri di kawasan pusat Surabaya.

Sementara itu, kondisi Dimas semakin memburuk.

Audit menemukan beberapa ketidaksesuaian pengeluaran, tetapi tidak sampai kategori penggelapan besar.

Namun konflik kepentingan dalam pemilihan vendor terbukti.

Perusahaan akhirnya menurunkan Dimas dari posisi direktur regional menjadi kepala divisi nonmanajerial sambil memberikan sanksi administrasi.

Bagi seseorang yang selama bertahun-tahun membangun harga dirinya dari jabatan, keputusan itu terasa seperti kejatuhan besar.

Lebih buruk lagi, kabar mengenai siapa Nadira sebenarnya akhirnya sampai kepada Bu Ratna.

Malam itu, Bu Ratna datang ke apartemen Nadira.

Ia membawa dua kotak makanan dan wajah yang sangat berbeda dari biasanya.

“Nadira.”

Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar lembut.

“Ibu boleh masuk?”

Nadira menatapnya dari kursi dekat ruang tamu.

“Silakan.”

Bu Ratna duduk.

Matanya beberapa kali melihat sekeliling apartemen.

Kemudian ia menangis.

“Ibu salah.”

Nadira terdiam.

“Ibu tidak tahu kamu selama ini…”

Bu Ratna tidak menyelesaikan kalimatnya.

Nadira justru tersenyum kecil.

“Kalau Ibu tahu sejak awal saya kaya, apakah Ibu akan memperlakukan saya lebih baik?”

Pertanyaan itu membuat Bu Ratna kehilangan kata-kata.

“Bukan begitu maksud Ibu.”

“Justru itu yang ingin saya tahu.”

Nadira menatapnya.

“Apakah saya pantas dihormati karena saya punya perusahaan, atau karena saya manusia?”

Bu Ratna menunduk.

Tangisnya berhenti.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.

Sebelum pulang, Bu Ratna meninggalkan makanan di meja.

Nadira tidak menyentuhnya.

Bukan karena dendam.

Melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa tidak semua permintaan maaf perlu mengubah keputusan.

Tiga bulan kemudian, perceraian mereka resmi diputus.

Pembagian aset berjalan jauh berbeda dari ancaman Dimas di rumah sakit.

Rumah Citraland kembali sepenuhnya kepada Nadira karena dibeli dari dana pribadinya sebelum sebagian kepemilikan dialihkan untuk kepentingan keluarga.

Pajero bukan milik Dimas.

Dana dalam rekening bersama dibagi berdasarkan asal dan kontribusi yang dapat dibuktikan.

Dimas pergi dengan bagian yang memang secara hukum menjadi haknya.

Tidak kurang.

Tidak lebih.

Hari setelah putusan perceraian, Dimas meminta bertemu.

Mereka duduk di sebuah kafe di Jalan Darmo.

Dimas terlihat lebih kurus.

Tidak ada jam tangan mahal di tangannya.

Tidak ada lagi sikap arogan yang dahulu begitu mudah muncul.

“Aku pernah benar-benar mencintaimu,” katanya.

Nadira mengaduk kopinya perlahan.

“Aku tahu.”

Dimas menatapnya kaget.

“Kalau begitu kenapa rasanya semua ini begitu mudah bagimu?”

Nadira tersenyum kecil.

“Tidak mudah.”

Ia menatap keluar jendela.

“Aku hanya sudah berduka atas pernikahan kita jauh sebelum surat cerainya dibuat.”

Dimas menunduk.

Beberapa saat kemudian ia bertanya, “Kenapa dulu kamu menikah denganku kalau kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih kaya, lebih sukses, siapa pun?”

Nadira diam cukup lama.

“Karena waktu itu kamu pernah memperlakukanku seperti aku cukup.”

Dimas mengangkat wajah.

“Sayangnya, setelah menikah, kamu mulai memperlakukanku seperti aku berutang hidup kepadamu.”

Dimas tidak menjawab lagi.

Mereka berpisah tanpa pelukan.

Tanpa janji.

Tanpa kata akan berteman.

Hanya dua orang yang akhirnya menerima bahwa sebuah hubungan memang bisa berakhir tanpa harus ada pemenang.

Enam bulan setelah perceraian, Nadira kembali aktif penuh di Arunika Investama.

Namun ia membuat satu perubahan yang mengejutkan Hendra.

Ia membentuk program perlindungan dan bantuan hukum bagi karyawan perempuan yang mengalami kekerasan rumah tangga, tekanan ekonomi, atau pelecehan dalam keluarga.

Program itu tidak pernah diberi nama Nadira.

Tidak ada foto dirinya.

Tidak ada publikasi besar.

Ketika Hendra bertanya mengapa, Nadira hanya berkata, “Karena bantuan tidak seharusnya membuat penerimanya merasa berutang.”

Pada suatu sore, setelah rapat direksi selesai, Nadira berjalan keluar dari gedung menggunakan tongkat.

Gipsnya sudah dilepas beberapa minggu sebelumnya.

Bekas luka di betis masih terlihat.

Kirana menunggunya di lobi.

“Kakimu bagaimana?”

“Lebih baik.”

“Kamu menyesal?”

Nadira berhenti.

“Menyesal soal apa?”

“Empat tahun itu.”

Nadira berpikir sejenak.

Lalu menggeleng.

“Tidak.”

Kirana menatapnya heran.

Nadira tersenyum.

“Kalau aku tidak pernah hidup seperti itu, mungkin aku tidak akan pernah tahu seberapa jauh seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri hanya karena terlalu sibuk mempertahankan sebuah rumah tangga.”

Mereka berjalan menuju pintu keluar.

Sebelum masuk mobil, Nadira menerima sebuah pesan.

Dari nomor yang tidak lagi tersimpan di ponselnya.

Dimas.

Pesannya pendek.

Terima kasih karena dulu kamu tidak memecatku.

Nadira membacanya dua kali.

Lalu menghapus pesan itu tanpa membalas.

Kirana memperhatikannya.

“Dia?”

Nadira mengangguk.

“Apa katanya?”

“Tidak penting.”

Ia memasukkan ponsel ke dalam tas.

Kemudian menatap gedung tinggi tempat ratusan orang bekerja di bawah perusahaan yang selama bertahun-tahun ia kendalikan tanpa pernah merasa perlu membuktikan dirinya kepada siapa pun.

Dulu Dimas berpikir kekuasaan berarti memiliki rumah besar, kendaraan mahal, jabatan tinggi, dan kemampuan membuat orang lain menurut.

Nadira pernah percaya bahwa kekuatan berarti mampu menahan semuanya dalam diam.

Ternyata keduanya salah.

Kekuatan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara.

Bukan juga tentang siapa yang paling banyak memiliki sesuatu.

Kadang, kekuatan terbesar muncul ketika seseorang akhirnya berani mengatakan cukup.

Kecelakaan itu memang meninggalkan bekas luka di kaki Nadira.

Namun bertahun-tahun kemudian, ketika ia ditanya apa hal paling penting yang pernah ia dapatkan dari peristiwa itu, Nadira tidak pernah menyebut perusahaan, rumah, uang, ataupun perceraian.

Ia hanya memberikan jawaban sederhana.

“Hari itu aku kehilangan kemampuan berjalan untuk sementara.”

Nadira tersenyum.

“Tapi justru saat itulah aku akhirnya belajar berdiri untuk diriku sendiri.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang